Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search
Journal : LOKABASA

MASYARAKAT SUNDA DALAM SASTRA: KOMPARASI MORALITAS DAN KEPRIBADIAN ISNENDES, RETTY
LOKABASA Vol 4, No 1 (2013)
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v4i1.3128

Abstract

Tulisan ini mengangkat aktualisasi diri tokoh sastra dalam peranannya membentuk moral manusia Sunda. Tokoh sastra adalah refleksi berbagai struktur sosial, begitu pun dengan tokoh sastra Sunda yang bisa membiaskan kebenaran universal tentang sifat, sikap, karakter, dan kepribadian manusia Sunda pada tataran realitas. Karya sastra yang dianalisis adalah sample dari karya sastra Sunda dari tiga periode, yaitu: Periode Sastra Sunda Kuno atau Lama (Buhun), Periode Sastra Sunda Pertengahan (Bihari), dan Periode Sastra Sunda Modern atau Baru (Kiwari). Pada akhirnya, sistem nilai yang muncul dari kompleksitas aktivitas dipengaruhi oleh perubahan jaman dan bergantinya kekuasaan.  AbstractThis paper raised the self-actualization literary 􀂿gure in the role of moral human form Sunda. Various literary 􀂿gures are a re􀃀ection of social structure, as was the literary figures that can refract universal truths about the nature, attitude, character, and personality Sunda at the level of reality. Literary works are analyzed samples of literary works from three periods, namely: Ancient Sundanese Literary Period or Old (Buhun), Sunda Literature Medieval Period (Bihari), and Sundanese Modern Literary Period or New (Kiwari). In the end, the value systems that arise from the complexity of the activity is in􀃀uenced by the change of time and the alternation of power.
IDEOLOGI DAN IDENTITAS MASYARAKAT SUNDA DALAM ROMAN CARIOS AGAN PERMAS KARYA JOEHANA (Pendekatan Kritik Poskolonial) Abdilah, Arif Ali; Isnendes, Retty
LOKABASA Vol 8, No 1 (2017): Vol. 8, No. 1, April 2017
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan ideologi dan identitas masyarakat Sunda yang tercermin dalam karya sastra, khususnya roman. Deskripsinya berkaitan dengan pengaruh dan perubahan ideologi dan identitas sebab-akibat adanya kolonialisme. Untuk dapat menguraikan hal tersebut, maka dalam tulisan ini digunakan pendekatan kritik poskolonial, dengan menggunakan metode deskriptif-analitik. Untuk menganalisis data digunakan teknik fokalisator dan teknik interpretasi. Hasilnya menunjukkan bahwa dalam roman Carios Agan Permas, setiap kelas sosial masyarakat memiliki ideologi yang berbeda-beda. Bagi kelas kuasa, ideologi digunakan untuk mempertahankan kohesi sosial dan memperkuat kekuasaan. Ini terepresentasikan oleh subjek Haji Serbanna dan Imas. Bagi kelas tertindas, ideologi digunakan sebagai bentuk perlawanan. Bentuk ideologi ini hadir dalam diri Ambu Imba dan Otong. Dalam roman ini terdapat juga ideologi kelas kuasa, namun dalam praktiknya digunakan untuk melakukan resistensi sekaligus melindungi kelas tertindas. Adapun identitas yang terbentuk adalah identitas hibrid, dalam arti, subjek yang terdapat dalam roman ini memiliki sifat yang ambigu sekaligus ambivalen. Hal ini tampak pada subjek Haji Serbanna, Imas, sedangkan identitas yang terbangun dalam diri Brani bersifat ambigu. ABSTRACTThis study aims to describe the ideology and identity of the Sundanese community which is reflected in the literary works, especially romance. Its description concerns with the influence and change of ideology and the causal effect identity of colonialism. In describing this study, the writer used Poscolonial Criticism Approach and descriptive-analytic method. Fokalisator and interpretation techniques were used to analyze the data. The analysis result of Carios Agan Permas romantic story shows that every social society class has different ideologies. For the rulling class, the ideology is used to maintain social cohesion and to strengthen the power. It is represented by the subject of Haji Serbanna and Imas. For the oppressed class, the ideology is used as a form of resistance. This form of ideology is present in Ambu Imba and Otong. In this romantic story there is also a rulling class ideology, but in practice it is used to carry out resistance and to protect the oppressed class. The formed identity is a hybrid identity, in a sense, the subjects in this romantic story have both ambiguous and ambivalent caracter. The ambivalent character is seen in the subject of Haji Serbann and Imas, while the ambiguous caracter is found in Brani personality. Keywords: ideology, identity, poskolonia
TRADISI NYALIN DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT SUNDA (Kajian Struktur dan Etnopedagogik) Yanuariska, Yogi Yogaswara; Sudaryat, Yayat; Isnendes, Retty
LOKABASA Vol 8, No 2 (2017): Vol. 8, No. 2, Oktober 2017
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v8i2.14204

