Claim Missing Document
Check
Articles

Menakar Persepsi Risiko Usahatani Bawang Merah: Peran Sumber Informasi dan Pengalaman Petani: Assessing Risk Perception in Shallot Farming: The Role of Information Sources and Farming Experience Lisanty, Nina; Nurrohman, Aji; Firnanda , Arya Bagus; Kurniawan, Heru; Mayda, Trika
Jurnal : Agricultural Review Vol. 4 No. 2 (2025): November 2025
Publisher : Agriculture Faculty, Universitas Ichsan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37195/arview.v4i2.1623

Abstract

Bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) merupakan komoditas hortikultura strategis dengan nilai ekonomi tinggi di Indonesia, namun usahataninya memiliki tingkat risiko yang signifikan baik dari aspek produksi maupun pemasaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi petani terhadap risiko usahatani bawang merah berdasarkan sumber informasi yang digunakan serta pengalaman bertani. Studi dilakukan di Desa Kedungdowo, Kecamatan Nganjuk, Kabupaten Nganjuk yang merupakan salah satu sentra produksi bawang merah di Jawa Timur. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 47 petani aktif yang telah menjalankan usahatani bawang merah minimal tiga musim tanam. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis untuk mengetahui perbedaan persepsi berdasarkan sumber informasi (penyuluh, kelompok tani, dan media sosial), serta uji korelasi Spearman untuk menganalisis hubungan antara pengalaman bertani dengan persepsi risiko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam persepsi risiko berdasarkan sumber informasi, dan tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara pengalaman bertani dengan persepsi risiko. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi risiko petani tidak dipengaruhi oleh lamanya pengalaman bertani maupun jenis sumber informasi yang digunakan. Temuan ini menegaskan perlunya pendekatan lain yang lebih kontekstual dalam mengedukasi petani, termasuk peningkatan kapasitas melalui pelatihan, penyuluhan berbasis digital, serta penguatan kelembagaan lokal dalam mitigasi risiko usahatani hortikultura.
Perbandingan Keuntungan Petani Bengkuang Atas Pilihan Penerapan Pola Tanam di Kabupaten Kediri Rahmawati, Siti Zenita; Artini, Widi; Sidhi, Eko Yuliarsha; Lisanty, Nina
Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 3 No. 1 (2023): JANUARY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v3i1.4001

Abstract

Jicama (Pachyrhizus erosus) is a plant that has been cultivated by farmers in Kediri Regency. Initially, farmers planted jicama in monoculture during one growing season. Furthermore, some farmers develop an intercropping pattern of jicama and choy sum to increase the chances of greater yields and help reduce expenses because maintenance of two crops can be done at one time. The research was conducted in Ngampel Village, Papar District, one of jicama producing centers in Kediri Regency, to investigate the income comparison and the feasibility of jicama farming using different cropping patterns. Data were taken from all the farmers in the research location who cultivated jicama as many as 60 farmers, who were divided into two categories of cropping pattern application. The data were then analyzed by cost-income, farming feasibility analysis, and two independent sample tests. The results showed that the average total cost of jicama farming intercropped with choy sum was IDR28,439,687 per ha with an average income of IDR48,625,350 per ha. Meanwhile, jicama monoculture farming required an average cost of IDR24,395,391 per ha and generated an average income of IDR35,302,661 per ha. The statistical test results also proved that the costs and income of farmers applying the penanaman sela pattern exceeded monocultures. Both cropping patterns were feasible and profitable with R/C ratios of 2.57 and 2.78 for monoculture and intercropping respectively. Bengkuang (Pachyrhizus erosus) merupakan tanaman yang mulai dibudidayakan oleh petani di Kabupaten Kediri. Awalnya petani menanam bengkuang secara penanaman tunggal pada suatu musim tanam. Selanjutnya, sebagian petani mengembangkan pola penanaman sela untuk meningkatkan peluang hasil yang lebih besar dan membantu menekan biaya pengeluaran karena perawatan dua jenis tanaman yang bisa dilakukan dalam satu waktu sekaligus. Penelitian dilakukan di sentra bengkuang Kediri, yang berlokasi di Desa Ngampel, Kecamatan Papar, untuk mengetahui perbandingan pendapatan dan kelayakan usahatani bengkuang dengan penerapan pola tanam berbeda. Data diambil dari semua petani di lokasi penelitian yang membudidayakan bengkuang sebanyak 60 petani, yang terbagi dua kategori penerapan pola tanam. Data kemudian dianalisis dengan analisis biaya dan pendapatan, analisis statistik uji beda rata-rata, dan analisis kelayakan usahatani. Rerata biaya total per hektar tanam sela bengkuang-sawi sebesar Rp28.439.687 dengan pendapatan per hektar Rp48.625.350. Sementara tanam tunggal bengkuang membutuhkan rerata biaya per hektar Rp24.395.391 untuk menghasilkan pendapatan per hektar Rp35.302.661. Hasil uji statistik beda rata-rata membuktikan bahwa biaya dan pendapatan petani bengkuang penerap pola tanam sela memang melebihi penanaman tunggal. Kedua pola tanam sangat layak diusahakan dan menguntungkan dengan nilai rasio R/C 2,57 dan 2,78 masing-masing untuk usahatani bengkuang penanaman tunggal dan penanaman sela dengan sawi.
Kelayakan Usaha Ternak Burung Puyuh di Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk Ta’wim, Akhris Asanit; Artini, Widi; Andajani, Wiwiek; Nina Lisanty
Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 4 No. 1 (2024): JANUARY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v4i1.5290

