Claim Missing Document
Check
Articles

Formulasi kacang koro pedang (Canavalia ensiformis) dan kacang kedelai (Glycine max L.) terhadap total kapang, total khamir, dan sifat sensori tempe mosaccha Formulation of jack beans (Canavalia ensiformis) and soybeans (Glycine max L.) on total molds, total yeasts, and sensory properties of mosaccha tempeh Syamsiana, Annisa; Rizal, Samsul; Erna, Maria; Astuti, Sussi
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v3i2.10033

Abstract

The level of local legume consumption in Indonesia is low. One way to increase it is through food diversification by creating modified tempeh from non-soybeans. Jack bean can be used as an additional raw material in soy tempeh production because it has a nutritional content almost comparable to soybeans. This research aims to determine the formulation of jack beans and soybeans with the addition of the best variation of mosaccha tempeh yeast concentration. The research consists of two factors: the first factor is the formulation ratio of jack beans to soybeans (K), which includes 0%:100% (K1), 25%:75% (K2), 50%:50% (K3), 75%:25% (K4), and 100%:0% (K5) by weight; the second factor is the concentration of mosaccha tempeh yeast (R), which includes 0.2% (R1), 0.4% (R2), and raprima yeast (control) at 0.2% (R3) by weight. The observation parameters are total mold, total yeast, sensory properties (color, aroma, texture, taste, and overall acceptance), beta-glucan content, protein content, fat content, moisture content, ash content, crude fiber content, and carbohydrate content. The results show that the best treatment was 75% jack beans and 25% soybeans with the addition of 0.4% mosaccha yeast (K4R2), based on effectiveness index results with total mold count of 6.93 Log CFU/g; total yeast count of 8.76 Log CFU/g; color score of 4 (white with mycelium covering almost the entire surface of the tempeh); aroma score of 4 (distinct tempeh smell, slightly rancid, sweet); texture score of 4 (compact, easy to slice); taste score of 4 (liked); overall acceptance score of 3 (somewhat liked); beta-glucan content of 0.941%; protein content of 33.31%; fat content of 8.66%; moisture content of 68.74%; ash content of 1.52%; crude fiber content of 2.09%; and carbohydrate content of 14.72%.Keywords: jack beans, mosaccha yeast, soybeans, tempeh AbstrakTingkat konsumsi kacang-kacangan lokal di Indonesia rendah. Salah satu cara untuk meningkatkannya adalah diversifikasi pangan dengan cara membuat tempe modifikasi dari kacang non-kedelai. Kacang koro pedang dapat digunakan sebagai bahan baku tambahan dalam pembuatan tempe kedelai karena memiliki kandungan gizi yang hampir sama dengan kacang kedelai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi kacang koro pedang dan kacang kedelai dengan penambahan variasi konsentrasi ragi tempe mosaccha terbaik. Penelitian terdiri dari dua faktor, faktor pertama adalah formulasi perbandingan kacang koro pedang dan kacang kedelai (K) yaitu 0%:100% (K1), 25%:75% (K2), 50%:50% (K3), 75%:25% (K4), 100%: 0% (K5) b/b dan faktor kedua adalah konsentrasi ragi tempe mosaccha (R) yaitu 0,2% (R1) dan 0,4% (R2) serta ragi raprima (kontrol) 0,2% (R3) b/b. Parameter pengamatan adalah total kapang, total khamir, sifat sensori (warna, aroma, tekstur, rasa, dan penerimaan keseluruhan), kadar beta-glukan, kadar protein, kadar lemak, kadar air, kadar abu, kadar serat kasar, dan kadar karbohidrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik 75% koro pedang : 25% kedelai dengan penambahan ragi mosaccha 0,4% (K4R2) berdasarkan hasil indeks efektivitas dengan jumlah total kapang 6,93 Log CFU/g; jumlah total khamir 8,76 Log CFU/g; skor warna 4 (putih dan miselium menyelimuti hampir seluruh permukaan tempe); skor aroma 4 (khas tempe sedikit langu, harum manis); skor tekstur 4 (kompak, mudah diiris); skor rasa 4 (suka); skor penerimaan keseluruhan 3 (agak suka); kadar beta-glukan 0,941%; kadar protein 33,31%, kadar lemak 8,66%; kadar air 68,74%, kadar abu 1,52%; kadar serat kasar 2,09%; kadar karbohidrat 14,72%. Kata kunci: kacang kedelai, kacang koro pedang, ragi mosaccha, tempe
KARAKTERISTIK SENSORI NATA DE PINA PEEL (Ananas comosus (L) Merr.) DENGAN EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) SEBAGAI PEWARNA ALAMI SENSORY CHARACTERISTICS OF NATA DE PINA PEEL (Ananas comosus (L) Merr.) WITH RED DRAGON (Hylocereus polyrhizus) SKIN EXTRACT AS NATURAL DYE Ayuningtyas, Salsafira; Utomo, Tanto Pratondo; Winanti, Diki Danar Tri; Rizal, Samsul; Febriati, Nurullia
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v3i2.10066

