Claim Missing Document
Check
Articles

TINDAKAN PREVENTIF PENYEBARAN VIRUS COVID-19 DI DESA SUNGAI ALANG KECAMATAN KARANG INTAN KABUPATEN BANJAR Herningtyas Nautika Lingga; Prima Happy Ratnapuri; Difa Intannia
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (MEDITEG) Vol 6 No 1 (2021): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (MEDITEG)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Tanah Laut (Politala)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34128/mediteg.v6i1.84

Abstract

During the Covid-19 pandemic, the Indonesian government issued a PSBB policy, but the PSBB policy has not been able to control the number of spread of Covid-19 cases. The aim of our community service is to increase understanding of Covid-19 preventive and health protocols if people have to do activities outside. The activity was carried out in Sungai Alang village, Karang Intan District, Banjar Regency for 3 days with the stages of coordination and submission of banners, delivery of materials and practices to a group of 40 women. With the program being carried out, 80% of the people know about Covid-19 and are able to take preventive actions and health protocols, so that the spread of Covid-19 decreases.
Overview Off-label Drug Uses in Pediatric Patients at Ulin’s Hospital, Banjarmasin Nani Kartinah; Difa Intannia; Nahyanti Fitri
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.307 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2014.3.3.77

Abstract

Profile of off-label drug uses in Indonesia particularly in South Borneo is yet unknown. Study of off-label drug uses is necessary because its safety and effectiveness treatment for children are not guaranteed. The purpose of this study was to identify the percentage of pediatric patients who received off-label drug, the most commonly drug that used as an off-label drug, and the percentage of off-label drug based on the criteria, including: age, dose, route of administration, and indication. This research used a prospective study. The study population on this research was patients aged a month to 18 years who is treated at Ulin’s Hospital during March to May 2013. The samples of this research were patients who received antibiotics, analgesics, and antipyretics, anti-inflammatory, antihistamine, anticonvulsant, and antiemmetic drug therapy. There was 86 people (32.58%) of the 264 patients who received an off-label drug, anti-inflammatory drug was the most commonly used as an off-label drug with 38 cases (30.64 %) of the 124 cases of an off-label drug, and based on the criteria, there was 41 cases (33,06 %) off-label of age, 45 cases (36.29%) off-label of dose, no cases off-label of route of administration, and 38 cases (30,65 %) off-label of indication. Further research is needed to determine the safety and efficacy of an off-label drug.Key words: Off-label drug, pediatrics, RSUD Ulin BanjarmasinGambaran Penggunaan Obat Off-label pada Pasien Pediatrik di Rumah Sakit Ulin, BanjarmasinPenggunaan obat off-label pada anak-anak di Indonesia khususnya Kalimantan Selatan tidak diketahui. Penelitian ini diperlukan karena tidak terdapat jaminan keamanan dan efektivitas pengobatan bagi anakanak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pasien anak yang mendapatkan obat offlabel, mengidentifikasi obat yang paling umum digunakan sebagai off-label, dan menentukan persentase obat off-label berdasarkan kriteria usia, dosis, cara pemberian, dan indikasi. Metode penelitian ini menggunakan prospektif studi. Populasi penelitian adalah pasien 1 bulan hingga18 tahun yang dirawat di RSUD Ulin pada bulan Maret hingga Mei 2013. Sampel penelitian adalah semua pasien usia 1 bulan hingga 18 tahun yang mendapat antibiotik, analgetik, dan antipiretik, antiinflamasi, antihistamin, antikonvulsan, dan antiemetik. Total pasien yang memperoleh obat off-label adalah 86 (32,58%) dari 264 pasien, golongan obat yang biasa digunakan off-label adalah antiinflamasi 38 (30,64%) dari 124 obat off-label. Jumlah obat off-label menurut kriteria usia adalah 41 (33,06%) dari 124 obat off-label, kriteriadosis 45 (36,29%), pada rute pemberian obat 0 (0%), dan kriteria indikasi 38 (30,65%). Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan keamanan dan kemanjuran obat.Kata kunci: Obat off-label, pasien anak, RSUD Ulin Banjarmasin
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Pasien HIV/AIDS Rawat Jalan dalam Pengobatan Terapi Antiretroviral (ART) di Rumah Sakit Dr.H.Moch.Ansari Saleh Banjarmasin Valentina Meta Srikartika; Difa Intannia; Restu Aulia
Jurnal Pharmascience Vol 6, No 1 (2019): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v6i1.6081

