Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Peran apoteker untuk meningkatkan kepatuhan minum obat diabetes dan TBC pada masyarakat kota Mataram Apriliany, Fitri; Umboro, Recta Olivia; Bimmaharyanto S., Dedent Eka; Isasih, Widani Darma; Ayu, Baiq Dinda Puspita
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 2 (2024): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i2.22764

Abstract

Abstrak Apoteker adalah salah satu profesi yang memiliki peran tidak hanya mengenai obat-obatan tetapi memiliki peran dibidang pelayanan kefarmasian. Indonesia menemui banyak tantangan masalah kesehatan seperti diabetes dan TBC. Sehingga pemerintah mengeluarkan peraturan presiden no 67 tahun 2021 tentang penanggulangan TBC. Untuk mendukung program pemerintah, maka IAI mengajak kepada para apoteker agar berkolaborasi melalui kegiatan branding, edukasi, dan kompetisi untuk mewujudkan dunia yang lebih sehat. Kegiatan ini dilakukan di Taman Sangkareang Kota Mataram bertujuan untuk memperkenalkan peran dan fungsi apoteker dibidang pelayanan kefarmasian komunitas dalam aksi mewujudkan peningkatan kepatuhan minum obat diabetes dan TBC. Peserta kegiatan ini adalah masyarakat Kota Mataram. Metode pengabdian dilakukan dengan 1) sambutan, 2) senam sehat untuk jantung, 3) edukasi dengan metode concurrent dan 4) dialog interaktif dengan masyarakat. Evaluasi dilakukan dengan kegiatan dialog interaktif dengan masyarakat. Hasil kegiatan ini adalah masyarakat mengetahui peran dan fungsi apoteker dan mengetahui lebih banyak tentang penyakit diabetes dan TBC dan peningkatan kepatuhan minum obat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini berdampak pada perubahan sikap pemahaman dan pengetahuan dari masyarakat tentang peran apoteker dan kepatuhan minum obat. Hal ini ditunjukkan dengan awalnya masyarakat hanya mengetahui peran apoteker sebagai penyedia layanan hanya tentang obat. Tetapi, masyarakat kini menjadi mengetahui bahwa peran apoteker juga memiliki peran tentang edukasi baik penggunaan obat dan penyakit, tindakan upaya pencegahan penyakit dan melakukan konseling. Kata kunci: diabetes; TBC; peran apoteker. Abstract Pharmacists are a profession that has a role not only regarding medicines but also has a role in the field of pharmaceutical services. Indonesia faces many health challenges such as diabetes and tuberculosis. So government issued presidential regulation no. 67 of 2021 concerning TB control. To support government programs, IAI invites pharmacists to collaborate through branding, education, and competition activities to create healthier world. This activity was carried out at Sangkareang Park, Mataram City, to introduce role and function of pharmacists in field of community pharmaceutical services in action to realize increased fulfillment of diabetes and TB medication. Participants in this activity are people of Mataram City. The method is carried out by 1) ceremonies, 2) exercise for the heart, 3) education using concurrent methods, and 4) interactive dialogue with community. Evaluation is carried out through interactive dialogue activities with community. The result of this activity is that public knows role and function of pharmacists and knowing more about diabetes and tuberculosis as well as increasing fulfillment of medication. So it can be concluded that this activity has an impact on changes in attitudes, understanding, and knowledge of community regarding role of pharmacists and compliance with taking medication. This started with public only knowing about role of pharmacists as service providers regarding medicines. However, public now knows that role of pharmacists also has a role in education regarding use of drugs and diseases, taking measures to prevent disease, and providing counseling. Keywords: diabetes; tuberculosis; the role of pharmacist.
Lansia sadar DMT2 melalui pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu dan edukasi manajemen perawatan diri Recta Olivia Umboro; Dedent Eka Bimmaharyanto S.; Dwi Monika Ningrum; Fitri Aprliany; Anita Mursiany; Hilda Hastuti
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 4 (2024): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i4.26977

