Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

PENINGKATAN PENGETAHUAN FAKTOR RISIKO HIV-AIDS PADA PENGUNJUNG LAYANAN VOLUNTARY CLINICAL TEST (VCT) DI PUSKESMAS KEMILING BANDAR LAMPUNG UNTUK MENGURANGI PENULARAN HIV-AIDS Wardani, Dyah Wulan Sumekar Rengganis; Zuraida, Reni; Pramesona, Bayu Anggileo; Fiana, Dewi Nur
Nemui Nyimah Vol. 1 No. 1 (2021): Nemui Nyimah
Publisher : FT Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/nm.v1i1.21

Abstract

Kemajuan dalam melawan Human Immunodeficiency Virus/ Acquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV-AIDS) diukur melalui insiden dan kematian. Di Indonesia, insiden HIV-AIDS pada 2018 sebesar 46.000 kasus (42.000 – 50.000), menurun dibandingkan insiden pada 2010 sebesar 63.000 kasus (57.000 – 68.000). Akan tetapi, jumlah kematian meningkat, yaitu 38.000 kematian (33.000 – 43.000) pada 2018 dibandingkan 24.000 kematian (19.000 – 28.000) pada 2010. Terdapat beberapa kelompok yang berisiko lebih besar untuk terjadinya HIV-AIDS, yaitu wanita pekerja seks, pengguna narkoba suntik, gay, transgender dan klien pekerja seks. Bandar Lampung merupakan kota dengan kasus HIV-AIDS tertinggi di Provinsi Lampung yaitu 1.480 kasus pada periode 2015 – 2019. Di Bandar Lampung telah terdapat beberapa puskesmas yang memberikan pelayanan voluntary counselling test (VCT), yang diperuntukkan bagi orang yang mempunyai risiko tinggi terhadap HIV-AIDS, salah satunya adalah Puskesmas Kemiling. Pada kegiatan pengabdian ini akan dilakukan peningkatan pengetahuan pengunjung VCT Puskesmas Kemiling tentang faktor risiko HIV-AIDS. Kegiatan pengabdian mencakup Focus Group Discussion, penyusunan media informasi dan penyuluhan yang dilakukan pada tanggal 20 – 30 Agustus 2021. Evaluasi hasil kegiatan pengabdian dilakukan dengan pretest dan post test yang menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan. Dapat disimpulkan bahwa kegiatan pengabdian ini dapat meningkatkan pengetahuan para pengunjung VCT Puskesmas Kemiling.
Kader Prolanis dan Skrining Hipertensi - Diabetes Militus di Desa Marga Agung Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan Sutarto, Sutarto; Wardani, Dyah Wulan Sumekar Rengganis; Indriyani, Reni; Utama, Winda Trijayanthi
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 4 No. 1 (2019): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v4i1.2541

Abstract

Beberapa masalah gangguan penyakit dan menurunnya kekebalan tubuh, menimbulkan berbagai penyakit, antara lain Hipertensi - Diabetes Melitus (DM). Tim pengabdian Fakultas Kedokteran Unila bekerja sama dengan desa Marga Agung, melakukan kegiatan terintegrasi, untuk pembentukan kader pengelolaan penyakit kronis (prolanis) dan skrining hipertensi dan DM. Kegiatan ini mengutamakan pada kemandirian warga. Rumusan pada pengabdian ini bagaimana cara membentuk masyarakat desa Marga Agung yang tersangka Hipertensi dan DM secara mandiri dalam melakukan pengelolaan penyakit hipertensi dan diabetes melitus. Metode pengabdian dilakukan melalui pelatihan kader prolanis desa dan skrining warga ,Kegiatan berupa merencanakan kegiatan pembentukan kader prolanis, dan skrining hipertensi dan diabetes militus.Kegiatan pelatihan kader prolanis dengan hasil tren peningkatan nilai pengetahuan kader prolanis yang dilatih naik sangat tinggi dari minus 67% menjadi 64%. Hal ini terjelaskan bahwa nilai pengetahun pada rentang 0-40 dari 10 orang kader menjadi hanya 2 orang dan sebaliknya rentang nilai 61-100 dari 2 orang kader menjadi 9 orang kader. Kemudian dilakukan skrining didapatkan warga dengan gangguan Hipertensi dan Diabetes Melitus 29 orang.Kata Kunci : hipertensi, diabete militus, prolanis
Pemberdayaan Siswa sebagai Peer Educator dalam Rangka Upaya Pencegahan Perilaku Merokok Siswa Sekolah Dasar Mustofa, Syazili; Wardani, Dyah Wulan Sumekar Rengganis; Muhartono, Muhartono; Soemarwoto, Retno Ariza S
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 5 No. 1 (2020): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v5i1.2809

