Claim Missing Document
Check
Articles

IDENTITAS AGAMA DAN TOLERANSI DALAM INTERAKSI SOSIAL (STUDI KASUS DALAM MENYUARAKAN PEMBANGUNAN RUMAH IBADAH DI GARUT) Bening Shabilla Utami; Turnomo Rahardjo; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 10, No 1: Januari 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Religious sentiment often occurs in several areas in Indonesia, and continues to increase, where there are still many cases of religious intolerance. One of the cases was the refusal to build a house of worship for Christians in Dayeuhmanggung village. Christianity as a religion with smaller adherents in Dayeuhmanggung village coexists with Islam with larger adherents. The identity of each religion in which tolerance is established does not always work well due to lack of knowledge and lack of understanding of each other's culture. This study aims to find out how the interaction of the Muslim and Christian religious communities in personal and social activities in the village of Daya Manggung, Cilawu District, Garut Regency. The theory used is the theory of co-culture and the theory of cultural identity. This research is a descriptive study with a case study approach to look at the case in depth and examine the experiences of informants related to a phenomenon experienced with the main focus of communication interaction. In this study, using an in-depth interview technique to 3 adherents of Islam and 3 adherents of Christianity. The findings of this study reveal that the people of Dayeuhmanggung village have been able to realize the existence of religious differences. Public understanding of inter-religious harmony in Dayeuhmanggung Village is still categorized as not good enough due to disagreements regarding church construction. Even though in reality it will still be a proof that there is a community effort that always maintains inter-religious harmony. Informants who adhere to Islam Regarding the case of refusal to build a church in Dayeuhmanggung village themselves, they feel that the tolerance that exists on a daily basis is quite good. However, related to the construction of the church to be built at that time, according to them, it was not something that was easily accepted by local residents because the majority of the people in the village embraced Islam. The informant who is a Christian said that judging from the cases that had occurred some time ago, he felt that tolerance in the area could be paid more attention to. the absence of a church place of worship makes it difficult for them to worship easily. There is a fear based on the concerns of the majority religious group, namely Islam, over events that have occurred previously, such as cases in other areas where there are areas where the majority of Muslims continue to build churches, making other residents convert to religion, which is the reason for the refusal to be carried out by residents.
INTERPRETASI KHALAYAK TERHADAP PEMBERITAAN KASUS KEKERASAN SEKSUAL DI JAKARTA INTERNATIONAL SCHOOL DI TELEVISI Brillian Barro Vither; Hedi Pudjo Santosa; Turnomo Rahardjo; Adi Nugroho
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.317 KB)

Abstract

Televisi merupakan teknologi audio visual yang dapat menyajikan informasi dan hiburan secara cepat, terjangkau, dan umum dimiliki oleh masyarakat. Setiap stasiun televisi berusaha memberikan program-program terbaru sesuai dengan tren yang berlangsung. Begitu beranekaragam produk yang disajikan televisi, salah satu produk unggulan yang disajikan televisi adalah program berita.Berita yang memuat peristiwa kekerasan dan kriminalitas mendapat perhatian yang cukup tinggi dari para penonton televisi. Bahkan berita kriminal dan kekerasan sering disiarkan pada jam-jam produktif untuk menarik minat masyarakat. Pemberitaan kekerasan yang berlebihan ditakutkan dapat menimbulkan efek bagi pemirsa yang menyaksikan berita tersebut secara terus menerus. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerimaan audiens mengenai pemberitaan kasus kekerasan seksual di Jakarta International School yang tayang pada program berita di televisi. Penelitian ini menggunakan model encoding-decoding Stuart Hall untuk menjelaskan jalannya proses encoding-decoding pemberitaan dari program berita.Penelitian ini adalah penelitian dengan tipe deskriptif yang bersifat kualitatif dan menggunakan pendekatan analisis resepsi. Dalam analisis resepsi khalayak dipandang sebagai produser makna yang tidak hanya menjadi konsumen isi media. Hasil penelitian akan membagi khalayak ke dalam tiga posisi pemaknaan. Yaitu kelompok dominat reading, khalayak yang menerima fakta yang ditayangkan oleh program berita sesuai dengan prefered reading (makna yang ditawarkan media). Kelompok ini diisi oleh mereka yang menganggap bahwa kasus kekerasan seksual di JIS merupakan kasus yang menyeramkan. Kelompok negotiated reading, memaknai fakta yang ditayangkan sesuai dengan kenyataan, namun tidak setuju dengan cara penyampaiannya dalam program berita. Sedangkan kelompok oppositional reading, adalah khalayak yang memiliki pemaknaan yang berbeda sama sekali dengan makna dominan.Kelompok ini terdiri dari mereka yang menganggap bahwa kasus kekerasan seksual di JIS adalah kasus kriminalitas biasa dan tidak takut terhadap hal tersebutPenelitian ini sangat terbuka untuk dikaji dari sudut pandang dan metode berbeda dan menjadi dasar penelitian selanjutnya, terutama hal mengenai pemberitaan pesohor di infotainment dan khalayak aktif sehingga dapat menambah kajian penerimaan khalayak.
Penerimaan Suku Anak Dalam Terhadap Pendidikan Muhammad Syamsul Hidayat; Turnomo Rahardjo; Taufik Suprihatini
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.212 KB)