Abstract

Latar belakang penelitian ini adalah tradisi nyalin sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya dan belum terungkapnya niali-nilai kebaikan dalam tradisi nyalin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) struktur (teks dan ko-teks) dan fungsi (konteks) tradisi nyalin dalam kehidupan masyarakat Sunda, (2) ciri kelisanan yang tampak dalam tradisi nyalin dalam kehidupan masyarakat Sunda, (3) nilai etnopedagogik dalam tradisi nyalin dalam kehidupan masyarakat Sunda. Metode penelitian yang digunakan adalah paradigma kualitatif dalam kajian tradisi lisan. Hasil penelitiannya, yaitu (1) struktur tradisi nyalin yang mencakup tahapan tradisi nyalin, tatahar ngawengku gempungan, kukumpul, majang, jeung riungan, ngukusan, sanduk-sanduk, mitembeyan mipit paré, dan ngaarwahan. Unsur-unsur tradisi nyalin mencakup nama kegiatan, pelaku kegiatan, barang-barang dalam kegiatan, makanan dalam kegiatan, gerakan, tempat berlangsungnya kegiatan, dan waktu berlangsungnya. Teks dalam tradisi nyalin adalah kapamalian, dongeng, mantra, diksi dan ungkapan. Fungsi tradisi nyalin sebagai (1) wujud rasa sukur pada Tuhan atas hasil panen yang didapat, (2) ciri kelisanan dalam tradisi nyalin, yaitu pemikiran lisan, ekspresi lisan, dan naratif lisan, 3) nilai etnopedagogik dalam tradisi nyalin, yaitu (1) pandangan hidup manusia dengan dirinya, (2) pandangan hidup manusia dalam lingkungan masyarakat, (3) pandangan hidup manusia dengan alam, (4) pandangan hidup manusa dengan Tuhan, (5) manusia dalam mengejar kemajuan lahir dan kebahagiaan batin. Kesimpulan dari penelitian ini, setelah diteliti secara struktur dan etnopedagogik memiliki nilai-niali luhur yang sudah ada di masyarakat sekaligus bisa dimanfaatkan sebagai teladan dalam bidang pendidikan formal dan kehidupan masyarakat umum.AbstractThe background of this research is Nyalin tradition that has begun to be abandoned by the society and the values in Nyalin traditions that have not been revealed yet. The purpose of this study is to describe (1) the structure (text and co-text) and the function (context) of the nyalin tradition in the Sundanese life, (2) the visible oral features of the tradition in the Sundanese life, (3) the ethnopedagogic value in Nyalin tradition in the Sundanese society’s life. The research method used is a qualitative paradigm in the study of oral tradition. The results of his research are the structure of nyalin tradition includes its stages i.e. tatahar ngawengku gempungan, kukumpul, majang, riungan, ngukusan, sanduk-sanduk, mitembeyan mipit paré, and ngaarwahan. Elements of Nyalin tradition include the name of the activity, the performer, the goods, the food, the movement, the place, and the time it takes place. The texts in Nyalin tradition are kapamalian, dongeng, mantra, diction and idiom. The functions of Nyalin tradition are (1) a form of gratefulness to God over the results of harvesting, (2) the verbal characteristic of Nyalin tradition i.e.oral thought, oral expression, and oral narrative, 3) ethnopedagogic values in Nyalin tradition i.e.(1) the perspective of human life with themselves (2) the perspective of human life in the society, (3) the perspective of  human life with nature, (4) the perspective of human life with God, (5) the effort of human to reach physical and spiritual satisfaction. The conclusion of this study, after being structurally studied by using ethno pedagogic approach, Nyalin tradition has noble values that already exist in the community that can be used as an example in the field of formal education and public life.
Tatakrama Kepemimpinan Sunda dalam Novel Sejarah Tanjeur na Juritan Jaya di Buana Karya Yoseph Iskandar Isnendes, Retty; Ruhaliah, Ruhaliah; Koswara, Dedi; Permana, Ruswendi
LOKABASA Vol 10, No 1 (2019): Vol. 10, No. 1, April 2019
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v10i1.16943

