Sadik Ikhsan
Program Studi Agribisnis/Jurusan SEP, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat

Published : 40 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Analisis Usahatani Jeruk Siam Banjar di Desa Barambai Kolam Kiri Kecamatan Barambai Kabupaten Barito Kuala Jahratun Nisa; Muhammad Fauzi; Sadik Ikhsan
Frontier Agribisnis Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i1.8277

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk menganalisis tingkat kelayakan usahatani jeruk siam Banjar di Desa Barambai Kolam Kiri Kecamatan Barambai; (2) Untuk menganalisis permasalahan yang di hadapi petani dalam usahatani jeruk siam Banjar di Desa Barambai Kolam Kiri Kecamatan Barambai. Penelitian dilaksanakan di Desa Kolam Kiri Kecamatan Barambai, Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan. Penelitian dimulai pada bulan Agustus 2019 sampai dengan November 2021, jenis data yang dikumpulkan merupakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan petani menggunakan daftar pertanyaan yang telah disiapkan, sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai dinas atau instansi yang berkaitan dengan penelitian ini. Responden petani diperoleh dengan cara penarikan contoh secara sederhana. Responden yang dijadikan sampel adalah 30 dari petani jeruk siam. Kelayakan usahatani jeruk siam di Desa Barambai Kolam Kiri Kecamatan Barambai dilihat dari kriteria investasi usahatani jeruk siam layak untuk dikembangkan. Hal ini terlihat dari nilai NPV yang bernilai positif pada df 10% sebesar Rp 240.497.291, pada df 12% sebesar Rp 210.246.286, dan pada df 18% sebesar Rp 135.379.971. Nilai Net B/C yaitu Rp 2.21 pada df 10%, Rp 2.07 pada df 12%, dan Rp 1.71 pada df 18%, serta nilai IRR yang didapat adalah sebesar 38,01%.
Analisis Efisiensi Teknis Usahatani Padi (Oryza sativa) Sawah Lokal Pada Lahan Pasang Surut di Desa Sungai Tunjang Kecamatan Cerbon Kabupaten Barito Kuala Muhammad Abiel Malik; Sadik Ikhsan; Eka Radiah
Frontier Agribisnis Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i2.780

Abstract

Pemanfaatan lahan marginal pada lahan pasang surut dinilai cukup potensial untuk pengembangan pertanian tanaman pangan terutama padi dengan melalui penerapan teknologi, sistem pengelolaan dan penggunaan faktor yang tepat. Penggunaan faktor produksi yang efisien secara teknis berdampak dalam peningkatan produksi padi. Tujuan penelitian ini dilaksanakan adalah untuk mengidentifikasi pengaruh dan untuk menganalisis tingkat efisiensi teknis faktor produksi menggunakan metode Maximum Likehood Estimation (MLE) dalam fungsi produksi frontier stochastic. Penelitian dilaksanakan di Desa Sungai Tunjang yang ditentukan secara purposive. Sebanyak 60 orang petani padi lokal diambil sebagai sampel menggunakan metode simple random sampling. Dari penelitian ini menunjukkan bahwa faktor produksi yang berpengaruh nyata dan positif terhadap produksi batas (frontier) adalah input lahan, kapur dan tenaga kerja. Untuk input produksi pupuk dan  pestisida secara statistik tidak berpengaruh dan positif, sedangkan benih secara statistik tidak berpengaruh nyata dan bernilai negatif. Sebaran tingkat efisiensi menunjukkan rata-rata ukuran efisiensi teknis sejumlah 0,86  dengan 0,35 dan 0,97 masing-masing sebagai ukuran terendah dan tertinggi. Sebanyak 83,4% petani responden termasuk usahatani padi efisien secara teknis dan 16,6% petani responden tidak efisien dalam berusahatani padi. Pengukuran inefisiensi teknis menunjukkan bahwa variabel umur, pengalaman dan pendidikan secara statistik tidak berpengaruh. Namun dari nilai koefisiean  variabel  umur bernilai positif sedangkan variabel pengalaman dan pendidikan bernilai negatif terhadap tingkat inefisiensi teknis.Kata kunci: efisiensi teknis, fungsi produksi stochastic frontier, maximum likehood estimation (MLE)
Analisis Usahatani Caisim di Kecamatan Labuan Amas Selatan Kabupaten Hulu Sungai Tengah Husna Norhidayati; Abdurrahman Abdurrahman; Sadik Ikhsan
Frontier Agribisnis Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v5i1.5974

