Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : E-Journal Obstetric

PENGARUH KOLESTASIS INTRAHEPATIK TERHADAP KEMATIAN JANIN DALAM RAHIM Mulyana, Ryan Saktika
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 5 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kolestasis Intrahepatik pada Kehamilan atau Intrahepatic Cholestasis of Pregnancy (ICP) merupakan gangguan hepar terbanyak yang khas terjadi dalam periode kehamilan. Sebagian besar muncul pada trimester ketiga kehamilan dengan keluhan gatal sebagai gejala khas, disertai dengan gangguan fungsi hepar pada pemeriksaan laboratorium. Kelainan lain yang bisa menjadi penyebab kolestasis yakni kelainan hepar, endokrin, maupun dermatologis harus dapat disingkirkan terlebih dahulu. Kelainan ICP menyebabkan komplikasi maternal yang ringan, namun secara nyata meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas perinatal.  Komplikasi yang terbanyak antara lain persalinan preterm, kematian janin dalam rahim, dan fetal distress. Kolestasis adalah retensi sistemik unsur-unsur pokok sistem bilier akibat dari gangguan pembentukan dan sekresi serta gangguan aliran empedu, diikuti dengan berkurangnya jumlah asam empedu dalam saluran cerna, serta akumulasi zat toksik dalam hepar dan sirkulasi sistemik. Kolestasis disebabkan oleh penyebab ekstrahepatik maupun intrahepatik. Pengetahuan tentang etiologi yang mendasari kelainan ICP telah menunjukkan perkembangan dalam dekade terakhir bahwa kelainan ini didasari oleh kelainan mutifaktorial yang melibatkan faktor hormonal, genetik serta lingkungan. Tujuan utama penanganan farmakologis pada kasus kehamilan dengan komplikasi ICP adalah meperbaiki gejala maternal serta luaran perinatal. Penggunaan ursodeoxycholic acid (UDCA) kini merupakan penanganan yang menjanjikan dalam penanganan ICP dibandingkan dengan terapi lainnya. UDCA merupakan asam empedu hidrofilik, tanpa efek samping baik pada ibu maupun janin. Belum ada metode yang paling ideal dalam memprediksi luaran perinatal yang terbaik pada kasus ICP. Secara tidak langsung pengobatan untuk mengurangi kadar asam empedu pada ibu juga dapat mengurangi risiko komplikasi pada janin. Kasus kematian janin pada ICP tidak dapat diprediksi dengan pemantauan antenatal yang rutin dilakukan, namun demikian pemantauan status janin adalah tetap direkomendasikan pada kasus-kasus ICP. Manajemen obstetri yang terbaik adalah mempertimbangkan risiko prematuritas dengan risiko kematian janin dalam rahim. Belum ada data yang memadai untuk mendukung ataupun menolak prosedur induksi persalinan lebih awal pada usia kehamilan 37 minggu untuk mengurangi risiko kematian janin. Pertimbangan waktu terminasi bersifat sangat individual pada masing-masing kasus.
PERANAN PELUCUTAN PROGESTERON FUNGSIONAL PADA PERSALINAN Mulyana, Ryan Saktika
E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana Vol 2, No 5 (2014)
Publisher : E-Journal Obstetric & Gynecology Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peranan progesteron dalam mempertahankan kehamilan telah diakui secara umum. Bukti-bukti menyatakan bahwa progesteron memegang peranan penting selama kahamilan, dari saat implantasi hingga proses terjadinya persalinan. Pada proses implantasi progesteron menekan respon T-limfosit agar tidak terjadi penolakan jaringan terhadap hasil konsepsi. Selama kehamilan progesteron mempertahankan ketenangan dan relaksasi miometrium sehingga menciptakan suasana kondusif untuk pertumbuhan hasil konsepsi.Dan pada akhir kehamilan pelucutan progesteronmenyebabkan terjadinya konversi dari miometrium sehingga miometrium yang tenang dan kebal menjadi miometrium yang reaktif dan kontraktil sehingga terjadilah pengeluaran hasil konsepsi. Pelucutan progesteron merupakan syarat mutlak untuk mengaktivasi miometrium sehingga kehamilan di terminasi