Abstract

ABSTRAK             Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). Tatalaksana terapi HIV/AIDS adalah dengan pemberian antiretroviral (ARV) seumur hidup sehingga kepatuhan mengkonsumsi obat merupakan faktor penting untuk keberhasilan terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi  kepatuhan pasien HIV/AIDS alasan pasien tidak patuh mengkonsumsi obat. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara faktor keyakinan, faktor dukungan sosial, faktor pendidikan, efek samping obat yang dialami pasien dengan kepatuhan. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Penelitian dilakukan di poliklinik VCT RS Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin. Kepatuhan pasien diukur dengan menggunakan kuesioner MMAS-8 dan faktor kepatuhan diukur dengan kuesioner ACTG. Hasil analisis kepatuhan pada penelitian menunjukkan bahwa 32 (51,6%) pasien memiliki nilai kepatuhan yang tinggi. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pasien memiliki keyakinan yang tinggi sebanyak 34 pasien (54,8%), pasien memiliki dukungan sosial yang tinggi sebanyak 45 pasien (72,6%), pasien yang tidak merasakan efek samping sebanyak 33 pasien (53,2%), dan alasan pasien lupa mengkonsumsi obat tertinggi adalah pasien merasa keadaan yang dialaminya baik-baik saja sebanyak 14 orang (46,6%). Terdapat korelasi yang signifikan antara kepatuhan dengan efek samping obat (p=0,002, r= -0.326). Kata kunci: kepatuhan, faktor yang mempengaruhi kepatuhan, MMAS-8, ACTG, HIV/AIDS     ABSTRACT Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) is a set of illness symptoms, which is caused by Human Immunodeficiency Virus (HIV). As the HIV/AIDS therapy has to be consumed over a lifetime for the patients, the compliance on taking antiretroviral (ARV) medications is essential. This study aims to evaluate the compliance of HIV/AIDS outpatients and the reasons of patients incompliance. This study also examine the correlation between the beliefs, social support, education, and adverse medication events factors with ARV medication’s incompliance. The study design was cross sectional study design. The research was done in policlinic of VCT Dr. H.MOCH.SALEH hospital, Banjarmasin. The incompliance was obtained by having the ACTG questioners. The results of the compliance analysis in this study was 32 (51,6%) patients have a high compliance score. The result also showed that 34 patients (54.8%) had great belief, 45 patients (72.6%) had great social support and 33 patients (53.2%) did not get the drug side effects. Furthermore, the reason not to comply with the medicine was due to their conditions which were considered fine without medication (34 patients (37.4%)). The correlation between compliance and the drug side effects was significance (p=0,002, r= -0.326) Keywords: compliance, affected factors compliance, MMAS-8, ACTG, HIV/AIDS
Evaluasi Model Intervensi Apoteker Terhadap Peningkatan Pengetahuan Penggunaan Obat Pada Ibu Rumah Tangga Di Bantaran Sungai Kemuning Banjarbaru Valentina Meta Srikartika; Difa Intannia
Jurnal Pharmascience Vol 6, No 1 (2019): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v6i1.6072

