Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

FORMULASI PASTA GIGI GEL EKSTRAK BUAH BELIMBING WULUH (AVERRHOA BILIMBI L.) SEBAGAI ANTIBAKTERI TERHADAP STREPTOCOCCUS MUTANS PENYEBAB PLAK GIGI Ningrum, Windi; Yulianto, Asep Nurrahman; Faizal, Imam Agus
SAINS INDONESIANA Vol. 2 No. 3 (2024): Vol. 2, No. 3 Edisi Juni 2024
Publisher : Gamma Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut data dari Riskesdes tahun 2018, Di Kabupaten Cilacap 46,73% orang di Provinsi Jawa Tengah mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut karena plak. Salah satu cara untuk menghindari plak gigi yaitu dengan menyikat gigi dengan pasta gigi. Buah belimbing wuluh mengandung flavonoid, tanin dan saponin yang memiliki aktivitas terhadap Streptococcus mutans. Tujuan penelitian untuk mengetahui daya hambat dan efektivitas antibakteri pada sediaan pasta gigi gel ekstrak buah belimbing wuluh. Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental. Pasta gigi gel diformulasikan menjadi 4 formula F0 (tanpa ekstrak), F1 (10%), F2 (15%), F3 (20%) serta pasta gigi gel daun sirih mustika ratu sebagai kontrol positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi sediaan pasta gigi gel ekstrak buah belimbing wuluh memiliki karakteristik fisik yang baik. Hasil uji zona hambat bakteri pada konsentrasi 10% sebesar 22,8 mm, kemudian pada konsentrasi 15% sebesar 27,6 mm, dan konsentrasi 20% sebesar 30 mm, dimana ketiga formulasi memiliki efek antibakteri yang sangat kuat. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dengan tingkat kepercayaan 95%. Berdasarkan analisis tersebut perbedaan konsentrasi pada sediaan pasta gigi gel memberikan pengaruh yang signifikan terhadap zona hambat pada bakteri Streptococcus mutans.
BLOOD SMEAR EXAMINATION AND DIFFERENTIAL COUNT IN RATS WITH ESCHERICHIA COLI ESBL AND KLEBSIELLA PNEUMONIAE CARBAPENEMASE INFECTIONS Savitri, Lisa; Kasimo, Elfred Rinaldo; Ihsan, Kharisul; Faizal, Imam Agus
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : BRIN - Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jbbi.2025.10708

Abstract

Sepsis is an irregular body response to severe infection, triggering uncontrolled inflammation that can lead to extensive tissue damage. It can progress to septic shock with multiple organ failure, resulting in death if left untreated. Laboratory examinations, such as leukocyte differential count in hematology, help understand the distribution pattern of white blood cells associated with health conditions. Laboratory research was conducted on mice injected with E. coli ESBL or K. pneumoniae carbapenemase. After 24 hours, observations were made on apoptosis in the spleen and liver of mice. Mouse blood was processed to count white blood cell types with a differential count. The results were analyzed to compare the control group with the bacterial infection groups of E. coli ESBL and K. pneumoniae carbapenemase. The research results indicate that the neutrophil count in the E. coli ESBL group is still within the normal range and lower (44.5±1.915%) compared to the K. pneumoniae carbapenemase group (55.75±8.342%). Similarly, the lymphocyte count in the E. coli ESBL group is within the normal range and lower (77.5±3.109%) compared to the K. pneumoniae carbapenemase group (91.25±7.588%). This highlights the crucial role of neutrophils and lymphocytes in responding to severe bacterial infections such as K. pneumoniae carbapenemase. Previous studies indicate neutrophilia and lymphocytopenia as markers of severe bacterial infections. Neutrophils are the primary defense against bacterial infections and can be rapidly recruited to the infection site, while specific infections can trigger prolonged neutrophil recruitment from hematopoietic tissues.
Pelatihan Menanam Apotek Hidup Herbal Medicine Tanaman Burdock Sebagai Upaya Preventif Kejadian Anemia Faizal, Imam Agus; Yunadi, Frisca Dewi; Swandari, Mika Tri Kumala; Savitri, Lisa
Jurnal SOLMA Vol. 14 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v14i2.18939

