Claim Missing Document
Check
Articles

KEBUDAYAAN LOKAL SEBAGAI POTENSI DALAM BERKARYA KOMIK Olvyanda Ariesta; Rosta Minawati
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 1, No 1 (2013): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.468 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v1i1.28

Abstract

AbstrakKomik adalah media bercerita melalui gambar-gambar yang disusun sedemikian rupa membentuk narasi. Dalam perkembangannya, komik sempat mendapat reaksi keras dari pemerintah Amerika karena dianggap membawa ideologi anti pemerintaah pada tahun 1954, sehingga komik-komik tersebut dibakar. Namun seiring perkembangan zaman, komik mendapat tempatnya sendiri di masyarakat, perkembangan komik pun semakin pesat, bukan hanya sebagai bacaan hiburan, tapi di dalamnya juga terdapat pesan-pesan yang menyusung nilai-nilai kebudayaan.Kebudayaan lokal yang ada di Nusantara memiliki potensi yang besar sebagai ide pembuatan komik. Dengan mengangkat kebudayaan lokal, baik secara tema maupun visual di dalam komik, maka melalui komik dapat ikut memperkenalkan kebudayaan bangsa kepada pembaca yang multikultural, serta memperkuat identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan kebudayaan tradisional.Kata kunci : Komik, Budaya lokal, Kerinci
TARI OLANG-OLANG DALAM RITUAL PENGOBATAN SUKU SAKAI DI KECAMATAN MINAS, KABUPATEN SIAK Khairul Layali; Rosta Minawati; Yusfil Yusfil
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 2, No 1 (2014): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.612 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v2i1.40

Abstract

ABSTRAK  Tari Olang-olang merupakan cerminan identitas masyarakat pedalaman suku Sakai yang terdapat di Kecamatan Minas, Kabupaten Siak. Tari Olang-olang adalah sebuah tari pengobatan bagi suku Sakai. Suku Sakai masih percaya bahwa penyakit manusia ditimbulkan oleh gangguan roh halus. Sistem pengobatannya dengan melakukan upacara yang di dalam proses pengobatan terdapat tari Olang-olang. Bentuk tari Olang-olang dalam kehidupan suku Sakai dapat dilihat dari bentuk gerak, musik pengiring dan properti serta busana yang dapat dilihat dari wujud mencakup seluruh aspek yang dapat ditangkap oleh panca indra.           Makna yang terkandung pada tari Olang-olang dalam ritual pengobatan Suku Sakai di Kecamatan Minas adalah makna ritual, makna estetika, makna representasi budaya, dan makna pelestarian budaya. Tari Olang-olang menggambarkan roh dari Soli, yang merupakan roh nenek moyang suku Sakai yang semasa hidupnya juga seorang Bomo. Olang-olang mempunyai makna burung terbang. Gerakan dari Tari Olang-olang menggambarkan simbolisasi komunikasi antara Bomo dengan roh Soli dalam penyembuhan orang yang sakit.  Kata Kunci: Tari Olang-Olang, Ritual, Suku Sakai, Kecamatan MinasABSTRACT Dance - Olang Olang is a reflection of the identity of rural communities Sakai tribe contained in District Minas , Siak . Olang - Olang dance is a dance for the treatment of Sakai tribe . Sakai people still believe that the human disease caused by interference spirits. Treatment system to perform the ceremony in the treatment process are dance - Olang Olang . Olang - Olang dance forms in Sakai tribal life can be seen from the form of movement , musical accompaniment and property as well as clothing that can be seen from the form covers all aspects that can be captured by the five senses . Meaning contained in Olang - Olang dance in ritual treatment Sakai people in District Minas is a ritual significance , aesthetic meaning , the meaning of cultural representation and preservation of cultural significance . Dance - Olang Olang describe the spirit of Soli , which is the ancestral spirits Sakai tribe who during his lifetime was also a Bomo . Olang - Olang has meaning flying birds . Movement of Dance - Olang Olang describe symbolize communication between Bomo with Soli spirit in healing the sick.Keywords: Dance - Olang Olang, Ritual, Sakai tribe, District of Minas          
RITUAL ASYEIK SEBUAH FENOMENA BUDAYA MENJADI ESTETIK PENCIPTAAN FILM DOKUMENTER Syafriandi Syafriadi; Rosta Minawati; Gerzon Ajawaila
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 2, No 1 (2014): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.304 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v2i1.35

