Claim Missing Document
Check
Articles

Penambahan Asam Amino Triptofan Dalam Pakan Terhadap Tingkat Kanibalisme Dan Pertumbuhan Litopenaeus vannamei Diana Rachmawati; Johannes Hutabarat; Ayu Istiana Fiat; Tita Elfitasari; Seto Windarto; Eko Nurcahyo Dewi
Jurnal Kelautan Tropis Vol 24, No 3 (2021): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v24i3.11723

Abstract

Vannamei shrimp (Litopenaeus vannamei) is one of the leading fishery products of the fisheries sector. The problem that is often found in the failure of vannamei shrimp productions is the high level of mortality due to the nature of cannibalism during molting. One solution to minimize the cannibalism of vannamei shrimp is to provide tryptophan supplements in a feed. Tryptophan is a type of essential amino acid that serves as a precursor for serotonin biosynthesis. This study aims to determine the effect and optimal dose of tryptophan added to feed to reduce cannibalism and growth of vannamei shrimp. The test fish used in this study were vannamei shrimp with an average weight of 0,81 ± 0,26 g/individual.  This study used an experimental method, a completely randomized design (CRD) consisting of 4 treatments and three replications. The test feed used in this study was artificial feed with a protein content of 38% plus tryptophan according to treatments A (0%/kg feed), B (0.75%/kg feed), C (1.5%/kg feed), and D (2.25%/kg feed). The results showed that the addition of Tryptophan in the feed had a noticeable effect (P<0,05) on cannibalism levels, survival, and molting rates but had no significant effect (P>0,05) on absolute weight growth, specific growth rates, efficiency ratios protein and efficiency feed utilization of vannamei shrimp. The best dose of tryptophan addition in feed to lower the rate of vannamei shrimp cannibalism in this study was 2,25%, capable of producing a cannibalism rate of 13,33%. Udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu produk perikanan unggulan sektor perikanan. Permasalahan yang sering ditemukan dalam kegagalan produksi udang vaname adalah tingginya tingkat mortalitas karena adanya sifat kanibalisme pada saat terjadi molting. Solusi untuk meminimalisir kanibalisme udang vaname adalah dengan memberi suplemasi asam amino pada pakan, salah satunya adalah triptofan. Triptofan merupakan salah satu jenis asam amino esensial yang berfungsi sebagai prekursor untuk biosintesis serotonin. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh dan dosis optimal triptofan yang ditambahkan ke dalam pakan untuk menurunkan tingkat kanibalisme dan pertumbuhan udang vaname. Ikan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah udang vaname dengan bobot rata-rata 0,81±0,26 g/ekor. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Pakan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah pakan buatan dengan kandungan protein 38% ditambah triptofan sesuai perlakuan yaitu : A (0%/kg pakan), B (0,75%/kg pakan, C (1,5%/kg pakan), dan D (2,25%/kg pakan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan triptofan dalam pakan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap tingkat kanibalisme, kelulushidupan dan tingkat molting, namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap pertumbuhan bobot mutlak, laju pertumbuhan spesifik, protein efisiensi rasio dan efisiensi pemanfaatan pakan. Dosis terbaik dari pemberian triptofan dalam pakan untuk menurunkan tingkat kanibalisme udang vaname dalam penelitian ini adalah 2,25%, mampu menghasilkan tingkat kanibalisme sebesar 13,33%.
Pengaruh Penambahan Enzim Bromelin pada Pakan terhadap Kecernaan Protein, Efisiensi Pemanfaatan Pakan dan Pertumbuhan Udang Windu Penaeus monodon, Fabricius 1798 (Malacostraca: Penaeidae) Diana Rachmawati; Johannes Hutabarat; Eko Nurcahya Dewi; Seto Windarto
Jurnal Kelautan Tropis Vol 23, No 2 (2020): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v23i2.7578

