p-Index From 2021 - 2026
6.626
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Modal Dasar Pengembangan Pendidikan Islam Transformatif di Indonesia Miftakhul Huda; Nur Cholid; M Ahsanul Husna
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.8103

Abstract

Pendidikan Islam di Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang muncul akibat perkembangan teknologi, globalisasi, perubahan sosial, serta tuntutan pembangunan sumber daya manusia yang unggul. Kondisi ini menuntut adanya transformasi paradigma pendidikan Islam agar tidak hanya berfungsi sebagai sarana transmisi pengetahuan keagamaan, tetapi juga sebagai instrumen perubahan sosial yang mampu menjawab kebutuhan zaman. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis modal dasar yang diperlukan dalam pengembangan pendidikan Islam transformatif di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data diperoleh melalui kajian berbagai buku, artikel jurnal nasional dan internasional, serta dokumen ilmiah yang relevan dengan tema penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan teknik content analysis untuk mengidentifikasi dan menginterpretasikan berbagai konsep yang berkaitan dengan pendidikan Islam transformatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan pendidikan Islam transformatif memerlukan sejumlah modal dasar yang saling terintegrasi, yaitu paradigma tauhid sebagai landasan filosofis, integrasi ilmu agama dan sains sebagai basis epistemologis, humanisasi, liberasi, dan transendensi sebagai orientasi pendidikan, modal sosial-kultural masyarakat Indonesia, sumber daya manusia yang berkualitas, pemanfaatan teknologi digital, serta dukungan kelembagaan dan kebijakan pendidikan. Keseluruhan modal tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pendidikan Islam yang adaptif, inklusif, berkeadilan, dan berorientasi pada pembentukan generasi Muslim yang memiliki kompetensi global tanpa kehilangan identitas keislamannya. Dengan demikian, pendidikan Islam transformatif dapat berkontribusi secara signifikan dalam mewujudkan kemajuan pendidikan dan pembangunan peradaban Indonesia yang berkelanjutan.
English Language Teaching in Islamic Primary Education under Cambodia’s MoEYS Curriculum Ulya Himawati; Ersila Devy Rinjani; El Yakin; Muhammad Ahsanul Husna
MAGISTRA: Media Pengembangan Ilmu Pendidikan Dasar dan Keislaman Vol. 16 No. 2 (2025): December | Magistra - Media Pengembangan Ilmu Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/mgs.v16i2.15120

Abstract

This study examines English language teaching practices in Islamic primary education under Cambodia’s national curriculum, regulated by the Ministry of Education, Youth and Sport (MoEYS). Conducted in an Islamic primary school within a Muslim-minority context, the study addresses the gap between national curriculum policy and classroom practice. Employing a descriptive qualitative research design, data were collected through classroom observations, semi-structured interviews with school leaders and English teachers, and document analysis. The findings reveal that while English instruction generally aligns with national curriculum objectives, teachers actively adapt teaching materials, classroom strategies, and learning contexts to ensure cultural and religious appropriateness. Islamic values are implicitly integrated through teacher modeling and interaction patterns rather than through explicit religious instruction. From a policy implementation perspective, the findings demonstrate a clear gap between policy as intended and policy as implemented, with teachers functioning as key mediators who exercise professional discretion in enacting curriculum policy. This study contributes empirical insights into English language teaching in Islamic primary education within a secular national system. It highlights the importance of teacher agency in bridging policy demands and faith-based educational contexts.
Implementasi Pelatihan Literasi Budaya dalam Pengembangan Kompetensi Pengajaran BIPA bagi Guru di An-Nikmah Al-Islamiyah Phnom Penh Institute Kamboja Ersila Devy Rinjani; Ulya Himawati; M. Ahsanul Husna; Man Sakrany; Fadhilatul Amalya Azizah
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.3679

