Claim Missing Document
Check
Articles

Model Community Relations Program Konservasi Agro Forestri Kopi Berbasis Community Development CSR PT. Tirta Investama Pandaan Zainul Ahwan
Journal of Communication Research Vol. 1 No. 2 (2025): October
Publisher : Yayasan Lentera Avanya Nagari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/jcr.v1i2.194

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran program Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai strategi community relations dalam upaya konservasi lingkungan yang dilaksanakan oleh PT. Tirta Investama Pandaan (Danone-Aqua) di wilayah Prigen, Kabupaten Pasuruan. Program CSR ini mengadopsi pendekatan berbasis partisipasi masyarakat dengan model agroforestri kopi. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif untuk mengeksplorasi dinamika hubungan antara perusahaan dan masyarakat, termasuk tantangan sosial seperti resistensi terhadap program, serta strategi komunikasi yang digunakan perusahaan untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara perusahaan dan masyarakat tidak selalu berjalan mulus, terutama pada tahap awal implementasi. Namun, melalui transformasi strategi komunikasi yang lebih dialogis dan partisipatif, perusahaan berhasil membangun hubungan yang lebih setara, kolaboratif, dan berkelanjutan. Program CSR ini tidak hanya memperkuat citra dan legitimasi sosial perusahaan, tetapi juga berkontribusi pada pemberdayaan ekonomi lokal, pelestarian lingkungan, dan penguatan jejaring kemitraan multipihak. Temuan ini menggarisbawahi bahwa keberhasilan community relations dalam konteks CSR sangat bergantung pada sensitivitas terhadap konteks sosial lokal, kemampuan untuk membangun komunikasi lintas aktor, serta komitmen jangka panjang terhadap keberlanjutan hubungan sosial dan ekologis. This study examines the role of Corporate Social Responsibility (CSR) programs as a community relations strategy in environmental conservation efforts conducted by PT. Tirta Investama Pandaan (Danone-Aqua) in the Prigen area, Pasuruan Regency. The CSR program is implemented through a community-based participatory approach using a coffee agroforestry model. This research employs a qualitative case study approach to explore the dynamics of the relationship between the company and the community, including social challenges such as resistance to the program, and how communication strategies are employed to rebuild trust within the community. The findings indicate that the relationship between the company and the community was not always smooth, especially in the early stages of implementation. However, through a transformation to more dialogic and participatory communication strategies, the company successfully established a more equal, collaborative, and sustainable relationship. This CSR program not only strengthens the company’s image and social legitimacy but also contributes to local economic empowerment, environmental preservation, and the strengthening of multi-stakeholder partnerships. The findings highlight that effective community relations in the context of CSR require sensitivity to local social contexts, the ability to build cross-actor communication, and a long-term commitment to the sustainability of social and ecological relations.  
Studi Komunikasi Simbolik Dalam Tradisi Nyadran Sebagai Refleksi Harmoni Sosial-Ekologis Pada Masyarakat Ledug Prigen Pasuruan Ainul Muzayyanah; Zainul Ahwan
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 2 No. 3 (2025): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/wdzwm585

Abstract

The Nyadran tradition is a cultural practice rich in symbolism in Javanese society, including in Jeruk Hamlet, Ledug Village, Prigen District, Pasuruan Regency. This research focuses on analyzing the communication symbols contained within the Nyadran tradition and their role in reflecting social and ecological harmony within the local community. Using qualitative methods through a cultural phenomenology approach, research data was obtained through direct observation, in-depth interviews with community leaders and participants, and documentation of activities. The results show that the various symbolic elements of Nyadran, such as offerings, grave visits, communal prayers, and the sharing of crops, not only represent a form of respect for ancestors but also strengthen the values ​​of solidarity and mutual cooperation among residents. The offerings and crops presented reflect the community's ecological awareness in maintaining the balance of nature, while communal prayers serve as a means of spiritual communication connecting humans with the Creator. The Nyadran tradition has also proven to be a symbolic communication medium capable of maintaining local cultural identity and strengthening social ties within the community. Through these symbols, a collective awareness is created about the importance of maintaining harmonious relationships between humans, humans and ancestors, and humans and nature. Thus, Nyadran is not merely a religious and cultural ritual, but also a means of socio-ecological education relevant to the lives of contemporary Javanese society. Abstrak Tradisi Nyadran merupakan salah satu praktik budaya yang kaya akan simbolisme dalam masyarakat Jawa, termasuk di Dusun Jeruk, Kelurahan Ledug, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini difokuskan untuk menganalisis simbol-simbol komunikasi yang terkandung dalam tradisi Nyadran serta peranannya dalam mencerminkan harmoni sosial dan ekologis masyarakat setempat. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan fenomenologi budaya, data penelitian diperoleh melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat dan peserta tradisi, serta dokumentasi kegiatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai unsur simbolik yang terdapat dalam Nyadran, seperti sesaji, ziarah makam, doa bersama, dan pembagian hasil bumi, tidak hanya merepresentasikan bentuk penghormatan terhadap leluhur, tetapi juga memperkuat nilai-nilai solidaritas dan gotong royong antarwarga. Sesaji dan hasil bumi yang disajikan menggambarkan kesadaran ekologis masyarakat dalam menjaga keseimbangan alam, sementara doa bersama menjadi sarana komunikasi spiritual yang menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta. Tradisi Nyadran juga terbukti menjadi media komunikasi simbolik yang mampu mempertahankan identitas budaya lokal serta mempererat ikatan sosial di tengah masyarakat. Melalui simbol-simbol tersebut, tercipta kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan manusia, manusia dengan leluhur, serta manusia dengan alam. Dengan demikian, Nyadran tidak hanya sekadar ritual keagamaan dan budaya, tetapi juga sarana pendidikan sosial-ekologis yang relevan bagi kehidupan masyarakat Jawa masa kini.