Claim Missing Document
Check
Articles

ZONASI DAERAH RAWAN PENCURIAN KENDARAAN BERMOTOR (CURANMOR) DI KOTA SEMARANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE CLUSTER ANALYSIS Johan Wisma Anggoro; Moehammad Awaluddin; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1640.113 KB)

Abstract

ABSTRAKTindak pencurian kendaraan bermotor (curanmor) merupakan salah satu tindakan kriminal yang terjadi di setiap daerah terutama Kota Semarang, namun belum ada visualisasi kejadian curanmor ke dalam bentuk peta dari Polrestabes Kota Semarang, sehingga Metode Cluster Analisis dalam SIG dapat digunakan untuk menentukan dan menganalisis daerah rawan curanmor. Pada penelitian ini, dilakukan pemetaan daerah rawan curanmor di Kota Semarang dengan menggunakan tiga Metode Cluster Analisis, yaitu Kernel Density, K-Means dan K-Medoids. Metode Kernel Density adalah pengelompokan data berdasarkan kerapatan/density TKP dari tindak curanmor, metode K-Means adalah pengelompokan data berdasarkan centroid/pusat kejadian curanmor di tiap kelurahan, sedangkan metode K-Medoids adalah pengelompokan data berdasarkan nilai medoids yang di ambil dari objek data jumlah kejadian curanmor di tiap kelurahan. Hasil penelitian ini terdapat 1286 kasus curanmor yang terdiri dari 275 kasus pada tahun  2014, 424 kasus pada tahun 2015, 307 kasus pada tahun 2016, 161 kasus pada tahun 2017 dan 119 kasus pada tahun 2018. Daerah kerawanan dari metode Kernel Density, K-Means dan K-Medoids mempunyai hasil yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil dari verifikasi menggunakan data kasus bulan Januari – April 2019, metode Kernel Density memiliki nilai verifikasi daerah rawan (tingkat kerawanan tinggi dan sedang)  yang paling besar dibanding dengan metode K-Means dan K-Medoids, yaitu 82,35%. Kata Kunci : Curanmor, K-Means, K-Medoids, Kernel Density, SIG.  ABSTRACTMotor vehicle theft (curanmor) is one of the criminal acts that occurred in each area, especially Semarang City, but there is no visualization of the event of curanmor in the form of maps from the Semarang City Polrestabes, so the Cluster Analysis Method in GIS can be used to determine and analyze vulnerable areas chancel. In this study, mapping of the area of hazard-prone areas in Semarang using three Cluster Analysis Methods, namely Kernel Density, K-Means and K-Medoids. Kernel Density method is a grouping of data based on the density of the crime scene from the act of curanmor, the K-Means method is grouping data based on centroids/center of curanmor events in each village office, while the K-Medoids method is grouping data based on medoids values taken from the number of data objects incidents of fraud in each village. The results of this study were 1286 cases of fraud consisting of 275 cases in 2014, 424 cases in 2015, 307 cases in 2016, 161 cases in 2017 and 119 cases in 2018. The area of vulnerability from the Kernel Density method, K-Means and K-Medoids have different results. Based on the results of the verification using case data for January - April 2019, the Kernel Density method has the highest value of verification of hazard areas (high and medium vulnerability) compared to the K-Means and K-Medoids methods, which is 82.35%. Keyword : Curanmor, K-Means, K-Medoids, Kernel Density, GIS.
KAJIAN PENDAHULUAN PENGGUNAAN BASIS DATA SPASIAL OBJEK PAJAK BUMI DAN BANGUNAN BERBASIS OPEN SOURCE (Studi Kasus : Kelurahan Tembalang) Wiwik Levitasari; Arief Laila Nugraha; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.698 KB)