Abstract

Kulit nanas mengandung gula pereduksi yang berpotensi digunakan dalam proses fermentasi untuk membentuk nata. Secara umum, kulit nata de pina memiliki ciri khas warna putih agak kekuningan dikarenakan bahan baku yang digunakan. Ciri khas tersebut menyebabkan penampakan warna nata menjadi kurang menarik. Salah satu cara untuk meningkatkan nilai sensoris agar lebih menarik adalah dengan menambahkan pewarna alami berupa ekstrak kulit buah naga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi terbaik penambahan ekstrak kulit buah naga merah sebagai pewarna alami terhadap sifat sensoris kulit nata de pina. Eksplorasi ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu konsentrasi ekstrak kulit buah naga yang terdiri dari 6 perlakuan (0%, 5%, 15%, 25%, 35% dan 45%) dan 3 kali pengulangan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kulit nata de pina terbaik pada penelitian ini adalah kulit nata de pina dengan konsentrasi ekstrak kulit buah naga sebesar 45% (P5). Perlakuan ini menghasilkan nata dengan warna merah, aroma agak asam, tekstur kenyal, rasa enak dan penerimaan keseluruhan, serta menghasilkan kadar air 91,45%, kadar abu 0,31%, pH 5,24. Kulit nata de pina dengan ekstrak kulit buah naga 45% mengandung kadar serat 1,64%Kata kunci : Kulit buah naga, Nata, Pewarna alami, Kulit nanas 
Kajian Penggunaan Beras Analog yang Disubstitusi Glukomanan Porang (Amorphophallus Oncophyllus) Sebagai Antidiabetes Mencit yang Diinduksi Aloksan Safitri, Bella Intan Ayu; Subeki; Hidayati, Sri; Nurdin, Samsu Udayana; Rizal, Samsul
JURNAL AGROINDUSTRI HALAL Vol. 9 No. 3 (2023): Jurnal Agroindustri Halal 9(3)
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jah.v9i3.9514

Abstract

Beras analog yang disubtitusi glukomanan porang (Amorphophallus Oncophylus) mengandung serat yang tinggi dan memiliki indeks glikemk yang rendah (43) sehingga baik dikonsumsi oleh penderita diabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian beras analog yang disubtitusi glukomanan porang terhadap kadar gula darah, berat badan, dan konsumsi ransum pada mencit yang diinduksi aloksan. Percobaan disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL) terdiri dari 4 kali perlakuan dengan 6 ulangan. Data yang diperoleh diuji keseragamannya dengan menggunakan uji Bartlett dan kemenambahan data diuji dengan uji Tuckey. Selanjutnya data dianalisis dengan sidik ragam untuk mendapatkan penduga ragam galat dan mengetahui pengaruh perlakuan, kemudian data dianalisis dengan menggunakan uji BNT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian beras analog yang disubtitusi glukomanan porang pada mencit yang diinduksi aloksan memberikan kadar gula darah sebesar 93,83 mg/dL, menurunkan berat badan 3,53 g, konsumsi ransum 3,45 g/hari, dan efisiensi ransum -14,80%.
THE INFLUENCE OF THE FORMULATION OF SUCROSE SUGAR AND HONEY PINEAPPLE (Ananas comosus L) ON THE SENSORY CHARACTERISTICS OF BLACK TEA KOMBUCHA DRINKS Rahmah, Amelia Kurnia; Susilawati; Rizal, Samsul; Kustyawati, Maria Erna
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v4i2.10971

