Claim Missing Document
Check
Articles

MALNUTRISI PADA BALITA PEDESAAN DENGAN PERKOTAAN BERDASARKAN KARAKTERISTIK KELUARGA: DATA PSG 2015 Agus Hendra Al Rahmad
Idea Nursing Journal Vol 7, No 3 (2016): Idea Nursing Journal
Publisher : Fakultas Keperawatan-Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.802 KB) | DOI: 10.52199/inj.v7i3.6445

Abstract

ABSTRAKFramework balita malnutrisi secara tidak langsung akibat kondisi sosial ekonomi daerah meliputi aksebilitas pangan, karateristik keluarga, dan pelayanan kesehatan dasar. Kondisi daerah pedesaan memungkinkan rendahnya aksebilitas tersebut sehingga berdampak terhadap status gizi anak. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi balita malnutrisi antara daerah pedesaan dengan perkotaan berdasarkan karakteristik keluarga. Desain penelitian menggunakan Crossectional Study secara analitik. Tempat penelitian daerah pedesaan (Kabupaten Aceh Besar) dan daerah perkotaan (Kota Banda Aceh) dengan sampel 600 RT. Pengumpulan data menggunakan data sekunder diperoleh dari Pemantauan Status Gizi (PSG) di Provinsi Aceh tahun 2015, analisis menggunakan Chi-Square. Hasil penelitian diperoleh prevalensi masalah gizi lebih tinggi di pedesaan dibandingkan perkotaan, dengan perbandingan balita underweight 59,7%:40,3%, stunting 51,0%:49,0%, dan wasting 52,3%:47,7%. Tidak terdapat perbedaan prevalensi balita underweight dan stunting antara pedesaan dengan perkotaan berdasarkan pekerjaan, pendidikan ibu dan jumlah anggota keluarga (p-value0,05). Prevalensi wasting menunjukan perbedaan berdasarkan pekerjaan dan pendidikan ibu (p-value0,05), sedangkan jumlah anggota keluarga tidak terdapat perbedaan (p-value0,05). Kesimpulan, balita underweight dan stunting tidak berbeda prevalensinya, sedangkan balita wasting menunjukan perbedaan prevalensi berdasarkan pekerjaan dan pendidikan ibu. Saran, perlu ditingkatkan kerja sama lintas sektoral untuk mengatasi permasalahan gizi didaerah pedesaan. Upaya untuk mengurangi kendala sosial ekonomi dianggap paling penting dan menjadi program prioritas.Kata Kunci: Balita, malnutrisi, perkotaan dan pedesaan  ABSTRACT The framework toddler of malnutrition indirectly through socio-economic conditions includes the accessibility of local food, family characteristics, and basic health services. Conditions of rural areas enable children with nutritional problems. The aim of research to identify malnourished toddlers between rural and urban areas based on the characteristics of the family. Study cross-sectional design analytically. Location rural (Aceh Besar) and urban areas (Banda Aceh) with a sample of 600 household. Sources of secondary data obtained from Monitoring of Nutritional Status (MNS) in Aceh, 2015. The research showed were the prevalence of malnutrition is higher in rural than urban areas, with a ratio underweight: 59,7%:40,3%, stunting 51,0%:49,0%, wasting 52,3%:47,7%. There is no difference in the prevalence of underweight and stunting toddlers between rural and urban areas based on employment, maternal education and the family members (p-value0,05). The prevalence of wasting showed differences based on the work and education (p-value0,05), while the number of family members there was no difference (p-value0,05). Conclusion, a toddler underweight, and stunting prevalence did not differ while wasting toddlers showed differences in prevalence by occupation and mother's education. Suggestions should be increased cross-sectoral cooperation to stem malnutrition in rural areas, through solving socio-economic problems as a priority program. Keywords :  Malnutrition, rural and urban, toddler
PEMANFAATAN MEDIA FLIPCHART DALAM MENINGKATKAN PENGETAHUAN IBU TENTANG KONSUMSI SAYUR DAN BUAH Agus Hendra Al Rahmad; Almunadia Almunadia
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 17, No 3 (2017): Volume 17 Nomor 3 Desember 2017
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v17i3.9062

