Claim Missing Document
Check
Articles

REKAYASA TEKNOLOGI BUDIDAYA KEPITING BAKAU (Scylla paramaosain) MELALUI REKAYASA PAKAN DAN LINGKUNGAN UNTUK PERCEPATAN PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN Istiyanto Samidjan; Diana Rachmawati; Hadi Pranggono
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 18, No 2 (2019): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.278 KB) | DOI: 10.31941/penaakuatika.v18i2.818

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji peran rekayasa pakan dan lingkungan terhadap percepatan pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau, dengan memanfaatkan pakan dari berbagai jenis pakan segar (limbah ikan dan wideng) dan rekayasa lingkungan dengan kombinasi biofilter system menggunakan daun mangrove, dimana masing masing dari kepiting bakau diperlihara dengan sistem batery. Metode penelitian dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan pemberian jenis pakan yang berbeda. Ulangan dilakukan pemeliharaan terhadap sepuluh ekor kepiting bakau. Dosis pemberian pakan tiap perlakuan sebanyak 5 % . Perlakuan ”A”, pemberian pakan ikan rucah, perlakuan ”B” pemberian pakan wideng sebanyak 5 % dari berat biomassa perhari dan perlakuan ”C”, pemberian pakan pelet sebanyak 5 % dari berat biomassa perhari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan terbaik untuk budidaya kepiting bakau dengan sistem batery adalah pakan pelet.Sedangkan Perbedaan pakan (Segar, Pelet) berupa ikan rucah, wideng dan pelet memberi pengaruh yang nyata (p<0,05) terhadap pertumbuhan biomassa mutlak dan laju pertumbuhan spesifik (SGR) kepiting bakau. Pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan harian (SGR) tertinggi dihasilkan oleh perlakuan pakan C sebesar 60.58 g ± 2.140 dan 0.81 % ± 0.022. Sedangkan terhadap kelulushidupan perbedaan pakan segar maupun pelet tidak memberi pengaruh yang nyata (p>0,05). Kualitas air untuk budidaya kepiting bakau relatif layak. Kata Kunci : Ikan rucah, Wideng dan Pelet, Scylla paramaosain 
PENAMBAHAN Saccharomyces cerevisiae PADA PAKAN BUATAN KOMERSIAL BENIH LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus Var. Sangkuriang) TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN, PERTUMBUHAN, DAN KELULUSHIDUPAN Diana Rachmawati; Johannes Hutabarat; Titik Susilowati; Istiyanto Samidjan; Hadi Pranggono
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 19, No 2 (2020): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/penaakuatika.v19i2.1177

