Claim Missing Document
Check
Articles

STADION AKUATIK DI BANDUNG ichsan ahmadi; eddy prianto; bambang setioko
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1746.48 KB)

Abstract

Prestasi Indonesia di bidang olahraga air yang semakin meningkat, namun terdapat kekurangan dalam perkembangan proses pembibitan dan pelatihan bagi atlet-atlet renang Indonesia untuk generasi yang akan datang. Salah satu faktor kekurangannya dikarenakan oleh fasilitas-fasilitas olahraga renang yang belum memadai, melainkan hanya terdapat satu stadion olahraga renang yang sesuai dengan standar kompetisi dengan vanue yang memadai baik skala nasional maupun internasional yaitu Jakabaring Aquatic Stadium di Palembang. Pekan Olahraga Nasional (PON) merupakan ajang pentas olahraga paling megah di Indonesia yang diselenggarakan setiap empat tahun. Sebagai ibukota Jawa Barat, Bandung terpilih sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX tahun 2016. Salah satu tanggapan dari pemerintah Provinsi Jawa Barat yaitu pemerintah Provinsi Jawa Barat akan membangun kolam renang bertaraf nasional maupun internasional sebagai persiapan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX tahun 2016.
HOTEL RESORT DI KAWASAN WISATA AIR PANAS GUCI – KABUPATEN TEGAL PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR ORGANIK samia saragi; bambang setioko; erni setyowati
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4215.719 KB)

Abstract

Kabupaten Tegal merupakan salah satu tujuan wisata yang memiliki potensi alam dan budaya di Jawa Tengah. Salah satu objek wisata unggulan di Kabupaten Tegal yang telah menjadi objek wisata unggulan dalam lingkup Jawa Tengah adalah objek wisata air panas yang berada di Desa Guci. Kawasan Wisata Air Panas Guci memiliki potensi pengembangan wisata berawal dari sumber mata air panas, kearifan budaya lokal yang masih tetap dipertahankan, yaitu wayang dan tarian, komoditi teh dan jamu yang telah melekat dengan kabupaten Tegal. Perkembangan Kepariwisataan ini berdampak pada jumlah pengunjung yang terus meningkat dan berbanding lurus dengan kebutuhan akan sarana akomodasinya. Oleh karena itu, dengan banyaknya fasilitas yang dikembangkan, diperlukan adanya sarana akomodasi berupa fasilitas penginapan yang memberikan pelayanan bagi pengunjung untuk menikmati keindahan alam di Guci secara lebih lama. Jenis penginapan yang sesuai adalah Hotel Resort. Hotel Resot merupakan sebuah respon terhadap perkembangan kawasan wisata yang juga menjadi hotel resort pertama yang memberikan fasilitas berupa wahana pertunjukan, tea spa and massage, serta café jamu sebagai salah satu pemasaran dari ciri khas Kabupaten Tegal Penekanan desain pada hotel resort ini adalah arsitektur organik yang dalam proses desain mempertimbangkan unsur organik baik dari bentukan bangunan hingga penyelarasanna terhadap lingkungan sekitar. Penataan Hotel Resot merespon tapak dan view menuju ke bagian bawah desa Guci, yaitu kecamatan Bumijawa, dan beberapa Kecamatan dari Kabupaten Tegal.
GEDUNG PAMER DAN PERAGA IPTEK KELAUTAN DI SEMARANG desy ratna; eddy prianto; bambang setioko
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1884.429 KB)

