Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Surau Sebagai Pedagogi Indigenous dalam Pembentukan Karakter dan Identitas Lokal Minangkabau Aget Sapriadi; Gusmira Wita; Hawa Fadillah Islami; Fatimah Azzahra; Daffa Febryan; Habibi Bil Maruf; Ikhsanul Ikhwan
Social Empirical Vol. 3 No. 1 (2026): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v3i1.585

Abstract

Pendidikan berbasis surau memiliki peran penting dalam pembentukan karakter dan pelestarian identitas lokal masyarakat Minangkabau di tengah tantangan modernisasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pendidikan surau sebagai model pedagogi indigenous dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam, adat Minangkabau, dan pembentukan karakter peserta didik di MDTA Mukhlisin Muhammadiyah Kota Padang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif, dan dokumentasi dengan melibatkan pengurus lembaga, guru, santri, orang tua, serta tokoh masyarakat. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data diperkuat melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa surau berfungsi sebagai ruang pedagogi indigenous yang menghubungkan pendidikan Islam dengan nilai budaya Minangkabau melalui pembelajaran Al-Qur’an, akidah, akhlak, fikih, sejarah kebudayaan Islam, dan bahasa Arab. Pembentukan karakter dilakukan melalui pembiasaan adab, sopan santun, penghormatan kepada orang tua dan guru, keteladanan, serta pengenalan nilai lokal seperti Sumbang Duo Baleh. Di tengah pengaruh modernisasi dan budaya digital, gerakan Kembali ke Surau menjadi strategi sosial-keagamaan untuk memperkuat identitas lokal generasi muda. Penelitian ini menegaskan bahwa keberlanjutan pendidikan surau memerlukan sinergi antara lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat agar nilai Islam dan budaya Minangkabau tetap diwariskan secara berkelanjutan.
Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal di Era Digital: Revitalisasi Pembelajaran Surau di Masjid Alfurqon Muaro Penjalinan Padang Adellia Mutiara Putri; Gusmira Wita; Elsa Putri Hardyanti; Fara Aisyah Zalma; Riva Nasrila; Fauzi Ariansyah; Sri Rahayu Ermadini
Social Empirical Vol. 3 No. 1 (2026): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v3i1.652

Abstract

Perkembangan teknologi digital menyebabkan perubahan pola perilaku generasi muda yang lebih banyak menghabiskan waktu di ruang digital dibandingkan mengikuti kegiatan sosial dan keagamaan di lingkungan masyarakat. Kondisi tersebut mendorong lembaga pendidikan tradisional, termasuk surau, untuk melakukan adaptasi agar tetap relevan di era digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis revitalisasi pembelajaran surau melalui program Smart Surau di Mesjid Al-Furqon Muaro Penjalinan Padang dalam mempertahankan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian Studi Kasus. Pemilihan informan dilakukan menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah informan sebanyak 10 orang yang terdiri dari guru TPQ, pengurus mesjid, santri, dan orang tua santri. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa revitalisasi pembelajaran surau dilakukan melalui penggunaan teknologi digital sederhana seperti absensi digital, media visual pembelajaran, dan grup WhatsApp tanpa menghilangkan pembelajaran agama, pendidikan adab, serta nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Minangkabau. Pemanfaatan media digital membuat anak-anak lebih tertarik mengikuti kegiatan pembelajaran dan keagamaan di surau. Selain itu, kegiatan surau juga tetap membentuk karakter anak melalui penanaman nilai disiplin, sopan santun, tanggung jawab, serta pengawasan penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, program Smart Surau menjadi bentuk adaptasi lembaga pendidikan tradisional terhadap perkembangan era digital tanpa menghilangkan fungsi surau sebagai ruang pendidikan karakter dan pewarisan nilai budaya lokal masyarakat Minangkabau.
Peran Guru dalam Penerapan Equal Being Melalui Interaksi Sosial di Sekolah Inklusif Nadira Adrevi Putri; Gusmira Wita
Jurnal Perspektif Vol 9 No 1 (2026): Jurnal Perspektif: Jurnal Kajian Sosiologi dan Pendidikan, Universitas Negeri Pad
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/perspektif.v9i1.1408