Abstract

ABSTRAK                Pajak Bumi dan Bangunan merupakan salah satu sumber pendapatan yang cukup besar bagi suatu daerah. Sekarang ini pemerintah sedang gencar dalam hal melakukan penarikan Pajak Bumi dan Bangunan. Dengan adanya Undang-undang No. 28 tahun 2009 mengenai pengelolaan Pajak Bumi dan Bangunan, sekarang ini tidak dikelola oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) melainkan akan dikelola oleh pemerintah daerah setempat. Dengan adanya perpindahan pengelolaan dan adanya optimalisasi penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan tersebut maka dibutuhkan suatu sistem basis data yang user friendly sehingga dapat mendukung pengelolaan Pajak Bumi dan Bangunan.                Dalam implementasinya, penelitian ini menggunakan software basis data berbasis open source yaitu PostgreSQL 9.4 dan PostGIS 2.0 serta menggunakan software QuantumGIS 2.18.6 sebagai visualisasi hasil dari data spasialnya. Pembangunan basis data dimulai dengan perancangan model basis data konseptual, logikal dan fisikal sehingga menghasilkan tabel-tabel yang dibutuhkan dalam pengelolaan Pajak Bumi dan Bangunan. Basis data spasial hasil perancangan dilakukan pengujian yang terdiri dari 2 pengujian yaitu pengujian sistem dan pengujian usability untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari pembuatan basis data spasial Objek Pajak bumi dan Bangunan.                Hasil dari penelitian diperoleh basis data spasial objek Pajak Bumi dan Bangunan yang disimpan dalam software DBMS. Basis data spasial ini terdiri dari 10 tabel yang meliputi tabel kelurahan, jalan, sungai, simbol, garis, blok, bidang, bangunan, wajib pajak dan PBB terhutang. Pengujian sistem diperoleh persentase keberhasilan pemrosesan query sebesar 100%, waktu pemrosesan query tercepat adalah 11 msec, waktu pemrosesan query terlama adalah 513 msec sehingga diperoleh rata-rata waktu pemrosesan query yang diuji adalah 106.625 msec. Pengujian usability diperoleh 80% responden setuju bahwa sistem basis data spasial mudah digunakan, 80% reponden setuju bahwa basis data spasial mampu mengelola data spasial objek Pajak Bumi dan Bangunan dengan baik, 80% setuju bahwa tampilan dari basis data spasial ini mudah dipahami, 80% setuju bahwa informasi yang dihasilkan dari pemrosesan query basis data spasial tepat, 80% setuju bahwa waktu untuk pemrosesan query sistem basis data spasial membutuhkan waktu yang cepat. Secara keseluruhan, hasil pengujian usability diperoleh persentase sebesar 80% dan masuk ke dalam kriteria layak.
PEMBUATAN PETA ZONA NILAI EKONOMI KAWASAN BERDASARKAN WILLINGNESS TO PAY (WTP) (Studi Kasus : Lawang Sewu dan Sam Poo Kong) Yesi Monika Manik; Arief Laila Nugraha; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (833.574 KB)

Abstract

