Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Efektivitas Ekstrak Eugenol Rimpang Lengkuas (Alpinia Galangal L) Terhadap Pertumbuhan Jamur Trichophyton Rubrum Dengan Metode Dilusi Maulidiyah Salim; Wahdaniah Wahdaniah
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 2 (2018): Mei 2018
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i2.143

Abstract

Abstract: Galangal is a kind of plant which can also be apllied as medicine for anti-fungi due to its essential oil. Galangal contains about 1% of essential oil that yellow greenery in colored, unique smell, quite bitter and cooling tongue. Metil sinamat 48%, cineoi 20%-30%, kamfer, d-alfa-pinen, galangal, kamfor, gallangol, sesuiterpene, kadinena, hidrates. One of the essential compound is eugenol. This study was aimed to determine the influence of galangal rhizomes extract concentration to the growth of fungi (Trichophyton rubrum) by counting the number of colonies which growing on PDA (Potato Dextrose Agar) media. Method of this study is quasi experiment, sampling technique by using purposive sampling. The sample used in this research is isolated Trichophyton rubrum. Each galangal rhizomes extract experienced by 6 treatments by using DMSO (Dimethyl Sulfoxide) as solvent for consentration 0,05%, 0,06%, 0,07%, 0,08%, 0,09% and 0,1%. Inhibitory test of galangal rhizomes extract have been done by using dilution method, with suspended Trichophyton rubrum by counting the amount of Trichophyton rubrum colonies on each petridish based on certain concentration. Fungi colonies number on each petridish reported in CFU unit (Colony Forming Unit). Based on results, it can be concluded that 0,1% galangal extract had potency to inhibit the growth of Trichophyton rubrum. Data analyzed by using regression test showed that there was an influence of galangal extract concentration to the growth of Trichophyton rubrum which obtained p value=0,000 in 95% confidential level (p=0,00 < 0,05) by meaning that each galangal extract concentration gave effect on Trichophyton rubrum boost.Abstrak: Lengkuas adalah tumbuhan yang berkhasiat obat yang dapat digunakan sebagai obat anti jamur karena mengandung minyak atsiri. Minyak atsiri  pada lengkuas memiliki kandungan 1% yang berwarna kuning kehijauan dan berbau khas dan memberikan rasa pahit dan mendinginkan lidah. Metil sinamat 48%, cineoi 20%-30%, kamfer, d-alfa-pinen, galangal, kamfor, gallangol, sesuiterpene, kadinena, hidrates. Salah satu komponen senyawa yang banyak terdapat di dalam minyak atsiri adalah senyawa eugenol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh konsentrasi dari ekstrak rimpang lengkuas terhadap pertumbuhan jamur Trichophyton rubrum dengan melihat jumlah koloni yang tumbuh pada media PDA (Potato Dextrose Agar). Metode penelitian ini adalah eksperimental semu, teknik pengambilan sampel dengan cara purposive sampling.Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah isolat Trichophyton rubrum. Masing-masing ekstrak rimpang lengkuas dilakukan dengan 6 perlakuan dengan menggunakan DMSO (Dimethyl Sulfoxide) sebagai pelarut pada konsentrasi 0,05%, 0,06%, 0,07%, 0,08%, 0,09%, 0,1%. Uji daya hambat ekstrak rimpang lengkuas dilakukan menggunakan metode dilusi, dengan suspensi jamur Trichophyton rubrum. dengan cara menghitung jumlah koloni jamur Trichophyton rubrum pada masing-masing petridish berdasarkan konsentrasi. Jumlah koloni jamur pada setiap petridish dilaporkan dalam satuan CFU (Colony Forming Unit). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak rimpang lengkuas pada konsentrasi 0,1% sudah dapat menghambat pertumbuhan jamur Trichophyton rubrum. Analisa data dengan menggunakan uji Regresi menunjukkan terdapat pengaruh pada konsentrasi ekstrak rimpang lengkuas terhadap pertumbuhan jamur Trichophyton rubrum dengan nilai p = 0,00 pada tingkat kepercayaan 95% (p=0,00 < 0,05) yang artinya terdapat pengaruh pada tiap konsentrasi ekstrak rimpang lengkuas terhadap pertumbuhan jamur Trichophyton rubrum.
Perbedaan Konsentrasi Ekstrak Jahe Merah dan Jahe Putih terhadap Daya Hambat Pertumbuhan Candida Albicans Maulidiyah Salim; Suwono Suwono; Tessa Siswina
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 1 (2017): November 2017
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i1.101