Abstract

ABSTRAK. Sayur dan buah-buahan merupakan pangan mudah didapat di Indonesia, dan memiliki ciri khas menurut kondisi daerah. Provinsi Aceh khususnya Aceh Besar konsumsi sayur dan buah-buahan hanya 0,8% atau masih rendah. Mendukung program Gerakan Masyarakat Sehat, salah satunya yaitu meningkatkan konsumsi sayur dan buah maka dapat dilakukan penyuluhan kepada masyarakat secara baik melalui penggunaan media. Tujuan penelitian untuk mengukur pemanfaatan media penyuluhan terhadap peningkatan pengetahuan ibu tentang manfaat mengkonsumsi sayur dan buah. Penelitian berdesain Quasi Experiment, dengan subjek sebanyak 40 ibu rumah tangga terdiri dari kelompok kasus (20 ibu) dan kontrol (20 ibu), lokasi penelitian Kecamatan Kuta Baro Aceh Besar dan dilakukan pada bulan Agustus - September 2017. Pengumpulan data melalui wawancara dan observasi baik sebelum dilakukan maupun setelah pelatihan.Data dianalisis menggunakan uji T-Test Data. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelatihan menggunakan media flipchart (p= 0,000) dan ceramah (p= 0,020)berpengaruh signifikan (p-value 0,05) dalam meningkatkan pengetahuan ibu, namun demikian penggunaan media flipchart lebih baik atau mempunyai nilai efektifitas tinggi (p= 0,000) dalam meningkatkan pengetahuan ibu tentang konsumsi sayur dan buah-buahan dibandingkan tanpa media atau ceramah (p-value 0,05). Kesimpulan, penyuluhan menggunakan media maupun tanpa media sangat bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan, tetapi penyuluhan menggunakan media flipchart lebih baik dibandingkan tanpa media atau ceramah dalam merubah pengetahuan ibu tentang konsumsi sayur dan buah. Disarankan kepada petugas kesehatan baik di dinas kesehatan atau di puskesmas sebaiknya untuk menggunakan media seperti infocus dan flipchart dalam melakukan penyuluhan tentang sayur dan buah, sehingga capaian program Gerakan Masyarakat Sehat dapat berhasil.
PEMBERIAN ASI DAN MP-ASI TERHADAP PERTUMBUHAN BAYI USIA 6 – 24 BULAN Agus Hendra Al Rahmad
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 17, No 1 (2017): Volume 17 Nomor 1 April 2017
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v17i1.7982

Abstract

Kekurangan gizi pada bayi akan menimbulkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan, apabila tidak diatasi secara dini dapat berlanjut hingga dewasa. Usia 0 – 24 bulan merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat dan sekaligus periode kritis. Kebutuhan dapat terpenuhi dari pemberian ASI serta dukungan MP-ASI. Penelitian bertujuan untuk mengukur tingkat hubungan pemberian ASI dan MP-ASI dengan pertumbuhan bayi pada usia 6 – 24 bulan. Penelitian dilakukan secara cross sectional sejak Februari – Maret 2016 di Lamreueng Aceh Besar. Sampel yaitu bayi usia 6 – 24 bulan yang dipilih secara random. Data identitas sampel dan responden, pemberian ASI dan MP-ASI dilakukan secara wawancara dan observasi, sedangkan data pertumbuhan melalui pengukuruan antropometri TB/U. Hasil penelitian menunjukan hubungan signifikan antara pemberian ASI (p= 0,000, OR= 21,0) dan pemberian MP-ASI (p= 0,006, OR= 6,5) dengan pertumbuhan bayi 6 – 24 bulan. Kesimpulan, rendahnya pemberian ASI eksklusif dan kurang baiknya pemberian MP-ASI berhubungan dengan banyaknya anak yang tidak dapat tumbuh secara normal. Disarankan, perlu dilakukan konseling dan penyuluhan secara komprehensif oleh tenaga kesehatan untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI.
Perbedaan status gizi balita berdasarkan karakteristik keluarga di Aceh Besar Agus Hendra Al Rahmad
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 19, No 3 (2019): Volume 19 Nomor 3 Desember 2019
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v19i3.18117

