Claim Missing Document
Check
Articles

Estimation of Attenuation Coefficient Values Using Remote Sensing and Its Relationship With Shallow Water Depth Anggi Tiarasani; Vincentius Paulus Siregar; Jonson Lumban Gaol
Journal of Applied Geospatial Information Vol 7 No 2 (2023): Journal of Applied Geospatial Information (JAGI)
Publisher : Politeknik Negeri Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30871/jagi.v7i2.5630

Abstract

In ocean remote sensing, the intensity of light entering the water column decreases exponentially with increasing depth due to scattering and particle absorption in the water column. This process of decreasing light intensity is called attenuation. Attenuation is a limiting factor in detecting objects in the water column and seafloor using remote sensing, which relies on light intensity. The attenuation coefficient (Kd) is an important optical property of seawater as it provides information about water clarity and the level of light attenuation. This study aims to analyze the estimation of the attenuation coefficient values and their variability using in-situ measurements and Sentinel-2 level 2A data in Karang Lebar, Pulau Panggang, and Pulau Air, in the Seribu Islands Regency, North Jakarta. We tested several algorithms to estimate the attenuation coefficient values. The research results show that the in-situ Kd and the estimated model values have a good correlation (r = 0.75-0.86). The distribution of attenuation coefficient values in the shallow waters of the study area ranges from 0.06 to 0.18m-1. The accuracy of estimating shallow water depth at the study sites was best represented by R2 and RMSE values in the range of 0-5m with an attenuation coefficient of 0.06-0.11m-1. Keywords: Diffuse Attenuation Coefficient, Remote Sensing, Sentinel-2 Imagery, Algorithm.
PERENCANAAN PENGEMBANGAN WISATA PANTAI BERBASIS POTENSI SUMBERDAYA ALAM DAN DAYA DUKUNG KAWASAN DI DESA SAWARNA, BANTEN (Coastal Tourism Development Based on Natural Resources and Carrying Capacity in Sawarna Village, Banten) Kaulina Silvitiani; Fredinan Yulianda; Vincentius P Siregar
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 24, No 2 (2017): Mei
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.23076

Abstract

ABSTRAKSebagian besar kawasan pesisir di Indonesia merupakan kawasan alami yang memiliki potensi wisata dan belum dikembangkan secara optimal, salah satunya ialah kawasan pesisir Desa Sawarna yang berada di Kecamatan Bayah. Kegiatan wisata di daerah ini telah lama berlangsung, dan Desa Sawarna memiliki kawasan pantai yang luas dan indah dengan batu-batu karang yang menjadi salah satu daya tarik wisata. Tempat ini juga menjadi tempat wisata selancar oleh turis-turis mancanegara namun dalam pengelolaan masih sebatas oleh masyarakat lokal dan aparat desa. Tujuan dari penelitian ini yaitu menilai kesesuaian wisata pantai dan wisata selancar di Desa Sawarna, menilai daya dukung kawasan Desa Sawarna untuk menunjang kegiatan pengembangan wisata pantai dan selancar, kemudian menghasilkan arahan lokasi wisata pantai dan wisata selancar di Desa Sawarna. Metode yang digunakan adalah analisis kesesuaian wisata pantai dan wisata selancar guna menentukan kawasan wisata, analisis daya dukung kawasan guna mengestimasi daya tampung wisatawan dalam suatu kawasan. Berdasarkan analisis kesesuaian potensi sumberdaya alam yang dapat digunakan menjadi kawasan wisata pantai adalah Pantai Legon Pari, Pantai Karang Bereum, Pantai Tanjung Layar, Pantai Ciantir, Pantai Goa Langir dan Pantai Pulo Manuk. Sedangkan kawasan yang berpotensi dikembangkan sebagai lokasi wisata selancar antara lain Pantai Legon Pari, Pantai Ciantir dan Pantai Pulo Manuk. Pantai ciantir memiliki estimasi daya dukung ekologis yang paling tinggi yaitu sebanyak 567 orang/hari. ABSTRACTMost coastal areas in Indonesia are natural areas that have tourism potential and not yet developed, one of which is the village Sawarna Coast region in Sub Bayah. Tourist activities in this area has long been underway, and the Village Sawarna have extensive coastal areas and beautiful with rocks that became one of the tourist attraction. The place is also a place of surfing by foreign tourists, but the management is still limited by the local community and village officials. The purpose of this study is assessing the suitability of coastal tourism and surfing in the village Sawarna, assessing the carrying capacity Sawarna Village area to support the development of coastal tourism and surfing, then generating leads beaches and tourist sites in the village Sawarna surfing. The method used is the analysis of the suitability of coastal tourism and surfing to determine the tourist area, the analysis of the carrying capacity of the region to estimate the capacity of tourists in an area. Based on the analysis of the suitability of potential natural resources can be used as coastal resorts are Legon Pari Beach, Karang Bereum Beach, Tanjung Layar Beach, Ciantir Beach, Goa Langir Beach and Pulo Manuk Beach. While the region has the potential to be developed as a tourist destination among others Coast surfing are Legon Pari Beach, Ciantir Beach, m Pulo Manuk Beach. Ciantir Beach has estimated the ecological carrying capacity of the highest of 567 people / day.
Tingkat Kerentanan Lingkungan Pesisir Selatan Kabupaten Bangkalan Terhadap Potensi Tumpahan Minyak (Oil Spill) [Level of South Coastal Area of Bangkalan Residence on Oil Spill Potention] Maulinna K Wardhani, Sulistiono, Vincentius P Siregar
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 3 No. 1 (2011): JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jipk.v3i1.11662