Abstract

ABSTRACTIONTITLE :NAMA :NIM :ACCEPTANCE OF EDUCATION AMONG ANAKDALAM TRIBEM. SYAMSUL HIDAYATD2C606031Trough the nine-years compulsory education program, EducationDepartment of Soralangun, Jambi held socialization the importance of educationfor Anak Dalam Tribe. The local government was purpose to prevalent educationfor all Sarolangun citizen, included Anak Dalam Tribe. However, the fact is AnakDalam Tribe have some response about the education ratification by government,some of Anak Dalam Tribe accepting the education, but most of them resist thesocialization by government because they have not been taught by their parents,temenggung, and their ancestor, so they don’t have to accept it and attend school.This Research aims to find out the acceptance of education among AnakDalam Tribe, why most of them who have faith that education never been taughtby their ancestor instead accept it and finally attend school. This research wasconducted by using phenomenological approach by relating the governmentexperience of socialization who with theory of persuasion to encourage andchange the thought and assumption of Anak Dalam Tribe so they accept educationand attend school. Also acceptance and experience of Anak Dalam Tribe afterthey accept and attend school, this research attempts to explain the Anak DalamTribe’s efforts in order to be accepted by people outside agains the stereotypeabout them in the people’s sight and otherwise. The subject of this researchconsists of three people from government dan three Anak Dalam Tribe’s peoplewho attend school and settle outside the forest. The data was obtainedbyinterview, observation, and literature.Results of this study indicate that government was done persuasioncommunication by interacting directly with Anak Dalam Tribe, trying to convinceand changing the thought and behavior of Anak Dalam Tribe. In effort to changethe behavior, the governments formerly try to establish the cognitive and affectivecomponent from Anak Dalam Tribe, the expectation is by changing thecomponent, could change their behavior. To establish the cognitive component,government conveying the importance of education and then the teachers andexperts in their field indirectly has set an example for Anak Dalam Tribe. Thegovernment also gives all equipment and school supplies. Moreover, Anak DalamTribe is free of charge for school. It is done in order to establish the affectivecomponent of Anak Dalam Tribe. After cognitive and affective has been establish,it will be directly followed by changes of behavior, that is Anak Dalam Tribe whowant to attend school.Key words: acceptance, persuasion, Anak Dalam Tribe, educationABSTRAKSIJUDUL :NAMA :NIM :Penerimaan Suku Anak Dalam Terhadap PendidikanM. SYAMSUL HIDAYATD2C606031Dengan adanya program wajib belajar sembilan tahun, Dinas PendidikanKabupaten Sarolangun, Jambi, mengadakan sosialisasi pentingnya pendidikanterhadap Suku Anak Dalam (SAD). Tujuan dari pemerintah daerah adalahmeratanya pendidikan bagi semua warga masyarakat yang ada di KabupatenSarolangun, termasuk Suku Anak Dalam. Namun, pada kenyataannya adalah,Suku Anak Dalam memiliki beberapa tanggapan tentang disosialisasikannyapendidikan oleh pemerintah, sebagian Suku Anak Dalam menerima adanyapendidikan, namun sebagian besar menolak sosialisasi yang dilakukan olehpemerintah dengan alasan tidak sesuai dengan tradisi yang diajarkan dalamingroup oleh temenggung, hingga nenek moyang mereka, sehingga Suku AnakDalam tidak harus menerima dan bersekolah.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerimaan Suku Anak Dalamterhadap pendidikan, mengapa Suku Anak Dalam yang mayoritas memilikikepercayaan bahwa pendidikan tidak pernah diajarkan oleh nenek moyang merekajustru ada yang menerima hingga akhirnya bersekolah. Penelitian ini dilakukandengan menggunakan pendekatan fenomenologi yang mengaitkan pengalamanpengalamanpemerintah dalam melakukan sosialisasi melalui teori persuasi untukmengajak serta merubah pemikiran serta anggapan Suku Anak Dalam sehinggaSuku Anak Dalam menerima pendidikan dan sekolah. Serta penerimaan danpengalaman Suku Anak Dalam setelah Suku Anak Dalam menerima danbersekolah, penelitian ini juga mencoba menggunakan co-cultural theory untukmenjelaskan usaha-usaha Suku Anak Dalam agar dapat diterima oleh masyarakatluar setelah adanya strereotip negatif tentang Suku Anak Dalam. Subyekpenelitian terdiri dari tiga orang pemerintah dan tiga orang Suku Anak Dalamyang bersekolah dan menetap di luar hutan, dimana pengumpulan data diperolehdari hasil wawancara, observasi, dan studi pustaka.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemaknaan individu Suku AnakDalam yang telah bersekolah terhadap pendidikan telah berubah. Pendidikan danbersekolah dimaknai sebagai salah satu hal yang menyenangkan sertamenguntungkan untuk masa depan individu Suku Anak Dalam. Pengetahuan barusetelah bersekolah membuat cara pandang individu Suku Anak Dalam tentangmasa depan mengalami perubahan, tentang cita-cita dan lapangan pekerjaan yanglebih layak. Pengalaman-pengalaman baru juga dirasakan individu Suku AnakDalam setelah bersekolah, sepertiKey words: penerimaan, persuasi, Suku Anak Dalam, pendidikanPENERIMAAN SUKU ANAK DALAM (SAD)TERHADAP PENDIDIKANSummary SkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata IJurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusun :Nama : M Syamsul HidayatNIM : D2C606031JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013PENDAHULUANPendidikan, merupakan salah satu bagian dari hak asasi manusia yang harusterpenuhi, selain menjadi bagian dari hak asasi manusia, pendidikan jugamerupakan salah satu elemen penting dimana suatu kesuksesan dan kemajuanNegara di ukur oleh seperti apa pendidikan di Negara tersebut. Oleh karena itusetiap warga negara Indonesia berhak untuk memperoleh kesempatan belajarsebaik-baiknya dengan ditunjang oleh sarana dan prasarana yang layak. Sehinggadimanapun mereka berada harus dapat dijangkau oleh fasilitas pendidikan yanglayak sebagai hak-hak asasi bagi mereka.Adanya program wajib belajar Sembilan tahun yang digalakkan olehpemerintah sejak beberapa tahun yang lalu mendapat respon yang positiv bagimasyarakat Indonesia. Tentunya, hampir semua pemerintah daerah juga berperanserta dalam mensosialisasikan program tersebut. Tidak ketinggalan yangdilakukan oleh pemerintah daerah kabupaten Sarolangun, Jambi. Pemerintahdaerah sarolangun pun tidak pandang bulu, semua elemen masyarakat, baik yangdi kota, pedesaan hingga daerah yang susah dijangkaupun menjadi targetpemerintah guna sosialisasi pentingnya pendidiakn. Salah satunya Suku anakdalam, tentunya menjadi sesuatu yang sangat baru bagi suku anak dalam. Banyakdari mereka yang hingga sekarang masih kurang bisa menerima sosialisasi yangdilakukan oleh pemerintah.Program pendidikan bagi Suku Anak Dalam yang dicanangkan olehpemerintah cenderung memunculkan fenomena perubahan perilaku bagi SukuAnak Dalam. Pasalnya, Suku Anak Dalam atau Suku Kubu yang pada awalnyabelum pernah sama sekali mengenal pendidikan justru mau menerima adanyapendidikan. Meskipun belum semua Suku Anak Dalam (SAD) yang ada maubersekolah, setidaknya, lebih dari 50 anak telah melaksanakan kegiatan belajarmengajar.Namun, Suku Anak Dalam, yang pada hakekatnya lebih suka berburu danmelangun, cenderung kurang bisa menerima adanya perubahan dan serta adanyasesuatu yang baru, yang menutup diri dengan perkembangan serta kemajuan.Suku Anak Dalam lebih susah diatur, dalam arti susah jika diberi penjelasantentang sesuatu yang baru, semisal tentang pendidikan, mereka lebih memilihmelangun daripada harus duduk dikursi sekolah mendengarkan danmemperhatikan pelajaran yang disampaikan oleh pengajar.Bahkan, beberapa individu Suku Anak Dalam cenderung beranggapanbahwa sekolah adalah sesuatu yang menyesatkan dan sekolah merupakan sesuatuyang belum dan tidak pernah diajarkan oleh nenek moyang mereka, terlebihsekolah tidak membuat mereka kenyang. Padahal, Surjadi dalam bukunyaPembangunan Masyarakat Desa mengatakan bahwa, Bila kesempatan akanlapangan pekerjaan berkembang diluar masayarakatnya, maka sekolah dianggapoleh orang - orang sebagai pintu gerbang bagi anak - anaknya untuk memperolehpekerjaan yang baik diluar masyarakat (Surjadi, 1989: 101). Apa yangdisampaikan oleh Surjadi jelas bahwa pendidikan merupakan elemen serta saranautama untuk membuka masa depan dan cita-cita.Adanya sesuatu yang baru dalam kelompok atau tatanan masyarakattentunya menjadikan pengalaman yang baru juga bagi manusia atau masyarakattersebut. Masyarakat yang pada awalnya belum mengenal serta mengetahuitentang pendidikan, belajar mengajar dan bersekolah, masyarakat yang padadasarnya masih memegang teguh ajaran-ajaran adat istiadat, sebagian dari merekakini telah mengenal serta melakukan kegiatan belajar mengajar. Namun tidakdemikian bagi sebagian kecil Suku Anak Dalam yang ada di Desa Air HitamKecamatan Pauh Kabupaten Sarolangun atau yang berada di Taman NasionalBukit Duabelas, sebagian kecil dari Suku Anak Dalam yang ada disana telahmengenal serta melakukan pendidikan atau kegiatan belajar mengajar. Hal inimenjadi pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah dirasakan sertadiperoleh oleh mereka Suku Anak Dalam. Pendidikan menjadi fenomena barubagi mereka, pengalaman serta kahidupan baru tentunya.Disinilah yang menarik. Suku Anak Dalam yang pada dasarnya taat sertamasih menjunjung ttinggi ajaran-ajaran yang diajarkan oleh nenek moyangmereka justru mau serta bisa menerima adanya pendidikan serta kegiatan belajarmengajar. Bagaimana penerimaan Suku Anak Dalam terhadap fenomena baruyang sebelumnya belum pernah mereka rasakan, yaitu pendidikan. Fenomenaserta pengalaman seperti apa yang membuat dan menjadikan mereka maubersekolah. Pengalaman seperti apa yang mereka dapatkan setelah melaksanakankegiatan belajar mengajar selama ini.PEMBAHASANPada awalnya, para individu Suku Anak Dalam cenderung memiliki pandanganatau persepsi negatif terhadap pendidikan formal. Fenomena tersebut terkaitdengan ajaran dari orang tua, temenggung (kepala suku), dan bahkan nenekmoyang mereka yang mengasumsikan bahwa pendidikan yang diterima darisekolah bukanlah sebuah kegiatan yang wajib untuk dilakukan. Alasannya,dengan mengikuti kegiatan belajar di sekolah, maka waktu mereka untukmelakukan kegiatan seperti berhutan menjadi tersisihkan, sehingga label yangkemudian muncul adalah mereka akan meninggal karena tidak dapat memenuhikebutuhan hidup mereka dari berhutan.Pendidikan formal atau bersekolah adalah salah satu fenomena yang relatifbaru bagi individu Suku Anak Dalam. Sebelumnya, mereka tidak pernahdiperkenalkan adanya istilah pendidikan maupun istilah bersekolah. Seperti yangdisampaikan oleh Edmund Husserl, bahwa fenomenologi berfokus padabagaimana orang mengalami fenomena tertentu, menyelidiki bagaimana individumengkonstruksikan makna dari sebuah pengalaman yang mereka alami danbagaimana makna yang ditangkap oleh individu tersebut bisa memicuterbentuknya makna kelompok atau bahkan membentuk pemahaman baru padakebudayaan tertentu (Vandersteop dan Johnston, 2009: 206). Terkait dalam hal iniadalah kemunculan pengetahuan baru dari pengalaman individu Suku AnakDalam mengenai pendidikan yang diperolehnya, serta menghasilkan beberapapandangan yang berhasil dimaknai oleh individu Suku Anak Dalam.Persepsi awal dari Suku Anak Dalam terhaap pendidikan yang terbentukcenderung negatif. Namun, seiring dengan terus dilakukannya sosialisasi olehpemerintah tentang pentingnya pendidikan serta adanya faktor pendorong internal(cita-cita hidup) dalam diri individu Suku Anak Dalam, sebagian individu SukuAnak Dalam cenderung menjadi lebih aktif untuk mengikuti kegiatan belajar disekolah. Bahkan, pemerintah membangun Sekolah Dasar khusus bagi Suku AnakDalam. Persepsi individu Suku Anak Dalam terhadap pendidikan