Abstract

This study was conducted to determine the effect of sucrose sugar and honey pineapple formulations on the sensory characteristics of black tea kombucha, as well as to identify the best formulation in terms of sensory qualities. Kombucha is a fermented beverage believed to offer various health benefits. In this research, kombucha was produced using different proportions of sucrose sugar and honey pineapple. The experiment was designed using a Completely Randomized Block Design (RAKL) with 5 treatments and 5 replications, consisting of 5 ratios of sucrose sugar to honey pineapple: P1 (5% : 30%), P2 (10% : 25%), P3 (15% : 20%), P4 (20% : 15%), and P5 (25% : 10%). The observed parameters included pH measurement and sensory evaluation (scoring and hedonic tests covering taste, aroma, color, and overall acceptance). The best black tea kombucha formulation was further analyzed for alcohol content, vitamin C levels, and total reducing sugar. Data were analyzed for homogeneity using Bartlett’s test, , additional data using theTuckey test, analysis of variance (ANOVA), and further tested with BNT 5%. The results showed that the best treatment was P4 (20% sucrose sugar : 15% honey pineapple) with an alcohol content of 0.4%, total reducing sugar of 20%, vitamin C content of 0.5%, scoring test results for taste score 4.47, aroma score 4.14, color score 4.37, and hedonic test results for taste score 3.61, and overall acceptability score  3.71.
LITERASI PELAKU USAHA TERHADAP KEWAJIBAN SERTIFIKASI HALAL BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO.33 TAHUN 2014 TENTANG JAMINAN PRODUK HALAL (Studi Kasus Warung Makan di Kampus Universitas Lampung) Sasmita, Cindy; Nawansih, Otik; Satyajaya, Wisnu; Fadhallah, Esa Ghanim; Rizal, Samsul
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v4i2.10990

Abstract

Sertifikasi halal merupakan kewajiban hukum bagi pelaku usaha sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. Namun, tingkat pemahaman pelaku usaha warung makan di Kampus Universitas Lampung terhadap kewajiban ini masih bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana literasi pelaku usaha terhadap kewajiban sertifikasi halal dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan normatif-empiris. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 15 responden hanya 3 responden (20%) yang sudah memiliki sertifikasi halal. Mayoritas pelaku usaha tidak mengetahui adanya regulasi halal tersebut sebanyak 13 responden (87%). Hal ini menggambarkan bahwa rendahnya literasi halal, sebagian besar responden menyampaikan belum ada sosialisasi ataupun keharusan dari pihak kampus untuk bersertifikasi halal, menganggap keterbatasan informasi, persepsi biaya yang tinggi serta kerumitan proses administrasi menjadi faktor hambatan. Oleh karena itu, dibutuhkan edukasi langsung bagi pelaku usaha mikro dan pelaku usaha harus memiliki kesadaran dalam memenuhi regulasi halal. Kata kunci: literasi halal, pelaku usaha, sertifikasi halal, warung makan.
Sensory and Chemical Characteristic of Dry Bakpia with Formulations of Wheat Flour and Kepok Banana Flour (Musa acuminata balbisiana Colla) Oktabriyana, Tiara; Nawansih, Otik; Satyajaya, Wisnu; Rizal, Samsul; Nurainy, Fibra
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v4i2.11083

