Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PENGARUH KEPEMIMPINAN SPIRITUAL KEPALA SEKOLAH, KEPUASAN KERJA, DAN MOTIVASI INTRINSIK TERHADAP KOMITMEN AFEKTIF GURU Afrida, Nia; Zahriyanti, Zahriyanti; Siraj, Siraj
Research and Development Journal of Education Vol 11, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/rdje.v11i1.27782

Abstract

This study aims to: (1) examine the impact of spiritual leadership on teachers' affective commitment in middle schools in the Lut Tawar area, Central Aceh; (2) assess how spiritual leadership influences affective commitment with job satisfaction as a moderating variable; (3) analyze how spiritual leadership affects affective commitment with intrinsic motivation as a moderating variable; (4) evaluate the effect of job satisfaction on teachers' affective commitment; and (5) examine the effect of intrinsic motivation on teachers' affective commitment. The study uses a quantitative method, with a sample of 143 out of a population of 223. Data were collected through a Likert scale questionnaire, and analyzed using correlation, regression, and Moderated Regression Analysis (MRA). The findings show: 1) Spiritual leadership significantly affects teachers' affective commitment; 2) Spiritual leadership does not influence affective commitment through job satisfaction as a moderating variable; 3) Spiritual leadership does not affect affective commitment through intrinsic motivation as a moderating variable; 4) Intrinsic motivation has a significant effect on teachers' affective commitment.
URGENSI KESEHATAN MENTAL SANTRI DARI TINDAKAN KEKERASAN BULLYING DI PESANTREN MODERN MISBAHUL ULUM MEURIAPALOH KOTA LHOKSEUMAWE ACEH Zahriyanti Zahriyanti; Musrizal Musrizal; Fina Meilinar
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2026): Vol. 7 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v7i2.57169

Abstract

Semakin meningkatnya fenomena dan jumlah kasus tindakan kekerasan bullying dikalangan santri, baik secara verbal hingga bullying dalam bentuk bullying sosial (psikologis). Tentu saja hal ini akan berdampak pada kesehatan mental para santri. Di pesantren Misbahul Ulum Desa Meuria Paloh, para santi belum memiliki pengetahuan mengenai urgensi kesehatan mental bagi santri dari tindakan kekerasan bullying. Tujuannya adalah meningkatkan pengetahuan santri mengenai betapa pentingnya kesehatan mental dari tindakan kekerasan bullying serta memdemontrasikan upaya pencegahan yang bisa ditempuh oleh para santri. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah penyuluhan dan pendampingan mengenai kesehatan mental dari bullying. Adapun tahapan kegiatan pengabdian ini menggunakan metode kualitatif: merencanakan tempat sosialisasi yang nyaman dan memuat kapasitas peserta sosialisasi, melaksanakan kegiatan dengan maksimal, memberikan bimbingan dan edukasi kepada para santri, melakukan observasi dan wawancara terakhir adalah evaluasi. Langkah-langkah Pendampingan Analisis Kebutuhan: Mengidentifikasi kebutuhan santri terkait pengetahuan psikologis santri. Workshop dan Pelatihan: Memberikan pendampingan terkait kesehatan mental santri dampak dari bullying. Praktik dan Observasi: Santri mendemontrasi dan menggali pengalamannya terkait fenomena bullying dan kesehatan mental yang pernah dialaminya di pesantren dengan pendampingan langsung. Refleksi dan Evaluasi: Meninjau efektivitas penerapan dan memberikan umpan balik untuk perbaikan. Manfaat santri dan guru/pengasuh mendapat pengetahuan, wawasan dan penguatan terkait pencegahan dan penanggulangan bullying. Santri mendapatkan pengalaman dan pendampingan layanan kesehatan mental belajar yang lebih personal dan efektif. Terciptanya budaya karakter berbasis psikologi sosial yang lebih efektif di lingkungan sekolah. Program ini diharapkan memberikan dampak berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas karakter santri di Pesantren Modern Misbahul Ulum Desa Meuria Paloh, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, Aceh
Double Burden and Social Stigma: A Case Study of Bullying Among Working Students at State Senior High School 1 Peusangan, Bireuen, Indonesia Zahriyanti; Musrizal; Ikhwani; Muhammad Iqbal
Al Qodiri : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan Vol. 24 No. 2 (2026): Al Qodiri: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Publisher : Universitas Islam KH. Achmad Muzakki Syah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53515/alqodiri.v24i2.188

Abstract

Working students from economically disadvantaged backgrounds frequently face challenges that extend beyond balancing education and employment, including negative social perceptions and unequal treatment within school communities. Although school bullying has been widely investigated, limited attention has been paid to how the combination of double burden and social stigma shapes the experiences of working students in secondary education. This study explores the dynamics of bullying encountered by working students at State Senior High School 1 Peusangan, Bireuen, Indonesia. A qualitative case study approach was employed, drawing on data collected through classroom observations, in-depth interviews, and document analysis involving school leaders, teachers, counselors, and students selected purposively. Data were interpreted using the interactive analytical framework of Miles, Huberman, and SaldaƱa, while source triangulation was applied to strengthen the credibility of the findings. The analysis revealed that the simultaneous demands of schooling and manual work increased students' susceptibility to stigmatization, verbal humiliation, physical intimidation, and social exclusion. Moreover, bullying was often perceived as ordinary peer interaction, reducing institutional awareness and delaying appropriate responses. These findings indicate that bullying against working students reflects broader patterns of socioeconomic inequality rather than isolated interpersonal conflict. The study emphasizes the need for school policies and educational practices that foster empathy, strengthen institutional responsiveness, and create more inclusive learning environments for economically marginalized students.