formal yangpada awalnya menganggap bahwa pendidikan adalah ajaran yang tidak benar,dalam perkembangannya cenderung mulai mengalami perubahan, dan bahkanSuku Anak Dalam telah bersekolah dan menempati rumah yang disediakan olehpemerintah.Sehingga, individu Suku Anak Dalam cenderung memaknai pendidikandan bersekolah sebagai salah satu hal yang menyenangkan sekaligusmenguntungkan. Hal ini disampaikan oleh salah satu individu Suku Anak Dalambahwa dengan bersekolah maka akan mendapatkan makanan ataupun jajanan,bahkan program rekreasi atau berwisata yang diselenggarakan oleh sekolahmenjadi salah satu faktor pendorong bagi Suku Anak Dalam untuk bersekolah.Fenomena paling menonjol terkait dengan konstruksi makna pendidikan bagiindividu Suku Anak Dalam adalah bahwa dengan mengikuti pelajaran di sekolah,mereka memiliki gambaran tentang cita-cita hidup seperti ingin menjadi seoranganggota kepolisian. Cita-cita tersebut terungkap melalui pengalaman masa laluyang kurang menyenangkan, karena mereka merasa sering menjadi korbanpenipuan dari toke atau pengepul. Hal tersebut mengindikasikan adanyaperubahan dalam memahami makna pendidikan formal yang diterima olehindividu Suku Anak Dalam. Pernyataan tersebut bukan menjadi satu-satunyaalasan informan Suku Anak Dalam memaknai pendidikan dan bersekolah, merekamenganggap bahwa bersekolah adalah salah satu cara untuk mencari temanbermain yang banyak, dan bukan hanya dari kalangan Suku Anak Dalam saja,namun teman dari orang luar (bukan Suku Anak Dalam).Dalam pengalaman sadar yang dialami individu Suku Anak Dalam,terdapat beberapa faktor yang mendorong individu Suku Anak Dalam untukbersekolah, yaitu adanya rayuan serta pemberian sesuatu yang menarik (imingiming)oleh pemerintah dan pihak sekolah, membuat individu Suku Anak Dalamakhirnya bersekolah. Para informan mengungkapkan bahwa dengan adanyapemberian baju baru (seragam sekolah) menjadi salah satu alasan individu SukuAnak Dalam untuk bersekolah. Selain itu, pemberian perlengkapan dan kebutuhansekolah oleh pemerintah daerah, juga menjadi faktor penarik tersendiri bagiindividu Suku Anak Dalam untuk bersekolah.Pada awalnya, keinginan bersekolah terbentuk bukan karena adanyadorongan pribadi (faktor internal) dari individu Suku Anak Dalam. Para informanmengatakan bahwa alasan pertama mereka bersekolah lebih kepada faktoreksternal, yaitu dorongan dari orang tua mereka. Alasan orang tua Suku AnakDalam meminta anaknya untuk bersekolahpun bukan tanpa alasan, para orang tuamengatakan, dengan bersekolah maka akan diberikan makanan serta pakaian barutanpa dipungut biaya. Asumsi orang tua Suku Anak Dalam tersebut didasari dariadanya sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah yang menyampaikan suatuinformasi mengenai adanya reward jika anak-anak aktif bersekolah.Fenomena yang paling menonjol terkait dengan minat individu Suku AnakDalam untuk menimba ilmu di sekolah formal adalah adanya pembagian makananyang dilakukan oleh pihak sekolah. Bagi para informan, adanya pembagianmakanan yang dilakukan oleh pihak sekolah secara rutin, membuat merekamenjadi bersemangat untuk tetap bersekolah. Pembagian makanan yang diberikanatau dilakukan oleh pihak sekolah membuat Suku Anak Dalam ahirnyabersekolah, ketertarikan individu Suku Anak Dalam terhadap makanan orang luar(bukan Suku Anak Dalam) menjadi salah satu daya tarik bagi mereka untukberangkat ke sekolah. Hal ini terjadi karena Induvidu Suku Anak Dalam merasatidak memiliki kemampuan untuk membuat makanan selayaknya yang dimakanoleh orang luar, makanan seperti nasi goreng, bubur, dan lauk pauk seperti ikanlaut tidak pernah dirasakan oleh individu Suku Anak Dalam.Suku Anak Dalam beranggapan bahwa sekolah dan belajar telahmemberikan sebuah pengalaman baru yang sebelumnya tidak pernah merekadapatkan. Sekarang, Suku Anak Dalam yang telah bersekolah mengaku menjadisemakin mengenal nama-nama pahlawan perjuangan. Jika dibandingkan dengansebelum Suku Anak Dalam bersekolah, mereka tidak mengenal nama-namamenteri bahkan nama presiden Indonesia. Kemampuan mengoperasikan bendaelektronik juga menjadi salah satu pengalaman berbeda yang sebelumnya tidakmereka dapatkan. Dengan kemampuan membaca yang mereka miliki, kini SukuAnak Dalam yang telah bersekolah mampu mengganti channel televisi yang adadi rumah mereka, serta mengganti dan mencari channel parabola yang telahterpasang di rumah. Kemampuan mengoperasikan benda elektronik lainnyaseperti handphone juga menjadi salah satu pengalaman baru bagi Suku AnakDalam. Ketika Suku Anak Dalam sebelum bersekolah, mereka hanyamenggunakan handphone sekedar untuk menonton televisi dan memutar lagu, kinimereka mampu memaksimalkan kegunaan handphone tersebut, selain untukberkomunikasi, mereka telah mampu meng akses facebook dari handphonemereka.dengan bersekolah dan belajar menjadikan mereka memiliki kemampuanuntuk membaca serta menulis, memiliki kemampuan bersosialisasi danbernegosiasi. Dibandingkan dengan ketika Suku Anak Dalam belum bersekolah,Suku Anak Dalam tidak pernah berhubungan, bersosialisasi, dan berinteraksidengan orang luar, meskipun pernah, interaksi hanya terjadi beberapa kali dantidak se sering sekarang. Hal ini terjadi dikarenakan kehidupan Suku Anak Dalamyang lebih banyak berada di hutan. Sebelum sekolah, Suku Anak Dalam keluardari hutan hanya ketika hendak menjual hasil hutan mereka. Berbeda denganketika Suku Anak Dalam telah bersekolah seperti sekarang, bagi Suku AnakDalam yang telah bersekolah, bersosialisasi dengan orang luar kini lebih seringterjadi. Hal ini terjadi karena selain di sekolah mereka harus bersosialisasi denganorang luar, kehidupan sehari-hari juga menuntut Suku Anak Dalan untuk lebihsering bersosialisasi dengan orang luar, karena perumahan yang Suku AnakDalam tempati berada di lingkungan dan di sekitar rumah warga atau hampirsemua tetangga mereka adalah orang luar.Dengan berpindah serta bertempat tinggal Suku Anak Dalam di sekitaratau bertetangga dengan orang luar telah merubah anggapan serta stereotypeSuku Anak Dalam terhadap orang luar. Dengan berteman dengan orang luar,komunikasi serta interaksi mereka menjadi semakin intens dan semakin sering.Fenomena tersebut membuat mereka saling membuka diri satu sama lain, MenurutIrwin Altman dan Dalmas Taylor (Littlejohn, 2005 : 194) dalam teori penetrasisosial (Social Penetration Theory) bahwa seseorang melakukan komunikasi yangbergerak dari unintimate kemudian mencapai puncak pada titik intimate. Prosestersebut adalah penetrasi yang mana syarat mutlaknya yaitu self disclosure atauketerbukaan. Terjadinya keterbukaan diri diantara Suku Anak Dalam denganorang luar lebih dilatar belakangi adanya keinginan untuk saling mengenal satusama lain, memperoleh pengetahuan dari apa yang sebelumnya belum pernahdidapat oleh mereka.Suku Anak Dalam yang telah mampu dan melangsungkan komunikasiatau sosialisasi dengan orang luar merupakan salah satu contoh adanya upaya dariSuku Anak Dalam (kelompok minoritas) agar diterima oleh orang luar (kelompokmayoritas). Orbe menjelaskan dalam co-cultural theory, yang mengkajibagaimana anggota kelompok minoritas berkomunikasi dengan anggota kelompokdominan (Littlejohn, 2009: 264). Usaha yang dilakukan oleh individu Suku AnakDalam cenderung mengarah pada tujuan asimilasi. Fenomena yang terjadi antaraSuku Anak Dalam dengan orang luar, selain telah melakukan komunikasi danbersosialisasi dengan orang luar, Suku Anak Dalam juga mengganti nama mereka.Seperti informan yang penulis temui, dua dari tiga informan Suku Anak Dalamtelah merubah namanya, yang pertama adalah Abdul Rahman, yang memilikinama asli Nyembah, yang ke dua adalah Farida yang memiliki nama asliGemensek.PENUTUPPada awalnya, individu Suku Anak Dalam cenderung memiliki persepsi negatifterhadap pendidikan yang disosialisasikan oleh pemerintah. Hal itu terjadi karenabertentangan dengan ajaran leluhur, sehingga individu Suku Anak Dalam merasatidak perlu bersekolah. Namun seiring dengan perkembangan waktu, persepsimereka mulai berubah. Individu Suku Anak Dalam merasa senang denganbersekolah, karena ketika bersekolah, mereka akan mendapatkan makanan sertajajan yang dibagikan oleh pihak sekolah.Ada beberapa faktor yang akhirnya mampu membuat para individu SukuAnak Dalam menerima pendidikan. Penerimaan individu Suku Anak Dalamdipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar, seperti adanya imbalan atau sesuatu yangmenarik yang diberikan dan disampaikan oleh pemerintah. Serta adanya doronganatau ‘perintah’ dari orang tua mereka untuk bersekolah. Meskipun dorongan dariorang tua mereka dilatar belakangi dengan adanya imbalan berupa akandibagikannya pakaian baru (seragam sekolah) dan makanan oleh pihak sekolah.Dengan bersekolahnya individu Suku Anak Dalam, pengalamanpengalamanbaru dialami oleh mereka. Memiliki teman serta bersosialisasi denganorang luar (bukan Suku Anak Dalam) menjadi pengalaman baru yang didapatketika bersekolah. Kemampuan menggunakan dan mengoptimalkan peralatanelektronik, memiliki kemampuan membuat serta log in sosial media sepertifacebook di handphone juga dimiliki oleh individu Suku Anak Dalam setelahbersekolah. Hal ini didasari pada kemampuan menulis, membaca, dan berbahasaInggris yang diajarkan ketika mereka bersekolah.DAFTAR PUSTAKALittlejohn. Stephen W, and Foss. A Karen. 2009. Teori Komunikasi: Theories ofHuman Communication. Jakarta: Salemba Humanika.Surjadi A. 1989. Pembangunan masyarakat Desa. Bandung: PT. Mandar MajuVanderstoep, Scott W. and Deirdre D. Johnston. 2009. Research Methods forEveryday Life “Blending Qualitative and Quantitative Approaches”. SanFransisco, CA: Jossey-Bass.http://www.kpde.batangharikab.go.id/?p=166 (diunduh pada tangal 7 November2012)http://www.tarungnews.com/fullpost/budaya/1318475559/kehidupan-primitifsuku-kubu-anak-dalam-di-jambi.html (diunduh pada tanggal 10 November2012)
Representasi Nilai-Nilai Ajaran Masyarakat Samin dalam Film Lari dari Blora Indra Bagus Kurniawan; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 9, No 3: Juli 2021
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Samin community is known as an conservative community group, unwilling to attend formal schools, unwilling to submit to government regulations, unwilling to accept outside culture, and a lot of closure to outsiders. The film Lari dari Blora seeks to fight this stigma by presenting the teachings of the Samin community which are used as guidelines for everyday life in the village environment of Samin. This film tells the story of various problems that occur in cultural life, where they must defend their identity even in unfavorable situations. This study aims to explain how the life of the Samin people in Blora Regency which is shown in the film Lari dari Blora and to explain how the representation of the teachings of the Samin people is shown in the film Lari dari Blora using qualitative research methods. This research refers to the constructivism paradigm. The theory used in this research is Roland Barthes' semiological theory. Data collection techniques used in this study are documentation and observation. The results of this study reveal that the film Lari dari Blora wants to give a message that the Samin people in Blora Regency live in a sphere of simplicity and harmony in the midst of technological developments and globalization currents that make the Samin people struggle to maintain the culture that has been adopted and passed down by their ancestors they. The film Lari dari Blora gives a message that the Samin community will no longer close themselves to the presence of outsiders who enter their group, and begin to open themselves up to socialize with groups that have different principles and teachings.
Analisis Bingkai: Konstruksi Koruptor di Majalah Detik Rossa Oktaviyani; Hapsari Dwiningtyas; Dr Sunarto; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.023 KB)