Abstract

Peningkatan jumlah perokok usia muda adalah masalah kesehatan besar yang dihadapi Indonesia karena jumlahnya semakin meningkat setiap tahun. Hal ini disebabkan pengaruh lingkungan seperti mengikuti tren, ingin terlihat mengesankan di depan teman sepermainan, dan kurangnya pengetahuan mengenai bahaya merokok. Perokok anak dan remaja rentan untuk terkena berbagai penyakit misalnya asma, infeksi saluran nafas dan penurunan fungsi paru. Berbagai penelitian menunjukkan remaja di Indonesia tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang bahaya perilaku merokok bagi kesehatan. Padahal, perilaku merokok dapat bermula pada periode ini. Peran teman sebaya sangat dibutuhkan anak remaja dalam memberikan informasi pengetahuan yang tepat dan memotivasi berperilaku hidup sehat. Target khusus kegiatan ini adalah meningkatkan kesehatan remaja melalui pemberdayaan siswa sebagai peer educator dalam rangka upaya pencegahan perilaku merokok siswa sekolah dasar di SDIT Baitul Jannah Bandar Lampung. Kegiatan ini berbentuk pendidikan pada masyarakat. Pendidikan kepada masyarakat dilakukan dengan mengadakan kursus konselor mengenai bahaya rokok terhadap kesehatan dan pencegahan perilaku merokok yang diadakan bagi siswa SDIT Baitul Jannah, Bandar Lampung. Setelah kegiatan ini selesai terjadi peningkatan bermakna pengetahuan siswa SDIT Baitul Jannah terhadap bahaya rokok dan pencegahan perilaku merokok, peningkatan keahlian komunikasi mereka sebagai konselor kesehatan dalam mencegah perilaku merokok pada teman sebaya mereka. Mengingat angka perokok muda semakin bertambah, kami menyarankan kepada dosen untuk fokus dalam menghadapi permasalahan ini dan mengembangkan berbagai metode pengabdian kepada masyarakat untuk menecegah perokok pada usia muda di Indonesia.Kata kunci: Bahaya merokok, konselor sebaya, pencegahan perilaku merokok, perokok muda,
Peningkatan Pengetahuan Tentang Penularan Kontak Serumah Pada Kejadian Tuberkulosis Anak di Puskesmas Kedaton Wardani, Dyah Wulan Sumekar Rengganis; Sutarto, Sutarto; Wahono, Endro Prasetyo
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 5 No. 1 (2020): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v5i1.2823

Abstract

Tuberkulosis (TB) anak masih menjadi aspek yang terabaikan dari epidemi TB yang terjadi saat ini. Diperkirakan 1 juta anak menderita TB dan 233.000 anak meninggal karena TB pada tahun 2017. Namun, beban aktual TB pada anak-anak kemungkinan lebih tinggi mengingat mendiagnosa TB anak yang cukup sulit. Penularan TB pada anak adalah sebagai dampak dari kontak orang TB dewasa yang menderita TB BTA positif dan pengetahuan penderita TB mengenai penularan TB yang rendah. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung tahun 2018, ditemukan 3.759 orang penderita TB dengan pasien BTA positif sebanyak 1.646 kasus. Banyaknya kasus TB BTA positif mengindikasikan banyaknya sumber penular yang cukup berbahaya terutama bagi anak-anak. Selain itu, kasus TB anak di Kota Bandar Lampung yang tercatat pada tahun 2018 terdapat 359 kasus, mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2017 yang hanya sebesar 225 kasus. Pada kegiatan pengabdian ini akan dilakukan peningkatan pengetahuan penderita TB tentang tentang penularan kontak serumah. Kegiatan dilakukan di Puskesmas Kedaton yang merupakan puskesmas dengan penderita TB anak terbanyak di Kota Bandar Lampung. Kegiatan pengabdian mencakup Focus Group Discussion untuk mengetahui gambaran pengetahuan awal keluarga penderita TB, penyusunan media informasi dan peningkatan pengetahuan keluarga penderita TB. Penyuluhan dilakukan pada 28 Juli 2020 di Puskesmas Kedaton yang dihadiri oleh 20 keluarga penderita TB. Hasil pengabdian menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan keluarga penderita TB mengenai penularan kontak serumah. Dengan meningkatnya pengetahuan keluarga penderita TB anak mengenai penularan kontak serumah akan mengurangi risiko penularan TB oleh kontak dewasa pada anak, yang pada akhirnya akan menurunkan kejadian TB anak.Kata kunci: tuberkulosis anak, penularan, kontak serumah
Pelatihan Juru Pemantau Jentik (Jumantik) di Desa Kalisari Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan Susianti, Susianti; Kurniawan, Betta; Wardani, Dyah Wulan Sumekar Rengganis; Hanriko, Rizki
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 6 No. 1 (2021): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v6i1.2947

