Claim Missing Document
Check
Articles

Pendampingan Guru-Guru SMP Dalam Melaksanakan Open Kelas Melalui Pendekatan Lesson study Di Sekolah Awaludin; Misu, La; Salam, Mohamad; Jazuli, La Ode Ahamd; Salim; Hasnawati
Amal Ilmiah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2023): Edisi Mei 2023
Publisher : FKIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/amalilmiah.v4i2.34

Abstract

Tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah: memberi pengetahuan dan wawasan kepada guru SMP tentang lesson study beserta perangkat pembelajarannya, Guru SMP dapat melaksanakan opesn kelas menggunakan lesson study, dan Guru SMP dapat menemukan kendala pembelajaran serta cara mengatasinya melalau lesson study. Tempat pelaksanaan kegiatan ini adalah salah satu SMP di Kabupaten Konawe Selatan. Pelaksanaan kegiatan lesson study terdiri atas 3 tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Metode yang digunakan untuk mensosialisasikan program Lesson study di sekolah berupa metode ceramah, metode diskusi, wawancara, dan metode praktek lapangan. Hasil yang diperoleh dari kegiatan ini adalah umumnya (72.27%) guru-guru SMP sangat setuju bahwa sosialisasi Lesson study sangat penting diadakan, dan dapat memberikan dampak yang baik bagi pengembangan proses belajar mengajar di sekolah. Ada (81.82%) sangat setuju bahwa Lesson study bermanfaat bagi guru untuk membangun kolaboratif sesama guru bidang studi.
KAITAN KEMAMPUAN PENALARAN FORMAL DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIK SISWA SMA Misu, La; Hasnawati, Hasnawati
Aksioma Vol. 12 No. 1 (2023): AKSIOMA
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/aksioma.v12i1.3451

Abstract

Anak yang berumur di atas 12 tahun sudah berada pada tingkat operasi formal. Sehingga siswa pada jenjang pendidikan SMA sudah berada pada tingkat kemampuan penalaran formal. Pengembangan kemampuan penalaran formal siswa erat kaitannya dengan pemecahan masalah matematik. Pemecahan masalah melibatkan beberapa kombinasi konsep dan keterampilan dalam suatu situasi baru atau situasi yang berbeda. Oleh karena itu, bila siswa terbiasa menyelesaikan masalah yang komplek maka dapat meningkatkan penalaran formalnya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kaitan antara kemampuan penalaran formal dengan pemecahan masalah matematik siswa SMA. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas XII SMAN 6 Kendari, terdiri atas kelas IPA dan kelas IPS. Pengumpulan data penelitian ini terdiri atas data kemampuan penalaran formal, dan data kemampuan pemecahan masalah matematik. Data ini dianalisis secara deskriptif, yakni melihat persentase dan rata-rata dari setiap tahap baik tahap-tahap kemampuan penalaran formal maupun tahap-tahap pemecahan masalah matematik. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa: Kemampuan penalaran formal siswa SMAN 6 Kendari umumnya sudah berada pada tahap penalaran proporsional, namun untuk kelas IPA sebagian sudah berada pada tahap penalaran kombinatorik. Kemampuan pemecahan masalah matematik siswa SMAN 6 Kendari umumnya masih rendah hanya mampu menyelesaikan permasalahan matematik yang sederhana. Ada kaitan antara kemampuan penalaran formal dengan pemecahan masalah matematik siswa.
Development of Interactive Digital Modules Based on Augmented Reality Salim Salim; Rahmad Prajono; La Misu; Hendra Nelva Saputra
AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Vol 14, No 4 (2022): AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan
Publisher : STAI Hubbulwathan Duri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35445/alishlah.v14i4.1537

Abstract

Interactive digital modules have now become a new commodity in the world of learning that must be a major concern in order to facilitate an efficient and flexible learning process. The purpose of this development is to create augmented reality to be used as a learning resource by all academics. This study uses the Lee Owens development model which consists of 4 stages, namely assessment/analysis, design, development and implementation, and evaluation. This development activity involved a learning media expert, a material expert, and 8 small group pilots to assess the feasibility of the digital module being developed. Based on the presentation of the validator's assessment of the augmented reality, it can be concluded that augmented reality is very valid criteria which means it is very good for use in learning with a percentage of 90.25% of media experts, 88.75% from material experts, and 86.5% from small group trials. Researchers recommend using this material as a learning resource for Information Technology courses that can be accessed on the Halu Oleo University website. Researchers also suggest making augmented reality as part of the learning materials developed.
Peningkatan Profesionalisme Guru Melalui Model Kolaboratif Deep Learning Berbasis Lesson Study di Era Disrupsi Digital Mohamad Salam; La Misu; Awaludin Awaludin; Jafar Jafar; Hasnawati Hasnawati; Salim Salim; Sitti Nur Astuti S
Amal Ilmiah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2026)
Publisher : FKIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/amalilmiah.v7i2.714

Abstract

Era disrupsi digital menuntut guru untuk terus meningkatkan profesionalismenya agar mampu mengimplementasikan pembelajaran inovatif yang relevan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme guru SMPN 15 Kendari melalui model kolaboratif Deep Learning berbasis Lesson Study. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi, pembentukan kelompok Lesson Study, pelatihan penyusunan modul ajar, pendampingan open kelas, dan refleksi kolaboratif melalui siklus Plan–Do–See. Instrumen pengukuran berupa kuesioner respons guru berskala Likert empat poin dan lembar observasi open kelas yang dianalisis secara deskriptif persentase. Kegiatan diikuti 25 guru yang terbagi dalam empat kelompok bidang studi: Matematika, IPA, IPS, dan Bahasa. Hasil menunjukkan bahwa 100% guru menyatakan sosialisasi Deep Learning berbasis Lesson Study sangat penting, 85,71% menyatakan model ini berdampak positif terhadap proses belajar mengajar, 100% menilai model ini membangun kolaborasi antar guru, dan 95,24% menyatakan antusias untuk melaksanakan open kelas. Disimpulkan bahwa model kolaboratif Deep Learning berbasis Lesson Study efektif meningkatkan profesionalisme guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran inovatif di era digital.