Abstract

Media massa cenderung menggambarkan perempuan pelaku kejahatan seperti pembunuhanmaupun pelecehan seksual dengan menonjolkan penderitaan mental, psikologis dan cacatfisik. Lain halnya jika laki-laki yang melakukan tindak kejahatan, media lebih berfokus padakorbannya, motif pelaku, atau modus kejahatannya. Fenomena yang terjadi sekarang adalahbanyaknya perempuan yang bekerja di sektor publik namun melakukan tindak kejahatankorupsi. Media sebagai sumber informasi turut mengambil andil dalam membentukkonstruksi masyarakat tentang para koruptor iniPenelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana sikap Majalah Detikdalam mengemaspemberitaan laki-laki dan perempuan pelaku korupsi. Teori yang digunakan diantaranya teorikonstruksi realitas sosial, teori konstruksi sosial media massa, konsep media and crime danmaskulinitas. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatananalisis framing model Zhondang Pan dan Gerald M. Kosicki. Analisis framing model inidibagi menjadi empat struktur, yaitu: struktur sintaksis, skrip, tematik dan retoris. Berdasarkan struktur sintaksis diperoleh frame yang menunjukkan perempuanmanipulator kalah yang sedang menjalani karma dan laki-laki playboy yang bersalah namunmasih berani melawan. Struktur skrip diperoleh frame perempuan manipulator yang jelasbersalah dan sedang menjalani karma dan laki-laki agresor masih berani melawan. Strukturtematik diperoleh frame perempuan manipulator kalah yang sedang menjalani karma danlaki-laki agresor masih berani melawan. Struktur retoris diperoleh frame perempuan cantikyang tidak benar sebagai simbol komersialisme yang sedang menjalani karma dan laki-lakiplayboy yang bersalah namun masih berani melawan. Dari keempat struktur tersebut dapatdiperoleh frame utama yaitu perempuan pelaku korupsi layak mendapatkan hukumansedangkan bagi laki-laki pelaku korupsi frame utamanya adalah laki-laki yang masihmemiliki kekuatan untuk melawanKata kunci: framing, konstruksi, korupsi, Majalah Detik
Ultra Violence Dalam Film Django Unchained Dini Tiara I; Turnomo Rahardjo; Taufik Suprihartini; Hapsari Dwiningtyas
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.624 KB)

Abstract

Kekerasan merupakan aspek yang tidak pernah lepas ditampilkan dalam media. Film merupakan media massa yang menampilkan kekerasan dengan vulgar. Kekerasan yang berlebihan ini disebut dengan ultra violence dimana kekerasan divisualisasikan dengan sekeji mungkin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana teks, dalam hal ini film mendesain kekerasan menjadi suatu hiburan yang kemudian layak dipertontonkan. Penelitian ini menggunakan analisis semiotika The Codes of Television John Fiske, yang meneliti film dengan tiga tahap penelitian. Secara teknis film dilihat melalui level realitas dan representasi, kemudian pada level terakhir dilihat ideologi yang terdapat dalam film.Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kekerasan yang ditampilkan dalam film merupakan bentuk hiperrealitas. Kekerasan yang ditampilkan bukan murni hasil representasi realitas namun merupakan buatan pembuat film yang sama sekali tidak dapat dihubungkan dengan kekerasan pada realitas. Selain itu, pada film ini menunjukkan naturalisasi atas tindakan kekerasan. Kekerasan dianggap sebagai bentuk balas dendam terhadap kaum yang menindas. Pihak yang tertindas berhak “menghukum” pihak yang menindas dengan kekerasan. Secara keseluruhan, kekerasan yang terdapat dalam film ini dibentuk menjadi industri budaya yang sengaja dibuat menjadi objek hiburan. Kata kunci : Kekerasan, Hiperrealitas, Industri Budaya
Adaptasi Komunikasi Mahasiswa Tuli di Perguruan Tinggi Marshya Camillia Ariej; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 8, No 1: Januari 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.096 KB)

