Claim Missing Document
Check
Articles

Cekaman Severe Drought Stress Influences the Success of Madura Tangerine Flower InductionKekeringan Berat Mempengaruhi Keberhasilan Induksi Bunga Jeruk Keprok Madura Resa Sri Rahayu; Roedhy Poerwanto; Darda Efendi; Winarso Drajad Widodo
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 1 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.11.1.13-23

Abstract

Induksi bunga jeruk keprok di luar musim melalui cekaman kekeringan merupakan salah satu upaya memenuhi ketersediaan buah jeruk keprok sepanjang tahun. Tingkat cekaman kekeringan yang dapat menginduksi bunga memiliki ambang batas tertentu sehingga cekaman yang terlalu berat dapat mempengaruhi keberhasilan induksi bunga. Penelitian ini bertujuan membuktikan bahwa cekaman kekeringan yang terlalu berat dapat mempengaruhi keberhasilan induksi bunga jeruk keprok dataran rendah varietas Madura. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Tajur PKHT-IPB dengan ketinggian ± 300 mdpl dari bulan Maret-Oktober dan dirancang dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor yaitu tingkat cekaman kekeringan dengan tiga taraf: tanpa cekaman kekeringan sebagai kontrol (pengairan rutin dengan 100% kadar air kapasitas lapang), cekaman kekeringan 50% kadar air kapasitas lapang (tanpa pengairan sampai 50% kadar air kapasitas lapang) dan cekaman kekeringan 40% kadar air kapasitas lapang (tanpa pengairan sampai 40% kadar air kapasitas lapang). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air 50% dan 40% dari kapasitas lapang tidak menginduksi bunga jeruk keprok Madura yang dibuktikan dengan kadar giberelin yang sangat tinggi. Kadar air 50% dan 40% dari kapasitas lapang terlalu rendah sehingga tanaman mengalami cekaman kekeringan berat dan mengganggu proses induksi bunga. Cekaman kekeringan berat tersebut ditandai dengan potensial air daun dan tanah yang tinggi, kadar prolin daun tinggi, kerapatan stomata menurun, dan daun menggulung. Kata kunci: jeruk keprok dataran rendah, kadar air kapasitas lapang, luar musim, Rancangan Acak Kelompok (RAK), rewatering
Morphophysiological Changes of Mangosteen Seedling (Garcinia mangostana L.) on Polyethylene Glycol (PEG) Application Dhika Prita Hapsari; Roedhy Poerwanto; Didy Sopandie; Edi Santosa; Deden Derajat Matra
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 11 No. 1 (2020): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jhi.11.1.1-12

Abstract

Mangosteen requires drought condition to induce flowering, however extending drought period might restrict the plant growth. Therefore, the response of mangosteen to drought stress needs to be studied. This research conducted on May to July 2017 using Randomized Block Design with one factor. The experiment comprised of 4 levels of polyethylene glycol (PEG 6000) treatment, i.e., PEG 0%, PEG 10% (-0.03 MPa), PEG 15% (-0.41 MPa) dan PEG 20% (-0.67 MPa) (m.v-1). The results showed that there is a dryness of the mangosteen leaves given PEG which occured slowly, starting from the edge of the leaves into the center of midrib. Water consumption was fluctuated until the end of experiment, which the highest was 33.33 ml per day in 0% PEG treated plant, then decreased until 10 ml per day in 20% PEG treated plant. Proline content increased from the first week to the third week after all PEG treatments. The highest proline content were found in 15% PEG (22.14 umol.g-1) and 20% PEG (23.46 umol.g-1) treated plants. Plant dry mass was low under water stress, and more severe stress resulted in more reduction of plant dry mass level. Water stress did not affect the N and Mg content significantly, but reduced P content in mangosteen seedling. Keywords: evapotranspiration, nutrient content, proline, water stress
Aplikasi Kalsium dan Boron untuk Pengendalian Cemaran Getah Kuning Pada Buah Manggis Titin Purnama; Roedhy Poerwanto; E Efendi
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n4.2013.p350-357