Abstract

ABSTRAK Praktik pengobatan sendiri atau swamedikasi di Kalimantan Selatan relatif tinggi. Masyarakat pelaku swamedikasi sangat rentan menggunakan obat tidak rasional disebabkan tidak adanya pemberian informasi penggunaan obat yang benar. Beberapa metode dapat diimplementasikan sebagai sarana Apoteker untuk mengedukasi masyarakat terkait penggunaan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peningkatan pengetahuan ibu rumah tangga di daerah bantaran sungai Kemuning Banjarbaru akan penggunaan obat setelah diberikan intervensi oleh Apoteker dalam bentuk CBIA dan booklet. Penelitian ini merupakan penelitian non-ekperimental dengan desain penelitian cross-sectional yang dilakukan terhadap 33 responden kelompok CBIA dan 30 responden kelompok booklet. Tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi diukur dengan menggunakan kuisioner. Rata-rata skor pretest kelompok CBIA dan booklet adalah 3.67 dan 5.43, sedangkan rata-rata skor post-test kelompok CBIA dan booklet adalah 6.87 dan 8.97 (p<0.01). Perbandingan rata-rata peningkatan skor pengetahuan setelah intervensi CBIA adalah 3.21 ± 2.47 dan booklet adalah 3.53 ± 1.89 (p=0.567). Dapat disimpulkan bahwa model intervensi CBIA dan booklet dapat meningkatkan pengetahuan penggunaan obat secara signifikan, dan kedua metode tersebut sama baiknya untuk digunakan sebagai metode intervensi apoteker dalam meningkatkan pengetahuan pasien akan pengobatan. Kata kunci: CBIA, booklet, pengetahuan, obat, Apoteker  ABSTRACT The self-medication practice in South Kalimantan is relatively high. People who are self-medicated are very vulnerable to irrational drug use because there is no provision of information on the correct drug use. Several methods can be implemented by pharmacists to educate the public regarding drug use. This study aims to evaluate the increase in drug use knowledge of housewives in the Kemuning riverbank area of Banjarbaru after being given intervention by Pharmacists in the form of CBIA and booklets. This research is a non-experimental study with a cross-sectional research design conducted on 33 CBIA group respondents and 30 respondents booklet groups. The level of knowledge before and after the intervention was measured using a questionnaire. The average pretest scores of CBIA and booklet groups were 3.67 and 5.43, while the average post-test scores of CBIA and booklet groups were 6.87 and 8.97 (p <0.01). Comparison of the average increase in knowledge score after CBIA intervention was 3.21 ± 2.47 and the booklet was 3.53 ± 1.89 (p = 0.567). It can be concluded that CBIA and booklet intervention models can significantly improve knowledge of drug use, and both methods are equally good for use as pharmacist intervention methods in increasing patient knowledge of treatment. Keywords: CBIA, booklet, knowledge, medicine, pharmacist
Studi Observasional Pola Penggunaan dan Tingkat Pengetahuan Tentang Anti Inflamasi Non Steroid pada Masyarakat Kelurahan Sungai Besar Kecamatan Banjarbaru Selatan Muhammad Rizki Akbar; Difa Intannia; Herningtyas Nautika Lingga
Jurnal Pharmascience Vol 8, No 2 (2021): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v8i2.7772

Abstract

Anti Inflamasi Non Steroid (AINS) merupakan golongan obat untuk nyeri dan inflamasi yang banyak digunakan di masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik responden, pola penggunaan AINS, dan tingkat pengetahuan masyarakat di kelurahan Sungai Besar. Penelitian ini adalah penelitian noneksperimental dengan metode observasional deskriptif dengan teknik pengumpulan sampel menggunakan teknik quota sampling. Sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi berjumlah 96 responden. Instrumen penelitian berupa lembar kuesioner yang sudah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat kelurahan Sungai Besar yang menggunakan AINS adalah berjenis kelamin perempuan (56,25%), berumur 26–45 tahun (59,38%), berpendidikan SMA/SMK (43,75%), dan bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga (36,64%). Pola penggunaan AINS meliputi jenis AINS yang digunakan adalah asam mefenamat (73,95%), waktu terakhir menggunakan obat 1 bulan terakhir (83,33%), cara memperoleh obat tanpa resep dokter (78,12%), tempat pembelian obat di apotek (83,33%). Tujuan pengobatan untuk mengurangi rasa nyeri (73,96%), bentuk sediaan obat yang digunakan sediaan tablet (100%), cara penggunaannya langsung diminum (100%), dan aturan pakai 3 x sehari (84,38%), responden tidak mengalami efek samping selama penggunaan AINS (83,33%), serta responden (96,87%) tidak memiliki kondisi penyakit lain/riwayat penyakit dalam penggunaan AINS. Tingkat pengetahuan responden terkait penggunaan AINS tinggi (77,08%). Kesimpulan dari penelitian ini responden memiliki tingkat pengetahuan tinggi tentang penggunaan obat AINS.Kata Kunci : AINS, Pola Penggunaan, Tingkat PengetahuanNon-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAIDs) are a class of drugs for pain and inflammation that are widely used in the community. The aim of this study was to identify the characteristics of the respondents, the pattern of using NSAIDs, and the level of knowledge of the people in the Sungai Besar village who had used NSAIDs. This research is a non-experimental research with descriptive observational method with quota sampling technique. The research sample that met the inclusion and exclusion criteria was 96 respondents. The research instrument is a questionnaire that has been tested for validity and reliability. The results showed that the Sungai Besar community who used AINS were female (56.25%), aged 26–45 years (59.38%), had a high school education (43.75%), and worked as housewives ( 36.64%). The pattern of NSAID use includes the type of NSAID used is mefenamic acid (73.95%), the last time using the drug in the last 1 month (83.33%), get medicine without a doctor's prescription (78.12%), buy medicine at the pharmacy (83 ,33%). The purpose of treatment is to reduce pain (73.96%), the dosage form of the drug used is tablet (100%), how to use it directly to drink (100%), and the rule of use 3 times a day (84.37%), respondents do not experience side effects during the use of NSAIDs (83.33%), and respondents (96.87%) did not have other disease conditions/history of disease in the use of NSAIDs. The level of knowledge of respondents related to the use of NSAIDs is high (77.08%). The conclusion of this study is that respondents have a high level of knowledge about the use of NSAIDs.
Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Tanaman Iler (Coleus atropurpureus Benth) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Pada Tikus Putih Jantan yang Diinduksi Aloksan Sarlina Illyyani; Difa Intannia; Liling Triyasmono
Jurnal Pharmascience Vol 2, No 1 (2015): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v2i1.5809