Abstract

Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di An-Nikmah Al-Islamiyah Phnom Penh Institute, Kamboja, melalui pendekatan literasi budaya. Kegiatan dilatarbelakangi oleh keterbatasan kompetensi pedagogis pengajar, minimnya materi ajar kontekstual, serta belum terintegrasinya nilai-nilai budaya dalam pembelajaran. Metode pelaksanaan menggunakan model Participatory Rural Appraisal (PRA) yang menekankan partisipasi aktif mitra dalam identifikasi kebutuhan, perancangan program, pelaksanaan pelatihan, monitoring, dan evaluasi. Pelatihan dilaksanakan selama tiga hari dengan fokus pada pemahaman konsep literasi budaya, pengembangan strategi komunikatif dalam pengajaran BIPA, serta penyusunan bahan ajar berbasis budaya Indonesia yang relevan dengan konteks pelajar ASEAN. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan kompetensi peserta, ditandai dengan kenaikan rata-rata skor dari 62% (pre-test) menjadi 89% (post-test), serta meningkatnya kemampuan peserta dalam merancang pembelajaran komunikatif dan kontekstual. Monitoring dan evaluasi juga menunjukkan tingkat partisipasi dan kepuasan yang tinggi, serta adanya perubahan positif dalam sikap peserta terhadap integrasi budaya dalam pembelajaran BIPA. Program ini menghasilkan modul pelatihan, laporan kegiatan, karya ilmiah, serta penguatan jejaring kerja sama internasional. Secara keseluruhan, kegiatan ini berhasil memberikan kontribusi substantif dalam meningkatkan mutu pengajaran BIPA di kawasan ASEAN dan memperkuat diplomasi bahasa dan budaya Indonesia.
Implementasi Pelatihan Literasi Budaya dalam Pengembangan Kompetensi Pengajaran BIPA bagi Guru di An-Nikmah Al-Islamiyah Phnom Penh Institute Kamboja Ersila Devy Rinjani; Ulya Himawati; M. Ahsanul Husna; Man Sakrany; Fadhilatul Amalya Azizah
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.3679

Abstract

Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di An-Nikmah Al-Islamiyah Phnom Penh Institute, Kamboja, melalui pendekatan literasi budaya. Kegiatan dilatarbelakangi oleh keterbatasan kompetensi pedagogis pengajar, minimnya materi ajar kontekstual, serta belum terintegrasinya nilai-nilai budaya dalam pembelajaran. Metode pelaksanaan menggunakan model Participatory Rural Appraisal (PRA) yang menekankan partisipasi aktif mitra dalam identifikasi kebutuhan, perancangan program, pelaksanaan pelatihan, monitoring, dan evaluasi. Pelatihan dilaksanakan selama tiga hari dengan fokus pada pemahaman konsep literasi budaya, pengembangan strategi komunikatif dalam pengajaran BIPA, serta penyusunan bahan ajar berbasis budaya Indonesia yang relevan dengan konteks pelajar ASEAN. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan kompetensi peserta, ditandai dengan kenaikan rata-rata skor dari 62% (pre-test) menjadi 89% (post-test), serta meningkatnya kemampuan peserta dalam merancang pembelajaran komunikatif dan kontekstual. Monitoring dan evaluasi juga menunjukkan tingkat partisipasi dan kepuasan yang tinggi, serta adanya perubahan positif dalam sikap peserta terhadap integrasi budaya dalam pembelajaran BIPA. Program ini menghasilkan modul pelatihan, laporan kegiatan, karya ilmiah, serta penguatan jejaring kerja sama internasional. Secara keseluruhan, kegiatan ini berhasil memberikan kontribusi substantif dalam meningkatkan mutu pengajaran BIPA di kawasan ASEAN dan memperkuat diplomasi bahasa dan budaya Indonesia.
English Language Teaching in Islamic Primary Education under Cambodia’s MoEYS Curriculum Ulya Himawati; Ersila Devy Rinjani; El Yakin; Muhammad Ahsanul Husna
MAGISTRA: Media Pengembangan Ilmu Pendidikan Dasar dan Keislaman Vol. 16 No. 2 (2025): December | Magistra - Media Pengembangan Ilmu Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/mgs.v16i2.15120

Abstract

This study examines English language teaching practices in Islamic primary education under Cambodia’s national curriculum, regulated by the Ministry of Education, Youth and Sport (MoEYS). Conducted in an Islamic primary school within a Muslim-minority context, the study addresses the gap between national curriculum policy and classroom practice. Employing a descriptive qualitative research design, data were collected through classroom observations, semi-structured interviews with school leaders and English teachers, and document analysis. The findings reveal that while English instruction generally aligns with national curriculum objectives, teachers actively adapt teaching materials, classroom strategies, and learning contexts to ensure cultural and religious appropriateness. Islamic values are implicitly integrated through teacher modeling and interaction patterns rather than through explicit religious instruction. From a policy implementation perspective, the findings demonstrate a clear gap between policy as intended and policy as implemented, with teachers functioning as key mediators who exercise professional discretion in enacting curriculum policy. This study contributes empirical insights into English language teaching in Islamic primary education within a secular national system. It highlights the importance of teacher agency in bridging policy demands and faith-based educational contexts.
Transformation of Islamic Religious Education Learning in High Schools in the Digital Era Nur Rohman; Nur Cholid; M. Ahsanul Husna
Chalim Journal of Teaching and Learning Vol. 6 No. 1 (2026): Teaching and Learning
Publisher : Program S3 Pendidikan Islam Institut Pesantren KH. Abdul Chalim Pacet Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31538/cjotl.v6i1.3237