Abstract

Cemaran getah kuning merupakan masalah utama yang menyebabkan rendahnya mutu buah manggis. Keseimbangan ketersediaan hara kalsium (Ca) dan boron (B) dalam tanah diduga berperan penting dalam pengendalian cemaran getah kuning pada buah manggis. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan kombinasi dosis kalsium dan boron yang tepat untuk mencegah cemaran getah kuning pada buah manggis. Penelitian dilaksanakan di Purwakarta, Jawa Barat dari Bulan Nopember 2012 sampai Juni 2013. Rancangan percobaan yang digunakan ialah acak kelompok faktorial dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas dua faktor yaitu dosis Ca (0,0; 2,5; 5,0; dan 7,5 kg/pohon) dan dosis B (0,00; 0,77; 1,55; dan 2,32 g/pohon). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Ca dan B dapat menurunkan persentase dan skor cemaran getah kuning pada aril dan kulit buah. Terjadi interaksi pemberian Ca dan B terhadap skor dan persentase cemaran getah kuning pada aril. Persentase cemaran getah kuning pada aril terendah (2,67%) diperoleh pada kombinasi dosis 5,0 kg Ca/pohon+1,55g B/pohon. Hasil penelitian ini dapat dijadikan pedoman kombinasi dosis Ca dan B untuk menanggulangi cemaran getah kuning pada buah manggis.
Aplikasi Prohexadion-Ca, Paclobutrazol, dan Strangulasi untuk Induksi Pembungaan di Luar Musim Pada Tanaman Jeruk Keprok (Citrus reticulata) Muhammad Darmawan; Roedhy Poerwanto; S Susanto
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n2.2014.p133-140

Abstract

Paclobutrazol sebagai zat penghambat biosintesis giberelin selama ini telah digunakan secara luas untuk mengatur produksi di luar musim beberapa buah tropika, namun zat ini meninggalkan residu yang panjang. Prohexadion-Ca adalah zat penghambat biosintesis giberelin yang dalam penggunaannya tidak meninggalkan residu, namun belum pernah diuji efektifitasnya dalam mengatur produksi buah di luar musim. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mendapatkan teknologi produksi buah jeruk di luar musim tanpa meninggalkan residu dalam tanah. Penelitian menggunakan rancangan blok terpisah (split block design). Penelitian berlangsung dari bulan November 2012 sampai Mei 2013. Hasil penelitian menunjukan perlakuan Prohexadion-Ca, Paclobutrazol, dan strangulasi dapat mempercepat pembungaan dan meningkatkan jumlah bunga dan buah tanaman jeruk keprok. Perlakuan Prohexadion-Ca dapat mempercepat mulainya muncul bunga  dibandingkan dengan perlakuan Paclobutrazol dan dapat meningkatkan jumlah bunga dan buah sama dengan Paclobutrazol. Penggunaan Prohexadion-Ca dapat dijadikan sebagai teknologi untuk memproduksi buah jeruk di luar musim tanpa meninggalkan residu dalam tanaman.
Precooling dan Konsentrasi Etilen dalam Degreening untuk Membentuk Warna Jingga Kulit Buah Jeruk Siam Taruna Shafa Arzam; I Hidayati; Roedhy Poerwanto; Y A Purwanto
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n3.2015.p257-265

