Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

KETIDAKADILAN GENDER DALAM LIRIK LAGU TARLING DANGDUT Alfien, Moh. Fajrul; Wardani, Nugraheni Eko
Bahtera Indonesia Jurnal Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/bi.v10i1.955

Abstract

Ketidakadilan gender masih menjadi fenomena yang sering terjadi di tengah masyarakat. Hal tersebut tidak hanya terjadi di kehidupan nyata, tetapi juga terdapat pada hasil dari produk kebudayaan seperti karya sastra, iklan, dan lagu. Pnelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk-bentuk ketidakadilan gender pada lirik lagu tarling dangdut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif dengan pendekatan analisis isi. Sumber data dalam penelitian ini ialah lagu tarling dangdut pantura. Data dalam penelitian ini berupa lirik lagu tarling dangdut yang memuat bentuk ketidakadilan gender. Teknik pengampilan sampel yang digunakan ialah teknik purposive sampling. Teknik validitas data menggunakan triangulasi sumber dan teori. Hasil dari penelitian ini menununjukkan bahwa lagu-lagu tarling dangdut berjudul Keloas, Pecak Welut, Wayu Colongan, Dermayu Hongkong, Ngobor Kodok, Rong Puluh Ewu, Mabok Tuak, dan Selangkung Rong Langkung memuat bentuk ketidakadilan gender meliputi subordinasi, stereotip, kekerasan, dan beban kerja ganda.
Kesenian Berokan Indramayu: Asal-Usul, Makna Simbolik, dan Fungsi Alfien, Moh. Fajrul; Subiyantoro, Slamet; Wardani, Nugraheni Eko
PANGGUNG Vol 35 No 2 (2025): Representasi, Transformasi, dan Negosiasi Budaya dalam Media, Seni, dan Ruang So
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v35i2.3875

Abstract

Berokan merupakan salah satu kesenian yang terdapat di Indramayu, Jawa Barat. Kesenian ini berupa pertunjukan seorang dalang yang mengenakan kostum seperti binatang macan atau singa. Kesenian Berokan memiliki latar sejarah, fungsi, dan makna simbolik yang unik. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan asal-usul, makna simbolik, dan fungsi kesenian Berokan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data penelitian ini berupa hasil wawancara mendalam dengan informan dan studi pustaka. Narasumber dalam penelitian ini yaitu budayawan Indramayu, seniman Berokan, dan data berasal dari buku-buku yang memuat informasi mengenai kesenian Berokan. Teknik pengambilan sampel menggunakan snowballsampling dan purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam dan analisis dokumen. Uji validitas data menggunakan triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk fisik dan prosesi dalam kesenian Berokan seperti bentuk ekor, bentuk wajah dan tingkah lucunya, sesajian, bahan kostum, prosesi lempar bantal, dan hubungan antara dalang dan Berokan  memiliki makna yang selaras dengan nilai-nilai kebudayaan di Indramayu.  Kesenian Berokan juga memiliki fungsi religius, fungsi didaktis, dan fungsi sosial. 
Ecological wisdom in the legend of Otak Aiq Tojang: An ecocritical analysis Hilmi, Hubbi Saufan; Andayani, Andayani; Wardani, Nugraheni Eko
Studies in English Language and Education Vol 11, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/siele.v11i2.35428