Abstract

The communication problem faced by Deaf college students in campus is the difference ability of their communication skills with the hearing students. This difference in ability, led them to some communication barriers. The difference in understanding between Deaf students and their hearing environment arises because there are no mutual understanding between participants in communication caused by verbal symbols that are not captured in their entirety. The verbal symbols that matters are languages. Efforts and processes to achieve mutual understanding between Deaf people and other participants in communication are hampered due to these physical limitations. Deaf people are more dominant using non-verbal symbols (Sign Language) compared to verbal symbols. This study aims to understand the experiences and communication barriers of Deaf students when adapting to the hearing environment in higher education through a phenomenological approach. This study uses the foundation of Communication Accommodation Theory by Howard Giles and Social Learning Theory by Albert Bandura. This study uses in-depth interviews as data collection techniques involving four Deaf students with severe Deaf categories. The results of this study indicate, Deaf students not only face obstacles in verbal but also language communication in the verbal form. Deaf students accept prejudice and discrimination from the environment expressed through refusal and demands to always use verbal symbols when interacting and communicating. In addition, Deaf students also experience anxiety, uncertainty, and foreign language barriers (English) in academic terms. Apprehension that occurs in Deaf students is a Situational Communication Apprehention. Besides experiencing communication apprehension, Deaf students are also faced with uncertain situations when they first become students. Three uncertainty reduction strategies namely passive, active and interactional are used by Deaf students when facing certain situations that cause uncertainty. A new theory emerged and it could explain the phenomenon of adaptation of deaf students in higher education, namely the Interaction Adaptation Theory. The adaptation patterns used by Deaf students in higher education are interactional synchronization, reciprocal, and compensation. Based on this research, it can be concluded that Deaf students adapt by making language adjustments, using verbal symbols, and supported by writing.
Memahami Adaptasi dalam Komunikasi Antarbudaya (Kasus Pernikahan Antaretnis Batak – Cina) Paskah M Pakpahan; Taufik Suprihatini; Wiwid Noor Rakhmad; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.799 KB)

Abstract

Proses adaptasi merupakan hal mutlak yang harus dilakukan oleh individu yang ingin melanjutkan hubungan sampai pada jenjang pernikahan, terlebih lagi pada pernikahan. Pernikahan antaretnis sering menimbulkan konflik yang terkadang berakibat pada perceraian. Realitas itu, menjelaskan bahwa interaksi budaya berbeda etnis mengakibatkan persinggungan budaya yang berlanjut kepada keterbukaan atau ketertutupan diri. Adaptasi akan tercipta setelah adanya interaksi. Sedangkan interaksi antara individu berbeda budaya, yang terikat dalam satu hubungan perkawinan, membutuhkan keterbukaan (self dislosure) agar tercipta pengetahuan dan pemahaman terhadap budaya masing-masing. Fenomena tersebut menggugah keingintahuan penulis mengenai proses adaptasi pasangan antaretnis. Karenanya, penelitian ini kemudian dilakukan untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya proses adaptasi pasangan pernikahan antaretnis.Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi agar peneliti mampu memahami makna pengalaman pasangan pada pernikahan antaretnis saat beradaptasi, dari sudut pandang informan sebagai pelaku. Penelitian ini mengambil pasangan yang istrinya dari etnis Batak – suaminya etnis Cina, dan psangan yang istrinya Cina – suaminya etnis Batak sebagai informan penelitian. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis data fenomenologi.Melalui penelitian ini ditemukan beberapa usaha dari masing-masing individu untuk beradaptasi dengan psangan dan tetap mempertahankan perkawinan. Untuk menyelesaikan setiap konflik yang timbul dalam rumah tangga pasangan antaretnis pada penelitian ini, memiliki usaha-usaha yang dikelompokan menjadi beberapa sintesa diantaranya : pertama, pengalaman informan dalam beradaptasi dengan pasangan. Dari pengalaman beradaptasi dengan masing-masing informan mengaku mampu belajar dan mengetahui karakter pasangannya. Kedua, pola komunikasi dengan pasangan. Dalam berkomunikasi hendaknya menggunakan bahasa yang dapat dimengerti oleh pasangan, menjaga intensitas komunikasi, kualitas komunikasi dan pemhaman karakter masing-masing. Ketiga, keterbukaan saat berkomunikasi dengan pasangan untuk menyelesaikan setiap masalah dari konflik yang muncul. Keterbukaan saat berkomunikasi ini kemudian menjadi kunci keberhasilan rumah tangga pasangan antaretnis. Dan saling bertoleransi serta menghargai pasangan adalah salah satu cara yang ditempuh pasangan pernikahan antaretnis untuk mencegah timbulnya konflik dalam kehidupan rumah tangga mereka. Dari beberapa hasil penelitian di atas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa keberhasilan dalam proses adaptasi akan mempengaruhi keberhasilan hubungan pasangan suami-istri pada pernikahan antaretnis.
PENGELOLAAN KONFLIK YANG BERSUMBER PADA PRASANGKA SOSIAL (KASUS SUAMI LEBIH MUDA-ISTERI LEBIH TUA) ROBBIANTO ROBBIANTO; Sri Budi Lestari; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.323 KB)