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyelenggaraan usahatani caisim dengan menganalisis besar biaya, penerimaan, pendapatan dan keuntungan yang diperoleh petani caisim, mengetahui pengaruh penggunaan faktor-faktor produksi, lahan, benih, pupuk anorganik, pupuk organik, obat-obatan dan tenaga kerja terhadap jumlah produksi caisim dan mengetahui permasalahan apa saja yang dihadapi petani caisim di Kecamatan Labuan Amas Selatan. Penelitian dilakukan pada bulan Juli sampai dengan bulan Agustus 2020. Data yang dikumpulkan adalah satu kali periode per musim tanam dalam kisaran waktu satu bulan. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode acak sederhana (simple random sampling) sebanyak 30 orang petani dijadikan sebagai responden dengan pertimbangan bahwa kondisi populasi mayoritas homogen pada luasan lahan usahatani caisim. Hasil penelitian menunjukan penyelenggaraan usahatani caisim yang dilakukan mencakup pengolahan lahan, persemaian, penanaman, pemeliharaan tanaman, dan panen. Besarnya rata-rata biaya eksplisit yang dikeluarkan adalah Rp 884.322/usahatani atau Rp 8.503.093/ha dan rata-rata biaya implisit adalah Rp 597.065/usahatani atau Rp 5.741.012/ha sehingga biaya total dalam usahatani caisim rata-rata sebesar Rp 1.481.387/usahatani atau sebesar Rp 14.244.105/ha. Penerimaan yang diperoleh dari usahatani caisim rata-rata Rp 2.287.500/usahatani atau Rp 21.995.192/ha, dengan rata-rata produksi sebesar 458 kg/usahatani atau 4.399 kg/ha. Pendapatan yang diperoleh rata-rata sebesar Rp 1.403.178/usahatani atau Rp 13.492.099/ha, dan keuntungan petani caisim dalam 1 kali periode per musim tanam dalam kisaran waktu satu bulan sebesar Rp 806.113/usahatani atau rata-rata Rp 7.751.087/ha. Berdasarkan analisis faktor produksi Cobb-Douglas, diketahui bahwa faktor produksi luas lahan, benih, pupuk anorganik, obat-obatan dan tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap produksi caisim, sedangkan faktor produksi yang tidak berpengaruh terhadap produksi caisim yaitu pupuk organik. Adapun permasalahan yang dihadapi oleh petani caisim di Kecamatan Labuan Amas Selatan yaitu hama penyakit dan harga jual yang berfluktuasi.
ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN AYAM GEPREK SOLO DI KOTA BANJARBARU Neta Anita Malinda; Hairin Fajeri; Sadik Ikhsan
Frontier Agribisnis Vol 4, No 4 (2020)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v4i4.2937

Abstract

Persaingan dalam dunia bisnis semakin bertambah ketat. Persaingan yang semakin ketat ini menuntut para pelaku bisnis untuk mampu memaksimalkan kinerja perusahaannya agar dapat bersaing di pasar. Metode dasar penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Teknik pelaksanaan penelitian menggunakan metode survei. Lokasi penelitian dipilih secara sengaja (purposive), yaitu di Kota Banjarbaru dengan memilih pembeli ayam geprek. Metode penarikan contoh dilakukan dengan teknik convenience sampling, kemudian didapat 64 orang. Data yang digunakan adalah data primer dan data skunder. Metode analisis data yang digunakan adalah Model Angka Ideal (Ideal Point Model). Hasil penelitian ini menunjukkan berdasarkan hasil perhitungan dengan Model Angka Ideal, atribut yang dianggap paling penting oleh konsumen adalah atribut kebersihan ruang makan dan atribut dengan nilai kepentingan terendah yaitu atribut dekorasi rumah makan. Kemudian atribut yang dianggap konsumen paling sesuai dengan harapannya dan nilai total sikap (Ab) yang paling baik adalah atribut lokasi rumah makan yang strategis, sedangkan atribut yang paling tidak sesuai dengan harapan dan nilai total sikap (Ab) yang paling buruk menurut konsumen adalah atribut dekorasi rumah makan. Kemudian berdasarkan hasil perhitungan Model Angka Ideal, nilai total sikap konsumen terhadap keseluruhan atribut ayam geprek adalah 34,34 angka ini berada pada kategori skala  34,34 <= AB < 68,69 yang menunjukkan bahwa keseluruhan atribut ayam geprek dianggap baik oleh konsumen.Saran dari penelitian ini yaitu berdasarkan hasil perhitungan dengan  Model Angka Ideal, atribut dekorasi rumah makan memiliki skor total sikap (Ab) yang paling buruk daripada atribut laiinya, artinya atribut ini belum sesuai dengan harapan konsumen. Maka, perlu adanya peningkatan kinerja aktual yakni dengan melakukan penambahan pajangan dinding dan aksen-aksen dekorasi lainnya.
Analisis Titik Impas Usahatani Bayam di Kecamatan Liang Anggang Kota Banjarbaru Axel Jangkon Bagas Hutajulu; Nuri Dewi Yanti; Sadik Ikhsan
Frontier Agribisnis Vol 8, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v8i3.13511