Abstract

AbstrakPenduduk lanjut usia merupakan kelompok yang memiliki faktor risiko tinggi untuk mengalami gangguan kesehatan, salah satunya yaitu Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2). Untuk mengatasi kurangnya pemahaman lansia terhadap terkait deteksi dini dan manajemen perawatan diri pada DMT2 maka diadakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat pada hari Sabtu, 5 November 2022 bertempat di Desa Batu Asak,Praya Barat, Lombok Tengah, NTB.Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan informasi dan pemahaman terkait DMT2 dalam upaya meningkatkan kesadaran pentingnya deteksi dini pada lansia dan manajemen perawatan diri DMT2. Sasaran pada kegiatan ini adalah masyarakat usia dewasa dan lansia. Kegiatan ini menggunakan metode fasilitasi melalui edukasi, dialog dan berbagi cerita berdasarkan pengalaman masyarakat serta pemeriksaan kadar gula darah sewaktu. Evaluasi dilakukan dengan metode pretest dan posttest. Kegiatan dihadiri oleh 27 peserta dengan rentang usia 25 tahun – lebih dari 60 tahun. Hasil evaluasi menunjukkan nilai rata-rata pretest sebesar 38.00 dan nilai rata-rata untuk post test sebesar 73.00. Kesimpulan dari kegiatan ini yaitu terjadi peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya deteksi dini dan manajemen perawatan diri DMT2 pada lansia yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan persentase nilai evaluasi setelah perlakuan sebesar 92.11%. Kata kunci: diabetes melitus tipe 2; lansia; manajemen perawatan diri Abstract Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is one of the health issues that the aged population is particularly susceptible to. At Batu Asak Village, West Praya, Central Lombok, NTB, a community service activity was conducted on Saturday, November 5, 2022, to address the older population's ignorance about early identification and self-care management in type 2 diabetes.This program aims to raise awareness of the significance of early detection in the elderly and self-care management of type 2 diabetes by disseminating information about the disease. This exercise is intended for adults and senior citizens. This activity employs a facilitation approach that includes blood sugar testing, teaching, discussion, and the sharing of anecdotes based on the community's experiences. Pretest and posttest techniques were used for evaluation. Twenty-seven people, ranging in age from 25 to over 60, participated in the exercise. According to the evaluation results, the average pretest score was 38.00, and the average posttest score was 73.00. As evidenced by a 92.11% increase in the percentage of evaluation scores following treatment, the activity concludes that there is a greater level of community knowledge and awareness regarding the significance of early detection and self-care management of type 2 diabetes in the elderly. Keywords: elderly; self-care management; type 2 diabetes mellitus
Cerdas mengenal obat bersama apoteker cilik di SD dan SMP 02 Batukliang Lombok Tengah Fitri Apriliany; Recta Olivia Umboro; Dedent Eka Bimmaharyanto S.
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 3 (2025): May
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i3.30715

