Claim Missing Document
Check
Articles

Korelasi Total Lymphocyte Count terhadap CD4 pada anak dengan Infeksi Human Immunodeficiency Virus Aulia Fitri Swity; Djatnika Setiabudi; Herry Garna
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.914 KB) | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.81-6

Abstract

Latar belakang.Epidemi infeksi human immunodeficiency virus (HIV) merupakan tantangan besar dalam permasalahan kesehatan di dunia. Di Indonesia, jumlah kasus HIV/AIDS anak semakin meningkat tiap tahunnya. Pemantauan jumlah CD4 dapat membantu memutuskan dimulainya pemberian terapi anti- CD4 dapat membantu memutuskan dimulainya pemberian terapi antiretroviral/ARV, tetapi pemeriksaannya mahal dan tidak selalu tersedia di sarana kesehatan. Total lymphocyte count (TLC) diajukan sebagai panduan alternatif selain jumlah CD4 pada keadaan sarana kesehatan yang terbatas. Tujuan. Menentukan korelasi TLC dengan jumlah CD4, dan menentukan jumlah CD4 berdasarkan pemeriksaan TLC pada anak HIV.Metode. Penelitian potong lintang berupa observasional analitik, pengambilan data secara retrospektif rekam medis anak HIV yang dirawat inap di Departemen/SMF Ilmu Kesehatan Anak dan rawat jalan di Klinik Teratai Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Dilakukan analisis regresi linier pada faktor-faktor yang berhubungan bermakna dengan CD4 untuk menentukan korelasi TLC dengan CD4, serta nilai hitung CD4 dari TLC. Kemaknaan ditentukan berdasarkan nilai p<0,05. Hasil.Subjek penelitian 67 anak HIV, terdiri dari 35 (52%) laki-laki dan 32 (48%) perempuan. Rentang jumlah CD4 berkisar antara 6–3.094 mm3, rerata 444,3 mm3(SD 536,3), median 241 mm3,dan rentang jumlah TLC antara 525–10.738, rerata 3.352,4 (SD 2.020,4), median 2.898. Analisis regresi menunjukkan hubungan linier antara jumlah CD4 sebagai variabel tergantung (Y) dan TLC sebagai variabel bebas (X) menggunakan persamaan Y= -158,209+0,180X. Didapatkan korelasi kuat antara TLC dan jumlah CD4 (r=0,68; p<0,001). Kesimpulan.Terdapat hubungan positif antara jumlah limfosit dan jumlah CD4. Jumlah CD4 pada pasien HIV anak dapat diperkirakan dari jumlah limfosit. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan cut off point TLC dalam inisiasi ARV
Patofisiologi Infeksi Bakteri pada Kulit Herry Garna
Sari Pediatri Vol 2, No 4 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp2.4.2001.205-9

Abstract

Kulit merupakan barier penting untuk mencegah mikroorganisme dan agen perusaklain masuk ke dalam jaringan yang lebih dalam. Kelainan kulit yang terjadi dapat langsungdisebabkan mikroorganisme pada kulit, penyebaran toksin spesifik yang dihasilkanmikroorganisme, atau penyakit sistemik berdasarkan proses imunologik. Sistem imunberkembang dengan fungsi yang khusus dan bekerja di kulit. Sel Langerhans, keratinosit,sel endotel, dendrosit dan sel lainnya semua ikut berperan dalam skin associated lymphoidtissue (SALT). Mediator yang berperan antara lain IL-1, IL-2, IL-3, produk sel mast,limfokin dan sitokin lain yang sebagian besar dihasilkan oleh keratinosit.
Efektivitas Terapi Infeksi Helicobacter Pylori pada Anak dengan Keluhan Sakit Perut Berulang Setelah Satu Tahun Terapi Eradikasi Tina Ramayanthi; Dwi Prasetyo; Herry Garna
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.111-5