Abstract

The rapid development of digital technology has significantly transformed educational practices, including Islamic Religious Education (PAI) teaching in secondary schools. However, many PAI teaching processes still rely on conventional, teacher-centered approaches that are less responsive to the characteristics of digital-generation students. This study aims to analyze the transformation of PAI teaching in senior high schools by examining pedagogical changes, digital technology integration, and character building in the learning process. This study used a qualitative approach with a case study design conducted in three secondary schools in Bojonegoro Regency, Indonesia. Participants consisted of PAI teachers, principals, and students selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews, classroom observations, and document analysis. The results show that the transformation of PAI teaching has gradually shifted toward student-centered learning through collaborative learning, reflective discussions, and contextual learning practices. The use of digital media such as interactive videos, online learning platforms, and multimedia presentations has also increased student engagement and motivation. In addition, character education has been integrated into learning through discussions on social ethics, digital literacy, and religious values in everyday life. However, several obstacles remain, including limited digital competency among teachers, uneven technological infrastructure, and resistance to pedagogical change. The novelty of this study lies in its integrated analysis of pedagogical transformation, the use of digital technology, and character education in Islamic Religious Education (IS) learning in secondary schools. This study contributes both theoretically and practically to the development of innovative and contextual Islamic education models in the digital era.
MODEL PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TRANSFORMATIF BERBASIS DIGITAL TERINTEGRASI UNTUK MENINGKATKAN BERPIKIR KRITIS SISWA SEKOLAH DASAR Ummi Kulsum; Nur Cholid; Muhammad Ahsanul Husna
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 03 (2026): Volume 12 No. 03, September 2026 Published
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i03.16708

Abstract

The advancement of digital technology demands a methodological reconstruction in Islamic Religious Education (PAI) in elementary schools, which has long been criticized for being conventional, dogmatic, and lacking in stimulating students' critical reasoning. This study aims to formulate and analyze the effectiveness of the "Integrated Digital-Based Transformative PAI Learning Model" in enhancing students' critical thinking skills at the elementary school level. Utilizing a qualitative approach with a library research method combined with content analysis of various cutting-edge digital pedagogy frameworks, this study dissects how transformative-spiritual Islamic values can be synthesized with modern technological instruments. The results indicate that this learning model integrates components of critical digital literacy, Islamic-nuanced problem-based learning, and theological-contextual reflection. Through this model, students do not merely memorize religious doctrines but are trained to analyze, evaluate, and contextualize Islamic teachings in responding to the surrounding social-digital reality. The implementation of this model is proven capable of stimulating high-level cognitive aspects (Higher Order Thinking Skills/HOTS) in elementary school students without uprooting them from the roots of Islamic morality and spirituality.
A STUDY OF THE FOREIGN LANGUAGE CLASSROOM ANXIETY SCALE (FLCAS): PREVENTING FOREIGN LANGUAGE ANXIETY AMONG UNIVERSITY STUDENTS TO IMPROVE ENGLISH SPEAKING ABILITY Annisa Nabhan Kamila; Inayah Inayah; Muhammad Ahsanul Husna; Waesama-ae Waemamu; Tuti Qurrotul Aini
Thariqah Ilmiah: Jurnal ilmu-ilmu kependidikan & Bahasa Arab Vol 13, No 2 (2025): THARIQAH ILMIAH: JURNAL ILMU-ILMU KEPENDIDIKAN DAN BAHASA ARAB
Publisher : Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/thariqahilmiah.v13i2.18016