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran guru dalam penerapan equal being melalui interaksi sosial antara siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus di lingkungan pendidikan inklusif SMAN 3 Padang Panjang. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus. Subjek penelitian di pilih menggunakan teknik purposive meliputi guru, siswa reguler, siswa berkebutuhan khusus, dan kepala sekolah. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumen, dianalisis menggunakan teknik analisis dari Miles dan Huberman dengan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menggunakan teknik pengabsahan data yaitu Triangulasi Metode. Penelitian ini menarik untuk dilakukan karena meningkatnya kebutuhan terhadap pendidikan inklusif yang tidak hanya menempatkan siswa berkebutuhan khusus di sekolah reguler. Selain itu, konsep equal being masih terbilang baru dan jarang dikaji dalam konteks pendidikan inklusif di Indonesia, sehingga penelitian ini penting secara teoritis untuk memperkaya kajian kesetaraan dan integrasi sosial melalui perspektif teori Fungsionalisme Struktural Talcott Parsons. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memiliki peran penting sebagai fasilitator, motivator, mediator, dan role model dalam membangun interaksi sosial inklusif. Namun, terdapat kendala seperti keterbatasan pelatihan guru, hambatan komunikasi, serta kurikulum yang belum fleksibel. , sehingga masih terjadi disfungsi berupa diskriminasi dan kurangnya internalisasi nilai kesetaraan. Penelitian ini memberikan implikasi teoritis bahwa penerapan equal being dapat memperkuat fungsi integrasi dalam sistem pendidikan inklusif. Secara praktis, penelitian ini merekomendasikan perlunya pelatihan guru yang berkelanjutan, seperti kurangnya pelatihan, keterbatasan pemahaman siswa reguler terhadap perbedaan, dan hambatan komunikasi.
Dinamika Pelaksanaan Pemilu di Kota Jambi pada Era Reformasi 1999 dan 2004 Zulfadhli Al Kausar; Irhas Fansuri Mursal; Fatonah; Gusmira Wita
Jurnal Kajian Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2025): Jurnal Kajian Sosial dan Humaniora
Publisher : Revolt Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63082/jksh.v2i2.41

Abstract

Artikel ini membahas dinamika pelaksanaan Pemilu 1999 dan 2004 di Kota Jambi sebagai tonggak transisi sistem demokrasi dari era Orde Baru ke masa Reformasi. Pemilu tahun 1999 menandai awal keterbukaan politik dan meningkatnya partisipasi masyarakat, sedangkan Pemilu 2004 menegaskan peran pemilih melalui pemilihan presiden secara langsung. Metode yang digunakan adalah adalah metode sejarah dengan pendekatan sejarah kualitatif dengan studi pustaka dan dokumentasi arsip lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua pemilu tersebut memiliki dampak besar terhadap demokratisasi lokal, pergeseran pola partisipasi, dan perubahan sistem pemilu. Implikasinya terlihat dalam meningkatnya kesadaran politik warga dan penguatan institusi penyelenggara pemilu.
Minangkabau Local Wisdom Education: Strengthening Students' Moral Courage, Altruism, and Social Solidarity Sabar Aulia Rahman; Gusmira Wita; Muhammad Agus Hardiansyah; Irhas Fansuri Mursal
Jurnal Kewarganegaraan Vol. 23 No. 1 (2026): March 2026
Publisher : Department of Pancasila and Civic Education, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jk.v23i1.70690

Abstract

The moral degradation of adolescents in the era of globalization necessitates the reinforcement of identity through education rooted in local wisdom. This study aims to examine the influence of Minangkabau Culture-Based Character Education (PKBAM) on students' moral courage, altruism, and social solidarity. Using a quantitative survey design, data were collected from 431 junior high school students in Bukittinggi via proportionate stratified random sampling. The data analysis was performed using Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS). The results indicate that PKBAM has a positive and significant impact on all three dimensions of moral character, with the strongest effect on social solidarity. These findings support the notion that incorporating local cultural values into education plays a crucial role in shaping civic character, in alignment with the goals of civic education. This study contributes to the advancement of civic education practices that are contextually relevant and grounded in a sociocultural framework. It is recommended that policymakers strengthen local content curricula as tools for fostering a national character that is both adaptive and deeply rooted in the nation's cultural heritage.