Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search
Journal : JURNAL SAINS PERTANIAN EQUATOR

HUBUNGAN KETERSEDIAAN HARA PADA TANAH ULTISOLS DENGAN LINGKAR BATANG DAN BERAT LATEKS DI KEBUN KARET RAKYAT KABUPATEN MEMPAWAH Anto, Anto; Hazriani, Rini; Sulakhudin, Sulakhudin
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 7, No 3 (2018): AGUSTUS 2018
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.421 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar unsur hara tanah yang ditanami tanaman karet serta untuk mengetahui hubungan kadar unsur hara tanah yang berpengaruh terhadap lingkar batang dan berat lateks. Penelitian ini berlangsung dari tanggal 3 Agustus sampai 17 Oktober 2017 di Desa Benuang, Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah. Metode yang digunakan metode survey dengan menentukan sampel tanaman karet yang berumur 15 tahun yang dikelompokkan dalam tiga tingkatan. Ketiga tingkatan tersebut ditentukan berdasarkan lateks yang dihasilkan dan pengukuran diameter batang. Tingkatan yang dimaksud adalah Baik=diameter batang >22cm berat lateks 120 gr/pohon/hari, Sedang=diameter batang 16–22cm berat lateks 60–120 gr/pohon/hari, Jelek=diameter batang <16cm berat lateks 60 gr/pokok/hari. Unsur hara yang diamati dalam penelitian ini adalah N, P, K, Ca, Mg. Hasil penelitian menunjukan  N, P, KTK, KB, pH, C-organik memberikan pengaruh terhadap berat lateks dan K, Ca, Mg, bobot isi tidak memberikan pengaruh terhadap berat lateks. N, P, K, Mg, KTK, KB, pH, C-organik memberikan pengaruh terhadap lingkar batang Ca, dan bobot isi tidak memberikan pengaruh terhadap lingkar batang.Kata Kunci: Lingkar Batang, Lateks, Ultisol, Unsur Hara, Karet.    
KAJIAN MIKROBIA PELARUT FOSFAT PADA BEBERAPA PENGGUNAAN LAHAN DI DESA ROBAN, KOTA SINGKAWANG Shalleh, Muhammad; Sagiman, Saeri; Sulakhudin, Sulakhudin
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.264 KB)

