Claim Missing Document
Check
Articles

KLASIFIKASI MULTISKALA UNTUK PEMETAAN ZONA GEOMORFOLOGI DAN HABITAT BENTIK MENGGUNAKAN METODE OBIA DI PULAU PARI Anggoro, Ari; Siregar, Vincentius P.; Agus, Syamsul B.
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 14 No. 2 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.pjpdcd.1017.v14.a2622

Abstract

This study used multiscale classification and applied object-based image analysis (OBIA) for geomorphic zone and benthic habitats mapping in Pari islands. An optimized segmentation was performed to get optimum classification result. Classification methods for level 1 and 2 used contextual editing classification and for level 3 used support vector machines classifier. The results showed that overall accuracy for level 1 was 97% (reef level), level 2 was 87% (geomorphic zone), and level 3 was 75% (benthic habitats). Accuracy achieved by support vector machines classification was performed only in level 3 and optimum scale value achieved was 50 in compare with other scale values, i.e. 5, 25, 50, 75, 95. OBIA methods can be used as an alternative for geomorphic zone and benthic habitats map.
YELLOWFIN TUNA (Thunnus albacares) FISHERIES SUSTAINABILITY: A WEIGHT-LENGTH ANALYSIS IN THE WEST SUMATERA WATERS: KEBERLANJUTAN PERIKANAN TUNA SIRIP KUNING (Thunnus albacares): ANALISIS PANJANG BERAT DI PERAIRAN SUMATERA BARAT Siregar, Emma Suri Yanti; Simbolon, Domu; Wahju, Ronny Irawan; Yulianto, Irfan; Siregar, Vincentius P.
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 16 No 3 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.16.282-293

Abstract

Ikan tuna sirip kuning adalah komoditas perikanan bernilai tinggi dan sumber utama mata pencaharian nelayan di Sumatra Barat. Namun, intensifikasi penangkapan sering mengabaikan selektivitas alat tangkap, sehingga ikan belum layak tangkap turut tertangkap, mengganggu regenerasi populasi, menurunkan biomassa, dan meningkatkan risiko overfishing. Informasi ukuran layak tangkap penting untuk mendukung keberlanjutan perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran panjang ikan, pola pertumbuhan ikan dan menentukan tingkat kelayaktangkapan ikan tuna (Thunnus albacares). Data distribusi ikan, seperti panjang dan berat ikan dikumpulkan melalui pengukuran langsung terhadap hasil tangkapan nelayan. Distribusi ukuran dan berat ikan dianalisis secara deskriptif, sedangkan pola pertumbuhan ikan ditentukan menggunakan persamaan W=aLb. Jumlah ikan tuna yang berhasil diukur selama periode Juni - Agustus 2020 mencapai 398 ekor. Ikan yang paling dominan tertangkap berkisar antara 135-144 cm dengan berat 44-60 kg. Analisis distribusi ikan menghasilkan persamaan regresi y = 0,00005x2,7787, dengan nilai R² = 0,9575 dan nilai b = 2,4969. Nilai b yang lebih kecil dari 3 mengindikasikan pola pertumbuhan alometrik negatif, di mana pertumbuhan panjang ikan lebih dominan dibandingkan pertumbuhan beratnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 81% ikan memenuhi kriteria layak tangkap, sedangkan 19% lainnya tergolong tidak layak tangkap. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam mendukung pengelolaan perikanan tuna sirip kuning yang berkelanjutan berbasis ukuran layak tangkap.
ANALISIS PERUBAHAN HABITAT DASAR PERAIRAN DANGKAL MENGGUNAKAN CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI DI KARANG LEBAR, KEPULAUAN SERIBU Siregar, Vincentius P.; Agus, Syamsul B.; Sunuddin, Adriani; Subarno, Tarlan; Aziizah, Nunung Noer
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1178.434 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v12i1.25528