Abstract

Degreening pada buah jeruk tropika dataran rendah seringkali gagal menghasilkan buah jeruk berwarna jingga, tetapi kuning. Warna jingga terbentuk dari campuran dua pigmen kulit jeruk, yaitu β-cryptoxanthin (kuning) dan ß-citraurin (kuning kemerahan). ß-citraurin sering kali tidak terbentuk pada buah jeruk tropika dataran rendah karena pembentukannya terjadi apabila buah terpapar suhu rendah saat pertumbuhannya. Precooling buah jeruk tropika dataran rendah diharapkan dapat mendorong pembentukan ß-citraurin karena jeruk yang sudah dipanen masih melakukan metabolisme. Konsentrasi etilen adalah salah satu faktor pembatas keberhasilan degradasi klorofil dalam degreening. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh precooling sebelum degreening dan konsentrasi etilen terbaik pada degreening buah jeruk siam. Buah dipetik di kebun jeruk rakyat di Jember dan perlakuan degreening dilaksanakan di Laboratorium Pascapanen, Pusat Kajian Hortikultura Tropika, Institut Pertanian Bogor pada bulan Februari 2014. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dua faktor. Faktor pertama adalah perlakuan precooling (dengan precooling dan tanpa precooling). Faktor kedua adalah konsentrasi etilen (0, 100, 200, 300 ppm). Perlakuan degreening buah jeruk siam asal Jember yang diawali dengan perlakuan precooling pada suhu 5oC menghasilkan jeruk berwarna jingga, sedangkan yang tanpa precooling menghasilkan warna kuning. Etilen 100 ppm adalah konsentrasi terbaik dalam degradasi klorofil. Perlakuan precooling dan degreening tidak berpengaruh buruk pada kandungan asam dan gula buah jeruk.
Korelasi Konsentrasi Hara Nitrogen Daun dengan Sifat Kimia Tanah dan Produksi Manggis Lukman Liferdi; Roedhy Poerwanto
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v21n1.2011.p14-23

Abstract

Analisis daun dapat digunakan sebagai pedoman dalam mendiagnosis status hara  dan rekomendasi pupuk pada tanaman manggis. Namun demikian, standar teknik pengambilan contoh daun harus ditentukan secara akurat. Umur daun merupakan faktor utama dalam menentukan status hara tanaman buah. Daun yang tepat dijadikan contoh yaitu pada saat konsentrasi hara mempunyai korelasi terbaik dengan pertumbuhan dan hasil. Daun yang mempunyai korelasi terbaik tersebut digunakan dalam uji kalibrasi. Konsentrasi hara mineral pada daun diamati pada tiga sentra perkebunan manggis, yaitu Kabupaten Bogor, Tasikmalaya, dan Purwakarta. Dua puluh pohon manggis dewasa yang relatif seragam dari masing-masing kebun diambil daunnya setiap bulan dan dianalisis untuk mengetahui konsentrasi hara N-nya. Contoh daun diambil mulai daun berumur 2 bulan setelah trubus dan seterusnya secara periodik hingga umur 10 bulan. Pengamatan produksi meliputi jumlah bunga yang mekar, jumlah bunga yang rontok, serta jumlah dan bobot  buah per pohon. Kualitas buah dilihat dari konsentrasi N, P, dan K dari masing-masing bagian buah dan padatan terlarut total. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi hara nitrogen pada daun berkurang dengan bertambahnya umur. Konsentrasi N daun manggis asal Purwakarta lebih tinggi daripada Tasikmalaya dan Bogor serta berkorelasi positif dengan hara N tanah dan hasil. Korelasi konsentrasi N dari beberapa umur daun dengan hasil yang paling baik yaitu daun umur 5 bulan dengan koefisien korelasi di atas 0,7. Oleh karena itu, umur daun yang tepat sebagai alat diagnosis hara N untuk tanaman manggis yaitu 5 bulan. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman dalam menyusun rekomendasi pemupukan untuk tanaman manggis.Leaf analysis can be used as a guide to diagnose nutritional status and as a fertilizer recommendation tool for mangosteen tree. Therefore, the sampling technique of standard leaf has to be established. Leave age was the main important factor to estimate fruits plant nutrient status. The best leaf sampling was the one which has the best correlation between leaf nutrients concentration with growth and yield as well. This leaf will be used in the calibration test. Leaf nutrient concentration was investigated in three mangosteen production areas i.e. Bogor, Tasikmalaya, and Purwakarta. To analyze N concentration of  twenty uniform and representative mangosteen trees, leaves were taken monthly. The results showed that concentration of N on the leaves decreased  following the increase of leaf age. Mangosteen leaves from Purwakarta contained more N than those from Tasikmalaya and Bogor. Fifth months leaf age was the best one to be used as a leaf sample to diagnose N nutritional status which coefficient correlation more than 0.7, because it had the best correlation among concentration of N in leaf with soil nitrogen nutrient and production.  This research results were used as a guide to estimate fertilizer recommendations for mangosteen.
Pelengkungan Cabang dan Pemupukan Jeruk Keprok Borneo Prima pada Periode Transisi di Lahan Rawa Kabupaten Paser Kalimantan Timur Muhamad Noor Azizu; Roedhy Poerwanto; M. Rahmad Suhartanto; Ketty Suketi
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n1.2016.p81-88

