Pasar tradisional masih memegang peranan penting dalam perekonomian lokal, namun keberlangsungannya menghadapi berbagai tantangan akibat perubahan sosial dan ekonomi yang cepat. Modal sosial, yang meliputi jaringan sosial, kepercayaan, dan norma, diyakini berperan strategis dalam menjaga eksistensi pasar tradisional dan mendukung aktivitas ekonomi pedagang di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana unsur-unsur modal sosial tersebut berkontribusi dalam menjaga eksistensi Pasar Lima Puluh di Kota Pekanbaru. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan enam informan utama dan satu informan pendukung dari pengelola pasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan sosial antar pedagang, baik sesama jenis dagangan (bonding social capital), lintas jenis dagangan dan organisasi pasar (bridging social capital), maupun dengan pelanggan, pemasok, dan pengelola pasar (linking social capital), memberikan dukungan penting meskipun kerjasama nyata masih terbatas. Kepercayaan yang terbangun memperlancar transaksi, membangun loyalitas pelanggan, dan memastikan kelancaran suplai barang. Norma sosial berfungsi mengatur etika berdagang dan menjaga persaingan sehat, meskipun penegakannya masih informal dan bergantung pada kesadaran individu.