Abstract

Prambon District in Nganjuk Regency, East Java, has shown its community's adaptation to the COVID-19 pandemic by switching to livestock businesses, significantly raising quail. With mostof the population initially working as farmers, the Work From Home (WFH) policy and Large-Scale Social Restrictions (PSBB) encouraged the Prambon community to choose livestock as an additional source of income. Research in Mojoagung Village involving 23 breeders showed that raising quail in Prambon has promising economic potential. Even though production costs reach IDR33,704,380 for 1000 quails, the net income from selling quail eggs reaches IDR77,220,620 during the production period. Additional income from selling quail meat and quail dung (fertilizer) reached IDR2,250,000 and IDR1,575,000 respectively. This livestock business is profitable and very worthy of development. Policy implications involve government support in the form of training, technical assistance, and market development to support local economic growth and diversification of livelihoods, making quail farming a sustainable option to improve the welfare of the Prambon community.   Kecamatan Prambon di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, menunjukkan adaptasi masyarakatnya terhadap pandemi COVID-19 dengan beralih ke usaha peternakan, terutama beternak burung puyuh. Dengan mayoritas penduduk yang awalnya berprofesi sebagai petani, kebijakan Work From Home (WFH) dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mendorong masyarakat Prambon untuk memilih usaha peternakan sebagai sumber pendapatan tambahan. Penelitian di Desa Mojoagung melibatkan 23 peternak menunjukkan bahwa beternak burung puyuh di Prambon memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan. Meskipun biaya produksi mencapai Rp33.704.380 untuk 1000 ekor burung puyuh, pendapatan bersih dari penjualan telur puyuh mencapai Rp77.220.620 selama masa produksi. Pendapatan tambahan dari penjualan daging puyuh dan kotoran puyuh (pupuk) masing-masing mencapai Rp2.250.000 dan Rp1.575.000. Usaha ternak ini menguntungkan dan sangat layak untuk dikembangkan. Implikasi kebijakan melibatkan dukungan pemerintah dalam bentuk pelatihan, bantuan teknis, serta pengembangan pasar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi lokal dan diversifikasi mata pencaharian, menjadikan beternak burung puyuh sebagai opsi yang berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Prambon.
Analisis Komparatif Pengguna dan Non Pengguna Pupuk Organik Cair pada Usahatani Padi (Oryza sativa L.) di Desa Tanggungkramat Kabupaten Jombang Umi Mariyati; Andajani, Wiwiek; Sidhi, Eko Yuliarsha; Nina Lisanty
Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 4 No. 1 (2024): JANUARY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v4i1.5327