Abstract

Latar belakang. Infeksi Helicobacter pyloripada anak dapat menyebabkan beberapa penyakit, seperti gastritis, ulkus peptikum, dan kanker gaster. Sakit perut berulang (SPB) merupakan keluhan tersering terinfeksi H. pylori,terutama pada usia sekolah. Pada anak yang telah diberikan terapi eradikasi, respons pengobatan harus dipantau, salah satunya dengan pemeriksaan serologis antibodi IgG. Tujuan.Mengetahui apakah telah terjadi perubahan status serologis IgG H. pylori satu tahun setelah terapi eradikasi pada anak dengan keluhan sakit perut berulang (SPB) pada yang terinfeksi H. pylori. Metode. Penelitian dengan rancangan cross sectionalperiode Juli–September 2011 yang dilakukan pada siswa anak usia 6–18 tahun di beberapa SD, SMP, atau SMA di kota Bandung. Subjek dengan keluhan sakit perut berulang dengan status serologis IgG H. pyloripositif sebelum diberikan terapi dan telah diberikan terapi eradikasi satu tahun yang lalu. Uji ExactFisher digunakan untuk analisis data. Hasil.Tigapuluh empat anak memenuhi kriteria inklusi. Semua anak memperlihatkan perubahan serologis IgG H. pylorimenjadi negatif. Terdapat 4 anak yang masih mengalami gejala SPB, dan 30 anak tidak terdapat gejala SPB setelah terapi eradikasi (Prevalensi 11,8%, IK: 4,7–26,6). Kesimpulan.Status serologis IgG H. pylorisemuanya negatif, setelah satu tahun selesai terapi eradikasi pada anak dengan keluhan sakit perut berulang.
Imunogenisitas dan Keamanan vaksin Tetanus Difteri (Td) pada Remaja sebagai salah satu upaya mencegah Reemerging Disease di Indonesia Eddy Fadlyana; Kusnandi Rusmil; Herry Garna; Iwin Sumarman; Soenarjati Soedigo Adi; Novilia Sjafri Bachtiar
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.141-9

Abstract

Latar belakang. Di Indonesia berpotensi terjadi reemerging disease difteri akibat belum ada program imunisasi ulang yang berkesinambungan pada remaja.Tujuan. Menilai imunogenisitas dan keamanan vaksin tetanus difteri (Td) yang diberikan sebagai imunisasi ulang pada remaja.Metode. Uji klinis randomized double-blind controlled dilakukan terhadap 296 pelajar remaja sehat di kota Bandung, usia 10–18 tahun, pada September 2007–September 2008. Didapatkan 296 remaja sebagai subjek penelitian, dibagi dalam 2 kelompok secara acak sederhana. Kelompok I mendapat vaksin Td 0,5 mL intramuskular. Kelompok II mendapat vaksin TT sebagai kontrol. Pemeriksaan kadar antibodi anti difteri dan anti tetanus dilakukan sebelum dan 1 bulan setelah imunisasi menggunakan teknik enzyme-linked immunosorbent assays (ELISAs). Data keamanan dikumpulkan sampai 1 bulan pasca imunisasi menggunakan buku harianHasil. Konsentrasi antibodi seroproteksi (>0,1 IU/mL) terhadap difteri dan tetanus mencapai 93,2% dan 100,0%. The geometric mean titer (GMT) terhadap difteri meningkat dari 0,0618 IU/mL menjadi 0,7583 IU/mL (p<0,001), dan terhadap tetanus meningkat dari 0,4413 IU/mL ke 14,4054 IU/mL (p<0,001). Nyeri pada tempat suntikan terjadi pada 20,3% kelompok Td dan 18,2% pada TT (p=0,028). Demam >37,5°C hanya terjadi pada sedikit subjek dari kedua kelompok (rentang Td: 0,7-4,7%; rentang TT: 3,4–6,7%). Tidak terdapat reaksi kejadian ikutan pasca imunisasi serius dan dapat ditoleransi dengan baik.Kesimpulan. Imunisasi ulang Td meningkatkan kadar antibodi protektif terhadap difteri dan tetanus, serta aman diberikan pada remaja.
Perbandingan Masalah Psikososial pada Remaja Obes dan Gizi Normal Menggunakan Pediatric Symptom Checklist (PSC)-17 Endah Pujiastuti; Eddy Fadlyana; Herry Garna
Sari Pediatri Vol 15, No 4 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.4.2013.201-6

