Claim Missing Document
Check
Articles

Evaluasi Penerapan Standar Pelayanan Kefarmasian Di Puskesmas Kecamatan Peninjauan Kabupaten Ogan Komering Ulu Berdasarkan Permenkes Nomor 74 Tahun 2016 Fransiska Angelina; Mona Rahmi Rulianti; Lilis Maryanti; Sonlimar Mangunsong
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 4, No 2 (2022)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.477 KB) | DOI: 10.36086/jpharm.v4i2.1405

Abstract

Background : For health effort development, the application of pharmaceutical service standards can be one of the supports to rationalize the use of drugs for patient safety. The Puskesmas in Peninjauan District still lacks human resources to carry out pharmaceutical services. Methods : This is a non-experimental research conducted observationally with a descriptive research design based on the guidelines from the Minister of Health Number 74 of 2016. The research subject were Peninjauan Primary Health Care and Lubuk Rukam Primary Health Care. Results : The result of this study indicated that the application of pharmaceutical services standards in 2 Primary Health Care in the Peninjauan Districts from the aspect management drugs and consumables reaches 97,23% from the clinical pharmacy service aspect to 50,60% from equipment and supporting facilities aspect reaches 83,33% and from the aspect of human resources reached 66,66%. Conclusion : From the result of the study, it can be concluded that the application of pharmaceutical service standards at Primary Health Care in the Peninjauan District reaches 74,45% and it’s categorized as pretty good. Keywords : Standards, Pharmaceutical Service, Primary Health Care, Peninjauan
Efek Penyembuhan Luka Bakar Ekstrak Etanol Daun Katuk (Sauropus androgynous (L.) Merr) Pada Tikus Putih Jantan (Rattus Norvegicus) Sonlimar Mangunsong; Meli Fitriyani
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v2i2.1691

Abstract

Luka bakar disebabkan oleh kontak dengan suhu tinggi dan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik dan radiasi. Tanaman obat yang mengandung senyawa flavonoid, saponin, tannin, sterol, dan polifenol diduga memiliki kemampuan dalam penyembuhan luka bakar. Daun katuk memiliki kandungan alkaloid, triterpenoid, saponin, tanin, polifenol, glikosida dan flavonoid. Oleh karena itu, dilakukan penelitian dengan tujuan mengetahui konsentrasi ekstrak daun katuk yang memberikan efek terbaik terhadap penyembuhan luka bakar pada tikus putih jantan. Penelitian ini merupakan penelitian true-experiment post-test dengan kelompok eksperimen dan kontrol. Pengukuran diameter zona luka bakar hanya dilakukan setelah pemberian perlakuan selesai pada hewan coba tikus putih jantan. Hasil rendemen ekstrak sebesar 21,6412%. Hasil analisa ekstrak daun katuk yang di formulasikan menjadi salep pada hari ke-21, ekstrak I konsentrasi 80% mampu menurunkan diameter luka bakar menjadi 4,047%.Ekstrak II konsentrasi 40% mampu menurunkan diameter luka bakar menjadi 4,738%.Dan ekstrak III konsentrasi 20% mampu menurunkan diameter luka bakar menjadi 62,185%. Persentase kesembuhan semua kelompok berdasarkan uji One Way Anova memiliki perbedaan yang signifikan p=0,000 (p>0,05). Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak daun katuk memberikan efek dalam proses penyembuhan luka bakar pada tikus putih jantan dengan persentase terbesar pada konsentrasi 80%.
Efek Antidiare Daun Komfrey (Shymphytum Officinale L.) Terhadap Tikus Putih Jantan (Rattus Norvegicus) Dengan Metode Transit Intestinal Sonlimar Mangunsong; Cica Meliza
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v2i2.1693

