Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Al-Hikmah

Dinasti Abbasiyah (Kemajuan dalam Bidang Ilmu Agama, Filsafat, Pendidikan dan Sains) Susmihara Susmihara
Al-Hikmah Journal for Religious Studies Vol 21 No 2 (2019): December
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dinasti Abbasiyah berdiri setelah keruntuhan Dinasti Umawiyah. Keruntuhan dinasti tersebut disebabkan banyaknya konflik internal dan eksternal dari Dinasti Umawiyah, sehingga Dinasti Abbasiyah muncul sebagai kekuatan baru dalam perpolitikan umat Islam. Kekuasaan Dinasti Abbasiyah berumur sekitar lima ratus tahun (750-1258 M / 132-656 H). Pada periode awal kekuasaannya memiliki otoritas politik yang sangat kuat dan kemudian mampu melahirkan sebuah kemajuan peradaban yang disebut-sebut sebagai era keemasan (the Golden Age). Dalam bidang ilmu agama, muncullah beberapa ulama dalam bidang hukum atau fikih dengan berbagai mazhab. Dan dalam bidang hadis ditemukan usaha-usaha untuk penelusuran dan penghimpunan hadis. Begitupula ilmu lainnya, seperti ilmu tafsir yang sudah berdiri sendiri. Dalam bidang sains dan tekhnologi, khususnya pada ilmukedokteran atau pengobatan telah berkembang cukup pesat, yang ditandai dengan berdirinya sekolah kedokteran tingkat tinggi. Dalam bidang filsafat, dari kajian ilmu filsafat itulah sehingga melahirkan ilmuwan Islam popular atau para filosof dan pemikirannya, dan pada bidang pendidikan, ditandai dengan kurikulum utamanya dipusatkan pada al-Qur’an dan hadis, sertaberbagai lembaga pendidikan telah terbangun, mulai dari mesjid yang juga dijadikan tempat pengajaran/pendidikan selain tempat ibadah. Juga dibangunnya lembaga-lembaga dalam bidang tertentu seperti Bait al-Hikmah.
MUQADDIMAH IBNU KHALDUN: STUDY OF ISLAMIC HISTORIOGRAPHY: Historiografi Islam Ahmad Habib Akramullah Abd. Rahim; Susmihara; Ahmad Yani
Al-Hikmah Journal for Religious Studies Vol 23 No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/al-hikmah.v23i2.34427

Abstract

The full name of an Ibn Khaldun is Abd al-Rahman bin Muhammad bin Mohammad bin Hasan bin Jabar bin Mohammad bin Ibrahim bin Abd al-Rahman bin Khaldun. Then he was born in the area of Tunisia, a region in North Africa, around 732 H or 1332 AD, he was a family of migrants from the Andalusian region, a region in Southern Spain, who now moved to the Tunisian area around the middle of the VII century H. The origin of a family The real Ibnu Khaldun was from the Hadramaut area, in the southern Yemen region. Ibnu Khaldun started his education at the age of 18 between 1332 and 1350 AD. As was the case with the Muslims at that time, Ibnu Khaldun's father was the first teacher figure who had taught him traditionally the basic values of Islam. During his stay in the Tunisian area until 751 H, Ibn Khaldun was very diligent in studying and reading and he attended the assembly of his teacher, Muhammad Ibrahim Al-Abili, every time. At that time, Ibnu Khaldun was already 20 years old. And at that time Ibn Khaldun was summoned by Abu Muhammad Ibn Tarafkin, one of the rulers who was in the Tunisian area, to assume the position of secretary to the ruler of Sultan Abu Ishaq Ibnu Abu Yahya Al-Hafsi. Ibnu Khaldun is one of the political activists and thinkers who was born in the Tunisa area in 1332 and he died in Egypt in 1406. Before he died he had spent much of his life in political struggles and adventures in various forms, at different times and at different times. the world in which he lives. Apart from being a political activist, he is also an expert thinker and is very observant of the knowledge he has and he is a very sharp analyst. He wrote down the results of his observations in a book consisting of several volumes on history, a book he called "Ibar" which is a book that is a role model that humans can take from history. The first part of the book he called "Muqaddimah", which means "Introduction". The works can be seen from the title Al-Ibar wa Diwan Al-Mubtada wa Al-Khabar fi, Ayyam Al-Arab wa al-Ajam wa Al-Barbar, wa Man Asharahum min Dzawi Al-Sulthan Al-Akbar, and consists of several volumes.
The Influence of The Example of Ummul Mukminin Aisyah (Radhiyallahu Anha) in Accompanying The Apostolic Mission of The Prophet Muhammad Saw on Women Mardhiyah, Ainun; Susmihara; Megawati, Lydia
Al-Hikmah Journal for Religious Studies Vol 26 No 01 (2024): Juni
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/al-hikmah.v26i01.48367

