Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

TINJAUAN FISIOLOGIS DOMESTIKASI ULAT SUTERA LIAR Attacus atlas (Lepidoptera: Saturniidae) Damiana Rita Ekastuti
BERITA BIOLOGI Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/beritabiologi.v11i2.483

Abstract

Attacus atlas are insects producing silk materials having high economic value. It lives from South East Asia, almost all Indonesia until Australia.The demand of silk from Attacus atlas is quite high (10 tons/month). The A. atlas silk is very exclusive, with permanent in variety colors from light to dark brown. At present, to response the high demand, the people get cocoons from nature. This action could reduce result, and the scarcity of the insect. Beside that, rearing was done by placing the larvae on the trees (outdoor rearing). The outdoor rearing resulted in high mortality because of predators or stress. Better rearing is conducted by indoor rearing, that resulted in high survival rate, and high cocoon or egg production. It is because indoor rearing was supported in better environmental condition than outdoor condition that support physiological process eficiently.
Pelatihan Masyarakat Lingkar Kampus: Kualitas dan Kuantitas Telur Burung Puyuh Yang Mengalami Cekaman Koekoeh Santoso; Athirah Rerana Fitrianthy; Aryani Sismin Satyaningtijas; Damiana Rita Ekastuti; Isdoni Isdoni; Maharani Salsabila
Jurnal Abdimas ADPI Sains dan Teknologi Vol. 2 No. 4 (2021): Jurnal Abdimas ADPI Sains dan Teknologi
Publisher : Asosiasi Dosen Pengabdian kepada Masyarakat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47841/saintek.v2i4.168

Abstract

Global warming has caused heat stress in quail (Coturnix coturnix Japonica). Heat stress can cause an increase in free radicals, through increased production and secretion of glucocorticoid hormones, which exceed the ability of the body's antioxidant system, causing oxidation, especially of double bonded lipid compounds found in cell membranes. Long-term secretion of glucocorticoids can cause a decrease in reproductive function. Dexamethasone is a glucocorticoid drug. The purpose of this study was to determine the effect of giving dexamethasone, as an analogy to glucocorticoid secretion in quail, on the quantity and quality of eggs produced by quail. Egg quality observed was length, width, weight, yolk weight and percentage, Haugh unit, white weight and percent, white height, egg shell weight and thickness. This study used 16 quails which were divided into four groups, namely one control group and three dexamethasone groups. The doses of dexamethasone given were 1.25 mg/kg BW, 2.5 mg/kg BW, and 5 mg/kg BW. Dexamethasone was given orally for two weeks. Sampling was carried out every day since the start of the study. The results showed that the administration of dexamethasone caused a decrease in the quantity and quality of eggs produced by quail.
PEMANFAATAN KURKUMIN DAN CAHAYA MONOKROMATIK DALAM MENINGKATKAN PERFORMA PRODUKSI DAN MUTU TELUR ITIK LOKAL Kasiyati Sumiati Damiana Rita Ekastuti, Wasmen Manalu
AGRONOMIKA Vol 12 No 02 (2017): AGRONOMIKA Vol. 12 No. 2 Agustus 2017 – Januari 2018
Publisher : Universitas Islam Batik Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah memperbaiki potensi produksi dan mutu telur itik lokal sehingga mendukung produksi telur berkelanjutan melalui suplementasi kurkumin dan pemberian cahaya monokromatik artifisial. Penelitian ini menggunakan seratus empat puluh empat ekor itik magelang betina dengan rancangan acak lengkap pola faktorial 4x4 dengan 3 ulangan dan setiap ulangan menggunakan 3 ekor itik magelang betina. Faktor pertama adalah dosis kurkumin yang terdiri atas 4 level, yaitu 0, 9, 18, dan 36 mg/ekor/hari. Faktor kedua adalah warna cahaya monokromatik yang terdiri atas 4 level, yaitu putih, merah, hijau, dan biru. Hasil penelitian menunjukan bobot badan dewasa kelamin lebih tinggi 9.42 dan 6.89% (P<0.05), masing-masing pada cahaya merah dan hijau dibandingkan dengan cahaya putih. Umur dewasa kelamin lebih lambat sekitar 7.0, 13.72, dan 5.32 hari pada dosis 36 mg/ekor/hari, secara berurutan pada cahaya putih, hijau, dan biru dibandingkan dengan kontrol pada warna cahaya yang sama. Produksi telur duckday paling tinggi terdapat pada dosis 9mg/ekor/hari pada cahaya biru dan 36 mg/ekor/hari pada cahaya putih. Nilai HU yang dihasilkan pada penelitian ini dikategorikan AA, dengan skor warna kuning telur meningkat pada dosis 9, 18, dan 36 mg/ekor/hari.Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan cahaya merah, hijau, dan biru dapat meningkatkan bobot badan dewasa kelamin yang disertai dengan peningkatan produksi telur selama delapan minggu pada kombinasi dosis 9 mg/ekor/hari dengan cahaya biru dan dosis 36 mg/ekor/hari pada cahaya putih. Telur yang dihasilkan bermutu baik dan tidak mengalami perubahan
6. Erythrocyte Profile of Male Piglet Aged 31-Day Old (Sus scrofa domestica) in the Laboratory Animal Management Unit IPB University Gunanti Gunanti; Damiana Rita Ekastuti; Dwi Utari Rahmiati; Muhammad Fajrul Falah; Erwin Erwin
Jurnal Medika Veterinaria Vol 15, No 1 (2021): J.Med.Vet
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.med.vet..v15i1.22130