Abstract

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Hemoragic Fever (DHF) sampai saat ini merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang cenderung meningkat jumlah pasien serta semakin luas penyebarannya. Penyakit DBD ini ditemukan hampir di seluruh belahan dunia terutama di negara–negara tropik dan subtropik, baik sebagai penyakit endemik maupun epidemik. Prevalensi DBD dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor perilaku dan partisipasi masyarakat yang masih kurang dalam kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) serta faktor pertambahan jumlah penduduk dan faktorpeningkatan mobilitas penduduk yang sejalan dengan semakin membaiknya sarana transportasi menyebabkan penyebaran virus DBD semakin mudah dan semakin luas. Dengan demikian, upaya program pengendalian DBD perlu lebih mendapat perhatian terutama pada tingkat kabupaten/kota dan Puskesmas. Dalam rangka membantu capaian target angka bebas jentik di Wilayah Natar Kabupaten Lampung Selatan perlu rasanya Universitas Lampung yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Lampung Selatan khususnya daerah Natar untuk membantu pemerintah mencapai target tersebut. Bahkan akan lebih baik jika kegiatan tersebut melibatkan masyarakat setempat. Target luaran dari kegiatan ini adalah meningkatnya pengetahuan dan meningkatnya jumlah ibu-ibu yang sudah terlatih sebagai Juru Pemantau Jentik (Jumantik) di rumah masing-masing khususnya, dan di wilayah Desa Kalisari Kecamatan Natar umumnya. Dengan dilakukan penyuluhan terjadi peningkatan pengetahuan bagiibu-ibu peserta penyuluhan tentang DBD, juru pemantau jentik dan cara mencuci tangan di desa Kalisari Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan.  Kata kunci: juru pemantau jentik (jumantik), Demam Berdarah Dengue (DBD), Kalisari, Natar
Peningkatan Peran Ibu-Ibu PKK dan Kader Puskesmas Tanjung Sari Tentang ASI Eksklusif Sebagai Upaya Meningkatkan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif Zuraida, Reni; Wardani, Dyah Wulan Sumekar Rengganis; Susianti, Susianti; Novianty, Detty
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 6 No. 1 (2021): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v6i1.2955