Abstract

Abstract: Ginger is a plant that can be used as an antifungal drug because it contains active substances such as limonene, caprylic-acid and gingerol. The famous those varieties are red and white ginger. This study was aimed to determine the difference of concentration between red rhizome-ginger extract and white ginger to the inhibitory potency of C.albicans fungus by looking at the number of growth colonies on PDA media. This research method was quasi-experimental, sampling technique by purposive sampling. Each red and white ginger ethanol extract was performed with 10 treatments using DMSO (Dimethyl Sulfoxide) as a solvent in concentrations of 2, 4%, 6%, 8%, 10%, 12%, 14%, 16%, 18 % and 20%. The inhibitory test of red and white ginger ethanol extracts was carried out by using dilution method, with a mushroom suspension of Candida albicans isolate adapted to Mc Farland’s turbidity standard of 0.5. Based on the result, it was determined that value of KMB (Minimum Kill Content) red ginger extract start at 4% concentration and white ginger extract start at 6%. Independent t-Test test results obtained p = 0,025. From this research, it can be concluded that there were different concentrations of red and white ginger extract in inhibiting the growth of Candida albicans fungus. Abstrak: Jahe adalah tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat antijamur karena mengandung zat aktif limonene, caprilic-acid dan gingerol. Varietas yang terkenal yaitu jahe merah dan jahe putih. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan konsentrasi ekstrak rimpang jahe merah dan jahe putih terhadap daya hambat jamur C.albicans dengan melihat jumlah koloni yang tumbuh pada media PDA. Metode penelitian ini adalah eksperimental semu, teknik pengambilan sampel dengan cara purposive sampling. Masing-masing ekstrak etanol jahe merah dan jahe putih dilakukan dengan 10 perlakuan dengan menggunakan DMSO (Dimethyl Sulfoxide) sebagai pelarut pada konsentrasi 2%, 4%, 6%, 8%, 10%, 12%, 14%, 16%, 18% dan 20%. Uji daya hambat ekstrak etanol jahe merah dan jahe putih dilakukan menggunakan metode dilusi, dengan suspensi jamur dari isolat Candida albicans yang disesuaikan dengan standar kekeruhan Mc Farland 0,5. Berdasarkan hasil penelitian diketahui nilai KMB (Kadar Bunuh Minimum) ekstrak jahe merah mulai pada konsentrasi 4% dan ekstrak jahe putih mulai pada 6%. Hasil uji Independent t-Test didapatkan hasil p = 0,025. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan konsentrasi ekstrak jahe merah dan jahe putih dalam menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans.
Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Rimpang Kencur (Kaempferia Galanga L.) terhadap Pertumbuhan Jamur Candida Albicans dengan Metode Dilusi Eka Aprilianti Aprilianti; Maulidiyah Salim; Sri Tumpuk
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 2, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v2i2.329

Abstract

Abstract:  The lesser galangar rhizome is the root of stay that is branched off and attached to root tuber. Rhizome lesser galangar partly located on the ground. The active ingredient in rhizome lesser galangar are flavonoids are used as an antifungi and can cure diseases by the fungus Candida albicans. The purpose of this research is to know the effect of lesser galangar rhizome extract concentration (Kaempferia galanga L.) to the growth of Candida albicans fungus with dilution method. The research method is experimental. The sample used is the concentration of kencur rhizome extract consisting of 1%, 2%, 3%, 4%, 5%, 6%, 7%, 8%, 9%, 10%. Result of research from 10 concentrations of lesser galangar rhizome with dilution method can know the lowest of bacteria colonies that is concentration 4%, 5%, 6%, 7%, 8%, 9%, 10% that is 0 colony with 100% percentage while number of colony The highest bacteria is 1% concentration of 85 colonies with the percentage of 20.56%. At 4% concentration is the effective concentration of rhizome extract lesser galangar, because it can be a minimum concentration that provides a very strong inhibition of growth. Spearman’s analysis, obtained value  (p = 0,00 <0,05) then Ha accepted, mean there is influence of rhizome extract concentration (Kaempferia galanga L.) to growth of Candida albicans fungi. Abstrak: Rimpang kencur merupakan akar tinggal yang bercabang halus dan menempel pada umbi akar. Rimpang kencur sebagian lagi terletak di atas tanah. Zat aktif dalam rimpang kencur yaiu flavonoid yang digunakan sebagai anti jamur dan dapat menyembuhkan penyakit oleh jamur Candida albicans. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ekstrak rimpang kencur (Kaempferia galanga L.) terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans dengan metode dilusi. Metode penelitian berbentuk eksperimental semu. Sampel yang digunakan adalah konsentrasi ekstrak rimpang kencur yang terdiri dari 1%, 2%, 3%, 4%, 5%, 6%, 7%, 8%, 9%, 10%. Hasil penelitian dari 10 konsentrasi rimpang kencur dengan metode dilusi dapat diketahui jumlah koloni bakteri yang terendah yaitu konsentrasi 4%, 5%, 6%, 7%, 8%, 9%, 10% yaitu sebesar 0 koloni dengan persentase 100% sedangkan jumlah koloni bakteri tertinggi yaitu konsentrasi 1% sebesar 85 koloni dengan persentase 20,56%. Pada konsentrasi 4% merupakan konsentrasi efektif ekstrak rimpang kencur, karena dapat merupakan konsentrasi minimum yang memberikan daya hambat pertumbuhan yang sangat kuat. Analisis Spearman’s, didapatkan nilai (p = 0,00 < 0,05) maka Ha diterima, berarti terdapat pengaruh kon
Perbedaan Kadar Glukosa Darah 2 Jam Post Prandial Linda Triana; Maulidiyah Salim
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 1 (2017): November 2017
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i1.97