Abstract

Domestic pig (Sus scrofa domestica) is well known as animal that used frequently as a research animal due to their similarity to human both in  terms of anatomy and physiology. Information regarding  standard value of domestic piglet’s hematology in Indonesia are still limited. The aim of this study was to obtain erythrocyte profiles of domestic piglets in Animal Laboratory and Research Unit, Bogor Agricultural University. The results of this study are expected to be used as an erythrocyte profiles reference of domestic piglets in Indonesia. Blood samples were collected from six male piglets in Animal Laboratory and Research Unit, Bogor Agricultural University through auricular vein, then the samples were put into a vaccuum tube containing anticoagulant (K3EDTA) for further test using hematology analyzer. The parameters used in this study consist of erythrocyte count, hemoglobin concentration, hematocrit, and erythrocyte indices. Data were analyzed descriptively in the form of mean ± standard deviation (minimum–maximum). The results of this study showed that the average of erythrocyte counts were 6,42 ± 1,03 millions/µL with 8,30 ± 1,51 g/dl hemoglobin concentration, hematocrite 29,80 ± 5,10%, MCV 46,47 ± 1,62 fL, MCH 12,83 ± 0, 65 pg, MCHC 27,75 ± 0,71 g/dL, and RDW 28,87 ± 3,86%.
Pengobatan myasis pada musang Lombok (Paradoxurus hermaphroditus) di lembaga konservasi ex-situ Putri, Fatimatus Sa’diyah; Maulana, Gilang Kala; Satyaningtijas, Aryani Sismin; Ekastuti, Damiana Rita; Maheshwari, Hera; Santoso, Koekoeh; Tarigan, Ronald; Achmadi, Pudji; Bustamam, Isdoni
ARSHI Veterinary Letters Vol. 7 No. 3 (2023): ARSHI Veterinary Letters - August 2023
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.7.3.47-48

Abstract

Lombok Wildlife Park merupakan lembaga konservasi ex-situ dalam bentuk taman satwa untuk menyokong keselamatan spesies satwa liar. Salah satu satwa liar yang dipelihara adalah musang Lombok (Paradoxurus hermaphroditus) dalam kandang bersama dengan musang bulan betina (Paguma larvata). Musang Lombok ditemukan mengalami vulnus pada pangkal ekor dan berlanjut dengan myiasis. Musang Lombok tersebut kemudian diobati dengan pemberian antibiotik dan antiinflamasi untuk penyembuhan luka. Myiasis diterapi dengan pemberian larvasida dan pengambilan larva secara manual. Setelah 5 hari pengobatan, vulnus masih belum sembuh total, larva lalat sudah tidak kelihatan, nafsu makan masih kurang baik.
Dynamics of intraerythrocytic parasite infections in the Java common palm civet (Paradoxurus hermaphroditus) Putri, Maritrana; Cahyaningsih, Umi; Ekastuti, Damiana Rita; Tarigan, Ronald; Achmadi, Pudji; Bustamam, Isdoni; Santoso, Koekoeh; Suprayogi, Agik; Maheshwari, Hera; Satyaningtijas, Aryani
ARSHI Veterinary Letters Vol. 8 No. 4 (2024): ARSHI Veterinary Letters - November 2024
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.8.4.93-94