Abstract

Latar belakang. Obesitas pada anak merupakan faktor penting karena cenderung meningkat dan dapat berpotensi sebagai penyebab berbagai konsekuensi medis serta masalah psikososial. Remaja obes cenderung mengalami rasa rendah diri, penghargaan diri yang buruk, depresi, mengalami kesulitan di sekolah, dan kesulitan belajar dibandingkan dengan remaja dengan status gizi normal.Tujuan. Mengetahui perbandingan masalah psikososial antara remaja obes dan remaja status gizi normal dengan menggunakan kuesioner pediatric symptom checklist (PSC)-17, suatu kuesioner yang telah tervalidasi untuk mendeteksi masalah psikososial pada anak.Metode. Rancangan analitik dengan metode potong silang, dilakukan pada bulan Mei–l Juli 2011 di Sekolah Menengah Pertama Negeri 14 Bandung. Subjek penelitian adalah siswa usia 12–16 tahun yang dipilih secara berurutan (consecutive sampling), terdiri atas 31 remaja obes dan gizi normal. Indeks massa tubuh didapat dari pengukuran tinggi badan dan berat badan, kemudian dikelompokkan menjadi status gizi obes (>+3SD) dan gizi normal (-2 sampai +2 SD). Subjek mengisi kuesioner PSC-17 yang berisi beberapa pertanyaan mengenai variabel masalah psikososial, yaitu internalisasi, eksternalisasi, dan masalah perhatian. Uji statistik dengan chi-square test untuk perbandingan kedua kelompok.Hasil. Terdapat 15/31 remaja obes dan 5/31 remaja gizi normal mengalami masalah psikososial (p=0,007). Analisis aspek masalah psikososial kuesioner PSC memperlihatkan perbedaan bermakna mengenai masalah internalisasi antara kedua kelompok (p=0,007).Kesimpulan. Masalah psikososial kelompok remaja obes lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok remaja gizi normal.
Kesetaraan Hasil Skrining Risiko Penyimpangan Perkembangan Menurut Cara Kuesioner Praskrining Perkembangan (KPSP) dan Denver II pada Anak Usia 12-14 Bulan dengan Berat Lahir Rendah Fiva A Kadi; Herry Garna; Eddy Fadlyana
Sari Pediatri Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.387 KB) | DOI: 10.14238/sp10.1.2008.29-33

Abstract

Latar belakang. Penilaian perkembangan pada anak penting dilakukan, terutama sampai usia 1 tahununtuk deteksi dini, agar bila ditemukan kecurigaan penyimpangan dapat dilakukan stimulasi dan intervensidini sebelum terjadi kelainan. Depkes RI mengeluarkan revisi buku deteksi dini tumbuh kembang untukidentifikasi dini perkembangan di tingkat kecamatan berupa kuesioner praskrining perkembangan (KPSP)yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan ataupun nonkesehatan terlatih.Tujuan. Penelitian ini membandingkan kesetaraan hasil antara KPSP dan Denver II dalam mendeteksikecurigaan penyimpangan perkembangan.Metode. Penelitian dilakukan dengan metode evaluatif komparatif dan rancangan cross sectional, pada anakusia 12–14 bulan dengan berat lahir rendah di puskesmas Garuda Bandung pada bulan Februari sampaiMaret 2008. Dengan menggunakan metode KPSP skrining dilakukan oleh kader kesehatan terlatih kemudiandibandingkan dengan Denver II oleh dokter, dan dinilai kesetaraan dari dua hasil pemeriksaan tersebutmenggunakan perhitungan coefficient of agreement Kappa.Hasil. Delapan puluh lima subjek penelitian diperiksa status perkembangan oleh 10 orang kader kesehatan(dipilih random dan lolos uji inter dan intra-observer) kemudian oleh 2 dokter. Dari KPSP didapatkansebanyak 82,4% normal dan 17,6% curiga terganggu, menurut Denver II didapatkan sebanyak 77,6%normal dan 22,4% curiga terganggu. Nilai sensitifitas dan spesifisitas untuk KPSP dalam penelitian inimasing-masing adalah 95% dan 63%, dengan nilai Kappa 0,552 dan p<0,0001.Kesimpulan. Pemeriksaan KPSP setara moderate dengan Denver II dan dapat menjadi alat deteksi dini ditingkat Posyandu. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada usia dan tempat yang lebih bervariasi sertadengan jumlah kader yang lebih besar.
Perbandingan Penggunaan Pediatric Index of Mortality 2 (PIM2) dan Skor Pediatric Logistic Organ Dysfunction (PELOD), Untuk memprediksi kematian pasien sakit kritis pada anak Linda Marlina; Dadang Hudaya S; Herry Garna
Sari Pediatri Vol 10, No 4 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.551 KB) | DOI: 10.14238/sp10.4.2008.262-7