Abstract

This study examines the Legend of Otak Aiq Tojang to explore ecological wisdom and spirituality within the Sasak people. Otak Aiq Tojang is a spring sacred to the Sasak people in Lendang Nangka village. This study used a literary ecocriticism approach with data collection techniques in the form of observation and interviews. Interviews were conducted with five informants representing predetermined social layers in the community using purposive sampling. The analysis reveals that the legend has profound significance in Sasaks life, symbolizing a harmonious balance between humans and nature. The connection between ecological policy and sustainability is underscored by the legend of Dewi Anjani, a purported mythological being, and Betere Indra Guru Saktis arrival and subsequent discovery of the spring. These tales have an impact on religious observances, including Begawe Beleq and Maulid Adat, which commemorate Prophet Muhammads birth. These legends serve not only as historical narratives but also as sources of spiritual and ecological insights. The water deemed auspicious by Otak Aiq Tojang symbolizes sustainability, reflecting the communitys holistic perspective on the environment. Prohibitions of indiscriminate entry and specific food offerings during rituals signify a dedicated preservation effort, illustrating the interconnectedness of cultural norms and ecosystem maintenance. This study enhances our understanding of Sasaks ecological wisdom, particularly within the context of the Otak Aiq Tojang legend. The implications extend to a deeper comprehension of the interplay between myths, religious rituals, and nature conservation in local cultural settings, thus providing a basis for future research in this domain.
Tuhan, Tolong Bunuh Emak: Representasi Proletariat Masyarakat Urban Akbar, Oky; Wardani, Nugraheni Eko
JURNALISTRENDI : JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Nahdlatul Wathan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jurnalistrendi.v10i1.2400

Abstract

Tuhan, Tolong Bunuh Emak (TTBE) ialah naskah juara sayembara naskah teater Dewan Kesenian Jakarta tahun 2022. TTBE mengetengahkan beban masyarakat urban. Tujuan penelitian ialah merepresentasikan persoalan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan dalam narasi TTBE. Penelitian berbentuk kualitatif dengan pendekatan naratif. Data-data berupa dialog tokoh dianalisis dengan persfektif Wacana Kritis Norman Fairclough. Validitas data dilakukan secara triangulasi antarpeneliti. Hasil penelitian menunjukan bahwa keluarga kelas pekerja di wilayah urban tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup, tidak mendapat dukungan pendidikan, dan terabaikan dalam akses kesehatan. Naskah TTBE memproduksi wacana kritis atas ketimpangan ekonomi, kesenjangan pendidikan, dan minimnya akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat urban. Kontribusi penelitian ini terletak pada upaya mengangkat naskah drama sebagai medium reflektif untuk mengungkap realitas sosial multidimensi masyarakat kelas pekerja urban.
Optimalisasi Pemanfaatan Artificial Intelligence untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMA Negeri 1 Baturetno Ulya, Chafit; Suwandi, Sarwiji; Wardani, Nugraheni Eko; Zulianto, Sugit; Setiyoningsih, Titi; Hartono, Tirza Marshanda
ADM : Jurnal Abdi Dosen dan Mahasiswa Vol. 3 No. 2 (2025): ADM : Jurnal Abdi Dosen dan Mahasiswa
Publisher : Penerbit dan Percetakan CV.Picmotiv

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61930/jurnaladm.v3i2.1217

Abstract

Kemampuan berpikir kritis merupakan kompetensi penting abad ke-21 yang harus dimiliki siswa untuk menghadapi tantangan global yang kompleks. Namun, pembelajaran di banyak sekolah masih berpusat pada guru dan belum mengintegrasikan teknologi secara optimal, termasuk pemanfaatan Artificial Intelligence (AI). Pengabdian ini bertujuan untuk mengembangkan kompetensi guru dalam mengintegrasikan AI untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa di SMA Negeri 1 Baturetno. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi tahap perencanaan, pelatihan, dan evaluasi. Pelatihan diberikan dalam bentuk penguatan konsep berpikir kritis, praktik penggunaan platform AI, serta pembuatan media ajar berbasis video interaktif. Kegiatan ini mampu memberikan wawasan dan pemahaman baru terhadap guru dalam mengoptimalkan pemanfaatan AI dalam pembelajaran di kelas. Guru menunjukkan antusiasme dan respons positif dalam menerima materi yang diberikan. Selanjutnya, guru diharapkan mampu menerapkan hasil pengabdian ini di kelas guna mendorong siswa untuk mampu berpikir kritis, terutama dalam memanfaatkan AI dalam proses belajar mereka.
Kearifan ekologis dalam cerita legenda pemandian Kendat di Boyolali: Kajian ekokritik Sari, Essa Rohimah; Suryanto, Edy; Wardani, Nugraheni Eko
Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum Vol. 25 No. 2 (2025): Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/hum.v25i2.81119