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi setiap tahunnya semakin berkembang pesat, hal ini ditunjukkan dengan adanya berbagai macam teknologi yang dapat memudahkan manusia khususnya siswa dalam memahami pelajaran. Indonesia memiliki kekayaan alam berupa dasar laut yang beragam, namun tidak semua masyrakat Indonesia mengetahui hal ini sehingga masih banyak masyarakat yang belum sadar untuk menjaga dan melestarikan lingkungan laut. Berdasarkan Keputusan Menteri No. 75/M/Kp/XI/2001 perlu adanya wadah mengenai IPTEK di setiap provinsi, kenyataanya Indonesia hanya memiliki empat wadah, diantaranya Taman Mini Indonesia Indah (Jakarta), Taman Pintar (Yogyakarta), Science Center Trams Studio (Bandung), IPTEK Sundial (Padalarang). Kota Semarang yang merupakan ibukota Provinsi Jawa Tengah memiliki dua buah pintu masuk kedalam Provinsi Jawa Tengah, yaitu ditunjukan dengan adanya Pelabuhan Tanjung Mas dan Bandara Internasional Ahmad Yani. Namun dengan potensi tersebut Semarang belum mampu mengolah dan mengembangkannya, terutama disektor pariwisata. Sedangkan disektor masyarakat dan pendidikan, Semarang memiliki 6 universitas negeri. Salah satu diantaranya merupakan universitas terbaik di Jawa Tengah yaitu Universitas Diponegoro, dengan kata lain masyarakat kota Semarang mempunyai kualitas pelajar yang berkompeten, hanya saja kurangnya fasilitas edukasi yang dapat mendukung kualitas masyarakat kota Semarang.
GRAHA LANSIA DI TANGERANG Erna Rita Martiani; Bambang Setioko
IMAJI Vol 1, No 3 (2012): IMAJI
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1442.77 KB)

Abstract

Kemajuan di bidang ekonomi, jasa dan perdagangan di Tangerang Selatan dibarengi dengan kemajuan bidang kesehatan dan pendidikan yang bermuara dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat akan usia harapan hidup sehingga menyebabkan jumlah penduduk lanjut usia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Angka harapan hidup Provinsi Banten menunjukkan kenaikan dari 62,4 tahun pada tahun 2007 menjadi 68. Dan angka harapan hidup tertinggi dicapai oleh Kabupaten Tangerang Selatan sebesar 68,2 tahun. (Sumber : Dokumen RPJM Prov. Banten Tahun 2007 - 2012). Disisi lain, meningkatnya bidang perekonomian di Tangerang Selatan sendiri, membuat para masyarakatnya memiliki mobilitas yang cukup tinggi dan terkesan melalikan kewajibannya dalam mengurus orang tua, terutama bagi lansia yang memiliki kelemahan kesehatan. Hal ini sangat mencolok ketika kedua orang tua tersebut tidak tinggal dalam satu atap dan jarang menjenguk maka lansia akan merasa terabaikan dan terasingkan. Maka dari sinilah kebanyakan para lansia memiliih untuk tinggal d panti wredha/panti jompo yang ditempat tersebut mereka akan bertemu dengan para lansia lain yang merasa senasib.Kajian diawali dengan mempelajari pengertian dan hal-hal mendasar mengenai lansia dan standar-standar mengenai bangunan bagi lansia, studi banding dilakukan ke Panti Jompo yang di kecamatan-kecamatan di Tangerang. Dilakukan juga tinjauan mengenai pertumbuhan jumlah lansia dan kebutuhan para lansia dip anti jompo dan pembahasan konsep perancangan dengan penekanan universal design. Lokasi tapak yang dipilih adalah tapak yang sesuai dengan persyaratan bangunan bagi lansia. Selain itu juga dibahas mengenai tata massa dan ruang bangunan, penampilan bangunan, struktur, serta utilitas yang dipakai dalam perancangan “Grha lansia Di Tangerang Selatan”.Konsep perancangan ditekankan desain Universal,yang memiliki 7 prinsip yang sudah dikenal dimana-mana. Prinsip-prinsip itulah yang nantinya akan menjadi pedoman atau dasar adalam mendesain suatu produk maupun rancanngan lingkungan yang dapat digunakan oleh semua kalamngan umur, terutama untuk para lansia. Prinsip tersebut diantaranya : Penggunaan yang Merata, Penggunaan yang Fleksibel, Sederhana dan Intuitif, Informasi yang jelas dan mudah dimengerti, Toleransi akan kesalahan, Meminimalkan usaha dan menghindari bahaya atau hal-hal yang tidak diinginkan, Ukuran dan Ruang untuk Pendekatan dan Penggunaan.
GEDUNG BIOSKOP DI KOTA SEMARANG (PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR POST MODERN) bagas laksawicaka; bambang setioko; erni setyowati
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2702.398 KB)