Abstract

Abstrak            Tanaman iler secara tradisonal digunakan masyarakat Amuntai Kalimantan Selatan untuk penghilang rasa nyeri, demam dan menurunkan kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas dan pengaruh paling besar dari ekstrak etanol tanaman iler (Coleus atropurpureus Benth) yang dapat menimbulkan penurunan kadar glukosa darah pada tikus putih jantan. Tikus diinduksi aloksan 150mg/kgBB secara intraperitonial dan dikatakan diabetes jika kadar glukosa darah ≥ 150 mg/dL. Tikus dikelompokkan menjadi 6 kelompok yaitu kontrol positif glibenklamid sebanyak 0,45 mg/kgBB, kontrol negatif NaCMC 1 % dan dosis ekstrak etanol tanaman iler yaitu 25mg/kgBB, 50mg/kgBB, 100mg/kgBB dan 200mg/kgBB. Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan pada hari ke-0 (setelah tikus diinduksi aloksan dan menjadi diabetes), 4, 7, 10 dan 14. Nilai persen perubahan kadar glukosa darah dianalisis menggunakan uji Kruskal wallis dan uji Mann-Whithney. Hasil analisis menunjukkan bahwa ekstrak etanol tanaman iler dosis 100mg/kgBB dan 200mg/kgBB menunjukkan tidak berbeda nyata dengan kontrol positif glibenklamid. Semua dosis ekstrak etanol iler menujukkan penurunan kadar glukosa darah. Dosis ekstrak 200mg/kgBB memberikan aktivitas terbesar yang dapat menurunkan kadar glukosa darah pada hewan uji. Kata Kunci : Glukosa Darah, Ekstrak Etanol, Iler AbstractTraditionally, Iler plant is used by the people in Amuntai, South Kalimantan for healing the pain, fever and decreasing the level of blood glucose. The aim of this research is to determine activities and the largest effect of ethanol extract of iler plant (Coleus atropurpureus Benth) which can decrease blood glucose on the white male rats. The rats is inducted with alloxan doses 150 mg/kgBB intraperitonial, rat has diabetes if the level of blood glucose ≥ 150 mg/dL. The rats are divided into 6 groups, consist of positive control of glibenclamide 0.45 mg/kgBB, negative control NaCMC 1% and ethanol extract of iler plant doses 25 mg/kgBB, 50 mg/kgBB, 100 mg/kgBB, and 200 mg/kgBB. Measurement of blood glucose level was performed on day 0 (after the rats are inducted with alloxan and becoming diabetes), 4, 7, 10 and 14. The percentage of blood glucose level change was analyzed using Kruskal Wallis test, and Mann Whitney test. Analysis result showed that extract ethanol of Iler plant with doses 100 mg/kgBB and 200 mg/kgBB was not significantly different from the positive control glibenclamide. All of doses of ethanol extract of iler  referred to the decreasing of level of blood glucose. The doses 200mg/kgBB contributed the largest activity that able to decrease the level of blood glucose of laboratory animal. Key words : Blood Glukose, Ethanol extract, Iler.
Gambaran Penggunaan Obat Off-Label Pada Pasien Pediatrik Rawat Jalan Di RSUD Ulin Banjarmasin Periode Januari-Desember 2013 Antung Lisa Ariati; Nani Kartinah; Difa Intannia
Jurnal Pharmascience Vol 2, No 1 (2015): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v2i1.5814