Abstract

This research discusses a folktale about the origin of the umbul kendat bath in Boyolali. This story explains the origin of the kendat bath taken from the journey of a palace princess named Dyah Ayu Ratna Sekar Kedaton. Her journey experienced deep sadness because she had been disappointed by the person she liked. Because she felt disappointed by this, the princess decided not to return to the palace and chose to continue performing rituals in the pond which is often called umbul kendat. The purpose of this research is implied by the wisdom of the folklore of Umbul Kendat Bath in Boyolali and is associated with the application of the present which functions as a foklor. The method used in this research uses a qualitative method in the form of narrative analysis. This folklore is analyzed using one of the literary studies, namely ecocriticism and foklor studies. The conclusion of this research is that the folklore of Umbul Kendat Bath in Boyolali is associated with apocalyptic literature because there are several characteristics such as a large, dashing, young, handsome figure, and the figure of a palace princess who performs rituals (spiritual actors); the palace court lady who is worried about the departure of Dyah Ayu, the only princess of the palace; characters who have excess spiritual powers. The concept contained in the book written by Greg Garrard, there are six concepts and only 4 concepts are taken, namely shelter, forest, disaster, earth. Spiritual values that can be practiced by anyone with different goals. This spiritual value is related to aspects of community life around the location that affect the direction of human life. The urgency of this research can have a positive impact on the community around the location to perform rituals with the aim of easily getting a job and being able to make money from a business. Penelitian ini membahas tentang cerita rakyat yang bertemaasal usul pemandian umbul kendat di Boyolali. Cerita ini menjelaskan mengenai asal usul pemandian kendat yang diambil dari perjalanan puteri keraton yang bernama Dyah Ayu Ratna Sekar Kedaton. Perjalanannya yang mengalami kesedihan mendalam karena telah dikecewakan oleh orang yang disukai. Karena merasa kecewa dengan hal tersebut puteri kertaon tersebut memutuskan untuk tidak kembali lagi ke keraton dan memilih melanjutkan melakukan ritual di kolam yang sering disebut dengan umbul kendat. Tujuan yang diungkapakn dalam penelitian ini tersirat dari kearifan cerita rakyat Pemandian Umbul Kendat di Boyolali dan dikaitkan pada penerapan masa kini yang berfungsi foklor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif berupa analisis naratif. Cerita rakyat ini dianalisis menggunakan salah satu kajian sastra yaitu kajian ekokritik dan foklor. Kesimpulan pada penelitian ini berupa cerita rakyat Pemandian Umbul Kendat di Boyolali yang dikaitkan dengan sastra apokaliptik karena terdapat beberapa karakteristik seperti sosok besar, gagah, muda, tampan, dan sosok puteri keraton yang melakukan ritual (pelaku spiritual); dayang keraton yang khawatir akan kepergian Dyah Ayu puteri keraton satu-satunya; karakter yang memiliki kelebihan kesaktian spiritual. Konsep yang terdapat pada buku yang di tulis oleh Greg Garrard, ada enam konsep dan yang diambil hanya 4 konsep yaitu tempat tinggal, hutan, bencana, bumi. Nilai spiritual yang dapat dilakukan oleh siapapun dengan tujuan yang berbeda-beda. Nilai spiritual ini berkaitan dengan aspek kehidupan masyarakat disekitar lokasi yang berpengaruh pada arah hidup manusia. Urgensi dalam penelitian ini dapat memberikan dampak yang positif bagi masyarakat sekitar lokasi untuk melakukan ritual dengan tujuan agar mudah mendapatkan pekerjaan dan dapat mengahasilkan uang dari suatu usaha.
Social Criticism and Morality in "Subversif!" Drama by Faiza Mardzoeki as Literature Teaching Materials Putri, Intan Listyaning; Andayani, Andayani; Wardani, Nugraheni Eko
Journal of Languages and Language Teaching Vol. 12 No. 1 (2024): January
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jollt.v12i1.8828