Abstract

ABSTRAK Film dokumenter “Ritus Jiwa” memiliki makna tentang pertemuan antara jiwa yang hidup dengan jiwa yang mati, yang merupakan hakikat dari peristiwa Ritual Asyeik. Pertemuan jiwa yang hidup dengan jiwa yang mati merupakan pertemuan Roh Nenek Moyang  dengan anak cucu  mereka, peristiwa ini disebut oleh masyarakat Dusun Empih sebagai peristiwa dan ajang silaturrahmi dengan Roh Nenek Moyang. Roh Nenek Moyang muncul ke dalam jiwa yang hidup ketika penari mengalami kerasukan. Pemanggilan Roh Nenek Moyang dilakukan melaui mantra atau syair-syair Ritual Asyeik. Ritual Asyeik adalah upacara sakral, yakni upacara pemanggilan Roh Nenek Moyang. Upacara sakral ini dilakukan dengan melibatkan orang-orang tertentu, seperti orang-orang yang memiliki kekuatan magis yang disebut dengan dukun (pengasouh). Dukun berperan sebagai perantara antara jiwa yang hidup dan jiwa yang sudah mati.Dalam proses mewujudkan realita ke dalam bentuk film dokumenter membutuhkan kepekaan Imajinasi dan ide-ide kreatif. Penciptaan karya film ini berangkat dari ide dan gagasan yang terangkum dalam fenomena dan realita Ritual Asyeik. Ide dan gagasan ini diuraikan menjadi tema dalam penciptaan karya film dokumenter dengan menggunakan gaya interaktif. Gaya interaktif lebih memokuskan pada penuturan proses pembuatan shooting film, dan gaya Interaktif lebih menampilkan keberadaan subjek dan karakter dalam film. Dalam penciptaan karya film ini akan mengabungkan dua gaya tersebut. Karya film dokumenter ini akan diciptakan dalam pendekatan bentuk disebut juga film eksperimental. Dalam bentuk film ini pengkarya/sutradara akan melakukan eksprimentasi dan eksplorasi tergadap pengambilan gambar, kemudian disusun dengan tujuan memberikan efek dramatik, menggugah emosi penonton. Kata Kunci: Ritus Jiwa, Ritual Asyeik, Film dokumenter   ABSTRACT The documentary film "Rites of Life" has the meaning of the encounter between the living soul with the soul of the dead, which is the essence of the ritual event Asyeik. Meeting a living soul with the soul of a dead ancestor spirits meetings with their children and grandchildren, this event is called by the people of Dusun Empih as events and event silaturrahmi with Spirit Ancestors. Ancestor Spirit emerge into a living soul when experienced dancers possessed. Summons Spirit Ancestors done through a spell or ritual Asyeik poems. Asyeik ritual is a sacred ceremony, the ceremony calling of the Spirit Ancestors. This sacred ceremony is performed involving certain people, such as people who have magical powers called shaman (pengasouh). Shamans act as intermediaries between the living soul and the souls of the dead. In the process of realizing reality in the form of a documentary film requires sensitivity Imagination and creative ideas. The creation of this film work departs from the idea and the ideas embodied in the phenomenon and the reality of ritual Asyeik. New ideas and is described to be a theme in the creation of a documentary film work using an interactive style. More interactive style of the narrative were focused on the process of shooting the film, and a more interactive style show where the subject and the characters in the film. In the creation of works of the film will combine the two styles. The work of this documentary will be created in the form of approach is also called experimental film. In this film form pengkarya / director will conduct exploration tergadap eksprimentasi and shooting, then compiled with the aim of providing a dramatic effect, the emotions the audience. Key words: Rites of Life, Ritual Asyeik, documentary
KAJIAN RELEVANSI GAMBAR DENGAN ISI BERITA PADA PROGRAM SEPUTAR SUMATRA BARAT DI ANTARA TV BIRO PADANG Vicia Dwi Prakarti; Mahdi Bahar; Rosta Minawati
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 4, No 1 (2017): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.385 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v4i1.559