Abstract

ABSTRAK            Permasalahan yang dihadapi saat ini oleh pembudidaya lele Sangkuriang (Clarias gariepinus var Sangkuriang) pada umumnya adalah efisiensi pemanfaatan pakan yang belum maksimal dari pakan komersil yang diberikan sehingga biaya pakan tinggi.Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan penambahan Saccharomyces cerevisiae pada pakan buatan komersil.S. cerevisiae merupakan salah satu jenis ragi yang berpotensi sebagai imunostimulan untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan dan mempercepat pertumbuhan  ikan.Tujuan penelitian ini untuk mengkaji pengaruh S. cerevisiae dalam pakan buatan komersial terhadap efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan dan kelulushidupan benih lele Sangkuriang.Ikan uji yang digunakan adalah benih lele Sangkuriang dengan bobot rata-rata 6,20±0,28 g sebanyak 300 ikan.Parameter yang diamati selama penelitian meliputi parameter efisiensi pakan terdiri dari efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), rasio konversi pakan (FCR) dan rasio efisiensi protein (PER), parameter pertumbuhan terdiri dari laju pertumbuhan relatif (RGR), dan kelulushidupan (SR).Hasil penelitian menunjukkan penambahan S. cerevisiae dalam pakan buatan komersial meningkatkan EPP, FCR, PER, dan RGRnamun tidak berpengaruh terhadap SR benih lele Sangkuriang.Dosis S. cerevisiae sebesar 1,5%/kg pakan merupakan dosis terbaik dikarenakan menghasilkan nilai tertinggi EPP,  PER, FCR dan RGR sebesar 78,47%; 3,08; 1,39 dan 3,20 %/hari. Kata Kunci :Saccharomyces cerevisiae,pertumbuhan, lele Sangkuriang, kelulushidupan  ABSTRACT                Common problem faced by fish farmers of Sangkuriang catfish (Clarias gariepinus var Sangkuriang) is an inefficiency of feed utilization that causes high cost of production. One of the solution to solve the problem is by enriching the feed with Saccharomyces cerevisiae. S. cerevisiaeis one of yeast types that has potential as an imunostimulant to increase efficiency of feed utilizationand growth. The objective of the study was to analyze the effects of S. cerevisiaesupplemented feed on efficiency of feed utilization, growthand survival rate of Sangkuriang catfish juveniles.  The 300 test fish used in the study was Sangkuriang juveniles catfish having mean weight of 6.20±0.28 g. Parameters observed during study were efficiency of feed utilization (EFU), feed conversion ratio (FCR) protein efficiency ratio (PER), relative growth rate (RGR), and survival rate (SR). The results of the study showed that S. cerevisiaesupplemented feed could increase EFU, FCR, PER, and RGR, but it did not affect SR of Sangkuriang catfish juveniles.The dose of S. cerevisiaeas much as1.5%/kg feed was the best dose that generated the greatest values of 78.47%, 3.08, 1.39 and 3.20 %/day respectively for EFU, FCR, PER, and RGR. Keywords : Saccharomyces cerevisiae, growth, Sangkuriang catfish, survival rate
SISTEM BUDIDAYA BIOFILTER KEPITING BAKAU (S. Paramamosain) DENGAN RUMPUT LAUT (Caulerpa racemosa) YANG DIBERI PAKAN BUATAN DIPERKAYA VITAMIN E Istiyanto Samidjan; Diana Rachmawati; Hadi Pranggono; Heryoso Heryoso
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 20, No 1 (2021): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/penaakuatika.v20i1.1327