Abstract

There is a presumption that Sundanese people leadership is weak and feeble so they can not compete on the national level. Though history recorded some names of Sundanese leaders, such as Prabu Wangi, Prabu Niskala Wastu Kanca, and Sri Baduga Maharaja. In the literature, the name of King Siliwangi is an icon and symbol of the great and successful Sundanese leader of all time. The identity and symbolism of the Sundanese leader are also reflected in the historical novel of Tanjeur na Juritan Jaya di Buana written by Yoseph Iskandar. Uniquely, the novel relies on the manuscript of Prince Wangsakerta from Cirebon which in the 1980s appalled Indonesia history. The novel has been awarded Rancage from Ajip Rosidi's Rancage Foundation. By using descriptive method and literature review technique and interpretation, the novel will be examined his leadership ethics in ethno pedagogic scope. The aims of this study are: (a) to describe the principles of Sundanese leadership in the novel, (b) to describe the etnopedagogical aspect in the novel, and (c) to compare the leadership principles of the past and the present as models of cultural education. The expected outcomes are the descriptions of figures of Sundanese leadership, Sundanese leadership manners, and the cultural education model found in the novel analyzed.AbstrakAda anggapan bahwa kepemimpinan Sunda lemah sehingga tidak dapat bersaing di panggung nasional. Padahal sejarah mencatat sejumlah nama pemimpin panutan Sunda, misalnya saja Prabu Wangi, Prabu Niskala Wastu kancana, dan Sri Baduga Maharaja. Dalam tataran sastra nama Prabu Siliwangi merupakan ikonitas dan simbolitas pemimpin Sunda yang besar dan berhasil sepanjang masa. Ikonitas dan simbolitas pemimpin Sunda tergambar juga dalam novel sejarah Tanjeur na Juritan Jaya di Buana yang ditulis oleh Yoseph Iskandar. Unik dan utamanya, novel tersebut bersandar pada naskah Pangeran Wangsakerta dari Cirebon yang tahun 1980-an menggemparkan jagat kesejarahan Indonesia. Novel tersebut telah mendapat hadiah Rancage dari Yayasan Rancage Ajip Rosidi. Dengan menggunakan metode deskriptif dan teknik telaah pustaka dan interprerasi, novel tersebut akan dikaji tatakrama kepemimpinannya dalam lingkup etnopedagogik. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (a) mendeskripsikan tatakrama kepemimpinan Sunda dalam novel, (b) mendeskripsikan aspek etnopedagogik dalam novel, dan (c) membandingkan tatakrama kepemimpinan masa lalu dan masa sekarang sebagai model pendidikan budaya. Hasil yang diharapkan adalah terdeskripsikannya tokoh-tokoh dalam kepemimpinan Sunda, tatakrama kepemimpinan Sunda, dan model pendidikan budaya dari novel yang dianalisis.
IDEOLOGI DAN IDENTITAS MASYARAKAT SUNDA DALAM ROMAN CARIOS AGAN PERMAS KARYA JOEHANA (Pendekatan Kritik Poskolonial) Abdilah, Arif Ali; Isnendes, Retty
LOKABASA Vol 8, No 1 (2017): Vol. 8, No. 1, April 2017
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v8i1.15961