Abstract

ABSTRACT This research discusses the relevancy of picture with news content that’s in the form of news script produced by the media of LKBN ANTARA TV, West Sumatra Bureau in Padang. LKBN ANTARA TV, West Sumatra Bureau is the news office of West Sumatra Bureau that exists under the central LKBN ANTARA TV in Jakarta. ANTARA news office belongs to Indonesia government. News aired consists of state news and community news. In television news, the picture becomes the main element in delivering information followed by narration/script as its support. The linkage between pictures with narration delivered must be understood by the viewers. It is done by ensuring the accuracy of taking moments by following the standard of shooting television news such as size shot, camera movement, camera angle, composition, sequence, and continuity. The picture of television news is supported by information obtained with a script that corresponds to the LKBN ANTARA format of news.   The method used in this research was qualitative method (descriptive analysis) namely utterance, writing, and behavior that could be observed from the person or the subject itself described and analyzed by directly observing the teamwork process of ANTARA TV – West Sumatera. The author then analyzed news from the program of Seputar Sumatera Barat that had been aired through observation, interview, and documentation related to the research. The linkage between pictures resulted by news in the program of Seputar Sumatera Barat produced by LKBN ANTARA TV – West Sumatera bureau with the script or narration, still depends on producer’s involvement in determining that linkage. It is because the creative team of ANTARA TV-West Sumatera still maintains the criteria and character of central LKBN ANTARA. Keywords: The Picture of Television News, News Content, the Program of Seputar Sumatera Barat, LKBN ANTARA TV – West Sumatera
ESTETIKA MUSIK ZAPIN SEBAGAI BUDAYA POPULER DI PEKANBARU Ahmad Nafis; Rosta Minawati; Ediwar Ediwar
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 2, No 2 (2014): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.746 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v2i2.46

Abstract

 ABSTRAK Musik Zapin di Kota Pekanbaru sebagai budaya populer merupakan fenomena pergeseran konsep, bentuk, fungsi, estetika dan makna bagi masyarakat pendukungnya. Pendekonstruksian pola-pola tertentu (tradisi) kepada keseragaman, standarisasi, pencitraan, kapitalisme, kreatifitas dan inovasi seniman. Secara praktis hal tersebut sebagai bentuk kreativitas dan inovasi seniman dalam berkarya, baik kaitan pengembangan ataupun pelestarian seni budaya Melayu. Musik Zapin sebagai budaya populer memiliki estetika posmodern, di antaranya: Parodi, pastiche, parodi, kitsch, camp, dan skizofrenia. Pertunjukan musik Zapin mengalami pergeseran nilai-nilai keteradisiannya (konsep estetika tradisi) ke estetika modern bahkan posmodern. Pergeseran tersebut oleh karena perubahan sosial masyarakat Kota Pekanbaru. Keterbukaan dan homogenitasan, baik etnis dan budaya menciptakaan keterbukaan ruang bagi pertunjukan musik Zapin untuk beradaptasi dengan ruang dan kebutuhan masyarakatnya. Oleh sebab itu, pertunjukan musik Zapin sebagai budaya populer (estetika profan). Kata Kunci: Komodifikasi, Budaya Populer, Musik Zapin, dan Kota Pekanbaru  ABSTRACT Music Zapin in Pekanbaru as popular culture is a phenomenon of shifting concept, form, function, aesthetics and meaning to community supporters. Pendekonstruksian certain patterns (traditions to uniformity, standardization, imaging, capitalism, creativity and innovation of artists. Practically it is a form of creativity and innovation in the work of artists, both regard the development or preservation of Malay culture and art. Zapin music as popular culture has a postmodern aesthetic, including: parody, pastiche, parody, kitsch, camp, and schizophrenia. Zapin music performances shifting values keteradisiannya (traditional aesthetic concept ) to the modern aesthetic and even postmodern. The shift is due to social change Pekanbaru. Openness and homogenitasan, both ethnic and cultural openness menciptakaan Zapin space for musical performances to adapt to the space and the needs of society. Therefore, musical performances Zapin as popular culture (aesthetic profane). Keywords: Commodification, Popular Culture, Music Zapin, and the city of Pekanbaru
Kajian Organologi Pembuatan Alat Musik Tradisi Saluang Darek Berbasis Teknologi Tradisional Ediwar Ediwar; Rosta Minawati; Febri Yulika; Hanefi Hanefi
PANGGUNG Vol 29, No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1580.73 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v29i2.905