Abstract

ABSTRAKJUDUL : PENGELOLAAN KONFLIK YANG BERSUMBER PADAPRASANGKA SOSIAL (KASUS SUAMI LEBIH MUDA-ISTERILEBIH TUA)NAMA : ROBBIANTONIM : D2C007076Fenomena perkawinan suami lebih muda-isteri lebih tua kini tidak hanya populerdi kalangan para pesohor saja, melainkan juga terjadi di kalangan masyarakat umum.Perbedaan usia kedua pasangan itu pun bervariasi antara satu sampai lima tahun ataulebih dari lima tahun. Konsep nilai tradisional memercayai bahwa usia suami yang lebihtua dipercaya akan membawa pernikahan ke arah yang lebih baik, mengingat suamisudah sepantasnya menjadi sosok pemimpin dan pengayom dalam rumah tangga. Dengandemikian, perkawinan suami lebih muda-isteri lebih tua dianggap telah bertentangan nilaitersebut, sehingga pasangan yang menjalani perkawinan tersebut seringkali dihadapkanpada prasangka sosial yang dapat muncul dari lingkungan di sekitar mereka.Penelitian ini bertujuan untuk melihat bentuk prasangka sosial yang muncul dalamkehidupan pasangan suami lebih muda-isteri lebih tua, bagaimana situasi tersebut dapatmemengaruhi keharmonisan perkawinan mereka, dan bagaimana pengalaman komunikasipasangan tersebut dalam hal mengelola konflik yang sumbernya dari prasangka sosial itu.Teori yang digunakan adalah Relational Dialectics Theory yang dikemukakan olehBaxter dan Montgomery dan didukung konsep pengelolaan konflik K.W Thomas danR.H Kilmann (1974) yang dikenal dengan metode “The Thomas-Kilmann Conflict ModeInstrument (TKI)”. Pengalaman individu ini diungkapkan dengan metode fenomenologiyang mengutamakan pada pengalaman individu secara sadar dalam memaknai suatu hal.Peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam terhadap tiga pasang informan yangmemiliki isterinya lebih tua lebih dari leima tahun daripada suami ,serta telah menikahselama lebih dari sepuluh tahun.Hasil dari penelitian ini menunjukkan untuk menghadapi situasi konflik yangpenuh prasangka sosial, pasangan suami lebih muda-isteri lebih tua secara umummenggunakan seringkali menggunakan metode kompetisi dimana mereka tidak terlalumemperdulikan apa kata orang, menghiraukannya, dan tetap fokus pada pendiriannyauntuk memelihara rumah tangga yang harmonis. Selain itu, tidak jarang mereka jugamelakukan metode kompromi dimana mereka berusaha untuk memberikan penjelasandan pengertian kepada orang-orang yang berprasangka. Faktor internal dari pasangansuami-isteri seperti, komitmen, kebutuhan yang saling melengkapi, dan penerimaan diriyang positif juga membantu mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang diliputiprasangka sosial. Prasangka sosial setidaknya juga telah membawa dampak bagipasangan suami lebih muda-isteri lebih tua. Dampak negatif akibat prasangka sosialantara lain munculnya tekanan di dalam pikiran maupun batin bagi masing-masingpasangan, perubahan emosi yang terkadang dapat memicu pertengkaran di dalam rumahtangga, dan merenggangnya hubungan mereka dengan orang tua, saudara, atau teman.Sedangkan dampak positifnya, yakni dirasakan adanya penguatan hubungan di antarapasangan suami-isteri tersebut dan meningkatnya sikap supportif satu sama lain.Key words : suami lebih muda-isteri lebih tua, pengelolaan konflik, prasangka sosialABSTRACTTITLE : CONFLICT MANAGEMENT WHICH IS BASED ON SOCIALPREJUDICE (THE CASE OF YOUNGER HUSBAND-OLDERWIFE)NAME : ROBBIANTONIM : D2C007076Nowadays, the phenomenon of younger husband-older wife marriage is not onlypopular among celebrities, but also occurs in the general societies. The couple‟s age isvaried between one to five years or more than five years. The concept of traditionalvalues believe that the age of older man was believed to bring the marriage into a betterdirection, it is considered that men should become a leader and protector in the family.Thus, the younger husband-older wife marriage is considered to have conflicting values,so the couples whom undergoing that marriage are faced with the social prejudice oftenlywhich can arise from the people around them.This study aims to look at forms of social prejudice that arise in the life ofyounger husband-older wife, how that situation may affect the harmony of their marriage,and how the couple‟s experience in managing the conflict that comes from socialperjudice. The theory used is Relational Dialectics by Baxter and Montgomery andsupported by the concept of K.W Thomas and R.H Kilmann (1974) conflict managementwhich is known as “The Thomas-Kilmann Conflict Mode Instrument (TKI)”. Thisindividual experience is expressed by the phenomenological method which priotitizesindividual experience concious of understanding a thing. The researcher used in-depthinterviewing technique to three pairs of informants who have an age gap of more thanfive years older at the wife than her husband, and has been married for more than tenyears.The results of this study indicate that to deal with situations of social conflictprejudiced, The younger husband-older wife couples in general often use competitionmethod in which they are not too concerned with what people say, ignore it, and remainfocused on the establishment to maintain harmonious family. In addition, not infrequentlythey also do the compromising method in which they strive to provide an explanation andunderstanding to the prejudiced people. Internal factors of the husband and wife, like thecommitment, complementary needs, and positive self acceptance also help them to live alife filled with domestic social prejudice. The social prejudice also has impact on at leastyounger husband-older wife couple. The negative impact of the emergence of socialprejudices among others in mind as well as the pressure in the inner for each partner,emotional changes that can sometimes lead to quarrels in the household, and theirrelationship with parents, siblings, or friends become distant. While the positive impactare strengthening the relationship between husband and wife, and the increasingsupportive attitude to each other.Key words : younger husband-older wife, conflict management, social prejudicePENDAHULUANDewasa ini, perkawinan suami lebih muda dan isteri lebih tua semakinbanyak dijumpai di masyarakat. Perbedaan usia diantara mereka pun semakinbervariasi, mulai 1-2 tahun, sampai lebih dari 5-10 tahun. Ungkapan “Cintamemang buta, tak lagi memandang status, strata, apalagi usia.” layaknya tepatuntuk menggambarkan tipe perkawinan semacam ini. Hubungan percintaansemacam ini lebih dulu populer di kalangan selebritas yang kemudian seringkalimenjadi bahan perbincangan umum.Namun perkawinan antara pria lebih muda dengan wanita lebih tua inibukannya tanpa masalah, mereka seringkali dihadapkan pada prasangka sosial,yang wujudnya dapat berupa stigma negatif, gunjingan, cibiran, hinggapenolakan, terlebih lagi jika usia wanita tersebut terlampau lebih tua dari sangpria. Beberapa juga menganggap hal ini sebagai ketidaklaziman atau tabu.Berbagai stereotip secara konsisten juga diasosiasikan pada pasangan suami lebihmuda-isteri lebih tua.Terkait perbandingan usia antara pria dan wanita dalam sebuahperkawinan, sesuai dengan konsep pemikiran tradisional atau nilai yang dipegangdalam masyarakat idealnya adalah seorang pria menikah dengan wanita yanglebih muda. Usia suami yang lebih tua dipercaya akan membawa pernikahan kearah yang lebih baik, mengingat suami sudah sepantasnya menjadi sosokpemimpin, pengayom, dan pembimbing dalam rumah tangga dan keluarga. Halini juga sebenarnya tersirat dalam Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun1974 dimana perbandingan usia dalam suatu perkawinan memperlihatkan bahwausia pria lebih tua daripada wanitanya. Dalam Pasal 7 Ayat 1 disebutkan bahwaperkawinan hanya diizinkan bila pihak pria mencapai umur 19 (sembilan belas)tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 (enam belas) tahun.Dalam Teori Relational Dialektika, Baxter dan Montgomery menyatakanbahwa hubungan tidak terdiri atas bagian-bagian yang bersifat linear, melainkanterdiri atas fluktuasi yang terjadi antara keinginan-keinginan yang kontradiktif(West dan Turner, 2008: 236). Dialektis mengacu pada sebuah tekanan antarakekuatan-kekuatan yang berlawanan dalam sebuah sistem (Littlejohn, 2009: 302).Hubungan perkawinan dalam konteks suami lebih muda-istri lebih tuaberasumsi adanya dialektika yang bersifat kontekstual, yakni antara keputusanmereka untuk menikah berseberangan nilai yang dianut masyarakat yangmeyakini bahwa pernikahan biasanya terjalin antara pria yang lebih tua denganwanita yang lebih muda. Dialektika konstektual yang seperti ini, dinamakan olehRawlins (1992) sebagai dialektik antara yang nyata dan yang ideal. Keteganganantara dialektika yang nyata dan yang ideal (real and ideal dialectic) munculketika orang menerima pesan ideal mengenai seperti suatu hubungan itu, danketika melihat hubungan mereka mendiri, mereka harus menghadapi kenyataanyang berlawanan dengan yang ideal tadi.Perkawinan suami lebih muda-isteri lebih tua juga merupakan sebuahrelasi yang memuat unsur konflik di dalamnya. R.D Nye (1973) menilaiperbedaan nilai sebagai salah satu penyebab atau sumber konflik (dalam Rakhmat,2005: 129). Konflik terjadi karena adanya kontroversi. Sikap kontroversi munculkarena masing-masing pihak mempunyai sudut pandang analisis, argumen yangberbeda (Suranto, 2010: 111). Pertentangan nilai yang dianut pasangan suamilebih muda-isteri lebih tua dengan yang dianut masyarakat mengenaiperbandingan usia antara suami-istri yang ideal dalam perkawinan inilah yangmenjadi situasi konflik dalam relasi perkawinan tersebut. Konflik tidak berasaldari internal kedua belah pihak pasangan melainkan antara masing-masingpasangan dengan pihak di luar pasangan tersebut, yakni masyarakat sekitarmereka.Salah satu teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan pengelolaankonflik dalam penelitian ini adalah Teori Analisis Transaksional dari Eric Berne(1964) yang ditulis dalam bukunya Games People Play. Analisis transaksionalsebagai pendekatan komunikasi interpersonal, bertujuan mengkaji secaramendalam proses transaksi yang berlangsung dalam proses komunikasi, yaknimengenai siapa saja yang terlibat di dalamnya dan pesan apa yang diperlukan.