Abstract

Keperluan data dan informasi tentang habitat bentik sangat diperlukan untuk menjaga dan melestarikan ekosistem yang ada di perairan. Rusaknya habitat bentik dapat terjadi karena adanya aktifitas antropogenik dan bencana alam yang akan berimbas pada biota dan ekosistem yang ada disekitarnya, oleh karena itu untuk mengetahui dan memantau kondisi perairan dan habitat perairan dangkal perlu dilakukannya pemetaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan habitat dasar perairan laut dangkal di Karang Lebar, Kepulauan Seribu. Penelitian ini memanfaatkan citra multispektral resolusi tinggi QuickBird 2008 dan WordView-2 2018 untuk mendeteksi perubahan geospasial habitat bentik. Klasifikasi citra multispektral dilakukan dengan penerapan algoritma SVM (Support Vector Machine) dan transformasi DII (Depth Invariant Index) pada kedua citra yang digunakan. Jumlah kelas habitat bentik yang dihasilkan adalah sebanyak lima kelas yaitu terumbu karang, karang mati, padang lamun, pasir, dan rubble. Hasil analisis menunjukkan akurasi keseluruhan 58,18% dan 70,9% pada penerapan klasifikasi dengan input band multispektral masing-masing untuk citra 2008 dan 2018, serta 60% dan 80% pada hasil transformasi DII masing masing untuk citra 2008 dan 2018. Perubahan kelas rubble di tahun 2008 menjadi kelas pasir tahun 2018 merupakan yang paling besar luasannya dibandingkan dengan perubahan pada kelas lainnya, yaitu 81,46 ha.
KLASIFIKASI HABITAT BENTIK PERAIRAN DANGKAL DARI CITRA WORLDVIEW-2 MENGGUNAKAN DATA IN-SITU DAN DRONE Sugara, Ayub; Siregar, Vincentius Paulus; Agus, Syamsul Bahri
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2058.291 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v12i1.26448

Abstract

Aplikasi citra Worldview-2 dengan data groud truth habitat masih memiliki kekurangan yaitu membutuhkan waktu yang lama, akses yang terbatas, biaya yang tinggi serta faktor resiko. Teknik survei menggunakan drone dapat mengurangi keterbatasan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan klasifikasi dan uji akurasi hasil klasifikasi habitat perairan dangkal di Pulau Lancang dan Pulau Sebaru Besar dari citra Worldview-2 dengan inputan data ground truth habitat (GTH) dan virtual ground truth (VGT) serta mengeksplorasi resolusi spasial citra drone pada ketinggian yang berbeda. Hasil overall accuraccy diperoleh untuk 7 kelas habitat di Pulau Lancang dengan data GTH dan VGT masing-masing sebesar 65,5% dan 60,6%. Sedangkan di Pulau Sebaru Besar masing-masing sebesar 67,5% dan 64,6%. Perbandingan akurasi hasil klasifikasi didapat selisih 4,9% di Pulau Lancang dan 2,9% di Pulau Sebaru Besar. Hasil uji signifikansi metode GTH dan VGT di Pulau Lancang berbeda nyata dengan nilai Z sebesar 2,0851, sedangkan di Pulau Sebaru Besar tidak berbeda nyata dengan nilai Z sebesar 0,5255, sehingga pemetaan habitat bentik dengan metode VGT dapat digunakan sebagai alternatif pengamatan di lapangan secara in-situ, namun ini masih memerlukan penelitian lanjutan.
KLASIFIKASI HABITAT PERAIRAN DANGKAL DARI CITRA MULTISPASIAL DI PERAIRAN PULAU KAPOTA DAN PULAU KOMPOONE, KEPULAUAN WAKATOBI Siregar, Vincentius P.; Agus, Syamsul B.; Sunuddin, Adriani; Pasaribu, Riza A.; Kurniawati, Esty; Sangadji, Muhammad Siddiq
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 12 No. 3 (2020): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v12i3.32013

Abstract

Habitat perairan dangkal sangat penting dipetakan diantaranya karena: (1) mendukung perencanaan, manajemen, dan pengambilan keputusan tata ruang pemerintah; (2) mendukung dan mendesain Marine Protected Area (MPA); (3) melakukan program penelitian ilmiah yang bertujuan untuk menghasilkan pengetahuan tentang ekosistem bentik dan geologi dasar laut; (4) melakukan penilaian sumber daya dasar laut yang hidup dan tidak hidup untuk tujuan ekonomi dan menajemen, termasuk rancangan cadangan perikanan. Hingga saat ini belum ada standar untuk tingkat kedetailan peta tematik ekosistem pesisir khususnya habitat perairan dangkal sesuai kebutuhan pengelolaan wilayah pesisir dengan skema klasifikasi tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan akurasi peta hasil klasifikasi habitat perairan dangkal antara citra SPOT 6, Sentinel 2A, dan Landsat 8 menggunakan algoritma klasifikasi support vector machine. Lokasi penelitian terletak di Kepulauan Wakatobi, meliputi 2 lokasi yaitu Pulau Kapota dan Pulau Kompoone. Pengambilan data in-situ dilaksanakan pada tanggal 7-11 Juli 2019. Sebanyak 347 ground truth dan foto transek hasil sampling di lapangan telah dianalisis menggunakan coral point count with excel extension (CPCe). Skema klasifikasi yang dihasilkan yaitu 8 kelas habitat bentik, selanjutnya dilakukan klasifikasi dengan mengkelaskan kembali menjadi 6 dan 5 kelas. Hasil yang diperoleh pada citra SPOT-6 untuk semua kelas habitat perairan dangkal yang digunakan memiliki overall accuracy yang lebih besar. Perbedaan ukuran piksel (resolusi spasial) dan jumlah skema klasifikasi sangat memengaruhi hasil akurasi.
DINAMIKA GENANGAN PESISIR JAKARTA BERDASARKAN DATA MULTI-TEMPORAL SATELIT MENGGUNAKAN INDEKS AIR DAN POLARISASI RADAR Siregar, Vincentius Paulus; Sofian, Ibnu; Jaya, Indra; Wijanarto, Antonius Bambang; Asmadin, Asmadin
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 12 No. 3 (2020): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v12i3.33185