Abstract

This research aims to increase rice production by introducing Liquid Organic fertilizers (POC) as an alternative to chemical fertilizers. Farmers have so far only relied on chemical fertilizers, causing a decrease in soil fertility and an increase in the use of subsidized chemical fertilizers. The research was conducted in the village of Tuliskramat, Ploso District, Jombang Regency, which is a rice production center. The research method used observation, filling in a list of questions, interviews, and direct documentation for 40 respondent farmers (8 POC user farmers and 32 non-user farmers). Primary and secondary data were analyzed using farming costs, revenues, income, and comparative t-tests. The results showed that the average rice production with POC reached 7,000 kg/ha, while 6,489 kg/ha without POC. Rice farming income with POC (IDR21,426,010.00/ha) is higher than without POC (IDR18,228,966.00/ha). Hypothesis testing shows a significant difference between the two, indicating that using POC provides more significant rice farming income than without POC. This research implies the importance of adopting POC to increase farmers' yields and income and reduce dependence on subsidized chemical fertilizers. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan produksi padi dengan mengenalkan Pupuk Organik Cair (POC) sebagai alternatif penggunaan pupuk kimia. Petani selama ini hanya mengandalkan pupuk kimia, menyebabkan penurunan kesuburan tanah dan peningkatan penggunaan pupuk kimia yang bersubsidi semakin berkurang. Penelitian dilakukan di desa Tanggungkramat, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, yang merupakan sentra produksi padi. Metode penelitian menggunakan observasi, pengisian daftar pertanyaan, wawancara, dan dokumentasi langsung kepada 40 petani responden (8 petani pengguna POC dan 32 petani non-pengguna). Data primer dan sekunder dianalisis dengan metode biaya usahatani, penerimaan usahatani pendapatan usahatani, dan uji t komparatif. Hasil menunjukkan rata-rata produksi padi dengan POC mencapai 7.000 kg/ha, sedangkan tanpa POC sebesar 6.489 kg/ha. Pendapatan usahatani padi dengan POC (Rp21.426.010/ha) lebih tinggi daripada tanpa POC (Rp18.228.966/ha). Uji hipotesis menunjukkan perbedaan signifikan antara keduanya, mengindikasikan bahwa penggunaan POC memberikan pendapatan usahatani padi yang lebih besar dibandingkan tanpa POC. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya adopsi POC untuk meningkatkan hasil dan pendapatan petani serta mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia bersubsidi.
Optimalisasi Teknik Promosi untuk Peningkatan Penjualan Produk Toko Pertanian di Kota Kediri Hohoubun, Frederik Moses Bal-bal; Sutiknjo, Tutut Dwi; Andajani, Wiwiek; Lisanty, Nina
Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 4 No. 2 (2024): JULY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v4i2.5694

Abstract

Sari Tani Agricultural Store, strategically located in Kediri City, needs help increasing agricultural product sales despite being surrounded by various vendors. This study aims to explore effective promotional strategies to boost sales at this store. A descriptive qualitative method was employed, with respondents consisting of regular buyers, loyal buyers, and resellers. Data were collected through in-depth interviews and observations to understand how each buyer category became aware of Sari Tani Agricultural Store, particularly about using social media as a promotional tool. The results indicate that promotions via social media, especially Facebook, effectively attract regular and loyal buyers, while resellers, mostly outside Kediri City, learned about the store through online references. The main factors influencing loyalty are product quality and satisfactory service. This study suggests enhancing social media interactions and diversifying promotional platforms to increase sales and market reach further. In conclusion, social media promotional strategies effectively boost sales and customer loyalty at Sari Tani Agricultural Store, providing practical insights for store managers to develop more effective and sustainable marketing strategies. Toko Pertanian Sari Tani, terletak strategis di Kota Kediri, menghadapi tantangan dalam meningkatkan penjualan produk pertanian meskipun posisinya dikelilingi oleh berbagai pedagang. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi strategi promosi efektif untuk meningkatkan penjualan di toko ini. Metode kualitatif deskriptif digunakan dengan responden terdiri dari 25 pembeli biasa, 3 pembeli loyal, dan 2 pembeli reseller. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi untuk memahami cara setiap kategori pembeli mengetahui Toko Pertanian Sari Tani, terutama terkait penggunaan media sosial sebagai alat promosi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa promosi melalui media sosial, khususnya Facebook, efektif menarik pembeli biasa dan loyal, sementara pembeli reseller, yang sebagian besar dari luar Kota Kediri, mengetahui toko melalui referensi online. Faktor utama yang mempengaruhi loyalitas adalah kualitas produk dan pelayanan. Penelitian ini menyarankan peningkatan interaksi di media sosial dan diversifikasi platform promosi untuk lebih meningkatkan penjualan dan jangkauan pasar. Kesimpulannya, strategi promosi media sosial efektif dalam meningkatkan penjualan dan loyalitas pelanggan di Toko Pertanian Sari Tani, memberikan wawasan praktis bagi pengelola toko untuk mengembangkan strategi pemasaran yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Analisis Ketergantungan Petani Padi Terhadap Tengkulak Dalam Sistem Pemasaran di Sentra Produksi Padi Kecamatan Pace Agustina, Liya; Sidhi, Eko Yuliarsha; Artini, Widi; Lisanty, Nina
Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional Vol. 4 No. 2 (2024): JULY
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jintan.v4i2.5697