Abstract

KAJIAN MIKROBIA PELARUT FOSFAT PADA BEBERAPA PENGGUNAAN LAHAN DI DESA ROBAN, KOTA SINGKAWANG Muhammad Shalleh(1), Saeri Sagiman(2), Sulakhudin(2) (1)Mahasiswa Fakultas Pertanian dan (2)Staf  Pengajar dari Program Studi Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak ABSTRAKFosfat (P) merupakan unsur hara esensial kedua setelah nitrogen yang berperan penting pada pertumbuhan tanaman. Ketersedian P di dalam tanah rendah oleh karena mudah terikat oleh unsur lain Fe, Al, Ca dan Mg. Beberapa mikrobia mampu melarutkan P sehingga peranannya sangat penting dalam budidaya tanaman. Tujuan penelitian untuk mengetahui jumlah populasi mikrobia pelarut fosfat (MPF), mengidentifikasi jenis serta kemampuannya dalam melarutkan fosfat yang diisolasi dari beberapa penggunaan lahan yakni lahan hutan sekunder, lahan pasca penambangan emas tanpa izin (PETI) tanpa tanaman dan lahan pasca PETI yang ditanami kelapa sawit di Desa Roban, Kota Singkawang. Isolasi MPF dilakukan  menggunakan media pikovskaya Ca3(PO4)2 dan FePO4 sebagai sumber P. Penghitungan kepadatan MPF dengan metode cawan hitung (total plate count). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya ditemukan bakteri pelarut fosfat (BPF) pada sumber P Ca3(PO4)2 yakni isolat SP1, SP2,SP3, SP4 dan SP5. Cendawan pelarut fosfat (CPF) ditemukan pada sumber P media pikovskaya ikatan Ca3(PO4)2 dan FePO4. Isolat CPF Ca3(PO4)2 yakni SP1, SP2 dan SP3. Isolat CPF FePO4 yakni SP10.1 dan SP10.2. Isolat BPF yang memiliki indeks pelarutan P terbesar adalah SP1 sebesar 69 mm2. Isolat CPF Ca3(PO4)2 memiliki indeks pelarutan terbesar adalah SP3 sebesar 105 mm2 sedangkan pada isolat CPF FePO4 adalah SP10.1 sebesar 46 mm2. Kepadatan populasi BPF menurun setelah adanya kegiatan PETI sedangkan populasi cendawan meningkat di lokasi pasca PETI tanpa tanaman.Kata kunci : Fosfat, hutan sekunder, sawit, bakteri, cendawan. 
PENGARUH PEMBERIAN KOMBINASI LUMPUR LAUT DAN PUPUK KANDANG SAPI TERHADAP KETERSEDIAAN HARA N, P, K DI LAHAN BEKAS TAMBANG BAUKSIT Alsyahdani, Daeng; Suswati, Denah; Sulakhudin, Sulakhudin
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 9, No 1 (2020): Januari 2020
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ultisols has an advanced degree of development, characterized by deep profil, increase of clay fraction along with the depth of soil, soil acidity, and low base saturation. Low pH, low nutrient elements such as nitrogen, phosphor, and potassium, low availability of organic carbon, Ca, Mg, Na, cation exchange capacity (CEC), base saturation are the characteristic of post bauxite mining land. The land that was formerly bauxite mining process by removing of a layer of top soil until the layer that contains the seeds of bauxite called post bauxite mining land. Coastal sediment is sediment which contains quite high micro nutrients with low CEC so by the addition of coastal sediment expected to increase base saturation and soil fertility. Cow manure is one of the alternative to improve the fertility of the soil. This study get analyzed by Complete Randomize Design (CRD) consisting of 4 treatments and 5 replications. A Treatment (control), B treatment (1.5 kg coastal sediment + 2.5 kg of manure), C treatment (2.4 kg coastal sediment + 4 kg of manure), the last D treatment (3.3 kg coastal sediment + manure). This research analyzed with the F test, if significant continued with Tukey’s Honestly Significant Difference (HSD) at the 5% level to obtain the difference between treatments. Based on the result, combination of Coastal sediment and cow manure from the C treatment (2.4 kg coastal sediment + 4 kg manure) able to increase pH of soil up to 6.68, which is the highest pH among the other treatments. Keywords : Ultisols, coastal sediment, cow manure, bauxite mining.
KAJIAN KESUBURAN TANAH DI LAHAN PASCA PENAMBANGAN EMAS TANPA IZIN (PETI) PADA BEBERAPA PERIODE PENAMBANGAN DI KECAMATAN MANDOR KABUPATEN LANDAK YONAL, PETRUS; SULAKHUDIN, SULAKHUDIN; HAYATI, RITA
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

KAJIAN KESUBURAN TANAH DI LAHAN PASCA PENAMBANGAN EMAS TANPA IZIN (PETI) PADA BEBERAPA PERIODE PENAMBANGAN DI KECAMATAN MANDOR KABUPATEN LANDAKPetrus Yonal(1), Sulakhudin(2), Rita Hayati(3)(1) Mahasiswa dan (2) Staf Pengajar Program studi Ilmu TanahFakultas Pertanian Universitas Tanjungpura ABSTRAK Lahan pasca penambangan emas tanpa izin merupakan lahan yang telah terdegradasi sehingga sulit bagi lahan tersebut untuk kembali seperti kondisi semula. Tekstur tanah berpasir dan miskin unsur hara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa sifat kimia tanah dan mengkaji status kesuburan tanah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Fertility Capability Classification (FCC) dan Status Kesuburan Tanah menurut Pusat Penelitian Tanah (PPT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas kesuburan tanah menurut metode FCC pasca penambangan emas tanpa izin 7 dan 20 tahun adalah SSeh(8%) dan hutan sekunder adalah OLeh(8%). Tanah pada pasca PETI 7 dan 20 tahun bertekstur pasir pada lapisan atas dan bawah (SS), KTK sangat rendah (e), bereaksi masam (h) dan besarnya kemiringan lahan 8%. Tanah pada hutan sekunder lapisan atas berupa bahan organik (O), lapisan bawah berlempung (L), KTK rendah/sangat rendah (e), reaksi tanah masam sampai agak masam (h) dan besarnya kemiringan lahan 8%. Status kesuburan tanah dengan metode PPT yaitu, lahan pasca PETI 7 dan 20 tahun status kesuburan sangat rendah sedangkan hutan sekunder status kesuburan rendah. Kata kunci : Hutan sekunder, Kesuburan tanah, Mandor, Pasca PETI, Pasir
KAJIAN KESUBURAN TANAH DI LAHAN PASCA PENAMBANGAN EMAS TANPA IZIN (PETI) PADA BEBERAPA PERIODE PENAMBANGAN DI KECAMATAN MANDOR KABUPATEN LANDAK PETRUS YONAL; Sulakhudin Sulakhudin; Rita Hayati
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 7, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v7i1.23603