Abstract

World Health Organisation (WHO) merekomendasikan standar emas pemberian makanan pada bayi yaitu menyusui bayi secara eksklusif sejak lahir sampai dengan umur 6 bulan. Dengan menyusui, dapat mencegah 1/3 kejadian infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), kejadian diare dapat turun 50%, dan penyakit usus parah pada bayi prematur dapat berkurang kejadiannya sebanyak 58%. Pada ibu, risiko kanker payudara juga dapat menurun 6-10%. Kenyataan di Indonesia menurut data Riskesdas tahun 2018, didapatkan dari 33 Provinsi di Indonesia, rata-rata bayi yang mendapat ASI Eksklusif di Indonesia baru sebanyak 37,3%. Pencapaian program pemberian ASI Ekslusif di Provinsi Lampung sendiri masih dibawah rata-rata nasional, yaitu baru mencapai sekitar 28% bayi yang mendapat ASI ekslusif. Pada kegiatan pengabdian ini akan dilakukan peningkatan pengetahuan i bu-ibu dari  PKK dan kader Kesehatan tentang ASI Ekslusif. Kegiatan dilakukan di Pusksemas Tanjung Sari Natar. Kegiatan   pengabdian  mencakup   Focus   Group   Discussion   untuk mengetahui pengetahuan awal  ibu-ibu dari PKK dan kader kesehatan,penyusunan media informasi dan peningkatan pengetahuan ibu-ibu dari PKK dan kader kesehatan. Setelah mendapatkan penyuluhan materi tentang definisi, kelebihan dan manfaat ASI Ekslusif, kendala dan cara mengatasi masalah dalam proses pemberian ASI dan 10 langkah menuju keberhasilan ASI Ekslusif, rata-rata tingkat pengetahuan peserta pada pre-test adalah 56, menjadi bertambah pada post-test menjadi 92. Diharapkan dengan meningkatnya pengetahuan ibu-ibu dari PKK dan kader kesehatan mengenai ASI Eksklusif akan meningkatkan keterampilan ibu-ibu dari PKK dan kader kesehatan sebagai motivator ibu-ibu menyusui bayinya yang pada  akhirnya  akan meningkatkan perilaku pemberian ASI Eksklusif dari ibu ke bayi.Kata kunci : ASI eksklusif, ibu PKK, ibu kader, pengetahuan
Pemberdayaan Kader Kesehatan Cipadang Dalam Penilaian Status Gizi Ibu Dan Anak Serta Pencegahan Stunting Pada Komunitas Agromedicine Di Desa Cipadang Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran Komala, Ramadhana; Nareswari, Shinta; Zuraida, Reni; Sari, Ratna Dewi Puspita; Wardani, Dyah Wulan Sumekar Rengganis; Apriliana, Ety; Wijaya, Sofyan Musyabiq; Oktarlina, Rasmi Zakiah; Wahyuni, Ari
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 7 No. 2 (2022): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v7i2.3052

Abstract

Stunting adalah keadaan gagal tumbuh dikarenakan kekurangan gizi kronis selama 1000 hari pertama kehidupan yang berdampak pada perkembangan otak, menurunkan produktivitas, dan lebih rentan terkena penyakit kronis ketika masa dewasa. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kader tentang stunting. Kegiatan ini dilakukan di Desa Cipadang, Kabupaten Pesawaran, Lampung dengan sasaran  30 orang kader posyandu. Bentuk kegiatan yang dilakukan pada responden adalah bentuk penyuluhan/ ceramah.Evaluasi diberikan sebanyak sebanyak dua kali, yakni di awal sebelum kegiatan penyuluhan (pretest) dan di akhir  setelah kegiatan penyuluhan selesai (post test). Metode analisis yang digunakan dalam adalah analisis deskriptif yang meliputi persentase peningkatan pengetahuan dan rata-rata peningkatan pengetahuan kader. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebanyak 73% responden meningkat pengetahuannya tentang stunting dan penilaian status gizi. Rata-rata skor pengetahuan kader tentang stunting dan penilaian status gizi sebelum dilakukan penyuluhan masih rendah yakni 53,3 ± 17.6 poin dan meningkat setelah penyuluhan yakni 78,6 ± 15,4 poin. Rata-rata peningkatan skor kader dalam kegiatan penyuluhan cukup baik yakni  25,3 ± 2,37 poin. Kegiatan penyuluhan kepada kader perlu dilakukan secara rutin dan berkelanjutan agar kader memiliki pemahaman yang baik untuk dapat melakukan deteksi dini dan pencegahan stunting yang berdampak pada peningkatan kualitas sumberdaya manusia di masa depan.Keyword : Kader kesehatan, penilaian status gizi, penyuluhan, stunting
PENYULUHAN TUBERKULOSIS PADA ANAK DI POSYANDU CEMPAKA KECAMATAN NATAR, KABUPATEN LAMPUNG SELATAN Wardani, Dyah Wulan Sumekar Rengganis; Septiani, Linda
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 9 No. 1 (2024): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v9i1.3298