Abstract

ABSTRACTThe music of Saluang Darek wind instrument is Minangkabau traditional music that uses the musical instrument of aerophone classification (air as the main source of vibration) and the kind of end-blown without-block flutes musical instrument, and this musical instrument is used to accompany Minangkabau songs or dendangs. Saluang Darek is made of bamboo. The best bamboos for making Saluang Darek are (1) Talang bamboo (Schizostachyum brachycladum kurz), (2) Buluah Kasok bamboo (Gingantocholoa apus), (3) Tamiang bamboo (Schizostachyum zollingeri steud), and (4) Cimanak bamboo (Schizostachyum longispiculatum). The production of Saluang Darek musical instrument uses the traditional technology by still maintaining the quality of instrument that's ready to be used for the performing arts particularly in accompanying dendang. The method used in this research was the qualitative method by using the approach of organology study. Data were collected through the library research, observation, interview, and documentation. This study found the importance of the musical instrument study in order to give information for the musicologists' and ethnomusicologists' works, at once conserve the musical culture in West Sumatera.Keywords: Saluang Darek, Organology, Aerophone, Traditional technology ABSTRAKMusik tiup Saluang Darek adalah musik tradisional Minangkabau yang menggunakan alat musik klasifikasi Aerophone (udara sebagai sumber getaran utama) dan alat tiup jenis end-blown without-block flutes digunakan untuk mengiringi nyanyian atau dendang Minangkabau. Alat musik Saluang darek terbuat dari bambu, yang paling baik untuk alat musik Saluang adalah (1) bambu  talang ( Schizostachyum brachycladum kurz), (2) bambu buluah kasok (Gingantocholoa apus), (3) bambu tamiang (scizostachyum zollingeri steud), (4) bambu cimanak (Schizotachyum longispiculatum). Pembuatan alat musik Saluang darek menggunakan teknologi tradisional dengan tetap menjaga kualitas alat yang siap dipakai untuk seni pertunjukan dalam mengiringi dendang. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan kajian organologi. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, observasi, wawancara dan dokumentasi. Kajian ini mendapati pentingnya   kajian instrumen musik untuk memberikan infomasi dalam pekerjaan musikolog dan etnomusikolog, sekaligus pelestarian budaya musikal di Sumatera Barat. Kata kunci: Saluang darek, Organology, Aerophone, Teknologi tradisional ABSTRACTThe music of Saluang Darek wind instrument is Minangkabau traditional music that uses the musical instrument of aerophone classification (air as the main source of vibration) and the kind of end-blown without-block flutes musical instrument, and this musical instrument is used to accompany Minangkabau songs or dendangs. Saluang Darek is made of bamboo. The best bamboos for making Saluang Darek are (1) Talang bamboo (Schizostachyum brachycladum kurz), (2) Buluah Kasok bamboo (Gingantocholoa apus), (3) Tamiang bamboo (Schizostachyum zollingeri steud), and (4) Cimanak bamboo (Schizostachyum longispiculatum). The production of Saluang Darek musical instrument uses the traditional technology by still maintaining the quality of instrument that's ready to be used for the performing arts particularly in accompanying dendang. The method used in this research was the qualitative method by using the approach of organology study. Data were collected through the library research, observation, interview, and documentation. This study found the importance of the musical instrument study in order to give information for the musicologists' and ethnomusicologists' works, at once conserve the musical culture in West Sumatera.Keywords: Saluang Darek, Organology, Aerophone, Traditional technology ABSTRAKMusik tiup Saluang Darek adalah musik tradisional Minangkabau yang menggunakan alat musik klasifikasi Aerophone (udara sebagai sumber getaran utama) dan alat tiup jenis end-blown without-block flutes digunakan untuk mengiringi nyanyian atau dendang Minangkabau. Alat musik Saluang darek terbuat dari bambu, yang paling baik untuk alat musik Saluang adalah (1) bambu  talang ( Schizostachyum brachycladum kurz), (2) bambu buluah kasok (Gingantocholoa apus), (3) bambu tamiang (scizostachyum zollingeri steud), (4) bambu cimanak (Schizotachyum longispiculatum). Pembuatan alat musik Saluang darek menggunakan teknologi tradisional dengan tetap menjaga kualitas alat yang siap dipakai untuk seni pertunjukan dalam mengiringi dendang. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan kajian organologi. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, observasi, wawancara dan dokumentasi. Kajian ini mendapati pentingnya   kajian instrumen musik untuk memberikan infomasi dalam pekerjaan musikolog dan etnomusikolog, sekaligus pelestarian budaya musikal di Sumatera Barat. Kata kunci: Saluang darek, Organology, Aerophone, Teknologi tradisional 
Fenomena Musik Ring Back Tone (RBT): Kapitalisme, Budaya Popular, dan Gaya Hidup Rosta Minawati
PANGGUNG Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.846 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v26i1.163

