Claim Missing Document
Check
Articles

Ruang Siber Sebagai Instrumen Penguatan Kemandirian Ekonomi Dan Sosial Perempuan Kepala Keluarga Di Era Society 5.0 Maharany, Sylvia; Hermin Indah Wahyuni; Dyah Woro Untari
Az-Zahra: Journal of Gender and Family Studies Vol. 6 No. 1 (2025): December 2025
Publisher : UIN Sunan Gunung Dajti Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Era Society 5.0 menempatkan teknologi sebagai sarana untuk mendorong kemajuan sosial yang berorientasi pada manusia, termasuk dalam upaya pemberdayaan kelompok rentan seperti perempuan kepala keluarga. Dalam konteks ini, ruang siber menjadi medium strategis yang dapat dimanfaatkan untuk memperluas akses informasi, meningkatkan kapasitas, serta memperkuat kemandirian sosial dan ekonomi. Yayasan Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) berperan sebagai wadah kolektif yang berupaya mendorong kemandirian perempuan kepala keluarga melalui berbagai program pemberdayaan berbasis komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan ruang siber oleh Yayasan PEKKA, faktor-faktor yang memengaruhinya, serta tantangan yang dihadapi dalam penguatan kemandirian ekonomi dan sosial perempuan kepala keluarga di era Society 5.0. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menelaah pandangan, praktik pemanfaatan ruang siber, serta dinamika pelaksanaannya di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang siber memiliki potensi besar sebagai sarana transformasi sosial bagi perempuan kepala keluarga. Melalui pemanfaatan ruang digital, Yayasan PEKKA dapat mendorong peningkatan keterampilan, perluasan wawasan, serta penguatan jejaring sosial dan ekonomi. Namun demikian, pemanfaatan ruang siber tersebut belum berjalan secara optimal karena masih terdapat sejumlah kendala, baik dari sisi kapasitas sumber daya maupun akses dan literasi digital. Oleh karena itu, diperlukan penguatan strategi pemanfaatan ruang siber agar perannya dalam mendukung kemandirian sosial dan ekonomi perempuan kepala keluarga dapat berjalan lebih efektif
Negotiating Autonomy: Art Workers, Media, and the Cultural Industries in Indonesia Rianto, Puji; Wahyuni, Hermin Indah; Wahyono, Sugeng Bayu
Jurnal The Messenger Vol. 17 No. 3 (2025): September-December
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/themessenger.v17i3.12374

Abstract

Purpose: This study investigates the autonomy of art workers within the Indonesian cultural industry through a case study of two local television stations, ADiTV and Bali TV. The main objective is to examine how art workers maintain their autonomy while navigating the demands of the market and the organizational values imposed by their institutions.   Methods: This study adopts a qualitative case study approach. Data were collected through in-depth interviews with television managers, art workers, and observers. The observers interviewed in this study were individuals with a deep and long-standing concern for the dynamics of local television. ADiTV and Bali TV were selected as research sites due to their distinctive characteristics. ADiTV operates as a local television channel with an Islamic missionary orientation, while Bali TV is embedded within the Ajeg Bali cultural movement.   Findings: This study found that the autonomy of art workers in the cultural industry on local television shows a negotiated position. This study found that economic interests in pursuing profits and mass production within the cultural industry do not always harm the autonomy of art workers. Pressures on art workers actually come from non-market forces that are more cultural, such as Islamic values ​​on ADiTV or Ajeg Bali on Bali TV.   Originality: This research contributes to the debate on artists' autonomy in the local television. By taking non-economic factors into account in determining artists' autonomy, this study makes an essential contribution to the discussion on artists' autonomy in the cultural industry, which tends to emphasize commercial factors.