Abstract

AbstractThe South Coastal Area of Bangkalan Residence is a dynamic area with potention of oil spill pollution. These are showed that activation of port construction, the activity of mining and other infrastructures. The aim of the research was to determine sensitivity level of South Coastal Area of Bangkalan Residence on oil spill potention as one of mitigation effort. In generally, the result of environment sensitivity index showed that South Coastal Area of Bangkalan Residence is a sensitivity area on oil spill.
KLASIFIKASI HABITAT BENTIK PERAIRAN LAUT DANGKAL DI PULAU BARRANG CADDI DENGAN PENDEKATAN OBIA MENGGUNAKAN CITRA SENTINEL-2 DAN SPOT-7 DENGAN PENERAPAN ALGORITMA BAYESIAN DAN K-NEAREST NEIGHBOR: (Classification of Shallow Water Benthic Habitat in Barrang Caddi Island with OBIA Approach using Sentinel-2 and SPOT-7 Satellite Images with Bayesian and K-Nearest Neighbor Algorithm) Indah Kartika; Vincentius Paulus Siregar; James P Panjaitan; Nurjannah Nurdin
Majalah Ilmiah Globe Vol. 24 No. 2 (2022): GLOBE VoL 24 No 2 TAHUN 2022
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian terkait pemetaan habitat bentik perairan laut dangkal telah banyak dilakukan. Namun, masih terdapat beberapa lokasi penting di Indonesia yang hingga saat ini belum dilakukan pemetaan bentiknya dengan menggunakan teknologi terbaru, sehingga pembaharuan data habitat bentik masih perlu dilakukan. Algoritma-algoritma klasifikasi yang telah dikembangkan dalam pemetaan masih perlu dikaji karena setiap wilayah perairan memiliki karakteristik yang berbeda. Kajian ini bertujuan untuk menguji performa algoritma Bayesian dan K-Nearest Neighbour (K-NN) dengan pendekatan berbasis objek (Object-Based Image Analysis/OBIA) dalam mengklasifikasi habitat bentik perairan laut dangkal baik dengan dan tanpa penerapan algoritma Depth Invariant Index (DII). Penelitan ini dilaksanakan di perairan Pulau Barrang Caddi, Kepulauan Spermonde. Citra SPOT-7 dan Sentinel-2 dengan masing-masing resolusi spasial 6 x 6 m2 dan 10 x 10 m2 digunakan pada penelitian ini yang diakuisisi pada tanggal 10 Agustus 2021 dan 1 Oktober 2021. Skala segmentasi yang digunakan pada level 1 yaitu 20 dan level 2 dengan skala 10. Algoritma Bayesian dan K-NN digunakan dalam proses klasifikasi level 2. Skema klasifikasi yang digunakan yaitu sebanyak 7 kelas. Tingkat akurasi yang tertinggi pada penelitian ini dihasilkan dari algoritma Bayesian dengan menggunakan citra SPOT-7 tanpa penerapan algoritma DII yaitu sebesar 61.8%.
PENGARUH KENAIKAN MUKA AIR LAUT TERHADAP KEBERADAAN PULAU-PULAU KECIL: Studi Kasus di Pulau Panggang dan Pulau Pramuka, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Herianto; Baba Barus; Vincentius P. Siregar; Nadia Shalehah
Majalah Ilmiah Globe Vol. 25 No. 1 (2023): GLOBE VOL 25 NO 1 TAHUN 2023
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kenaikan muka air laut merupakan salah satu akibat yang disebabkan oleh pemanasan global. Pemanasan global mempercepat cairnya gletser di permukaan bumi yang menyebabkan kenaikan muka air laut. Kenaikan muka air laut menyebabkan pesisir dan pulau-pulau kecil yang elevasinya relatif rendah terhadap muka air laut secara perlahan akan terendam. Pulau Panggang dan Pulau Pramuka memiliki ketinggian relatif rendah terhadap muka air laut, sehingga pulau-pulau tersebut rentan terhadap dampak kenaikan muka air laut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perubahan luas pulau dan wilayah terdampak akibat kenaikan muka air laut. Metode yang digunakan yaitu melakukan pengolahan data pasang surut untuk referensi, menghitung luas pulau, melakukan interpolasi kenaikan muka air laut untuk mendapatkan nilai kenaikan muka air laut dan melakukan model kenaikan muka air laut dan dampaknya terhadap luas Pulau Pramuka dan Pulau Panggang tahun 2050 dan 2100. Hasil pengolahan pasang surut menghasilkan nilai Highest Astronomical Tide (HAT) 1,85 m, Mean Sea Level (MSL) 1,36 m, dan Lowest Astronomical Tide (LAT) 0,81 m terhadap nol palem, dengan tipe pasang surutnya harian tunggal. Luas Pulau Panggang dan Pulau Pramuka pada tahun 2021 yaitu 15,09 ha dan 23,41 ha. Berdasarkan hasil interpolasi, terjadi kenaikan muka air laut di lokasi kajian sebesar 2,55 cm per tahun. Luas Pulau Panggang dan Pulau Pramuka yang berada di bawah HAT pada tahun 2050 yaitu seluas 7,53 ha dan 3,76 ha. Luas pulau yang berada di bawah HAT tahun 2100 menjadi 14,95 ha untuk Pulau Panggang dan 23,27 ha untuk Pulau Pramuka.