Abstract

AbstrakTujuan penelitian untuk mengkaji rekayasa teknologi budidaya kepiting bakau yang dipelihara di wadah basket ditambak dengan diberipakan buatan diperkaya vitamin E dengan dosis berbeda terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau Scylla paramamosain. Metode penelitian menggunakan hewan uji kepiting bakau ukuran 145,5g±0.61 Metode yang digunakan adalah metode eksperimental yang dilakukan di lapangan, dengan menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan yaitu A: diberi vit E dosis 0 g/100g pakan buatan dan tanpa rumput laut Caulerpa racemosa), B= diberi vit E 0,2g/100 g pakan pakan dan diberi 100 g rumput laut Caulerpa racemosa), C =diberi vit E dosis 0,4g/100g dan 100 g rumput laut Caulerpa racemosa), D=diberi vit E 0,6g/100g pakan dan diberi rumput laut Caulerpa racemosa bobot 100 g), selanjutnya lingkungan media biofilter system dari rumput laut di inlet air masuk tambak sebagai biofilter system dan diberi pakan sesuai perlakuan sebanyak 5% perbiomas perhari dan masing-masing kepiting dipelihara dalam wadah basket plastik ukuran 30x30x30 cm dan dipelihara selama 42 hari. Data yang diperoleh adalah data pertumbuhan biomassa mutlak, kelulushidupan, FCR dan data kualitas air (suhu, salinitas, amoniak, nitrit, nitrat, oksigen). Penelitian dilakukan di tambak milik petani Bp H.Chambali kelurahan Mangkang Wetan sebagai biofilter system manipulasi lingkungan menggunakan rumput laut Caulerpa racemosa kepiting soft shell seluas ± 1500 m2, dengan teknik budidaya monokultur sistem intensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pakan buagtan yhang diperkaya dengan vit E pada  dosis berbeda dengan berbasis rumput laut sebagai biofilter system  memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau. Pertumbuhan bobot mutlak tertinggi diperoleh dari perlakuan C (58.75±1.010gr) dan kelulushidupan kepiting bakau perlakuan C (90.3333±2.309%%). Peran rumput laut Caulerpa racemosa sebagai biofilter system dapat memperbaiki kualitas air media pemeliharaan kepiting bakau, sehingga dapat meningkatkan kehidupan kepiting bakau yang ramah lingkungan. Kata kunci: biofilter system, mangrove, pakan buatan, Scylla paramamosain , Vit.E. AbstractThe aim of this research was to study the engineering technology of mud crab cultivation reared in basketry containers in a pond with artificial graft enriched with vitamin E with different doses on the growth and survival of Scylla paramamosain mud crab. The method used in this study was a test animal of mud crab size 145.5 g ± 0.61. The method used was an experimental method in the field, using a completely randomized design with 4 treatments and 3 replications, namely A: given vitamin E dose of 0 g / 100g artificial feed and seaweed Caulerpa racemosa), B = given vitamin E 0.2g / 100 g of feed and given 100 g of Caulerpa racemosa seaweed), C = given vitamin E dose of 0.4g / 100g and 100 g of Caulerpa racemosa seaweed), D = given 0.6g / 100g vit E feed and given 100 g of Caulerpa racemosa seaweed), then the environment of the biofilter system media from seaweed in the water inlet enters the pond as a biofilter system and is given feed according to treatment as much as 5% per per day and respectively. Each crab was kept in a plastic basket measuring 30x30x30 cm and reared for 42 days. The data obtained are absolute biomass growth data, survival, FCR and water quality data (temperature, salinity, ammonia, nitrite, nitrate, oxygen). The research was conducted in a farm owned by Bp H. Chambali, Mangkang Wetan sub-district as a biofilter system for environmental manipulation using seaweed Caulerpa racemosa soft shell crabs covering an area of ± 1500 m2, with an intensive system cultivation technique. The results showed that the use of buagtan feed enriched with vitamin E at different doses from seaweed based as a biofilter system had a highly significant effect (P <0.01) on the growth and survival of mud  crabs. The highest absolute weight growth was obtained from treatment C (58.75 ± 1.010gr) and the survival rate of mud crabs in treatment C (90.33 ± 2.309 %%). The role of Caulerpa racemosaseaweed as a biofilter system can improve the water quality of the mud crab maintenance media, so that it can improve the life of the mangrove crab which is environmentally friendly. Keyword: biofilter system, mud crab, artificial feed, Scylla paramamosain, vitaminet E
PENAMBAHAN EKSTRAK Sargassum sp. HASIL EKSTRAKSI ENZIMATIK PADA PAKAN TERHADAP PERFORMA PERTUMBUHAN UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) Tri Mulyadi; Sarjito Sarjito; Diana Rachmawati
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 4, No 1 (2020): SAT edisi Maret
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.275 KB) | DOI: 10.14710/sat.v4i1.5615

Abstract

Intensification of white shrimp (L. vannamei) cultivation causes accumulation of waste aquaculture in the water and environmental stress which causes pathogenic organisms to develop and attack aquaculture organisms, so that mass deaths occur. Various efforts have been made to overcome this through feed production by adding ingredient that can enhance the body's immune system, but also function as growth promoters. The material that has both functions is seaweed Sargassum sp. The aims of this study was to determine the addition effect of sargassum extract from enzymatic extraction on feed to the specific growth rate/SGR and feed convertion ratio/FCR of white shrimp (L. vannamei). These study was conducted by experimental method used a completely randomized design (CRD) with 3 treatments and 2 repetitions. The treatment was namely A (feed with the addition of sargassum extract 0 g/kg feed), B (feed with the addition of enzymatically protease sargassum extract 2 g/kg feed) and C (feed with the addition of enzymatically carbohydrase sargassum extract 2 g/kg feed). The results showed that the feed with the addition of sargassum extract from enzymatic extraction had a significant effect (P<0,05) on specific growth rate (SGR) and feed conversion ratio (FCR). Water quality of media is in the proper range for shrimp farming.
Pengaruh tepung bunga marigold (Tagetes erecta) pada pakan buatan terhadap kecerahan warna benih ikan guppy (Poecillia reticulata) Cut Qanita Hidayah; Sri Hastuti; Diana Rachmawati; Subandiyono Subandiyono; Dewi Nurhayati
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 6, No 1 (2022): SAT edisi Maret
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v6i1.5644