(Andayani, 2009: 70). Selain itu penelitian ini juga berbasis pada metodepengelolaan konflik dari K.W Thomas dan R.H Kilmann (1974) yang dikenaldengan metode “The Thomas-Kilmann Conflict Mode Instrument (TKI)” tentangpengelolaan konflik yang terdiri atas lima gaya atau cara (five conflict-handlingmodes yang dapat dijabarkan ke dalam dua dimensi yaitu kepedulian terhadap dirisendiri (assertiveness) dan kepedulian terhadap orang lain (cooperativeness).PEMBAHASANUsia merupakan salah satu pertimbangan seorang pria atau wanita dewasadalam memilih pendamping hidup. Di dalam masyarakat pada umumnya terjadiadalah seorang pria yang lebih tua menikah dengan seorang wanita yang lebihmuda darinya. Namun kini fenomena perkawinan antara pria yang lebih mudadengan wanita yang lebih tua juga semakin banyak dijumpai di masyarakatumum, tidak hanya terbatas pada kalangan para pesohor yang lebih dahulupopuler. Perbedaan usia kedua pasangan itu pun bervariasi antara satu sampailima tahun atau lebih dari lima tahun.Konsep nilai tradisional mempercayai bahwa usia suami yang lebih tuadipercaya akan membawa pernikahan ke arah yang lebih baik, mengingat suamisudah sepantasnya menjadi sosok pemimpin dan pengayom dalam rumah tangga.Dengan demikian, perkawinan suami lebih muda-isteri lebih tua dianggap telahbertentangan atau “melanggar” nilai tersebut, sehingga pasangan yang menjalaniperkawinan tersebut seringkali dihadapkan pada prasangka sosial yang dapatmuncul dari lingkungan di sekitar mereka.Penelitian ini menguraikan tentang pengalaman pasangan suami lebihmuda-isteri lebih tua dan prasangka sosial yang mereka hadapi serta bagaimanamereka mengelola situasi tersebut. Penelitian ini melibatkan tiga pasangresponden yang memiliki perbedaan usia di atas lima tahun lebih tua isteridibandingkan suami serta telah menikah selama lebih dari sepuluh tahun. Lewatpenelitian ini peneliti berupaya menggambarkan bagaimana pasangan dengankondisi demikian mengelola konflik eksternal atau dalam hal ini prasangka sosialyang mereka hadapi karena kondisi perkawinan mereka dianggap tidak ideal olehmasyarakat di sekitar mereka. Dengan wawancara mendalam, penelitimengumpulkan informasi tentang kondisi rumah tangga mereka dan metodepengelolaan konflik yang mereka lakukan.Pembahasan tentang penemuan-penemuan penelitian ini menghasilkanbeberapa hal yang dapat disimpulkan dari penelitian yang telah dilaksanakan,yakni:1) Perbedaan usia antara suami dan isteri dalam pasangan suami lebih mudaisterilebih tua tidak menjadi suatu halangan bagi mereka untuk membinahubungan rumah tangga layaknya pasangan–pasangan lain. Walaupun secarabiologis isteri memiliki usia yang jauh lebih tua dibandingkan dengan suami.Namun ketika isteri mampu untuk membuat penampilan mereka lebih muda dansegar maka pasangan pun ini secara kasat mata terlihat layaknya pasanganpasanganpada umumnya. Sifat saling melengkapi yang dimiliki pasangan ini jugamenjadi hal yang mendukung terciptanya suasana rumah tangga yang selaras danbahagia.2) Prasangka sosial yang dialami oleh pasangan suami lebih muda-isteri lebihtua dapat dibedakan menjadi beberapa kategori. Pertama, prasangka sosial inimuncul ke dalam suatu bentuk pembiacaraan negatif (anti-lokusi) mengenaipasangan tersebut. Materi pembicaraan itu pun berkisar pada perbedaan usia diantara pasangan yang terlampau jauh sehingga dianggap tidak ladzim, perbedaanfinansial yang dimiliki pasangan dimana isteri diketahui ternyata lebih mapandibandingkan suami, dan latar belakang isteri yang sebelumnya pernah gagalmenjalin hubungan rumah tangga. Pembicaraan negatif ini juga termasuk didalamnya adalah gurauan yang tidak pada konteksnya dan sifatnya merendahkanatau menyinggung perasaan. Kedua, stereotip secara konsisten diasosiasikankepada masing-masing pasangan, baik suami maupun isteri yang menjalaniperkawinan semacam ini. Salah satunya adalah suami yang lebih muda seringkalimasih dianggap gemar mencari kesenangan pribadi dan kurang dapat diandalkan.Sedangkan isteri yang lebih tua juga masih dipandang akan lebih mendominasi didalam pola komunikasi keluarga tersebut, terlebih lagi jika isteri tersebut jugalebih mapan secara finansial dibandingkan sang suami. Ketiga, prasangka sosialjuga diwujudkan dalam bentuk penolakan dan penghindaran baik secarakomunikasi atau pun tindakan terhadap pasangan suami lebih muda-isteri lebihtua ini.3) Prasangka sosial adalah pengalaman yang kurang menyenangkan bagipasangan suami lebih muda-isteri lebih tua. Dampak negatif yang dialami olehpasangan akibat prasangka sosial tersebut antara lain, munculnya tekanan secarabatin atau pikiran yang dapat membuat pasangan terkadang merasa ragu akanhubungan mereka sendiri dan hampir tenggelam oleh suara-suara dari orang yangberprasangka. Pasangan yang menjalani perkawinan semacam ini membutuhkankesabaran yang lebih untuk membiasakan diri menghadapi prasangka sosial yangmuncul dari lingkungan sekitar mereka tersebut. Melalui penerimaan diri yangpositif, pasangan tersebut dapat mengubah prasangka sosial yang semula adalahancaman bagi keharmonisan rumah tangga mereka menjadi peluang bagi merekauntuk bersikap solid atau saling mendukung (supportif) membina keluarga yangkokoh dan bebas dari pengaruh penilaian orang lain.4) Pertentangan nilai yang dianut masyarakat dan pasangan informanmengenai perbandingan usia yang ideal antara suami dan isteri dalam suatuperkawinan yang kemudian melahirkan suatu prasangka sosial adalah bentukkonflik eksternal yang terjadi pada pasangan suami lebih muda-isteri lebih tua.Sangatlah penting bagi pasangan tersebut untuk mengetahui cara pengelolaankonflik agar keharmonisan rumah tangga dapat terjaga. Secara umum carapengelolaan konflik yang lebih sering dilakukan pasangan suami-isteri adalahdengan tetap fokus pada komitmen awal menjalin hubungan rumah tangga dantidak menaruh perhatian yang besar terhadap berbagai prasangka yang hadirdalam kehidupan mereka.PENUTUPPenelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi penelitian komunikasidalam mengkaji teori-teori yang berkaitan dengan Dialektika Relasional yangdikemukaan oleh Baxter dan Montgomery. Dalam teori tersebut hubunganpasangan suami-isteri bukan hanya dilihat dari pendekatan monologis maupundualistik yang melihat hubungan dimulai dari dekat menjadi sangat intimmelainkan bagaimana individu menangani pertentangan dalam hubungannya.Pasangan dalam kondisi demikian tidak perlu menutup diri dari pergaulansosial dan merasa malu atau rendah diri karena merasa atau dianggap berbedadibandingkan pasangan-pasangan suami-isteri pada umumnya. Pasangan suamiisteripun juga tidak perlu merasa terancam kehidupan rumah tangganya denganadanya prasangka sosial di seputar kehidupan mereka. Komitmen dari awal untukmembina rumah tangga yang harmonis kiranya harus terus dijaga agar pasangansemacam ini tidak tenggelam dalam suara-suara dan pendapat dari luar yang tidakselalu sesuai atau benar.Sebagai syarat menjadi pengayom dan pemimpin keluarga yang baik makakedewasaan pun diperlukan, salah satunya oleh masyarakat sosial hal ini dicirikandengan usia yang lebih tua. Nilai itu pun diteruskan secara turun-temurun darigenerasi ke generasi. Masyarakat seringkali tidak mau memahami kenapa ada priayang lebih muda mau menikah dengan wanita yang lebih tua. Memahamikeputusan orang lain memang tidak selalu mudah. Lebih mudah mengungkapkanketidaksetujuan dengan komentar atau ejekan. Perkawinan semacam ini pun padaakhirnya dijadikan sasaran prasangka sosial oleh masyarakat. Komentar negatifhingga penolakan seringkali ditujukan bagi pasangan tersebut. Seharusnyamasyarakat tidak mudah memberikan penilaian atau penghakiman (judgement)kepada seseorang tanpa mengetahui kebenaran atau alasan ketika seseorangmenjadi berbeda dengan apa yang biasanya terjadi dalam masyarakat itu sendiri.Masyarakat agaknya dapat lebih berempati dan lebih bijak lagi dalam menilaikarena pada hakikatnya manusia secara individu juga memiliki kemauan atauprinsip yang tidak dapat dikendalikan orang lain, termasuk dalam memilihpasangan hidup.Daftar Pustaka:Andayani, Tri Rejeki. 2009. Efektivitas Komunikasi Interpersonal. Semarang:Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang.Beebe, Steven A. 2005. Interpersonal Communication Relation With Other.Boston: Pearson Education, Inc.Harsanto, Priyatno. 2006. Pendekatan Interpretif dalam Ilmu Sosial:Fenomenologi, Etnometodologi dan Simbolik Interaksionisme. Modul PelatihanPenelitian Kualitatif. Semarang: FISIP UndipKnapp, Mark L & Anita L. Vangelisti. 1992. Interpersonal Communication andHuman Relationships. Boston: Allyn and BaconKriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: KencanaPrenada Media Group.Liliweri, Alo. 1991. Komunikasi Antar Pribadi. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.Littlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss. 2009. Teori Komunikasi. Jakarta:Salemba Humanika.Littlejohn. 1999. Theories of Human Communication. Belmont, California:Wadsworth Publishing Company.Moleong, Lexy J. Dr. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. RemajaRosdakaryaMorissan, M.A. 2010. Psikologi Komunikasi. Bogor: Ghalia IndonesiaMoustakas, Clark. 1994. Phenomenological Research Methods. California: SagePublications, IncNarwoko, J. Dwi dan Bagong Suyanto. 2007. Sosiologi Teks Pengantar danTerapan. Jakarta: Kencana Prenada.Older Women-Younger Men Relationships: The Social Phenomenon of„Cougars‟. A Research Note. Institute of Policy Studies, Working Paper, January2010.Olson, David H., dan John DeFrain. 2006. Marriages & Families: Intimacy,Diversity, and Strengths. Lindenhurst, NY: McGraw-Hill Humanities Social.Rakhmat, Jalaludin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. RemajaRosdakarya: Bandung.Thomas, K.W., & R.H. Kilmann. 1974. Thomas-Kilmann Conflict ModeInstrument. Sterling Forest, NY: Xicom, Inc.Tubbs, Stewart L., dan Sylvia Moss. 1996. Human Communication Prinsip-Prinsip Dasar Buku Pertama, diedit dan diterjemahkan oleh Dr. Deddy Mulyana,M.A. dan Gembirasari. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.West, Ricard dan Lyn H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi Analisis danAplikasi Edisi 3. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.Sumber Internet:http://id.omg.yahoo.com/news/kisah-nunung-mencari-cinta.htmlhttp://www.vemale.com/relationship/love/13801-wanita-paruh-baya-suka-melirikpria-muda.htmlhttp://life.viva.co.id/news/read/321023-ada-apa-di-balik-wanita-pencinta--daunmudahttp://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/500613htttp://www.selebrita.com/entertainment/nassar-muzdalifah-menikah.html
INTIMATE RELATIONSHIP IN TA’ARUF COUPLE Marlia Rahma Diani; Sri Widowati Herieningsih; Turnomo Rahardjo; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.758 KB)