Abstract

Bakpia is a traditional round-shaped pastry filled with mung beans, wrapped in dough, and baked. This study aimed to determine the formulation of wheat flour and kepok banana flour that produced dry bakpia with the best sensory and chemical characteristics. A Completely Randomized Design (CRD) with a single factor was used, involving six formulations of wheat flour and kepok banana flour: P1 (100:0), P2 (90:10), P3 (80:20), P4 (70:30), P5 (60:40), and P6 (50:50), each replicated four times. Sensory evaluations (color, texture, taste, and aroma) and chemical analyses (moisture, ash, protein, fat, carbohydrate, and crude fiber contents) were conducted. The results showed that the P2 formulation (90% wheat flour : 10% kepok banana flour) produced bakpia with the best sensory characteristics, including a slightly dark white color, moderately layered crumbly texture, and a distinctive banana flavor and aroma. The chemical characteristics of the P2 formulation included 11.40% moisture, 2.6% ash, 14.85% protein, 13.02% fat, 58.13% carbohydrate, and 3.13% crude fiber. Keywords: dry bakpia, kepok banana flour, sensory evaluation, chemical analysis
ANALISIS MIKROBIOLOGI, FISIKA DAN KIMIA AIR MINUM ISI ULANG DARI DEPOT DI KAMPUNG BARU, KEDATON, BANDAR LAMPUNG Suhestry, Aprillia Dyah; Rizal, Samsul; Suroso, Erdi; Kustyawati, Maria Erna
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol. 1 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v1i1.5641

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui keberadaan cemaran mikroba E. coli dan koliform serta mengetahui kualitas air minum isi ulang secara fisika dan kimia pada depot air minum isi ulang di Kampung Baru Kecamatan Kedaton Kota Bandar Lampung. Penelitian dilakukan di Laboratorium THP Polinela Lampung dan Laboratorium Analisis Hasil Pertanian Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Metode penelitian adalah deskriptif. Jumlah sampel sebanyak 8 depot. Instrumen yang digunakan adalah lembar kuesioner dan pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan koliform dan E.coli, TDS (Total Dissolved Solid), suhu, dan pH. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa air minum yang diproduksi terdapat 7 depot dengan nilai koliform 0/100 ml sampel dan 1 depot dengan nilai koliform 3.0/100 ml sampel. parameter fisika TDS memiliki nilai berkisar 82-157 mg/L, parameter suhu memiliki nilai ± 3ºC. Parameter kimia pH untuk 7 depot memiliki nilai berkisar 6,6 – 7,3 dan 1 depot memiliki nilai pH = 6,1.
FORMULASI EKSTRAK TEMU MANGGA (Curcuma mangga Val.) DAN SARI BUAH MANGGA ARUMANIS (Mangifera indica L. Var arumanis) TERHADAP SIFAT FISIK DAN SENSORI PERMEN JELLY SELAMA PENYIMPANAN SUHU RUANG Susilawati, Susilawati; Rizal, Samsul; Nurainy, Fibra; Syafita, Anggi
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol. 1 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v1i1.5700