Abstract

Anxiety when speaking Arabic is a significant challenge for students of the Arabic Language Education Study Program, as it often hinders the development of their speaking skills. This study employed a mixed-methods approach (quantitative and qualitative). Quantitative data were collected using the Foreign Language Classroom Anxiety Scale (FLCAS) and analyzed through descriptive statistics, while qualitative data were obtained through unstructured observations and semi-structured interviews and analyzed using a thematic analysis approach. The results indicate that students’ language anxiety levels fall into the fairly high category, with the majority classified as experiencing high anxiety. Dominant forms of anxiety include spontaneous speaking anxiety, social comparison, performance anxiety, and academic-evaluative anxiety, primarily triggered by fear of making mistakes, low self-confidence, and anxiety related to assessment. Students cope with this anxiety through various cognitive, emotional, and social strategies. In conclusion, reducing language anxiety requires a supportive learning environment and instructional strategies addressing learners’ psychological aspects to improve their Arabic speaking performance. 
TEORI PENDIDIKAN ISLAM TRANSFORMATIF BERBASIS KARAKTER NUSANTARA: JEMBATAN EPISTEMOLOGIS ATAS DIKOTOMI SISTEM SANAD PESANTREN DAN STANDARISASI AKADEMIK PERGURUAN TINGGI Ummi Kulsum; Nur Cholid; M Ahsanul Husna
Quoba: Jurnal Pendidikan Vol 3 No 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qb.v3i1.1148

Abstract

Penelitian ini secara fundamental membahas dikotomi epistemologis yang mengakar kuat antara sistem sanad tradisional yang menjadi ciri khas pesantren di Indonesia dan standarisasi akademik modern yang diwajibkan secara struktural di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKIN). Pembelahan abadi ini sering kali secara parah memisahkan otoritas religius-spiritual dari metrik ilmiah-objektif yang berorientasi pada pasar. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif filosofis-hermeneutis yang dipadukan dengan matriks literatur yang luas, penelitian ini mengonseptualisasikan dan merumuskan Teori Pendidikan Islam Transformatif Berbasis Karakter Nusantara sebagai jembatan epistemologis yang integratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi holistik dapat dicapai sepenuhnya melalui tiga transformasi struktural yang kritis: transformasi ontologis (mendefinisikan ulang ilmu pengetahuan sebagai kesatuan entitas yang tak terpisahkan antara nilai-nilai vertikal-spiritual dan mekanika horizontal-rasional), transformasi epistemologis (menggabungkan secara harmonis autentisitas jalur sanad tekstual dengan eksplorasi ilmiah kritis-empiris), dan transformasi aksiologis (melahirkan sarjana yang secara struktural memiliki kompetensi profesional yang ketat sekaligus integritas etis-spiritual yang mendalam). Sintesis ini pada akhirnya menumbuhkan model pendidikan tinggi Islam modern yang kokoh, yang tetap berakar kuat pada kearifan lokal sekaligus dinamis dan sangat adaptif terhadap tantangan kontemporer global.
Transformasi Pendidikan Islam Melalui Teologi Mahabbah Berbasis Akhlak Karimah: Pengembangan Kurikulum Kesalehan Sosial di Era Degradasi Moral Abdul Khalik; Nur Cholid; Muhammad Ahsanul Husna
Quoba: Jurnal Pendidikan Vol 3 No 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qb.v3i1.1150

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh eskalasi degradasi moral di era digital dan globalisasi, yang mewujud dalam fenomena perundungan siber (cyberbullying), krisis identitas, dan merosotnya empati sosial di kalangan peserta didik. Fenomena ini menyingkap celah krusial dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) yang selama ini didominasi oleh bias kognitif-informatif serta penguatan aspek ritual-individual yang rigid, namun mengabaikan komitmen etis kolektif. Penelitian ini bertujuan merumuskan rekonstruksi Kurikulum Kesalehan Sosial dengan memanfaatkan sintesis konseptual Teologi Mahabbah (Teologi Kasih Sayang) dan Akhlak Karimah sebagai kerangka pedagogis transformatif. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain kepustakaan kritis (critical library research), penelitian ini menganalisis teks-teks sufistik klasik dan kurikulum pendidikan kontemporer melalui pembacaan dimensi teks, praktik diskursif, dan praksis sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Teologi Mahabbah mampu merekonstruksi cara pandang keagamaan yang legalistik-defensif menjadi komitmen altruistik yang penuh empati terhadap kemanusiaan, sedangkan Akhlak Karimah menjadi manifestasi perilaku dari transformasi spiritual internal tersebut. Sintesis kedua konsep ini menghasilkan arsitektur Kurikulum Kesalehan Sosial yang merombak tujuan pendidikan, integrasi konten (mendialogkan tasawuf dengan ilmu sosial), metodologi pembelajaran yang humanis, serta asesmen autentik berbasis praksis. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa reformasi kurikulum PAI bukan sekadar adaptasi birokratis, melainkan sebuah reposisi epistemologis yang mendesak untuk menumbuhkan tanggung jawab sosial global tanpa menegasikan akar transendental-religius.