Abstract

(Bending and Fertilization in Transition Period of Mandarin Citrus cv. Borneo Prima in Wetlands Paser Regency East Kalimantan)Jeruk keprok Borneo Prima (Citrus reticulata cv. Borneo Prima) merupakan komoditas lokal unggulan yang perlu dikembangkan sebagai upaya untuk mengurangi impor jeruk. Tanaman jeruk keprok Borneo Prima telah berumur 5 tahun, namun belum memasuki periode berbunga dan berbuah. Hal ini diduga karena kondisi lingkungan dan teknik budidaya yang belum sesuai. Tujuan penelitian ini ialah untuk mendapatkan teknik pelengkungan cabang dan dosis pupuk kandang yang tepat jeruk keprok Borneo Prima pada periode transisi di lahan rawa. Penelitian dilaksanakan di kebun jeruk petani Desa Padang Pengrapat, Kecamatan Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, di lahan rawa pada bulan Oktober 2013 sampai dengan Maret 2014, dengan rancangan acak kelompok faktorial dan tiga ulangan. Faktor pertama ialah pelengkungan cabang dengan dua taraf, yaitu tidak dilengkungkan dan dilengkungkan. Faktor kedua ialah dosis pupuk kandang dengan empat taraf, yaitu 0, 40, 60, dan 80 kg/tanaman. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pelengkungan cabang dapat menyebabkan tanaman jeruk keprok Borneo Prima yang berumur 5 tahun menjadi berbunga dan berbuah, sedangkan yang tidak dilengkungkan cabangnya tidak berbunga dan tidak berbuah. Selain itu pelengkungan cabang meningkatkan pertumbuhan vegetatif (jumlah tunas baru, total panjang tunas baru per pohon, dan total daun baru per pohon). Pemberian pupuk kandang sampai dengan 80 kg/tanaman pada periode transisi belum dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan generatif (jumlah bunga per cabang dan jumlah buah per cabang) sampai dengan 90 hari setelah perlakuan. Tidak terdapat interaksi antara pemberian pupuk kandang dan pelengkungan cabang terhadap pertumbuhan vegetatif dan generatif. Bunga pertama muncul dari cabang atau tunas yang terletak di bagian dalam tajuk lalu diikuti tajuk yang terletak di luar. Untuk membungakan tanaman jeruk keprok Borneo Prima yang telah memasuki periode transisi atau pada periode transisi dapat dilakukan pelengkungan cabang.KeywordsJuvenil; Lahan rawa; Pupuk kandang; JerukAbstractMandarin citrus cv. Borneo Prima (Citrus reticulata cv. Borneo Prima) is superior local variety that needs to be developed in order to reduce citrus import. This citrus are 5 years old at wetlands in Paser East Kalimantan, but the citrus crop has not entered a fruitful period. This is allegedly due to environmental conditions and cultivation techniques are not appropriate. The purpose of this research was to find out the bending technology and best manure rate fertilization on transition period of mandarin citrus cv. Borneo Prima at wetlands.The experiment was conducted from October 2013 to March 2014 in the citrus farm orchard in Village of Padang Pengrapat, Tanah Grogot, Paser, East Kalimantan. The research used randomized block design with three replication. The first factor is bending (without bending and bending) and the second factor is manure rate (0, 40, 60, and 80 kg/plant). The results showed that bending can cause into flowering and fruiting mandarin citrus plant cv. Borneo Prima 5 year old, whereas that is without bending branches not flowering and not fruiting, in addition to the bending branches increase vegetative growth (number of new shoots, the total length of new shoots per plant, and total new leaves per plant). Manure up to 80 kg/plant in the period of transition has not been able to increase the vegetative and generative growth (number of flowers per branch and the number of fruits per branch) to 90 days after treatment.There is no interaction effect between bending and manure rate for vegetative and generative growth mandarin citrus cv. Borneo Prima. The first flowers appear from the branches or shoots located inside the canopy and canopy followed that outside located. Lend at interest mandarin citrus plant cv. Borneo Prima which has entered a transition period or in the period of transition can be done bending branches.
Keefektifan Bahan Pencuci dan Pencegah Penyakit Terhadap Kualitas Buah Mangga CV. Gedong Gincu dan Arumanis (The Effectiveness of Washing Materials and Disease Protecting Agent on the Quality of Mango Fruit cv. Gedong Gincu and Arumanis) Ahmad Sutopo; Roedhy Poerwanto; Suryo Wiyono
Jurnal Hortikultura Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v27n2.2017.p253-260