Abstract

ABSTRACT RBT music is a phenomenon enjoyed by millions  of fans.  RBT, better known as ring back tones  have become part of the lifestyle  of subscribers.  Ring back tones have sound meanings  (as music) which are experienced by callers after placing their calls. The music is heard by callers till the phone is answered.  The phenomena of RBT is capable of gaining  the interest  of a million customers. In Indonesia  cellphone use has become widespread, cheap and available.  The  func- tion  of the  cellular  telephone can facilitate  the acquisition  of needs for its owner. In general urban centers around the world will form social  networks,  engage in capitalism,  popular cul- ture  and life styles. The  development  of this phenomenon is inseparable from capitalism  itself. Through RBT consumers can easily  download their favorite songs. In the context  of this phe- nomenon capitalism,  pop culture  and lifestyle represent three inseparable interrelated  elements. Keywords: Music RBT, Capitalisme, CulturalPopular,  Lifestyle.     ABSTRAK Musik RBT merupakan fenomena yang digemari berjuta pelanggan. RBT atau yang lebih dikenal dengan   nada sambung menjadi gaya hidup para pelanggannya. Nada sambung (ring back tone) memiliki arti suara (musik) yang di dengar lewat jalur telepon oleh pihak penelepon setelah melakukan pemanggilan. Musik tersebut dapat di dengar pihak yang menghubungi sampai telepon dijawab.Fenomena RBT mampu meraih berjuta pelanggan. Di Indonesia, pengguna Hp menjadi sangat umum, murah dan terjangkau. Fungsi telepon seluler akan lebih memfasilitasi pemenuhan kebutuhan pemiliknya. Secara umum, kota-kota urban di dunia akan membentuk jaringan sosial, kapitalisme, budaya popular, dan gaya hidup. Perkembagan fenomena ini tidak terlepas karena adanya kapitalisme.Melalui RBT, para konsumen dengan mudah mendownloadlagu-lagu yang digemari. Berkaitan dengan fenomena tersebut, kapitalisme, budaya pop(ular) dan gaya hidup merupakan tiga serangkai yang tidak dapat dipisahkan. Kata kunci: Kapitalisme, Budaya Populer, Gaya Hidup
Analisis Struktur Pertunjukan Opera Batak Sisingamangaraja XII: Episode Tongtang I Tano Batak Sulaiman Sulaiman; Rosta Minawati; Enrico Alamo; Sherli Novalinda
PANGGUNG Vol 29, No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1576.91 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v29i2.908