Abstract

ABSTRAK Ikan guppy (P. reticulata) merupakan salah satu ikan hias air tawar yang banyak diminati karena variasi warna dan corak siripnya yang beragam. Warna ikan hias dipengaruhi oleh sel pigmen pada tubuh. Pigmen tersebut dihasilkan dari penambahan karotenoid pada pakan. Salah satu bahan penghasil karotenoid adalah tepung bunga marigold. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh dan mengetahui dosis terbaik tepung bunga marigold dalam pakan buatan terhadap peningkatan kecerahan warna ikan guppy. Variabel yang diamati antara lain bobot mutlak, rasio konversi pakan, laju pertumbuhan spesifik dan kelulushidupan. Ikan guppy dengan bobot 0,19 ± 0,03 g diperoleh dari pembudidaya ikan hias guppy Sleman, Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan di Galaksi Akuatik Indonesia, Semarang pada bulan Desember 2018-Januari 2019. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah penambahan tepung bunga marigold dalam pakan buatan dengan dosis A (0 mg/kg), B (25 mg/kg), C (50 mg/kg) dan D (75 mg/kg). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tepung bunga marigold berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap tingkat kecerahan warna ikan guppy, namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap bobot mutlak, rasio konversi pakan (FCR), laju pertumbuhan spesifik (SGR) dan kelulushidupan (SR). Perlakuan C (50 mg/kg) memberikan nilai tertinggi pada peningkatan kecerahan warna ikan guppy (P. reticulata) yaitu 4,05. Kesimpulan yang diperoleh adalah dosis tepung bunga marigold 50 mg/kg memberikan hasil tertinggi pada kecerahan warna ikan guppy (P. reticulata).                                                                                                                                                                                                Kata Kunci :  Guppy; Marigold; Pakan; Kecerahan Warna. ABSTRACT    Guppy (P. reticulata) is one of the freshwater fish that has various colour with many type of fin pattern. The colour of  ornamental fish is depend of the pigment cell. This pigment is produced by the carotenoid in diet fish. One of the carotenoid producing ingredients is marigold flour. This research is used to review and find out the best dose of marigold flour in artificial feed to increase he pigmentation of guppy fish. The parameters are the absolute weight, feed conversion rasio, specific growth rate and survival rate. Guppy fish with weight 0,19 ± 0,03 g were from ornamental guppy fish farmer Sleman, Yogyakarta. The experiment was conducted at Galaksi Akuatik Indonesia, Semarang in December 2018 till January 2019. This research used an experimental method with a complete randomized design (RAL) that consisting of 4 treatments and 3 replications respectively. The treatments are the addition of marigold flour in artificial feed with dose A (0 mg/kg), B (25 mg/kg), C (50 mg/kg) and D (75 mg/kg). The results of this research are indicate that marigold flour has a significant effect on the pigmentation of guppy fish, but does not has significant affect to absolute weight, feed conversion ratio, specific growth rate and survival rate. Treatments C (50 mg/kg) gave the highest value for increasing the pigmentation of guppy fish (P. reticulata) which is 4,05. The conclusion is the dosage of marigold flour 50 mg/kg gave the highest value for pigmentation of guppy. Keywords : Guppy, Marigold, Feed, Colour Intensity
Pengaruh Asam Amino Lisin Dalam Pakan Buatan Terhadap Efisiensi Pemanfaatan Pakan, Pertumbuhan, dan Kelulushidupan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus var. Sangkuriang) Stadia Pembesaran Diana Rachmawati; Istiyanto Samidjan; Tristiana Yuniarti
Pena Akuatika Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan Vol 22, No 1 (2023): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/penaakuatika.v22i1.2451