Abstract

Latar belakang. Penilaian derajat kesakitan (severity score of illness) telah dikembangkan sejalan dengan meningkatnyaperhatian terhadap evaluasi dan pemantauan pelayanan kesehatan. Skor yang telah dikembangkanuntuk anak adalah pediatric logistic organ dysfunction, pediatric risk of mortality, dan pediatric index ofmortality.Tujuan. Membandingkan ketepatan pediatric index of mortality-2 dengan skor pediatric logistic organdysfunction dalam memprediksi kematian pasien sakit kritis pada anak.Metode. Rancangan observasi longitudinal dengan subjek penelitian anak yang menderita sakit kritis, dirawatdi Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSHS pada bulan Februari-Mei 2008. Dilakukan anamnesis, pemeriksaanfisis, dan laboratorium untuk mendapatkan pediatric index of mortality 2 dan skor pediatric logistic organdysfunction. Analisis statistik dengan menggunakan receiver operating characteristic (ROC) untuk menilaidiskriminasi dan Hosmer-Lemeshow goodness-of-fit untuk menilai kalibrasi.Hasil. Didapatkan 1215 anak berobat ke Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Hasan Sadikin Bandung, 120di antaranya merupakan pasien kritis. Pediatric index of mortality 2 memberikan hasil diskriminasi yanglebih baik (ROC 0,783; 95% CI 0,688–0,878) dibandingkan dengan pediatric logistic organ dysfunction(ROC 0,706; 95% CI 0,592–0,820). Pediatric index of mortality-2 memberikan hasil kalibrasi yang baik(Hosmer-Lemeshow goodness-of-fit test p=0,33; SMR 0,85) dibandingkan pediatric logistic organ dysfunction(p=0,00; SMR 1,37). PIM2 dan skor PELOD mempunyai korelasi positif dihitung dengan menggunakanSpearman’s correlation, r=0,288 (p=0,001).Kesimpulan. Pediatric index of mortality-2 memiliki kemampuan diskriminasi dan kalibrasi lebih baikdibandingkan dengan pediatric logistic organ dysfunction.
Perbandingan Status Besi pada Remaja Perempuan Obes dengan Gizi Normal Dessy Afrianti; Herry Garna; Ponpon Idjradinata
Sari Pediatri Vol 14, No 2 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.2.2012.97-103