Abstract

ABSTRACTOpera Batak is a “traditional” performance genre from the Toba Batak ethnic group. Opera Batak is staged based on oral tradition through acting, music and dance. The creation of works aims to preserve Sisingamangaraja XII's historical values. The method is carried out beginning with research through observation, interviews, literature studies with steps to work on the search phase, the stage of giving content, the development stage, and the stabilization stage.Transitions of performers and sections are accompanied musical instruments including gondang, suling, serunai, kedapi, hesek, odap and garantung. This mixture is intended to bring the drama to life and entertain the audience. The figures in Opera Batak are Sisingamangaraja XII, Patuan Anggi, Putri Lopian, Boru Sagala, Somaling, Panglima Sarbut and Panglima Amandopang. his episode tells how the war against the Dutch company in the Batak land for about 30 years. Arranged with a flow, dramatic, and conflicting conflict to show Sisingamangaraja's humanity and kinship side in the face of war.Key Word: Opera Batak, Theater, Sisingamangaraja XII, Tongtang I Tano BatakABSTRAKOpera Batak merupakan seni pertunjukan ‘tradisi’ dalam masyarakat Batak.Opera Batak ditampilkan melalui sastra lisan, pemeranan, musik, dan tarian. Penciptaan karya bertujuan untuk melestarikan nilai-nilai kesejarahan Sisingamangaraja XII. Metode dilakukan diawali dengan riset melalui observasi, wawancara, studi pustaka dengan langkah garap; tahap pencarian, tahap memberi isi, tahap pengembangan, dan tahap pemantapan. Opera Batak dipandu pencerita dalam mengenalkan tema, menyapa penonton, menggambarkan kisah, dan menggenalkan pemain. Peralihan pemain dan bagian diiringi musik yang terdiri atas: gondang, suling, sarunai, kecapi, hesek, odap, dan garantung. Tokoh Opera Batak dalam episode Tongtang I Tano Batak adalah Sisingamangaraja XII, Patuan Anggi, Putri Lopian, Boru Sagala, Somaling, Panglima Sarbut, dan Panglima Amandopang. Episode ini menceritakan bagaimana perperangan melawan kompeni Belanda di tanah Batak yang kurang lebih 30 tahun lamanya. Disusun dengan alur, dramatik, dan konflik yang rapat untuk memperlihatkan sisi kemanusian dan kekeluargaan Sisingamangaraja dalam menghadapi perperangan.Kata Kunci: Opera Batak, Teater, Sisingamangaraja XII, Tongtang I Tano Batak 
Kreativitas Sebagai Strategi Pengembangan Musik Kompang Grup Delima di Bantan Tua Bengkalis Rosta Minawati; Nursyirwan Nursyirwan
PANGGUNG Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.975 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v28i3.507

Abstract

ABSTRACTThis article aims to discover the strategy of creativity used by performers of Kompang music in Bantan Tua, Bengkalis. The data was collected through observation, interviews, and documentation. The Kompang Delima Group is one of the kompang groups that has developed kompang as performing art. In 2012 the Delima Group started to include creative movements in their performances. The movement creativities were inspired by the social and cultural life of the people. “Nunduk” is one of the characteristic movements of the Delima Group in Bantan inspired by menoreh (harvesting a rubber). The creativities are developed through the elements of local culture, including movements, formations, and floor patterns, and the emphasis on the clarity of articulation in each line of the recitation of the barzanzi text in order to gain more aesthetic impression of performance.Keywords: creativity, Kompang music, Delima group, BengkalisABSTRAKTulisan ini bertujuan mengungkap strategi kreativitas pemain musik Kompang di Bantan Tua Bengkalis. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Grup Kompang Delima adalah salah satu grup Kompang yang mengembangkan musik Kompang sebagai seni pertunjukan. Pada tahun 2012, Grup Delima mulai memasukkan gerak yang kreatif di dalam pertunjukannya. Hasil kreativitas yang dilakukan dengan menggarap gerak yang terinspirasi dari kehidupan sosial dan kultur masyarakatnya. Nunduk adalah gerakan yang khas yang dimiliki grup Delima di Bantan Tua yang terinspirasi dari menoreh (mengambil karet). Kreativitas dilakukan dengan mengembangkan gerak, formasi dan pola lantai, serta penekanan pada kejelasan artikulasi setiap syair barzanji yang dilafalkan agar tercapai kesan estetik dalam penampilannya.Kata kunci: kreativitas, musik Kompang, grup Delima, Bengkalis
Pelatihan Membatik bagi Siswa SLTA Sederajat Se-Kota Medan Sumatera Utara Ahmad Bahrudin; Yandri Yandri; Widdiyanti Widdiyanti; Rosta Minawati; Miswar Miswar
Jurnal Abdidas Vol. 3 No. 2 (2022): April, Pages 228 - 354
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdidas.v3i2.587