Abstract

Permasalahan yang dihadapi pembudidaya lele Sangkuriang (Clarias gariepinus var. Sangkuriang) stadia pembesaran saat ini adalah masih rendahnya efisiensi pemanfaatan pakan dikarenakan sumber protein nabati bahan penyusun pakan kekurangan asam amino lisin sehingga kandungan lisin dalam pakan masih rendah. Kekurangan asam amino menyebabkan penurunan efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan. Tujuan penelitian  ini adalah mengkaji penambahan lisin pada pakan buatan terhadap efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan dan kelulushidupan lele Sangkuriang. Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah lele Sangkuriang stadia pembesaran memiliki bobot rata-rata 22,36±0,24 g/ekor. Pakan uji yang digunakan dalam penelitian ini berupa pakan buatan berbentuk pellet dengan kandungan protein 31% yang ditambahkan lisin yaitu perlakuan A (0 %/kg pakan), B (1 %/kg pakan), C (2/kg pakan) dan D (3 %/kg pakan). Parameter yang diamati meliputi total konxsumsi pakan (TKP), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), rasio konversi pakan (FCR), protein efisiensi rasio (PER), laju pertumbuhan relatif (RGR), kelulushidupan (SR) dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan lisin pada pakan dapat meningkatkan EPP, FCR, PER, dan RGR. Parameter kualitas air selama penelitian menurut literatur masih layak untuk budidaya lele Sangkuriang. Dosis lisin 3%/kg pakan merupakan dosis terbaik penambahan lisin pada pakan menghasilkan nilai EPP, FCR, PER, dan RGR tertinggi sebesar 78,36±0,32%;1,43±0,17; 2,64±0,12 dan 3,26±0,125/hari.Kata kunci : lele Sangkuriang, lisin, pakan, pertumbuhan
Effect of dietary lysine on the growth performance of Pangasius hypophthalmus Diana Rachmawati; Dewi Nurhayati
Depik Vol 11, No 2 (2022): August 2022
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.582 KB) | DOI: 10.13170/depik.11.2.23824

Abstract

The success of intensive striped catfish (Pangasius hypophthalmus) cultivation requires quality feed that contains not only protein according to fish needs but also a complete essential amino acid profile to support the fish growth. One solution to overcome this problem is done through the addition of lysine in the feed commercial. This study aimed to examine the effect of lysine addition on the efficiency of feed utilization, growth and body composition of striped catfish (P. hypophthalmus). The study consisted of 4 (four) treatments those were with dosages of  0% / kg of feed (A); 0.6% / kg of feed (B); 1.2% / kg of feed (C); and 2.4% / kg of feed (D)  of lysine for every kg of feed.  The experimental diet in this study was a commercial feed in the form of pellets which was added with the lysine. A fixed feeding rate of 5%/weight of biomass/day was applied at frequency 3 times a day. The experimental fish used were striped catfish fingerling has an average weight of 4.13 ± 0.26 g/individuals. The results showed that the addition 1,2% / kg of lysine to the diet increased SGR, EFU, FCR, PER and protein content of the body composition of striped catfish.
Performan Kecernaan Protein, Efisiensi Pemanfaatan Pakan, Pertumbuhan, Dan Kelulushidupan Benih Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus var. Sangkuriang) Melalui Penambahan Asam Amino Lisin Dalam Pakan Buatan Diana Rachmawati; Istiyanto Samidjan; Tristiana Yuniarti
Pena Akuatika : Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol 23, No 1 (2024): PENA AKUATIKA JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Fakultas Perikanan Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/penaakuatika.v23i1.3753

Abstract

Lisin merupakan asam amino pembatas dalam pakan dikarenakan sumber protein nabati  yang digunakan sebagai bahan  penyusun pakan defisiensi lisin.  Kekurangan asam amino menyebabkan penurunan efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan. Tujuan penelitian  ini adalah mengkaji penambahan lisin pada pakan buatan terhadap kecernaan protein, efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan, dan kelulushidupan benih lele Sangkuriang. Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah lele Sangkuriang stadia pembesaran memiliki bobot rata-rata 6,48±0,22 g/ekor. Pakan uji yang digunakan dalam penelitian ini berupa pakan buatan berbentuk pellet dengan kandungan protein 31% yang ditambahkan lisin yaitu perlakuan A (0 %/kg pakan), B (0,5 %/kg pakan), C (1,0/kg pakan) dan D (1,5 %/kg pakan). Parameter yang diamati meliputi kecernaan protein (ADCp), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), rasio konversi pakan (FCR), protein efisiensi rasio (PER), laju pertumbuhan relatif (RGR), kelulushidupan (SR) dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan lisin pada pakan dapat meningkatkan ADCp, EPP, FCR, PER, dan RGR. Parameter kualitas air selama penelitian menurut literatur masih layak untuk budidaya lele Sangkuriang. Dosis lisin 1,0 %/kg pakan merupakan dosis terbaik penambahan lisin pada pakan menghasilkan nilai ADCp, EPP, FCR, PER, dan RGR tertinggi sebesar 70,18±0,28, 71,02±0,15, 1,32±0,10,  3,06±0,13 dan 2,87±016%/hari.
Pembuatan Bioplastik Berbahan Dasar Pati Bonggol Jagung dengan Penambahan Ekstrak Jahe, Jeruk Nipis, dan Cengkeh Sebagai Antioksidan Dewajani, Heny; Rachmawati, Diana; Nabilla, Cicik Berkah; Noviantia, Fikrotun Tazkiyah
Eksergi Vol 21, No 3 (2024)
Publisher : Prodi Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/e.v21i3.12797