ABSTRAKLawang Sewu dan Sam Poo Kong sebagai salah dua ikon Kota Semarang memiliki potensi sebagai objek wisata. Lokasi yang strategis terletak di pusat Kota Semarang dan nilai sejarah yang terkandung didalamnya menjadikan Lawang Sewu dan Sam Poo Kong sebagai salah satu pilihan masyarakat untuk berwisata. Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan suatu peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan (ZNEK) terhadap objek wisata Lawang Sewu dan Sam Poo Kong untuk menentukan strategi pengembangan objek wisata berdasarkan pada kesediaan wisatawan untuk membayar (Willingness To Pay; WTP) pada objek wisata tersebut.Metode penarikan sampel (responden) yang digunakan dalam penelitian tugas akhir ini adalah Probability Sampling, di mana peluang setiap anggota populasi terpilih sama, dengan teknik Quota Accidental Sampling yaitu sampel diambil dengan cara kebetulan yang datang berkunjung di objek wisata Lawang Sewu dan Sam Poo Kong. Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dan perhitungan WTP menggunakan perangkat lunak Maple 14.Dalam penelitian tugas akhir ini, hasil yang diperoleh berupa peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan dengan nilai WTP objek wisata Lawang Sewu sebesar Rp 64.804,- dengan surplus konsumen sebesar Rp 1.278.061,556 per individu per tahun, sehingga diperoleh nilai total ekonomi objek wisata Lawang Sewu sebesar Rp 404.128.565.500,- (nilai surplus konsumen per individu per tahun dikalikan dengan jumlah pengunjung tahun 2013). Dan nilai WTP objek wisata Sam Poo Kong sebesar Rp Rp 61.205,- dengan surplus konsumen sebesar Rp 2.048.926,914 per individu tahun, sehingga diperoleh nilai total ekonomi objek wisata Sam Poo Kong sebesar Rp 468.567.392.350,-.Kata Kunci : Travel Cost Method, Contingent Valuation Method, Willingness To Pay, Uji Validitas, Uji Realibilitas, Tipologi Kawasan, Peta ZNEK ABSTRACTLawang Sewu and Sam Poo Kong, as two icons of Semarang, have potential as a tourist attraction. The location is strategically in the center of Semarang and the historical value of them become one of the people's choice for travel. Based on this, we need Zona Nilai Ekonomi Kawasan map (ZNEK) of Lawang Sewu dan Sam Poo Kong to determine the development strategy based on the traveler's Willingness To Pay (WTP) at the tourist attraction.Sampling method (respondents) used in this research is the probability sampling, that the opportunities every elected member is same, by using Quota Accidental Sampling technique, where samples are collected by coincidence who came to visit Lawang Sewu and Sam Poo Kong attractions. Data processing method used is multiple linear regression analysis and calculation of WTP using Maple 14 software.In this research, the results is obtained of a ZNEK map with WTP values of Lawang Sewu attractions of IDR 64.804,-, with the consumer surplus of IDR 1.278.061,556 per person per year, so Total Economic Value (TEV) of Lawang Sewu is IDR 404.128.565.500, - (the value of consumer surplus per person per year multiplied with the number of visitors in the year of 2013). Sam Poo Kong’s WTP values of IDR 61.205,-, with consumer surplus of  IDR 2.048.926,914 per person per years, so TEV of Sam Poo Kong is IDR 468.567.392.350,-.Keywords : : Travel Cost Method, Contingent Valuation Method, Willingness To Pay, Test Validity, Test Reliability, Typologi of regions, ZNEK Map. 
ANALISIS KESESUAIAN KAWASAN WISATA PANTAI DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Afriyanto Afriyanto; Arief Laila Nugraha; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.848 KB)