Abstract

Permen jelly merupakan permen yang bertekstur lunak yang dibuat dari sari buah dan  dengan penambahan komponen hidrokoloid sehingga menghasilkan tekstur permen jelly yang kokoh dan kenyal sehingga mudah untuk dimakan, dapat dibuat dari temu mangga dan sari buah mangga arumanis. Tujuan penelitian untuk mendapatkan formulasi ekstrak temu mangga dan sari buah mangga arumanis yang dapat menghasilkan permen jelly dengan sifat fisik dan sensori terbaik sesuai SNI 3547-2-2008. Metode yang digunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 4 ulangan menggunakan faktor tunggal yang terdiri dari 6 taraf formulasi ekstrak temu mangga dan sari buah mangga arumanis. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji Bartlett dan Tukey dilanjutkan dengan uji ANOVA dan uji BNT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi ekstrak temu mangga dan sari buah mangga terbaik pada perlakuan T5 (60:40)% yang menghasilkan aroma dengan skor 3,94 (suka), skor warna 4,30 (sangat suka), skor rasa 3,87 (suka), skor tekstur (kekenyalan) 3,82 (suka) dan skor penerimaan keseluruhan 4,50 (sangat suka). Permen jelly ekstrak temu mangga dan sari buah mangga perlakuan T5 (ekstrak temu mangga 60% : sari buah mangga arumanis 40%) dapat bertahan selama 7 hari pada penyimpanan suhu ruang dengan kadar air sebesar 11,07%, kadar abu 2,28%, gula reduksi 7,20%, aktivitas antioksidan 57,78%, total mikroba 2,74x104 koloni/g dan total kapang 6x10 koloni/g.
PENGARUH PENAMBAHAN KARAGENAN TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA DAN SENSORI YOGHURT RASA PISANG AMBON Nugraha, Wahyu; Koesoemawardani, Dyah; Nurainy, Fibra; Rizal, Samsul
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol. 1 No. 2 (2022)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v1i2.6364

Abstract

Yoghurt rasa pisang ambon merupakan varian rasa yoghurt. Penambahan buah mengakibatkan tekstur yoghurt berair sehingga membutuhkan bahan penstabil. Penelitian ini bertujuan mendapatkan konsentrasi karagenan yang menghasilkan yoghurt rasa pisang ambon dengan sifat fisikokimia dan sensori yoghurt buah pisang ambon sesuai SNI 2981:2009. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan faktor tunggal yaitu konsentrasi karagenan pada taraf K0 (tanpa penambahan karagenan), K1 (0,1%), K2 (0,2%), K3 (0,3%), K4 (0,4%), K5 (0,5%) b/v. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan uji Barllet dan Tukey lalu dilanjutkan dengan uji ANOVA dan uji BNT pada taraf 5%. Masing-masing sampel dari setiap ulangan diuji sensori, fisik, dan kimia. Hasil penelitian ini menghasilkan yogurt plain terbaik pada penambahan karagenan sebesar 0,5% b/v (K5) dengan kriteria sineresis 39,61%, viskositas 2,28 cps, total asam 0,56%, TPT 12,60⁰brix, kadar abu 0,38%, kadar protein 3,81%, kadar lemak 2,37%, total BAL 8,94 log cfu/mL, kekentalan yoghurt kental (4,26), serta sensori hedonik agak disukai panelis.
KARAKTERISTIK SENSORI DAN KIMIA TORTILLA CHIPS DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG CANGKANG RAJUNGAN ( Portunus Pelagicus) Nafsiah, Ibdatin; Rizal, Samsul; Koesoemawardani, Dyah; Susilawati, Susilawati
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol. 1 No. 2 (2022)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v1i2.6387