Abstract

Diare adalah suatu gejala klinik gangguan pada saluran pencernaan dimana konsistensi tinja berbentuk cairan atau setengah cairan dan frekuensi terjadinya defekasi lebih sering dari keadaan normal sekitar empat sampai lima kali sehari, dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari normal (200g/hari). Masyarakat Indonesia banyak menggunakan pengobatan secara tradisional, salah satu tanaman yang digunakan adalah Daun komfrey (Shymphytum officinale L.). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan hewan percobaan tikus putih jantan sebanyak 30 ekor tikus yang dibagi menjadi 6 kelompok. Kelompok I (normal), kelompok II (negatif), kelompok III (dosis I 42 mg/200gBB), kelompok IV (dosis II 84 mg/200gBB), kelompok V (dosis III 168 mg/200gBB), kelompok VI (Loperamid). Efek antidiare ditentukan dengan mengukur rasio panjang norit terhadap panjang usus keseluruhan pada tikus dalam waktu 20 menit. Penelitian ini menunjukkan perbedaan bermakna antara kontrol positif dengan kontrol normal, kontrol negatif, dosis I, dan dosis II (p<0,05) namun perbandingan antara dosis III dengan kontrol positif menunjukkan hasil tidak bermakna (p>0,05), yang berarti dosis III yang diberikan mampu memberikan efek antidiare pada tikus. Berdasarkan hasil analisa statistic One Way Anova ekstrak daun komfrey (Shymphytum officinale L.) dosis III (168 mg/200 gBB) adalah dosis yang mampu memberikan efek antidiare.
PENANGANAN DISMENOREA DALAM KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA PUTRI DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN KESEHATAN DI KOTA PALEMBANG Sonlimar Mangunsong; Sarmalina Simamora
ABDIKEMAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (ABDIKEMAS)
Publisher : PUSAT PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT, POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN PALEMBANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/j.abdikemas.v5i1.1727

Abstract

Remaja putri sebagai bagian dari masyarakat dapat juga mengalami masalah kesehatan. Gangguan kesehatan yang banyak dialami oleh remaja putri pada usia produktif adalah dismenore primer. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pembina adalah salah satu sekolah yang bermitra dengan Poltekkes Palembang. Tujuan Kegiatan adalah memberikan pengetahuan dalam mengatasi gangguan dismenore pada remaja putri sacara prakits melalui tindakan non farmakologis maupun farmakologis. Metode yang dilakukan adalah ceramah dan diskusi terhadap gangguan dismenore. Jumlah responden 24 orang remaja putri. Pada awalnya diberikan pertanyaan terkait pengetahuan remaja dalam mengatasi dismenore pada dirinya. Selanjutnya mereka diberi materi tentang dsimenore, penyebabnya, tindakan untuk mengurangi gejalanya maupun penanggulangan yang dapat dilakukan saat serangan datang. Pada akhir kegiatan dilakukan post test dan diskusi. Dari hasil kegiatan ini ditemukan bahwa sakit dismenore yang dilalami siswa selalu datang berulang, dapat mengganggu proses pendidikan dan dapat berdampak pada capaian hasil atau prestasi siswa. Kondisi inilah yang dialami oleh sebagian remaja putri di SMK Pembina Palembang. Meskipun mereka mempelajari tentang kefarmasian, namun untuk tingkat sekolah menengah tentu masih sangat terbatas. Solusi permasalahan yang ditawarkan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini dengan memberikan edukasi yang benar untuk mengatasi dismenore telah tepat. Hasil dari kegiatan ini adalah remaja putri mengalami perubahan dalam hal pengetahuan dari rendah sampai sedang menjadi tinggi, Parasiswa juga memiliki kemampuan untuk mengatasi serangan nyeri akibat dismenore primer yang mereka alami.
MANAJEMEN RISIKO DALAM MENGANTISIPASI KEJADIAN BENCANA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KOTA PALEMBANG Sarmalina Simamora; Sonlimar Mangunsong; Anayani Dalilah
JPP JURNAL KESEHATAN POLTEKKES PALEMBANG Vol 18 No 1 (2023): JPP (Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang)
Publisher : POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALEMBANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jpp.v18i1.1664