Abstract

ABSTRAKKabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu daerah yang potensial memiliki wisata pantai yang menarik diantaranya Pantai Krakal, Pantai Slili, Pantai Sadranan, Pantai Ngandong, Pantai Sundak dan Pantai Pulangsawal (Indrayanti). Pengkajian kesesuaian lahan terhadap kawasan wisata pantai sebagai salah satu pertimbangan sebelum melakukan pengembangan kawasan wisata lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesesuaian kawasan wisata pantai. Adapun metode yang digunakan adalah Pembobotan AHP (Analytical Hierarchy Process) untuk penentuan Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) dengan 10 parameter yaitu kedalaman perairan, tipe pantai, lebar pantai, kemiringan pantai, biota berbahaya, penutup lahan, aksesibilitas jalan, kecepatan arus, material dasar perairan dan ketersediaan air tawar. Hasil penelitian berupa analisis kesesuaian wisata pantai luas wilayah pantai dengan kategori Sesuai adalah 96,983 Ha (81,196 %) sedangkan luas kawasan dengan kategori Sesuai Bersyarat adalah 24,460 Ha (18,804 %). Persebaran fasilitas mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2011 Pasal 25 terdiri atas prasarana umum, fasilitas umum dan fasilitas pariwisata dengan persebaran yang baik dan memungkinkan sharing facilities. Kata Kunci: AHP, Indeks Kesesuaian Wisata, Wisata Pantai ABSTRACTGunungkidul Regency, Special Region of Yogyakarta is one area that has the potential to have attractive beach tourism including Krakal Beach, Slili Beach, Sadranan Beach, Ngandong Beach, Sundak Beach and Pulangsawal(Indrayanti) Beach. Assessment of land suitability for coastal tourism areas as one of the considerations before further developing the tourist area. This study aims to determine the suitability level of the beach tourism area and visualization of beach tourism locations and supporting facilities, design of application design and to know the web application test. The method used is the AHP (Analytical Hierarchy Process) Weighting for the determination of the Tourism Conformity Index (IKW) with 10 parameters namely water depth, beach type, beach width, beach slope, dangerous biota, land cover, road accessibility, current speed, base material waters and availability of clean water. The results of the study were in the form of an analysis of the suitability of the coastal tourism area of the beach area with the appropriate category is 96,983 Ha (81,196 %) while the area of the area with the Conditional appropriate category is 24,460 Ha (18,804 %). Distribution of facilities refers to Government Regulation Number 50 of 2011 Article 25 consisting of public infrastructure, public facilities and tourism facilities with a good distribution and probably to sharing facilities.
KAJIAN TEKNIS PENERAPAN GENERALISASI PETA RUPABUMI INDONESIA (RBI) DARI SKALA 1: 50.000 MENJADI SKALA 1:250.000 Nisrina Niwar Hisanah; Sawitri Subiyanto; arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPeta Rupabumi Indonesia adalah peta dasar yang memberikan informasi secara khusus untuk wilayah darat. Ketersediaan basis data rupabumi dalam berbagai level skala merupakan amanat yang dituangkan dalam UU No. 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial. Berdasarkan PP Nomor 8 Tahun 2013 menyebutkan peta dasar dengan segala karakteristik ketelitiannya menjadi dasar bagi pembuatan Peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).Salah satu metode yang dapat digunakan dalam penyediaan basis data rupabumi adalah generalisasi. Generalisasi peta adalah proses penyederhanaan peta dengan tetap mempertahankan ciri atau karakteristik utama dari peta tersebut. Area yang dikaji adalah 24 Nomor Lembar Peta (NLP) skala 1: 50.000 atau setara 1 NLP skala 1: 250.000 yang merepresentasikan dua topografi yang berbeda yaitu pegunungan dan pantai.Metode generalisasi yang digunakan adalah seleksi, simplifikasi, dan penggabungan, kecuali kontur yang dibentuk ulang dari Digital Surface Model. Pengecilan dari skala 1: 50.000 menjadi skala 1: 250.000 pada proses generalisasi berpengaruh pada kenampakan titik, garis dan area yang berakibat pada perubahan jumlah panjang dan luasan. Basis data rupabumi skala 1: 50.000 menjadi 1: 100.000 menghasilkan jumlah objek sebesar 70,71% kemudian skala 1: 100.000 menjadi 1: 250.000 sebesar 63,25% untuk persamaan Radical Law. Petunjuk teknis generalisasi skala menengah sudah sesuai untuk penerapan pada skala kecil, kecuali pada unsur transportasi utilitas yang tidak memenuhi persen Radical Law dan unsur tutupan lahan pada skala 1: 250.000 yang tidak bisa memenuhi bentuk geometri dari karakteristik unsur tutupan lahan di lapangan.Kata Kunci : Basis data rupabumi, Generalisasi, Peta Rupabumi Indonesia, Radical Law ABSTRACTTopographic Map of Indonesia is a base map that gives information for land area. Availability database of topographic features in various levels of scale is the mandate set forth in Law No. 4 Year 2011 about Geospatial Information. Based on Government Regulation No. 8 of 2013, basic map with all characteristic throughness became basis creation of a map spatial plan area (RTRW). One method that can be used in topographical database is a generalization. Generalization map is a map simplification process while maintaining the main characteristics of these maps. The area studied is 24 Map Sheet Number (NLP) scale of 1: 50.000 or 1 equivalent of NLP scale of 1: 250.000 which represents two distinct topography are mountainous and coastal.The method that used are selection of generalization, simplification, and merger, except contours that reshaped from Digital Surface Model. Diminution of the scale from 1: 50.000 to 1: 250.000 in the process of generalization effect appearance of a point, line and that changes in the length and area. Database of topographical scale of 1: 50.000 to 1: 100.000 produce sum of the objects about 70,71%, then the scale of 1: 100.000 to 1: 250.000 about 63,25% for equality Radical Law. Technical guide of generalization medium scale is suitable for application on a small scale, except the element of transport utilities that do not meet percent Radical Law and elements of land cover at a scale of 1: 250.000 that can not meet the geometric shape of the characteristic elements of cover in the field.Keywords: Database topographical, Generalization, Topographic Map Indonesia, Radical Law  *) Penulis, Pananggung Jawab
DESAIN APLIKASI SISTEM INFORMASI PELANGGAN PDAM BERBASIS WebGIS (STUDI KASUS : KOTA DEMAK) Meiska Firstiara Maudi; Arief Laila Nugraha; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (781.262 KB)