Abstract

Latar belakang. Prevalensi obesitas pada remaja cenderung meningkat. Beberapa penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan antara obesitas dan terjadinya anemia defisiensi besi. Anemia defisiensi besi berhubungan dengan kebutuhan yang meningkat sejalan dengan peningkatan berat badan, serta pola makan yang tidak seimbang pada obesitas. Tujuan.Mengukur dan membandingkan status besi yang dinilai berdasarkan pemeriksaan hemoglobin (Hb),reticulocyte hemoglobin content(CHr), dan feritin serum pada remaja perempuan obes dan gizi normal serta penanggulangan sedini-dininya pada remaja dengan defisiensi besi.Metode. Penelitian studi analitik cross-sectionaldi SMP 14, SMP 34, dan SMA 24 Bandung pada bulan November 2011. Subjek penelitian terdiri atas remaja perempuan sehat yang memiliki status gizi normal dan obes berdasarkan standar WHO reference2007 yang diambil secara acak sebanyak 25 orang tiap kelompok. Analisis data menggunakan uji nonparametrik dengan uji Mann Whitney untuk membandingkan status besi yang dinilai berdasarkan pemeriksaan Hb, CHr,dan feritin serum antara kelompok obes dan gizi normal. Dilakukandietary recalluntuk mengetahui asupan makanan pada kedua kelompok penelitian. Kemaknaan ditentukan berdasarkan nilai p<0,05.Hasil. Kadar Hb, CHr, dan feritin serum antara kelompok obes dan gizi normal tidak menunjukkan perbedaan (p>0,05). Obesitas lebih banyak terjadi pada remaja dengan status sosioekonomi lebih tinggi (p=0,039). Terdapat perbedaan asupan protein hewani, protein nabati, besi, dan vitamin C antara remaja perempuaan obes dengan gizi normal yang memiliki nilai p berturut-turut p<0,001; p<0,019; p=0,026 dan p=0,032.Kesimpulan. Tidak terdapat perbedaan status besi remaja perempuan obes dengan gizi normal. Asupan makanan mempengaruhi status besi pada remaja obes dan gizi normal.
Pemeriksaan Dermatoglifik dan Penilaian Fenotip Sindrom Down Sebagai Uji Diagnostik Kariotip Aberasi Penuh Trisomi 21 Sjarif Hidajat; Herry Garna; Ponpon S Idjradinata; Achmad Surjono
Sari Pediatri Vol 7, No 2 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.9 KB) | DOI: 10.14238/sp7.2.2005.97-104

Abstract

Latar belakang: Sindrom Down (trisomi 21) terjadi karena aberasi numerik sebagaiakibat kegagalan proses replikasi dan pemisahan sel anak (non-disjunction). Bentukkariotip aberasi ini dapat berbentuk aberasi penuh dan dapat pula berbentuk mosaik,yang diduga mempunyai implikasi terhadap berat ringannya kelainan fenotip. Di sampingpenting untuk konseling genetik, penelaahan secara cepat di bangsal perinatologi jugadiperlukan untuk asumsi sementara dalam menjawab pertanyaan keluarga pasien.Tujuan: tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan jenis kariotip dengan beratnyaaberasi penuh terhadap beratnya fenotip sindrom Down.Metoda: penelitian dilakukan pada 147 anak usia 0-5 tahun di Yayasan Suryakanti, RSDr. Hasan Sadikin dan Yayasan Dian Grahita Jakarta. Penentuan fenotip sindrom Downdilakukan dengan penelaahan gejala utama dari kelainan tersebut. Dilakukan wawancarariwayat perinatal dan latar belakang keluarga serta pemeriksaan dermatoglifik,pemeriksaan antropometrik khusus dan pengambilan sampel darah untuk pemeriksaankromosom dari kultur limfosit.Hasil: didapatkan 146 anak mempunyai kelainan kariotip, yang ternyata semuanya trisomi21, sedangkan seorang anak menunjukkan kariotip normal. Hasil analisis menunjukkandermatoglifik, kelainan mata dan kelainan tangan dan kaki mempunyai hubungan yangsignifikan dengan kariotip. Pada dermatoglifik abnormal 78,2% mengarah ke kariotipaberasi penuh. Kelainan jantung bawaan, kelainan mata dan kelainan tangan dan kaki,terdapat masing-masing 82,4%, 77,7% dan 77,6%. Secara bersama-sama yang memberikannilai risiko tertinggi adalah kelainan gerak, kemudian kelainan mata dan dermatoglifik.Sebanyak 47 anak (32%) menunjukkan kariotip mosaik dan 99 anak (68%) jenis aberasipenuh. Diperoleh besarnya risiko terjadinya kariotip aberasi penuh adalah 9,5 kali padakeempat variabel fenotip abnormal dibandingkan dengan subjek tanpa gangguan fenotipdan dermatoglifik. Kelainan dermatoglifik, kelainan mata dan kelainan tangan serta kakisecara bermakna menunjukkan adanya hubungan antara satu variabel dengan lainnya,makin rendah persentase sel normal pada kariotip aberasi penuh, makin abnormal keadaandermatoglifik dan fenotip organ tubuh tersebut.Kesimpulan: pasien kelainan aberasi kromosom numerik, khususnya trisomi 21,mempunyai kelainan gabungan dermatoglifik serta kelainan organ tertentu dalam derajatyang maksimal, dan cenderung menunjukkan kariotip jenis aberasi penuh.
Perbandingan Fungsi Kognitif Bayi Usia 6 Bulan yang Mendapat dan yang Tidak Mendapat ASI Eksklusif Lony Novita; Dida A. Gurnida; Herry Garna
Sari Pediatri Vol 9, No 6 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.6.2008.429-34