Abstract

Latar Belakang: Palembang secara histori termasuk kota yang tidak rawan bencana alam. Namun karena jumlah penduduk terus meningkat, pembangunan fisik semakin banyak, tentu ruang terbuka hijau semakin berkurang. Bencana mulai timbul, seperti banjir saat hujan lebat, dan kebakaran saat kemarau. Dalam mengantisipasi bencana, Puskemas memiliki tugas dalam melaksanakan manajemen risiko terhadap potensi bencana di Kota Palembang. Kesiapan menghadapi bencana ini sangat dipengaruhi oleh pengetahuan tenaga kesehatan dan pengelolaannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengetahuan tenaga kesehatan yang diberi tanggung jawab sebagai pengelola, kebijakan yang ada di Puskesmas seperti ketersediaan SOP dan pendanaan yang berdampak terhadap aspek kesiapsiagaan Puskesmas dalam penanggulangan bencana di wilayah kerjanya masing masing. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian non eksperimental dengan rancangan deskriptif. Pengambilan data dilakukan dengan kuesioner dan wawancara terhadap 13 orang tenaga kesehatan yang Puskesmasnya ada di wilayah yang pernah terdampak bencana. Hasil: Petugas Puskesmas memiliki pengetahuan yang baik (97%), sekalipun belum tersedia kebijakan yang memadai (86%), belum ada SOP (52%), dan sumber pendanaan yang jelas (35%) di beberapa Puskesmas. Sedangkan, penilaian terhadap aspek kesiapsiagaan Puskesmas berdasarkan kegiatan wawancara termasuk dalam kategori baik: (80%). Kesimpulan: Penempatan tenaga kesehatan sebagai pengelola risiko bencana di Puskesmas sudah tepat, karena semuanya sudah memiliki pengetahuan yang baik. Hal ini akan lebih baik jika semua Puskesmas diperkuat dengan kebijakan di kota Palembang.
Perbandingan Kadar Vitamin C Pada Buah Asam Gelugur (Garcinia Atroviridis) dengan Metode Spektrofotometri Uv-Vis dan Metode Titrasi 2,6-Diklorofenol Indofenol Sonlimar Mangunsong
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v1i2.1751

Abstract

ABSTRAK Vitamin C merupakan salah satu senyawa organik yang diperlukan oleh tubuh untuk proses metabolisme dan aktivitas khusus lainnya. Oleh karena itu, kebutuhan vitamin C dalam tubuh harus terpenuhi. Vitamin C dapat diperoleh dari asupan makanan sehari-hari berupa sayur-sayuran dan buah. Asam Gelugur merupakan salah satu buah yang mengandung vitamin C. Kandungan vitamin C pada buah asam gelugur perlu diketahui jumlahnya. Untuk itu peneliti melakukan analisis kandungan vitamin C pada buah asam gelugur menggunakan metode Spektrofotometri UV-Vis dan Titrasi 2,6-Diklorofenol Indofenol. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan membandingkan kadar rata-rata vitamin C pada buah asam gelugur menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dan metode titrasi 2,6-diklorofenol indofenol. Sampel penelitian ini adalah buah asam gelugur yang ditentukan secara random sampling. Data dianalisis dengan uji Independent sample t-test menggunakan aplikasi analisis statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar rata-rata vitamin C pada buah asam gelugur menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis sebesar 143,85 mg/100 gram buah sedangkan kadar rata-rata vitamin C pada buah asam gelugur menggunakan titrasi 2,6-diklorofenol indofenol sebesar 141,44 mg/100 gram buah. Dari hasil uji Independent sample t- test, diperoleh nilai t hitung < t tabel (0,0939 < 2,048) dan P value (0,356 > 0,05) dimana Ho diterima artinya tidak ada perbedaan kadar vitamin C pada buah asam gelugur (Garcinia atroviridis) menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dan metode titrasi 2,6-diklorofenol indofenol.
Efek Antiinflamasi Ekstrak Etanol Daun Asam Jawa (Tamarindus Indica L.) Terhadap Kadar C-Reaktif Protein pada Tikus Putih Jantan (Rattus Novergicus) yang Diinduksi Karagenan Sonlimar Mangunsong; Mona Rachmi Rulianti
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v1i2.1753