Abstract

Keberadaan bioskop di Indonesia sudah berlangsung hampir 107 tahun, terhitung sejak adanya bioskop yang memutar film pertama kali yang dikenal sebagai “gambar idoep” di Batavia tanggal 5 Desember 1900. Bioskop mempunyai peranan yang strategis dan merupakan ujung tombak industri perfilman Indonesia, sekaligus menjadi tolak ukur keberhasilan produksi film Indonesia bagi masyarakat. Sebagai mata rantai terakhir dalam tata niaga film, usaha perbioskopan tentu saja tidak bisa dilepaskan dari salah satu fungsi bioskop yaitu sebagai “etalase film”. Dengan pesatnya perkembangan teknologi digital dan pelayanan untuk masyarakat penonton yang memadai adalah suatu tantangan bagi dunia perbioskopan khususnya, untuk bersama-sama membuka pasar film yang lebih luas lagi.
KANTOR GUBERNUR SUMATERA SELATAN Desti Rahmiati; Bambang Setioko; Gagoek Hardiman
IMAJI Vol 1, No 2 (2012): IMAJI
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1510.8 KB)

Abstract

Kota Palembang dalam 5 tahun terakhir ini mengalami kemajuan yang begitu pesat, terlihatnya dari maraknya pertumbuhan infrastruktur, sarana dan prasarana kota, dan roda perekonomian yang terus menggeliat. Berdasarkan fenomena tersebut, potensi kota Palembang untuk berkembang sangat besar. Hal inilah yang mendasari penetapan suatu visi strategis, yaitu Palembang sebagai kota bertaraf internasional. Untuk mewujudkan visi tersebut, Pemerintah provinsi Sumatera Selatan berencana untuk merelokasi Kantor Gubernur Sumatera Selatan sebagai salah satu program pengembangan kawasan Jakabaring sebagai kawasan strategis pertumbuhan ekonomi kota Palembang.Kajian diawali dengan penelusuran mengenai gedung pemerintahan, filosofi struktur pemerintahan provinsi, standar-standar dan kebijakan mengenai tata ruang dalam kantor Gubernur, studi banding beberapa Kantor Gubernur di Provinsi Jawa. Dilakukan juga tinjauan mengenai lokasi kantor Gubernur Sumatera Selatan dan pembahasan konsep perancangan dengan penekanan desain Arsitektur Neo-Vernakular. Tapak yang digunakan adalah lahan kosong yang diperuntukkan sebagai zona pemerintahan. Selain itu, dibahas pula mengenai massa dan tata ruang, penampilan bangunan, struktur serta utilitas yang diterapkan dalam perancangan “Kantor Gubernur Sumatera Selatan”.Konsep perancangan ditekankan pada desain Arsitektur Neo-Vernakular, yaitu langgam arsitektur yang memunculkan kembali unsur tradisional setempat kedalam bangunan modern. Penekanan desain arsitektur neo-vernakular diharapkan dapat menghasilkan suatu rancangan kantor pemerintah provinsi yang sesuai standar, yang juga mampu mencerminkan eksistensi dari berdirinya lembaga pemerintahan daerah dan sebagai lambang kebanggaan daerah. Untuk bangunan kantor Gubernur Sumatera Selatan, dirancang dengan konsep denah berbentuk simetris yang mengesankan kesan megah pada bangunan.
FAKTOR-FAKTOR PENGARUH KINERJA PERMUKIMAN SEBAGAI ANTISIPASI PERWUJUDAN KAMPUNG WISATA BAHARI Edi Purwanto; Bambang Setioko; Deasy Olivia
TATALOKA Vol 19, No 1 (2017): Volume 19 Number 1, February 2017
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.769 KB) | DOI: 10.14710/tataloka.19.1.1-14

Abstract

Tambaklorok is a fishermen kampong located in Tanjungmas, North Semarang. This settlement is known for its fish landing base where people daily come to buy marine products. The population of the kampong which was purely consisted of traditional fishermen at first is recently turning into mixed population with its problems like poverty and bad infrastructures that make this place unhealthy to live. However, behind these problems, this area also has a potency to be a maritime tourist object. The purpose of this research is to find influence factors of fishermen settlement performance as the implementation of the plan to create a maritime tourism kampong that was made by Semarang Municipality in 2015. This research used positivistic research paradigm with quantitative approach, and for processing data, it used statistical test with factor analysis. Based on statistical test and analysis, there are 6 influence factors of fishermen settlement performance that potentially support the development of the maritime tourism kampong. 
Transformasi Ruang Perkotaan di Permukiman Nelayan (Studi Kasus: Tambakmulyo, Semarang) Bambang Setioko
TATALOKA Vol 15, No 3 (2013): Volume 15 Number 3, August 2013
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.511 KB) | DOI: 10.14710/tataloka.15.3.192-207