Abstract

Lahan pasca penambangan emas tanpa izin merupakan lahan yang telah terdegradasisehingga sulit bagi lahan tersebut untuk kembali seperti kondisi semula. Tekstur tanahberpasir dan miskin unsur hara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapasifat kimia tanah dan mengkaji status kesuburan tanah. Metode yang digunakandalam penelitian ini adalah Fertility Capability Classification (FCC) dan StatusKesuburan Tanah menurut Pusat Penelitian Tanah (PPT). Hasil penelitianmenunjukkan bahwa kelas kesuburan tanah menurut metode FCC pascapenambangan emas tanpa izin 7 dan 20 tahun adalah SSeh(8%) dan hutan sekunderadalah OLeh(8%). Tanah pada pasca PETI 7 dan 20 tahun bertekstur pasir padalapisan atas dan bawah (SS), KTK sangat rendah (e), bereaksi masam (h) danbesarnya kemiringan lahan 8%. Tanah pada hutan sekunder lapisan atas berupa bahanorganik (O), lapisan bawah berlempung (L), KTK rendah/sangat rendah (e), reaksitanah masam sampai agak masam (h) dan besarnya kemiringan lahan 8%. Statuskesuburan tanah dengan metode PPT yaitu, lahan pasca PETI 7 dan 20 tahun statuskesuburan sangat rendah sedangkan hutan sekunder status kesuburan rendah. Kata kunci : Hutan sekunder, Kesuburan tanah, Mandor, Pasca PETI, Pasir
PENGARUH PEMBERIAN LUMPUR MERAH DAN PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH PADA TANAH PMK Zulifa Fadilla; Surachman Surachman; Sulakhudin Sulakhudin
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 12, No 4
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v12i4.69459

Abstract

Tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan satu di antara komoditas hortikultura yang bernilai ekonomi tinggi karena digunakan sebagai rempah dan penyedap rasa makanan. Permasalahan yang dihadapi pada lahan PMK adalah pH termasuk masam, Al-dd yang tinggi, kandungan P yang rendah, kapasitas tukar kation yang rendah (KTK) dan tanah yang miskin unsur hara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lumpur merah dan dosis pupuk NPK yang memberikan pertumbuhan dan hasil bawang merah yang terbaik pada tanah PMK. Penelitian ini dilaksanakan di lahan penelitian Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen lapangan dalam bentuk faktorial dengan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor, faktor pertama adalah lumpur merah (M) yang terdiri dari 3 taraf dan faktor kedua adalah pupuk NPK (F) yang terdiri dari 3 taraf. Perlakuan seluruhnya 9 kombinasi terdiri dari 3 ulangan dan setiap kombinasi perlakuan terdapat 4 tanaman sampel, dengan demikian terdapat 108 tanaman. Faktor pertama: Lumpur Merah (M) terdiri dari 3 taraf: m1 = 1: 500 (0,016 kg/polybag) setara dengan 16 gram/polybag , m2 = 1: 750 (0,01067 kg/ polybag) setara dengan 10,67 gram/polybag, m3 = 1: 1000 (0,008 kg/polybag) setara dengan 8 gram/polybag. Faktor kedua: Pupuk NPK (F) terdiri dari 3 taraf: f1 = 0,0008 kg/tanaman setara denga 0,8 gram/tanaman, f2 = 0,0012 kg/tanaman setara dengan 1,2 gram/tanaman, f3 = 0,0016 kg/tanaman setara dengan 1,6 gram/tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian lumpur merah dan NPK  terjadi interaksi pada variabel jumlah anakan minggu ke 4 dan minggu ke 6 sedangkan pada variabel jumlah daun, tinggi tanaman, jumlah umbi, berat basah dan berat kering angin berpengaruh tidak nyata. Perlakuan terbaik terdapat pada pemberian lumpur merah 8 g/tanaman dan NPK 1,6 g/tanaman.
PEMETAAN SEBARAN STATUS UNSUR HARA N, P, DAN K TANAH PADA LAHAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT RAKYAT KECAMATAN SANDAI KABUPATEN KETAPANG Hakim, Muhamad Amarul; Krisnohadi, Ari; Sulakhudin, Sulakhudin
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 13, No 3
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v13i3.77974