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keuntungan usahatani bayam di Kecamatan Liang Anggang Kota Banjarbaru dan menganalisis titik impas usahatani bayam di Kecamatan Liang Anggang Kota Banjarbaru. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan dari bulan November 2022 sampai April 2024. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer. Data primer adalah jenis data yang terus berkembang dan dikumpulkan secara langsung melalui wawancara menggunakan kuesioner dan daftar pertanyaan yang telah disiapkan. Metode penarikan contoh yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan Simple Random Sampling yaitu teknik penentuan sampel secara acak. Populasi petani yang mengusahakan tanaman bayam di Kelurahan Landasan Ulin Utara Kecamatan Liang Anggang Kota Banjarbaru berjumlah 112 orang. Ukuran sampel yang peneliti ambil berjumlah 30 sampel. Analisis yang dilakukan yaitu analisis keuntungan dan analisis titik impas. Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, diketahui biaya rata-rata yang dikeluarkan petani bayam yaitu sebesar Rp1.732.772/UT/MT biaya ini terdiri dari biaya variabel yang berjumlah Rp1.682.481/UT/MT dan biaya tetap yang berjumlah Rp50.291/UT/MT. Penerimaan dan keuntungan petani bayam dalam satu musim tanam sebesar Rp7.336.667 dan Rp5.603.895. Analisis titik impas penerimaan dan analisis titik impas produksi dalam satu musim tanam yaitu sebesar Rp66.172 dan 14 ikat.
Analisis Finansial Jamu (Studi Kasus Pada “Cafe Jamu” di Kampung Pejabat Kelurahan Loktabat Selatan Kecamatan Banjarbaru Selatan) Herma Sari; Mira Yulianti; Sadik Ikhsan
Frontier Agribisnis Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i1.698

Abstract

Perindustrian merupakan salah satu sektor yang peranannya sangat membantu dalam meningkatkan perekonomian di Indonesia. Peningkatan industri kecil dan rumah tangga juga diperhatikan oleh pemerintah sekarang ini, dan tidak lagi terfokus hanya kepada perkembangan industri besar dan sedang saja. Pada negara-negara yang sedang berkembang peranan industri kecil dan rumah tangga penting untuk peningkatan pembangunan, dikarenakan dapat menciptakan lapangan kerja yang banyak, adanya kesempatan usaha yang tercipta serta memperbanyak pertumbuhan pembangunan. Untuk sebagian jenis kegiatan peningkatan ekspor juga dapat dilakukan oleh industri ini. Salah satu usaha rumah tangga di Kelurahan Loktabat Selatan Kabupaten Banjar bernama Cafe Jamu yang khususnya berada di Kampung Pejabat, industri ini bergerak pada pembuatan hasil pertanian menjadi sebuah produk yaitu jamu. Cafe Jamu sendiri mulai berdiri pada Maret 2017 pemiliknya adalah sepasang suami istri yaitu Bapak Tarmuji dan istri beliau bernama Sukarni yang sekaligus sebagai pekerja di Cafe Jamu tersebut. Awal mula mendirikan Cafe Jamu adalah karena di kampung pejabat itu sendiri dijadikan ikon jamu untuk Kota Banjarbaru maka Bapak Tarmuji berinisiatif mendirikan tempat khusus jamu yang semua kalangan dapat menikmati jamu dan sekaligus mengenalkan jamu kepada kalangan muda betapa banyak manfaat dari mengkonsumsi jamu. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar biaya, penerimaan, keuntungan, kelayakan usaha, BEP (Break Even Point), serta faktor-faktor yang mempengaruhi produksi Cafe Jamu. Metode yang digunakan dalah studi kasus , metode ini hanya menerapkan penelitian pada satu kasus saja, Sedangkan untuk menentukan jumlah responden konsumen menggunakan Accidental Sampling. Hasil perhitungan menyatakan RCR<1 yaitu 0,94 yang artinya bahwa usaha Cafe Jamu ini tidak menguntungkan. Disarankan memberikan pelatihan kepada karyawan dalam hal pembukuan keuangan sehingga mempermudah pemilik dalam menghitung pendapatan dan pengeluaran usaha Cafe Jamu secara rinci. Kata kunci: cafe jamu, jamu, biaya
Sikap Konsumen terhadap Selai Kacang Merek “Jiggly Belly Peanut Butter” di Kota Banjarmasin Karina Dinda Puteri; Mira Yulianti; Sadik Ikhsan
Frontier Agribisnis Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i1.12024