Abstract

Abstrak Apoteker cilik (Apocil) merupakan program pengenalan profesi apoteker kepada anak-anak baik SD dan SMP dengan tujuan meningkatkan minat anak terhadap profesi apoteker, branding eksistensi apoteker dan memberikan pengetahuan kepada anak mengenai obat. Karena sekarang ini masih banyak masyarakat dan anak-anak yang tidak mengenal profesi apoteker dan tidak memahami tentang obat. Maka dari itu dilakukan kegiatan pengabdian ini yang berlokasi di SD dan SMP 02 Batukliang Lombok Tengah. Tujuan kegiatan ini adalah mengenalkan obat dan profesi apoteker. Kegiatan ini menggunakan metode fasilitasi berupa edukasi dan praktek dengan menggunakan media berupa power point materi dan pemutaran video lagu GeMa CerMat dan dan Jingle Apoteker Cilik IAI. Evaluasi dilakukan dengan pretest dan posttest. Hasil evaluasi menunjukkan nilai rata-rata pretest sebesar 38,8% dan nilai rata-rata posttest sebesar 82,5%. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah terjadi peningkatan pengetahuan dan kesadaran peserta tentang obat dan profesi apoteker yang ditunjukkan dengan peningkatan persentase nilai setelah dilakukan evaluasi sebesar 113%. Kata kunci: anak-anak; apoteker cilik; GeMa CerMat; obat. Abstract Apoteker Cilik (Apocil) is a program that introduces the pharmacist profession to children in elementary and junior high schools with the aim of increasing children's interest in the pharmacist profession, branding the existence of pharmacists, and providing knowledge to children about medicine. Now there are still many people and children who do not know the pharmacist profession and do not understand medicine. Therefore, this program was carried out which was located at Elementary and Junior High School 02 Batukliang, Central Lombok. The purpose of this program  is to introduce medicine and the profession of pharmacists. This program  uses a facilitation method in the form of education and practice using media in the form of PowerPoint materials and playing videos of the GeMa CerMat song and the IAI Little Pharmacist Jingle. The evaluation was carried out with a pretest and posttest. The evaluation results showed an average pretest value of 38.8% and an average posttest value of 82.5%. The conclusion of this activity is that there was an increase in participants' knowledge and awareness of medicine and the pharmacist profession as indicated by an increase in the percentage of the value after the evaluation of 113%. Keywords: children; little pharmacist; GeMa CerMat; drugs.
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG DAGUSIBU OBAT DI KAMPUNG MARGOYUDAN KOTA SURAKARTA Mursiany, Anita; Avrila, Nesya; Umboro, Recta Olivia
Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia Vol. 6 No. 3 (2024): Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia
Publisher : APDFI (Asosiasi Pendidikan Diploma Farmasi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33759/jrki.v6i3.530

Abstract

One of the most pressing needs of the community is medicine. People can buy medicines without a doctor's prescription or get them with a doctor's prescription. Until now, many people have purchased medicines independently without first consulting a medical professional. Due to ignorance and lack of information, this can result in cases of irrational drug use. Get, Use, Store, and Dispose (DAGUSIBU) medicine is a program designed to help families be aware of medicine. The purpose of this study is to determine how much knowledge the community in Margoyudan Village, Surakarta City, has about DAGUSIBU medicine. Purposive sampling was used in this study to select participants in a descriptive quantitative research design using questionnaires distributed to residents of Margoyudan Village. The percentage of correct answers was then analyzed and used to calculate the level of knowledge. Based on the results of the study, the general public's understanding of DAGUSIBU medicine in Margoyudan Village fell into three categories: good (68%), fair (23.9%), and poor (7.9%).
EVALUASI PENERAPAN STANDAR PELAYANAN FARMASI PADA RUMAH SAKIT PEMERINTAH TIPE C DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH S., Dedent Eka Bimmaharyanto; Umboro, Recta Olivia; Apriliany, Fitri
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 7 No 2 (2025): Jurnal Kesehatan Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v7i2.3696

