Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : J-CEKI

Perang Proxy Dalam Konflik Yaman Adriani Adriani; Hasaruddin Hasaruddin; Susmihara Susmihara
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 3 No. 4: Juni 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v3i4.3911

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguraikan latar belakang terjadinya perang Proxy dalam konflik Yaman. Metode penelitian yang digunakan yaitu dikaji literatur dari berbagai sumber yang relevan dengan topik pembahasan yaitu Perang Proxy dalam konflik Yaman. Hasil penelitian dan pembahasannya yaitu Perang Yaman dimulai pada tahun 2015 akibat konflik yang melibatkan pemerintahan Yaman dan kelompok bersenjata Houthi. Keduanya sama-sama mengklaim sebagai pemerintahan resmi Yaman. Saat ini kelompok Houthi berada dan mengendalikan ibu kota Sana’a, bersekutu dengan pasukan yang masih tetap setia kepada mantan presiden Ali Abdullah Saleh dan telah bentrok dengan pasukan yang juga setia kepada Hadi di Aden. AQAP (Al-Qaeda in the Arabian Peninsula) dan Negara Islam Irak dan Levant (ISIS) terlibat di dalam perang. AQAP menguasai wilayah-wilayah yang berada di pedalaman dan sepanjang bentang pesisir pantai. Perang Saudara Yaman (2015-sekarang) merupakan salah satu konflik yang dijuluki “krisis kemanusiaan terburuk” oleh PBB di tahun 2018 (PBB 2018). Perang Proxy dalam Konflik di Yaman saat ini banyak menelan korban yang tidak sedikit sebanyak lebih dari 70.000 jiwa (ACLED 2019) dan lebih dari 3 juta penduduk Yaman harus mengungsi (unrefugees.org 2019), dengan situasi perang di Yaman yang melibatkan serangan udara dan blokade-blokade membuat semakin sulitnya mencari penghidupan di daerah-daerah asal para pengungsi tersebut. Serangan Houthi yang bersekutu dengan pasukan militer yang tetap setia kepada Ali Abdullah Saleh, mulai melakukan penyerangan ke Gubernuran Lahij pada 22 Meret 2015. Sampai pada akhirnya di 25 Maret, Lahij berhasil dikuasi oleh Houthi dan menguasai pinggiran Aden. Pada saat yang sama, Presiden Yaman melarikan diri dari Yaman. Negara-negara di Teluk Arab yang dipimpin oleh negara Arab Saudi melakukan kampanye. isolasi ekonomi dan serangan udara terhadap kelompok Houthi. Kampanye tersebut didukung oleh Amerika Serikat.Setelah kampanye yang dilakukan oleh militer Koalisi Arab, Hadi membatalkan pengunduran dirinya dan memutuskan kembali ke Aden pada September 2015 dan pertempuran masih terus berlanjut sejak saat itu. PBB tidak tinggal diam. Mereka melakukan pembicaraan damai dan berperan sebagai penengah antara gerilyawan Houthi dan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Akan tetapi pembicaraan tersebut terhenti pada 2016. Terdapat laporan jika pada Desember 2017, Hadi telah berada di pengasingan di Arab Saudi. Pada Juli 2016, kedua kelompok yang saling bersekutu yakni kelompok Houthi dan pemerintah mantan Presiden Ali Abdullah Saleh yang digulingkan pada 2011 setelah hampir 30 tahun berkuasa, mengumumkan bahwa telah terbentuk dewan politik untuk memerintah Sana’a dan sebagian besar Yaman Utara. Perang Yaman semakin parah dengan adanya intervensi kekuatan regional dari Iran dan negara-negara di teluk yang dipimpin oleh Arab Saudi. Arab Saudi membentuk koalisi negara Arab untuk mengalahkan kelompok Houthi di Yaman pada tahun 2015. Sedangkan Amerika Serikat secara teratur melakukan penyerangan pada al-Qaeda dan ISIS di Yaman menggunakan serangan udara. Tidak hanya itu, Amerika Serikat juga mengirim sejumlah kecil pasukannya di lapangan.
Implikasi Perang Salib Antara Hubungan Islam Dan Kristen Pada Abad Pertengahan Sudarmi Sudarmi; Hasaruddin Hasaruddin; Susmihara Susmihara
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 3 No. 5: Agustus 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v3i5.4011