Abstract

Tortilla chips merupakan makanan ringan berbahan dasar jagung yang memiliki kandungan kalsium rendah sehingga perlu dilakukan penambahan tepung cangkang rajungan untuk meningkatkan kandungan kalsium pada Tortilla chips. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh formulasi penambahan tepung cangkang rajungan terhadap karakteristik sensori dan kimia Tortilla chips dan untuk mengetahui formulasi terbaik penambahan tepung cangkang rajungan pada pembuatan Tortilla chips. Metode yang digunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan faktor tunggal menggunakan 6 taraf penambahan tepung cangkang rajungan yaitu P0 (tepung cangkang rajungan 0%), P1 (tepung  cangkang rajungan 2,5%), P2 (tepung cangkang rajungan 5%), P3 (tepung cangkang rajungan 7,5%), P4 (tepung cangkang rajungan 10%), dan P5 (tepung cangkang rajungan 12,5%). Penelitian ini terdiri atas proses pembuatan tepung cangkang rajungan, pembuatan Tortilla chips, pengujian sensori, pengujian kimia untuk mendapatkan perlakuan terbaik. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji Barlett dan Tukey lalu dilanjutkan dengan uji ANOVA dan uji BNJ pada taraf 5 %. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan tepung cangkang rajungan terbaik adalah perlakuan P4 (tepung cangkang rajungan 10%) dengan kriteria warna kuning kecoklatan (2,97), tekstur sangat renyah (3,74), rasa sangat suka (3,71), aroma suka (3,10), penerimaan keseluruhan sangat suka (3,71), kadar air 2,59 %, kadar abu 7,07 %, kadar protein 5,94%, kadar lemak 29,17%, dan kadar kalsium 91,78 mg/100g.
Co-Authors Achsanuddin, Andi Nur AGUS PURWANTO Ahmad Fitri, Ahmad Ahmad Sapta Zuidar Ahmad Sapta Zuidar Akbar Tashawwufy, Nabil Andi Mappatompo Anggoro KR, M. Yusuf Alfian Rendra Anjelia Putri Arsyad, Nur Fadilah AS, suharyono Asep Mulyana Asep Sukohar Ayuningtyas, Salsafira Cahyani, Atika Dwi Cherly Silvia Ericha Darmasetiadi, Doni Desi Handayani Dewi Agustina Iryani Dewi Agustina Iryani, Dewi Agustina Dewi Cahyani, Dewi Dyah Koesoemawardani Erdi Suroso Eriska, Sovia Eryati, Ristiana Esa Ghanim Fadhallah Esa Susanti Febriati, Nurullia Fibra Nurainy Fibra Nurainy Hadi, Jessica Puteri Octavia Hamdhani, Hamdhani Henny Pagoray, Henny Herdiana, Novita Idris Mandang, Idris Imran, Hamzah Al Indriyanto, Erwin Isnani, Tuti Jam'an, Jam'an Julfi Restu Amelia, Julfi Restu Kahar Kahar, Kahar Kania Widyastuti Kurniawan, Burhan Kusumaningrum, Widya Maria Erna Kustyawati Maria Erna Kustyawati Marniza Marniza Melatiningsih, Atri Melza Fitriani Merliyanisa Merliyanisa Mismawati, Andi Moh Ali, Moh Moralita Tauhid Muhammad Iqbal Muhammad Nur Muhammad Nur Faza Taqiyyuddin Muhammad Yusuf Muliani Muliani, Muliani Murhadi Murhadi Musdalifah Musdalifah Nafsiah, Ibdatin Nida Rianda Nabila Ningsih, Etik Sulistiowati Novia, Rani Nur Istiqomah Nur, Jurianto Muhammad Oktabriyana, Tiara Otik Nawansih Otik Nawansih Rahmah, Amelia Kurnia Raisa Amalia Rasulong, Ismail Romadhoni, Buyung Rukmini Susilowati Ruliaty Ruliaty, Ruliaty Safitri, Bella Intan Ayu Saibun Sitorus Salsabila, Az Zahra Fithri Samsu Udayana Nurdin Samsu Udayana Nurdin Samsu Udayana Nurdin Sandi, Rajib UI Sandra, Novita Dwi Sanusi Sanusi Sasmita, Cindy Siti Nurdjanah Siti Nurdjanah Sri Hidayati Sri Setyani Subeki Suharyono A S Suharyono A.S Suharyono A.S Suharyono AS Suharyono AS Suharyono Suharyono Suharyono Suharyono Suharyono Suharyono Suharyono Suharyono Suharyono Suharyono Suharyono Suharyono Suhestry, Aprillia Dyah Suriati, Suriati Susilawati Susilawati Susilawati Susilawati, Susilawati Sussi Astuti Syafita, Anggi Syamsiana, Annisa Tanto Pratondo Utomo Teguh Endaryanto Temmy Setiawan, Temmy Tirza Hanum Umami Ekarisa Viani, Tri Okta Wahyu Nugraha Wildan Nur, Aditya Winanti, Diki Danar Tri Wisnu Satyajaya Yudiantoro Yudiantoro