Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH KOMUNITAS BEAUTY CREATOR DALAM MEMBENTUK TREN MAKEUP DI DENPASAR BALI Sari, Intan Purnama; Wiasti, Ni Made; Suarsana, I Nyoman
Jurnal Mahasiswa Antropologi dan Sosiologi Indonesia (JuMASI) Vol. 2 No. 1 (2024)
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jumasi.v1i1.11026

Abstract

Beauty creators are individuals who create and set trends in the field of beauty content through various media forms such as writing, videos, and photos, which are uploaded on popular platforms. One well-known Beauty creator community is Bali Beauty Blogger, where like-minded Beauty creators gather to create beauty content in various formats, including writing, videos, and photos, which are shared on platforms such as blogs, TikTok, Instagram, and YouTube. In the digital era and social media landscape, Beauty creators play a significant role in shaping beauty trends and preferences among the millennial generation. By understanding the profile of Beauty creator communities and their strategies, this research aims to provide insights into how they influence and become trendsetters in Denpasar city. The research adopts a qualitative approach, gathering primary data through observation and interviews, and secondary data through documents, literature, and other texts. The data is analyzed using qualitative analysis methods to present the findings and draw conclusions. The results of the research indicate that the growing community in Denpasar city is Bali Beauty Blogger, a Beauty creator community focusing on beauty content creation. Its members actively produce written, video, and photo content uploaded on various platforms such as blogs, TikTok, Instagram, and YouTube. The community serves as a platform for young Beauty creators in Bali to express their creative ideas in the field of beauty. The research also reveals that Bali Beauty Blogger has a vision to connect brands with the public through brand awareness, and they employ various strategies to sustain their presence.
KEBERTAHANAN PENGULAT DI DESA PEDAWA, KECAMATAN BANJAR, KABUPATEN BULELENG Pangestu, Dhi'fa Hafizha; Wiasti, Ni Made; Aliffiati, Aliffiati
Jurnal Mahasiswa Antropologi dan Sosiologi Indonesia (JuMASI) Vol. 2 No. 1 (2024)
Publisher : FISIP Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jumasi.v1i1.11912

Abstract

Pengulat is a local term used in Pedawa Village to refer to a craftsman of woven bamboo. The number of pengulat in Pedawa Village consist of 21 peoples. Pengulat in Pedawa Village dominated by the older people, so there is a threat of ending the pengulat generation if the younger generation in Pedawa Village does not continue and develop this economic potentials. This research aims to describe and explain the resistance of pengulat in Pedawa Village, Banjar District, Buleleng Regency. This research is qualitative by using ethnographic method (observation and interview) and also literature study. The theory that used in this research is the structural functional theory by A.R. Radcliffe Brown and the theory of motivation by David McClelland. Based on the data obtained in this research, the potentials and problem experienced by pengulat during doing their work comes from two factors, potentials and probles that comes from the natural resources and potentials and problems that comes from the hunan resources.
Moderasi Beragama melalui Peran Guru Beragama Hindu di Pondok Pesantren Bali Bina Insani I Made Dwiki Wahyudi Putra; Ni Made Wiasti; I Nyoman Suarsana
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 2 No. 2: Februari 2023
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v2i2.1403

Abstract

Abstrak: Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan keislaman umumnya hanya melibatkan umat muslim, akan tetapi berbeda dengan Pondok Pesantren Bali Bina Insani yang mengimplementasikan moderasi beragama dalam operasionalnya. Pada pendidikan formal, guru beragama Hindu melaksanakan perannya sebagai tenaga pendidik. Penelitian ini mencoba untuk mengkaji Moderasi beragama melalui peran guru beragama Hindu. Pokok permasalahan pada penelitian ini berfokus pada (1) Praktik moderasi beragama pada Pondok Pesantren Bali Bina Insani (2) Peran guru beragama Hindu dalam mendidik santri. Teori yang digunakan adalah teori adaptasi dan teori peran. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi dan studi pustaka. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa Pondok Pesantren Bali Bina Insani mencerminkan keempat indikator moderasi beragama melalui operasionalnya. Tercapainya moderasi beragama turut didukung oleh peran dari umat beragama Hindu yang berperan menjadi tenaga pendidik bagi santri selama menempuh pendidikan formal.
Komunitas Rumah Belajar Kambodja Sebagai Ruang Pendidikan Alternatif Bagi Anak Marginal di Kota Denpasar, Bali Farah Riza Fadhillah; I Nyoman Suwena; Ni Made Wiasti
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 2: Januari 2023
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v2i2.1155

