Claim Missing Document
Check
Articles

Pendampingan Penerapan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) Pada UMKM Pengolahan Abon Lele Ernawati, Ernawati; Ainiyah, Roisatul; Palupi, Hapsari Titi; Syarwani, Muhammad; Hasyim, Mochamad; Huda, Miftahul; Ahwan, Zainul; Hakim, Lukman; Sulhan, Muhammad; Swasono, Muh Aniar Hari
Jurdimas (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Royal Vol. 8 No. 2 (2025): April 2025
Publisher : STMIK Royal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33330/jurdimas.v8i2.3630

Abstract

Suole MSME is a catfish floss producer committed to enhancing product quality through the implementation of the Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) system.  Implementation is carried out by development and verification of the production process flow diagram, hazard identification, determination of Critical Control Points (CCPs), and establishment of critical limits. This community service activity aimed to provide knowledge and assistance in HACCP implementation to enhance food safety, product quality, and competitiveness. The activity was conducted from October to December 2024 at UMKM Suole, and included interviews, field observations, and HACCP assistance and analysis. The results show that the catfish floss production process involves several critical stages that require monitoring, such as raw material reception, meat separation, frying, and packaging. Hazard identification and determination of Critical Control Points (CCPs) have been carried out to prevent biological, chemical, and physical contamination. The importance of developing Standard Operating Procedures (SOPs), maintaining sanitation, and controlling processing time and temperature was emphasized. Improving the understanding of HACCP among MSME actors is a key factor in effective hazard control and achieving food safety.Keywords: catfish floss; food safety; HACCP; hazard Abstrak: UMKM Suole merupakan salah satu produsen abon lele yang berupaya meningkatkan kualitas produk melalui penerapan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). Penerapan dilakukan dengan penyusunan dan verifikasi diagram alir proses produksi abon lele, identifikasi bahaya, serta penetapan CCP dan batas kritis. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memberikan wawasan dan pendampingan penerapan HACCP guna meningkatkan keamanan pangan, mutu, dan daya saing produk. Kegiatan dilaksanakan pada Oktober hingga Desember 2024 di UMKM Suole, meliputi wawancara, observasi lapangan, serta pendampingan dan analisis HACCP. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa proses produksi abon lele mencakup beberapa tahap penting yang memerlukan pengawasan, seperti penerimaan bahan baku, pemisahan daging, penggorengan, dan pengemasan. Telah dilakukan identifikasi bahaya dan penetapan titik kendali kritis (CCP) untuk mencegah kontaminasi biologis, kimia, dan fisik. Selain itu, ditekankan pentingnya penyusunan SOP, sanitasi, serta pengendalian suhu dan waktu proses. Peningkatan pemahaman pelaku UMKM terhadap HACCP menjadi faktor kunci dalam pengendalian bahaya dan pencapaian keamanan pangan produk.Kata kunci: abon lele; bahaya; HACCP; keamanan pangan
Model Community Relations Program Konservasi Agro Forestri Kopi Berbasis Community Development CSR PT. Tirta Investama Pandaan Ahwan, Zainul
Journal of Communication Research Vol. 1 No. 2 (2025): October
Publisher : Yayasan Lentera Avanya Nagari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/jcr.v1i2.194

