Claim Missing Document
Check
Articles

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEJALAN KAKI DALAM MEMILIH LOKASI PENYEBERANGAN JALAN DI KAWASAN MALIOBORO YOGYAKARTA Iswanto, Budi; Setioko, Bambang
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 16, No 2 (2020): JPWK Vol 16. No. 2 June 2020
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v16i2.26143

Abstract

Penelitian ini bertujuan menemukan faktor utama/dominan yang mempengaruhi keputusan pejalan kaki dalam memilih lokasi penyeberangan di kawasan Malioboro ditinjau dari perilaku pejalan kaki. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode analisis yang digunakan adalah analisis faktor dengan metode Principal Component Analysis (PCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 (tiga) faktor dari hasil reduksi 13 (tiga belas) variabel terpilih. Ketiga faktor ini mampu menjelaskan sebesar 58,295% dari seluruh total varian. Faktor I sebagai faktor dominan mampu menjelaskan sebesar 23,119% dari variabel keseluruhan adalah Faktor Kepuasan terhadap Keselamatan dan Kemudahan. Hal ini sesuai dengan pendapat Porteous bahwa jika obyek menghasilkan tingkat kepuasan yang tinggi dari perilaku terhadap obyek stimulus, obyek tersebut akan lebih disukai dan sikap terhadap obyek tersebut menjadi positif dan kuat. Dari faktor dominan yang ditemukan menunjukkan bahwa perlunya meningkatkan kepuasan pejalan kaki terkait keselamatan dan kemudahan ketika menyeberang jalan. Penguatan regulasi tentang penyeberangan jalan mampu membantu penyeberang jalan mendapatkan kemudahan dan keselamatan ketika berinteraksi dengan pengendara kendaraan saat menyeberang jalan. Selain itu diperlukan juga penambahan marka zebra cross antara Pasar Beringharjo hingga Nol Kilometer, menambah jumlah lampu sinyal penyeberangan dan melakukan pemeliharaan berkala, menyediakan aktivitas pendukung di sekitar ruang tunggu penyeberangan dan menaikkan elevasi jalur penyeberangan mendekati elevasi trotoar.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEJALAN KAKI DALAM MEMILIH LOKASI PENYEBERANGAN JALAN DI KAWASAN MALIOBORO YOGYAKARTA Iswanto, Budi; Setioko, Bambang
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 16, No 2 (2020): JPWK Vol 16. No. 2 June 2020
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v16i2.26143

Abstract

Penelitian ini bertujuan menemukan faktor utama/dominan yang mempengaruhi keputusan pejalan kaki dalam memilih lokasi penyeberangan di kawasan Malioboro ditinjau dari perilaku pejalan kaki. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode analisis yang digunakan adalah analisis faktor dengan metode Principal Component Analysis (PCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 (tiga) faktor dari hasil reduksi 13 (tiga belas) variabel terpilih. Ketiga faktor ini mampu menjelaskan sebesar 58,295% dari seluruh total varian. Faktor I sebagai faktor dominan mampu menjelaskan sebesar 23,119% dari variabel keseluruhan adalah Faktor Kepuasan terhadap Keselamatan dan Kemudahan. Hal ini sesuai dengan pendapat Porteous bahwa jika obyek menghasilkan tingkat kepuasan yang tinggi dari perilaku terhadap obyek stimulus, obyek tersebut akan lebih disukai dan sikap terhadap obyek tersebut menjadi positif dan kuat. Dari faktor dominan yang ditemukan menunjukkan bahwa perlunya meningkatkan kepuasan pejalan kaki terkait keselamatan dan kemudahan ketika menyeberang jalan. Penguatan regulasi tentang penyeberangan jalan mampu membantu penyeberang jalan mendapatkan kemudahan dan keselamatan ketika berinteraksi dengan pengendara kendaraan saat menyeberang jalan. Selain itu diperlukan juga penambahan marka zebra cross antara Pasar Beringharjo hingga Nol Kilometer, menambah jumlah lampu sinyal penyeberangan dan melakukan pemeliharaan berkala, menyediakan aktivitas pendukung di sekitar ruang tunggu penyeberangan dan menaikkan elevasi jalur penyeberangan mendekati elevasi trotoar.
Visual Quality Effect on Sustainability of Kampung Pelangi Semarang Wuryaningsih, Teti Indrawati; Setioko, Bambang; Sari, Suzanna Ratih
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 20, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v20i2.14185