Abstract

Abstrak. Kabupaten Aceh mempunyai potret buram berdasarkan situasi status gizi. Balita mengalami malnutirisi seperti wasting (22,5%), stunting (25,0%) dan underweight (26,6%) sehingga berdampak terhadap masalah kesehatan. Malnutrisi terjadi merupakan akibat dari karaktristik keluarga seperti sosial ekonomi dan pendidikan orang tua. Tujuan penelitian untuk mengukur perbedaan status gizi balita berdasarkan karakteristik keluarga di Kabupaten Aceh Besar. Penelitian berdesain potong-lintang, dilakukan di Aceh Besar dengan sampel rumah tangga yang mempunyai balita. Penelitian menggunakan data sekunder yaitu data PSG Aceh tahun 2015, diperoleh melalui studi dokumentasi/observasi dan diolah mulai tahapan editing, coding, transfering sampai tabulating. Analisis data secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian, tidak terdapat perbedaan status gizi balita (BB/TB) berdasarkan pendidikan dan pekerjaan orang tua (p-value 0,05). Status gizi menurut indeks TB/U menunjukan perbedaan signifikan berdasarkan pendidikan dan pekerjaan orang tua (p-value 0,05). Begitu juga dengan status gizi menurut indeks BB/U juga menunjukan perbedaan berdasarkan pendidikan dan pekerjaan. Kesimpulan, tidak terdapat perbedaan status gizi balita menurut indeks BB/TB dan indeks TB/U, begitu juga dengan status gizi indeks BB/U juga menunjukan perbedaan bermakna secara proporsi. Saran, perlu upaya untuk mengurangi kendala sosial ekonomi dianggap paling penting dan menjadi suatu program yang harus diprioritaskan.Kata kunci: Balita, karakteristik orang tua, status giziAbstract. Aceh District has blurred portraits based on nutritional status situations. Toddlers have malnutrition such as wasting (22,5%), stunting (25,0%) and underweight (26,6%) so that impact to a health problem. Malnutrition occurs as a result of family characteristics such as socioeconomic and parental education. The objective of the study was to measure the difference of nutritional status of children under five based on family characteristics in Aceh Besar District. Cross-sectional design study, was conducted in Aceh Besar with a sample of households with toddlers. The study used secondary data that is PSG Aceh data in 2015, obtained through documentation/observation study and processed from editing, coding, transferring to tabulating. Univariate and bivariate data analysis using the Chi-Square test. The result of research, there is no difference of nutritional status of a toddler  (WFH) based on education and work of parent (p-value 0,05). Nutritional status according to HFA index shows significant difference based on education and parent work (p-value 0,05). Similarly, nutritional status according to the index WFA also shows differences based on education and employment. In conclusion, there was no difference in nutritional status of under-five children according to WFH index and HFA index, as well as nutritional status of index WFA also showed significant differences in proportion. Suggestions, it is necessary to reduce the socio-economic constraints are considered the most important and become a program that should be prioritized Keywords:    Toddlers, characteristics of parents, nutritional status
Pengaruh Penyuluhan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) pada Pasangan Usia Subur di Perkotaan dan Perdesaan Agus Hendra Al Rahmad
Jurnal Kesehatan Vol 10, No 1 (2019): Jurnal Kesehatan
Publisher : Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.305 KB) | DOI: 10.26630/jk.v10i1.1217