Abstract

Kombinasi baseline data pengindraan jauh sistem aktif dan pasif memiliki banyak keuntungan dalam pemantauan dinamika genangan pesisir. Kedua jenis sensor satelit mengatasi kesenjangan informasi genangan, terutama pada area yang ditutupi awan/bayangan. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengkaji dinamika genangan di wilayah pesisir Jakarta berdasarkan data multi-temporal sensor optik dari Landsat 8 dan Synthetic Aperture Radar (SAR) Sentinel 1A. Metode penelitian ini menggunakan dua algoritma indeks air. Algoritma tersebut yaitu Modified Normalized Difference Water Index (MNDWI) dan Dynamic Surface Water Extent (DSWE) berdasarkan nilai spektral reflektansi dan formula empirik. Metode lainnya adalah menggunakan nilai rata-rata koefisien backscatter air dari analisis polarisasi tunggal Vertikal Vertikal (VV) dan Vertikal Horisontal (VH). Hasil studi menunjukkan bahwa penggunaan kedua tipe data satelit dengan baseline data 8, 9, 15 dan 16 hari cukup efektif memantau dinamika genangan selama 8-49 hari, termasuk area yang tertutup awan dan bayangan. Berdasarkan nilai threshold dari MNDWI >0,123 dan koefisien backscattering air -19dB cukup efisien digunakan untuk mengesktrak informasi data satelit. Algoritma empiris tersebut menghasilkan kenampakan genangan, terutama di sepanjang tanggul pantai, waduk, ekosistem mangrove dan lahan terbangun. Hasil pemantauan satelit menunjukkan bahwa puncak genangan terjadi pada 30 Mei 2016 dan masih terlihat pada 15 Juni 2016. Kombinasi metode pengindraan jauh tersebut cukup efektif dan efisien untuk memantau genangan secara dinamis.
KOMPARASI KLASIFIKASI TUTUPAN LAMUN BERDASARKAN ALGORITMA SVM DAN FUZZY MENGGUNAKAN CITRA MULTI-SKALA DI PULAU KODINGARENG LOMPO Sabilah, Anisa Aulia; Siregar, Vincentius Paulus; Amran, Muhammad Anshar
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 13 No. 1 (2021): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v13i1.34765

Abstract

Padang lamun mempunyai peranan ekologi bagi lingkungan laut dangkal yaitu sebagai habitat biota, produsen primer, penangkap sedimen serta berperan sebagai pendaur zat-zat hara. Mengingat pentingnya peranan ekosistem padang lamun maka kelestarian sumber daya alam ini perlu dijaga, oleh karena itu pemetaan dan pemantauan yang terus-menerus terhadap keberadaan padang lamun sangat penting dilakukan. Metode penginderaan jauh merupakan metode yang dapat digunakan untuk memetakan dan memantau kondisi padang lamun. Perkembangan teknologi sensor satelit yang pesat saat ini, khususnya resolusi spasial dan spektral sensor meningkatkan kualitas peta sebaran lamun. Penggunaan metode dan skema klasifikasi yang kurang tepat dalam klasifikasi kondisi lamun dari citra satelit juga termasuk hal yang dapat memengaruhi akurasi peta, sehingga dibutuhkan berbagai alternatif kajian algoritma yang digunakan. Pada penelitian ini digunakan algoritma Support Vector Machine dan Logika Fuzzy menggunakan citra satelit WorldView-2 dan Sentinel-2 di Pulau Kodingareng Lompo dengan empat kelas tutupan lamun yaitu jarang (0-25%), sedang (26-50%), padat (51-75%), dan sangat padat (76-100%). Hasil yang diperoleh adalah algoritma Logika Fuzzy menggunakan citra WorldView-2 memiliki akurasi keseluruhan klasifikasi tutupan lamun yang paling baik sebesar 78,60%.
KLASIFIKASI HABITAT BENTIK ATOL KALEDUPA TAMAN NASIONAL WAKATOBI DENGAN ALGORITMA SUPPORT VECTOR MACHINE Setiawan, Alim; Siregar, Vincentius Paulus; Susilo, Setyo B.; Mardiastuti, Ani; Agus, Syamsul B.
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 14 No. 3 (2022): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v14i3.35315

