Claim Missing Document
Check
Articles

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perubahan Identitas Kota di Kawasan Kota Tua Muara Tebo Kabupaten Tebo Provinsi Jambi Adrian, Moh.; Setioko, Bambang
JURNAL PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA Vol 13, No 4 (2017): JPWK Vol 13 No 4 December 2017
Publisher : Magister Pembangunan Wilayah dan Kota,Undip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (988.574 KB) | DOI: 10.14710/pwk.v13i4.18265

Abstract

The existence of the town can not be separated from its identity, that all the city has a different identity, both positive and negative. The identity of a city is unique conditions and characteristics that distinguish it from other cities. Kota Tua Tebo has an identity with the history of its existence, but because of the policy direction of the development of the City Tebo, the region began to change the identity of the city that are currently physically known only as the old market area and non-physical only a region that is not known as Tebo city beginning. The approach used in this study is a quantitative deductive rationalistic by using descriptive analysis of empirical and statistical factor analysis. Factors affecting the change of identity of the city in the Old Town area Tebo Tebo dtemukan 2 (two) factors, namely physical (organization of space) and non-physical factors (activity and policy space), and 10 (ten) identity factor town. Recommendation is to pay attention and consider each development policy based on the condition of attachment, attention to the development of the city in the future and visual character of the area.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Area Pinggiran (Studi Kasus: di Kecamatan Karanganyar Sebagai Ibukota Kabupaten Karanganyar) Baiquni, M. Irsyad; Setioko, Bambang
JURNAL PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA Vol 10, No 4 (2014): JPWK Vol 10 No 4 December 2014
Publisher : Magister Pembangunan Wilayah dan Kota,Undip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.625 KB) | DOI: 10.14710/pwk.v10i4.8170

Abstract

Urban population growth, has resulted in an increased need for land as well. Due to limited land in urban areas, the development will be expanded in the fringe area. Karanganyar sub district as the district capital of Karanganyar district is the center of government and serves as urban, has a fairly extensive undeveloped land. But the phenomenon occurred housing development and new settlements, in the fringe area. So need to know what the cause of the growth. One way is by looking for any factors that affect the growth of fringe areas in the Karanganyar sub district as the capital of district. This study uses a quantitative deductive method. Sampling using random sampling techniques, taken from stakeholders of the growth of fringe areas in the Karanganyar sub district. The analysis was done by descriptive analysis to describe urban areas and fringe areas, and quantitative analysis through factor analysis. The results showed there were five (5) factors affecting the growth of fringe area in the Karanganyar sub district as the capital of district, namely an availability of social facilities, an service, an economic and environmental, an ease, and a comfort factors.
PENGGUNAAN METODA GROUNDED THEORY DIBAWAH PAYUNG PARADIGMA POSTPOSITIVISTIK PADA PENELITIAN TENTANG FENOMENA SOSIAL PERKOTAAN Setioko, Bambang
MODUL Volume 11, Nomer 1, Tahun 2011
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1026.527 KB) | DOI: 10.14710/mdl.11.1.2011.%p

Abstract

Berkembangnya penelitian dibawah payung paradigma post-positivistik tentang fenomena sosial perkotaan akhir-akhir ini, merupakan pertanda akan munculnya teori teori baru bercirikan local wisdom (kearifan lokal) mengakhiri kemandekan perkembangan ilmu pengetahuan akibat ketidak tepatan penggunaan pola pikir eksakta dalam menterjemahkan pengetahuan sosial. Tidak sebagaimana penelitian dengan menggunakan paradigma positivistik yang diawali dengan penyusunan hipotesis, proses teorisasi data dengan model grounded theory diawali dengan meng-koding fenomena diskrit, dilanjutkan dengan membangun konsep sebagai dasar untuk menyusun kategori dan proposisi, dan berakhir dengan terbangunnya teori substantif. Teori dalam metode grounded theory berperan sebagai background knowledge (latar pengetahuan) yang akan meningkatkan theoritical sensitivity (kepekaan teori), namun bukan sebagai frame work (kerangka pikir). Tulisan ini mengungkap penggunaan metoda grounded theory dalam gugus paradigma post-positivistik, yang bertujuan untuk mengungkap fenomena sosial perkotaan di Indonesia yang semakin kompleks, yang tentu saja sulit untuk diungkap dengan metode lain. Kata Kunci: paradigma post-positivistik, kearifan lokal, latar pengetahuan, teori substantif.
Faktor Pembentuk Karakteristik Permukiman Bontang Kuala Kota Bontang Kalimantan Timur M, Suparman; Setioko, Bambang; Murtini, Titien Woro
MODUL Vol 14, No 2 (2014): MODUL Volume 14 No.2 Tahun 2014
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.686 KB) | DOI: 10.14710/mdl.14.2.2014.71-78