Abstract

Nutrition improvements in the group of the first 1000 days of life will support the growth process from pregnancy to children aged 2 years. The main factor of nutrition improvement is knowledge about the first 1000 days of life. Nutritional adequacy in the first 1000 days of life affects the lives of infants and children aged 2 years, Aceh province shows 23,7% of Aceh children suffer from malnutrition. Then to increase knowledge, conducted counseling about the first 1000 days of life. The goal is to compare the effectiveness of counseling to increase knowledge of couples of childbearing age in urban and rural areas. Quantitative research designed quasi-experiment. Samples are 100 couples people. The location of the research was conducted in Baiturrahman and Darul Kamal Subdistricts, research was conducted on 26-28 July 2017. Data collection includes primary and secondary data, Then processed through the stages of editing, coding, processing, and cleaning. Data analysis using T-Test. The Results, there is an increasing influence of counseling the first 1000 days of life to couples of childbearing age in urban and rural areas, with p<0,05. Counseling the first 1000 days of life to have better effectiveness in improving knowledge couples of childbearing age, with p<0,05. While the comparison of knowledge, the average score in urban (50) is higher compared with rural (45). Conclusion, counseling the first 1000 days of life take effect to Increased knowledge of couples of childbearing age and have better effectiveness, as well as a higher knowledge increase in urban areas than in rural areas.
Pengaruh Asupan Protein dan Zat Besi (Fe) terhadap Kadar Hemoglobin pada Wanita Bekerja Agus Hendra Al Rahmad
Jurnal Kesehatan Vol 8, No 3 (2017): Jurnal Kesehatan
Publisher : Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.699 KB) | DOI: 10.26630/jk.v8i3.509

Abstract

Anemia is a condition where the hemoglobin (Hb) is lower than the normal value according to age and sex of a person caused by certain factors, including intake of nutrients one protein and iron, with the percentage of women in Indonesia who have anemia amounted to 23,9%. The high prevalence is thought to be associated with low intake of protein and iron in women. This study aimed to measure the effect of protein intake and iron (Fe) to the hemoglobin in women working. This analytical study used cross-sectional design with 69 samples of working women conducted in Panteraja Sub-district Pidie Jaya District, in November-December 2016. Research variable that is protein and iron intake was measured used 24-hour recall in 2 days, and hemoglobin level was examined by easy touch. Data analysis is univariate and bivariate using Pearson correlation test. The results showed a significant influence of protein intake (p=0,000 and r=0,7) and iron intake (p=0,000 and r=0,6) on Hb levels in women working in Panteraja District with strong and patterned strength positive. It can be concluded that the intake of protein and iron has a strong effect on the increase of Hb level, that is the increase of protein and iron intake Hb level in woman work increasingly.
BERAT DAN TINGGI BADAN ORANG TUA DENGAN STATUS GIZI BALITA DI KABUPATEN ACEH BESAR Ampera Miko; Agus Hendra Al-Rahmad
GIZI INDONESIA Vol 40, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v40i1.222