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran program Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai strategi community relations dalam upaya konservasi lingkungan yang dilaksanakan oleh PT. Tirta Investama Pandaan (Danone-Aqua) di wilayah Prigen, Kabupaten Pasuruan. Program CSR ini mengadopsi pendekatan berbasis partisipasi masyarakat dengan model agroforestri kopi. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif untuk mengeksplorasi dinamika hubungan antara perusahaan dan masyarakat, termasuk tantangan sosial seperti resistensi terhadap program, serta strategi komunikasi yang digunakan perusahaan untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara perusahaan dan masyarakat tidak selalu berjalan mulus, terutama pada tahap awal implementasi. Namun, melalui transformasi strategi komunikasi yang lebih dialogis dan partisipatif, perusahaan berhasil membangun hubungan yang lebih setara, kolaboratif, dan berkelanjutan. Program CSR ini tidak hanya memperkuat citra dan legitimasi sosial perusahaan, tetapi juga berkontribusi pada pemberdayaan ekonomi lokal, pelestarian lingkungan, dan penguatan jejaring kemitraan multipihak. Temuan ini menggarisbawahi bahwa keberhasilan community relations dalam konteks CSR sangat bergantung pada sensitivitas terhadap konteks sosial lokal, kemampuan untuk membangun komunikasi lintas aktor, serta komitmen jangka panjang terhadap keberlanjutan hubungan sosial dan ekologis. This study examines the role of Corporate Social Responsibility (CSR) programs as a community relations strategy in environmental conservation efforts conducted by PT. Tirta Investama Pandaan (Danone-Aqua) in the Prigen area, Pasuruan Regency. The CSR program is implemented through a community-based participatory approach using a coffee agroforestry model. This research employs a qualitative case study approach to explore the dynamics of the relationship between the company and the community, including social challenges such as resistance to the program, and how communication strategies are employed to rebuild trust within the community. The findings indicate that the relationship between the company and the community was not always smooth, especially in the early stages of implementation. However, through a transformation to more dialogic and participatory communication strategies, the company successfully established a more equal, collaborative, and sustainable relationship. This CSR program not only strengthens the company’s image and social legitimacy but also contributes to local economic empowerment, environmental preservation, and the strengthening of multi-stakeholder partnerships. The findings highlight that effective community relations in the context of CSR require sensitivity to local social contexts, the ability to build cross-actor communication, and a long-term commitment to the sustainability of social and ecological relations.  
Co-Authors Ahmad Aminuddin Ahmad Aminuddin Ahmad Zainuddin Ainiyah, Roisatul Ainul Muzayyanah Aji, Fafit Rahmat Aji, Fatit Rahmar Alifiyah Nurrochmani Amang Fathurrohman Amang Fathurrohman Amang Fathurrohman Amang Fathurrohman, Amang As'idah, Fizriyatul Cahya Bagus Sanjaya Dayat, M. Dayat, Muhammad Dwi Anggorowati Rahayu Dwi Anggorowati Rahayu Dwi Anggorowati Rahayu E Ernawati, E Endik Deni Nugroho Endik Deni Nugroho Endik Deni Nugroho Ernawati Ernawati Ernawati Fafit Rahmat Aji Fafit Rahmat Aji Fafit Rahmat Aji FARIS FARIS Hapsari Titi Palupi Heri Sunarno Hesty Octafiani Hesty Octafiani Ima Nur Saidah Imam Syafi’i Irnawati Rosidah Kasiman Kasiman Kasiman Kasiman Kasiman, Kasiman KHOIRUL ANAM Khoirul Anam Khoirul Anwar Lukman Hakim Lukman Hakim M Dayat M. Daimul Abror M. Mukhid Mashuri Miftahul Huda Miftahul Huda Misbakhul Munir Mochamad Hasyim Moh Nadzir Moh. Edy Marzuki Moh. Edy Marzuki Mr Muslim Mubarok, Achmat Muh. Aniar Hari Swasono Muhammad Dayat Muhammad Dayat Muhammad Imron Rosadi Muhammad Imron Rosadi Muhammad Sulhan Muhammad Syaifuddin Mukhid Masyhuri Mulyono Wibisono Mulyono Wibisono Mulyono Wibisono Mulyono Wobisono Murtadlo, Kholid Nicky Norjana Nicky Norjana Ninuk Riswandari Nur Afifah Afif Nur Afifah Afif Nur Avivah Nur Izzatul A'rof Nurma Yuwita Nurma Yuwita Nyoko Adi Kusworo Putri Dewi Karfida Putri Nur Laila Reza Ardiansyah Ridha, Faishal Ananta Riska Amelia Riska Amelia Rohmah, Siti Aisyatur Roisatul Ainiyah Sholeh Bahrudin Siti Aisyatur Rohmah Siti Muyasaroh Siti Muyasaroh Sulhan, M. Sururi, Ahmad Misbakhus Swasono, Muh Aniar Hari Syarwani, Muhammad Syukur Sugeng Apriwiyanto Wibisono, Mulyono Yusebla, Agil