Abstract

In the current era, farmers in Indonesia, as an agricultural country, face significant challenges in post-harvest and marketing activities, often relying heavily on middlemen. This dependence is influenced by limited capital, transportation assistance, and kinship relationships. Farmers usually sell their crops to middlemen at lower prices, which affects their income and sustainability. This research aims to analyze the factors that cause the dependence of rice farmers in Pace District on middlemen in the marketing system. This research used a purposive sampling method in three villages in Pace District, involving 40 rice farmers and five key informants (middlemen). Data were analyzed using logistic regression and Spearman correlation to determine the influence of various factors on dependency and satisfaction levels. Logistic regression results show that limited capital and kinship relationships significantly influence farmers' dependence on middlemen. Spearman's correlation showed a weak and insignificant relationship between reasons for dependence and level of satisfaction. Policy interventions should focus on providing alternative capital and improving transportation and market access to reduce reliance on middlemen. Creating agricultural cooperatives and rural financial institutions can empower farmers, ensuring more equitable and sustainable relationships. Di era sekarang, petani di Indonesia, sebagai negara agraris, menghadapi tantangan signifikan dalam kegiatan pascapanen dan pemasaran, sering kali sangat bergantung pada tengkulak. Ketergantungan ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti keterbatasan modal, bantuan transportasi, dan hubungan kekerabatan. Petani sering menjual hasil panen mereka kepada tengkulak dengan harga yang lebih rendah, yang mempengaruhi pendapatan dan keberlanjutan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan ketergantungan petani padi di Kecamatan Pace terhadap tengkulak dalam sistem pemasaran. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling di tiga desa di Kecamatan Pace, melibatkan 40 petani padi dan 5 informan kunci (tengkulak). Data dianalisis menggunakan regresi logistik dan korelasi Spearman untuk menentukan pengaruh berbagai faktor terhadap ketergantungan dan tingkat kepuasan. Hasil regresi logistik menunjukkan bahwa keterbatasan modal dan hubungan kekerabatan secara signifikan mempengaruhi ketergantungan petani pada tengkulak. Korelasi Spearman menunjukkan hubungan yang lemah dan tidak signifikan antara alasan ketergantungan dan tingkat kepuasan. Untuk mengurangi ketergantungan pada tengkulak, intervensi kebijakan harus fokus pada penyediaan modal alternatif dan peningkatan akses transportasi dan pasar. Pembentukan koperasi pertanian dan lembaga keuangan pedesaan juga dapat memberdayakan petani, memastikan hubungan yang lebih adil dan berkelanjutan.  
BUDIDAYA CACING AFRICAN NIGHT CRAWLER (EUDRILUS EUGENIAE) SEBAGAI PELUANG USAHA DI DESA TANJUNG, TULUNGAGUNG Nina Lisanty; Wiwiek Andajani; Kharisma Satria Pamungkas; Taufan Achmad Ghozali Yusuf
Jurnal Abdi Masyarakat Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal Abdi Masyarakat Mei 2025
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jaim.v8i2.6567

Abstract

Tanjung Village, Tulungagung, has great potential in cultivating African Night Crawler earthworms (Eudrilus eugeniae), which are useful as animal feed and organic waste processors. However, the lack of community knowledge is the main obstacle in its development. This community service activity aims to provide education and training in earthworm cultivation through socialization, demonstrations, and direct practice, including media preparation, maintenance, and harvesting. Evaluations are carried out to measure the increase in participants' understanding and skills. The results of the activity showed a significant increase in cultivation skills, with several participants starting to apply the techniques they learned independently. In addition, community interest in this business has increased, opening up new economic opportunities. In conclusion, this training has succeeded in increasing community capacity in cultivating Eudrilus eugeniae and is expected to contribute to economic independence and sustainable use of local resources.
STRENGTHENING MODEL FOR DAIRY CATTLE BREEDERS WITH PROFIT-SHARING SYSTEM IN TRENGGALEK REGENCY Artini, Widi; Sidhi, Eko Yuliarsha; Lisanty, Nina; Sutiknjo, Tutut Dwi; Bahar, Asikin
Jurnal Ilmu Ilmu Agribisnis: Journal of Agribusiness Science Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Lampung University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jiia.v13i1.8806

