Sadik Ikhsan
Program Studi Agribisnis/Jurusan SEP, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat

Published : 40 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Pengaruh Produksi Padi, Harga Gabah, Inflasi, Tingkat Suku Bunga, dan HET Pupuk Bersubsidi Terhadap Nilai Tukar Petani (NTP) Padi di Provinsi Kalimantan Selatan Nida Musyarrofah MZ; Sadik Ikhsan; Yusuf Azis
Frontier Agribisnis Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v9i2.15159

Abstract

Nilai tukar petani (NTP) adalah alat untuk mengukur kesejahteraan petani dengan batas nilai 100. Provinsi Kalimantan Selatan merupakan penghasil padi terbesar di Kalimantan sehingga mayoritas penduduk berprofesi sebagai petani padi. Namun, pada periode 2018–2022, NTP padi cenderung menurun yang mencerminkan bahwa kesejahteraan petani mengalami penurunan akibat pendapatan petani dari usaha tani tidak mencukupi kebutuhan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan nilai tukar petani padi, produksi padi, harga gabah, inflasi, tingkat suku bunga, dan HET pupuk bersubsidi di Provinsi Kalimantan Selatan dan juga menganalisis pengaruh produksi padi, harga gabah, inflasi, tingkat suku bunga, dan HET pupuk bersubsidi terhadap Nilai Tukar Petani Padi di Provinsi Kalimantan Selatan. Metode penelitian menggunakan analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan perkembangan NTP padi, produksi padi, harga gabah, inflasi, tingkat suku bunga, dan HET pupuk bersubsidi di Provinsi Kalimantan Selatan secara keseluruhan mengalami fluktuasi pada periode tahun 2018 hingga tahun 2022. Kemudian, hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan secara simultan produksi padi, harga gabah, inflasi, tingkat suku bunga, dan HET pupuk bersubsdidi berpengaruh signifikan terhadap nilai tukar petani (NTP) padi. Sedangkan, secara parsial pada taraf α = 0,05 produksi padi, harga gabah, inflasi, dan tingkat suku bunga berpengaruh secara signifikan terhadap nilai tukar petani (NTP) padi sementara HET pupuk bersubsidi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap nilai tukar petani (NTP) padi.
Analisis Usaha Roti di Desa Pasayangan Utara Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar (Studi Kasus Usaha Roti Manis Shofi) Yafie Azmira; Sadik Ikhsan; Karimal Arum Shafriani
Frontier Agribisnis Vol 6, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i4.7873

Abstract

Usaha Roti Manis Shofi merupakan salah satu usaha yang bergerak di bidang industri makanan dengan hasil produksi berupa roti sobek yang berada di Martapura dan usaha tersebut dirintis pada tahun 2005. Tujuan penelitian yaitu untuk menganalisis biaya, penerimaan, keuntungan, kelayakan usaha dan laporan keuangan laba rugi pada usaha Roti Manis Shofi. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan sumber data yaitu data primer dan sekunder. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Mei 2022 sampai Oktober 2022. Data yang digunakan dalam penelitian ini dari bulan Juli 2021 sampai Juni 2022 selama satu tahun produksi. Berdasarkan hasil penelitian biaya total yang dikeluarkan oleh usaha Roti Manis Shofi selama satu tahun dari bulan Juli 2021-Juni 2022 sebesar Rp2.672.511.150 dengan biaya tetap yang sebesar Rp83.582.750 dan biaya variabel sebesar Rp2.588.928.400. Penerimaan yang diperoleh usaha Roti Manis Shofi sebesar Rp3.293.700.000 dan keuntungan yang diperoleh sebesar Rp621.188.850. Analisis kelayakan usaha Roti Manis Shofi menunjukkan bahwa RCR sebesar 1,23 yang artinya setiap pengeluaran biaya sebesar Rp1,00 maka penerimaan sebesar Rp1,23, RCR > 1 berarti usaha ini layak dijalankan. B/C Ratio sebesar 0,23 yang artinya setiap pengeluaran biaya sebesar Rp1,00 maka penerimaan sebesar Rp0,23, BCR > 0 berarti usaha ini layak dijalankan. ROI diperoleh sebesar 23%. Berdasarkan hasil analisis tersebut usaha Roti Manis Shofi menguntungkan serta layak dijalankan dan dikembangkan. Laporan laba rugi usaha Roti Manis Shofi selama satu tahun per 01 Juli 2021-31 Juni 2022 memperoleh laba bersih sebesar Rp621.188.850.
Kajian Usahatani Jamur Tiram Langgeng Kerso Jamur di Kelurahan Cempaka Kota Banjarbaru Ahmad Afriyadi Pratama; Sadik Ikhsan; Mira Yulianti
Frontier Agribisnis Vol 6, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i4.7870