ANALISIS DAYA DUKUNG LAHAN UNTUK PERMUKIMAN BERBASIS ANCAMAN BENCANA DI PULAU-PULAU KECIL : Studi Kasus di Pulau Panggang dan Pulau Pramuka, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Baba Barus; Herianto; Vincentius P. Siregar; Mira Harimurti
Majalah Ilmiah Globe Vol. 25 No. 1 (2023): GLOBE VOL 25 NO 1 TAHUN 2023
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau-pulau kecil merupakan wilayah yang memiliki lahan terbatas namun banyak dimanfaatkan manusia sebagai tempat bermukim. Peningkatan jumlah penduduk dan ancaman bencana merupakan tantangan dalam pengelolaan pulau-pulau kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya dukung lahan untuk permukiman dan ancaman bencana di Pulau Panggang dan Pulau Pramuka. Daya dukung lahan didasarkan pada ketersediaan lahan dengan mengacu Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 17 Tahun 2016 dan sempadan pantai dengan metode buffer dari garis pantai pasang tertinggi ke arah daratan sejauh 10 m untuk Pulau Panggang, sedangkan 20 m untuk Pulau Pramuka. Kebutuhan lahan setiap individu dihitung dengan menggunakan Standar Nasional Indonesia (SNI) 03–1733:2004. Ancaman bencana gelombang ekstrim dan abrasi ditentukan berdasarkan Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 2 Tahun 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan yang tersedia untuk permukiman di Pulau Panggang dan Pulau Pramuka yaitu 5,91 ha dan 8,65 ha. Kebutuhan lahan untuk permukiman penduduk tahun 2021 Pulau Panggang dan Pulau Pramuka masing-masing 16,89 ha dan 3,64 ha. Ketersediaan potensi lahan yang dapat dimanfaatkan untuk permukiman di Pulau Panggang sudah melebihi dari kebutuhannya 10,98 ha sedangkan ketersediaan potensi lahan untuk permukiman di Pulau Pramuka 5,01 ha. Hasil perhitungan ancaman gelombang ektrim dan abrasi kawasan pesisir Pulau Panggang dan Pulau Pramuka untuk ancaman tinggi seluas 67,12%, ancaman sedang 1,55% dan ancaman rendah sebesar 31,34%. Adanya analisis kebutuhan dan ketersediaan lahan serta ancaman bencana pada pulau kecil yang dialokasikan untuk permukiman akan menjadi dasar dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang di suatu wilayah.
EVALUASI TINGKAT AKURASI KLASIFIKASI HABITAT BENTIK PERAIRAN DANGKAL PADA PERBEDAAN JUMLAH KELAS MENGUNAKAN CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI: STUDI KASUS: PULAU SEBARU BESAR, KEPULAUAN SERIBU Ayub Sugara; Vincentius P. Siregar; Syamsul B. Agus
Majalah Ilmiah Globe Vol. 22 No. 2 (2020): GLOBE VOL 22 NO 2 TAHUN 2020
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Sebaru Besar merupakan salah satu pulau yang terdapat di bagian utara Kepulauan Seribu yang memliki keanekaragaman habitat perairan laut dangkal. Citra resolusi tinggi diintegrasikan dengan data observasi lapang dapat menjadi alternatif sumber informasi terkait habitat bentik perairan laut dangkal. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi akurasi hasil klasifikasi habitat bentik perairan dangkal di Pulau Sebaru Besar Kepulauan Seribu menggunakan citra WorldView-2 dengan penerapan 9 dan 7 kelas serta melakukan uji akurasi hasil klasifikasi. Data citra WorldView-2 yang digunakan merupakan salah satu citra resolusi tinggi dengan resolusi spasial 1,84 x 1,84 meter2 yang diakuisisi pada tanggal 7 Mei 2018. Survei lapang habitat bentik perairan dangkal dilakukan pada tanggal 10-12 Mei 2018 dan 09-10 Desember 2018 dengan teknik foto kuadrat yang menghasilkan sampelsampel sebanyak 159 titik. Persentase tutupan habitat setiap foto kuadrat dianalisis dengan perangkat lunak Coral Point Count with Excel extensions (CPCe). Berdasarkan hasil penelitian akurasi klasifikasi pemetaan habitat bentik perairan dangkal untuk 9 dan 7 kelas dihasilkan akurasi sebesar 63,2% dan 67,5% dengan algoritma Maximum Likelihood Classification (MLC). Habitat bentik perairan dangkal dapat dipetakan dengan baik, sehingga bisa menjadi masukan basis data informasi untuk pengelola Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS) kaitannya dalam usaha monitoring habitat bentik terkhusus terumbu karang dan upaya konservasi habitat perairan laut dangkal.
PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN MANGROVE DAN GARIS PANTAI MENGGUNAKAN CITRA MULTI SPEKTRAL DI TALIBURA, KABUPATEN SIKKA Parera, Guido Roberto Jerun; Siregar, Vincentius P.; Agus, Syamsul Bahri
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 15 No 1 (2024): FEBRUARI 2024
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.15.57-67