Abstract

Abstrak            Off-label adalah penggunaan obat di luar ketentuan dari izin penjualan (marketing authorisation = MA), berkaitan dengan dosis, usia, rute pemberian, dan indikasi yang berbeda. Pemakaian obat off-label adalah akibat dari kurangnya penelitian obat khususnya pada anak-anak. Faktor yang mengakibatkan kurangnya penelitian obat pada anak-anak adalah rumitnya uji klinis pada anak-anak dan data farmakokinetik yang tidak mencukupi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase pasien pediatrik di Poliklinik Anak RSUD Ulin Banjarmasin yang mendapatkan obat off-label, mengetahui golongan obat dengan tingkat kejadian obat off-label tertinggi dan mengetahui persentase obat off-label berdasarkan kriteria usia, dosis, rute pemberian dan indikasi. Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan pengambilan data secara retrospektif. Berdasarkan hasil analisis terhadap 348 pasien, persentase pasien yang menerima obat off-label sebesar 60,1% (n = 348 pasien). Jumlah obat yang dianalisis sebanyak 947 obat. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat kejadian obat offlabel tertinggi adalah golongan obat batuk dan pilek yaitu sebesar 23,7% (n = 947 obat). Persentase penggunaan off-label pada kriteria dosis sebesar 98,9% (n = 446 obat), pada kriteria usia sebesar 24,8% (n = 112 obat), pada kriteria indikasisebanyak 1,3% (n = 6 obat) dan pada kriteria rute pemberian tidak ada kasus offlabel. Kata kunci: off-label rawat jalan, usia, dosis, rute pemberian, indikasi AbstractOff-label is a use of drugs that is beyond the terms of the license sales (marketing authorization = MA), related to dose, age, route of administration, and different indications. Off-label use of drugs is a result of the lack of drug research, especially in children. Factors that lead to lack of drug research in children is the complexity of clinical trials in children and pharmacokinetic insufficient data. The purposes of this study were to determine the percentage of pediatric patients at Children's Polyclinic in Ulin Banjarmasin Hospital who get the off-label drug, determine the drug classes with an incidence rate of off-label drugs and determine the highest percentage of off-label drug based on the criteria of age, dose, route of administration and indications. This study was an observational study with retrospective data collection. Based on the analysis of 348 patients, the percentage of patients who received the off-label drug for was 60,1% (n = 348 patients). The number of drugs that were analyzed were 947 drug. The analysis showes that the highest incidence rate of off-label drug is cough and cold medicines was 23.7% (n = 947 drug). The percentage of off-label use in the dose criterion about 98.9% (n = 446 drug), the age criteria about 24.8% (n = 112 drug), the indication criteria as much as 1.3% (n = 6 drug), and on the the route of administration criteria no cases of off-label found. Keywords: off-label, outpatients, age, dose, route of administration, indications
Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol dan Ekstrak n-Heksan Daun Ketepeng Cina (Cassia Alata. L) terhadap Waktu Kematian Cacing Pita Ayam (Raillietina Sp.) Secara In Vitro Difa Intannia; Rezki Amelia; Lisda Handayani; Heri Budi Santoso
Jurnal Pharmascience Vol 2, No 2 (2015): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v2i2.5819