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) menjadi fasilitator dalam mewujudkan dan melaksanakan pelayanan kefarmasian yang berkualitas berfokus pada penyediaan obat-obatan yang aman, efektif, tepat waktu, dan menjamin keberlangsungan keselamatan pasien. Sebagai salah satu RS Tipe C dan menjadi tempat rujukan pertama bagi 1.099.211 jiwa masyarakat di Lombok Tengah, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Praya berkewajiban untuk menyelenggarakan pelayanan kefaramsian yang bertanggung jawab dan berkualitas.Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi penerapan standar pelayanan farmasi di RSUD Praya Kab. Lombok Tengah mengacu pada Permenkes RI No.72 Tahun 2016 yang meliputi: standar pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, bahan medis habis pakai; pelayanan farmasi klinis; dan Sumber Daya Manusia (SDM) kefarmasian. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan penelaahan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pelaksanaan aspek manajemen farmasi baru terlaksana secara maksimal sebanyak 7 (78%) aspek layanan; aspek farmasi klinis sebanyak 7 (63.36%) aspek layanan di IFRS Rawat Inap dan 5 (45.45%) aspek layanan di IFRS Rawat Jalan, selanjutnya pada aspek SDM kefarmasian sebesar 100%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa RSUD Praya belum menerapkan Permenkes RI No.72 tahun 2016 secara maksimal yang disebabkan beberapa kendala diantaranya keterbatasan jumlah tenaga farmasi, ketidaklengkapan dokumen dan fasilitas yang belum memadai. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan crosectional untuk mengevaluasi standar pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit Tipe C. Sampel diambil menggunakan teknik sampel jenuh yang melibatkan seluruh tenaga kefarmasian, termasuk Apoteker Kepala Instalasi dan Apoteker Penanggung Jawab Unit Kerja. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi menggunakan kuesioner berskala Guttman, lembar persetujuan, serta alat perekam. Data yang terkumpul kemudian diberi skor berdasarkan jawaban Ya dengan skor 1 atau Tidak dengan skor 0 dan dihitung persentase kesesuaiannya sesuai kategori penilaian yang berlaku. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pelaksanaan aspek manajemen farmasi baru terlaksana secara maksimal sebanyak 7 (78%) aspek layanan; aspek farmasi klinis sebanyak 7 (63.36%) aspek layanan di IFRS Rawat Inap dan 5 (45.45%) aspek layanan di IFRS Rawat Jalan, selanjutnya pada aspek SDM kefarmasian sebesar 100%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa RSUD Praya belum menerapkan Permenkes RI No.72 tahun 2016 secara maksimal yang disebabkan beberapa kendala diantaranya keterbatasan jumlah tenaga farmasi, ketidaklengkapan dokumen dan fasilitas yang belum memadai. Kesimpulan: Standar pelayanan farmasi di RSUD Praya Kabupaten Lombok Tengah belum terlaksana secara maksimal, terlihat dari nilai persentase kesesuaian beberapa aspek manajemen farmasi dan farmasi klinis yang masih di bawah 100% untuk pengelolaan sediaan farmasi, alkes, dan BMHP, serta di bawah 50% dengan kategori kurang baik untuk aspek pelayanan farmasi klinis, yang disebabkan oleh tidak maksimalnya proses evaluasi pelayanan, keterbatasan tenaga farmasi terlatih, ketidaklengkapan dokumentasi, dan fasilitas rumah sakit yang belum memadai. Kata kunci : Evaluasi, penerapan, standar pelayanan farmasi, rumah sakit pemerintah, tipe c
Adverse Drug Reactions to Antituberculosis Drugs in Tuberculosis Patients Using the Naranjo Algorithm at a Regional Hospital in Mataram Recta Olivia Umboro; Fitri Apriliany; Pande Made Desy Ratnasari; Anita Mursiany
Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia Vol. 8 No. 2 (2026): Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia
Publisher : APDFI (Asosiasi Pendidikan Diploma Farmasi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33759/jrki.v8i2.975

Abstract

Tuberculosis (TB) remains one of the major health problems in Indonesia. As of October 2023, 67,770 TB cases were reported in West Nusa Tenggara Province (NTB). TB treatment requires long-term therapy using combinations of antituberculosis drugs (ATBD), which have the potential to cause Adverse Drug Reactions (ADRs). ADRs that are not properly identified and managed can increase morbidity and mortality in TB patients and negatively affect treatment outcomes.This study aimed to determine the incidence of ADRs related to the use of ATBD in TB patients at Mataram City Regional General Hospital, NTB, from February to June 2023. This observational study employed a cross-sectional design. Data were collected through structured interviews, and the Naranjo Algorithm was used to assess the causality between reported symptoms and drug use. A total of 66 patients were included in the study. The most common definite ADRs was associated with rifampicin, characterized by reddish discoloration of urine (45.70%), followed by isoniazid-induced fatigue (34%). Probable ADRs were observed with streptomycin, isoniazid, rifampicin, and pyrazinamide, mainly presenting as itching or skin rash (11.10%). Possible ADRs included headache (4.90%) and pain (4.30%), predominantly related to rifampicin use. In conclusion, ADRs among TB patients receiving ATBD at Mataram City Regional General Hospital were diverse, with rifampicin-related urine discoloration being the most prevalent. Identification of ADRs using the Naranjo Algorithm is important for early intervention, improving treatment success, and preventing drug resistance.
Farmasis peduli diabetes melalui edukasi obat dan pencegahan komplikasi di Desa Darek Lombok Tengah Fitri Apriliany; Recta Olivia Umboro; Karina Erlianti; Dedent Eka Bimmaharyanto S; Deni Setiawan
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i2.38266