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan ideologi dan identitas masyarakat Sunda yang tercermin dalam karya sastra, khususnya roman. Deskripsinya berkaitan dengan pengaruh dan perubahan ideologi dan identitas sebab-akibat adanya kolonialisme. Untuk dapat menguraikan hal tersebut, maka dalam tulisan ini digunakan pendekatan kritik poskolonial, dengan menggunakan metode deskriptif-analitik. Untuk menganalisis data digunakan teknik fokalisator dan teknik interpretasi. Hasilnya menunjukkan bahwa dalam roman Carios Agan Permas, setiap kelas sosial masyarakat memiliki ideologi yang berbeda-beda. Bagi kelas kuasa, ideologi digunakan untuk mempertahankan kohesi sosial dan memperkuat kekuasaan. Ini terepresentasikan oleh subjek Haji Serbanna dan Imas. Bagi kelas tertindas, ideologi digunakan sebagai bentuk perlawanan. Bentuk ideologi ini hadir dalam diri Ambu Imba dan Otong. Dalam roman ini terdapat juga ideologi kelas kuasa, namun dalam praktiknya digunakan untuk melakukan resistensi sekaligus melindungi kelas tertindas. Adapun identitas yang terbentuk adalah identitas hibrid, dalam arti, subjek yang terdapat dalam roman ini memiliki sifat yang ambigu sekaligus ambivalen. Hal ini tampak pada subjek Haji Serbanna, Imas, sedangkan identitas yang terbangun dalam diri Brani bersifat ambigu.ABSTRACTThis study aims to describe the ideology and identity of the Sundanese community which is reflected in the literary works, especially romance. Its description concerns with the influence and change of ideology and the causal effect identity of colonialism. In describing this study, the writer used Poscolonial Criticism Approach and descriptive-analytic method. Fokalisator and interpretation techniques were used to analyze the data. The analysis result of Carios Agan Permas romantic story shows that every social society class has different ideologies. For the rulling class, the ideology is used to maintain social cohesion and to strengthen the power. It is represented by the subject of Haji Serbanna and Imas. For the oppressed class, the ideology is used as a form of resistance. This form of ideology is present in Ambu Imba and Otong. In this romantic story there is also a rulling class ideology, but in practice it is used to carry out resistance and to protect the oppressed class. The formed identity is a hybrid identity, in a sense, the subjects in this romantic story have both ambiguous and ambivalent caracter. The ambivalent character is seen in the subject of Haji Serbann and Imas, while the ambiguous caracter is found in Brani personality.
Aspek Kepribadian Tokoh Utama dalam Kumpulan Cerpen Jurig Paséa jeung Nyi Karsih Karya Tini Kartini Dewi, Gita Kurnia; Ruhaliah, Ruhaliah; Isnendes, Retty
LOKABASA Vol 10, No 2 (2019): Vol. 10, No. 2, Oktober 2019
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v10i2.21359