Abstract

Background: Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih tinggi, terutama pada ibu hamil dan balita. Penelitian ini bertujuan untuk memberdayakan kader melalui pelatihan budidaya tanaman burdock (Arctium lappa L.) sebagai intervensi berbasis apotek hidup dalam upaya pencegahan anemia. Jumlah kasus anemia di Indonesia meningkat dari 37,01% pada 2013 menjadi 48,9% pada 2018, dengan kasus signifikan terjadi pada remaja putri dan anak-anak di Kabupaten Cilacap. Faktor penyebab utama meliputi pola makan yang tidak seimbang, kekurangan zat besi, serta akses layanan kesehatan yang terbatas. Metode: Kegiatan ini dilakukan di Desa Sidanegara dengan pendekatan sosialisasi materi ilmiah, pemberdayaan ibu balita dalam pencegahan stunting, serta pelatihan teknik budidaya burdock. Kader dilatih untuk menanam burdock di pekarangan rumah sebagai sumber pangan fungsional yang kaya zat besi, yang berpotensi meningkatkan kadar hemoglobin dan hematokrit. Evaluasi dilaksanakan melalui observasi praktik, wawancara, dan pendampingan pekarangan secara berkala untuk menjamin keberlanjutan program. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa kader memahami manfaat tanaman burdock menunjukkan bahwa pengetahuan kader telah meningkat, dengan nilai rata-rata post-test 93, dan mampu menerapkan teknik budidaya secara mandiri. Selain itu, tercipta lahan apotek hidup yang meningkatkan ketahanan gizi dan kesadaran masyarakat terhadap pemanfaatan herbal sebagai solusi kesehatan jangka panjang. Kesimpulan: Program ini berkontribusi pada pemberdayaan kader, penguatan ketahanan pangan lokal, serta pencegahan anemia berbasis komunitas. Pendekatan terpadu ini efektif diterapkan di Desa Sidanegara sebagai model intervensi kesehatan berkelanjutan.
Inhibitory Effect of Nutmeg (Myristica fragrans) Leaf Extract on Biofilm Formation by Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) Ramadhan, Fahri; Nugroho, Yusuf Eko; Faizal, Imam Agus
Journal of Indonesian Medical Laboratory and Science Vol 6 No 2: Oktober 2025
Publisher : Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Teknologi Laboratorium Medik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53699/joimedlabs.v6i2.294

Abstract

Background: Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) is an opportunistic pathogen with a strong capacity for biofilm formation, which enhances resistance to antibiotics. Although nutmeg (Myristica fragrans) seeds and mace have been extensively studied, research on nutmeg leaves is limited despite their content of flavonoids, tannins, saponins, and triterpenoids with antimicrobial potential. Objective: This study evaluated the antibiofilm activity of nutmeg leaf extract against MRSA biofilm formation in vitro. Materials and Methods: Biofilm assays were conducted using MRSA isolates. The optimal incubation time for biofilm formation was first determined, followed by treatment with nutmeg leaf extract. Results: MRSA formed optimal biofilms at 48 h (OD = 0.101 ± 0.012). Nutmeg leaf extract significantly reduced biofilm formation (OD = 0.083 ± 0.010) compared with the negative control (OD = 0.118 ± 0.009) and the positive control, tetracycline (OD = 0.096 ± 0.011) (p = 0.001). While the reduction was statistically significant, the difference from tetracycline was modest. Conclusion: Nutmeg leaf extract demonstrated significant antibiofilm activity against MRSA in vitro. These findings support its potential as a complementary natural agent for managing biofilm-associated infections, warranting further studies to isolate active compounds and assess synergistic effects with standard antibiotics.
Correlation between Neutrophil Counts and Salmonella IgM in Typhoid Fever Patients at Emanuel Hospital Banjarnegara Haryanti, Anik; Nugroho, Yusuf Eko; Faizal, Imam Agus
Journal of Indonesian Medical Laboratory and Science Vol 6 No 2: Oktober 2025
Publisher : Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Teknologi Laboratorium Medik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53699/joimedlabs.v6i2.311