Abstract

Pengembangan bioplastik sebagai kemasan merupakan solusi alternatif dalam mengatasi permasalahan lingkungan. Kemasan bioplastik dengan penambahan minyak atsiri sebagai antioksidan dapat menghambat terjadinya oksidasi sehingga dapat meningkatkan daya simpan suatu produk. Pati digunakan pada penelitian ini sebagai matriks penyusun bioplastik yang berasal dari bonggol jagung dengan penambahan gliserol sebagai plasticizer dan carboxymetyl cellulose (CMC) sebagai filler serta ekstrak jahe, jeruk nipis dan cengkeh sebagai zat antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh konsentrasi ekstrak jahe, jeruk nipis dan cengkeh terhadap sifat kuat tarik, sifat water absorption, sifat biodegradabilitas, dan pengaplikasiannya pada buah dan sayur. Proses pembuatan bioplastik dilakukan menggunakan metode casting yaitu dengan melarutkan pati bonggol jagung dalam aquades dan dipanaskan pada suhu 70°C, kemudian ditambahkan ekstrak jahe, jeruk nipis dan cengkeh dengan variabel 0 (tanpa antioksidan), 5, 10 dan15% dari volume pati dengan penambahan gliserol dan CMC sampai homogen. Selanjutnya larutan dituang dalam cetakan dan dikeringkan. Dari hasil pengujian bioplastik diperoleh nilai water absorption, biodegradabilitas, kuat tarik yang paling baik yaitu pada penambahan ekstrak jahe 15% yaitu sebesar 26,02 %, 96,31%, 11,96 Mpa. Sedangkan untuk kemampuan antioksidan yang baik dengan penambahan ekstrak cengkeh 15% yang memiliki nilai IC50 sebesar 31,21 ppm. 
Influence of frequency of feeding containing fitase on efficiency of food utilization and growth of common carp (Cyprinus carpio) fingerlings Rachmawati, Diana; Desrina, Desrina; Wardhani, Ishana Sanjaya; Nurhayati, Dewi
Sains Akuakultur Tropis : Indonesian Journal of Tropical Aquaculture Vol 8, No 1 (2024): SAT edisi Maret
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/sat.v8i1.22042