Abstract

The Government of Trenggalek Regency is strongly committed to advancing the dairy cattle industry and boosting milk production in the region, with particular emphasis on Dompyong Village, Bendungan District.  This research aims to assess the capital requirements for dairy cattle farming and develop a model to strengthen the position of breeders using a profit-sharing system.  A survey method, incorporating both quantitative and qualitative descriptive approaches, was employed to gather comprehensive data.  The study revealed that independent dairy cattle farming requires a total capital of IDR 23,150,000.  However, under the profit-sharing system, breeders need only IDR 9,900,000 due to shared costs for purchasing dairy cows.  The profit-sharing arrangement generally involves a 50:50 split between breeders and investors, including income from the sale of calves and milk, resulting in a total profit-sharing value of IDR 23,000,000 per year.  Additionally, breeders receive 10 to 20 percent of the revenue from the sale of dairy cows, depending on the agreement.  The proposed model for strengthening breeders focuses on developing their character and credibility to build investor trust, advocating for written profit-sharing agreements to prevent disputes, and enhancing institutional support to improve business efficiency and provide technical guidance. Keywords : dairy cows; livestock, profit-sharing system.
Inovasi Olahan Jagung Twistcorn sebagai Pengembangan Agroindustri Lokal di Lamongan Hamidah, Emmy; Bukhori, Imam; Santi, Idum Satia; Lisanty, Nina
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v5i2.6974

Abstract

Corn (Zea mays) has various health benefits derived from its carotenoid content, which gives its kernels their yellow color. Approximately 22% of this content is beta-carotene, which functions to prevent blindness due to cataracts, while xanthophyll protects cells from cancer, acts as an antioxidant, and supports the immune system and heart health. This community service activity aims to increase understanding of the optimal use of corn, specifically through the production of nutritious twistcorn snacks. This training involved the community in RT.001 RW.003 Laren Village and began with an initial questionnaire, followed by the delivery of materials on making twist corn snacks, and concluded with a final questionnaire. The material was delivered through lectures and question-and-answer discussions, which were met with enthusiasm by the participants. The results of the activity demonstrated an increase in knowledge among all participating communities following the training. Jagung (Zea mays) memiliki berbagai manfaat kesehatan yang berasal dari kandungan karotenoidnya, yang memberikan warna kuning pada bijinya. Sekitar 22% dari kandungan tersebut adalah beta karoten, yang berfungsi mencegah kebutaan akibat katarak, sementara xantofil melindungi sel dari kanker, bertindak sebagai antioksidan, dan mendukung sistem kekebalan serta kesehatan jantung. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang pemanfaatan jagung secara optimal, khususnya melalui pembuatan snack jagung twistcorn yang bergizi. Pelatihan ini melibatkan masyarakat di RT.001 RW.003 Desa Laren dan dimulai dengan kuisioner awal, diikuti dengan penyampaian materi mengenai pembuatan camilan jagung twistcorn, dan diakhiri dengan kuisioner akhir. Materi disampaikan melalui metode ceramah dan diskusi tanya jawab, yang disambut dengan antusiasme peserta. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan seluruh masyarakat peserta setelah pelatihan.
Inovasi Pengolahan Limbah Kulit Pisang Raja Nangka menjadi Tepung Bernilai Ekonomi pada Sentra Getuk Pisang Desa Petok, Kediri Lisanty, Nina; Sutiknjo, Tutut Dwi; Junaidi, Junaidi; Muharram, Muhammad; Nurhamidah, Siti
JATIMAS : Jurnal Pertanian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jatimas.v5i2.7063