Abstract

Budidaya jamur tiram merupakan salah satu usaha di bidang agribisnis yang memiliki peluang bisnis cukup besar. Langgeng Kerso Jamur ialah salah satu usaha budidaya jamur tiram milik Bapak Didi yang berada di Kelurahan Cempaka Kota Banjarbaru. Selama ini usahatani Langgeng Kerso Jamur belum melakukan pencatatan terhadap usaha yang dijalankan baik dari aspek biaya, penerimaan, pendapatan dan keuntungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi penyelenggaraan usaha jamur tiram pada usaha Langgeng Kerso Jamur, menganalisis besarnya biaya, penerimaan, pendapatan dan keuntungan pada usaha Langgeng Kerso Jamur, serta mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi pada usaha Langgeng Kerso Jamur di Kelurahan Cempaka Kota Banjarbaru. Berdasarkan hasil penelitian, penyelenggaraan usaha jamur tiram pada usaha Langgeng Kerso Jamur di Kelurahan Cempaka dimulai dari tahap pembuatan baglog jamur tiram, inokulasi dan inkubasi serta menyiapkan kumbung. Selanjutnya dilakukan proses pemeliharaan dan pemanenan selama 4 bulan. Total biaya yang dikeluarkan dalam usahatani jamur tiram selama satu kali masa produksi sebesar RP 11.209.883. Penerimaan usahatani jamur tiram selama satu kali masa produksi sebesar Rp 18.754.000, pendapatan yang diterima sebesar Rp 13.438.000 dan keuntungan bersih dalam satu kali masa produksi sebesar Rp 7.544.117. Permasalahan yang dihadapi selama melakukan usahatani jamur tiram yaitu pada keuntungan usaha yang terbilang kecil dalam usaha Langgeng Kerso Jamur, ini disebabkan ada beberapa baglog yang gagal tumbuh sehingga dapat mengurangi penerimaan jamur tiram. Kemudian pada saat inokulasi yang rentan terkontaminasi. inokulasi yang tidak teliti akan berakibat pada pertumbuhan jamur yang tidak maksimal atau lambat serta kualitas jamur tiram yang dihasilkan akan rendah. Selain itu juga pertumbuhan jamur dipengaruhi oleh hama pengganggu jamur tiram seperti gurem yang mengakibatkan pertumbuhan jamur tidak maksimal. Penyerangan hama gurem biasanya meningkat pada saat musim hujan.
ANALISIS PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Ike Dewi Yuliani; Sadik Ikhsan; Kamiliah Wilda
Frontier Agribisnis Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v8i1.12276

Abstract

Salah satu indikator yang digunakan sebagai dasar kebijakan untuk mengukur kesejahteraan petani di daerah pedesaan ialah Nilai Tukar Petani (NTP), Seiring berjalannya waktu, perubahan struktur perekonomian dari sektor pertanian ke industri mengakibatkan pendapatan petani lebih rendah, sehingga perubahan NTP lebih merugikan daripada menguntungkan petani. Disatu sisi, Kalimantan Selatan merupakan Provinsi yang masih mengandalkan perekonomiannya di sektor pertanian. Penelitian ini bertujuan menganalisis perkembangan dan menganalisis perbandingan antar NTP di subsektor tanaman pangan, peternakan, hortikultura, perikanan, dan perkebunan rakyat. Penelitian ini menggunakan data sekunder, meliputi data bulanan selama 10 tahun (2013 – 2022) yang terdiri dari data NTP, indeks harga yang diterima petani (It), dan indeks harga yang di bayar petani (ib). Berdasarkan hasil pada penelitian ini, perkembangan NTP subsektor yang mengalami defisit adalah subsektor tanaman pangan (98,8855) dan subsektor perkebunan rakyat (94,7985), sedangkan subsektor yang mengalami surplus adalah subsektor peternakan (106,351), subsektor perikanan (105,14017), dan subsektor tanaman hortikultura (104,386). Subsektor peternakan nyatanya memiliki rerata paling tinggi dari kelima subsektor di Kalimantan Selatan, sehingga tingkat kesejahteraannya meningkat atau lebih baik, berbeda dengan subsektor perkebunan rakyat yang memiliki rerata paling rendah sehingga tingkat kesejahteraannya menurun.
Analisis Finansial Usahatani Beberapa Jenis Varietas Padi Lokal di Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan Risna Nadiar; Sadik Ikhsan
AGRIDES: Jurnal Agribisnis Perdesaan Vol 2, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agrides.v2i2.21569