Abstract

Feed utilization efficiency is one of the problems that often faced by tiger shrimp (Penaeus monodon Fabricus) farmers, which is 40-60% of production costs used for feed. The efficiency of feed can be improved by the addition of the bromelains in the feed, which can hydrolyze proteins into simpler compounds to increase the digestibility of the feed protein. This study aims to examine the effect of bromelains in feed on protein digestibility (ADCp), feed utilization efficiency (EPP), and growth (RGR) of tiger shrimp. Tiger shrimp with an average weight of 2.8 ± 0.26 g / individual was obtained from the Brackish Water Aquaculture Development Centre (BBPBAP), Jepara. There were 6 treatments adding bromelains in the feed, A (0%), B (0.2%), C (0.4%), D (0.6%) and E (0.8%). Observation parameters, including ADCp, EPP, PER, RGR, SR, and water quality parameters. The results showed that the addition of the bromelains in feed increased ADCp, EPP, PER, RGR, but had no effect on the SR of tiger shrimp. Bromelains (0.4% / kg) of feed is the optimal dose of ADCp, EPP, and RGR, resulting in a maximum value of 82.59%, 88.17%, and 5.24% / day.   Permasalahan yang sering dihadapi pembudidaya udang windu (Penaeus monodon Fabricius) adalah efisiensi pemanfaatan pakan yang belum maksimal sehingga hampir 40-60% dari total biaya produksi untuk biaya pakan. Efisiensi pemanfaatan pakan dapat ditingkatkan dengan penambahan enzim bromelin dalam pakan yang mampu menghidrolisis protein menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga dapat meningkatkan daya cerna protein pakan. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh enzim bromelin dalam pakan terhadap kecernaan protein (ADCp), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP) dan pertumbuhan (RGR) udang windu. Hewan uji berupa udang windu dengan bobot rata-rata 2,8±0,26 g/ekor diperoleh dari Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP), Jepara sebagai tempat penelitian. Terdapat 6 perlakuan penambahan enzim bromelin dalam pakan yaitu A (0 %), B (0,2 %), C (0,4 %), D (0,6 %) dan E (0,8 %). Pengamatan parameter meliputi ADCp, EPP, PER, RGR, SR dan parameter kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan enzim bromelin dalam pakan meningkatkan ADCp, EPP, PER, RGR, namun tidak berpengaruh pada SR udang windu. Enzim bromelin 0,4%/kg pakan merupakan dosis optimal pada ADCp, EPP dan RGR menghasilkan nilai maksimal sebesar 82,59%, 88,17% dan 5,24%/hari.
Efektivitas Penambahan Ragi Roti (Saccharomyces cerevisiae) pada Pakan Buatan Ikan Tawes (Puntius javanicus) Terhadap Laju Pertumbuhan, Efisiensi Pemanfaatan Pakan dan Kelulushidupan Desy Sumardiyani; Diana Rachmawati; Istiyanto Samidjan
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 4, No 1 (2020): SAT edisi Maret
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.908 KB) | DOI: 10.14710/sat.v4i1.5937