Abstract

Perkembangan trend atau gaya hidup sehat di kalangan masyarakat memberikan kesempatan pada produsen untuk memproduksi makanan dengan label sehat yang mudah untuk dikonsumsi. Salah satu produk makanan sehat yang praktis untuk dikonsumsi adalah peanut butter. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis sikap responden terhadap atribut peanut butter Jiggly Belly dan menganalisis pendapat responden terhadap produk baru bermerek Peanut Butter Jiggly Belly. Untuk menjawab tujuan pertama menggunakan Multiatribut Fishbein, yaitu metode yang digunakan untuk mengungkapkan mengenai sikap seseorang terhadap suatu objek penelitian. Untuk menjawab tujuan kedua menggunakan analisis deskriptif. Pengambilan sampel yang dipakai dalam penelitian ini adalah accidental sampling dengan jumlah sampel responden 50 orang wanita dengan total pendapatan didominasi sebesar >Rp 4.000.000 per bulan. Atribut yang mendapat skor sikap (Ao) terbesar adalah atribut rasa (16,80) yang berarti atribut rasa paling disukai oleh responden, sedangkan atribut dengan skor terendah adalah atribut tekstur (10,28) yang berarti tekstur pada produk tidak disukai oleh responden dan harus mendapatkan peningkatan. Skor sikap keseluruhan (Ao) produk sebesar 202,94 yaitu netral yang berarti produk selai kacang Jiggly Belly dinilai biasa saja dan memerlukan peningkatan pada masing-masing atribut yang ada seperti atribut tekstur, aroma, kepraktisan, dan promosi daring sebelum siap dipasarkan
Factors Influencing Labor Absorption in the Agricultural Sector in Central Kalimantan Province Ririanti, Ririanti; Fauzi, Muhammad; Ikhsan, Sadik
Indonesian Interdisciplinary Journal of Sharia Economics (IIJSE) Vol 8 No 1 (2025): Sharia Economics
Publisher : Sharia Economics Department Universitas KH. Abdul Chalim, Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31538/iijse.v8i3.6643

Abstract

The research objectives are 1) to describe the development of the agricultural sector workforce, regional minimum wage (UMR), gross regional domestic product (GRDP) and agricultural land area in Central Kalimantan Province by district/city in 2017-2022; 2) to analyze the influence of regional minimum wage (UMR), gross regional domestic product (GRDP) and agricultural land area on the absorption of agricultural sector workforce in Central Kalimantan Province in 2017-2022. This research method employs panel data regression analysis and secondary data collected by the Central Kalimantan Central Statistics Agency from 2017 to 2022. The analysis tool used is EViews 12. The results of the study show that the development of the workforce, UMR, GRDP, and agricultural land area in Central Kalimantan Province from 2017 to 2022 exhibited various dynamics, with each indicator displaying trends and fluctuations that reflect socio-economic conditions and policies at both the district/city level and the provincial level. Factors that influence the absorption of labor in the agricultural sector in Central Kalimantan Province based on the results of panel data regression analysis using the Fixed Effect Model are UMR which has a negative coefficient value of -0.000914, GRDP has a positive coefficient value of 3.477186 and agricultural land area which also has a positive coefficient value of 0.001264 with an R-square value obtained of 97.25% which shows that variations in labor absorption in the agricultural sector can be explained by the independent variables included in the model.
ANALISIS KUALITAS PELAYANAN DI CAFE BUBBLE TIE BANJARBARU Fauzan Maulidian Noor; Kamiliah Wilda; Sadik Ikhsan
Frontier Agribisnis Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v8i2.13031