Abstract

Kelapa sawit merupakan komoditi pertanian subsektor perkebunan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai unsur hara yang ada di lokasi Penelitian. Kelapa sawit diharapkan dapat meningkatkan produktivitas kelapa sawit khususnya di lokasi penelitian. Penelitian ini dilakukan di Desa Merimbang Jaya untuk mengetahui sebaran status unsur hara N, P, dan K tanah pada kebun kelapa sawit dan memberikan saran pemupukan yang diperlukan. Penelitian berlangsung selama 5 bulan mulai dari survey lokasi penelitian, pengambilan sampel, analisis di laboratorium, analisis kriteria unsur hara, dan pembuatan peta sebaran status unsur hara N, P dan K mengunakan ArcGIS metode Kriging. Hasil analisis menunjukkan bahwa kandungan N-total tanah pada kedalaman 0-30 cm rendah, sedangkan pada kedalaman 30-60 cm ada yang rendah dan ada yang sedang. Kandungan P-tersedia tanah pada kedalaman 0-30 cm bervariasi dari sedang hingga sangat tinggi, sedangkan pada kedalaman 30-60 cm ada yang rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Kandungan K-dd tanah pada kedalaman 0-30 cm mayoritas sangat rendah, sementara pada kedalaman 30-60 cm mayoritas sangat rendah. Saran pemupukan yang diberikan untuk tanaman kelapa sawit meliputi pemakaian pupuk Urea sebanyak 1,49 kg/pohon, pupuk SP-36 antara 0,15-1,23 kg/pohon, dan pupuk MOP 1,89-4,5 kg/pohon.
STUDI KETERSEDIAAN UNSUR HARA N, P, K DAN PERTUMBUHAN TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) AKIBAT PEMBERIAN PUPUK KANDANG KAMBING DAN ABU BOILER PADA TANAH GAMBUT Ramadhan, Gina Suci; Sulakhudin, Sulakhudin; Junaidi, Junaidi
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 13, No 3
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v13i3.81170

Abstract

Tanah gambut adalah tanah yang memiliki potensi cukup besar untuk dimanfaatkan sebagai lahan budidaya pertanian. Tanah gambut sebagai lahan budidaya pertanian menghadapi permasalahan seperti, pH tanah yang rendah, kapasitas tukar kation yang tinggi, kejenuhan basa rendah, kandungan unsur makro dan mikro yang rendah, sehingga kurang optimal bagi budidaya tanaman bawang merah. Upaya untuk mengatasi permasalahan dilakukan untuk meningkatkan pH tanah dan ketersediaan unsur hara N, P, K di tanah gambut yaitu dengan cara pemberian pupuk kandang kambing dan abu boiler. Penelitian merupakan percobaan faktorial yang disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Percobaan terdiri dari 2 faktor yaitu pupuk kandang kambing (P) dan abu boiler (B). Faktor pertama yaitu pupuk kandang kambing sebanyak 3 taraf perlakuan P0 (0 g/polybag), P1 (240 g/polybag), P2 (480 g/polybag) dan faktor kedua abu boiler sebanyak 3 taraf perlakuan B0 (0 g/polybag), B1 (842 g/polybag), B2 (1.148 g/polybag) sehingga total kombinasi perlakuan sebanyak 9 dan diulang 3 kali sehingga terdapat 27 unit percobaan. Pengaruh perlakuan terhadap parameter pengamatan dianalisis dengan analisis ragam (ANOVA) uji F. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pupuk kandang kambing dan abu boiler secara interaksi tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter. Pemberian pupuk kandang kambing secara tunggal pada tanah gambut menunjukkan adanya pengaruh nyata terhadap parameter C-organik, N-total, P-tersedia, K-dd dan tinggi tanaman bawang merah. Pemberian abu boiler secara tunggal pada tanah gambut menunjukkan adanya pengaruh nyata terhadap parameter P-tersedia, K-dd dan jumlah daun tanaman bawang merah.Kata Kunci:  Abu boiler, ketersediaan hara, pupuk kandang kambing, tanah gambut, tanaman bawang merah.
IDENTIFIKASI SIFAT KIMIA TANAH PADA AREAL PENAMBANGAN KAOLIN DI DESA PAWANGI KECAMATAN CAPKALA KABUPATEN BENGKAYANG Mahendra, Dimas; Sulakhudin, Sulakhudin; Chandra, Tino Orciny
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 13, No 4
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v13i4.69959