Abstract

The overarching goal of education extends beyond the mere attainment of competencies and academic standards; it encompasses a broader responsibility to cultivate students' awareness of their societal roles, obligations, and rights. This research, undertaken with the specific focus on the drama script "Subversive!" by Faiza Mardzoeki, aims to elucidate the manifestations of social criticism and morality within this literary work. Employing a qualitative research approach, this study hinges on document analysis as its primary methodological framework. Qualitative research, distinguished by its departure from statistical procedures and quantitative calculations, relies on the exploration of assumptions, broad perspectives, theoretical lenses, and a thorough examination of research problems. The research findings primarily unveil instances of social criticism embedded in political contexts and discernible moral dynamics between individuals. Notably, these insights derived from the drama script "Subversive!" serve as valuable material for the pedagogical realm, contributing to the understanding of literary texts in educational settings. This research contends that the implications of its findings extend to the realm of high school literature education, providing a foundation for educators to consider various aspects, types, and impacts of literary works. By delving into the social and moral criticisms encapsulated within these texts, educators can enhance the learning experience, prompting thoughtful reflection on societal constructs and the multifaceted roles literature plays. Additionally, the research underscores the pivotal role of teachers in facilitating this process, thereby emphasizing the broader educational significance of integrating critical perspectives into the study of literature.
Islamic Religious Values in Sapta Tirta Pablengan Folklore Istiana, Rahayu Nur; Rakhmawati, Ani; Wardani, Nugraheni Eko
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v23i2.13340

Abstract

“Sapta Tirta Pablengan” folklore which is originated from Karanganyar Regency, Central Java, is one of Javanese identities with a lot of local values and wisdom. This study aims to describe and explain Islamic religious values behind “Sapta Tirta Pablengan” folklore. It is a descriptive qualitative research with content analysis method. The data were collected through literature study, structured and in-depth interviews, and field observations. The data analysis employed independent techniques and flow analysis techniques. The results of the study show that the Islamic religious values of Sapta Tirta Pablengan folklore could be grouped into three dimensions along with their respective indicators. The first is faith dimension with indicators: (1) believing in Allah, (2) believing in His destiny, (3) surrendering to Him, (4) sincere, and (5) practicing worship. The second is experience dimension with indicators: (1) helpful, (2) honest, (3) forgiving, and (4) hard work. The third category is natural dimension with the indicator of managing and conserving nature. Therefore, “Sapta Tirta Pablengan” folklore can be recommended a learning material at schools because it contains Islamic religious character education. Cerita rakyat “Sapta Tirta Pablengan” yang berasal dari Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, merupakan salah satu jati diri masyarakat Jawa yang sarat akan nilai-nilai dan kearifan lokal.  Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan nilai religius Islam yang terkandung dalam cerita rakyat “Sapta Tirta Pablengan.” Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan metode analisis isi. Metode pengumpulan data dengan studi pustaka, wawancara terstruktur dan mendalam, serta observasi lapangan. Teknik analisis data menggunakan teknik mandiri dan teknik analisis mengalir.  Hasil kajian menunjukkan mengandung nilai religius Islam dikelompokkan menjadi tiga dimensi beserta indikator yang menyertai. Pertama, dimensi keyakinan dengan indikator: (1) percaya adanya Allah, (2) percaya pada takdir Allah, (3) pasrah pada Allah, (4) iklhas, dan (5) menjalankan ibadah. Kedua, dimensi pengalaman dengan indikator: (1) suka menolong, (2) jujur, (3) pemaaf, dan (4) kerja keras. Ketiga, dimensi alam dengan indikator mengelola dan melestarikan kekayaan alam. Dengan demikian, cerita rakyat “Sapta Tirta Pablengan” bisa direkomendasikan sebagai materi pembelajaran sastra di sekolah karena sarat dengan pendidikan karakter religius.
Analisis Wacana Kritis Model Teun A. Van Dijk Pada Berita Viral Pembatalan Pernikahan Batak Simanungkalit, Kaleb Edison; Wardani, Nugraheni Eko; Saddhono, Kundharu; Rohmadi, Muhammad
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8432