Abstract

The nutrition status of population in the district of Aceh was considered as a public health problem. The malnutrition of under five year children such as wasting, stunting and underweight has brought  a negative impact on the health of the community. Malnutrition was –among other factors - influenced by family characteristic such as weight and height of the parents. The study was conducted in Aceh Besar. It used cross-sectional design with the  sample of 300 households with child aged under five years old . The research used secondary and primary data of PSG Aceh 2015. Data was obtained through documentation study and processed through data editing, coding, transferring and tabulating. The data was analyzed by univariate and bivariate using  chi-square test. The result has shown that there were relationship  between height and weight of the parents with  nutritional status of the children  using indicators of WFH and HFA (p0,05). However, it was not true for  the mother’s weight (p0,05). Weight and height of the fathers shown  the relationship (p0,05) with nutritional status (WFA) of the children, but not for the mother's weight and height (p0,05). In conclusion, the acute and chronic nutritional problems in the district of  Aceh Besar  were influenced by anthropometric status of the parents, especially the weight and height of the father. It was recommended that improvement of nutritional problems should be done through a direct approach such as growth monitoring, counseling on exclusive breastfeeding, providing of vitamin A and intensified efforts on changing of clean and healthy behavior.ABSTRAK  Kabupaten Aceh mempunyai permasalahan kesehatan berdasarkan situasi status gizi. Balita mengalami malnutirisi seperti wasting, stunting dan underweight yang berdampak terhadap masalah kesehatan. Malnutrisi terjadi akibat keadaan gizi mapun faktor keturunan dari orang  tua. Tujuan penelitian untuk mengukur hubungan berat badan dan tinggi badan orang tua dengan status gizi balita. Penelitian berdesain potong-lintang, dilakukan di Aceh Besar dengan sampel rumah tangga yang mempunyai balita sebanyak 300 RT. Penelitian menggunakan data sekunder hasil PSG Aceh 2015, diperoleh melalui studi dokumentasi/observasi dan diolah mulai tahapan editing, coding, transfering sampai tabulating. Analisis data univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian, terdapat hubungan berat dan tinggi badan orang tua dengan status gizi balita berdasarkan indikator BB/TB dan TB/U (p 0,05), tetapi tidak untuk berat badan ibu. Berat dan tinggi badan kepala keluarga menunjukkan hubungan (p 0,05) dengan status gizi balita (BB/U), tetapi berat dan tinggi badan ibu tidak menunjukkan hubungannya). Kesimpulan, tingginya masalah gizi kronis dan akut di Kabupaten Aceh Besar merupakan akibat berat dan tinggi badan orang tua yang berperan dalam besarnya prevalensi gizi terutama berat dan tinggi badan kepala keluarga. Saran, perbaikan masalah gizi dapat dilakukan melalui pendekatan secara langsung yaitu pemantauan pertumbuhan, penyuluhan tentang ASI eksklusif dan Vitamin A serta MP-ASI serta upaya terhadap perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).  Kata kunci: status gizi, balita, berat dan tinggi badan orang tu
Perkembangan Psikomotorik Bayi 6 – 9 Bulan berdasarkan Pemberian ASI Eksklusif Agus Hendra Al-Rahmad; Ika Fadillah
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 1, No 2 (2016): Volume 1 No 2 Tahun 2016
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.846 KB) | DOI: 10.30867/action.v1i2.18

Abstract

The growth of childhood starting from conception until the age of 18 years. The excellent quality child should be prepared as early as possible, one of them through exclusive breastfeeding, up to the age of 5 months 29 days, so that the growth and development of psychomotor perfectly. This study aims to measure the difference in motor development in infants exclusively breastfed to those not exclusively breastfed. The study was the cross-sectional study conducted in Batoh, July 2016. Samples were infants aged 6-9 months as many as 76. The collection of data is done using a form of SBC observation and interviewing the respondents. Analysis of data using Man-Whitney test Test at CI: 95%. The results showed 48,9% of infants were breastfed exclusively had a good score motor development (9,0), and showed a significant difference (p-value <0,05) than motor development in infants who are not exclusively breastfed, with a value of p = 0,000. In conclusion, the baby did not get a chance to experience exclusive breastfeeding psychomotor development standard below the average of two (2) times greater than being exclusively breastfed. Expected mothers to breastfeed their babies exclusively for a better psychomotor development. Keywords: Growth and development, psychomotor, exclusive breastfeeding, infants 6-9 months
Pengaruh penyuluhan gizi tentang jajanan tradisional terhadap peningkatan pengetahuan dan perilaku jajan anak sekolah Yulia Fitri; Agus Hendra Al Rahmad; Suryana Suryana; Nurbaiti Nurbaiti
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 5, No 1 (2020): AcTion Vol 5 No 1 Tahun 2020
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.353 KB) | DOI: 10.30867/action.v5i1.186