Abstract

Ikan tawes (Puntius javanicus) merupakan komoditas ikan air tawar yang bernilai ekonomis tinggi tetapi memiliki kendala didalam budidaya yaitu pertumbuhannya lambat dan pemanfaatan pakan yang kurang efisien. Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan penambahan ragi roti (S. cerevisiae) pada pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan S. cerevisiae pada pakan terhadap tingkat kosumsi pakan (TKP), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), laju pertumbuhan relatif (RGR) dan kelulushidupan. Materi yang digunakan adalah ragi roti (S. cerevisiae) yang dicampurkan pada pakan buatan ikan dengan cara disemprotkan dan setelah kering diberikan sebagai pakan ikan tawes. Penelitian dilakukan dengan metode ekperimental menggunakan rancangan acak lengap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali pengulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu dengan dosis A (0 g/kg pakan), B (3 g/kg pakan), C (6 g/kg pakan) dan D (9 g/kg pakan). Hewan uji yang digunakan adalah ikan tawes (P. javanicus) sebanyak 120 ekor dengan bobot rata-rata 18,20±0,62 g/ekor. Wadah yang digunakan pada penelitian adalah hapa dengan ukuran 50x50x50 cm3 dengan padat penebaran ikan tawes pada perlakuan yaitu 1 ekor/2 liter. Ikan tawes diberi makan 3 kali sehari sebanyak 5% dari bobot biomassa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan S. cerevisiae pada pakan memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap rasio konversi pakan (FCR) dan pertumbuhan spesifik (SGR) tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kelulushidupan. Hasil terbaik diperoleh pada pemberian pakan dengan dosis 3 g/kg pakan (B) dengan nilai rasio konversi pakan (FCR) 1,28±0,03, pertumbuhan spesifik (SGR) 5,90±0,09% dan kelulushidupan 95,00±8,66%. Kata Kunci : Saccharomyces cerevisiae, ikan tawes dan pertumbuhan
PENGARUH SILASE CACING TANAH (Lumbricus sp.) SEBAGAI SUBSTITUSI TEPUNG IKAN DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP PEMANFAATAN PAKAN DAN PERTUMBUHAN IKAN BAWAL AIR TAWAR (Colossoma macropomum) Siti Maryam; Sri Hastuti; Diana Rachmawati
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 3, No 1 (2019): SAT edisi Maret
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.026 KB) | DOI: 10.14710/sat.v3i1.3929

Abstract

 Pertumbuhan ikan bawal meningkat jika kandungan protein sesuai dengan kebutuhan dan mempunyai profil asam amino hampir mirip dengan tubuh ikan. Harga pakan terus meningkat tanpa diiringi dengan kenaikan harga ikan. Hal tersebut menjadikan pengusaha budidaya perikanan terus berinovasi mencari alternatif bahan lokal. Salah satu alternatif yang digunakan yaitu silase cacing tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh silase cacing tanah (Lumbricus sp.) sebagai substitusi tepung ikan dalam pakan buatan terhadap pemanfaatan pakan dan pertumbuhan ikan bawal tawar serta menentukan komposisi terbaik silase cacing tanah (Lumbricus sp.) sebagai substitusi tepung ikan dalam pakan buatan. Ikan uji yang digunakan yaitu benih ikan bawal tawar dengan bobot tubuh rata-rata 2,98±0,01 g/ekor, dipelihara selama 35 hari, padat tebar 1 ekor/L. Pakan yang digunakan berbentuk pellet dengan protein 31% diberikan secara at satiation dua kali sehari. Eksperimen menggunkan rancangan acak lengkap (RAL) 4 perlakuan dan 3 ulangan, substitusi silase cacing tanah yang digunakan yaitu perlakuan A (0%), B (25%), C (50%) dan D (75%). Variabel yang diamati meliputi total konsumsi pakan (TKP), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), rasio konversi pakan (FCR), protein efisiensi rasio (PER), laju pertumbuhan relatif (RGR) dan kelulushidupan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa silase cacing tanah sebagai substitusi tepung ikan memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap TKP, EPP, FCR, PER dan RGR, namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kelulushidupan. Komposisi terbaik silase cacing tanah sebagai substitusi tepung ikan yaitu perlakuan C 50% tepung ikan dan 50 % silase cacing tanah memberikan nilai TKP 145,13±2,90 g, EPP 75,11±3,36%, FCR 1,33±0,06, PER 2,36±0,11%, RGR 5,22±0,36%/hari dan kelulushidupan 90,00±5,00%.
The Effects of Papain Enzyme Supplement in Feed on Protein Digestibility, Growth and Survival Rate in Sangkuriang Catfish (Clarias sp) Diana Rachmawati; Istiyanto Samidjan
Journal Omni-Akuatika Omni-Akuatika Special Issue 2nd Kripik SCiFiMaS
Publisher : Fisheries and Marine Science Faculty - Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1121.758 KB) | DOI: 10.20884/1.oa.2018.14.2.551