Abstract

Abstract: One of the simple carbohydrates is glucose that acts as the main energy producer. The function of the body will be felicitous when blood glucose levels are within normal limits. Glucose removal levels are considered normal if glucose levels return to normal within 2 hours after it rises in the first hour. If the blood glucose level within 2 hours after given fed is abnormal, it can be done by Oral Glucose Tolerance Test to get additional information about the presence of carbohydrate metabolism disorders. This study was aimed to determine the difference of blood glucose levels within 2 hours postprandial between samples who given fed with loads of 75 grams glucose. The type of research used in this research was analytic observational with comparative study approach. Samples obtained 33 samples with treatment 4 times in each sample. The method used in this research was an enzymatic method. The results of this study showed the average blood glucose level within 2 hours postprandial which given fed with loads was 10.10% while the average measurement of blood glucose level within 2 hours postprandial loaded with 75 grams glucose was 7.61%. T-test obtained t value of 1.092 with a significant level at p = 0.284 (p> 0.05) so the conclusion there was no difference of blood glucose level within 2 hours postprandial between who given fed with loads of 75-gram glucose.Abstrak: Salah satu karbohidrat sederhana adalah glukosa yang berperan sebagai penghasil energi utama. Fungsi dari tubuh akan menjadi sangat baik apabila kadar glukosa darah berada pada batas yang normal. Kadar pembuangan glukosa dianggap normal jika kadar glukosa kembali normal dalam waktu 2 jam setelah kenaikan pada 1 jam pertama. Apabila kadar glukosa darah dalam waktu 2 jam setelah makan abnormal, maka dapat dilakukan Tes Toleransi Glukosa Oral untuk mendapatkan keterangan tambahan tentang adanya gangguan metabolisme karbohidrat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar glukosa darah 2 jam post prandial antara yang diberi beban makanan dengan beban glukosa 75 gram. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan comparative study. Sampel didapatkan 33 sampel dengan perlakuan 4 kali pada setiap sampelnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode enzimatik. Hasil penelitian ini menunjukan rata-rata kadar glukosa darah 2 jam post prandial yang diberi beban makanan yaitu 10,10% sedangkan hasil pengukuran rata-rata kadar glukosa darah 2 jam post prandial yang diberi beban glukosa 75 gram yaitu 7,61%. Uji T-test didapatkan nilai t hitung sebesar 1,092 dengan tingkat signifkan pada p = 0,284 (p>0,05) sehingga Ha ditolak dengan kesimpulan tidak ada perbedaan kadar glukosa darah 2 jam post prandial antara yang diberi beban makanan dengan beban glukosa 75 gram.
Potensi Toksisitas Akut Ekstrak Etanol Daun Pepaya terhadap Larva Artemia Salina Leach dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test Novia Wahyu Lestari; Maulidiyah Salim; Linda Triana
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 2, No 1 (2018): November 2018
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v2i1.320