Abstract

Local plant-based resources are widely used as ingredients in artificial feed formulations; the problem with these resources is that they contain anti-nutritional substances, namely phytate acid. An approach that can be used to overcome phytate acid is the addition of phytase to the artificial feed. The success of common carp (Cyprinus carpio) fish fingerling cultivation is supported by feed management in the form of feeding frequency that is both good and effective. The purpose of this study was to examine and find the frequency of feeding on feed utilisation and growth of common carp fingerling fed with phytase addition. This research design used an experimental method, complete randomised design (CRD), 4 treatments with 3 replications, namely treatment A (frequency of feeding once a day), treatment B (frequency of feeding twice a day), treatment C (frequency of feeding three times a day) and treatment D (frequency of feeding four times a day). The test fish used were common carp fingerling with an average weight of 1.30 ± 0.12 g/head and a stocking density of 25 fish/head size (50x50x60) cm3 which were cultured for 56 days. The variables taken include Total Feed Consumption (TFC), Efficiency of Feed Utilization (EFU), Feed Conversion Ratio (FCR), Relative Growth Rate (RGR), Survival Rate (SR), and water quality. The results showed that different feeding frequencies had a significant effect on (P<0.05) TKP, FCR, EPP, and RGR, but no significant effect on SR. The conclusion of this study was that the highest values for EPP and RGR variables were found in the frequency of feeding twice and four times a day. Keywords:  feed, phytase, growth, efficiency
Co-Authors - Sabrina Abdul Chalim, Abdul Abdul Wakhid, Da’i Muhammad Afidati, Lulu Agung Sudaryono Akhsanu Takwim, R.N. Alyosha Putra Pratama, Alyosha Putra Ananti Trisno Ambarwati Andi Kurniawan Anggi Restianti, Anggi Anis Idha Asyhariyati Ariani Ariani Astuti, Fina Andika Frida Ayu Istiana Fiat Bintang Sadinar Candra Aulia Widyasunu Cut Qanita Hidayah Depri Irawati Desrina Desrina Desy Sumardiyani Dewajani, Heny Dewi Khodijah, Dewi Dewi Nurhayati Dewi Nurhayati Dicky Harwanto Dikamulyawati, Melldhias Fatmasari Dwi Chrisnandari, Rosita Ekasari, Silvia Rahmi Eko Nurcahya Dewi Eko Nurcahya Dewi Eko Nurcahya Dewi Eko Nurcahyo Dewi Faik Kurohman Fatchurochman, Vava Fauzi, Adnan Fransiska Fransiska Grace Marchelly Hutabarat Gradhika Chrisdiana, Gradhika Gusti Ladini Tanake Hadi Pranggono Haeruddin Haeruddin Haris Puspito Buwono Heryoso Heryoso Husna Dewi, Farihal Hutabarat, Yohannes Irfin, Zakijah Islamiyah, Dini Istiyanto Samidjan Istiyanto Samidjan Istiyanto Samidjan Istiyanto Samidjan Istiyanto Samidjan Istiyanto Samidjan Istiyanto Samidjan Istiyanto Samidjan Istiyanto Samidjan Istiyanto Samijan Jati Winestri Johannes Hutabarat Justin Cullen Lailiyul Qomariyah Laksono Trisnantoro Ligar Novi Ayuniar, Ligar Novi Luthfi Adhi Virnanto, Luthfi Adhi Marjuki, Moch Mega Rahadiyani Mistiyah Mohammad Aditya Prawira Mohammad Kosim Mone, Otnial Anderias mufid mufid Muhamad Agus Mustofa, Arifin Nabilla, Cicik Berkah Noviantia, Fikrotun Tazkiyah Nugraha, Bayu Avrislistya Nur Taufiq Nurmaslakhah, Azis Panji Yusroni Anwar Pinandoyo Pinandoyo Pratama, Arsy Latif Prayitno Prayitno Puput Pujianti Putri Farah Kandida Putut Har Riyadi Reza Maulana Ricky Septian Rini, Endah Setyo Ristiawan Agung Nugroho Rizki Andika Putri Rochani Rochani Rosa Amalia Rucita Ramadhana Sagita, Fadil Samidjan, Istiyanto Sansistya Dita Novian Sarjito - Seda, Fransiskus Setiyani, Ana Rikha Seto Windarto Siswandoko, Ricky Dwi Siti Maryam Siti Zulaeha, Siti Sri Hastuti Sri Hastuti Sri Rulianah, Sri Subandiyono Subandiyono Suminto Suminto Suminto, - - Sutrisno Anggoro Suyono Suyono Thimotius Jasman, Thimotius Tita Elfitasari Titik Susilowati Totok Yudhiyanto Tri Ananda Tri Mulyadi Tristiana Yuniarti Tristiana Yuniarti Tristiana Yuniarti Vivi Endar Herawati Wahyu Nurhayati, Wahyu Wahyu Prasetyo Wibowo Wardhani, Ishana Sanjaya wee, Kok leong Wiguna, Ghani Bagas Windarto, Seto Wulandhari, Pramenthari Sisti Yulyanah, - - Yuwono Yuwono