Abstract

Marriage is something coveted in every relation. There are some ways of introducing to acouple before the wedding. Ta’aruf couples through their introducing and also developing oftheir relationship in a very short. So they didn’t know each other in a specific things.Communication between ta’aruf couples also must go by a mediator. It causes for thedistortions messages in their communication. Besides information about the couple obtainedfrom the process of ta’aruf is also limited because of the intercommunication limits that mustbe obeyed restrictions in accordance with islamic syariah.The purpose of this research is to find the experience of the ta’aruf couples in undergothe process at the communication time and knowing that occur in pairs of closeness inrelationships or intimate relationship. The used theories are Penetration Social Theory byIrwin Altman Damask and Taylor and the Dialectics Relational Theory by Baxter andMontgomery. To describe in detail to the development of intimate relationship in the ta’arufcouples. This research is using qualitative methodology with the approach phenomenology.Subject in this research is the newly married ta’aruf couples, with two or three months ofmarried using ta’aruf process.Based on the results, ta’aruf became a means to know each other and get informationfrom each other to minimize uncertainty information between one another. The ta’arufcouples began to minimize the uncertainly general information of themselves by exchangetheir curriculum vitae who mediated by a mediator.Trust, self disclosure, and responsibilities are becoming a key in relations developingfor a familiar intercourse between ta’aruf couples. In facing a conflict, a ta’aruf couple like todiscussing with a mediator to the conflict that appears. So it would not be a failed factor inta’aruf process.
Co-Authors ., Muchibuddin Abdul Malik, Aminullah Adhi Wiryawan, Yudho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Saputro, Topo Adinda, Sarah ADITYA FAHMI NURWAHID Adiyatma, Irfandhika Afri Setya, Rega Agus Naryoso Aisyah Monicaningsih Aisyah Nadhilah Arsyi Malik Aisyah Nur Iswahyudi, Farah Ajeng Gendari Sayang Aji Kurniawan Ade Purwanto Alif Hibatullah Alifati Hanifah Almanda Prinarenti, Aurelia Amelia Monica Amida Yusriana Andrio, Bimo Anindhita Puspasari Anjar Mukti Yuni Pamungkas, Anjar Mukti Annie Renata Siagian Annisa Widya Paramitha Annisa Zetta Afiatni Aprilla Agung Yunarto Arif Andhika, Wisnu Arlinda Nurul Nugraharini Asri Rachmah Mentari Asteria Agustin Asyhab Arno Wijaya Aurisa Hangesti Putri Avianto Aryo Wicaksono Ayu Lestari, Mega Ayu Permata Sari Ayudia Putri, Rakhma Azif, Zahra Bayu Hastinoto Prawirodigdo Bayu Widagdo, Muhammad Bening Shabilla Utami Bonaventura Paskaris Kusuma Aji Brillian Barro Vither Conny Brilliant Dwikananda, Kartika Dalil, Firas Dea Dwidinda Lutfi Desastri Ahda Ramadhan, Pimpi Destika Fajarsylva Anggraini Devi Pranasningtias Indriani DEWI IRAWATI Dhyah Shanti Nur Kartika Dimas Obwid Robertus Belarmino Malau Dinaharilala Olivia, Randrianarison Dini Tiara I Dipa Wirayatama Diva Sinar Rembulan Dizafia Zafira Mayyasya Djoko Setyabudi DONNA RADITA MERITSEBA DR Sunarto Dr. Sunarto Dra Taufik Spurihartini Dwi Amanda, Visca Dyah Woro Anggraeni Elbert Adinugraha Christianto, Anthony Elvina Ghozali Erva Maulita Eva Ratna Hari Putri Fariz Dewanto Fatia Maharani Fauzi, Aldi Febrian Aditya Putra Fitria Mahdiyyani, Anisah Fitria Purnama Sari Fransiska Indria Widiasari Gatikasari Mujiastuti Geta Ariesta Herdini Gilang Maher Pradana Gusti Purbo Darpitojati Handono Priambodo, Handono Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hasibuan, Anra Muliasih Sah Bakti Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Himawan, Hilmi Ika Adelia Iswari Ilham Prasetyo Indra Bagus Kurniawan Irfan Zuldi Isabela Laras Anindyo Isti Murfia Jenny Putri Avianti Jonathan Dio Sadewo Joyo NS Gono Joyo Nur Suryanto Gono Kania Azzahra Wibowo Kania Salsabila Putri Rachmadi Karina Puspadiati Kevin Purba Khurrosidah, Sela Kusuma, Ivana Lintang Ratri Rahmiaji Lintang Ratri Rahmiaji Lucia Eka Pravitasari M Bayu Widagdo Maharani Easter Makarim, Nabil Marlia Rahma Diani Marshya Camillia Ariej Martha Caesarin Putri Yulinta Martina Aurelia Carissa Maulana Khalidin . Maulana Ocky Adhicondro Meidiza Firda Mapikawanti Miftakhul Noor Alfiana Mirtsa Zahara Hadi Monica Hayunindya Patria Paramesthi Much Yulianto Much. Yulianto MUCHAMAD MACHBUB LUTFI Muh. Medriansyah Putra Kartika Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Reza Mardiansyah Muhammad Syamsul Hidayat Mujahidah Amirotun Nisa Nadhila Prisca Anjani M Nadif Rizqulloh, Muhammad Nadila Opi Prathita Sari Naga Mulia, Wim Naomi Uli Quanti Siahaan Narayani Aberdeen, Avi Nastiti Laksmita Adi Nikolas Prima Ginting NIKOLAUS AGENG PRATHAMA NOVI ADI PUSPITANINGRUM Nur Rahmi, Faurina Nur Suryanto Gono, Joyo Nurist Surayya Ulfa Nuriyatul Lailiyah Nurrist Surayya Ulfa Nurul Athira Yahya Nurul Hasfi Nurul Hikmah Octaviani, Averina Olina Hartani Muliani Gultom Osa Patra Rikastana Pandu Hidayat Paskah M Pakpahan Pratiwi, Silvi Primada Qurrota Ayun Puspita Dea Chantika Qonita Andini, Annisa Qury Aini R. Milwanda Nadika S. Restu Ayu Mumpuni, Restu Ayu Rezeki Amalia, Annisa Ricki Apriliono Rifki Nur Pratiwi Rindiana Kiswari Rizki Fajar Bagaskoro, Sektianto Rizki Kurnia Yuniasti ROBBIANTO ROBBIANTO Rosa Humaira, Almira Rossa Oktaviyani S Rouli Manalu Sabda Nugraha, Detrina Sahfitri, Dwina Salsabila Putri Wasesa, Meidyana Salshabila Putri Persada Sarah Indah Putri Sasaningtawang, Bening Saviera Maharani Doniyar Sefti Diona Sari Sessy Refi Sanina Shafa Amanda, Karina Shafira Inas Nurina Silas Hamenyimana Sony Kusuma Anugerah Sri Budi Lestari Sri Budi Lestari Sri Devi Valentina Simamora Devi Valentina Simamora Sri Nofidiyahwati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Suryanto Gono, Joyo Nur Tandiyo Pradekso Tansha Nastiti, Talitha Taufik Suprihartini Taufik Suprihartini . Taufik Suprihatini Taufik Suprihatini Theresia Karo Karo Tiara Astra Parahita Tiara Ayu Raharjo Tri Yoga Adibtya Tama Trinata Anggarwati, Bunga Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro . Viviana Ardine Mutiara K F Wahyu Satria Utama, Wahyu Satria Widya Nur Hidayati Wiwid Noor Rakhmad Wuriani, Wuriani Yanuar Luqman Yenny Puspasari Yenny Puspitasari Yobelta Kristi Ayuningtyas Yoga Yuniadi Yolanda Audrey Yuanita Putri Melati Yuliana Harianja Yusriana, Amida