Abstract

ABSTRAK            Indonesia diketahui banyak memiliki tumbuhan yang berkhasiat obat, diantaranya adalah daun ketepeng cina (Cassia alata. L) yang mempunyai khasiat sebagai obat cacing, sariawan, sembelit, panu, kurap, kudis dan gatal-gatal. Tujuan Penelitian: untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol dan n-heksan daun ketepeng cina (Cassia alata. L) terhadap waktu kematian cacing pita ayam secara in vitro. Metode Penelitian: Merupakan penelitian eksperimental dengan memberikan perlakuan terhadap cacing pita ayam yang direndam dalam ekstrak etanol dan ekstrak n-heksan dengan dosis 25 mg/25 mL, 50 mg/25 mL, 75 mg/ 25mL dan 100 mg/25 mL serta sebagai pembanding adalah mebendazole dengan seri dosis yang sama. Setiap perlakuan dilakukan 3 kali replikasi dengan masing-masing replikasi menggunakan 5 ekor cacing. Waktu kematian cacing dicatat dan dilakukan analisis. Hasil Penelitian: Ekstrak n-heksan diketahui lebih cepat mematikan cacing pita ayam dibandingkan dengan ekstrak etanol, namun masih lebih lambat dibandingkan dengan mebendazole. Dosis  100 mg/ 25mL memberikan waktu kematian yang paling cepat pada semua kelompok, dengan waktu kematian sebagai berikut: 1) Ekstrak etanol 202 menit±17.48, 2) Ekstrak n-heksan 138 menit±26,94 dan Mebendazole 95 menit±21,68. Kesimpulan: Ekstrak etanol dan n-heksan mampu mematikan cacing pita ayam (Raillietina sp.) secara in vitro.Kata kunci: Efek anthelmintic, daun Cassia alata. L, ekstrak etanol, ekstrak n-heksan, Raillietina spAbstractKetepeng Cina (Cassia alata. L) is one of Indonesian medical herb which have properties as an anthelmintic, laxative, treat scabies and itchy. Aim of this study is to understand the effect of ethanolic and n-hexane leaf extract of Cassia alata. L toward mortality time of chicken tapeworm (raillietina sp.) in vitro. Four concentrations (25, 50, 75 and 100 mg/ 25 mL) of each extract were studied in activity, which involved the determination time of death of the tapeworm. Both the extracts exhibited best anthelmintic effect at highest concentration of 100 mg/25 ml.  Mebendazole  in  same  concentration  as  that  of  extract  was included  as  standard  reference. Mortality time for each extracts are 1) Ethanolic extracts 202 minute±17.48; 2) n-hexane extract 138 minute±26.94 and Mebendazole 95 minute±21.68  The ethanolic  and  n-hexane leaf  extracts of Cassia alata. L has effect toward mortality time of chicken tapeworm Raillietina sp. in vitro.Key word: Anthelmintic effect, Cassia alata. L, Ethanolic leaf extract, n-Hexane leaf extract, Raillietina sp
Profil Penurunan Kadar Glukosa Darah Ekstrak Air Rambut Jagung (Zea Mays L.) Tua dan Muda Pada Mencit Jantan Galur Balb-C Finlinda Hery Ramadani; Difa Intannia; Malikhatun Ni’mah
Jurnal Pharmascience Vol 3, No 1 (2016): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v3i1.5833