Abstract

Latar belakang. Salah satu faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak adalah faktor nutrisi terutamapemberian ASI eksklusif. Hubungan antara ASI eksklusif dan perkembangan kognitif telah diketahui padaanak usia sekolah tetapi pada bayi belum banyak diketahui dan belum ada penelitian yang mengukur IQpada bayi khususnya di Indonesia.Tujuan penelitian. Membandingkan fungsi kognitif bayi berusia 6 bulan yang diberi ASI eksklusi danbukan ASI eksklusif.Metode. Penelitian cohort ini dilakukan pada bulan Mei-Juli 2007. Subjek penelitian bayi usia 4 bulanyang mendapat ASI eksklusif dan noneksklusif yang bertempat tinggal di lingkungan Puskesmas CigondewahBandung diikuti sampai usia 6 bulan. Perkembangan kognitif dinilai dengan skala Griffith dan dikonversikanmenjadi nilai IQ. Dampak ASI eksklusif terhadap perkembangan kognitif dianalisis dengan uji t.Hasil. Dari 86 bayi yang diteliti, 8 bayi drop out, 39 ASI eksklusif dan 39 bayi noneksklusif. Tidak adaperbedaan karakteristik subjek dan karakteristik orangtua subjek. Rata-rata IQ bayi ASI eksklusif 128,3(8,8), rentang IQ bayi ASI eksklusif 112-142 sedangkan bayi ASI noneksklusif rata-rata 114,4 (12,1), rentangIQ 82-137. Kelompok ASI eksklusif IQ di atas rata-rata 32 bayi dan di bawah rata-rata 7 bayi sedangkan ASInoneksklusif IQ di atas rata-rata 19 bayi dan di bawah rata-rata 20 bayi. Pemberian ASI noneksklusif berpeluangterjadinya IQ di bawah rata-rata 1,68 kali lebih besar dibandingkan di atas rata-rata (x2=9,57; p=0,002).Kesimpulan. Dari aspek fungsi kognitif pemberian ASI eksklusif memberikan hasil lebih baik dibandingdengan yang tidak mendapat ASI eksklusif
Co-Authors Aam Maryamah Achmad Suardi Achmad Surjono Adjat Sedjati Rasyad Adjat Sedjati Rasyad Adjat Sedjati Rasyad Adjat Sedjati Rasyad Agnes Rengga Indrati Agung Firmansyah Sumantri Ahmad Suardi Alamsyah Aziz Alex Chairulfatah Alex Chairulfatah Alma Tanzia Nasa Alma Yulistia Fadhilah Alma Yulistia Fadhilah Andi Rinaldi Andika Ilham Rahmadi Prianza Andre van der Venn Andriane, Yuke Ani Melani Maskoen Aniceto Cardoso Barreto Anita Deborah Anwar Annesya Atma Battya Annisa Kusumawardhani Annisa Rahmah Furqaani Ardini Saptaningsih Raksanagara Ardini Saptaningsih Raksanagara Ardini Saptaningsih Raksanagara, Ardini Saptaningsih Ari indra Susanti Arief Guntara Atia Mansoorah Atie Rachmiatie Aulia Fitri Swity Azhali M. S. Bachti Alisjahbana Batara, Triando Budi Setiabudiawan BUDI SETIABUDIAWAN Budi Setiabudiawan Budiman , Budiman Buti Azfiani Buti Azfiani Azhali Cherawaty, Aneu Cissy B. Kartasasmita Citra Kartika Dadang Hudaya Dadang Hudaya S Deborah Anwar, Anita Dedi Rachmadi Delfian Rahmat Aditia Delia Oktaviani Solihat Deni K. Sunjaya Dessy Afrianti Dida A. Gurnida Dida