Abstract

Kehidupan perkotaan yang dinamis telah menimbulkan serangkaian kesenjangan dalam masyarakatnya. Kesenjangan pendidikan adalah salah satunya. Bagi ibukota Provinsi Bali, Denpasar, kesenjangan pendidikan ini terasa di sejumlah wilayah. Sebagai solusi atas kesenjangan ini, digagaslah sebuah komunitas yang menyediakan pendidikan alternatif bagi anak-anak kelompok marginal di TPS Suwung dan TPS Monang-Maning. Komunitas Rumah Belajar Kambodja berpotensi menyediakan kesempatan pendidikan yang merata bagi anak-anak kelompok marginal. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan kegiatan Rumah Belajar Kambodja dalam rangka mengurangi kesenjangan pendidikan di kalangan anak marginal. Manfaat dari penelitian ini adalah adanya identifikasi kegiatan, potensi dan hambatan yang dihadapi komunitas penyelenggara pendidikan alternatif seperti Rumah Belajar Kambodja. Penelitian ini memperolah kesimpulan bahwa pendidikan alternatif yang diselenggarakan oleh Rumah Belajar Kambodja memang berpotensi untuk pemerataan akses pendidikan dan pemberian pelajaran tambahan bagi anak-anak marginal. Namun, potensi tersebut juga dibayangi oleh serangkaian hambatan seperti fluktuatifnya dinamika keluar masuk relawan dan kebiasaan anak-anak dari keluarga marginal yang belum sepenuhnya bisa diatur.
Pendidikan Karakter Relawan Bali Mengajar pada Anak Gepeng di Rumah Singgah YKPA, Kubu Anyar, Kuta Patricia Novalian Arya Astar; I Wayan Suwena; Ni Made Wiasti
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 9: Agustus 2023
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v2i9.2010

Abstract

Pada kenyataannya masih banyak anak yang belum mendapat kesetaraan pendidikan di Indonesia. Faktor ekonomi adalah salah satu alasan mengapa anak tidak mendapatkan pendidikan yang sama terutama anak gepeng. Maka dari itu Relawan Bali Mengajar (RBM) hadir untuk memberikan pendidikan formal dan pendidikan karakter melalui Rumah Singgah YKPA, Kubu Anyar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Peneliti menggunakan dua teori, yaitu teori belajar psikologis humanistis dan teori interaksionisme simboki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak gepeng memiliki karakter yang keras karena terbiasa hidup di jalanan dan lingkungan yang sangat berpengaruh. Dalam pendidikan karakter, para relawan memfokuskan pad aetika sopan santun terutama penggunaan kata maaf, terima kasih, dan tolong. Pengajaran formal yang diberikan ialah baca, tulis, hitung, dan bahasa Inggris. Penerapan pendidikan karakter disini terbilang berhasil karena merubah anak gepeng menjadi lebih baik, namun untuk keinginan melanjutkan pendidikan masih belum maksimal karena anak gepeng memilih mencari uang dibanding pendidikan.
Budaya dan Identitas Lokal: Keberlanjutan Batik Banyuwangi melalui Kolaborasi Perajin di Desa Tampo Dwi Mayuka Vernita; Ni Made Wiasti; Aliffiati Aliffiati
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 12: November 2023
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v2i12.2405

Abstract

Batik is a culturally rich traditional textile art form in Indonesia. In 2009, UNESCO officially recognised batik as a non-material cultural heritage. In the midst of changing times and globalisation trends, batik's role in representing Indonesia's cultural identity has become increasingly important. However, batik artisans in the Tampo area of Banyuwangi face a number of challenges in maintaining this tradition. To overcome these challenges and maintain the sustainability of Banyuwangi batik, an in-depth research is needed. This research aims to identify the challenges by batik artisans in Tampo Village, exploring the strategies they use to support the preservation and development of Banyuwangi batik. This research uses a qualitative approach with data collection that include observation, interviews, literature study. The data obtained will be analysed to identify the patterns and strategies used by batik artisans in Tampo Village. This research will provided in-depth view of the preservation and development of Banyuwangi batik and the efforts of the artisans to keep this cultural tradition alive. From the results of this study, the strategies for handling these obstacles are maintaining product quality, making modern motifs, affordable prices, using social media, and government support.
Kekerasan Berbasis Gender Online Melalui Whatsapp Group di Kalangan Generasi Z Kota Denpasar: Perspektif Antropologi Virtual Elly, Rania; Wiasti, Ni Made; Pujaastawa, Ida Bagus Gde
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 3 No. 6: Mei 2024
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v3i6.3485

