Claim Missing Document
Check
Articles

Poligami dalam Teori Hermeneutika Muhammad Shahrûr Tamu, Yowan
Mutawatir : Jurnal Keilmuan Tafsir Hadith Vol. 1 No. 1 (2011): JUNI
Publisher : Department of Qur'an dan Hadith Faculty of Ushuluddin and Philosophy UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.558 KB) | DOI: 10.15642/mutawatir.2011.1.1.71-95

Abstract

Muhammad Shah}rûr was a liberal philosopher from Suriah. Most scholars who study Shahrûr’s thought split into 3 phases of his thinking. The first phase, 1970 - 1980 is the contemplation phase. This phase is more influenced by the thought of taqlîd which is inherited and present in the old Islamic heritage and modern one, as well as a tendency in the Islamic ideology (‘Aqîdah) either in the form of kalâm and fiqh schools. The second phase is between the years of 1980 - 1986 is the phase where Shahrûr began to deliver his ideas and his interest into language studies, philosophy and understanding of the Qur’an. The third phase is between the years of 1986 - 1990 which Shahrûr began intensively arranges his thoughts in the topic of Islamic thoughts. In some aspects of his interpretation, He rejected Prophet Muhammad’s asbâb al-nuzûl and it’s temporarily limit, and strengthen the arguments the rejecters of divine revelation as a verse just resting on his asbâb al-nuzûl itself.
Interaksi Sosial Bani Alawiyyin dalam Masyarakat Multikultur di Desa Kwalabesar Kecamatan Paleleh Kabupaten Buol Hendra Marhum; Yowan Tamu; Funco Tanipu
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.4190

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pola, mekanisme, dan makna interaksi sosial Bani Alawiyyin sebagai kelompok minoritas di Desa Kwalabesar, Kecamatan Paleleh, Kabupaten Buol. Masyarakat desa terdiri atas berbagai etnis, dengan etnis Buol sebagai kelompok mayoritas, sementara Bani Alawiyyin berjumlah 71 jiwa. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh Bani Alawiyyin, tokoh adat, pemuda, petani, pelaku usaha, dan pemerintah desa, serta dokumentasi. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber, sedangkan analisis dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teori Aksi Talcott Parsons digunakan untuk menelaah hubungan antara aktor, tujuan, sarana, kondisi situasional, dan norma yang mengarahkan tindakan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi terbentuk melalui tiga ranah yang saling berkaitan. Pada ranah sosial, keterbukaan komunikasi, persahabatan lintas etnis, gotong royong, dan pemisahan antara perilaku individual dengan identitas kelompok mencegah konflik berkembang menjadi ketegangan antaretnis. Pada ranah budaya, Bani Alawiyyin mempertahankan identitas inti, terutama adat pernikahan, sambil berpartisipasi dalam tradisi lokal Jamah dan menyesuaikan praktik internal. Pada ranah ekonomi, konsistensi pelayanan perdagangan dan pembelian hasil pertanian menciptakan resiprositas, kepercayaan, serta ketergantungan fungsional. Temuan menegaskan bahwa keharmonisan multikultural bukan kondisi yang terbentuk secara otomatis, melainkan hasil tindakan sukarela dan rasional yang dipandu norma toleransi, saling menghormati, dan tujuan integrasi sosial.
Dinamika Musyawarah Perkawinan di Kecamatan Paguyaman Pantai Iyan Tahir; Rauf A. Hatu; Yowan Tamu
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.10043

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dinamika musyawarah perkawinan serta menganalisis faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam proses musyawarah perkawinan di Kecamatan Paguyaman Pantai. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teori Pertukaran Sosial George C. Homans digunakan untuk menjelaskan proses interaksi dan negosiasi yang terjadi dalam musyawarah perkawinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musyawarah perkawinan merupakan arena pertukaran sosial yang mempertemukan harapan, kepentingan, dan kemampuan kedua belah pihak keluarga. Proses musyawarah tidak selalu berlangsung dalam satu kali pertemuan, tetapi sering melibatkan negosiasi berulang hingga tercapai kesepakatan bersama. Faktor-faktor yang memengaruhi jalannya musyawarah meliputi kemampuan ekonomi calon mempelai laki-laki, nilai-nilai adat dan budaya, serta status sosial yang berkaitan dengan tingkat pendidikan, pekerjaan, penghasilan, dan kedudukan keluarga dalam masyarakat. Perbedaan antara harapan keluarga perempuan dan kemampuan ekonomi pihak laki-laki sering menjadi kendala yang menyebabkan negosiasi berlangsung lebih lama bahkan berpotensi menunda pelaksanaan perkawinan. Dengan demikian, musyawarah perkawinan tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme adat, tetapi juga sebagai proses sosial yang melibatkan pertukaran kepentingan dan pencapaian kesepakatan antarkeluarga. Dengan demikian, musyawarah perkawinan memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan nilai-nilai budaya sekaligus menyesuaikannya dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang terus berkembang.