Abstract

Penyakit Tuberkulosis (TB) disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan masih menjadi masalah kesehatan secara global. Indonesia menduduki peringkat kedua dengan beban TBC tertinggi setelah India pada tahun 2022. Kasus TBC anak mengalami peningkatan yang signifikan tahun 2022. Di provinsi Lampung, khususnya Kabupaten Lampung Selatan kecamatan Natar, jumlah kasus Kasus TB Anak Usia 0-14 menduduki peringkat pertama sebanyak 32 kasus. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan TB salah satunya adalah dengan memperhatikan faktor risiko TB yakni riwayat kontak dengan orang yang menderita TB. Riwayat kontak ini dapat meningkatkan risiko infeksi TB pada anak, jika anak tidak mendapatkan imunisasi Bacillus Calmette Guerin (BCG) atau tidak mendapatkan pengobatan yang tepat. Berdasarkan hal tersebut, penting bagi posyandu untuk melakukan pemantauan pertumbuhan balita sebagai salah satu upaya pencegahan dan pengobatan gizi buruk pada anak yang disebabkan salah satunya karena terinfeksi TB. Tujuan dari pengabdian ini adalah memberikan penyuluhan kesehatan kepada orang tua (Ibu) balita untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat tentang tuberkulosis pada anak di Posyandu Cempaka, Natar. Pengabdian dilakukan dengan memberikan penyuluhan mengenai tuberkulosis pada anak kepada Ibu balita di posyandu. Pada kegiatan ini peserta penyuluhan juga diberikan poster dan leaflet tentang pengenalan dini tuberkulosis pada anak mulai dari kasus, penyebab TB, Gejala, cara penularan, pencegahan, dan pengobatan. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa kegiatan penyuluhan ini dapat memberikan pemahaman dan meningkatkan pengetahuan para Ibu balita tentang tuberkulosis sebesar 84,4%. Oleh karena itu, penyuluhan yang berkelanjutan diperlukan agar masyarakat memiliki pengetahuan yang komprehensif tentang tuberkulosis pada anak. Dengan demikian, diharapkan dapat menurunkan prevalensi TB anak. Kata kunci: penyuluhan, tuberkulosis anak, posyandu.
AKSI “BERGIZI” DI POSYANDU KENANGA, DESA NATAR, KECAMATAN NATAR, KABUPATEN LAMPUNG SELATAN Eka Putri Rahmadhani; Wardani, Dyah Wulan Sumekar Rengganis
JPM (Jurnal Pengabdian Masyarakat) Ruwa Jurai Vol. 9 No. 2 (2024): JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT RUWA JURAI
Publisher : FK Unila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpmrj.v9i2.3373

Abstract

Seribu hari pertama kehidupan merupakan periode emas dalam tumbuh kembang anak yang membutuhkan perhatian khusus, terutama dalam pemenuhan gizi seimbang. Pemahaman ibu tentang gizi seimbang menjadi faktor utama dalam mendukung tumbuh kembang optimal anak. Kegiatan pengabdian masyarakat bertema “BERGIZI: Bersama Penuhi Gizi Seimbang” bertujuan meningkatkan pengetahuan ibu mengenai pentingnya gizi seimbang dengan metode penyuluhan, mini drama, diskusi, dan games Isi Piringku. Kegiatan ini dilaksanakan di Posyandu Kenanga, Desa Natar, Kabupaten Lampung Selatan, dengan melibatkan 20 peserta yang terdiri dari ibu hamil dan ibu balita. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan pada peserta. Nilai rata-rata pre-test sebesar 65 meningkat menjadi 88 pada post-test, dengan analisis uji Wilcoxon menunjukkan p = 0,00. Hal ini membuktikan efektivitas metode penyuluhan yang digunakan. Kegiatan ini juga sejalan dengan pengabdian lain yang menunjukkan keberhasilan penyuluhan gizi dalam meningkatkan pemahaman ibu untuk mendukung tumbuh kembang anak. Secara keseluruhan, kegiatan “BERGIZI” berhasil mendorong peningkatan pemahaman masyarakat mengenai gizi seimbang sesuai pedoman Isi Piringku.
Edukasi kesehatan pariwisata dalam mendukung pengembangan potensi desa wisata Wardani, Dyah Wulan Sumekar Rengganis; Mulyatno, Bagus Sapto; Mulyasari, Rahmi; Wahono, Endro Prasetyo
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i9.1801