Abstract

ABSTRAKDesain adalah suatu sistem yang berlaku untuk segala jenis perancangan dimana titik beratnya adalah melihat segala sesuatu persoalan tidak secara terpisah atau tersendiri, melainkan sebagai suatu kesatuan dimana satu masalah dengan lainnya saling terkait.Objek penelitian yaitu berupa aplikasi sistem informasi pelanggan PDAM Demak. Web-based GIS (WebGIS) adalah Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) yang terdistribusi dalam suatu jaringan komputer untuk mengintegrasikan dan menyebarluaskan informasi geografi secara visual pada World Wide Web. WebGIS dibandingkan dengan desktop GIS menawarkan beberapa keuntungan seperti efisiensi biaya, efisiensi beban kerja sumber daya manusia untuk instalasi, pemeliharaan dan dukungan teknis, pemangkasan kurva pembelajaran untuk pengguna akhir dan keunggulan dalam hal integrasi data spatial dan data non spatial.Hasil penelitian akan berupa sebuah desain aplikasi GIS yang berbasis web yang memberikan fasilitas untuk untuk pelanggan PDAM dan instansi dalam pengembangan sistem informasi. Kata Kunci : Desain, WebGIS, Web-based, spatial, non spatial ABSTRACT Design is a system which applicable to any kind of design where the emphasis to see everything unseperated, but as a unity is correlated one problem to each other.The object of research is customer information system application in Demak. Web-based GIS (WebGIS) is a Geographic Information System Applications (GIS) that is  distributed in a computer network to integrate and disseminate geographic information visually to the World Wide Web. WebGIS compared with desktop GIS offers several advantages such as cost efficiency, workload efficiency of human resources for the installation, maintenance and technical support, trimming the learning curve for end users and excellence in the integration of spatial data and non-spatial Data.The results of this research is an Applications of GIS which has the web to give some facilities to customers of PDAM and offices to develop of the information systems.Keywords: Design, WebGIS, Web-based, spatial, non-spatial
PEMODELAN KAWASAN RAWAN BENCANA ERUPSI GUNUNG API BERBASIS DATA PENGINDERAAN JAUH (Studi Kasus Di Gunung Api Merapi) Arliandy Pratama; Arief Laila Nugraha; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (688.03 KB)

Abstract

ABSTRAKErupsi gunung api menghasilkan sejumlah bencana yaitu lava, jatuhnya piroklastik, aliran piroklastik, lonjakan piroklastik, ledakan lateral, longsoran puing-puing, tsunami vulkanik, lumpur, banjir dan gas. Dasar pemikiran pengkajian bencana gunung api dihubungkan ke ukuran, style/gaya, frekuensi erupsi dan kedekatan dengan gunung api, pengaruhnya terhadap masyarakat adalah kematian dan keracunan akibat gas.Diantara 127 Gunung Api aktif yang terletak di Indonesia mungkin Merapi termasuk yang paling terkenal. Banyak aspek yang membuat gunungapi ini menarik selain yang pertamatentu saja aktivitas vulkaniknya. Tujuan dari tugas akhir ini adalah membuat peta kawasan rawan bencana erupsi gunung api untuk memberikan panduan yang memadai bagi daerah terkait bencana akibat erupsi gunung api. Manfaat dari tugas akhir ini adalah untuk mengetahui tingkat risiko bencana gunung api terhadap keselamatan jiwa didaerah penelitian, Sebagai bagian dalam membantu kebijakan pemerintah dalam meminimalisir korban jiwa di daerah penelitian dan sebagai landasan dokumen rencana aksi daerah pengurangan risiko akibat bencana gunung api.Hasil dari penelitian ini yaitu berupa kawasan rawan bencana disekitar kawasan gunung api Merapi yang terlanda aliran lava terdiri dari 778 desa yang terbagi dalam 61 kecamatan dalam dua provinsi yakni Jawa Tengah dan D.I.Y. kawasan tersebut dibagi dalam tiga zona bahaya, yaitu tinggi dengan luas wilayah 671,828 Km², sedangdengan luas wilayah 764.017 Km²dan rendah dengan luas wilayah 1276,767 Km², berdasarkan luas wilayah maka jumlah akumulasi wilayah yang terdampak yaitu 11 wilayah kecamatan dengan status risiko tinggi, 18 wilayah kecamatan dengan status risiko sedang dan 32 wilayah kecamatan dengan status rendah.Kata Kunci : Gunung Merapi, Kawasan Rawan Bencana, Risiko dan Lava ABSTRACTThe volcanic eruption has produced disasters like the lava, pyroclastic fall, pyroclastic flows, pyroclastic surges, lateral blast, debris avalanche, volcanic tsunamis, mud, flooding and harmfull gases. The basic theory of volcano disaster assessment link to size, style / style, frequency of eruptions and proximity of volcanoes, can impact on the society region became a mortality and poisoning caused by gases. Among the 127 active volcano located in Indonesia, Merapi is among the most famous volcano. Many aspects that make this an interesting addition to the first course about volcanic activity observed. The purposed of this research is to created a map of areas prone the volcanic eruption to provide adequate guidelines for disaster-related areas as a result of volcanic eruption. This thesis is to determine the level of disaster risk to life safety volcano research area, as part of the government's policy to help minimize casualties in the area of research and as a foundation document risk reduction of action plan.The results of this study in the form of disaster-prone areas around the area that was devastated by the Merapi volcano lava flow consists of 778 villages that are divided into 61 sub-districts in the two provinces of Central Java and Yogyakarta. The region is divided into three prone zones, high-risk with an area of 671.828 km², moderate-risk is the area of 764 017 km² and low-risk with an area of 1276.767 km², based on the total accumulated area of the affected region is sub-district with 11 high-risk status, 18 districts have moderate risk status and 32 districts have low-risk status.Keywords : Merapi Volcano, Disaster-Proned Areas, Risky and Lava.
IDENTIFIKASI DAERAH RAWAN LONGSOR DENGAN MENGGUNAKAN METODE SMORPH DAN SIG (Studi Kasus : Kecamatan Semarang Barat) INNEKE ASTRID PITALOKA; Andri Suprayogi; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (995.311 KB)