Abstract

Mangga merupakan salah satu komoditas buah tropis di Indonesia yang mempunyai peluang besar untuk pasar domestik dan juga ekspor. Namun, kualitas buah mangga masih memiliki banyak permasalahan. Salah satunya adalah getah yang mengotori kulit buah mangga. Pada saat tangkai buah mangga rusak, getah menyebar pada kulit buah yang menyebabkan kerusakan kulit dan serangan penyakit. Penelitian bertujuan mendapatkan bahan pencuci dan pencegah penyakit yang efektif terhadap kualitas buah mangga cv. Gedong Gincu dan Arumanis. Buah mangga dipanen di kebun petani di Cirebon, Jawa Barat dan Probolinggo, Jawa Timur. Pengamatan dilakukan di Laboratorium Pascapanen Institut Pertanian Bogor pada bulan November 2013 sampai Januari 2014. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap nonfaktorial yang terdiri atas sembilan perlakuan, yaitu air (kontrol) (P0T0), air (kontrol) + fungisida (P0T1), air (kontrol) + khamir Cryptococcus albidus dengan konsentrasi 5 x 104 sel/ml (P0T2), deterjen 1% + air (kontrol) (P1T0), deterjen 1% + fungisida (P1T1), deterjen 1% + khamir C. albidus (P1T2), deterjen 1% + Ca(OH)2 0,5% + air (kontrol) (P2T0), deterjen 1% + Ca(OH)2 0,5% + fungisida (P2T1), dan deterjen 1% + Ca(OH)2 0,5% + khamir C. albidus (P2T2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa deterjen 1% + Ca(OH)2 0,5% + khamir C. albidus 5 x 104 sel/ml, dan deterjen 1% + Ca(OH)2 0,5% + fungisida 0,025% yang paling efektif menghilangkan getah, mengurangi luka bakar, bintik lentisel, mencegah terjadinya kerusakan penyakit antraknosa dan busuk pangkal buah dibandingkan dengan perlakuan kontrol pada kultivar Gedong Gincu dan Arumanis.KeywordsAntraknosa; Busuk pangkal buah; Getah; Luka bakar; KhamirAbstractMango is one of the commodity of tropical fruit in Indonesia which has a great opportunities for domestic market and also export. However, quality of mango still has many problems in Indonesia. One of them is the sap contaminating the skin of mango fruit. When the stem of mango fruit is broken, the sap oozes out spreading over the fruit skin causes serious skin damages and attack of disease. The aim of this study was to determine the effectiveness of washing materials and disease protecting agent on the quality of mango fruit cv. Gedong Gincu and Arumanis. Mango fruit was harvested in farmer garden in Cirebon, West Java and Probolinggo, East Java and observation was conducted in Postharvest Laboratory of Bogor Agricultural University in November 2013 to January 2014. The experiment was designed in a completely randomized design nonfactorial that consist of nine treatments: water (control) (P0T0), water (control) + fungicide (P0T1), water (control) + yeast Cryptococcus albidus with concentration 5 g/liter 5 x 104 cell/ml (P0T2), detergent 1% + water (control) (P1T0), detergent 1% + fungicide (P1T2), detergent 1% + yeast C. albidus (P1T0), detergent 1% + Ca(OH)2 0.5% + water (control) (P2T0), detergent 1% + Ca(OH)2 0.5% + fungicide (P2T1), and detergent 1% + Ca(OH)2 0.5% + yeast C. albidus (P2T1).The result showed that the treatment of detergent 1% + Ca(OH)2 0.5% + yeast C. albidus and detergent 1% + Ca(OH)2 0.5% + fungicides 0.025 was effective to removing of sap, less of sap burn injury, lenticel spoting, protecting agent of anthracnose disease and stem end rot as compared to control on mango fruit cv. Gedong Gincu and Arumanis.
Pertumbuhan dan Keragaan Tanaman Jeruk Keprok Borneo Prima pada Dosis Pupuk dan Bentuk Pangkas Berbeda Tiara Septirosya; Roedhy Poerwanto; Abdul Qadir
Jurnal Agroteknologi Vol 7, No 2 (2017): Februari 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/ja.v7i2.2579