Abstract

Selama tujuh minggu, penelitian ini menyelidiki infeksi parasit intraeritrosit pada musang Jawa (Paradoxurus hermaphroditus). Sampel darah dikumpulkan segera setelah musang dibawa dari habitat aslinya. Setelah periode adaptasi 30 hari, sampel tambahan dikumpulkan setiap minggu. Temuan kami mengungkapkan infeksi dengan Babesia sp., Theileria sp., dan Anaplasma sp., dengan tingkat infeksi tertinggi untuk Anaplasma sp. (0,35 ± 0,05)%, diikuti oleh Theileria sp. (0,12 ± 0,05)%, dan Babesia sp. (0,03 ± 0,02)%. Selama periode penelitian, tingkat infeksi Babesia sp. dan Anaplasma sp. menurun, sedangkan Theileria sp. menunjukkan tren peningkatan hingga akhir penelitian.
Profil eritrosit, hemoglobin, dan nilai hematokrit luwak Jawa (Paradoxurus hemaphroditus) pemakan dan tidak pemakan buah kopi Rahmadhani, Elsi; Wibawan, I Wayan Teguh; Ekastuti, Damiana Rita; Tarigan, Ronald; Achmadi, Pudji; Isdoni, Isdoni; Santoso, Koekoeh; Satyaningtijas, Aryani
ARSHI Veterinary Letters Vol. 7 No. 1 (2023): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2023
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.7.1.15-16

Abstract

Luwak Jawa (Paradoxurus hemaphroditus) merupakan hewan yang memiliki kemampuan menghasilkan biji kopi yang berkualitas, sehingga status kesehatannya perlu untuk diperhatikan. Gambaran darah dapat dijadikan sebagai indikator status kesehatan luwak pada kondisi tertentu. Penelitian mengenai luwak telah banyak dilaporkan, namun belum ada penelitian mengenai parameter fisiologis khususnya profil eritrosit dari luwak yang sengaja diberikan buah kopi secara terus menerus selama 3 bulan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung profil eritrosit pada luwak Jawa pemakan pemakan kopi dan tidak pemakan buah kopi. Gambaran darah luwak Jawa pada saat adaptasi dan pemeliharaan berfluktuasi. Rataan jumlah eritrosit luwak pemakan buah kopi dan tidak pemakan buah kopi adalah (8,24±2,40) x 106/mL dan (8,25±2,16) x 106/mL, kadar hemoglobin adalah (6,18±2,21) g/dL dan (6,40±2,21) g/dL dan nilai hematokrit adalah (16,50±2,21) % dan (16,00±2,14) %. Secara umum gambaran darah luwak Jawa pemakan buah kopi memiliki rataan yang lebih rendah dari pada luwak Jawa yang tidak diberi buah kopi.
Pemendekan waktu siklus estrus pada luwak Jawa (Paradoxurus hermaphroditus) terdeteksi melalui metode ulas vagina Zora, Nelda Fliza; Ulum, Mokhamad Fakhrul; Ekastuti, Damiana Rita; Tarigan, Ronald; Achmadi, Pudji; Bustaman, Isdoni; Santoso, Koekoeh; Maheshwari, Hera; Suprayogi, Agik; Manalu, Wasmen; Satyaningtijas, Aryani
ARSHI Veterinary Letters Vol. 7 No. 2 (2023): ARSHI Veterinary Letters - Mei 2023
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.7.2.35-36