Abstract

Abstract : Kampung Pelangi Semarang has relatively dense buildings, spontaneously developed and lack of urban service facilities. The design of the area based on the aspects of physical quality, one of which is the visual quality. Visual signs are the main features that are physically visible. The core of this research is to identify the influence between visual quality and sustainability in Kampung Pelangi. The research method is quantitative, weighted using Likert scale and test by using linear regression analysis. Results from simultaneous research indicate that visual quality influences on sustainability in Kampung Pelangi. The magnitude of the influence of visual quality is only 44.7% of the sustainability, the rest of 52.3% is influenced by other factors, while partially regression analysis showed no influence from three variables. It means that there is still lack of diversity, dominance and clarity at the research locus, so it needs to be increased again with values of -3.9%, -2.6% and 5.8% respectively. It should be furtherly improved by adding coloring, marking and map themes, and adding various tourist attractions. For the other three variables, sequence, harmony, and uniqueness have an influence on sustainability in Kampung Pelangi, with the value of 19%, 17,1% and 17%, that the variables already exist in research locus but the value is very low so it must maintained and upgraded with the planning and implementation of proper programs to increase the level of sustainability there.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN IDENTITAS KOTA DI KAWASAN KOTA TUA MUARA TEBO KABUPATEN TEBO PROVINSI JAMBI Moh. Adrian; Bambang Setioko
Prosiding Seminar Nasional Inovasi Dalam Pengembangan SmartCity Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Inovasi Dalam Pengembangan SmartCity

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKeberadaan kota tidak lepas dari identitasnya, bahwa semua kota mempunyai identitas yang berbeda, baik yang positif maupun negatif. Identitas sebuah kota adalah keunikan kondisi dan karakteristik yang membedakannya dengan kota lainya. Kawasan Kota Tua Kabupaten Tebo memiliki suatu identitas dengan sejarah keberadaannya, namun karena adanya perkembangan arahan pembangunan Kota Tebo, kawasan ini mulai mengalami perubahan identitas kotanya yang saat ini secara fisik hanya dikenal sebagai kawasan pasar lama dan secara non fisik hanya menjadi kawasan yang tidak dikenal sebagai awal mula kota Kabupaten Tebo.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deduktif kuantitatif rasionalistik dengan teknik analisis deskriptif empiris dan analisis faktor statistik. Faktor yang mempengaruhi perubahan identitas kota di Kawasan Kota Tua Muara Tebo Kabupaten Tebo dtemukan 2 (dua) faktor, yaitu faktor fisik (organisasi ruang) dan faktor non fisik (aktivitas dan kebijakan ruang), serta 10 (sepuluh) faktor identitas kota. Rekomendasi yang diberikan adalah memperhatikan dan mempertimbangkan setiap kebijakan pembangunan dengan didasarkan kondisi attachment, perhatian pada perkembangan kota di masa depan dan karakter visual  kawasan. Kata Kunci: Faktor-faktor, Perubahan dan Identitas Kota.
Pengaruh Perubahan Fungsi Ruang Terbuka Publik Terhadap Kualitas Kawasan Pemukiman Di Sekitarnya Desti Rahmiati; Bambang Setioko; Gagoek Hardiman
JURNAL ARSITEKTUR Vol 3, No 2 (2013): Juni
Publisher : Universitas Bandar Lampung (UBL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1757.193 KB) | DOI: 10.36448/jaubl.v3i2.29