Abstract

The background of the research is the personality conflict of the main characters in the short story collection Jurig Paséa jeung Nyi Karsih. The theory used in this study is Todorov's structural theory and Jacques Lacan's literary psychological theory. This research aimed to analyze and describe: 1) the structure the short story collection Jurig Paséa jeung Nyi Karsih, 2) the personality aspects of the main characters in the short story collection Jurig Paséa jeung Nyi Karsih, and 3) factors that influence the personality of the main character. The method used in this research is descriptive analysis method. The data source of this research is a short story collection Jurig Paséa jeung Nyi Karsih by Tini Kartini. Data collection techniques using a literature study technique. The techniques in processing data are using direct analysis techniques. The instruments in this research use table instruments and data analysis cards. The results of the research are, first, the structure of the story in the short story collection Jurig Paséa jeung Nyi Karsih made completely, it is formed by the whole syntactic and semantic aspects, and the story illustrates the imagination that is strengthened by consciousness in the history of the community and life. Second, the personality aspects of the main character can be clearly analyzed based on the results of their (real) needs, their deficiencies (which are imaginary), and their desires (which are symbolic). Third, the personality of the main character can be analyzed because of the factors that influence the personality of the main character consisting of internal factors and external factors. In conclusion, the short story collection of Jurig Paséa jeung Nyi Karsih has the personality aspect of the main character in the presence of the psychiatric element of the main character and the factors that influence the personality of the main character's personality.AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya konflik kepribadian para tokoh utama dalam kumpulan cerpen Jurig Paséa jeung Nyi Karsih. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori struktural Todorov dan teori psikologi sastra Jacques Lacan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan: 1) struktur kumpulan cerpen Jurig Paséa jeung Nyi Karsih, 2) aspek kepribadian para tokoh utama dalam kumpulan cerpen Jurig Paséa jeung Nyi Karsih, dan 3) faktor yang mempengaruhi kepribadian tokoh utama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Sumber data penelitian ini adalah kumpulan cerpen Jurig Paséa jeung Nyi Karsih karya Tini Kartini. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik studi pustaka. Teknik dalam mengolah data yaitu menggunakan teknik analisis secara langsung. Adapun instrumen dalam penelitian ini menggunakan instrumen tabel dan kartu data analisis. Hasil penelitiannya yaitu, pertama, struktur cerita dalam kumpulan cerpen Jurig Paséa jeung Nyi Karsih dibuat dengan lengkap, artinya dibentuk oleh aspek sintaksis dan semantik yang menyeluruh, serta ceritanya menggambarkan imajinasi yang dikuatkan oleh kesadaran dalam sejarah masarakat dan kehidupan dahulu. Kedua, aspek kepribadian tokoh utama bisa dianalisis dengan jelas berdasarkan hasil kebutuhannya (yang nyata), kekurangannya (yang imajiner), dan hasrat keinginannya (yang simbolik). Ketiga, kepribadian tokoh utama bisa dianalisis karena adanya faktor-faktor yang mempengaruhi kepada kepribadian tokoh utama yang terdiri atas faktor internal dan faktor eksternal. Kesimpulannya, kumpulan carpon Jurig Paséa jeung Nyi Karsih mempunyai aspek kepribadian tokoh utama dengan adanya unsur kejiwaan tokoh utama dan faktor-faktor yang mempengaruhi kejiwaan pada kepribadian tokoh utama.
Karakteristik Kepemimpinan Sunda dalam Novel Sejarah Mantri Jero Karya R. Memed Sastrahadiprawira Darajat, Danan; Ruhaliah, Ruhaliah; Isnendes, Retty
LOKABASA Vol 11, No 1 (2020): Vol. 11 No. 1, April 2020
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v11i1.25162