Abstract

Abstract: Papaya tree is one of the medicinal plant types which advantages for traditional medicine. The flavonoid, alkaloid and saponin were the compounds of papaya leaves. There potentially as cytotoxic for certain levels. The purpose of this research is to determine the potency cytotoxic ethanol extract papaya leaves against Artemia salina Leach larvae using Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) method. Research method by quasi experimental, and purposive sampling used 360 Artemia salina Leach larvae divided to 5 groups treatment. Each group contains 15 larvaes. Each group is done by the replication of research for 4 times. The extract concentration are 1000, 750, 500, 250, 100 and 0 µg/ml as a negative control. Data have been obtained by calculating amount of died larvae 24 hours after treatment. Mean percentage larvae death in the concentration of 1000, 750, 500, 250, 100 and 0 µg/ml consecutively were 95%, 78,33%, 53,33%, 36,67%, 21,67% and 0%. Through the data, LC50 value was analyzed by probit analysis using Microsoft offce excel. The higher of extract concentration cause higher percentage death of the larvae. This result shows that LC50 value of ethanol extract of papaya leaves is 285,693 µg/ml (less than 1000 µg/ml). The conclusion is the ethanol extract of papaya leaves had acute toxicity potency against Artemia salina Leach larva according to Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Abstrak: Tanaman pepaya merupakan satu diantara jenis tanaman obat yang umum dimanfaatkan oleh masyarakat secara empiris untuk pengobatan secara tradisional. Tanaman ini mengandung senyawa flavonoid, alkaloid dan saponin. Senyawa tersebut diduga berpotensi sebagai sitotoksik pada kadar tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi sitotoksik ekstrak etanol daun pepaya (Carica papaya L.) terhadap larva Artemia salina Leach dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Metode penelitian ini berbentuk eksperimental semu dengan menggunakan 360 ekor larva Artemia salina Leach yang dibagi dalam 5 kelompok perlakuan. Tiap kelompok terdiri dari 15 ekor. Tiap kelompok dilakukan pengulangan percobaan 4 kali. Konsentrasi ekstrak berturut-turut adalah 1000, 750, 500, 250, 100 dan 0 µg/ml sebagai kontrol negatifnya. Data diperoleh dari menghitung jumlah larva yang mati 24 jam setelah perlakuan. Rata-rata persentase kematian larva pada konsentrasi 1000, 750, 500, 250, 100 dan 0 µg/ml berturut-turut adalah 95%, 78,33%, 53,33%, 36,67%, 21,67% dan 0%. Berdasarkan data, LC50 ekstrak etanol daun pepaya ditentukan dengan analisis probit menggunakan Microsoft offce excel. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak menyebabkan semakin tinggi persentase kematian larva. Hasil penelitian ini menunjukkan harga LC50 dari ekstrak etanol daun pepaya adalah 285,693 µg/ml (kurang dari 1000 µg/ml). Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun pepaya memiliki potensi toksisitas akut terhadap larva Artemia salina Leach dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT).
Hubungan Kadar Kolesterol Total Dan Hipertensi Dengan Kejadian Penyakit Jantung Koroner DI RSUD dr. Soedarso Pontianak Laila Kamila; Maulidiyah Salim
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 2 (2018): Mei 2018
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i2.144