Abstract

Kaledupa Atoll is one of the areas designated as a marine protection zone and local use zone in Wakatobi National Park. Spatial information on the benthic habitat of Kaledupa Atoll is very limited so that this information is expected to be a support in strategies and efforts to conserve marine biodiversity. This study aims to map the benthic habitat of Kaledupa Atoll using a pixel-based and object-based guided classification method/OBIA with a support vector machine (SVM) algorithm. The data used is the Sentinel-2 satellite image with a spatial resolution of 10 x10 m which was acquired on November 4, 2019. Observations of benthic habitats were carried out directly at the study site by placing quadrant transects and taking points on the dominant or homogeneous habitat area. The transect used is 100 x 100 cm2. Image classification uses thematic layer input from field data. The results of the classification of benthic habitats are grouped into six classes. Based on the OBIA method, benthic habitats can be mapped with an accuracy rate of 78.1%, while the pixel-based classification has an overall accuracy of 61.8%. Classification of benthic habitats with the SVM algorithm using the OBIA method provides better information than the pixel-based method.
APLIKASI MODEL EVALUASI MULTIKRITERIA MENGGUNAKAN FUZZY AHP UNTUK PENENTUAN LOKASI BUDIDAYA IKAN KERAPU DI KEPULAUAN SERIBU Siregar, Vincentius Paulus; Gaol, Jonson Lumban; Wildan Tino
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 14 No. 3 (2022): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v14i3.40963

Abstract

Perkembangan budidaya ikan kerapu di Kepulauan Seribu berkembang pesat namun terdapat sejumlah kendala seperti terbatasnya lokasi yang sesuai, dampak negatif terhadap lingkungan, dan konflik penggunaan lahan. Kurangnya informasi terkait karakteristik perairan yang sesuai untuk budidaya akan menyebabkan pemanfaatan lokasi yang kurang tepat. Mencegah masalah tersebut penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menentukan lokasi yang sesuai untuk budidaya ikan Kerapu di Kepulauan Seribu dengan menggunakan metode model evaluasi multikriteria Fuzzy AHP berbasis sistem informasi geografis. Hasil pembobotan parameter menunjukkan jarak ketempat penduduk (40,54%), jarak ke pasar (17%), jarak ke jalan (10,65%), arus perairan (27,06%), dan kedalaman perairan (4,75%) dengan konsistensi rasio sebesar 0,0228. Perairan Pulau Tidung, Pulau Panggang, Pulau Pramuka, Pulau Karya, Pulau Kelapa, Pulau Kelapadua, Pulau Kaliage, dan Pulau Pari merupakan perairan yang ideal bagi kegiatan budidaya ikan kerapu karena memiliki kondisi perairan dan faktor sosial infrastruktur yang sesuai. Pemanfaatan model evaluasi multikriteria dengan Fuzzy AHP berbasis sistem informasi geografis memberikan hasil analisis yang relevan dalam pemberian skor pembobotan dan dalam penentuan kriteria yang paling dominan berdasarkan tingkat kepentingan setiap parameter terhadap parameter lainnya dalam memengaruhi kelas kesesuaian budidaya.
Mapping of Submarine Geomorphological Structures Using Satellite-Derived Bathymetry and Depth Data in the Waters of Lambasina Island, Kolaka Regency Prasetya, Muhammad Iqra; Siregar, Vincentius Paulus; Agus, Syamsul Bahri
Jurnal Kelautan Tropis Vol 28, No 3 (2025): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v28i3.29091