Abstract

Degradasi lahan mangrove menyebabkan perubahan pada garis pantai. Wilayah pesisir Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka merupakan salah satu wilayah yang memiliki ekosistem mangrove. Keberadaan penduduk di wilayah ini, menyebabkan adanya interaksi antara penduduk dengan ekosistem mangrove sehingga terjadinya degradasi pada ekosistem mangrove. Pada wilayah pesisir Kecamatan Talibura, belum ada sama sekali penelitian yang menunjukkan perubahan tutupan lahan mangrove dan garis pantai selama 30 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan tutupan lahan mangrove dan garis pantai pada tahun 1990-2019 di Kecamatan Talibura. Tutupan lahan mangrove diperoleh menggunakan metode Supervised Classification dan untuk mengetahui perubahan garis pantai digunakan metode DSAS yang menghitung statistik laju perubahan garis pantai dari data citra landsat perekaman tahun 1990, 2004, dan 2019. Hasil penelitian menunjukkan adanya degradasi mangrove 60,84 ha periode waktu 1990-2004 dan mengalami penambahan 2,43 ha, yang dapat terlihat adanya abrasi di daerah degradasi mangrove dengan nilai tertinggi -487,54 m dan nilai akresi tertinggi 307,45 m di daerah yang masih terjaga ekosistem mangrovenya selama 30 tahun.
PEMETAAN ZONA GEOMORFOLOGI EKOSISTEM TERUMBU KARANG MENGGUNAKAN METODE OBIA, STUDI KASUS DI PULAU PARI Anggoro, Ari; Siregar, Vincentius P.; Agus, Syamsul B.
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 12 No. 1 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/inderaja.v12i1.3306

Abstract

This study used object-based image analysis (OBIA) for geomorphic zones map of coral reef ecosystem in Pari Islands. The application of OBIA methods was used multiresolution segmentation algorithm with different scale parameter for each level. Classification methods for level 1 and 2 were used contextual editing classification. The results showed an overall accuracy for level 1 was 97% (reef level) and level 2 was 87% (geomorphic zone). Thus OBIA methods can be used and well-defined as an alternative for geomorphic zones map in other regions.
PENERAPAN ALGORITMA SPECTRAL ANGLE MAPPER (SAM) UNTUK KLASIFIKASI LAMUN MENGGUNAKAN CITRA SATELIT WORLDVIEW-2 Aziizah, Nunung Noer; Siregar, Vincentius Paulus; Agus, Syamsul Bahri
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 13 No. 2 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.pjpdcd.2016.v13.a2205