Abstract

Traditional food also proves as functional food wich prevents degenerative diseases. The fact shows in children's school the traditional food is less popular than modern food (nontraditional). But modern snacks have a negatively impact on health status. This habit will not occur if the children get knowledge about good nutrition. The aim of this research is to find out the effect of nutritional counseling on traditional food toward children's knowledge and attitude at Elementry School 11st in Banda Aceh. Quasi-experimental research was conducted on 33 students drawn randomly, measured before and after the extension of knowledge respondents using a questionnaire form, and data analysis used a T-test statistical tests dependent on CI: 95%. The results, the average level of knowledge of children before and after the extension is 10, 45, and 11,88. The average behavior before and after counseling was 6,73 and 7,09. In conclusion, counseling has an influence in increasing the knowledge of schoolchildren about traditional snacks but does not affect changing the behavior of elementary school children. Suggestions need to increase outreach using media in changing the behavior of elementary school children. Jajanan tradisional merupakan makanan fungsional, yang dapat mencegah beberapa jenis penyakit degenerative. Fakta menunjukkan bahwapada anak sekolah jajanan tradisional kurang digemari dibandingkan jajanan modern (non tradisional). Namun, jajanan  moderen (non tradisional) berdampak negatif terhadap status kesehatan. Apabila setiap anak tidak memiliki pengetahuan dan perilaku tentang gizi, maka mereka akan salah dalam memilih jajanan yang sehat. Penelitian  bertujuan untuk mengukur pengaruh penyuluhan gizi tentang jajanan tradisional terhadap tingkat pengetahuan dan perilaku anak. Desain penelitian kuasi eksperimen pada 33 siswa sekolah dasar,  dengan pendekatan pre-postest observational, sebelum dan sesudah penyuluhan diukur pengetahuan responden dengan menggunakan form kuesioner, dan analisa data menguunakan uji statistik T-test dependen pada CI:95%. Hasil, rata-rata  tingkat pengetahuan anak sebelum dan sesudah penyuluhan adalah 10,45 dan 11,88. Rata-rata perilaku sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan adalah 6,73 dan 7,09. Kesimpulan, penyuluhan mempunyai pengaruh dalam meningkatkan pengetahuan anak sekolah tentang jajanan tradisional, namun tidak berpengaruh dalam mengubah perilaku anak-anak sekolah dasar. Saran, perlu peningkatan penyuluhan dengan menggunakan media dalam mengubah perilaku anak-anak sekolah dasar.
Faktor resiko kadar kolesterol darah pada pasien rawat jalan penderita jantung koroner di RSUD Meuraxa Nunung Sri Mulyani; Agus Hendra Al Rahmad; Raudatul Jannah
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 3, No 2 (2018): AcTion Vol 3 No 2 Tahun 2018
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.148 KB) | DOI: 10.30867/action.v3i2.113