Abstract

Fisherman settlements are physically different to common urban settlements, because it has a uniqueness reflect to their tradition and culture. Some periodical observation has been made in Tambakmulyo fisherman settlement-Semarang shown different phenomena, which the fisherman’s urban space has visual similarity to the common open space. The settlement image has been melting away because of some unique activities has been less dominant conducted. This research has a purpose to get more understanding about the urban space transformation in both physical and socio-spatial point of views, while deductive-rationalistic approach also have been used to support research objectives. In addition, a descriptive-qualitative method has been proposed in order to reveal the urban space transformation phenomena. The urban space transformation in the fisherman settlements has been occurred, based on the physical form analysis and socio-spatial observation. Furthermore, this study has been successfully finding the urban space transformation phenomena, from the sea oriented toward the mainland, which is the fisherman unique activities are no longer dominated their urban space.
CONFORMITY BEHIND THE SOCIAL AND SPATIAL SEGREGATION IN SUB-URBAN AREA A CASE AT GADING SERPONG NEW TOWN, TANGERANG Mohammad Ischak; Bambang Setioko; Dedes Nurgandarum
TATALOKA Vol 21, No 2 (2019): Volume 21 No. 2, May 2019
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.21.2.361-370

Abstract

The phenomenon of urban growth in rural areas created sub-urban areas like Tangerang region. Occupancy of space created by planned settlement against unplanned settlement raises spatial and social segregation. Previous studies have shown more on the negative side of the collision phenomenon with the point of view of the occurrence of physical and social unconformity between the newcomers as residents of planned settlements with the natives. On the other hand, it turns out that unplanned settlements still exist, thus raising the question of research is there conformity in the point of view of unplanned settlement settlers? To get an answer to the question, this research used analytical descriptive method, where data obtained directly from the field through observation and in-depth interviews with unplanned settlement settlers. The result of the analysis showed that although the spatial and social segregation is apparent, the community of unplanned settlers does not feel disturbed and the daily social economic activity of the community keeps going well, even the quality of life improves in some points. Such conditions create a form of internal conformity with parameters formulated by the community, including access to and from unplanned settlements, integrated infrastructures, open access to economic activities, and still guaranteed socio-cultural activities.
Village Spatial Planning Based on Its Potential as Guidelines for Guided and Sustainable Village Development Mustika Kusumaning Wardhani; Bambang Setioko; Edward Endrianto Pandelaki
TATALOKA Vol 23, No 2 (2021): Volume 23 No. 2, May 2021
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.23.2.171-182

Abstract

Historical areas that support tourism activities will always adapt to match the complexity of tourism needs in the last few decades. The uniqueness of Kotagede is that there are traditional settlements of silver craftsmen's (Javanese: Abdi Dalem Kriya). The history of silver craftsmen's settlement has been formed since the Dutch colonial era and has survived until now as a characteristic of Kotagede. Silver craftsmen in Kotagede have a dilemma to survive for SMEs home-based or adapt to sell products to a larger scale industry. The research objectives are to determine whether or not there is a change in the settlement function caused by the silver home-based industry activities and to what extent the change has occurred. The method used is a quantitative method with a positivistic paradigm and uses descriptive analysis for data interpretation. Statistical data analysis used multivariate linear regression (SPSS V26). In this study, it was found that there was an effect of Silver home-based Industry Activities on change in residential space function with the low significance of 25.6 % while 74.4 % was thought to be influenced by other activities outside the research model. Partially, the highest variable effect on settlement changes is production activities that can be found in Purbayan and Prenggan Village. With the low significant impact results on settlement changes, It is hoped that the silver production activities (home-based industry) have the potential to be promoted as part of the survivability concept of tourism in Kotagede by advancing SMEs itself.