Abstract

Remote sensing technology has been developed for monitoring and identification of coastal environment and resources, such as seagrasses. In Indonesia, particularly seagrass mapping spectrometer utilizing spectral library has not been done. This study aimed to determine the spectral signature based in situ measurement and image analysis, analyze the implementation of the algorithm Spectral Angle Mapper (SAM) and test accuracy in mapping seagrass to species level based on spectral libraries. Research conducted in seagrass Tunda Island, Banten. Satellite imagery used is WorldView2 and the seagrass spectral reflectance was measured using a spectrometer USB4000. SAM classification algorithm utilizing spectral libraries and classify objects in a single pixel can be homogeneous. Classification results in the form of class Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichii, and Halophila ovalis. The resulting accuracy of 35.6%. The area of each class is 0.8 hectares for the class Cymodocea rotundata, 2.79 hectares for Enhalus acoroides, class Thalassia hemprichii 3.7 hectares, and 3.5 hectares for Halophila ovalis. Classification of seagrass to species level yet produce good accuracy. Seagrass area with a variety of species and number of channels on a multispectral satellite image is assumed to be the cause of the low value of accuracy.
Co-Authors . Rosmasita Ade Ayu Mustika Adriani Sunuddin Afwan Syaugy Agus, Syamsul B. Alfiqi Maulana Alim Setiawan Amelia Suryanita Amran, Muhammad Anshar Andi Alamsyah Rivai Andriani Sunuddin Anggi Tiarasani Ani Mardiastuti Antonius Bambang Wijanarto Ari Anggoro Ari Anggoro Arip Rahman Arip Rahman Aryo Hanggono Asmadin, Asmadin Ayub Sugara Baba Barus Bisman Nababan Budhi Agung Prasetyo Budhi Agung Prasetyo DEDI SOEDHARMA Dedi Soedharma Dietrich G. Bengen Djisman Manurung Doddy M. Yuwono, Doddy M. Domu Simbolon Ega Putra Emma Suri Yanti Siregar Emma Suri Yanti Siregar, Emma Suri Yanti Esty Kurniawati ESTY KURNIAWATI Ety Parwati Faizal Kasim Fanny Meliani Fredinan Yulianda Gatot H. Pramono, Gatot H. Guido Roberto Jerun Parera Harold J.D. Waas Harold J.D.Waas Hartoni Hartoni Henry Munandar Manik Herianto Heru Arafat Hestirianoto, Totok Hidayat Pawitan Hiroki Yasuma I Wayan Nurjaya Ibnu Sofian, Ibnu indah kartika Indra Jaya Indra Jaya Indra Jaya Indra Jaya Indra Jaya Indra Jaya Insaniah Rahimah Irfan Yulianto Iwan E. Setyawan, Iwan E. James Parlindungan Panjaitan Jonniere, Romie Jonson Lumban Gaol Kasim, Faizal Kaulina Silvitiani Khairul Amri Krisna Rendi Awalludin LILIK BUDIPRASETYO Mennofatria Boer Mira Harimurti Miswadi Miswadi Muhammad Banda Selamat Muhammad Banda Selamat Muhammad Banda Selamat Muhammad Iqra Prasetya Muhammad Rizki Nandika Muhammad Siddiq Sangadji Muhammad Sudibjo Mulia Purba Mutiara Alkayakni Harahap Nadia Shalehah Nani Hendiarti Nico Wantona Prabowo Nunung Noer Aziizah Nunung Noer Aziizah Nunung Noer Aziizah Nunung Noer Aziizah, Nunung Noer Nur Audina Nurjannah Nurdin Nurul Khakhim Nurul Khakhim Prasetya, Muhammad Iqra Risti Endriani Arhatin Riza Aitiando Pasaribu Romie Jhonnerie Romy Ketjulan, Romy Ronny I. Wahju Rosmasita, Rosmasita Sabilah, Anisa Aulia Sakka Sakka Sam Wouthuyzen Sam Wouthuyzen Sangadji, Muhammad Siddiq Setyo Budi Susilo Susilo, Setyo B. Syamsul Agus Syamsul B. Agus Syamsul B. Agus Syamsul B. Agus Syamsul B. Agus Syamsul Bahri Agus, Syamsul Bahri Tarlan Subarno Tarlan Subarno, Tarlan Wahidin, Nurhalis Wikanti Asriningrum Wikanti Asriningrum Wikanti Asriningrum Wikanti Asriningrum Wildan Tino Zulhamsyah Imran