Reviono Reviono
Bagian Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret

Published : 22 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Does the SOFA Score Have the Ability to Predict Length of Stay and Mortality as well as Other Scorings? Adhiputri, Artrien; Hapsari, Brigitta Devi Anindita; Reviono, Reviono; Alfarizi, Aditya; Damayanti, Raninditya
Jurnal Respirologi Indonesia Vol 45 No 1 (2025)
Publisher : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)/The Indonesian Society of Respirology (ISR)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36497/jri.v45i1.637

Abstract

Background: In the intensive care unit (ICU), critically sick pneumonia has a high mortality rate, so forecasting the prognosis is crucial for making decisions. Early detection of clinical deterioration and the implementation of early intervention and care can be achieved through the use of scoring systems. The Acute Physiology and Chronic Health Evaluation II (APACHE II) scoring system is a better system in predicting mortality in critically ill patients. However, in this study, we aim to observed  the use of the Sequential Organ Failure Assessment (SOFA) score as a predictor of mortality and length of stay (LOS). Methods: From April to August 2023, we treated 125 critically sick pneumonia patients in the ICU as part of a prospective observational research. An integrated ICU mortality calculator was used to assess the performance of the APACHE II, Simplified Acute Physiology Score II (SAPS II), and SOFA scores. Descriptive statistics will be used for data analysis, and the Fisher exact test and Chi-square test will be used for testing. logistic regression and linear regression methods are used in multivariate analysis. If the p-value is less than 0.05, it will be statistically significant. Results: APACHE II, SAPS II, and SOFA scores were significant in predicting the outcome of critically ill pneumonia patients (cut-off of ≥14.5, ≥34.5, and ≥3.5, respectively). The Spearman rank correlation for LOS shows that APACHE II, SOFA, and SAPS II scores have a very weak relationship with the p-values are 0.121, 0.766, and 0.436, respectively. Conclusion: The SOFA score is a good mortality predictor in critically ill pneumonia patients yet is simpler and easier to use in all settings in the hospital.
Peningkatan Pengetahuan mengenai Upaya Berhenti Merokok pada Kader dan Tenaga Kesehatan Anindita Hapsari, Brigitta Devi; Adhiputri, Artrien; Suryawati, Betty; Reviono, Reviono; Sutanto, Yusup Subagio; Harsini, Harsini; Marwoto, Marwoto
Smart Society Empowerment Journal Vol 3, No 3 (2023): November
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/ssej.v3i3.79224

Abstract

Pendahuluan: Perokok adalah seseorang yang menghisap rokok ≥ 100 batang selama hidupnya dan saat ini masih merokok atau sudah berhenti merokok kurang dari 1 tahun. Asap rokok memiliki efek negatif terhadap kesehatan karena mengandung lebih dari 4.000 senyawa kimia, 400 zat berbahaya, dan 43 zat karsinogenik. Rokok mengandung nikotin yang bersifat adiksi menyebabkan ketergantungan sehingga diperlukan upaya lebih lanjut agar dapat berhenti merokok. Upaya berhenti merokok berlangsung baik apabila didukung kemampuan tenaga kesahatan yang memadai. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan dalam program berhenti merokok serta meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai bahaya rokok.Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bekerjasama dengan Puskesmas Purwodiningratan Kota Surakarta. Metode yang digunakan adalah memberikan penyuluhan kepada kader juga kepada tenaga kesehatan di wilayah Puskesmas tersebut tentang upaya berhenti merokok. Evaluasi kegiatan dilakukan penilaian pre dan post test yang bertujuan mengetahui tingkat pengetahuan kader dan tenaga kesehatan mengenai upaya berhenti merokok.Hasil dan Pembahasan: Jumlah peserta kegiatan adalah sebanyak 26 kader dan 16 tenaga kesehatan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kader dan tenaga kesehatan sudah mempunyai pengetahuan yang cukup tentang upaya berhenti merokok, tetapi dalam beberapa hal masih perlu ditingkatkan, terutama mengenai metode dan pendampingan perokok dalam melakukan upaya berhenti merokok. Didapatkan peningkatan nilai post-test menunjukkan peningkatan pengetahuan dari kader dan tenaga kesehatan setelah diberikan paparan tentang materi tersebut. Peningkatan tingkat pemahaman kader kesehatan sebesar 22% dan tenaga kesehatan sebesar 53%.Kesimpulan: Terjadi peningkatan pengetahuan tentang upaya berhenti merokok pada kader dan tenaga kesehatan Puskesmas Purwodiningratan.