Abstract

Luwak Jawa (Paradoxurus hermaphroditus) merupakan salah satu hewan liar yang dapat dimanfaatkan sebagai penyeleksi biji kopi untuk menghasilkan kopi berkualitas dan bernilai ekonomis tinggi. Pemeliharaan yang tidak sesuai dapat memengaruhi kondisi fisiologis dan reproduksi luwak sehingga penting untuk diketahui sebagai dasar manajemen pemeliharaan dan kesehatan untuk optimalisasi produksi, pencegahan penyakit, dan konservasi luwak. Pemantauan ini bertujuan untuk mengetahui panjang waktu total siklus estrus dan waktu dari setiap fase estrus yaitu fase proestrus, estrus, metestrus dan diestrus. Luwak Jawa dari diperoleh dari pasar hewan sebanyak 2 ekor berjenis kelamin betina dengan bobot badan sekitar 4 kg diambil data ulas vagina selama 21 hari pada pagi dan sore hari. Sel epitel vagina diperiksa di bawah mikroskop dan dianalisa secara kuantitatif. Hasil pengamatan menunjukkan pemendekan siklus estrus dengan panjang total siklus estrus yaitu 121,5±7,5 jam (5 hari). Durasi waktu proestrus 12,0±0,0 jam, estrus 22,5±3,0 jam, metestrus 25,5±3,0 jam dan diestrus 61,5±3,0 jam.
Kadar kolesterol dan glukosa darah luwak Jawa (Paradoxurus hermaphroditus) yang didomestikasi Gandasari, Ira Agustina Dewi; Ekastuti, Damiana Rita; Tarigan, Ronald; Achmadi, Pudji; Bustaman, Isdoni; Santoso, Koekoeh; Maheshwari, Hera; Suprayogi, Agik; Manalu, Wasmen; Satyaningtijas, Aryani
ARSHI Veterinary Letters Vol. 7 No. 1 (2023): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2023
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.7.1.19-20

Abstract

Status kesehatan luwak yang pemanfaatannya cukup tinggi sebagai penghasil kopi belum banyak dipelajari secara lengkap. Informasi mengenai status fisiologis luwak Jawa (Paradoxurus hermaphroditus) yang telah didomestikasi masih terbatas dan sangat diperlukan untuk menilai aspek kesejahteran hewan di penangkaran. Studi ini melaporkan kadar kimia darah dan kolesterol luwak Jawa yang sudah didomestikasi. Luwak dalam penelitian ini diberi pakan berupa pisang, kepala ayam dan juga dog food. Pemeriksaan kimia darah berupa kadar glukosa dan kolesterol darah dilakukan terhadap 6 ekor luwak yang diberi pakan pisang, kepala ayam dan juga dog food. Hasil menunjukkan bahwa luwak Jawa jantan memiliki kadar glukosa sebesar 68,00±22,55 mg/dL dan luwak Jawa betina yaitu sebesar 73,78±12,60 mg/dL. Kadar kolesterol darah pada luwak Jawa jantan yaitu sebesar 145,78±22,29 mg/dL dan luwak Jawa betina yaitu sebesar 142,00±12,44 mg/dL.
Penanganan spectacular dysecdysis pada seekor ular Boa constrictor di Lombok Wildlife Park, Nusa Tenggara Barat Satvika, Fadhila; Maulana, Gilang Kala; Satyaningtijas, Aryani Sismin; Ekastuti, Damiana Rita; Maheshwari, Hera; Santoso, Koekoeh; Tarigan, Ronald; Achmadi, Pudji; Bustamam, Isdoni
ARSHI Veterinary Letters Vol. 7 No. 4 (2023): ARSHI Veterinary Letters - November 2023
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.7.4.67-68

Abstract

Lombok Wildlife Park merupakan lembaga konservasi yang berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat dengan salah satu satwa liar yang ditangani adalah ular. Tulisan ini melaporkan penanganan spectacular dysecdysis pada seekor ular boa (Boa constrictor). Ular bernama Boly, berumur sekitar 1.5 tahun dengan bobot badan 8 ons mengalami eye caps stuck atau spectacular dysecdysis setelah proses pergantian kulit yang tidak sempurna. Terjadi kebengkakan pada jaringan di kedua mata dan boa kehilangan nafsu makan. Pengobatan dilakukan dengan pemberian antibiotik dan anti inflamasi untuk 3 hari pertama dan dilanjutkan dengan supplemen pendukung berupa zat besi dan vitamin B12 intramuskular selama 3 hari berikutnya. Jaringan bengkak pada mata kiri pecah dan menyebabkan kerusakan pada organ mata, sedangkan jaringan yang telah mengering pada mata kanan dikelupas secara manual. Nafsu makan ular sudah kembali membaik dan sudah mau makan dengan sendirinya.