Abstract

Permasalahan permukiman adalah permasalahan yang selalu ada dan terus meningkat mengikuti pertumbuhan penduduk, dinamika kependudukan dan tuntutan sosial ekonomi yang semakin maju. Perkembangan permukiman yang tidak berdasar teori perencanaan permukiman akan menjadikan permukiman tersebut tidak bisa memenuhi kebutuhan kenyamanan bagi penghuninya.Seperti halnya permukiman yang tumbuh di Kawasan Permukiman Apung Nelayan Bontang Kuala – Kalimantan Timur.Pada permukiman settle pola pertumbuhan permukiman secara visual terlihat tertata dengan baik. Sedangkan pola pertumbuhan permukiman yang berkembang setelah tahun 2009 disini tumbuh secara sporadis muncul dimana-mana bahkan semakin menjorok kelaut sehingga akan mengganggu kestabilan ekosistem.Fenomena ini yang membuat peneliti tertarik untuk mengetahui faktor-faktor pembentuk karakteristik permukiman nelayan Bontang Kuala. Dengan metode penelitian deductive – kualitative – rasionalistik peneliti mengumpulkan berbagai variable – variable factor tentang karakteristik permukiman nelayan untuk di uji cobakan di Permukiman Nelayan Bontang Kuala – Kota Bontang Kalimantan Timur. Hasil dari analisa faktor-faktor pembentuk karakteristik permukiman Bontang Kuala menunjukan korelasi yang kuat antara permukiman lama dengan permukiman baru. Secara rinci faktor-faktor dominan yang signifikan menjadi faktor pembentuk karakteristik pada permukiman lama adalah persepsi dan kognisi,sikap dan keturunan,aktifitas ekonomi social dan budaya,fisik,legibility,transportasi dan air bersih serta pengolahan limbah yang baik.Sedangkan factor – factor pembentuk karakteristik pada permukiman baru adalah sikap dan motivasi,budaya dan kekerabatan,aktifitas ekonomi,sarana dan legibility serta factor fisik dan kognisi.
KONSEP KEARIFAN LOKAL PADA PERTUMBUHAN KAWASAN PINGGIRAN KOTA Setioko, Bambang
MODUL Volume 13, Nomer 2, Tahun 2013
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.099 KB) | DOI: 10.14710/mdl.13.2.2013.89-94

Abstract

Pertumbuhan kawasan pinggiran kota telah menjadi fenomena dunia, menyebabkan kota berkembang tanpa batas. Fisik kota dengan cepat tumbuh dan berkembang kearah horisontal dengan skala gigantis, mengokupasi kawasan pedesaan disekitarnya. Pertumbuhan kota tidak lagi berlangsung di pusat kota tetapi berpindah ke kawasan pinggiran. Morfologi kota mengalami metamorfosa menyebabkan terjadinya inverted metropolis dimana inti kota berciri marjinal, sebaliknya kawasan pinggiran berciri sentral. Bentukan fisik sebuah kota merupakan kumpulan urban artefacts hasil sejarah panjang proses pembentukannya selalu mempunyai ke-unik-an. Oleh karenanya dalam upaya “membaca” bentuk kota dan menelaah proses pertumbuhan kota diperlukan pemahaman pada nilai lokal. Pada hakekatnya kota merupakan konfigurasi spasial dari struktur sosial dan budaya masyarakatnya. Pendekatan yang paling sesuai untuk dapat dipakai dalam mengelola pertumbuhan kota haruslah berbasis pada nilai lokal. Fragmentasi ruang perkotaan dikawasan pinggiran ternyata tidak diikuti dengan segmentasi struktur sosial pelaku ruang, yang justru menyatu. Masyarakat kawasan pinggiran mempunyai karakter saling tergantung (interdependensi) dan berciri kekerabatan. Interdependensi di bidang ekonomi menciptakan koeksistensi antar pelaku ruang dan merupakan embrio tumbuhnya struktur sosial yang terintegrasi. Aspek tersebut merupakan bahan utama terbangunnya konsep kearifan lokal pada pertumbuhan kawasan pinggiran.
KAJIAN TATANAN RUANG TERBUKA HIJAU TERHADAP KONSEP KAMPUS HIJAU DI KAMPUS UNIVERSITAS DIPONEGORO TEMBALANG Purwanto, Edi; Setioko, Bambang
MODUL Vol 18, No 1 (2018): MODUL vol 18 no 1 tahun 2018 (8 articles)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (787.034 KB) | DOI: 10.14710/mdl.18.1.2018.9-16