Abstract

The study aimed to assess the effects of Papain Enzyme Supplement in Feed on Protein Digestibity, Growth and Survival Rate of  Sangkuriang Catfish (Clarias sp).  Fingerlings used in the study were acquired from the Center for Freshwater Hatchery and Aquaculture, Muntilan, Central Java, Indonesia. The fingerlings had average weight of 3.43±0.50 g/fish. Completely Randomized Design was used in the experiments with 5 (five) treatment and 3 (three) repetitions. The experimental feed contained 31% of protein and 252.06 Kcal/g of energy. Various doses of the addition of papain enzyme were incorporated into the feed, those doses were A (0 g/kg feed), B (2 g/kg feed), C (4 g/kg feed), D (6 g/kg feed) and E (8 g/kg feed).  Parameters of digestibility of protein (ADCP), relative growth rate (RGR), efficiency of feed utilization (EFU), feed conversion ratio (FCR), protein efficiency ratio (PER), survival rate (SR) and water quality were evaluated.  The papain enzyme supplement significantly (P<0.01) influenced on ADCp, RGR, EFU, FCR, and PER, otherwise SR of catfish was insignificantly affected by the papain enzyme supplement. The best treatment result was the addition of 6/kg feed papain enzyme (treatment D). The study concluded that the optimum dose of the papain enzyme supplement for ADCp, EFU, FCR, PER and RGR were 5.65, 5.62, 6.0, 5.66, 6.0  g/kg feed respectively. Water quality during study was still in favorable condition for nurturing Sangkuriang catfish (Clarias sp).  
PERANAN MANGROVE SEBAGAI SHELTER BUDIDAYA KEPITING BAKAU (Scylla paramamosain) CANGKANG LUNAK (SOFT SHELL) TERHADAP PENINGKATAN PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN KEPITING Istiyanto Samidjan; Diana Rachmawati
Pena Jurnal Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi Vol 27, No 2 (2014): Pena September 2014
Publisher : LPPM Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/jurnalpena.v27i2.672

Abstract

Peranan mangrove sebagai shelter dapat memacu terjadinya molting karena mangrove mengandung nutrient unsur N,P,K sehingga kepiting cepat moulting teknik ini dikembangkan untuk mempercepat moulting kepiting bakau. Tujuan penelitian untuk mengkaji peranan mangrove sebagai shelter   dengan persentase penutupan pada luasan media pemeliharaan yang berbeda dengan diberi pakan buatan terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau. Metode penelitian dengan menggunakan hewan uji kepiting bakau ukuran 144g±0.53 Metode yang digunakan adalah eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL),  4 perlakuan dan 3 ulangan, pemberian daun mangrove dengan berbagai penutupan permukaan pada berbagai persentase yaitu perlakuan A (tanpa mangrove), B (25% mangrove luasan permukaan/m2), C (50% mangrove luasan permukaan/m2) dan  D (75% mangrove luasan permukaan/m2). Penelitian dilakukan di tambak  yang pematangnya dikelilingi tanaman mangrove sebagai shelter seluas ± 1500 m2 dengan teknik budidaya monokultur sistem intensif  menggunakan  karamba plastik masing-masing karamba diisi kepadatan 1 ekor/karamba atau 10 ekor/10 karamba/m2. Digunakan 120 basket dengan diberi pakan buatan dengan kandungan protein 35% sebanyak 5% perbiomas perhari yang diberikan pada pagi dan sore hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mangrove sebagai shelter pada kepiting bakau yang diberi pakan buatan dengan kandungan protein 35 % dan lemak nabati (5%) berpengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap pertumbuhan bobot mutlak, FCR  dan kelulushidupan kepiting bakau. Pertumbuhan bobot mutlak tertinggi diperoleh dari perlakuan D (56.5±0.750 g) FCR terendah pada D (2.841663±0.5011) serta kelulushidupan kepiting bakau perlakuan D (93.33±11.55%). Peran mangrove sebagai tanaman pelindung (shelter) dapat memperbaiki kualitas air, sehingga kondisi kualitas air media pemeliharaan kepiting bakau layak, serta dapat meningkatkan kehidupan kepiting bakau yang ramah lingkungan
PENGKAYAAN PAKAN BUATAN MELALUI PENAMBAHAN VITAMIN E TERHADAP PERFORMAN EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN, LAJU PERTUMBUHAN RELATIF DAN KELULUSHIDUPAN KEPITING BAKAU (Scylla paramamosain) Diana Rachmawati; Istiyanto Samidjan
Pena Jurnal Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi Vol 27, No 2 (2014): Pena September 2014
Publisher : LPPM Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/jurnalpena.v27i2.668