Abstract

Abstrak Lombok Tengah menjadi salah satu daerah tinggi penderita diabetes dibandingkan 9 kabupaten lainnya di NTB sebanyak 16.195 pasien dan diabetes adalah penyakit metabolik kronik yang bisa menyerang siapa saja tanpa pandang usia. Penyakit ini jika tidak ditangani maka akan menimbulkan komplikasi serius seperti penyakit kardiovaskular, gangguan ginjal, neuropati, dan gangguan penglihatan yang berdampak pada penurunan kualitas hidup pasien. Dalam tatalaksana pengobatan diabetes selain terapi pengobatan, dibutuhkan juga kepatuhan minum obat untuk mengoptimalkan outcome pengobatan. Akan tetapi masih banyak pasien yang memiliki ketidakpatuhan terhadap terapi pengobatan karena faktor rasa jenuh akibat mengkonsumsi obat seumur hidup sehingga perlunya peran tenaga kefarmasian dalam memberikan edukasi yang tepat kepada masyarakat. Olehkarena itu tujuan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai diabetes melalui farmasis peduli diabetes melitus (FARMA-DM). Metode edukasi dilakukan menggunanakn media pembelajaran audio visual (power point, video animasi). Evaluasi dilakukan dengan prettest dan posttest. Kegiatan dihadiri oleh 53 peserta. Hasil kegiatan diperoleh nilai rata-rata prettest (40%) dan posttest (90%). Kesimpulan pengabdian ini adalah peran farmasis dalam memberikan edukasi penyakit diabetes, obat, dan komplikasi nya berdampak pada perubahan sikap pemahaman dan pengetahuan peserta dengan ditunjukkan peningkatan nilai evaluasi sebesar 125% Kata kunci: diabetes; edukasi obat; farma-dm;  pengetahuan. Abstract Lombok Tengah is one of the districts in West Nusa Tenggara (NTB) with a high prevalence of diabetes mellitus, with 16,195 patients compared to the other nine districts. Diabetes mellitus is a chronic metabolic disease that can affect individuals of all ages. If not properly treated, it can cause serious complications such as cardiovascular disease, kidney disorders, neuropathy, and visual impairment, which can significantly reduce patients’ quality of life. In diabetes management, pharmacological therapy alone is not sufficient; medication adherence is also required to optimize treatment outcomes. However, many patients experience non-adherence to medication therapy due to boredom and fatigue associated with lifelong treatment. Therefore, the aim of this community service is to increase public knowledge and awareness of diabetes through the Pharmacists Caring for Diabetes Mellitus (FARMA-DM) program. Educational activities were delivered using audiovisual learning media, including PowerPoint presentations and animated videos. Evaluation was conducted using pretest and posttest methods. The activity was attended by 53 participants. The results showed that the average pretest score was 40%, which increased to 90% in the posttest. In conclusion, the role of pharmacists in providing education about diabetes, medication use, and its complications had a positive impact on participants’ attitudes, understanding, and knowledge, as indicated by a 125% increase in evaluation scores. Keywords: diabetes; medication education; FARMA-DM; knowledge.