Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Quarter Life Crisis Terhadap Kecemasan Pada Fresh Graduate di Kota Pontianak Recika Aurelia; Sri Nugroho Jati; Nur Kur’ani
PSIKOLOGI KONSELING Vol. 19 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/20xr0a86

Abstract

Fenomena quarter life crisis menjadi isu psikologis yang semakin nyata di kalangan dewasa awal, khususnya para fresh graduate yang sedang menghadapi transisi besar dari dunia pendidikan ke dunia kerja. Pada fase ini, individu rentan mengalami kebingungan akan arah hidup, tekanan sosial, dan kecemasan terhadap masa depan. Data dari Centers for Disease Control and Prevention (2021) menunjukkan bahwa 42% dewasa awal di Amerika Serikat berusia 18–24 tahun mengalami gejala kecemasan atau depresi, dipicu oleh tekanan pekerjaan, ketidakpastian ekonomi, serta tantangan dalam kehidupan sosial. Fakta ini mencerminkan situasi serupa yang terjadi secara lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh quarter life crisis terhadap kecemasan pada fresh graduate di Kota Pontianak. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling, yang melibatkan 110 responden fresh graduate berusia 20–25 tahun. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan skala quarter life crisis berdasarkan teori Robbins & Wilner dan skala kecemasan dari Deffenbacher & Hazeleus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh quarter life crisis terhadap kecemasan, mayoritas responden yang mengalami quarter life crisis dalam kategori sedang (67,3%) dan kecemasan dalam kategori sedang (74,5%). Berdasarkan hasil analisis regresi sederhana, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05), nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,623, dan nilai F sebesar 4.535, yang menunjukkan bahwa quarter life crisis memberikan pengaruh sebesar 62,3% terhadap kecemasan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara quarter life crisis terhadap kecemasan pada fresh graduate di Kota Pontianak.
PENGARUH REGULASI DIRI TERHADAP PEMBELIAN IMPULSIF PADA PENGGEMAR K-POP DI KOTA PONTIANAK Hanna Amalia; Widya Lestari; Sri Nugroho Jati
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 12, No 9 (2025): Nusantara : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v12i9.2025.3871-3882

Abstract

Indonesia yang saat ini merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia merupakan rumah bagi jutaan K-popers atau pecinta K-Pop. Penggemar K-Pop yang dimana kebanyakan adalah dewasa awal seringkali membeli barang secara spontan tanpa memikirkan fungsi dari barang yang dibelinya, bahkan terkadang pembelian ini tanpa adanya rencana. Perilaku dorongan secara berlebihan bisa mengarah pada perilaku impulsive buying. Fenomena ini membuat peneliti ingin mengetahui apakah terdapat pengaruh  antara impulsive buying terhadap regulasi diri individu. Tujuan dari penelitian ini untuk memberikan informasi berdasarkan data faktual untuk membuktikan bahwa adanya pengaruh regulasi diri terhadap impulsive buying pada penggemar K-Pop di Kota Pontianak. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik pengambilan sampling yaitu purposive sampling. Subjek pada penelitian ini berjumlah 70 orang dewasa awal di Kota Pontianak. Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis regresi liner sederhana dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics v.25. Berdasarkan analisis data diketahui bahwa impulsive buying memiliki pengaruh terhadap regulasi diri. Hal ini disimpulkan nilai koefisien determinasi atau R Square adalah sebesar 0,441 nilai ini berarti bahwa sumbangan efektif regulasi diri terhadap impulsive buying sebesar 44,1 % dan sisanya 55,9% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti pada penelitian ini.
Effectiveness of Applied Behavior Analysis Therapy Against Decreased Distracted Behavior in Children Attention Deficit Hyperactive Disorder Adela Seftiani; Sri Nugroho Jati; Risna Hayati
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 12, No 1 (2023): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v12i1.9876

Abstract

Epidemiological data indicate that ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder) affects the population of children and young adults worldwide by 3.4%. Difficulty in focusing attention is accompanied by an increase in excessive motor activity, one of which is overcome by using the ABA (Applied Behavior Analysis) method of therapy. The purpose of this study is to determine whether ABA therapy reduces distracted behavior in children with ADHD using an experimental design in one participant. Subjects have criteria, namely, children aged 5-6 years and experiencing ADHD problems. This exploration information assortment strategy as perception, meetings, and documentation. The aftereffects of the review expressed that ABA therapy was effective in reducing distracted behavior in children with ADHD. The subject experienced a decrease in distracted behavior withha significance value of 0,043 (p<0,05). Starting from the beginning before being given treatment or the pre-test stage, the frequency of distraction was 112 times, compared to the final stage after being given treatment, the frequency of distraction was 30 times. Data epidemiologi mengindikasikan bahwa ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder) mempengaruhi populasi anak dan dewasa muda diseluruh dunia sebesar 3,4%. Kesulitan dalam memusatkan perhatian disertai dengan meningkatnya aktivitas motorik yang berlebihan salah satunya diatasi dengan terapi ABA (Applied Behavior Analysis). Tujuan penelitian ialah untuk mengetahui efektivitas terapi ABA terhadap penurunan perilaku terdistraksi pada anak ADHD dengan menggunakan experimental design pada satu partisipan. Subjek memiliki kriteria yaitu, anak berusia 5-6 tahun dan mengalami permasalahan ADHD. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menyatakan bahwa terapi ABA efektif untuk mengurangi perilaku terdistraksi pada anak dengan gangguan ADHD. Subjek mengalami penurunan perilaku terdistraksi dengann nilai signifikansi 0,043 (p<0,05). Terhitung mulai dari awal sebelum diberikan perlakuan atau tahap pre-test frekuensi terdistraksi sebesar 112 kali, dibandingkan dengan tahap akhir setelah diberikan perlakuan frekuensi distraksinya sebanyak 30 kali.
Self-Protection model through children's knowledge and assertive behavior as an early protection effort against sexual violence in Kubu Raya Regency Sri Nugroho Jati; Vidyastuti
Insight: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 26 No. 2 (2024): AUGUST 2024
Publisher : Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26486/psikologi.v26i2.4043

Abstract

School-aged children are at risk of becoming victims of sexual abuse, highlighting the need for early self-protection programs. These programs should provide knowledge, training, and assertive actions as part of preventive psychoeducation for children. Studies show that between 20% and 33% of girls and 10% to 16% of boys will experience sexual abuse before reaching 18 years old. The Self-Protection Model aims to serve as an early protection program by equipping children with the knowledge to recognize and identify sexual abuse. This study employed a quasi-experimental method with a quantitative approach. The sampling method used was purposive sampling on 20 subjects consisting of male and female students who met the following criteria: aged 9-12 years and elementary school students. The measurement tools used were assertiveness scale and knowledge scale. The analysis using the non-parametric Wilcoxon test, demonstrated that the self-protection model significantly contributes to children's knowledge and assertive behavior in response to sexual violence. Efforts to prevent sexual violence should be directed at children, emphasizing the importance of providing knowledge and examples of assertive behavior. This study's findings indicated a significant improvement in children's knowledge and assertive behavior following the implementation of the Self Protection Model intervention, thereby empowering them to apply the newly acquired skills as a preventive strategy against sexual violence. Keyword: Self-Protection Model, Knowledge, Assertive Behavior, Sexual Violence.