Abstract

Abstract: Coronary heart is a disease that offense to blood vessels and heart attack due to constriction of blood vessels. A high level of cholesterol in blood or exceeds the normal limit can form sediment in wall of blodd vessels which cause blood vessels constriction or blockage. This research object to determine whether there is a correlation between cholesterol level total and hypertension with coronary heart disease in patients who hospitalized in Regional Public Hospital of dr. Soedarso Pontianak. This study was used cross sectional design, purposive sampling technique, it gained 50 people as samples. The measurement of blood pressure was done in heart poly and cholesterol total level in clinic laboratory of Regional Public Hospital of dr. Soedarso by using enzymatic CHOD-PAP method. It can be obtained that 10 people had hypertension and 40 people did not.the average of total cholesterol was 224 mg/dl. Maximum value of total cholesterol was 224 mg/dl and 152 mg/dl as minimum value. Data has been analyzed by using statistical test, Chi-Square, to determine the correlation of total cholesterol wit coronary heart disease, obtained p value=0,024 (less than α=0,05). Correlation of hypertension and coronary heart disease gained p value=0,923 (more than α=0,05), it can be concluded that total cholesterol correlated with coronary heart disease, and there was not a correlation between hypertension and coronary heart disease.Abstrak: Jantung koroner adalah penyakit yang  menyerang pembuluh darah dan serangan jantung, karena penyempitan pada pembuluh darah. Kadar kolesterol yang tinggi dalam darah melebihi normal dapat membentuk endapan pada dinding pembuluh darah sehingga menyebabkan penyempitan dan tersumbatnya pembuluh darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar kolesterol total dan hipertensi dengan penyakit jantung koroner pada pasien di RSUD dr. Soedarso Pontianak. Disain penelitian  ini menggunakan cross sectional, teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling, didapat jumlah sampel 50 orang. Pengukuran Tensi Darah dilakukan di poli Jantung dan pemeriksaan kadar kolesterol total di laboratorium klinik RSUD dr. Soedarso Pontianak dengan metode enzimatik CHOD-PAP. Hasil penelitian didapatkan 10 orang mengalami hipertensi dan 40 orang non hipertensi. Rata-rata kadar kolesterol total 224 mg/ dl. Nilai maksimum kadar kolesterol total yaitu 224 mg/dl dan nilai minimum yaitu 152 mg/dl. Analisa data dengan uji statistik Chi-square untuk mengetahui hubungan kolesterol total dengan penyakit jantung koroner didapatkan nilai p = 0,024 (lebih kecil dari  α 0,05). Uji hubungan hipertensi dengan penyakit jantung koroner didapat nilai p = 0,923 (lebih besar dari α 0,05), dapat disimpulkan terdapat hubungan kadar kolesterol total dengan penyakit jantung koroner dan tidak ada hubungan hipertensi dengan penyakit jantung koroner.
Perbedaan Variais Waktu Rendaman Daun Bayam Merah (Amaranthus gangeticus) Pada Pemeriksaan Telur Cacing Nematoda Usus Sebagai Pewarnaan Alternatif Pengganti Eosin Djohan, Herlinda; Pratama, Victorinus Alfino; Salim, Maulidiyah
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 4, No 2 (2021): Mei 2021
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v4i2.944

Abstract

Antosianin termasuk dalam golongan flavonoid, dimana inti dasar dari flavonoid ialah inti flavan, yang terdiri atas dua cincin aromatik yang dihubungkan oleh tiga karbon Flavonoid mampu menghambat sintesa asam nukleat, sebagai DNA diperlukan dalam sintesa atau pembentukan protein, yang sangat diperlukan untuk proses perkembangan dan pertumbuhannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan perbedaan variasi waktu rendaman daun bayam merah (Amaranthus gangeticus) pada pemeriksaan telur cacing nematoda usus sebagai perwama alternatif pengganti eosin. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekperimen semu. Teknik sampling yang digunakan purposive sampling Sampel pada penelitian ini berjumlah 27 sampel. Berdasarkan uji statistik Fixher Exact yang telah dilakukan pada hasil perwamaan telur cacing menggunakan perwarna alternatif daun bayam merah dan eosin 2% di peroleh hasil pada rendaman daun bayam merah 24,36 dan 48 jam di dapat hasil sebesar 0,00 dimana hasil signifikansi tersebut a 0,05 yang menyatakan terdapat perbedaan antara rendaman daun bayam merah dengan cosin 2% dalam mewarnai telur cacing.
HUBUNGAN SEKS BEBAS DENGAN KEJADIAN SIFILIS DI WILAYAH KERJA PUSKEMAS KOM YOS SUDARSO KOTA PONTIANAK Dj, Herlinda Djohan; Sutriswanto, Sutriswanto; Nurhayati, Etiek; Ratika, Meila; Salim, Maulidiyah
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 7, No 2 (2024): Mei 2024
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v7i2.1347

Abstract

Syphilis, also known as "the lion king", is an STI (Sexually Transmitted Infection), a disease caused by infection with the Treponema Pallidum bacteria. It is chronic and chronic. This is a dangerous disease because it can attack all organs of the body. This research was conducted at the Kom Yos Sudarso Pontianak Community Health Center because the Community Health Center is a referral health center for syphilis examinations and the respondents were people who were caught by field officers who allowed free sex.               This study aims to find out who suffers from syphilis among respondents who engage in casual sex, as well as finding out the percentage of syphilis incidents in people who engage in casual sex and to find out the relationship between casual sex and the incidence of syphilis in the work area of the Kom Yos Sudarso Community Health Center, Pontianak City.               This research design uses cross sectional with random sampling technique. The samples used were 123 patient blood samples using the TP Rapid method.               Based on the results of the research conducted, casual sex and the incidence of syphilis were obtained. The results of analysis using the chi square test using Continuity Correctionb obtained a value of p = 0.021 < 0.05, so HA was accepted so that there was a significant relationship between casual sex and the incidence of syphilis in the work area of the Community Health Center. Yos Sudarso, Pontianak City.
Daya Hambat Perasan Bawang Dayak (Eleutherine Palmifolia (L.) Merr) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Stapylococcus aureus Metode Difusi Kamilla, Laila; Tumpuk, Sri; Salim, Maulidiyah
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 5, No 2 (2022): Mei 2022
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v5i2.977