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kepuasankonsumen / pelanggan terhadap kinerja Cafe Bubble Tie dan untuk mengetahui indikator pelayanan yang dianggap penting oleh pelanggan dan kinerja yang diterima oleh pelanggan. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Metode pengumpulan data menggunakan teknik accidental sampling dengan menggunakan alat bantu kuesioner. Pengunjung yang datang akan diminta untuk mengisi kuisioner melalui Google Formatau secara langsung. Pada penelitian ini, analisis data yangdigunakan adalah Importance Performance Analysis (IPA). Pada penelitian ini, variabel yang akan diukur merupakan variabel bagian dari kualitas pelayanan. Terdapat 6 dimensi yang akan diteliti, mulai dari dimensi suasana tempat, penampilan fisikbarista / karyawan, kecakapan, pelayanan, kepastian dan empati. Hasil pada penelitian ini menunjukkan Indeks Kepuasan Pelanggan adalah 3,83. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas layanan yang diterima oleh pelanggan Cafe Bubble Tie dinilai oleh pelanggan Cafe Bubble Tie termasuk ke dalam kategori Puas. Pada diagram kartesius menunjukkan bahwa terdapat 10 indikator termasuk dalam kuadran A (Keep Up The Good Work) yaitu, D1.1, D1.2,D1.3, D2.7, D2.8, D3.10, D4.14, D5.19, D6.20, dan D6.21. terdapat 4 indikator yang termasuk Kuadran B (Concentrate Here) yaitu D1.4, D4.15, D5.17, dan D5.18. 5 indikator termasuk dalam kuadran C (Low Priority) yaitu, D1.5, D1.6, D2.9, D4.13, danD4.16. Serta 2 indikator termasuk dalam kuadran D (Possibble Overkill) yaitu, D3.11 dan D3.12. Pada uji Wilcoxon menunjukkan bahwa terdapat 16 dimensi indikator memiliki perbedaan terhadap kualitas pelayanan yang diharapkan oleh pelanggan dengan kualitas pelayanan yang diterima oleh pelanggan Cafe Bubble Tie, sedangkan 5 dimensi indikator tidak memiliki perbedaan.
Analisis Tingkat Preferensi Konsumen terhadap Komoditas Sayuran Hidroponik (Selada dan Pakcoy) di Kota Banjarbaru Puteri Fathimathuz Zhahra; Sadik Ikhsan; Rifiana Rifiana
Frontier Agribisnis Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v9i2.15907

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis atribut sayuran hidroponik (selada dan pakcoy) yang menjadi preferensi konsumen dan atribut sayuran hidroponik (selada dan pakcoy) yang menjadi pertimbangan konsumen dalam keputusan pembelian di Kota Banjarbaru dengan menggunakan rumus multiatribut Fishbein . Metode penarikan sampel secara Accidental Sampling dengan jumlah sampel sebanyak 72 orang dan pengambilan data dari responden yang diperoleh secara langsung dengan mewawancarai konsumen sayuran hidroponik menggunakan kuisioner. Atribut sayuran selada hidroponik yang menjadi preferensi konsumen yaitu warna hijau mudah cerah, kesegaran cerah/segar, rasa berbeda dengan sayur konvensional, proses mengakses mudah didapat, kemasan plastik ziplock, dan harga >Rp10.000. Sedangkan atribut sayuran pakcoy hidroponik yang menjadi preferensi konsumen yaitu warna hijau tua matang, kesegaran cerah/segar, rasa berbeda dengan sayur konvensional, proses akses mudah didapat, kemasan plastik ziplock, dan harga Rp8.000 – Rp10.000. Atribut sayuran selada hidroponik yang menjadi pertimbangan konsumen dalam keputusan pembelian adalah kesegaran, warna, rasa, harga, proses akses, dan kemasan. Sedangkan pada atribut sayuran pakcoy adalah kesegaran, warna, rasa, harga, kemasan, dan proses akses.