Abstract

Background: Typhoid fever is an infectious disease caused by Salmonella typhi and remains a significant public health problem in endemic regions. The incidence continues to rise annually, particularly among children. During infection, the immune system responds through both hematological and serological mechanisms, including increased neutrophil counts and the production of Immunoglobulin M (IgM). Neutrophils act as the first line of defense against bacterial invasion, while IgM is the earliest antibody produced during acute infection. Although many studies have independently examined hematological and serological parameters in bacterial infections, limited research has explored the relationship between neutrophil counts and Salmonella IgM in pediatric typhoid fever, especially in endemic areas such as Banjarnegara, Indonesia. Objectives: This study aims to analyze the relationship between neutrophil counts and Salmonella IgM results in pediatric patients with typhoid fever. Materials and Methods: This study is a cross-sectional design utilizing secondary data obtained from the Electronic Medical Records (EMR) and Laboratory Information System (LIS). Results: The results showed that 18 patients (47.4%) had normal or high neutrophil counts, while 2 patients (5.3%) had low neutrophil counts. Regarding Salmonella IgM results, 5 patients (13.2%) tested negative, whereas 33 patients (86.8%) tested positive. Conclusions: The Spearman statistical test yielded a p-value of 0.002 (p < 0.05) with a correlation coefficient of 0.480, indicating a significant relationship between neutrophil counts and Salmonella IgM results at Emanuel Hospital, Banjarnegara. The correlation between neutrophil counts and Salmonella IgM results is considered moderate.
Potensi Ekstrak Daun Parijoto (Medinilla speciosa) Sebagai Penghambatan Biofilm Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) Sa'adah, Arina Lis; Kartikasari, Fariza Yulia; Mundriyastutik, Yayuk; Hayati, Defi Nurul; Faizal, Imam Agus
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 10 (2025): Volume 12 Nomor 10
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i10.20935

Abstract

Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) merupakan bakteri S. aureus yang bermutasi pada pembentukan biofilm menjadi resistan terhadap methicillin. Sehingga menurunkan efek terapeutik dan semakin sulit untuk diobati. Daun parijoto (Medinilla speciosa) memiliki senyawa flavonoid, saponin, tanin, dan terpenoid. Senyawa ini diperoleh dari ekstraksi daun parijoto dan berpotensi dapat memberikan efek penghambatan dalam pembentukan biofilm bakteri MRSA. Fokus Penelitian ini yaitu untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun parijoto sebagai penghambatan dalam pembentukan biofilm MRSA dengan beberapa variasi konsentrasi yaitu 100%, 80%, 60% dan 40%, serta gentamisin sebagai kontrol positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak tanaman daun parijoto mampu menghambat pertumbuhan biofilm MRSA dengan nilai persentase inhibisi tertinggi sebesar 86% pada variasi ekstrak daun parijoto 100%, lebih besar daripada kontrol positif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun parijoto secara signifikan mampu mengganggu pertumbuhan biofilm MRSA dengan nilai IC50 pada uji efektivitas ekstrak daun parijoto sebagai penghambatan biofilm MRSA sebesar 4,5 μg/mL. S. aureus yang bermutasi pada pembentukan biofilm menjadi resistan terhadap methicillin. Sehingga menurunkan efek terapeutik dan semakin sulit untuk diobati. Daun parijoto (Medinilla speciosa) memiliki senyawa flavonoid, saponin, tanin, dan terpenoid. Senyawa ini diperoleh dari ekstraksi daun parijoto dan berpotensi dapat memberikan efek penghambatan dalam pembentukan biofilm bakteri MRSA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun parijoto sebagai penghambatan dalam pembentukan biofilm MRSA dengan beberapa variasi konsentrasi yaitu 100%, 80%, 60% dan 40%, serta gentamisin sebagai kontrol positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun parijoto mampu menghambat pertumbuhan biofilm MRSA dengan nilai persentase inhibisi tertinggi sebesar 86% pada variasi ekstrak daun parijoto 100%, lebih besar daripada kontrol positif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun parijoto secara efektif mampu menghambat pertumbuhan biofilm MRSA dengan nilai IC50 pada uji efektivitas ekstrak daun parijoto sebagai penghambatan biofilm MRSA sebesar 4,5 μg/mL.
PENURUNAN KADAR ION TEMBAGA (CU2+) PADA KERANG DARAH (ANADARA GRANOSA) MENGGUNAKAN SARI BUAH NANAS (ANANAS COMOSUS (L.) MERR.) Faizal, Imam Agus; Pangesti, Ira; Purwati, Rina
Pharmaqueous: Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol. 2 No. 1 (2020): Volume 2, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : Universitas Al-Irsyad Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36760/jp.v1i2.120