Abstract

Feed is one of the essential biological factors for the growth and survival of mud crab in especially mud crab (S. paramamosain).  This study aims to determine the effect of vitamin E on artificial feed for the growth and survival of mud crab (S. paramamosain). This study was conducted from January until March 2014 in the farming village of Tugu Village, Urban Tapak, District Mangkang, Semarang regency for 42 days. Test animals used were of mud crab (S. paramamosain) with an average initial weight 51.04±0.29 g. This study uses the Experimental Method with completely randomized design (CRD) is 4 treatments and 3 replications. The treatments tested were treatment A (artificial feed with vitamin E 0 g/100 g diet), B (artificial feed with vitamin E 0.4 g/100 g feed), C (artificial feed with vitamin E 0.6 g/100 g feed), and D (artificial feed with vitamin E 0.8 g/100 g). Results of this study showed the highest relative growth rate in treatment D (1.33±0.01). Highest utilization efficiency feed achieved by treatment D (27.07±1.22). Value of the survival rate of mud crab (S. paramamosain) ranged from 66.67 until 100.00%. Conclusion in this study is doses of vitamin E on artificial feed significant effect on utilization efficiency feed, relative growth rate but did not significantly effect on survival rate of mud crab (S. paramamosain). The best doses of vitamin E can be added to artificial feed for mud crab (S.paramamosain) was 0.8 g/100 g.
Respon Osmolaritas Udang Windu Penaeus monodon Fab. dalam Media Terkontaminasi Fenol Haeruddin Haeruddin; Diana Rachmawati
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 9, No 2 (2007)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.749 KB) | DOI: 10.22146/jfs.46

Abstract

Phenol represents nerve poison which able to cause paralysis due to the damage on fat tissue of nerve. In crustacean like tiger prawn, the damage on nervous system disturbs molting and osmoregulation activity, because both of those activities related to neuroendocrine system under control of center nervous system. This research was done to : (1) study the effect of various phenol concentration in culture medium to hemolymph osmolarity and osmotic work level of tiger prawn, (2) determine Low Observable Effect Concentration (LOEC) and No Observable Effect Concentration (NOEC) of phenol to hemolymph osmolarity and osmotic work level of the tiger prawn.The results showed that phenol has a significant effect on decreasing hemolymph osmolarity and increasing osmotic work level of tiger prawn. Osmolarity and osmotic work level respon pattern of the prawn to various phenol concentration is linear regression equation. NOEC and LOEC to the hemolymph osmolarity and the osmotic work level of the prawn are 0 to 2.08 mg/l and 2.08 mg/l, respectively.
SUPLEMENTASI PROBIOTIK BERBEDA PADA PAKAN BUATAN TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN DAN PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Diana Rachmawati; Istiyanto Samidjan; Hadi Pranggono; Muhamad Agus
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 18, No 2 (2019): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.318 KB) | DOI: 10.31941/penaakuatika.v18i2.812