Abstract

The public open space is a vital element in a city space, indirectly gives influence towards in surrounding area. It is similar, the presence passive public open space in an area indirectly effects to the area it, so if a change happens the fuction of passive public open hall becomes active public open space there will be also a change in the effect towards the surrounding area. This research focuses on Parang Kusumo Park, one of public open space which its function has changed considerably. It is located in Tlogosari Kusumo village. The increase of people activities in Parang Kusumo Park has evoked many issues in society such as traffic jam and other problem so much disturbs the communities living around the park. This research aims to know how of the changing function of passive public open space into active public open space in Parang Kusumo Park Semarang toward the quality of residential area around it. In this analysis process, the variables that are constructed from the literature review, that will be analyzed by rationalistic quantitative method.This research will show changes the qualities of residential area around Parang Kusumo Park, after the function of Parang Kusumo Park gives most significant influence based on the process, then the conclusion will be drawn. -----Ruang terbuka publik merupakan elemen vital dalam sebuah ruang kota, keberadaannya tidak langsung berpengaruh pada kawasan di sekitarnya. Begitu pula dengan keberadaan ruang terbuka publik pasif dalam suatu kawasan yang secara tidak langsung berpengaruh pada kawasan tersebut, sehingga apabila terjadi perubahan fungsi ruang terbuka publik pasif menjadi ruang terbuka publik aktif maka akan terjadi pula perubahan pada pengaruh yang ditimbulkan pada kawasan di sekitarnya.Penelitian ini berfokus pada taman Parang Kusumo, salah satu ruang terbuka publik yang mengalami perubahan fungsi, berlokasi di Kelurahan Tlogosari Kulon Semarang. Meningkatnya aktivitas masyarakat di taman Parang Kusumo menimbulkan banyak isu yang berkembang di masyarkat yaitu timbulnya kepadatan lalu lintas, masalah kebisingan dan masalah lainnya yang mengganggu kenyamanan masyarakat yang bermukim di sekitar taman tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh yang ditimbulkan oleh adanya perubahan fungsi ruang terbuka publik pasif menjadi ruang terbuka publik aktif pada taman Parang Kusumo Semarang terhadap kualitas kawasan pemukiman di sekitarnya. Dalam proses analisis, terdapat variabel penelitian yang dibangun dari kajian teori, yang dianalisis menggunakan metode kuantitatif rasionalistik.Temuan studi menunjukkan perubahan kualitas kawasan pemukiman di sekitar taman Parang Kusumo pasca perubahan fungsi dan variabel fungsi taman Parang Kusumo yang berpengaruh paling signifikan terhadap perubahan tersebut, yang kemudian akan ditarik menjadi kesimpulan.
Traditional Market Revitalization as an Urban Catalyst in the City of Surakarta Istijabatul Aliyah; Bambang Setioko; Wisnu Pradoto
International Conference on Engineering and Technology Development (ICETD) 2014: 3rd ICETD 2014
Publisher : Bandar Lampung University (UBL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.212 KB)

Abstract

Current development in Surakarta downtown today indicates that traditional markets have improved themselves in both physical and non-physical aspects. Various revitalization efforts have been made by the government and traders community to improve services and comfort of traditional markets. The efforts start from the market façade revitalization, restoration and the overall development of market; up to social activities, competition between traders or large celebrations in the neighbourhood market. This research was conducted in Surakarta, which is aimed at: identifying the role of traditional market revitalization efforts in the development of a city. This study employs several methods of analysis, namely: 1) Spatial analysis for mapping the distribution of traditional markets in the city constellation, 2) Category-Based Analysis (CBA) to classify the revitalization of traditional markets that has an influence in the development of the city, and 3) Interactive Method of Analysis. The results of this study indicate that the presence of a constellation of traditional markets in Surakarta is dominated by the presence of Gede Market, not only as the oldest traditional market, but also as a center of economic and socio-cultural activities of the community. The role of traditional market revitalization in the development of a town is as an Urban Catalyst towards a MICE city in the sense that the revitalization effort, even done in a relatively short time and not yet covering the overall objects, is able to establish brand image of Surakarta as a city of culture which is friendly and ready to be MICE tourism city.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KARAKTER KAWASAN CENTRAL BUSSINESS DISTRICT (CBD) AKIBAT PERKEMBANGAN SPRAWL Studi Kasus Kawasan Segitiga Pandanaran, Pemuda, Gajahmada Kota Semarang Anityas Dian Susanti; Bambang Setioko; Titien Woro Murtini
Neo Teknika Vol 4, No 2 (2018): Jurnal Neo Teknika Vol 4 No.2 Desember 2018
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (728.851 KB) | DOI: 10.37760/neoteknika.v4i2.1225