Abstract

Borneo Prima Mandarin (Citrus reticulata cv Borneo Prima) is a new local commodity that grown in lowland but has an interesting orange skin. As a new commodity, Borneo Prima Mandarin has to be developed in order to reduce citrus import. The research was conducted in lowland area (250 m above sea level) IPB research station, Sindang Barang, Bogor from February 2014 to February 2015. The aim of this research was to observe the effect of phosphorus and potassium (PK) fertilizer and pruning on the growth and performance of the plants. This research used Randomize Complete Block Design (RCBD) with two factors. The first factor was aplication of PK fertilizer (15 g P+ 10 g K, 15 g P+ 15 g K, 20 g P+10 g K, 20 g P+15 g K per plant) and the second factor was pruning form (without pruning, open center pruning and hedge pruning). The result showed that the combination of phosporus and potassium fertilizer just gave a significant effect to number of shoot. The highest number of new shoots formed by fertilizing 15 g P+10 g K per tree per application. Pruning treatments had significant effect to plant architecture (i.e reduce plant height, land occupation). Open center pruning and hedge pruning made the crown more open that can increase the light interception so that increase the rate of photosynthesis.
Pengaruh ZPT terhadap Kualitas Buah Manggis Juanasri Juanasri; Roedhy Poerwanto
Agrovigor Vol 1, No 1 (2008): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.277 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v1i1.229