Abstract

This research is motivated by the assumption that the Sundanese leadership is still weak, whereas in history recorded the names of great Sundanese leaders and can be used as example for others, such as Prabu Wangi, Niskala Wastu Kancana, and Sri Baduga Maharaja. Likewise in works of fiction, one of which is the main character in the historical novel Mantri Jero. The theories used in this study are Robert Stanton's structural theory, Sundanese leadership theory based on the ancient Sundanese manuscript Sanghyang Siksa Kandang Karesian, and the etnopedagogy theory of R. Hidayat Suryalaga's delay. This study aims to analyze and describe: 1) the story structure of the historical novel Mantri Jero, 2) the characteristics of Sundanese leadership in the historical novel Mantri Jero, and 3) the value of ethnopedagogy in the historical novel Mantri Jero by R. Memed Sastrahadiprawira. The data source of this research is the historical novel Mantri Jero by R. Memed Sastrahadiprawira. The methods and techniques used in this research are descriptive methods, literature review techniques, and documentary studies, while the way to analyze them is using a qualitative approach. The instrument used was divided into two, namely the instrument for collecting data (checklist of source books) and the instrument for processing data (data cards). The results of this study indicate that the historical novel Mantri Jero has a complete story structure, good Sundanese leadership characteristics, and ethnopedagogic values grouped from the characteristics of good Sundanese leadership. AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya anggapan yang menyebutkan bahwa kepemimpinan orang Sunda masih lemah, padahal dalam sejarah dicatat nama-nama pemimpin Sunda yang hebat dan bisa dijadikan contoh untuk yang lainnya, seperti Prabu Wangi, Niskala Wastu Kancana, dan Sri Baduga Maharaja. Demikian juga dalam karya fiksi, salah satunya yaitu tokoh utama dalam novel sejarah Mantri Jero. Teori yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu teori struktural Robert Stanton, teori tata krama kepemimpinan Sunda berdasarkan naskah Sunda kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian, dan teori etnopedagogi kesundaan R. Hidayat Suryalaga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan: 1) struktur cerita novel sejarah Mantri Jero, 2) karakteristik kepemimpinan Sunda dalam novel sejarah Mantri Jero, dan 3) nilai etnopedagogi dalam novel sejarah Mantri Jero karya R. Memed Sastrahadiprawira. Sumber data penelitian ini, yaitu novel sejarah Mantri Jero karya R. Memed Sastrahadiprawira. Metode dan teknik yang dipakai dalam penelitian ini, yaitu metode deskriptif, teknik telaah pustaka, dan studi dokumentasi, sedangkan cara menganalisisnya menggunakan pendekatan kualitatif. Instrumen yang digunakan terbagi dua, yaitu instrumen untuk mengumpulkan data (ceklis buku sumber) dan instrumen untuk mengolah data (kartu data). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam novel sejarah Mantri Jero terdapat karakteristik kepemimpinan Sunda yang ada pada diri Yogaswara selaku tokoh utamanya. Karakter-karakter tersebut yaitu parigeuing, dasa pasanta, pangimbuhning twah, dan opat panyaraman. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa novel sejarah Mantri Jero mempunyai struktur cerita yang lengkap, karakteristik kepemimpinan Sunda yang baik, dan nilai-nilai etnopedagogi yang dikelompokkan dari karakteristik kepemimpinan Sunda yang bagus.
Citra Perempuan dalam Roman Pendek Pileuleuyan Karya Yus Rusamsi Robby, Kaffa Kupita; Isnendes, Retty; Suherman, Agus
LOKABASA Vol 12, No 1 (2021): Vol. 12 No. 1, April 2021
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v12i1.34148