Abstract

Traditional medicine is an ingredient that can be derived from plants, animals, minerals, preparations of extract (galenic) or a mixture of these materials which have been used for generations for treatment. The use of medicinal plants as traditional medicine has many advantages. It is easy to obtain because the raw materials can be grown and mixed by yourself, so it is cheaper. People also consider traditional medicine to be safer than chemical drugs because the side effects are relatively smaller.One of the plants that have been used as traditional medicine is the Dayak onion. Dayak onion (Eleutherine americana L. Merr) is empirically used by local people in Kalimantan as a traditional medicinal plant. Dayak onions can be used as raw materials for medicine because they contain active compounds in the form of alkaloids, glycosides, flavonoids, phenolics, triterpenoids or steroids and anthraquinones which have been known as medicinal raw materials. Until now, the Dayak onion plant is used for the treatment of colon cancer, breast cancer, diabetes mellitus, hypertension, lowering cholesterol, stroke, stomach pain medication after childbirth and ulcer medicine.This study aims to determine the inhibition of Dayak onion (Eleutherine americana L. Merr) on the growth of Stapylococcus aureus bacteria by diffusion method. The research design was a quasi-experimental. The population of Dayak onion bulbs. As a sample of Dayak onion bulbs made in concentrations of 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, and 100%. With the formula of Randomized Block Design (RAK), 30 samples were obtained. Antimicrobial testing using the diffusion method.The results obtained were resistant at a concentration of 10% - 60% (inhibition zone < 9 mm) and a concentration of 70-90% intermediate (inhibition zone 10-11) and a concentration of 100% sensitive (inhibition zone > 12). After being analyzed statistically using the Kruskal-Wallis test, a significant asymp value was obtained. sig = 0.001 < 0.050. It was concluded that there was an effect of the juice of the Dayak onion (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) in inhibiting the growth of Stapylococcus aureus bacteria.
Pengaruh Lama Perendaman Arang Aktif Cangkang Kelapa Sawit Terhadap Kadar Cod (Chemical Oxygen Demand) Pada Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Ratnawati, Gervacia Jenny; Triana, Linda; Lia, Sestriana; Salim, Maulidiyah
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 6, No 1 (2022): November 2022
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v6i1.1125

Abstract

Limbah cair dari industri kelapa sawit mengandung Chemical Oxygen Demand (COD) yang tinggi, sehingga apabila dibuang ke lingkungan akan memberikan dampak negatif, yaitu berkurangnya kadar oksigen terlarut dalam air. Pengolahan limbah cair kelapa sawit saat ini hanya menggunakan sistem kolam terbuka, akan tetapi sistem kolam terbuka memiliki kekurangan karena memerlukan lahan yang sangat luas untuk pembuatan kolam limbah dan memerlukan waktu yang lama untuk proses pengolahannya, sehingga diperlukan suatu metode yang efektif untuk pengolahan limbah tersebut, salah satunya adalah metode adsorpsi menggunakan arang aktif cangkang kelapa sawit.  Desain penelitian ini berbentuk Pre- experimental design dengan metode close refluks secara spektrofotometri. Hasil penelitian diperoleh pada 100 ml limbah cair pabrik kelapa sawit yang dikontakkan dengan arang aktif cangkang kelapa sawit dengan dosis adsorben 2 gram selama 40, 80, 120, 160 dan 200 menit didapatkan nilai persentase penurunan kadar COD sebesar 40,30%, 49,08%, 46,57%, 13,78% dan 5,84%. Berdasarkan hasil uji Regresi Lininer Sederhana diperoleh nilai signifikan p = 0,002 (p < 0,05) sehingga Ha diterima yang artinya ada pengaruh lama perendaman arang aktif cangkang kelapa sawit terhadap kadar COD (Chemical Oxygen Demand) pada limbah cair pabrik kelapa sawit.