Abstract

Pelatihan membatik merupakan salah satu implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat, pada kesempatan dini diadakan pelatihan membatik dengan tujuan untuk memperkenalkan batik sebagai warisan budaya Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO, kepada masyarakat luas, salah satunya kepada siswa-siswa di Kota Medan, peserta diberikan pengetahuan tentang batik baik secara asal-sulnya, jenisnya dan tekniknya, pada pelatihan ini peserta dilatih cara membatik dari mulai membuat gambar batik, mencanting, mewarnai, melorod, menjemur dan terakhir menjemur kain batik yang di hasilkan oleh peserta pelatihan selain hal tersebut juga diharapkan akan memberikan peluang wirausaha batik bagi peserta pelatihan. Metode pengabdian yang digunakan dalam kegiatan pelatihan ini adalah  demontrasi dilakukan untuk memberi penjelasan kepada peserta tentang cara membatik dan metode pelatihan dengan cara memberikan pendampingan kepada peserta pelatihan ketika melakukan praktek membatik dengan tujuan supaya peserta lebih cepat memahami tahapan-tahapan membatik. Hasil dari kegiatan pelatihan ini peserta mendapatkan pengetahuna dan praktek cara membatik pada kain dan karya yang hasilkan bisa langsung digunakan baik sebagai benda pajangan maupun benda pakai.
Co-Authors Ade Moussadecq Adi Krisna Agung Eko Budi Waspada Agung Eko Budi Waspada Agung Eko BW Ahmad Bahrudin Ahmad Nafis Ajawaila, Gerzon Andiko, Benny Ary Leo Bermana Asral, Kairul Asril Aulia, Rani Ayu Soraya Benny Andiko Bermana, Ary Leo Choiru Pradhono Citra Emalia Dani Manesah Dela Puspita Riza Desmiati Desmiati Desmiati, Desmiati Edi Satria Ediwar Ediwar EMRI, EMRI Enrico Alamo Enrico Alamo Enrico Alamo Enrico Alamo Fadel Muhammad Fadhilatul Khaira Febri Yulika Febriano, Gilang Gerzon Ajawaila Hanefi Hanefi Hanefi Hanefi Hanefi, Hanefi Harisman Harisman Harisman Harisman, Harisman Heldi Heldi Heldi Heldi, Heldi Hery Sasongko Hidayat, Hengki Armez Hidayat, Hengki Armez Ilham, Muhamad Iskandar, Riki Iswandi Kairul Asral Khairi, Ilhamul Khairul Layali Kholilah, Anni Khosy Berlian Putry Koes Yuliadi Layali, Khairul Lidiantari, Aulini Loravianti, Susasrita Mahdi Bahar Mahdi Bahar Martion Martion Martion Martion Mega Kencana Saliman Meria Eliza Miswar Miswar Muhammad Ilham MULYADI Nabilla Khansa Nafis, Ahmad Nilawati Nilawati Nilawati Nilawati Nilawati Nilawati, Nilawati Nilawati Novesar Jamarun Novina Yeni Fatrina Nursyirwan Nursyirwan Nursyirwan Nursyirwan Nursyirwan Nursyirwan Nursyirwan Nursyirwan Nursyirwan Olvyanda Ariesta Prakarti, Vicia Dwi Pratama, Wendo Afriyoma Rajab, Junaidi Riki Iskandar Roza Muliati Sahrul, Sahrul Satria, Edi Sherli Novalinda Sofia Yosse Solehat, Iis Sri Wahyuni SUCI FAJRINA Suherni Suherni Suherni Suherni, Suherni Sulaiman Sulaiman Sulaiman Sulaiman sulaiman sulaiman Sulaiman Sulaiman Sulaiman Sulaiman Sulaiman Sulaiman Sumanti, Titik Surya Darma Suryanti Suryanti Suryanto Suryanto Syafriadi, Syafriandi Syafriandi Syafriadi Syafriandi Syafriandi Vani Sasri Wahyuni Vicia Dwi Prakarti Wa'afini Wahyono Wahyono Wahyuni, Vani Sasri Widdiyanti Widdiyanti Yandri Yandri Yeni Ruseli Yeni Ruseli Yogian Hutagama Yogian Hutagama Yosi Ramadona Yosi Ramadona Yosse, Sofia Yusfil Yusfil Yusfil, Yusfil Zulhelman Zulhelman Zulhelman Zulhelman