Abstract

Latar Belakang :Telah dilakukan penelitian efek antiinflamasi ekstrak daun asam jawa (Tamarindus indica L.) yang memiliki kandungan flavonoid dan tanin yang menunjukan efek antiinflamasi pada tikus putih jantan (Rattus novergicus) setelah diinduksi karagenan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dosis ekstrak daun asam jawa yang menunjukan efek antiinflamasi serta mengevaluasi peningkatan kadar C-Reaktif Protein (CRP). Metode : Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan mengukur kadar C-Reaktif protein dalam darah dan hewan percobaan tikus putih jantan sebanyak 24 ekor dan di bagi menjadi 6 kelompok yaitu kelompok normal, kelompok negatif (hanya diinduksi karagenan), kelompok positif (diberi Na diklofenak), kelompok dosis I (13,4 mg/200 g BB), kelompok dosis II (26,8 mg/200 g BB), kelompok dosis III (53,6 mg/200 g BB). Data yang didapatkan kemudian di analisis secara statistik menggunakan uji kruskal-Wallis dan di dapatkan hasil p<0,05 Hasil : Hasil pengukuran kadar CRP kelompok normal (negatif), kelompok yang diinduksi karagenan (positif), kelompok yang diberi Na diklofenak (negatif), kelompok dosis I (negatif), kelompok dosis II (negatif), kelompok dosis III (negatif). Hasil penelitian kemudian dianalisis dengan Kruskal-Wallis menunjukan pengaruh pemberian ekstrak daun asam jawa yang secara signifikan terhadap efek antiinflamasi dan penurunan kadar CRP pada serum darah tikus putih jantan. Kesimpulan : Ekstrak daun asam jawa (Tamarindus indica L.) mempunyai efek antiinflamasi dan mampu menurunkan kadar CRP pada tikus putih jantan setelah diinduksi karagenan
Efek Laksatif Ekstrak Etanol Daun Keji Beling (Strobilanthes Crispus Bi.) Dengan Metode Transit Intestinal Terhadap Tikus Putih Jantan (Rattus Norvegicus) Yang Diinduksi Dengan Gambir Sonlimar Mangunsong; Resi Sukma Melati
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v2i1.1772

Abstract

Konstipasi adalah ketidakmampuan melakukan evaluasi tinja secara sempurna. Penyebab konstipasi seringterjadi karena faktor risiko asupan serat yang rendah. Secara empiris tanaman keji beling dapat digunakansebagai laksatif. Tanaman keji beling mengandung senyawa alkaloid dan saponin yang berkhasiat sebagaidiuretik, emoliens dan laksatif. Menyadari fakta tersebut, peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitianmengenai efek laksatif terhadap ekstrak daun keji beling. Penelitian ini bersifat eksperimental menggunakanhewan percobaan tikus putih jantan sebanyak 30 ekor yang dibagi menjadi enam kelompok. Kelompok I(kontrol normal), kelompok II (kontrol negatif), kelompok III (perlakuan suspensi ekstrak dosis I 20 mg/200grBB), kelompok IV (perlakuan suspensi ekstrak dosis II 40 mg/200 grBB), kelompok V (perlakuan suspensiekstrak dosis III 80 mg/200 grBB), dan kelompok VI (kontrol positif, diberi suspensi bisacodyl 0,09 mg/200kgBB). Efek laksatif dibuktikan dengan metode transit instestinal yaitu mengukur rasio panjang lintasan markernorit pada usus terhadap panjang keseluruhan usus tikus. Penelitian ini menunjukkan perbedaan yangsiginifikan antara kontrol positif dengan kontrol negatif, normal, dosis I dan dosis II, namun tidak pada dosisIII (p>0,05) yang berarti dosis III memiliki efek laksatif. Ekstrak etanol daun keji beling (Strobilanthes crispusBI.) yang memiliki efek laksatif secara signifikan (p>0,05) dengan positif yaitu dosis III 80 mg.
Pencegahan Drop-Out Pengobatan TB Akibat Efek Samping Pada Penggunaan Oat Fix Dose Combination Sarmalina Simamora; Sonlimar Mangunsong; Mona Rahmi Rulianti
Jurnal LINK Vol 20, No 1 (2024): MEI 2024
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/link.v20i1.11297