Abstract

Universitas Diponegoro dinobatkan sebagai kampus hijau oleh Greenmetrics tahun 2014 dengan nomer urut 5 dari 10 universitas lainnya di Indonesia. Pada tahun 2015 Indonesia menempatkan tiga kampus yang masuk 50 besar kampus hijau terbaik dunia, yakni Universitas Indonesia pada peringkat 33, kemudian Institut Pertanian Bogor peringkat 36 dan disusul Universitas Diponegoro pada peringkat 44.Untuk tahun 2016, tingkat nasional, Universitas Indonesia (UI) ada di peringkat 31 (1), diikuti oleh Institut Teknologi Sepuluh November di peringkat 43 (2), Institut Pertanian Bogor di peringkat 57 (3), Universitas Diponegoro ada di peringkat 69 (4), dan Universitas Sebelas Maret di peringkat 76 (5). UI GreenMetric merupakan sistem pemeringkatan perguruan tinggi pertama di dunia yang basis penilaian utamanya adalah komitmen perguruan-perguruan tinggi dalam pengelolaan lingkungan hidup kampus. Indikator yang dipergunakan adalah statistik kehijauan kampus (15%), pengelolaan sampah (18%), energi dan perubahan iklim (21%), penggunaan air (10%), transportasi (18%), dan pendidikan (18%). Tujuan penelitian adalah melakukan kajian dan analisis tatanan ruang terbuka hijau sebagai salah satu indikator terhadap keberlangsungan kampus Universitas Diponegoro yang berkonsep kampus hijau.Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif, penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya.Hasil Penelitian menghasilkan kajian tatanan ruang hijau berdasarkan aspek fungsional, aspek fisik dan non fisik, dan aspek lingkungan/ekologis.Kajian Tatanan ruang terbuka hijau terhadap konsep kampus hijau di Kampus Universitas Diponegoro Tembalang diharapkan akan menghasilkan rumusan guna keberlangsungan kampus Universitas Diponegoro sebagai kampus berkonsep hijau dimasa yang akan datang..  
TRANSFORMASI BENTUK DAN POLA RUANG KOMUNAL DI KOTA LAMA SEMARANG Setioko, Bambang; Harsritanto, Bangun IR
MODUL Vol 17, No 1 (2017): MODUL vol 17 nomor 1 tahun 2017 (8 articles)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.587 KB) | DOI: 10.14710/mdl.17.1.2017.11-16

Abstract

Pembentukan citra sebuah kawasan kota tua tidak hanya sekedar dilihat dari kualitas fisik bangunannya saja, akan tetapi juga dilihat dari kualitas fisik lingkungan yang diikuti dengan fungsi sosial lingkungan. Fungsi sosial lingkungan ini dapat terwujud dalam bentuk ruang komunal.Ruang komunal di kota lama Semarang adalah taman srigunting (yang sebelumnya merupakan permakaman, halaman gereja, tempat pedagang kaki lima) dan polder tawang (yang sebelumnya halaman stasiun, terminal, lapangan sepakbola. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan/transformasi ruang komunal di kawasan Kota Lama Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk untuk memperkaya teori transformasi spasial yang berkaitan dengan bentuk dan pola ruang komunal. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Selain itu, metode pengolaan data dilakukan dengan metode studi kasus dan analisa deskriptif kualitatif.Berdasarkan hasil analisis penelitian, ditemukan bahwa terjadi transformasi bentuk dan pola ruang komunal di Kota Lama Semarang. Kemudian, transformasi tersebut terjadi pada beberapa hal, yaitu: fungsi, bentuk, sirkulasi,aktivitas, dan identitas ruang komunal.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEJALAN KAKI DALAM MEMILIH LOKASI PENYEBERANGAN JALAN DI KAWASAN MALIOBORO YOGYAKARTA Iswanto, Budi; Setioko, Bambang
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 16, No 2 (2020): JPWK Vol 16. No. 2 June 2020
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v16i2.26143