Abstract

Petok Village, located in Mojo District, Kediri Regency, is known as a major center for getuk pisang (banana cake) production that has been sustained across generations. However, the production process generates large amounts of waste from raja nangka banana peels that remain unutilized. The banana peel waste generated from these home-based industries has the potential to pollute the environment if not properly managed and disposed of. Based on previous research on the formulation of banana peel flour as a functional food ingredient, this activity aimed to transfer knowledge and skills to getuk pisang producers, enabling them to process banana peel waste into value-added flour. The program was conducted using a participatory approach involving socialization sessions, direct demonstrations of banana peel flour production, and discussions on business opportunities derived from the process. The results showed an 85% increase in participants’ knowledge and skills, as measured by pre- and post-tests. In addition to producing quality banana peel flour, the activity also fostered awareness of circular economy concepts and local resource utilization. This community empowerment initiative presents opportunities for establishing a joint business group focused on banana peel flour processing, as well as collaboration with the village government for product development and sustainable marketing. Desa Petok di Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, dikenal sebagai sentra penghasil getuk pisang yang telah bertahan lintas generasi. Namun, produksi getuk pisang menghasilkan limbah kulit pisang raja nangka dalam jumlah besar yang belum termanfaatkan secara optimal. Limbah kulit pisang yang dihasilkan dari industri rumahan getuk pisang berpotensi mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya tentang formulasi tepung kulit pisang sebagai bahan pangan fungsional, kegiatan ini bertujuan mentransfer pengetahuan dan keterampilan kepada pelaku usaha getuk pisang agar mampu mengolah limbah kulit pisang menjadi tepung bernilai ekonomi. Metode pelaksanaan dilakukan melalui pendekatan partisipatif yang meliputi sosialisasi, demonstrasi pembuatan tepung kulit pisang, serta diskusi peluang usaha turunan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta sebesar 85% berdasarkan pre-test dan post-test. Selain menghasilkan produk tepung kulit pisang berkualitas, kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran tentang konsep ekonomi sirkular dan potensi diversifikasi produk berbasis bahan lokal. Kegiatan ini berimplikasi pada peluang pembentukan kelompok usaha bersama pengolahan tepung kulit pisang serta kerja sama dengan pemerintah desa untuk pengembangan produk olahan dan pemasaran berkelanjutan.    
Co-Authors Achmad Masykur Ghazali Agustia Dwi Pamujiati Ahmad Habibi Walid Ahmad Haris Hasanuddin Slamet Andarini, Marwita Andreas Zulkarnain Anggraini, Dea Arissaryadin, Arissaryadin Asikin Bahar Auliyya, Zikra Ayu Nur Aliza Azkiyah, Lailatul Bahar, Asikin Chumaidah, Siti Cindy Yohana Devi Oktaviana Devina Cinantya Anindita Djoko Rahardjo Djoko Rahardjo Eko Yuliarsha Sidhi Eko Yuliarsha Sidhi Eko Yuliarsha Sidhi Emmy Hamidah Fahas, Exzanidan Fajarino, Aldo Firdausi, Muhammad Riza Firnanda , Arya Bagus Heru Kurniawan Hohoubun, Frederik Moses Bal-bal Idum Satia Santi Imam Bukhori Junaidi Junaidi Junaidi Junaidi Kharisma Satria Pamungkas Kharisma Satria Pamungkas Kresna Widigdo Margo Utomo Liya Agustina, Liya Mariyono Mariyono Mayda, Trika Moch. Agus Suryo Wibowo Mufiana Alfatin Muhammad Salahuddin muharram, Muhammad Mulyanto Mulyanto Nanang Aji Saputro Nixie Azalia Whintisna Nixie Azalia Whintisna Nugraheni Hadiyanti Nur Khabibi Nur Laili Wahyu Triana Nur Ulfa Turohmah Nurhamidah, Siti Nurrohman, Aji Prayoga, Reksa Nanda Putri Islami, Gadis Tiara Rachmad Chairul Huda Rafelda Dias Nurfitri Rahmawati, Siti Zenita Rasyadan Taufiq Probojati Reksa Nanda Prayoga Risma Ari Prayitno Rizki Jefri Ramadhan Roszana Wahyuniati Sa'adah, Enik Nur Saptorini Saptorini Sari, Sindy Permata Satriya Bayu Aji Setyowati Slamet, Ahmad Haris Hasanudin Suryo Wibowo, Mochamad Agus Taufan Achmad Ghozali Yusuf Taufan Achmad Gozali Yusuf Ta’wim, Akhris Asanit Tri Widayatsih Tri Widayatsih, Tri Tutut Dwi Sutiknjo Tutut Dwi Sutiknjo Tutut Dwi Sutiknjo Umi Mariyati Wahyudi Wally Wibowo, Moch. Agus Suryo Widi Artini Widi Artini WIWIEK ANDAJANI Wiwiek Andajani Yesy Nur Gunariyati Yuli Witono Yuliyanto Yuliyanto