Abstract

Coronary heart disease generally occurs due to an increase in irregular cholesterol levels. Blood cholesterol is influenced by several factors, including genetic, gender, diet, obesity, and excessive coffee drinking. This study aims to determine the factors that influence blood cholesterol levels in outpatients with coronary heart disease at Meuraxa Regional Hospital. This study is a descriptive-analytical Case Control design, conducted in patients with coronary heart disease as many as 45 cases and 45 controls in May 2017 Data analysis using Chi-Square test. Diet data was collected using food recall, genetic data, sex collected by interview using questionnaires, nutritional status data collected through body mass index (BMI) measurements and cholesterol data collected through blood tests. Bivariate analysis showed a significant relationship between coffee consumption and total cholesterol levels with OR 2.768 (p = 0.033). There was no significant relationship between coffee consumption with HDL, LDL, and triglycerides (0.292; 0.088; 0.125). There was no significant correlation between genetic, gender, diet and nutritional status with levels of total cholesterol, LDL, HDL, and Triglycerides.T here is a significant relationship between coffee consumption and total cholesterol levels in patients with coronary heart disease, so it is necessary to limit coffee consumption for people with coronary heart disease.Penyakit jantung koroner umumnya terjadi karena peningkatan kadar kolesterol yang tidak teratur. Kolesterol darah dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya genetik, jenis kelamin, pola makan, obesitas, serta minum kopi yang berlebihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kadar kolesterol darah pada pasien rawat jalan penderita jantung koroner di RSUD Meuraxa. Penelitian deskriptif analitik berdesain Case Control, yang dilakukan pada  pasien penderita jantung koroner sebanyak 45 kasus dan 45 kontrol pada bulan Mei 2017. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Data pola makan dikumpulkan dengan menggunakan food recall, data genetik, jenis kelamin dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuisioner, data status gizi dikumpulkan melalui pengukuran indeks massa tubuh (IMT) dan data kolesterol dikumpulkan melalui pemeriksaan darah. Analisis bivariat  menunjukkan ada hubunganyang signifika konsumsi kopi dengan kadar kolesterol total dengan OR 2,768 (p= 0,033). Tidak ada hubungan yang signifikan konsumsi kopi dengan HDL, LDL dan trigliserida (0,292; 0,088; 0,125). Tidak ada hubungan yang signifikan genetik, jenis kelamin, pola makan dan status gizi dengan kadar kolesterol total, LDL, HDL dan Trgliserida. Ada hubungan yang signifikan konsumsi kopi dengan kadar kolesterol total pada penderita jantung koroner sehingga perlu kiranya pembatasan konsumsi kopi bagi penderita jantung koroner.
Co-Authors . Zulfan Abdul Hadi Abdul Hadi Abdul Hadi Abdul Hadi Abdul Hadi Adithia Chanda Ainun Mardiah Alamsyah, Putri Rahmah Alamsyah, Teuku Alfridsyah Alfridsyah Alfridsyah Alfridsyah Alfriedsyah Alfriedsyah Almunadia Almunadia Ampera Miko Ampera Miko Andriaty, S. Nora Annaria Annaria Annisa, Siti Fainurryzky Anshory, Jamil Apripin Ahmad Aripin Ahmad, Aripin Arnisam Arnisam Asma Asma Azhari Azhari Binti Firdaus, Shausan Cut Affianijar Cut Aja Nuraskin Cut Rizka Rahmi Darwitri, Darwitri Dedy Rusmawar Devi Utari Dewi, Silfia Dini Junita Dwi Lestari Een Nuraenah Effendy, Nurul Hajmi Emilda AS, Emilda AS Emilda Emilda Emilda, Emilda Erwandi Erwandi Erwandi Erwandi Eva Fitriyaningsih Eva Fitriyaningsih Evi Zahara Fadjri, T Khairul Fadjri, T. Khairul Fahmi Hafid Fajarna, Farah Farid Bastian Farida Hanum Fauziati, Mirna Halimatussakdiah Halimatussakdiah Herry Imran Hizir Sofyan Husnul Khotimah Ichsan Ichsan Ichsan Ichsan Ichsan Ichsan Ika Fadillah Ika Fadillah Ilzana, Teuku Muhammad Imran, Herry Indah Yusra Indra Kurniawan Iskandar Iskandar Iskandar Iskandar Iskandar Iskandar Junaidi Junaidi Junaidi Junaidi Junita, Dini Kalsumy, Umi Kaluku, Khartini Khazanah, Wiqayatun Kusuma Wardani, Dyah Ayu Lia Lajuna Lina Lina M. Nur Dewi Kartikasari Mahjuri Mahjuri Masyudi Masyudi Maulidiya, Rizki Mohammad Muljohadi Ali Mudatsir Mudatsir Muhammad Yani Niakurniawati Niakurniawati Noni Zakiah Nora Usrina Nora Veri Nunung Sri Muliyani Nunung Sri Muliyani Nunung Sri Mulyani Nunung Sri Mulyani Nurbaiti Nurbaiti Nurlaili Ramli Putri, Isnaini Rachmawati Rachmawati Rahmi, Maulianur Raihan Raihan Rasidah Rasidah, Rasidah Ratna Wilis Ratna Wilis Ratna Wilis Ratu Laili Amelia Raudatul Jannah Reca Reca Rini Handayani Rosa Galica Gita Gressia Rosi Novita Safwan Safwan, Safwan Salsabila, Jeumpa Syahrana Sembiring, Rinawati Shavira, Najwa Silvia Wagustina, Silvia Sudiarto, Dwi Suryana Suryana Suryana Suryana Syahnaz Salsabila T Khairul Fadjri T Khairul Fajri T. Khairul Fadjri T. Khairul Fadjri T. Khairul Fadjri T. Khairul Fadjri Taufik Hidayat Tri Yuliyani Trini Sudiarti Ummul Hijriah Usman, Said Utami, Kurniati Dwi Wiqayatun Khazanah Wiyasa, I Wayan Arsana Yulia Fitri Yulia Fitri Yuniwati, Cutyuniwati