Abstract

ABSTRAK Rambut jagung mengandung flavonoid. Kandungan total flavonoid dipengaruhi oleh usia tanaman. Flavonoid memiliki potensi sebagai antihiperglikemia. Penelitian bertujuan untuk melihat profil penurunan kadar glukosa darah ekstrak air rambut jagung tua dan muda pada mencit jantan galur Balb-C yang diinduksi aloksan. Penelitian bersifat eksperimental dengan rancangan posttest only control group design. Ekstrak dibuat dengan merebus rambut jagung menggunakan air selama 30 menit. Total flavonoid ditentukan dengan metode AlCl3. Aktivitas penurunan kadar glukosa darah dilakukan dengan metode tes toleransi glukosa oral terhadap mencit jantan galur Balb-C yang diinduksi aloksan secara intraperitonial (140 mg/kgBB). Sebanyak 20 hewan uji dibagi menjadi kelompok kontrol positif (Akarbose 0,1305 mg/20 gBB), kontrol negatif (NaCMC 1%), ekstrak air rambut jagung tua (200 mg/kgBB) dan ekstrak air rambut jagung muda (200 mg/kgBB) yang diberi perlakuan secara oral. Kadar glukosa darah diukur pada menit ke 0, 30, 60, 90, 120, 150, dan 180 pasca pembebanan glukosa oral. Data persen penurunan kadar glukosa darah dianalisis dengan uji Kruskal Wallis dan dilanjutkan dengan uji Mann Whitney. Persen penurunan kadar glukosa darah ekstrak air rambut jagung tua dan muda tidak berbeda bermakna (p>0,10). Ekstrak air rambut jagung muda menurunkan kadar glukosa darah sejak menit ke-90 pasca pemberian glukosa oral dengan persen penuran sebesar 44,55 ± 4,92%. Sedangkan ekstrak air rambut jagung tua menurunkan kadar glukosa darah sejak menit ke-120 pasca pemberian glukosa oral dengan persen penurunan sebesar 30,15 ± 7,25%. Kata kunci: rambut jagung tua, rambut jagung muda, flavonoid, kadar glukosa darah ABSTRACTCorn silk contained flavonoid. Total flavonoid content could be influenced by ages of the plant. Flavonoid has potential effect as anti-hyperglycemia. The purpose of this study was to observe lowering blood glucose levels profile of mature and immature corn silk extract on male mice Balb-C strain. This is an experimental study with posttest only control group design. Aqueous extract was prepared by boiling corn silk with water for 30 minutes. Total flavonoid content was determined by AlCl3 method. Lowering blood glucose levels activity was determined by oral glucose tolerant test method on alloxan induced male Balb-C mice test animals intraperitonialy (140 mg/kgBB). The 20 test animals were divided into positive control group (Acarbose 50 mg/70kgBB), negative control group (NaCMC 1%), mature aqueous corn silk extract group (200 mg/kgBB), and immature aqueous corn silk extract group (200 mg/kgBB) given orally. Blood glucose levels were measured at 0, 30, 60, 90, 120, 150, and 180 minutes after the glucose load. Percentage of lowering blood glucose levels were analyzed by Kruskal Wallis and continued by Mann Whitney test. Percentage of lowering blood glucose levels of mature and immature aqueous corn silk extract was not significantly different. Immature aqueous corn silk extract was lowering blood glucose since 90 minute after the glucose load by 44,55 ± 4,92%.  Whereas mature aqueous corn silk extract was lowering blood glucose since 120 minute after the glucose load by 30,15 ± 7,25%. Key word: mature corn silk, immature corn silk, flavonoid, blood glucose levels
Profil dan Evaluasi Terapi Anemia pada Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisa di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura Periode Juli-Oktober 2014 Nori Lovita Sari; Valentina Meta Srikartika; Difa Intannia
Jurnal Pharmascience Vol 2, No 1 (2015): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v2i1.5815