Abstract

Pasien TB harus minum obat secara teratur minimal enam bulan. Bisa saja mereka berhenti minum obat sebelum selesai pengobatan karena tidak paham dan tidak tahan efek samping. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membuat pasien dan keluarganya paham dan dapat mengatasi efek samping yang timbul dengan tindakan atau dengan obat yang sesuai, sehingga tidak menghentikan pengobatan. Metode yang dilakukan adalah penyuluhan, pembagian brosur dan video penanggulangan efek samping obat. Diserahkan juga obat yang dapat digunakan untuk mengatasi efek samping. Pesertanya 12 pasien TB dan 12 anggota keluarganya. Kepatuhan di monitor melalui grup whats-app. Peserta melaporkan aktifitas minum obatnya dan menginformasikan jika mengalami efek samping. Evaluasi kepatuhan minum obat dilakukan setelah tiga bulan dimonitor. Selama itu semua peserta tetap patuh menjalani pengobatannya, termasuk pasien yang mengalami efek samping obat, karena sudah memahami pentingnya kepatuhan minum obat TB. Selanjutnya peserta yang belum selesai pengobatan masih tetap melaporkan aktifitas minum obatnya sampai benar benar selesai. Semua pasien berhasil menyelesaikan pengobatannya sampai tuntas. Kesimpulannya bahwa melalui pendekatan yang simpatik pasien TB dapat dimotivasi untuk mematuhi aturan penggunaan obat meskipun mengalami efek samping, sehingga hal ini dapat mencegah pasien dari kegagalan terapi.
Pemberian Injeksi Antibiotik Pada Pasien di Ruang Perawatan Penyakit Dalam di Rumah Sakit Palembang Siregar, Estelita O.N.; Simamora, Sarmalina; Mangunsong, Sonlimar
Journal of Experimental and Clinical Pharmacy (JECP) Vol 2, No 1 (2022): February 2022
Publisher : Poltekkes Kemenkes Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jecp.v2i1.347