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguraikan latar belakang sejarah Perang Salib dan pengaruhnya terhadap kemajuan kebudayaan Islam. Pertempuran ini bermula karena Islam telah menduduki beberapa kota dan tempat suci Kristen sejak tahun 632 Masehi. Pasukan Kristen memanfaatkan salib sebagai simbol untuk menunjukkan kesucian konflik dan tujuannya membebaskan kota suci Baitul Maqdis (Yerusalem) dari umat Islam. Perang salib yang berpusat di wilayah sekitar Yerusalem, akhirnya meluas ke sejumlah wilayah yang cukup besar dan terjadi antara tahun 1096 hingga 1291 Masehi. Awal Abad Pertengahan Pertempuran yang dikenal sebagai "Perang Salib" dan invasi Mongol ke tanah Islam menandai dimulainya interaksi antara Kristen dan Islam. Umat ​​​​Kristen memasuki wilayah di bawah kekuasaan Islam sebagai akibat dari pertempuran ini. Setelah itu, umat Kristiani mengalami kemajuan ketika mereka mulai mempelajari ilmu-ilmu Islam. Umat ​​​​Kristen di Eropa memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan Islam untuk memperkenalkan dan menyebarkannya ke seluruh Eropa. Selain itu, umat Kristen di Spanyol menggulingkan pemerintahan Islam, yang pada akhirnya menyebabkan pemberantasan Islam di negara tersebut. Meskipun demikian, hubungan baik Kesultanan Utsmaniyah antara Kristen dan Islam masih terlihat jelas berkat penerapan kebijakan toleransi. Keadaan ini berlanjut hingga awal tahun 1800-an. Kebangkitan imperialisme Barat yang disertai kekerasan di negara-negara Islam tertentu sekali lagi telah memperburuk hubungan antara Islam dan Kristen.
Penindasan Rohingya sebagai Warisan Kolonialisme dan Dampak Islamofobia Maulana Maulana; Susmihara Susimahara; Hasaruddin Hasaruddin; Mukhtar Galib
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 3 No. 5: Agustus 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v3i5.4012

Abstract

Penelitian ini menginvestigasi akar penyebab penindasan terhadap Rohingya di Myanmar dengan mempertimbangkan sejarah kolonialisme, politik internal, dan narasi Islamofobia. Melalui tinjauan literatur yang mendalam, penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang saling terkait yang memengaruhi penindasan terhadap Rohingya. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis kualitatif terhadap teori-teori kolonialisme dan Islamofobia serta penelitian terdahulu yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejarah kolonialisme Inggris di Myanmar telah menciptakan landasan struktural yang memperkuat ketidaksetaraan etnis, sementara narasi Islamofobia digunakan untuk membenarkan tindakan diskriminatif terhadap Rohingya. Interaksi antara faktor-faktor ini memperkuat kondisi yang memungkinkan penindasan terhadap Rohingya terus berlanjut di Myanmar. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang akar penyebab konflik ini sangat penting untuk merumuskan strategi yang efektif dalam mengakhiri penindasan terhadap Rohingya dan mempromosikan perdamaian serta keadilan di Myanmar.
Kontribusi KH Ahmad Dahlan dalam Reformasi Pendidikan Islam dan Transformasi Sosial di Indonesia Abdul Chadjib Halik; Susmihara Susmihara; Hasaruddin Hasaruddin
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 3 No. 5: Agustus 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v3i5.4410

Abstract

Penelitian ini mendalami kontribusi KH Ahmad Dahlan melalui Muhammadiyah dalam reformasi pendidikan Islam dan transformasi sosial di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menyelidiki berbagai program pendidikan yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan dan dampaknya terhadap masyarakat. Metode penelitian melibatkan wawancara mendalam dan observasi partisipatif untuk mengumpulkan data primer, serta analisis dokumen untuk mendukung data sekunder. Temuan utama menyoroti bahwa Muhammadiyah tidak hanya berperan sebagai penyampai pendidikan Islam yang inklusif dan modern, tetapi juga sebagai pendorong nilai-nilai sosial seperti keadilan dan kesetaraan di Indonesia. Implikasi temuan ini menyarankan pengembangan kebijakan pendidikan yang lebih berbasis nilai-nilai Islam dan penelitian lanjutan dengan pendekatan kuantitatif untuk mengukur dampak secara lebih objektif. Penelitian ini memberikan pandangan yang mendalam tentang peran Muhammadiyah dalam membentuk masyarakat yang adil, berdaya saing, dan bermoral di era kontemporer Indonesia.
Dampak Kolonialisme Barat Terhadap Dunia Islam Pada Abad Ke-17 Hingga Ke-19: Analisis Sejarah dan Implikasi Kontemporer Abdul Chadjib Halik; Hasaruddin Hasaruddin; Susmihara Susmihara
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 3 No. 5: Agustus 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v3i5.5134

Abstract

Kolonialisme Barat pada abad ke-17 hingga ke-19 membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan dunia Islam, termasuk ekonomi, sosial, politik, budaya, dan agama. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak tersebut serta implikasi jangka panjangnya. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis historis dan komparatif, data dikumpulkan dari sumber-sumber primer dan sekunder dan dianalisis secara deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan perubahan besar dalam struktur ekonomi, seperti pengenalan tanaman komersial di Mesir dan Sistem Tanam Paksa di Indonesia. Dampak sosial mencakup ketegangan dan perpecahan akibat kolaborasi elite lokal dengan penjajah. Aspek politik menunjukkan penggantian kekuasaan lokal dengan administrasi kolonial. Pengaruh budaya terlihat dari pengenalan sistem pendidikan Barat yang mengikis tradisi lokal, sementara dalam aspek agama, upaya misionaris Kristen menimbulkan ketegangan antar komunitas. Temuan ini menekankan pentingnya memahami konteks sejarah untuk kebijakan yang lebih adil dan efektif. Kesadaran sejarah dan pendidikan inklusif sangat penting untuk mengatasi warisan kolonialisme dan membangun masyarakat harmonis di dunia Islam. Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi literatur tentang kolonialisme dan menawarkan wawasan berharga tentang dinamika sosial, politik, dan ekonomi di dunia Islam saat ini.