Abstract

Kota Semarang adalah salah satu kota yang sering terjadi longsor di beberapa kecamatan. Puluhan rumah ambruk dan rusak parah akibat terkena dampak tanah longsor. Salah satunya adalah kecamatan Semarang Barat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), mencatat November 2016 sudah 38 kali bencana alam tanah longsor melanda di wilayah Semarang. Seiring dengan perkembangan teknologi untuk mengidentifikasi daerah rawan longsor dapat menggunakan data Light  Detection  and  Ranging (LIDAR). Metode yang digunakan yaitu metode slope morphology (SMORPH) merupakan perhitungan sudut kemiringan lereng yang dibentuk antara bidang permukaan tanah dengan bidang normal. Perhitungan sudut kemiringan lereng pada penelitian ini digunakan dalam satuan persen. Metode yang digunakan dengan memberikan score dan bobot pada parameter penentuan adanya longsor. Penentuan score dan bobot mengacu pada katalog metodologi pembuatan peta geohazard.Dari pengamatan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Light  Detection  and  Ranging (LIDAR) menggunakan metode pembobotan dan overlay beberapa parameter seperti penggunaan lahan, kemiringan lereng, curah hujan dan struktur geologi masing-masing memiliki skor dan bobot. Peta ancaman longsor dibagi menjadi 3 kelas dan wilayahnya rendah (1629,611 ha), sedang (346,684 ha) dan tinggi (13,751 ha). Kesesuaian daerah rawan longsor dilihat dari 2 jenis validasi dengan menggunakan data lapangan dan data kejadian longsor dan kerentanan berdasarkan matriks slope morphology (SMORPH). Kecocokan hasil sampel lapangan pada peta ancaman longsor adalah 97,05% dan tidak sesuai 2,95% sedangkan kesesuaian metode slope morphology (SMORPH) terhadap peta ancaman longsor dari sampling setiap kelurahan adalah 81,25% dan tidak sesuai 18,75%. Berdasarkan validasi yang dilakukan, maka hasil validasi lapangan terhadap peta ancaman lebih baik dibandingkan dengan validasi menggunakan metode SMORPH.
ANALISIS PENENTUAN LOKASI DAN RUTE TPA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN DEMAK Ahmad Daniyal; Arwan Putra Wijaya; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.296 KB)

Abstract

ABSTRAK                 Sampah merupakan salah satu permasalahan yang dialami hampir semua kota di Indonesia tidak terkecuali Kabupaten Demak. Pengelolaan Sampah yang belum maksimal menyebabkan menumpuknya volume sampah dan menimbulkan masalah-masalah baru. Kabupaten Demak sendiri memiliki dua Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yaitu TPA candisari dan TPA kalikondang. Dimana TPA kalikondang sudah mendapat penolakan dari warga sekitar karena adanya dampak negatif yang dirasakan oleh warga baik dampak kesehatan maupun pencemaran lingkungan. Oleh karena itu dibutuhkan lokasi TPA yang baru dan sesuai dengan SNI 03-3241-1994 untuk menampung sampah yang dihasilkan warga demak.                Penentuan lokasi dan rute TPA ini menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG), dimana metode yang digunakan untuk penentuan lokasi TPA yaitu menggunakan metode bobot dan skoring serta overlay peta. Parameter-parameter yang digunakan berdasarkan SNI 03-3241-1994 yang diperoleh dari instansi terkait.sementara untuk penentuan rute TPA dari TPS memanfaatkanNetwork Analyts pada perangkat lunak ArcGIS.                Dari penelitian ini dihasilkan bahwa berdasarkan SNI 03-3241-1994 zona layak TPA terpilih berada di Desa Mangunjiwan Kecamatan Demak dengan luas 70 Ha dan total nilai 474. Sementara TPA kalikondang masuk dalam kategori tidak layak berdasarkan SNI 03-3241-1994 karena letaknya yang kurang dari 300 meter dari pemukiman. Rute yang diperoleh kondisi jalannya baik dan dapat dilalui oleh truk sampah.
PEMBUATAN PETA ZONA NILAI EKONOMI KAWASAN (ZNEK) DAN PETA UTILITAS BERDASARKAN NILAI EKONOMI KEBERADAAN DAN NILAI PENGGUNAAN LANGSUNG KAWASAN MASJID AGUNG DEMAK DAN MAKAM KADILANGU DENGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Nastiti Asrining Hartri; Arief Laila Nugraha; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.026 KB)