dan persalinan terjadi.Pada kebanyakan spesies mamalia, awal persalinan ditandai oleh penurunan konsentrasi progesteronsirkulasi dan peningkatan konsentrasi estrogen. Namun pada manusia kadar progesteronsirkulasi tetap tinggi selama persalinan. Hal ini membingungkan para ahli biologi selama beberapa dekade, hingga akhirnya menelurkan konsep adanya pelucutan progesteron fungsional pada proses persalinan manusia. Respon miometrium terhadap progesteron ditentukan oleh tingkat dan aktifitas dari reseptor progesteron (PR) dan koregulatornya.PR manusia terdiri dari dua isoform mayor, yaitu PRA dan PRB. Kedua bentuk PR ini memiliki hormon steroid dan afinitas yang sama untuk mengikat DNA namun mereka memiliki aktivitas yang berbeda. Aksi progesteron sebagai penenang diduga dimediasi oleh PRB. PRA memiliki afinitas yang sama untuk mengikat progesteron namun PRA menekan aktivitas transkripsional yang dimediasi oleh PRB. PRA dan PRB membentuk dual sistem dalam mengontrol aksi progesteron melalui mediasi target sel, dimana PRB memediasi dan PRA menekan respon terhadap progesteron. Tingkatan dimana penekanan PRA terhadap respon progesteron tergantung pada kelimpahan relatif PRB.Disimpulkan bahwa pelucutan progesteron pada persalinan manusia dimediasi oleh peningkatan rasio PRA/PRB di miometrium. Pelucutan progesteron fungsional juga dimediasi oleh interaksi PRB dengan target DNA yang terhambat. Selain daripada itu juga terdapat peran berbagai faktor yang  meningkatkan/menghambat kerja PR. Pelucutan progesteron fungsional dimediasi oleh peningkatan ekspresi PRA kemudian pelucutan progesteron fungsional mengaktivasi estrogen fungsional dengan peningkatan ekspresi ER? miometrium. Aktivasi estrogen fungsional bersama-sama dengan estrogen dalam sirkulasi meningkatkan ekspresi CAP miometrium dan uterotonin sehingga uterus berada dalam fenotip kontraktil yang akan membawa kepada proses persalinan. Sebagai kesimpulan, bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa korepresor PR, seperti aktivator PR, mengatur aktivitas PR dengan suatu cara agar dapat terjadi penurunan respon progesteron pada miometrium aterm. Penelitian lebih lanjut akan membawa penemuan baru pada bidang endokrinologi molekular yang rumit ini.
Co-Authors A. A. Ngurah Laksamana Yudha A.A. Ngurah Laksamana Yudha Adhi Pribadi Adikarya, I Putu Gede Danika Agustinus Darmawan Hariyanto Aldiansyah, Dudy Aldika Akbar, Muhammad Ilham Alfonso Anggriawan Aloysius Suryawan Anak Agung Gede Putra Wiradnyana Anak Agung Ngurah Anantasika Andonotopo, Wiku Anom Suardika Bachnas, Muhammad Adrianes Bambang Rahardjo Cut Meurah Yeni Daniel H. Susanto Darmawan, Ernawati de Liyis, Bryan Gervais Deantri, Fanny Denni Prasetyo Endang Sri Widiyanti Endang Sri Widiyanti Evert Solomon Pangkahila Hartanto Hartanto I Gde Sastra Winata I Made Darmayasa I Nyoman Gede Budiana I Nyoman Hariyasa Sanjaya I Wayan Artana Putra I Wayan Megadhana I Wayan Megadhana Ida Bagus Gde Fajar Manuaba Ida Bagus Putra Adnyana Jagannatha, Gusti Ngurah Prana Jaya Kusuma Julian Dewantiningrum Kamajaya, I Gusti Ngurah Agung Trisnu Kevin Agastya Duarsa Kirana, Ni Wayan Kartika Candra Kurjak, Asim Made Suyasa Jaya Mahastya, I Wayan Cahya Manuaba, Ida Bagus Gede Fajar Narayani, Ida Ayu Ni Kadek Mulyantari Ni Wayan Ariati Trisna Dewi Nicholas Renata Lazarosony Nuswil Bernolian Nyoman Bayu Mahendra Paramyta, I Gusti Ayu Cintya Pemayun, Tjokorda Gede Astawa Pradnyaandara, I Gusti Bagus Mulia Agung Pradnyana, I Wayan Agus Surya Pramono, Mochammad Besari Adi Putu Doster Mahayasa Rey Jauwerissa Sri Sulistyowati Stanojevic, Milan Surya, I Gede Ngurah Harry Wijaya Sutedja, Jane Carissa Theresia Monica Rahardjo Tjokorda Gde Agung Suwardewa Wibawa, I Bagus Satriya Wijaya Surya, I Gede Ngurah Harry William Alexander Setiawan Wiradnyana, Anak Agung Gede Putra