Abstract

Kaolin merupakan bahan tambang alam yang termasuk dalam jenis tanah lempung (clay) dimana mineral penyusun utamanya adalah kaolinit. Tanah lempung jenis kaolin berwarna putih atau putih keabu-abuan. Di alam kaolin berasal dari dekomposisi feldspar, sebagai bahan tambang, kaolin bercampur   dengan oksida lainnya seperti magnesium oksida, kalsium oksida, kalium oksida dan lain-lain. Kegiatan penambangan tersebut dilakukan oleh perusahaan bersama dengan masyarakat dan menggunakan cara-cara penambangan mekanisasi yaitu eksavator. Penambangan yang dilakukan juga mengakibatkan lingkungan menjadi rusak apabila aktivitas penambangan telah berakhir. Akibatnya lahan-lahan bekas tambang seringkali menjadi kawasan yang gersang lahan menjadi lahan yang tidak produktif lagi dan menjadi miskin vegetasi, sehingga tumbuhan tidak dapat berkembang dengan baik karena rendah nya unsur hara, maka perlu di analisis lebih lanjut untuk mengetahui status kesuburan dan sifat kimia pada lahan pasca tambang kaolin. Penelitian akan dilakukan di Desa Pawangi Kecamatan Capkala Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat, di lokasi tersebut terdapat beberapa lahan bekas pertambangan kaolin yang di biarkan secara terlantar. Setelah penambangan kaolin berakhir, lahan tersebut tidak lagi diperdulikan dan dibiarkan begitu saja, sehingga tanah tersebut menjadi rusak.
ANALISIS BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH ULTISOL PADA LAHAN KELAPA SAWIT DI DESA KELOMPU KECAMATAN KEMBAYAN KABUPATEN SANGGAU Anindita, Marta; Sulakhudin, Sulakhudin; Agustine, Leony
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 13, No 4
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v13i4.71088

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Desa Kelompu, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, di area seluas sekitar 20 hektar, berlangsung selama enam bulan dari April hingga Juli 2023. Bahan yang digunakan meliputi bahan kimia untuk menganalisis sifat kimia dan fisik tanah, serta sampel tanah yang diambil langsung dari lapangan untuk dianalisis di laboratorium. Alat-alat yang digunakan mencakup peta topografi, Munsell Soil Colour Chart, kunci taksonomi tanah, bor tanah, dan lain-lain. Pengambilan contoh tanah menggunakan metode sistem grid, dengan pengamatan profil tanah di setiap titik, menghasilkan empat profil tanah. Sampel tanah diambil pada kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm untuk analisis sifat kimia. Analisis di laboratorium meliputi pengukuran pH tanah, kandungan C-organik, N-total, P-tersedia, dan lain-lain. Berdasarkan penelitian, lahan kelapa sawit di tanah Ultisol di semua lokasi memiliki karakteristik kimia tanah yang serupa dengan kadar nutrisi rendah, terbukti dari hasil analisis sampel tanah. Praktik pengelolaan lahan yang kurang optimal, seperti pemupukan yang tidak seimbang, berdampak negatif pada sifat kimia tanah. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa rekomendasi pemupukan yang diberikan masih lebih tinggi dari saran optimal, terutama untuk unsur hara K dalam bentuk KCl.Kata Kunci: karakteristik kimia tanah, kelapa sawit rakyat, rekomendasi pupuk