Abstract

Abstrak: Latar belakang penelitian ini dilandasi oleh anggapan bahwa suara perempuan yang tercurahkan dalam sebuah karya sastra, harus digali dan diketahui secara luas oleh masyarakat.  Adapun tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan: (1) struktur cerita; (2) citra diri perempuan; dan (3) citra sosial. Metode yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan teknik studi pustaka. Sumber data yang digunakan berupa roman pendek yang berjudul Pileuleuyan karya Yus Rusamsi dengan disertai  sumber lain yang mendukung. Hasilnya: (1) struktur cerita meliputi tema, fakta cerita (alur, tokoh/watak, latar) dan sarana sastra (judul dan sudut pandang). Tema roman ini tentang kejiwaan, menggambarkan kesabaran seorang perempuan yang bernama Lili dalam menghadapi cobaan hidup terutama dalam persoalan perasaan, cobaan yang membuat dirinya harus bijak dalam mengambil keputusan. Alurnya campuran, menceritakan kejadian yang sudah berlalu. Latar tempat dari meliputi di rumah, jalan, dan puncak. Latar waktu yang digunakan dalam roman ini yaitu waktu faktual. Latar sosial menggambarkan masarakat kelas atas dan kelas rendah. Ada 13 karakter tokoh yang tergambar dalam roman ini, sedangkan sudut pandang yang digunakan yaitu orang ketiga tidak terbatas; (2) citra diri perempuan meliputi citra fisik dan citra psikis yang digambarkan oleh tokoh dalam roman ini; (3) citra sosial yaitu citra perempuan di keluarga, msalanya dalam kesopanan dan rasa tanggung jawab sebagai anggota keluarga serta sebagai anggota masyarakat. Kesimpulannya, citra perempuan dalam roman pendek Pileuleuyan menggambarkan sosok perempuan yang tegar dan teguh pendirian dalam mengambil keputusan.Kata kunci: citra perempuan, roman pendek, Pileuleuyan. Abstract: The background of this research is based on the assumption that the voices of women who are poured out in a literary work must be explored and widely known by the public. The purpose of this study is to describe: (1) the structure of the story; (2) self-image of women; and (3) social image. The method used is descriptive analytic with literature study techniques. The data source used is a short novel entitled Pileuleuyan by Yus Rusamsi, accompanied by other supporting sources. The results: (1) the structure of the story includes the theme, the facts of the story (plot, character / character, setting) and literary means (title and point of view). The theme of this romance is about the psyche, depicting the patience of a woman named Lili in facing life's trials, especially in matters of feelings, trials that make her wise in making decisions. The plot is mixed, telling events that have already passed. The setting of the place includes the house, the road, and the summit. The time setting used in this novel is factual time. Social background describes the upper class and lower class society. There are 13 characters depicted in this romance, while the point of view used is that the third person is not limited; (2) the self-image of women includes physical and psychological images that are depicted by the characters in this romance; (3) social image, namely the image of women in the family, for example in politeness and a sense of responsibility as family members and as members of society. In conclusion, the image of the woman in the short romance Pileuleuyan depicts a woman who is steadfast and steadfast in making decisions.Keywords: female image, short romance, Pileuleuyan
Nama Sebagai Sebuah Kesadaran Identitas Manusia Sunda: Kajian Budaya Isnendes, Retty
LOKABASA Vol 11, No 2 (2020): Vol. 11 No. 2, Oktober 2020
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v11i2.29146

Abstract

A person's self name refers to the language used by his parents in attaching identity to his child. Language is one of the elements of culture which is very dominant and the opening of a culture. The identity of one's ethnic group will be seen from the ethnic language or region used and one of them, which is attached to oneself as an individual trait. The identity of the name as a Sundanese human characteristic also reflects the region of space and time awareness in addressing itself as part of a tribe in a global vortex. Maintaining self-name by carrying out Sundanese culture in the midst of the temptation of global cultural gatherings is difficult if parents do not have awareness about national identity. The names that are attached to the child become an indication in measuring his consciousness as a Sundanese. In this article the question concerning the names of students of the Sundanese Language Education Department is raised in the culture studies.AbstrakNama diri seseorang berkenaan dengan bahasa yang dipakai orang tuanya dalam melekatkan identitas pada diri anaknya. Bahasa merupakan salah satu unsur budaya yang sangat dominan dan pembuka satu kebudayaan. Identitas suku bangsa seseorang akan terlihat dari bahasa etnis atau daerah yang dipakainya dan salah satunya, yang dilekatkan pada diri sebagai ciri individu. Identitas nama sebagai ciri manusia Sunda juga mencerminkan wilayah kesadaran ruang dan waktu dalam menyikapi dirinya sebagai bagian dari sebuah suku bangsa dalam pusaran global. Mempertahankan nama diri dengan mengusung budaya Sunda di tengah godaan pertemuan budaya global merupakan hal berat bila orang tua tidak punya kesadaran mengenai jati diri bangsa. Nama-nama yang dilekatkannya pada anak menjadi indikasi tersendiri dalam mengukur kesadarannya sebagai manusia Sunda. Dalam artikel ini diketengahkan persoalan mengenai: nama diri mahasiswa di Departemen Pendidikan Bahasa Sunda dalam kajian budaya. 
Nilai Estetika dalam Pergelaran Sandiwara Palagan Bubat Shafira, Widhie Triana; Isnendes, Retty
LOKABASA Vol 12, No 2 (2021): Vol. 12 No. 2, Oktober 2021
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v12i2.39941

Abstract