Abstract

ABSTRAKSalah satu daerah di Indonesia yang memiliki destinasi pariwisata yang terkenal dengan wisata religinya adalah Kabupaten Demak. Objek wisata religi di Kabupaten Demak diantaranya adalah Masjid Agung Demak dan Makam Kadilangu. Wisata religi tesebut sangat diminati wisatawan untuk berkunjung. Hampir setiap tahun terjadi kenaikan jumlah wisatawan pada kedua objek wisata tersebut. Dari tingkat antusiasme wisatawan yang semakin meningkat maka dapat dikatakan bahwa kedua obyek tersebut merupakan  obyek wisata yang memiliki potensi ekonomi yang tinggi. Berdasarkan hal tersebut diperlukan pembuatan peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan untuk mengetahui manfaat nilai ekonomi kedua kawasan objek wisata tersebut.Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode Travel Cost Method (TCM) dan metode Contingent Valuation Method (CVM). Metode TCM digunakan untuk memperoleh nilai kegunaan langsung sedangkan metode CVM digunakan untuk mendapatkan nilai bukan kegunaan. Kemudian, pengambilan data primer dilakukan melalui survei lapangan. Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dan menghitung nilai total ekonomi. Pada penelitian ini juga dilakukan uji statistik (uji validitas dan uji reliabilitas) dan uji asumsi klasik (uji normalitas, uji autokorelasi, uji multikolinieritas, dan uji heteroskedastisitas).Hasil dari perhitungan nilai total ekonomi didapatkan nilai total kegunaan dan nilai total bukan kegunaan. Untuk kawasan Masjid Agung Demak, nilai total kegunaan yang didapatkan sebesar Rp 1.032.106.843.000,-, nilai total bukan kegunaan yang didapatkan sebesar Rp 52.746.711.060,-, dan nilai total ekonomi yang didapatkan adalah sebesar Rp 1.084.853.554.060,-. Sedangkan untuk kawasan Makam Kadilangu, nilai total kegunaan yang didapatkan sebesar Rp 1.347.433.284.000,-, nilai total bukan kegunaan yang didapatkan sebesar Rp 53.937.046.060,-, dan nilai total ekonomi yang didapatkan adalah sebesar Rp 1.401.370.330.060,-.
Co-Authors Abdi Sukmono Abdi Sukmono, Abdi Adhelina Rinta Iswari Adi Nur Ikhsan Aditya Dharmawan Afriyanto Afriyanto Afriyanto Afriyanto Agung Setiawan Ahmad Daniyal Ahmad Shofiyul Huda Alfien Rahmenda Amalia Permata Dewi, Amalia Permata Anang Ikhwandito Andini Riski Oktaviani Andri Suprayogi Anisa Rachmawati, Anisa Annisaa Cahyaningsih Ar Rafi, Naufal Hisyam Arco Triady Ujung Arga Fondra Oksaping ARGNES DIONANDA RESZA PRADIPTA Arkham, Ivan Fandilla Aulia Arkham Arliandy Pratama Arwan Putra Wijaya Avianta Anggoro Santoso Awwaluddin, Moehammad Ayu Sulistyaningtyas, Sekar Bambang Darmo Yuwono Bambang Darmo Yuwono Bambang Sudarsono Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bashit, Nurhadi Bondan Arum Kusumahati Briandana Januar Aji Gunadi Brinton Patuan Sitorus Cahya Wisuda Hukama Chairunisa Afnidya Nanda Dede Handoko DEDI SETYAWAN Dewi Shinta Septifany Dhuha Ginanjar Bayuaji