Abstract

Mass media play a crucial role in shaping public opinion and framing social reality through discourse construction. In online news reporting, the choice of words, text structure, and journalistic perspective significantly influence how events are perceived by the public. This study aims to analyze the critical discourse in the Tribun Medan news article titled “Viral Pesta Pernikahan Batak Batal Akibat Pengantin Wanita Kabur Pihak Sihombing Tuntut Ganti Rugi” using Teun A. Van Dijk’s Critical Discourse Analysis (CDA) model. This research employs a qualitative method with data collected through documentation of the news text published on July 11, 2023, supported by relevant literature. The data were analyzed using the three dimensions of Van Dijk’s CDA: text structure (macrostructure, superstructure, and microstructure), social cognition, and social context. The results reveal that the news is not neutral but is constructed through linguistic choices, textual organization, and rhetorical strategies that emphasize the financial and social pressures experienced by the groom’s family. The analysis of social cognition shows that the journalist’s ideology, values, and personal experiences influence the framing of the event. Meanwhile, the social context analysis highlights power dynamics within Batak customary traditions, particularly regarding the rights and position of the male party in customary marriages, as represented by the highlighted demand for compensation in the news. This study contributes to CDA scholarship on local cultural reporting and offers a critical perspective on how media construct social realities.. Abstrak Media massa memiliki peran penting dalam membentuk opini publik dan membingkai realitas sosial melalui konstruksi wacana. Dalam konteks pemberitaan daring, pemilihan kata, struktur teks, dan sudut pandang jurnalis sangat memengaruhi bagaimana sebuah peristiwa dipersepsikan masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis wacana kritis pada berita Tribun Medan berjudul “Viral Pesta Pernikahan Batak Batal Akibat Pengantin Wanita Kabur Pihak Sihombing Tuntut Ganti Rugi” dengan menggunakan model Analisis Wacana Kritis (AWK) Teun A. Van Dijk. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa dokumentasi terhadap teks berita yang diterbitkan pada 11 Juli 2023, serta studi pustaka sebagai data pendukung. Data dianalisis menggunakan tiga dimensi AWK Van Dijk, yakni struktur teks (makro, superstruktur, dan mikro), kognisi sosial, dan konteks sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berita tersebut tidak bersifat netral, melainkan dikonstruksi melalui pilihan bahasa, skema teks, dan strategi retoris yang menekankan kerugian finansial serta tekanan sosial yang dialami pihak pengantin pria. Analisis kognisi sosial mengungkap bahwa ideologi, nilai, dan pengalaman wartawan turut membentuk cara peristiwa diberitakan. Adapun pada konteks sosial, ditemukan bahwa dinamika kekuasaan dalam adat Batak, khususnya terkait hak dan posisi pihak laki-laki dalam pernikahan adat, direpresentasikan melalui tuntutan ganti rugi yang ditonjolkan media. Penelitian ini berkontribusi memperkaya kajian AWK dalam pemberitaan budaya lokal dan memberikan perspektif kritis mengenai cara media mengonstruksi realitas sosial.
Preservation of Javanese Language on Ganjar Pranowo's Conversation in Pandemic of COVID-19 Farichah, Umi; Rakhmawati, Ani; Wardani, Nugraheni Eko
Humaniora: Journal of Indonesia Culture and Society Vol. 12 No. 1 (2021): Humaniora
Publisher : Bina Nusantara University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21512/humaniora.v12i1.6708

Abstract

The research aimed to see a relevance of the preservation of the Javanese language in Javanese conversations that Ganjar Pranowo carried out during the COVID-19 pandemic. The resulting data was about the level in the language that included word level, phrase level, and sentence level. Also, several manners, unggah ungguh, and ethics were produced that could become examples or role models for the people of Central Java. The research applied a qualitative method. The data source was the utterances contained in the uploads of Ganjar Pranowo in the form of video recordings that included primary data in the form of utterances or parts of spoken speech from various speeches and communications from the people of Central Java with Ganjar Pranowo. The results show that preservation of the Javanese language through conversations between leaders and the community has positive implications. This means that the preservation of the Javanese language is carried out optimally in the social sphere. This activity is well recorded and uploaded on social media, Ganjar Pranowo, a figure who has high credibility. The social sphere is an important component used to preserve Javanese language, culture, and traditions.