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah pengkaji pengaruh suplementasi probiotik berbeda pada pakan buatan terhadap efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus).Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan nila dengan bobot rata-rata 2,54±0,53 g/ekor diperoleh dari Balai Benih Ikan Air Tawar Muntilan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen, Rancangan Acak Lengkap (RAL), empat perlakuan, dan empat kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah suplementasi probiotik berbeda pada pakan buatan yaitu P1 (tanpa probiotik), P2 (probiotik A), P3 (Probiotik B) dan P4 (Probiotik C). Parameter yang diamati selama penelitian terdiri dari efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), rasio efisiensi protein (PER), laju pertumbuhan relatif (RGR), kelulushidupan (SR) dan kualitas air.Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi probiotik berbeda pada pakan buatan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap EPP, PER, RGR dan SR ikan nila. Suplementasi  probiotik B pada pakan buatan menunjukkan efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan tertinggi ikan nila. Parameter kualitas air selama penelitian masih dalam kisaran yang layak untuk budidaya ikan nila. Kata kunci : Suplementasi, pakan buatan, pertumbuhan, kelulushidupan
PENGARUH PENAMBAHAN Saccharomyces cerevisiae PADA PAKAN KOMERSIAL TERHADAP PERFORMAN BENIH IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) Diana Rachmawati; Istiyanto Samidjan; Dewi Nurhayati
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 20, No 2 (2021): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/penaakuatika.v20i2.1546