Abstract

Skripsi ini bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang sejarah hidup ummul mukminin Aisyah radhiyallahu anha dimana kajian ini melihat dari sisi keteladanan yang dimiliki oleh sosok Aisyah terhadap Muslimah dalam mendampingi misi kerasulan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Mengkaji bentuk keteladanan yang dilakukan oleh Aisyah radhiyallahu anha sebagai seorang istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Selanjutnya menganalisis pengaruh keteladanan Aisyah radhiyallahu anha dalam mendampingi misi kerasulan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam terhadap Muslimah. Penelitian ini disusun dengan menggunakan jenis penelitian Pustaka atau library research yaitu mengumpulkan berbagai data dan fakta sejarah melalui literatur-literatur yang ada baik berupa buku, jurnal, maupun skripsi. Peneliti menggunakan langkah-langkah penelitian yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Hasil akhir dari telaah Pustaka yang dilakukan peneliti ialah 1) Aisyah radhiyallahu anha menguasai berbagai bidang disiplin ilmu yang dapat menjadi teladan bagi Muslimah dalam menjalani kehidupannya agar lebih bermanfaat diantaranya Al-Qur’an, hadits, fikih, akidah, juga ilmu-ilmu umum seperti ilmu pengobatan, sejarah dan sastra. 2) Aisyah juga sangat penting diteladani dari sisi akhlak yang dimilikinya yaitu lemah lembut, tawadhu, rendah hati, tidak cinta dunia, dermawan, sederhana, dan akhlak mulia lainnya. 3) Pengaruh keteladanan perempuan terhadap Aisyah ini diantaranya ialah menjadi perempuan berilmu, menjadi perempuan yang memanfaatkan masa muda dengan produktif, menjadi perempuan yang senantiasa menjaga ketaatan, menjadi perempuan yang berakhlak mulia sebagaimana Aisyah. Kata Kunci : Aisyah, keteladanan, peranan
Tradisi Mappatamma' pada Masyarakat Desa Julumate'ne Kecamatan Bontolempangan Kabupaten Gowa (Stuudi Unsur-unsur Budaya Islam) Ummul Fadilah; Susmihara; Nuraeni S
Al-Hikmah Journal for Religious Studies Vol 26 No 02 (2024): Desember
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/al-hikmah.v26i02.51148

Abstract

This study aims to examine the elements of Islamic culture within the mappatamma’tradition in the Julumate'ne Village community, Bontolempangan District, Gowa Regency. The appreciation of the procedure for completing the Qur'an is a compelling subject of discussion, given that the Qur'an serves as a fundamental guideline for Muslims. This research employs a cultural approach, utilizing qualitative data gathered from field studies and literature. To trace this data source, the researcher implemented techniques such as observation, interviews, and documentation. The research methodology is descriptive, providing a detailed account of the characteristics of the research object. The findings indicate that the mappatamma’tradition emerged as a result of the efforts to promote Islam in South Sulawesi and reflects the creativity of the Muslim community, particularly the Bugis-Makassar, in deeply embedding Islamic principles within society. The mappatamma’tradition is executed in three stages: pre-implementation, implementation, and post-implementation. Rich in meaning and conveying messages that embody the community's value system, the mappatamma’tradition encompasses various Islamic values, including religious, social, educational, and scientific dimensions that are essential to uphold and perpetuate in contemporary life.