Abstract

Di kawasan Central Business District (CBD) Pandanaran, Pemuda, Gajahmada Kota Semarang telah berdiri bangunan hotel, bank, rental office, mall, dan berbagai tempat hiburan. Tingginya aktivitas bisnis di kawasan tersebut mempengaruhi tata ruang kawasan serta membentuk karakter tertentu yang menunjukkan aktivitas di dalamnya. Sehingga timbul permasalahan bahwa pembangunan fisik sudah tidak lagi melihat lingkungan sekitarnya, konfigurasi bangunan dan penampilan bangunan menjadi tidak menarik, ruang terbuka hijau menjadi berkurang serta lalu lintas dan parkir yang menjadi masalah. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan pendekatan postpositivistik rasionalistik. Metode penelitian dengan analisa faktor menggunakan software SPSS, dan disimpulkan dengan metode deskriptif kualitatif. Metode penelitian dengan tetap menggunakan paradigma kuantitatif dan metodologi kuantitatif statistik : empirik analitik, tetapi membuat grand concept agar data empirik tersebut dapat dimaknai dalam cakupannya yang lebih luas. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kawasan CBD yaitu Figure Ground Urban solid, Leapfrog Development, Linkage Visual, Figure Ground Urban Void, Place: estetika kota, Linkage struktural, Place, Linkage: kolektif . Adanya fenomena pertumbuhan yang melompat-lompat (Leapfrog Development) dalam 1 kawasan mempengaruhi linkage visualnya, sehingga membentuk pola garis, koridor dan sumbu yang unik.Kata kunci : Karakter Kawasan, Central Business District, Sprawl, Leapfrog Development
Local Wisdom of Settlement Growth in theUrban Fringe Areas Bambang Setioko
RUAS (Review of Urbanism and Architectural Studies) Vol 9, No 2 (2011)
Publisher : RUAS (Review of Urbanism and Architectural Studies)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1567.834 KB) | DOI: 10.21776/ub.ruas.2011.009.02.6

Abstract

The population growth in the urban fringe area of developed countries is dominated by the urban sprawl and followed by “white flight phenomena”. In Indonesia, although the physically growth of settlements is similar, but the socially one is different. The modern housing estates have been built in the next to the rural settlements. In addition, the autonomous settlements have been emerged surrounding housing estates; the spread settlements will integrate in the following years. This research has been done with the qualitative methods and successfully revealing the existence of local wisdomof settlement growth in Semarang fringe area.Keywords: fringe area, urban sprawl, white flight, local wisdom
SPATIAL VARIETY AND DISTRIBUTION OF TRADITIONAL MARKETS IN SURAKARTA AS POTENTIAL FACTORS IN IMPROVING SPATIAL-BASED MANAGEMENT Istijabatul Aliyah; Bambang Setioko; Wisnu Pradoto
Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/geoplanning.4.1.63-74