Abstract

Tambak Lorok Tanjung Mas Semarang merupakan kawasan aktivitas industri pabrik yang berpotensi meningkatkan konsentrasi logam berat seperti ion tembaga. Logam ini sangat berbahaya bagi konsumen kerang darah, paparan ion tembaga pada manusia dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan manusia. Buah nanas mengandung senyawa kimia asam sitrat berfungsi sebagai sekuestran yang memiliki sifat pengikat logam sehingga dapat menurunkan kadar logam berat. Tujuan penelitian untuk menentukan optimasi panjang gelombang dan waktu kestabilan, menetapkan konsentrasi kadar awal Cu2+ dan kadar akhir Cu2+, menentukan prosentase penurunan, dan menganalisis pengaruh variasi konsentrasi dan lama perendaman. Objek penelitian adalah kerang darah. Metode penelitian adalah eksperimen murni. Waktu penelitian dilaksanakan bulan Januari sampai September 2015. Variabel yang diamati adalah penurunan kadar ion tembaga sebagai variabel terikat, sedangkan variabel bebas yaitu konsentrasi sari nanas (50% v/v, 75% v/v dan 100% v/v), serta lamanya perendaman (30, 60, 90 menit). Hasil penelitian adalah panjang gelombang dan waktu kestabilan optimum untuk pembacaan spektrofotometer adalah 460 nm dan 10 menit. Uji kualitatif diperoleh hasil positif Cu2+. Variasi konsentrasi dan lama perendaman sari buah nanas dalam menurunkan kadar ion tembaga. Variasi konsentrasi dan lama perendaman sari buah nanas untuk menurunkan kadar ion tembaga tertinggi adalah 100% v/v selama 90 menit sebanyak 63,93 ± 0,00%. Uji Kruskall wallis diperoleh nilai P< 0,004 sehingga H0 ditolak Ha diterima berarti ada pengaruh perbedaan variasi konsentrasi sari buah nanas dan lama perendaman terhadap penurunan kadar ion tembaga pada kerang darah
Pemanfaatan Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Untuk Menurunkan Kadar Logam Cu Pada Ikan Belanak (Chelon subviridis). Pangesti, Ira; Nugroho, Yusuf Eko; Faizal, Imam Agus; Utami, Tri Fitri Yana; Priyanto, Anggih
Pharmaqueous: Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol. 2 No. 2 (2020): Volume 2, Nomor 2, November 2020
Publisher : Universitas Al-Irsyad Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36760/jp.v2i1.161

Abstract

Perairan estuari Sungai di Kabupaten Cilacap merupakan daerah zona transisi antara daratan dan lautan, sehingga memiliki nilai strategis untuk dilakukan pemanfaatan secara ekonomi dan ekologi dan menjadi daerah yang dimanfaatkan pada berbagai kegiatan industri yang menyebabkan masuknya cemaran seperti logam berat Cu kedaging biota laut seperti ikan belanak, Nilai baku mutu logam Cu yang ditetapkan oleh FAO/WHO yaitu sebesar 1,0 mg/kg. Logam berat dapat diturunkan kadarnya dengan zat yang bersifat sekuestran salah satunya adalah asam sitrat yang berada pada buah belimbing wuluh, hal ini yang akan menyebabkan logam kehilangan sifat ion pada logam berat sehingga dapat mengurangi daya toksisitas logam tersebut. Metode yang digunakan adalah eksperimen. Objek penelitian adalah daging ikan belanak yang di rendam dengan sari belimbing wuluh konsentrasi 25% dan variasi lama perendaman yaitu 15 menit, 30 menit dan 45 menit. Hasil penelitian yaitu Kadar Cu awal 1,64 mg/kg. Prosentase penurunan pada 15 menit 29,7%, 30 menit 57,2% dan 45 menit 75,3%. Lama perendaman yang paling efektif untuk menurunkan kadar Cu pada daging ikan belanak yaitu selama 45 menit sebesar 75,3%. Terdapat pengaruh lama perendaman terhadap penurunan kadar Cu pada daging ikan belanak.
Profil Kreatinin Untuk Skrining Penyakit Ginjal Kronis (PGK) Pada Karyawan Stikes Al-Irsyad Al-Islamiyyah Cilacap Puspodewi, Dini; Faizal, Imam Agus; Kusumawati, Dhiah Dwi
Pharmaqueous: Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol. 3 No. 2 (2021): Volume 3, Nomor 2, November 2021
Publisher : Universitas Al-Irsyad Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36760/jp.v3i2.330