Akhmad Gurnida Dika Rifky Fernanda Dilla Latul Anjaniah Dina Garniasih Djatnika Setiabudi Donissa Aurel Titania Dwi Prasetyo Dyana Eka Hadiati Dzulfikar D. Lukmanul Hakim Eddy Fadlyana Eka Hendryanny Eka Nurhayati Endah Pujiastuti Endang Widajanti Eva Rianti Indrasari Fajarini Putri Hidayat Farah Talitha Nawiryasa Farid Husin Fathia Salsabila Fakhira Fauzia Laili Fina Meilyana Finda Wijayanti Firman Fuad Wirakusumah Fiva A Kadi Gaga Irawan Gartika Sapartini Gibran Bramasta Dirgavansya Gilang Mutiara Giyawati Yulilania Okinarum Hadi Susiarno Halimatus Saidah Hana Sofia Hana Sopia Rachman Harefa, Umy Darni Harry Iskandar Heda Melinda D. Nataprawira Heni Nurakilah Henne Giyantini Henri Setiawan Herawati, Yanti Herri S. Sastramihardja Herry Herman Herry Sastramihardja, Herry Heru Haerudin Hidayat Wijayanegara Hinta Meijerink Ida Parwati Indri Budiarti Ingrid Rita Sitomorang Irvan Afriandi Ismawati Ismayanty, Devie Iwin Sumarman Iwin Suwarman Jernihati Krisniat Harefa Jujun Junia Julistio Djais Julistio Djais Julistio T. B. Djais Julistio T.B. Djais Khairunnisa, Dini Pajriani Kharisma Firda Amalia Komalaningsih , Sri Kusnandi Rusmil Lelly Yuniarti Leri Septiani Lestari, Meti Widya Lina Herlina Linda Marlina Lisa Adhia Garina Lony Novita M.S. Azhali Ma&#039;mun Sutisna Ma&#039;mun Sutisna Ma&#039;mun Sutisna Maulya Listrianti Maya Tejasari Ma’mun Sutisna Melati Yuliandari Melvi Imelia Risa Metty Nurherliyany Mohamad Yanuar Anggara Muhammad Kasrial Myrna Soepriadi Nadiyah Oktaviani Nanan Sekarwana nashriva, Ita Naufal Khairunnisa Syahira Sulung Nenden Ismawaty Nisa Lathifah Rohmatika Novila Sjafri Bachtiar Novilia Sjafri Bachtiar Novita Ayu Indraswati Nur Maulida Najwa Rahima Nur Melani Sari Nurlatifah, Teni Nurul Auliya Kamila Oky Haribudiman Ponpon Idjradinata Ponpon Idjradinata Ponpon S Idjradinata R. Ayu Wulandari Sekarini R.M Ryadi Fadil Rahayu, Bintari Dwi Rahmat Budi Rahmawaty Alie, Ike Ratna Damailia Reinout van Crevel Reni Ghrahani Reni Ghrahani Retno Ekowati Retno Saraswati Revan Muhammad Rhena Alma Ramadianti Rika Nilapsari Riki Yudiana Riki Yudiana Rina Permatasari Rizki, Fathia Rowawi, Roni RR. Ella Evrita Hestiandari Ryandini, Gessyla Safana Edisa Samsudin Surialaga Sandriani Shafira Nefananda Kariza Silfian, Silfian Siti Sugih Sjarif Hidajat Soenarjati Soedigo Adi Soenarjati Soedigo Adi Sri Endah Rahayuningsih Sri Hennyati Amiruddin Sri Komalaningsih Suardi, Achmad Sugih H, Siti Sugih, Siti Suminar, Ratna Suryani Soepardan Susiarno, Hadi Sutisna , Ma'mun Sutisna, Ma’mun Tania Novi Tina Ramayanthi Tisnasari Hafsah Titik Respati Tono Djuwantono Waya Nurruhyuliawati, Siti Aminah, Uni Gamayani, Eddy Fadlyana Wedi Iskandar Wiwin Winiar Yani Dewi Suryani Zulmansyah Zulmansyah , Zulmansyah