Dian Triandini Nurcahyo Diqja Yudho Nugroho Dyah Widyaningrum Elceria Susanti Extiana, Kiky Fadhilla Shara Denafiar Fajri Ramadhan Fanni Kurniawan Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Fauzi Janu Ammarohman Febrian Pramana Putra Fida Wulan Istiaji Fina Faizana Frizani, Defanny Elsa Ghinaa Rahda Kurnila Habib Azka Ramadhani Hadi Winoto Hadi, Firman Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus, Hana Sugiastu Handoko Dwi Julian Hani'ah . Haniah Haniah Hani’ah Hani’ah Hanifudin, Faiz Hani’ah Hani’ah HARDIAN ASTIANINGRUM Hartomo Haryo Kuncoro Hilman Djalu Sadewo Hutagalung, Christovel Mangaratua Ibrohim Shiddiq Ika Rahayu Wulansari Imam Mudita Inessia Umi Putri INNEKE ASTRID PITALOKA Irfan Tri Anggoro Izzudin Al Qossam Jalu Tejo Nugroho, Jalu Tejo Johan Wisma Anggoro Kemas Abdul Fatah Kevin Dio Maldini Khofifatul Azizah Kindy Ibrahim Hari L M Sabri Laode M Sabri Latifah Rahmadany Lingga Hascarya Prabandaru Lolita, Diaz Amel LUKMAN MAULANA ABDILLAH LUTHFI RAHMANDHANI Maharani, Raden Roro Kingkin Meiska Firstiara Maudi Mia Anggorowati Karomah Mochammad Imron Awalludin Moehammad Awaluddin Moehammad Awwaluddin Mohammad Faiz Ilhami Muhammad Adnan Yusuf, Muhammad Adnan Muhammad Agam Cakra Donya Muhammad Bagus Salim Muhammad Hanif Abdurrahman Muhammad Sandhi Lazuardi Mustaqim, Alfiyan Nanda Dewi Arumsari Naryoko Naryoko Nastiti Asrining Hartri Naufal Humam Manshur Nella Wakhidatus Nella Wakhidatus Sholekhah Nisrina Niwar Hisanah NOVAYA NURUL BASYIROH Nugrahanto, Prasetyo Odi Nur Fajar Nafiah Nurhadi Bashit Nurmalasari, Cici Nurrahmawati Nurrahmawati Nyoman Winda Novitasari Olivia Sinaga Pardjono, P. Pradipta, Carlo Purba, Agantry Putri Auliya Qoaruddin Qomaruddin Rachmawati, Ekha Raditya Wahyu Utomo Rahmat Randy Valdika Ramadhan Susilo Utomo Resi Diansismita Resti Winda Ratriana Rida Hilyati Sauda Ridwan Ageng Ashari Rifqi Najib Muzaka Rintyas Chandra Irawan Rizqi Umi Rahmawati Rizqie Anarullah, Rizqie Rochim, Vianka - Rofi'i, Nur Izha Jannah Rosika Dyah Pratiwi Rr. Yossia Herlin A. Sabda Lestari Sabri, L.M Sabri, L.M. Safira Devi Kirana Sandy Yudistira Mahardika, Sandy Yudistira sari, Cici Nurmalasa Sartika Sartika Sawitri Subiyanto Sendy Brammadi Septiningdiah, Dara Jati Setiaji, Krisna Shindy Mariska Zulkarnain Siti Haeriah Stella Purnomo Sutomo Kahar Sutomo Kahar Syarifah Mayda Az Zahrotun Nisa Taufik Eka Ramadhan, Taufik Eka Tiara Toyyibatul Arofah Tistariawan, Adji Chandra Tri Adi Hermawan Tri Afiebbawa Exactanaya Tristianti, Nova Ulya Novita Sari Uman Kertanegara Vinsensia Hutagaol Viona Yashinta Viradhea Gita R. L. Wahyu Adi Yuliyanto Wakhidatus, Nella Wibisana, Alyawan Satrio Wildan Ryan Irfana Wisnu Wahyu Wijonarko Wiwik Levitasari Yanies Meiyanti Yesi Monika Manik Yoga Kencana Nugraha Yolanda Margaretha Mulder Yose Rinaldy N Yovi Adyuta Isdiantoro Yudo Prasetyo Yuliansyah Rachman Nur Rizky Zuraidha, Riza Nur