Abstract

Penyakit ginjal kronik (PGK) saat ini merupakan masalah kesehatan yang penting mengingat insidennya yang meningkat. Di Indonesia, diperkirakan jumlahnya 100 penderita per satu juta penduduk dalam setahun. Kreatinin adalah produk akhir dari metabolisme kreatin. Kreatinin terutama disintesis oleh hati, teRdapat hampir semuanya dalam otot rangka yang terikat secara reversible dengan fosfat dalam bentuk fosfokreatin atau keratinfosfa, yakni senyawa penyimpan energi. Pemeriksaan kreatinin dalam darah merupakan salah satu parameter penting untuk mengetahui fungsi ginjal. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian deskriptif dengan pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Pemeriksaan kadar kreatinin dengan menggunakan metode fotometri. semua sampel yang diuji diperoleh hasil dibawah nilai normal yaitu 0.6 – 1.3 mg/dL. Ginjal memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis atau racun, mempertahankan keseimbangan cairan dan zat-zat lain dalam tubuh. Ginjal mengeluarkan sisa- sisa metabolisme hasil akhir dari protein ureum, kreatinin, dan amoniak.
Profil Terapi Antiretoviral (ARV) Beserta Nilai Parameter Viral Load (Vl) Pada Pasien Hiv/Aids Di Puskesmas “X” Distrik Cilacap Permana, Denih Agus Setia; Ningrum, DM; Faizal, Imam Agus
Pharmaqueous: Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol. 3 No. 2 (2021): Volume 3, Nomor 2, November 2021
Publisher : Universitas Al-Irsyad Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36760/jp.v3i2.350

Abstract

Jumlah penderita pasien HIV/AIDS tiap tahun dilaporkan menunjukan trend yang meningkat disertai dengan kompleksitas dari terapi, menjadikan pengatasan penyakit ini memerlukan perhatian khusus terutama pada pengobatanya. Penelitian ini memiliki tujuan untuk melihat profil terapi yang menggunakan antiretroviral (ARV) beserta parameter nilai Viral Load (VL) pada pasien HIV/AIDS di Puskesmas. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif non eksperimental, dengan pengumpulan data dilakukan secara retrospektif, menggunakan data rekam medik pasien bulan Januari-Desember 2019. Jumlah sampel pasien yang akan digunakan adalah menggunakan pendekatan purposive sampling yaitu menggunakan semua pasien terdiagnosis positif HIV di Puskesmas “X” Distrik Cilacap yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan karakteristik jumalah sampel sebanyak 41 orang terdiri dari pasien laki-laki sebanyak 34 pasiendan pasien wanita senayak 7 pasien. dan kelompok umur terbanyak adalah 20-29 tahun (37%). Golongan obat ARV yang digunakan adalah Nucleoside/Nucleotide Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTI) dan NonNucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NNRTI), dengan kombinasi obat ARV terbanyak adalah kombinasi lini pertama zidovudine + lamivudine + nevirapine (69%). Data profil pengobatan ARV menunjukan adalah 100% sesuai mengggunakan lini pertama, dengan penggunaan terbanyak zidovudine + lamivudine + nevirapine dan hasil pemeriksaan nilai viral load yang terdeteksi sebesar 9.75% dengan nilai 40 copies/ml.