Abstract

Abstrak            Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan suatu penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya anemia karena ketidakmampuan ginjal memproduksi eritropoetin. Penelitian ini bertujuan untuk melihat profil terapi anemia serta mengevaluasi terapi anemia pasien GGK yang menjalani hemodialisa di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura. Metode penelitian ini bersifat prospektif yang dilakukan selama bulan Juli-Oktober 2014. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dari 215 data pemeriksaan laboratorium pasien GGK terdapat  99,1 %  kejadian anemia dan hanya 65,1 % saja yang mendapatkan terapi anemia. Terapi anemia yang diberikan yaitu untuk terapi tunggal seperti eritropoietin sebesar 8,5 %; vitamin B kompleks sebesar 21,8 %; vitamin B1 sebesar 1,5%; dan transfusi darah sebesar 11,2 %;  untuk terapi kombinasi 2 obat yang diberikan yaitu vitamin B kompleks dengan eritropoeitin α sebesar 52,9 %; vitamin B kompleks dengan vitamin B1 sebesar 2,7 %; Vitamin B kompleks dengan transfusi darah sebesar 0,6 %; sedangkan untuk terapi 3 kombinasinya yaitu vitamin B kompleks, eritropoietin dan transfusi darah  sebesar 0,9 %; Evaluasi terapi anemia pada pasien GGK yang menjalani hemodialisa belum sesuai dengan pedoman terapi yaitu pemeriksaan laboratorium yang kurang lengkap seperti jumlah retikolosit absolut, serum transferin saturation (TSAT), serta serum vitamin B12 serta asam folat, selain itu masih terdapat pemberian terapi anemia yang tidak mempertimbangkan kondisi pasien.Kata Kunci : Terapi Anemia, GGK, Hemodialisa AbstractA Chronic Kidney Disease (CKD) is a disease that can lead to anemia because of the inability of the kidney to produce erythropoietin. This study aimed to observe the pattern of anemia therapy and to evaluate the therapy anemia of Chronic Kidney Disease patients conducting hemodialysis at Ratu Zalecha Hospital Martapura. This study was conducted prospectively from July to October 2014. Based on the results it could be concluded that from 215 patients’ laboratory check-up data there were 99.1%  prevalence of anemia and of those only 65.1% got anemia therapy. The applied anemia therapies for singular therapy were erythropoietin at the amount of 8,5 %; vitamin B complex at the amount of 21.8 %; vitamin B1 at the amount of 1.5 % and blood transfusion at the amount of 11.2 %;  for the combined therapies the applied 2 medicines were iron with erythropoietin at the amount of 52.9 %; vitamin B complex with vitamin B1 at the amount of 2.7%; vitamin B complex with blood transfusion at the amount of 0.6%; whereas the 3 combination therapy was vitamin B complex, erythropoietin and blood transfusion at the amount of 0.9 %. The evaluation of anemia therapy Chronic Kidney Disease patients conducting hemodialysis was not completely appropriate as instructed in therapy manual such less comprehensive laboratorium check-up such us absolute reticoloycte, serum transferin saturation (TSAT), serum vitamin B12 and folate acid, aside from that many treatments which not considered with the patients’ condition.Keywords  : Therapy Anemia, CKD, Hemodialysis
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Abdul Karim ahmad rizal Alya Zainah Amalia Risna Andini, Rizka Syawal Angelina Ayu Dela Anisa Desriyanti Anna Khumaira Sari Antung Lisa Ariati Antung Lisa Ariati, Antung Lisa Azhar Arnata, Azhar Bayu Wiratama Bethy Nurhayaty Sidauruk Dahlia Syahrina Damayanti Rumondang Butar Butar Dania, Sri Rahmah Daniel Wisnugroho DENI SETIAWAN Dharmawan, Robby Epri Wing Parikesit, Epri Wing Fahira, Nurul Savira Fanli Yudi Anwar Fanli Yudi Anwar Febrianti, Dwi Rizki Finlinda Hery Ramadani Finlinda Hery Ramadani, Finlinda Hery Fitri, Nahyanti Fitriana Rahmi Gusti Rizky Puspa Ramadhani Hadiastuti, Adinda Dwina Hayatun Izma Helmina Wati Henny Maryani Heri Budi Santoso Heri Budi Santoso Herningtyas Nautika Lingga Ikhwan Rizki, Muhammad Imam Muftadi Isnaini, Nazhifah Izma, Hayatun Jasmadi Joko Kartiko, Jasmadi Joko Jauhar Latifah Khoirunnisa Muslimawati Khumaira Sari, Anna Kumala, Dinna Fitria Laode Muhammad Indra Kesuma Liling Triyasmono Linda Permata Sari LINDA WAHYUNI Lisda Handayani Lisda Handayani, Lisda Malikhatun Ni’mah, Malikhatun Malikhatun Ni’mah Melviani Mia Fitriana Muhammad Ikhwan Rizki Muhammad Ramadhan Muhammad Reza Pahlevi Muhammad Rizki Akbar Mustika Muthaharah Nahdiya Nahdiya Nahyanti Fitri Nani Kartinah Nasya Hafizah Nita Safitri Noor Cahaya Nor Aida Nori Lovita Sari Nori Lovita Sari, Nori Lovita Normaidah, Normaidah Noval Novia Novia Novia Novia Nurlely Nurlely Okta Muthia Sari Prima Happy Ratnapuri Prima Happy Ratnapuri Putra, Aditya Maulana Perdana Rahmatullah, Satrio Wibowo Rapi'ah, Rizka Restu Aulia Rezki Amelia Rezki Amelia Rina Astiyani Jenah Rizaldi, Muhammad Ronalisa Ronalisa Sandi, Dita Ayulia Dwi Sari, Okta Muthia Sarlina Illyyani Sarlina Illyyani, Sarlina Silviana, Mega Sriyatul Adawiyah Sulvia Dasupantini, Sulvia Susanto, Yugo Syahrizal Ramadhani Syifa Auliani Tangkas, Hansel Hens Tuti Misrina Valentina Meta Srikartika Valentina Meta Srikartika Valentina Meta Srikartika Valentina Meta Srikartika, Valentina Meta YULIANTI, MAWAR DWI Yusrinie Wasiaturrahmah