Abstract

Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) adalah isu universal yang terkadang masih dimarginalisasikan di kalangan masyarakat Indonesia. Diskusi mengenai KBGO masih perlu dipahami secara komprehensif di setiap lapisan kalangan khususnya kalangan muda yang sangat akrab dengan penggunaan teknologi informasi digital. KBGO sendiri merupakan salah satu bentuk dari kejahatan siber yang dimediasi oleh internet. Sulitnya penananganan KBGO dalam ranah yuridis dan kontruksi sosial dengan nilai patriarki menyebabkan KBGO semakin umum dan dinormalisasi. KBGO marak terjadi pada kalangan Gen Z karena mereka adalah kalangan yang lahir di era digital. Fokus penelitian ini adalah fenomena KBGO melalui aplikasi Whatsapp (aplikasi chatting dengan pengguna terbanyak di Indonesia) di kalangan Gen Z Kota Denpasar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mekanisme KBGO di kalangan Gen Z di Kota Denpasar melalui whatsapp group secara kohesif dari sudut pandang sosio-kultural, hukum, dan melalui kacamata feminisme. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode etnografi virtual. Permasalahan penelitian ini dijelaskan dengan teori interseksionalitas dan kekerasan simbolik. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa faktor yang memengaruhi Gen Z dalam melakukan KBGO di whatsapp group dilandasi oleh budaya patriarki, rape culture, perilaku konformitas, dan minimnya pengetahuan umum KBGO.
Waja : Sanksi Adat dalam Sistem Perkawinan di Desa Naru Kecamatan Bajawa Kabupaten Ngada Nusa Tenggara Timur Mbapa, Anastasia Aprilia Mopo; Wiasti, Ni Made; Aliffiati, Aliffiati
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 3 No. 6: Mei 2024
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v3i6.3631

Abstract

Marriage is a life partnership that unites a man and a woman. Waja in the traditional community of Naru Village is known as customary sanctions which regulate matters relating to problems that occur in the marriage system. The aim of this research is to find out thoroughly about waja as a customary sanction in the marriage system in Naru Village, Bajawa District, Ngada Regency, East Nusa Tenggara. This study uses a qualitative method. Data collection techniques are observation, interviews and literature study.The results of this research explain that although there are many types of marriage believed by the people of Naru Village to have been passed down by their ancestors which are still maintained and carried out today, they are di'i sa'o and pasa. The people of Naru Village, in choosing their future life partner, follow the provisions and are not careless in their choice. This is to avoid the possibility of errors occurring in the future. Apart from marriages that are carried out through a good and correct process, there are also marriages that are not properly carried out according to custom. There are several terms for fines that must be paid in the traditional marriage process which will then continue the relationship to the stage of relationship restoration or be terminated. Violations that are feared to occur are violations committed if you do not know how to maintain boundaries, such as being impolite, having relationships without commitment, and forcing the opposite sex to do things that are not good. This will be subject to customary sanctions called waja or mena. Waja or mena is a form of punishment that has a big impact, especially on women, namely a form of self-reward for women, which is considered as payment for disrespectful behavior from men to women. Waja is a customary sanction that is used to sever legal relations according to custom, where women in this case are always the victims. It is hoped that the people of Naru Village will be more vigilant about young people's interactions and can provide examples and advice so that they don't do things that could eventually lead them to this stage of traditional waja sanctions.
Co-Authors A. A. B. Wirawan Agus Mursidi Aliffiati . Aliffiati Aliffiati, Aliffiati Aliffiati, . ANAK AGUNG AYU MURNIASIH Anak Agung Bagus Wirawan Anak Agung Gede Sugianthara Anak Agung Ngurah Anom Kumbara Anak Agung Sagung Kartika Dewi Anastasia Aprilia Mopo Mbapa Anom Kumbara, Anak Agung Ngurah Apriliani, Widhi Cinthya Fatama Prima Dwi Mayuka Vernita Elly, Rania Fakhira Yaumil Utami Farah Riza Fadhillah Hesti Meinawati I Dewa Ayu Sri Suasmini, I Dewa Ayu I Gusti Ayu Agung Ariani I Ketut Ardhana Ardhana, I Ketut Ardhana I KETUT SUDANTRA I Made Dwiki Wahyudi Putra I Made Merta Merta, I Made Merta I Nyoman Suarsana I Nyoman Sumerta Miwada I Nyoman Suwena I Nyoman Weda Kusuma I Wayan Ardika I Wayan Suwena I. G. Suka I. N. Dhana I.G Suka Ida Ayu Putu Kartika Dewi Ida Ayu Putu Mahyuni Ida Bagus Gde Pujaastawa Ida Bagus Oka Wedasantara Ida Bagus Putra Yadnya Ida Gemawati Monda, Ida Gemawati Intan Purnama Sari Jabaru Ramadhan Kawu, Yuliana La Aso Aso, La Aso LA ODE SYUKUR, LA ODE Luh Putu Ratna Sundari Margaretha Nice O. Poli Mayske Rinny Liando Mbapa, Anastasia Aprilia Mopo Muh. Muhsinin Muh. Muhsinin N. Suarsana Nggias, Falensia Fitria Ni Luh Arjani Ni Luh Kristina Megayanti Ni Luh Padmi Sami Antari Ni Made Dhanawaty Ni Putu Ayu Juliawati P. Sukardja Pandu Sukma Demokrat Pangestu, Dhi'fa Hafizha Patricia Novalian Arya Astar Pujaastawa, Ida Bagus Gde Purba, Sery Nurmaya Putu Rumawan Salain Rania Elly Sulistyawati Sulistyawati Sulistyawati, Sulistyawati Sulistyawati TATI NURHAYATI Wa Ode Sitti Hafsah, Wa Ode Sitti