Claim Missing Document
Check
Articles

Dampak Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) dalam Pemberdayaan Masyarakat Penerima Manfaat (Studi Penelitian di Desa Moutong Timur Kecamatan Moutong Kabupaten Parigi Moutong) Silfatul Marwah A. Antau; Rauf A. Hatu; Sainudin Latare
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.9714

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) dalam pemberdayaan masyarakat penerima manfaat di Desa Moutong Timur, Kecamatan Moutong, Kabupaten Parigi Moutong. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Informan penelitian terdiri atas Kepala Desa dan masyarakat penerima manfaat BSPS yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program BSPS tidak hanya memberikan manfaat berupa perbaikan kualitas rumah, tetapi juga menghasilkan dampak pemberdayaan bagi masyarakat penerima manfaat. Dampak tersebut terlihat dari meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan rumah, tumbuhnya rasa tanggung jawab terhadap pemeliharaan hunian, serta munculnya kemandirian dalam melakukan perbaikan rumah secara swadaya setelah program selesai. Selain itu, program juga memberikan dampak sosial berupa meningkatnya kenyamanan, keamanan, dan kualitas hidup masyarakat, serta memperkuat hubungan sosial melalui praktik gotong royong selama proses pembangunan. Dari aspek ekonomi, bantuan yang diberikan mampu mengurangi beban pengeluaran masyarakat dalam memperbaiki rumah. Meskipun demikian, tingkat pemberdayaan yang dihasilkan belum merata pada seluruh penerima manfaat karena adanya perbedaan kemampuan ekonomi, tingkat partisipasi, dan kapasitas swadaya masyarakat. Dengan demikian, Program BSPS dapat dikatakan berkontribusi positif terhadap pemberdayaan masyarakat, namun masih memerlukan pendampingan yang berkelanjutan agar dampak pemberdayaan dapat dirasakan secara lebih merata.
Dampak Bantuan Langsung Tunai (BLT), dalam Menggerakan Ekonomi Masyarakat (Studi Penelitian di Desa Moutong Timur, Kecamatan Moutong Kabupaten Parigi Moutong) Siti Mutia Dunggio; Rauf A. Hatu; Sainudin Latare
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.9937

Abstract

Kemiskinan dan ketimpangan ekonomi masih menjadi persoalan utama di masyarakat pedesaan, termasuk di Desa Moutong Timur, Kecamatan Moutong, Kabupaten Parigi Moutong. Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) dipandang sebagai instrumen kebijakan sosial yang bertujuan menjaga daya beli masyarakat dan mendorong aktivitas ekonomi lokal. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak BLT dalam menggerakkan ekonomi masyarakat Desa Moutong Timur serta mengkaji efektivitas mekanisme penyaluran bantuan terhadap kesejahteraan masyarakat. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, sedangkan penentuan informan dilakukan secara purposive sampling yang melibatkan pemerintah desa, penerima BLT aktif, dan mantan penerima BLT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BLT memberikan dampak positif terhadap peningkatan daya beli rumah tangga, pemenuhan kebutuhan pokok, serta penguatan aktivitas ekonomi lokal melalui peningkatan konsumsi masyarakat dan dukungan terhadap usaha kecil. Musyawarah desa dalam proses penyaluran BLT juga dinilai meningkatkan transparansi dan ketepatan sasaran penerima bantuan. Namun demikian, penelitian menemukan sejumlah kendala, terutama keterbatasan sistem pendataan dan munculnya potensi ketergantungan sebagian masyarakat terhadap bantuan pemerintah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa BLT efektif sebagai stimulus ekonomi jangka pendek di tingkat desa, tetapi keberlanjutan dampaknya memerlukan pendataan yang lebih akurat, pengawasan berkelanjutan, serta penguatan program pemberdayaan ekonomi agar bantuan tidak hanya bersifat konsumtif, melainkan juga produktif.
Dinamika Musyawarah Perkawinan di Kecamatan Paguyaman Pantai Iyan Tahir; Rauf A. Hatu; Yowan Tamu
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.10043

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dinamika musyawarah perkawinan serta menganalisis faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam proses musyawarah perkawinan di Kecamatan Paguyaman Pantai. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teori Pertukaran Sosial George C. Homans digunakan untuk menjelaskan proses interaksi dan negosiasi yang terjadi dalam musyawarah perkawinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musyawarah perkawinan merupakan arena pertukaran sosial yang mempertemukan harapan, kepentingan, dan kemampuan kedua belah pihak keluarga. Proses musyawarah tidak selalu berlangsung dalam satu kali pertemuan, tetapi sering melibatkan negosiasi berulang hingga tercapai kesepakatan bersama. Faktor-faktor yang memengaruhi jalannya musyawarah meliputi kemampuan ekonomi calon mempelai laki-laki, nilai-nilai adat dan budaya, serta status sosial yang berkaitan dengan tingkat pendidikan, pekerjaan, penghasilan, dan kedudukan keluarga dalam masyarakat. Perbedaan antara harapan keluarga perempuan dan kemampuan ekonomi pihak laki-laki sering menjadi kendala yang menyebabkan negosiasi berlangsung lebih lama bahkan berpotensi menunda pelaksanaan perkawinan. Dengan demikian, musyawarah perkawinan tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme adat, tetapi juga sebagai proses sosial yang melibatkan pertukaran kepentingan dan pencapaian kesepakatan antarkeluarga. Dengan demikian, musyawarah perkawinan memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan nilai-nilai budaya sekaligus menyesuaikannya dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang terus berkembang.
Interaksi Sosial Mahasiswa Rantau di Asrama PPMI Sulawesi Tengah Mir’ah Azizah Nasri; Rauf A. Hatu; Sainudin Latare
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.10046

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis interaksi sosial mahasiswa rantau di Asrama PPMI Sulawesi Tengah. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perubahan pola hubungan sosial antar penghuni asrama yang menunjukkan kecenderungan meningkatnya sikap individualisme dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri dari pengurus dan penghuni Asrama PPMI Sulawesi Tengah yang dipilih secara purposive. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi sosial mahasiswa rantau di Asrama PPMI Sulawesi Tengah berlangsung dalam bentuk pertukaran, konflik, dominasi, dan sosiabilitas sebagaimana dijelaskan dalam teori Georg Simmel. Bentuk pertukaran terlihat melalui aktivitas saling membantu dan berbagi informasi, sedangkan konflik muncul akibat perbedaan karakter, kurangnya komunikasi, dan persoalan kebersihan asrama. Dominasi tampak dalam penerapan aturan dan pembagian tugas oleh pengurus asrama, sementara sosiabilitas terlihat melalui kegiatan berkumpul dan komunikasi antar penghuni. Namun, interaksi sosial yang terjalin belum sepenuhnya melibatkan seluruh penghuni asrama. Sebagian mahasiswa cenderung menunjukkan sikap individualisme yang ditandai dengan rendahnya partisipasi dalam kegiatan bersama, terbatasnya interaksi dengan penghuni lain, lebih banyak menghabiskan waktu di ruang pribadi, serta lebih mengutamakan kepentingan pribadi dibandingkan kepentingan bersama. Kondisi tersebut menyebabkan hubungan sosial antar penghuni belum terjalin secara optimal dan berpengaruh terhadap tingkat kebersamaan di lingkungan asrama. Meskipun demikian, solidaritas sosial masih ditemukan pada sebagian penghuni melalui sikap saling peduli dan membantu dalam situasi tertentu.