Abstract

Penelitian ini bertujuan menemukan faktor utama/dominan yang mempengaruhi keputusan pejalan kaki dalam memilih lokasi penyeberangan di kawasan Malioboro ditinjau dari perilaku pejalan kaki. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode analisis yang digunakan adalah analisis faktor dengan metode Principal Component Analysis (PCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 (tiga) faktor dari hasil reduksi 13 (tiga belas) variabel terpilih. Ketiga faktor ini mampu menjelaskan sebesar 58,295% dari seluruh total varian. Faktor I sebagai faktor dominan mampu menjelaskan sebesar 23,119% dari variabel keseluruhan adalah Faktor Kepuasan terhadap Keselamatan dan Kemudahan. Hal ini sesuai dengan pendapat Porteous bahwa jika obyek menghasilkan tingkat kepuasan yang tinggi dari perilaku terhadap obyek stimulus, obyek tersebut akan lebih disukai dan sikap terhadap obyek tersebut menjadi positif dan kuat. Dari faktor dominan yang ditemukan menunjukkan bahwa perlunya meningkatkan kepuasan pejalan kaki terkait keselamatan dan kemudahan ketika menyeberang jalan. Penguatan regulasi tentang penyeberangan jalan mampu membantu penyeberang jalan mendapatkan kemudahan dan keselamatan ketika berinteraksi dengan pengendara kendaraan saat menyeberang jalan. Selain itu diperlukan juga penambahan marka zebra cross antara Pasar Beringharjo hingga Nol Kilometer, menambah jumlah lampu sinyal penyeberangan dan melakukan pemeliharaan berkala, menyediakan aktivitas pendukung di sekitar ruang tunggu penyeberangan dan menaikkan elevasi jalur penyeberangan mendekati elevasi trotoar.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEJALAN KAKI DALAM MEMILIH LOKASI PENYEBERANGAN JALAN DI KAWASAN MALIOBORO YOGYAKARTA Iswanto, Budi; Setioko, Bambang
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 16, No 2 (2020): JPWK Vol 16. No. 2 June 2020
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v16i2.26143

Abstract

Penelitian ini bertujuan menemukan faktor utama/dominan yang mempengaruhi keputusan pejalan kaki dalam memilih lokasi penyeberangan di kawasan Malioboro ditinjau dari perilaku pejalan kaki. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode analisis yang digunakan adalah analisis faktor dengan metode Principal Component Analysis (PCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 (tiga) faktor dari hasil reduksi 13 (tiga belas) variabel terpilih. Ketiga faktor ini mampu menjelaskan sebesar 58,295% dari seluruh total varian. Faktor I sebagai faktor dominan mampu menjelaskan sebesar 23,119% dari variabel keseluruhan adalah Faktor Kepuasan terhadap Keselamatan dan Kemudahan. Hal ini sesuai dengan pendapat Porteous bahwa jika obyek menghasilkan tingkat kepuasan yang tinggi dari perilaku terhadap obyek stimulus, obyek tersebut akan lebih disukai dan sikap terhadap obyek tersebut menjadi positif dan kuat. Dari faktor dominan yang ditemukan menunjukkan bahwa perlunya meningkatkan kepuasan pejalan kaki terkait keselamatan dan kemudahan ketika menyeberang jalan. Penguatan regulasi tentang penyeberangan jalan mampu membantu penyeberang jalan mendapatkan kemudahan dan keselamatan ketika berinteraksi dengan pengendara kendaraan saat menyeberang jalan. Selain itu diperlukan juga penambahan marka zebra cross antara Pasar Beringharjo hingga Nol Kilometer, menambah jumlah lampu sinyal penyeberangan dan melakukan pemeliharaan berkala, menyediakan aktivitas pendukung di sekitar ruang tunggu penyeberangan dan menaikkan elevasi jalur penyeberangan mendekati elevasi trotoar.
Visual Quality Effect on Sustainability of Kampung Pelangi Semarang Wuryaningsih, Teti Indrawati; Setioko, Bambang; Sari, Suzanna Ratih
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 20, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v20i2.14185

Abstract

Abstract : Kampung Pelangi Semarang has relatively dense buildings, spontaneously developed and lack of urban service facilities. The design of the area based on the aspects of physical quality, one of which is the visual quality. Visual signs are the main features that are physically visible. The core of this research is to identify the influence between visual quality and sustainability in Kampung Pelangi. The research method is quantitative, weighted using Likert scale and test by using linear regression analysis. Results from simultaneous research indicate that visual quality influences on sustainability in Kampung Pelangi. The magnitude of the influence of visual quality is only 44.7% of the sustainability, the rest of 52.3% is influenced by other factors, while partially regression analysis showed no influence from three variables. It means that there is still lack of diversity, dominance and clarity at the research locus, so it needs to be increased again with values of -3.9%, -2.6% and 5.8% respectively. It should be furtherly improved by adding coloring, marking and map themes, and adding various tourist attractions. For the other three variables, sequence, harmony, and uniqueness have an influence on sustainability in Kampung Pelangi, with the value of 19%, 17,1% and 17%, that the variables already exist in research locus but the value is very low so it must maintained and upgraded with the planning and implementation of proper programs to increase the level of sustainability there.