Abstract

Background: The development of tourism potential, including coastal tourism, must consider several factors, including tourism health. Banding Village, Rajabasa District, South Lampung Regency, has beaches with significant potential for development as tourist destinations. Furthermore, the development of coastal tourism potential needs to be accompanied by tourism health education. Purpose: To increase public knowledge about tourism health, including disease prevention, environmental health, safety support for tourism activities, and food safety at tourist sites. Method: The outreach activity was held on Sunday, August 31, 2025, attended by 20 integrated health post (Posyandu) cadres and community members in Banding Village, Rajabasa District, South Lampung Regency, representing each hamlet in Banding Village. The community service program consisted of focus group discussions (FGDs), the creation of information media, and direct outreach activities for the community. Data on knowledge levels was measured using a questionnaire containing questions related to the outreach material. The answers to the questionnaire given and filled out by the cadres before the extension activities were used as pre-test data, while the questionnaire with the same questions given after the extension activities was used as post-test data. Results: Data obtained showed that before the outreach program, the majority of cadres and residents of Banding Village had a level of knowledge about tourism health in the very poor and sufficient categories, with 7 (35.0%) and 10 (50.0%) respectively. However, after the outreach program, understanding of tourism health increased to good (10) and very good (10). Conclusion: This outreach program was quite effective in increasing community knowledge about tourism health and tourism environmental health. Increased community knowledge and understanding of tourism health also contributed positively to disease prevention efforts in tourism areas, food safety, and environmental health in tourism areas. Suggestion: It is hoped that cadres and residents who have acquired this knowledge will continuously monitor public health issues related to tourism activities and can make positive contributions to other communities in efforts to implement sustainable programs. Keywords: Beach tourism; Health education; Tourism environment; Tourism health Pendahuluan: Pengembangan potensi wisata, termasuk wisata pantai, harus memperhatikan beberapa hal termasuk kesehatan pariwisata. Desa Banding, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, memiliki pantai yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata. Di sisi lain, pengembangan potensi wisata pantai, perlu disertai dengan edukasi kesehatan pariwisata. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan kepariwisataan yang mencakup pencegahan penyakit, kesehatan lingkungan, dukungan keselamatan pada aktivitas wisata dan kesehatan pangan di tempat wisata. Metode: Kegiatan penyuluhan dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 31 Agustus 2025 yang dihadiri oleh 20 orang kader posyandu dan masyarakat di Desa Banding, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, yang merupakan perwakilan dari masing-masing dusun di Desa Banding. Rancangan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini terdiri dari focus group discussion (FGD), pembuatan media informasi dan kegiatan penyuluhan langsung kepada masyarakat. Pengukuran data tentang tingkat pengetahuan, dilakukan dengan kuesioner berupa pertanyaan yang terkait dengan materi penyuluhan. Jawaban kuesioner yang diberikan dan di isi oleh kader sebelum kegiatan penyuluhan adalah sebagai data pre-test sedangkan kuesioner dengan pertanyaan yang sama diberikan setelah kegiatan penyuluhan adalah sebagai data post-test. Hasil: Mendapatkan data bahwa sebelum dilakukan penyuluhan mayoritas kader dan masyarakat Desa Banding memiliki tingkat pengetahuan tentang kesehatan wisata dalam kategori sangat kurang dan kategori cukup yaitu masing-masing sebanyak 7 orang (35.0%), sedangkan setelah dilakukan penyuluhan terdapat peningkatan pemahaman kesehatan wisata menjadi kategori baik sebanyak 10 (50.0%) dan kategori sangat baik sebanyak 10 orang (50.0%).. Simpulan: Kegiatan penyuluhan ini cukup efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan wisata dan kesehatan lingkungan pariwisata. Meningkatnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang kesehatan wisata juga berkontribusi positif terhadap upaya pencegahan penyakit pada masyarakat di daerah wisata, kesehatan pangan dan kesehatan lingkungan di daerah pariwisata. Saran: Diharapkan para kader dan masyarakat yang telah mempunyai pengetahuan untuk selalu melakukan monitoring terkait kesehatan masyarakat terhadap aktivitas kepariwisataan dan dapat memberikan kontribusi positif kepada masyarakat lainnya dalam upaya penerapan program yang berkelanjutan.