Abstract

This research examines the geomorphological characteristics of the seabed around Lambasina Besar and Lambasina Kecil Islands, Kolaka Regency, by integrating Satellite-Derived Bathymetry (SDB) and the Benthic Terrain Modeler (BTM). Depth estimates were derived from Sentinel-2 imagery using the Support Vector Machine (SVM) algorithm and compared with in-situ depth measurements. The validation results indicated a high level of agreement, with R² values ranging from 0.81 to 0.82. The bathymetric data were then processed using Bathymetric Position Index (BPI), slope, and rugosity parameters, which allowed the classification of the seafloor into 13 geomorphological structure classes. The analysis identified various seabed forms, including flat plains, steep slopes, broad slopes, ridges, narrow depressions, and localized basins. These morphological patterns correspond well with coral reef zonation observed in the field. The findings highlight the important role of geomorphological variability in shaping benthic habitats and influencing biodiversity distribution. This approach demonstrates strong potential for supporting marine spatial analysis, conservation planning, and the identification of areas suitable for marine protection. Moreover, the study provides a basis for further research on the relationships between habitat complexity, biomass, coral diversity, and reef-associated fish abundance, which are essential for advancing ecosystem-based coastal management strategies.
Co-Authors . Rosmasita Ade Ayu Mustika Adriani Sunuddin Afwan Syaugy Agus, Syamsul B. Alfiqi Maulana Alim Setiawan Amelia Suryanita Amran, Muhammad Anshar Andi Alamsyah Rivai Andriani Sunuddin Anggi Tiarasani Ani Mardiastuti Antonius Bambang Wijanarto Ari Anggoro Ari Anggoro Arip Rahman Arip Rahman Aryo Hanggono Asmadin, Asmadin Ayub Sugara Baba Barus Bisman Nababan Budhi Agung Prasetyo Budhi Agung Prasetyo Dedi Soedharma DEDI SOEDHARMA Dietrich G. Bengen Djisman Manurung Doddy M. Yuwono, Doddy M. Domu Simbolon Ega Putra Emma Suri Yanti Siregar Emma Suri Yanti Siregar, Emma Suri Yanti ESTY KURNIAWATI Esty Kurniawati Ety Parwati Faizal Kasim Fanny Meliani Fredinan Yulianda Gatot H. Pramono, Gatot H. Guido Roberto Jerun Parera Harold J.D. Waas Harold J.D.Waas Hartoni Hartoni Henry Munandar Manik Herianto Heru Arafat Hestirianoto, Totok Hidayat Pawitan Hiroki Yasuma I Wayan Nurjaya Ibnu Sofian, Ibnu indah kartika Indra Jaya Indra Jaya Indra Jaya Indra Jaya Indra Jaya Indra Jaya Insaniah Rahimah Irfan Yulianto Iwan E. Setyawan, Iwan E. James Parlindungan Panjaitan Jonniere, Romie Jonson Lumban Gaol Kasim, Faizal Kaulina Silvitiani Khairul Amri Krisna Rendi Awalludin LILIK BUDIPRASETYO Mennofatria Boer Mira Harimurti Miswadi Miswadi Muhammad Banda Selamat Muhammad Banda Selamat Muhammad Banda Selamat Muhammad Iqra Prasetya Muhammad Rizki Nandika Muhammad Siddiq Sangadji Muhammad Sudibjo Mulia Purba Mutiara Alkayakni Harahap Nadia Shalehah Nani Hendiarti Nico Wantona Prabowo Nunung Noer Aziizah Nunung Noer Aziizah Nunung Noer Aziizah Nunung Noer Aziizah, Nunung Noer Nur Audina Nurjannah Nurdin Nurul Khakhim Nurul Khakhim Prasetya, Muhammad Iqra Risti Endriani Arhatin Riza Aitiando Pasaribu Romie Jhonnerie Romy Ketjulan, Romy Ronny I. Wahju Rosmasita, Rosmasita Sabilah, Anisa Aulia Sakka Sakka Sam Wouthuyzen Sam Wouthuyzen Sangadji, Muhammad Siddiq Setyo Budi Susilo Susilo, Setyo B. Syamsul Agus Syamsul B. Agus Syamsul B. Agus Syamsul B. Agus Syamsul B. Agus Syamsul Bahri Agus, Syamsul Bahri Tarlan Subarno Tarlan Subarno, Tarlan Wahidin, Nurhalis Wikanti Asriningrum Wikanti Asriningrum Wikanti Asriningrum Wikanti Asriningrum Wildan Tino Zulhamsyah Imran