Abstract

Traditional markets function as trading place, socio-culture interaction, and recreation facility either in regional or urban scope. Distribution and variety of spatial condition influence traditional markets’ planning both physically and non-physically. Therefore, this research aimed to conduct a mapping of traditional markets’ spatial distribution and variety as potential factors to improve spatial-based management. Analysis methods including: (1) Mapping by employing Geographic Information System, (2) Category Based Analysis (CBA), and (3) Interactive Analysis were applied in Surakarta City as the research location. The result of this research signifies that spatial variety and distribution of traditional markets in Surakarta had similar pattern between one market to others; overlapping service function; specific commodity types in accordance with the market’s characteristics; diverse operating hours. Spatial variety and distribution could be potential factors to improve traditional market management as shopping service. This result was contrasted with Central Place Theory by Christaller and NÆss & Jensen’s research finding stating that distance became a key factor influencing accessibility to a number of activity facilities. Therefore, distance toward the service center is not considered as the main factor in traditional market management. The main factor in managing and controlling traditional markets’ development includes service function, commodity specification, and operating hour’s flexibility.
PENATAAN PEMUKIMAN NELAYAN TAMBAK MULYO SEMARANG Dengan Lingkup Mikro BANGUNAN INDUSTRI PENGASAPAN IKAN satriya wahyu firmandani; bambang setioko; erni setyowati
IMAJI Vol 1, No 3 (2012): IMAJI
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1413.609 KB)

Abstract

Pemukiman  nelayan  merupakan  suatu  aset  berharga  di  setiap  daerahnya.  Pemukiman  ini  menjadi tumpuan  perdagangan  hasil  laut  di  daerahnya.  Sama  halnya  dengan  pemukiman  nelayan  Tambak  Mulyo Semarang  yang  menjadi  pusat  perdagangan  hasil  laut  di  Semarang  dan  sekitarnya.  Namun  ironisnya pemukiman nelayan Tambak Mulyo justru kumuh, padat dan tidak tertata, terlebih dengan bencana rob yang melanda hampir  setiap harinya. Pemukiman nelayan  sejatinya  tidak hanya berkutat dengan  kehidupan  para nelayan yang mencari ikan  di laut, Namun juga menampung kegiatan pengolahan hasil laut tersebut. Selain pemukiman  nelayan  secara  makro,  dalam  proyek  penataan  ini  akan  lebih  dititik  beratkan  pada  kawasan bangunan industri pengasapan ikan yang ada di dalamnya. Ide ini didapatkan dari   menyikapi kondisi buruknya sentra  industri  pengasapan  ikan  di  Bandarharjo  Semarang  yang  sekaligus  akan  ditata  bersamaan  masuk  ke dalam pemukiman nelayan Tambak Mulyo. Penataan  kawasan  industri  pengaspan  ikan  disini  berkonsep  arsitektur  vernakular  demi  melestarikan pemikira-pemikiran lokal  dalam  menghadapi  masalah-masalah  di industri  pengasapan  ikan  seperti bentukan cerobong,  tata  ruang,  bahan  bangunan  dan  lain-lain.  Kawasan  industri  pengasapan  ikan  sebagai  fokus penataan disini pastinya akan memiliki dampak tertentu terhadap lingkungan sekitar di pemukiman nelayan seperti  banyaknya  asap  yang  dihasilkan  oleh  industri  pengasapan  ikan  yang  mencemari  lingkungan  sekitar. Menyikapi  hal  tersebut,  penataan  industri  pengasapan  ikan  secara  mikro  harus  mempertimbangkan keberadaan  lingkungan  sekitar dengan beberapa  solusi desain  seperti  (1)pola  penataan  pemukiman nelayan secara  makro dengan aksis arah angin,  hal  ini berfungsi untuk  mengatur arah  asap  yang dihasilka n industri pengasapan  ikan,  (2)perancangan  barrier  asap  berupa  pepohonan  mengelilingi  industri  pengasapan  ikan, (3)menata ruang dalam industri pengasapan ikan dan bentukan cerobong dengan pendekatan vernakular agar desain sesuai dengan perilaku masyarakat setempat. Penekanan desain pada arsitektur vernakular  juga memiliki peranan penting dalam citra bangunan dan kawasan  yang  dihasilkan  nantinya.  Dengan  konsep  vernakular,  hasil  akhir  desain  disini  juga  memiliki keindahan/estetika,  kesesuaian  dengan  perilaku  setempat,  kemudahan  mendapatkan  material,  kemudahan dalam perbaikan bangunan bila dilakukan oleh masyarakat sendiri, serta menyikapi kondisi alam seperti cuaca dan bencana dalam desain.