Abstract

Penggunaan antibiotic (AB) haruslah sesuai dengan kebutuhan klinis. Penggunaan tidak tepat memberikan berbagai dampak negatif antara lain timbulnya efek samping, mempercepat terjadinya resistensi, terjadi resiko kegagalan terapi, bertambah beban penyakit pasien, lamanya pasien menderita, serta meningkatkan biaya pengobatan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisa ketepatan pemberian antibiotik injeksi di ruang rawat inap. Jenis Penelitian adalah observasional dengan pendekatan deskriptif. Populasi dari penelitian ini adalah semua pasien dirawat inap Rumah Sakit yang diberikan antibiotik pada bulan Januari-April 2019 yang berjumlah 176 dilihat pada kartu rekam medik. Tepatnya waktu penyuntikan injeksi antibiotik dilihat dari kesesuaian catatan rekam medik dengan paraf petugas perawat SD(±30 menit) dari setiap pemberian pertama. Frekuensi umur 46-65 yang paling banyak diberikan antibiotic. Frekuensi berat badan yang < 70 kg paling banyak menggunakan antibiotik injeksi sesuai dosis. Pemberian dosis AB dengan Berat badan >70 kg belum tampak penyesuaian dosis. Pada riwayat alergi hanya 1 pasien ditemukan alergi terhadap antibiotik dari total sampel. Kesimpulan ketepatan waktu pemberian antibiotik injeksi dinyatakan 80% tepat waktu penyuntikan antibiotik injeksi sedangkan 20% tidak tepat. Sebanyak 20% belum patuh dalam penulisan rekam medik.The use of antibiotics (AB) must be under clinical needs. Improper use has various negative impacts, including the emergence of side effects, accelerated resistance, the risk of therapy failure occurring, increased burden of the patient's disease, the length of time the patient suffers, and increases cost of treatment. The purpose of this study was to analyze the accuracy of injecting antibiotics in the inpatient room. This type of research is observational with a descriptive approach. The population of this study was all hospitalized patients who were given antibiotics in January-April 2019 totaling 176 seen on the medical record card. The exact timing of the injection of antibiotics was seen from the suitability of the medical records with the initials of the primary school nurse officers (±30 minutes) from each first administration. The frequency of age 46-65 is the most given antibiotics. The frequency of body weight < 70 kg the most using injection antibiotics according to the dose. The dose of AB with body weight >70 kg has not shown any dose adjustment. In the history of allergies, only 1 patient was found to be allergic to antibiotics from the total sample. The conclusion is the timing of the injection of antibiotics is stated to be 80% on time for the injection of antibiotics while 20% is not correct. As many as 20% have not complied with writing medical records.
Co-Authors ., Listrianah Ade Agustianingsih Afifah Rahmah, Afifah Aguscik, Aguscik Agustianingsih, Ade Akbar, Widyan Muchzadi Anayani Dalilah ANITA OKTARIANI APRILLINA, PERMATA Athiutama, Ari Athur Bayunata Bayunata, Athur Bianggo NauE, Dian Adhe Cica Meliza Dahliyah Hayati Dahliyah Hayati Dalilah, Anayani Dewi Marlina Dian Adhe Bianggo Naue Dwiprahasto I Eka Puspa Sari Elvi Sunarsih Fadly Fadly Fadly Fadly FADLY FADLY Fransiska Angelina Hartati, Yuli Hayati, Dahliyah Helda Mirani Jumina . KURNIANTO, TEGUH Lega Aryanti Lia Marsela Lia Puspitasari LILIS MARYANTI Listrianah . M. Nizar M. Nizar Manurung, Monika Septiana Mas'ud, Beri Meli Fitriyani Minda Warnis Mirani, Helda Mohammad Achmad Amin Soetomo Mona Rachmi Rulianti Mona Rahmi Mona Rahmi Rulianti MONA RAHMI RULIANTI Mona Rahmi Rulianti Monika Septiana Manurung Muhamad Taswin Muhammad Totong Kamaluddin Muhammad Totong Kamaluddin Muhammad Totong Kamaluddin Muntaha, Amar Mustofa . Oktari, Vivi OKTARIANI, ANITA Pastari, Marta Pastati, Taufik Meidiansyah Pebriani, Indra PERMATA APRILLINA Podojoyo, Podojoyo Pratiwi, Tiara Mayang Priscila Natalia Marpaung Purnama, Fajriah Rahma Arum Sari Rahmi Rulianti, Mona Ramadhiani, Aninditha Rachmah Ramadhiani, Aninditha Rachmah Resi Sukma Melati Rifqi Assiddiqy Rika Saputri Rulianti, Mona Rahmi Samarlina Simamora Sari, Alfitria Sarmadi Sarmadi Sarmalina Sarmalina Sarmalina Simamora Sarmalina Simamora Sarmalina Simamora Sefriadi, Ilham SIMAMORA, SAMARLINA Siregar, Estelita O.N. Soetomo, Mohammad Achmad Amin Sri Martini Sumastri, Heni Taswin, Muhamad TEGUH KURNIANTO Theodorus Theodorus Theodorus Theodorus Theodorus Theodorus Tiara Mayang Pratiwi Trisna Yuniarti Trisna Yuniarti VERA ASTUTI Vera Astuti, Vera Warnis, Minda Yani, Tiara Yunida Yunida Yunida Yunida