Abstract

The objectives of this experiment was to examine the influence of polyamine, gibberellin and harvesting times to inhibit ripening process and to maintain the postharvest quality on mangosteen. The method applied was a randomized block design with two factors and three replications. First factor was harvesting time consisting of 14, 15 and 15 weeks after anthesis. Second factor is chemical concentration consisting of control (aquadest), GA3 (150, 200, 250 mg/l), polyamine (0,3; 1 and 3 mM). The result showed that spermidine application at 1 mM was more effective to maintain the postharvest quality of mangosteen, the fruit remained soft and the climacteric peak was longer than that of control. Gibberellin application showed unsightly result compared to control. Mangosteen fruits with harvesting time of 15 and 16 weeks after anthesis had better performance than those of harvesting at 14 weeks after anthesis, the fruit has remained soft and the weight loss was less.
Co-Authors , Dorly , Sakhidin , Yudiwanti . DARMAWAN . SAMANHUDI . SUHARSONO Abdul Munif Achmad Surkati Ade Wachjar Agus Purwito Ahmad Ghozi Manshuri Ahmad Ghozi Mansyuri Ahmad S. Abidin Ahmad Sutopo Akmal, Ajmir ALI NURMANSYAH Alifiya Herwitarahman Anas D Susila Anas Dinurrohman Susila Andria Agusta ANDRIA AGUSTA Ansyori, Ansyori Aris Purwanto Asmini Budiani Bambang S . Purwoko Bambang S. Purwoko Bambang Sapta Purwoko Cenra Intan Hartuti Tuharea CICIK SURIANI D Fatria D Fatria Deden Derajat Matra Defitrianida, Asyhuriyah Wardah Dewi Sukma Dhika Prita Hapsari Dian Fahrianty Didy Sopandie Djoko Santoso Dorly Dorly E Efendi Edi Santosa Edi Santosa Edi Santosa Efendi, Darda EKO SETIAWAN Eko Setiawan Endah Retno Palupi Endang Gunawan Faqih Udin Fauziyah Harahap Fumio Fukuda HAJRIAL ASWIDINNOOR Hanifah Muthmainnah Hartrisari Hardjomidjojo Hiroshi Inoue I Hidayati I MADE ARTIKA I NYOMAN RAI Ilmi, Nadhirah Karimatul Iman Rusmana Inanpi Hidayati Sumiasih, Inanpi Hidayati Indah Wulandari INDAH WULANDARI Irsyad Maulana Iskandar Lubis Jawal Muhammad Anwarudinsyah Juanasri Juanasri JULIARNI JULIARNI Kasutjianingati . Ketty Suketi Kuniyuki Saitoh La Ode Safuan Laksono Trisnantoro Latifah K. Darusman Latifah Kosim Darusman Lizawati . Lubis, Wahyu Muhammad Yuha Lukman Liferdi Machfud Machfud Marimin Marimin Matra, Deden Derajat Maulana, Mohamad Akhbar Memen Surahman Mohamad Akhbar Maulana Mohamad Rahmad Suhartanto Muhamad Noor Azizu, Muhamad Noor Muhammad Arif Nasution Muhammad Darmawan Musdalifah, Nuzlul Naohiro Kubota Nian Rimayanti H. Nobuo Sugiyama Nono Sutrisno Nono Sutrisno Nur Wahyu Sariningtias Nurfitri Ramadhani Nurul Khumaida Odit Ferry Kurniadinata Qadir, Abdul Rahayu, Resa Sri Rahmat Budiarto Ramdan Hidayat Rd. Selvy Handayani Resa Sri Rahayu Resa Sri Rahayu Retno Astuti Riana Jumawati Rofiq, Muhamad Abdul Roza Yunita S Susanto Santun R.P. Sitorus Septirosya, Tiara Slamet Susanto Soaloon Sinaga Sobir Sobir SOEKISMAN TJITROSEMITO Sri Astuti Rais Sri Yuliani Sri Yuliani Sriani Sujiprihati SRIANI SUJIPRIHATI Suci Rahayu Sudarsono Sudirman Yahya Suryo Wiyono Sutrisno, Sutrisno T Purnama Tanari, Yulinda Taruna Shafa Arzam Taruna Shafa Arzam, Taruna Shafa TARUNI SRI PRAWAST MIEN KAOMINI ANY ARYANI DEDY DURYADI SOLIHIN Tetty CHAIDAMSARI Tiara, Dede Titin Purnama Tri Muji Ermayanti Trikoesoemaningtyas Vandra Kurniawan Wa Ode Muliastuty Widya Sari Winarso D. Widodo Y A Purwanto Y A Purwanto Yandra Arkeman Yundari, Yundari Yunus, Ismadi