Abstract

AbstrakIkan baung (Hemibagrus nemurus) merupakan salah satu ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomis penting. Permasalahan pada budidaya ikan baung yaitu laju pertumbuhan yang lambat diduga karena ikan baung kurang dapat memanfaatkan pakan secara efisien. Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan suplementasi Saccharomyces cerevisiae) pada pakan buatan komersial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh suplementasi S.cerevisiae dalam pakan buatan komersial terhadap efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan dan kelulushidupan benih ikan baung (H. nemurus). Benih ikan baung yang digunakan memiliki bobot rata-rata 1,76±0,03g/ekor. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) terdiri atas 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah suplementasi  S.cerevisiae pada pakan buatan komersial yaitu 0g/kg pakan (A); 2,5g/kg pakan (B); 5g/kg pakan (C); dan 7,5g/kg pakan (D). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi  S.cerevisiae pada pakan buatan komersial berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kecernaan protein (ADCp), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), rasio konversi pakan (FCR), protein efisiensi rasio (PER) dan laju pertumbuhan relatif (RGR), tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap tingkat konsumsi pakan (TKP) dan kelulushidupan benih ikan baung. Perlakuan B (dosis S.cerevisiae2,5g/kg pakan) merupakan dosis terbaik yang memberikan nilai tertinggi pada ADCp (75,35%), EPP (76,24%), FCR (1,34), PER (3,85) dan RGR (3,79%/hari). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa suplementasi S.cerevisiae pada pakan komersial memebrikan pengaruh nyata pada ebebrapa parameter biologis ikan baung, dengan perlakuan B sebagai model perlakuan yang terbaik.Kata kunci : Saccharomycescerevisiae, kecernaan, pakan, pertumbuhanAbtractAsian redtail catfish (Hemibagrus nemurus) is one of the freshwater fish that has important economic value. The problem with Asian redtail catfish fish farming is the slow growth rate, presumably because Asian redtail catfish are less able to utilize feed efficiently. One solution to overcome this problem is by supplementing Saccharomyces cerevisiae in commercially feed. This study was conducted to examine the effect of supplementation of S. cerevisiae in commercially feed on the efficiency of feed utilization on growth performance and survival of Asian redtail catfish (H. nemurus) fingerlings. Asian redtail catfish  fingerlings used had an average weight of 1.76±0.03g/fish. This study used an experimental method with analysis of variance (one-way ANOVA) consisting of 4 treatments and 3 replications. Fish were fed with four dosages of supplementation with S. cerevisiae on feed, at 0 g/kg feed (A); 2.5 g/kg feed (B); 5g /kg feed (C); and 7.5g /kg feed (D). The results showed that S. cerevisiae supplementation in commercially feed had a significant effects (P<0.05) on protein digestibility (ADCp), feed utilization efficiency (EPP), feed conversion ratio (FCR), protein efficiency ratio (PER) and relative growth rate (RGR), but had no significant effects (P>0.05) on the level of total feed consumption (TKP) and survival of Asian redtail catfish fingerlings. Treatment B (S. cerevisiae 2.5g/kg feed) was the best dosage which gave the highest value for ADCp (75.35%), EPP (76.24%), FCR (1.34), PER (3.85 ) and RGR (3.79%/day).The conclusion of this study showed that supplementation of S. cerevisiae in commercial feed had a significant effect on several biological parameters of baung fish, with B treatment as the best treatment model.Keywords : Saccharomyces cerevisiae, digestibility, feed, growth
Co-Authors - Sabrina Abdul Chalim, Abdul Abdul Wakhid, Da’i Muhammad Afidati, Lulu Agung Sudaryono Akhsanu Takwim, R.N. Alyosha Putra Pratama, Alyosha Putra Ananti Trisno Ambarwati Andi Kurniawan Anggi Restianti, Anggi Anis Idha Asyhariyati Ariani Ariani Astuti, Fina Andika Frida Ayu Istiana Fiat Bintang Sadinar Candra Aulia Widyasunu Cut Qanita Hidayah Depri Irawati Desrina Desrina Desy Sumardiyani Dewajani, Heny Dewi Khodijah, Dewi Dewi Nurhayati Dewi Nurhayati Dicky Harwanto Dikamulyawati, Melldhias Fatmasari Dwi Chrisnandari, Rosita Ekasari, Silvia Rahmi Eko Nurcahya Dewi Eko Nurcahya Dewi Eko Nurcahya Dewi Eko Nurcahyo Dewi Faik Kurohman Fatchurochman, Vava Fauzi, Adnan Fransiska Fransiska Grace Marchelly Hutabarat Gradhika Chrisdiana, Gradhika Gusti Ladini Tanake Hadi Pranggono Haeruddin Haeruddin Haris Puspito Buwono Heryoso Heryoso Husna Dewi, Farihal Hutabarat, Yohannes Irfin, Zakijah Islamiyah, Dini Istiyanto Samidjan Istiyanto Samidjan Istiyanto Samidjan Istiyanto Samidjan Istiyanto Samidjan Istiyanto Samidjan Istiyanto Samidjan Istiyanto Samidjan Istiyanto Samidjan Istiyanto Samijan Jati Winestri Johannes Hutabarat Justin Cullen Lailiyul Qomariyah Laksono Trisnantoro Ligar Novi Ayuniar, Ligar Novi Luthfi Adhi Virnanto, Luthfi Adhi Marjuki, Moch Mega Rahadiyani Mistiyah Mohammad Aditya Prawira Mohammad Kosim Mone, Otnial Anderias mufid mufid Muhamad Agus Mustofa, Arifin Nabilla, Cicik Berkah Noviantia, Fikrotun Tazkiyah Nugraha, Bayu Avrislistya Nur Taufiq Nurmaslakhah, Azis Panji Yusroni Anwar Pinandoyo Pinandoyo Pratama, Arsy Latif Prayitno Prayitno Puput Pujianti Putri Farah Kandida Putut Har Riyadi Reza Maulana Ricky Septian Rini, Endah Setyo Ristiawan Agung Nugroho Rizki Andika Putri Rochani Rochani Rosa Amalia Rucita Ramadhana Sagita, Fadil Samidjan, Istiyanto Sansistya Dita Novian Sarjito - Seda, Fransiskus Setiyani, Ana Rikha Seto Windarto Siswandoko, Ricky Dwi Siti Maryam Siti Zulaeha, Siti Sri Hastuti Sri Hastuti Sri Rulianah, Sri Subandiyono Subandiyono Suminto Suminto Suminto, - - Sutrisno Anggoro Suyono Suyono Thimotius Jasman, Thimotius Tita Elfitasari Titik Susilowati Totok Yudhiyanto Tri Ananda Tri Mulyadi Tristiana Yuniarti Tristiana Yuniarti Tristiana Yuniarti Vivi Endar Herawati Wahyu Nurhayati, Wahyu Wahyu Prasetyo Wibowo Wardhani, Ishana Sanjaya wee, Kok leong Wiguna, Ghani Bagas Windarto, Seto Wulandhari, Pramenthari Sisti Yulyanah, - - Yuwono Yuwono