Abstract

This research was aimed to determine and to compare farm income and farm profit of some focal paddy varieties (Siam Rukut, Siam Mutiara and Siam unus)and to determine their feasibilities. The results showed that total cost for each variety was Rp 7,228,544 ha' Siam Rukut, RD 7,475,117 ha' Siam Mutiara, and Rp 6,881,529 ha' Siam Unus. Moreover, total revenue for each variety was Rp 14,340,934 ha' Siam Rukut, Rp 16,405,757 ha' Siam Mutiara, and Rp 14,956,400 ha' Siam Unus. Then, farm income was Rp 12,571,854 ha' Siam Rukut, Rp 14,526,345 ha' Siam Mutiara, and Rp 13,171,639 ha' Siam Unus, and farm profit was Rp 7,112,389 ha' Siam Rukut, Rp 8,930,640 ha' Siam Mutiara, and Rp 8,074,870 ha' Siam Unus. Statistically, all these three varieties had the same capacity in generati ng farm income. However, in term of money, Siam Mutiara generated the highest income compared to the others. In addition, paddy farm of these three varieties was feasible, in which Siam Mutiara variety had the highest RCR.
Analisis Kelayakan Usaha lndustri Tempe Skala Rumah Tangga di Kota Banjarbaru Fauziah Fauziah; Fardianah Mukhyar; Sadik Ikhsan
AGRIDES: Jurnal Agribisnis Perdesaan Vol 3, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agrides.v3i1.21586

Abstract

Tempe is largely consumed by the Indonesian and now become popular across the world. The tempe mdustry has absorb 50% of total soybean consumption in Indonesia. followed by tahu industry (40%) and other soybean based products The tempe consumption in Indonesia ts estimated as much as 6. 45 kg per year. Based these facts. the tempe industry is promising to be developed. Thus, the study is purposed: (1) to explore the tempe business been done on household scale, (2) to calculate the profit and value added of tempe business, and (3) to determine the feasibility of household scale tempe industry in Banjarbaru. By traditional means, the business spent average total cost as many as /DR 24.98 million per month and generated average profit /DR 2.02 million per month. Meanwhlfe, the value added was /DR 8. 19 million per month. The profit rate was 8 09%, higher the inflation level 2. 44%, which mean that the business is feasible.
Pengukuran Efisiensi Alokatif pada Usaha Pertanaman Kacang Tanah di Kecamatan Sambung Makmur, Kabupaten Banjar Sadik Ikhsan
AGRIDES: Jurnal Agribisnis Perdesaan Vol 2, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agrides.v2i3.21574

Abstract

The research aimed to examine allocative efficiency of available inputs or factor of production utilization in peanut farming in the Sub-district of Sambung Makmur, the Dictrict of Banjar, South Kalimantan using a Cobb-Douglas production function approach. The estimation of Cobb-Douglas production function was, however, carried out by applying procedures of principal component regression instead of well-known OLS regression due to multicollinearity problems. The results revealed that all inputs significantly influenced peanut production. Nevertheles, some inputs such as chemical pesticides and hired labour had negative elasticity of production indicated that those were over-utilized and, therefore, not consistent with maximizing profit. There were perhaps increasing pest attacks in the observed planting time so that farmers needed more pesticides to employ. Besides, farmers need more hired labour to substitute shortage of family labor. From statistical test of allocative efficiency indeces showed that land and fertilizer were allocatively efficient, whereas seeds and family labor were not yet due to under-utilized. In order to attain maximizing profit, it was suggested to increase the use of seeds and family labor. Less utilization of family labor was in fact consistent with more utilization of hired labor because the latter was needed to substitute lack of the former.
Analisis SWOT untuk Merumuskan Strategi Pengembangan Komoditas Karet di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah Sadik Ikhsan; Artahnan Aid
AGRIDES: Jurnal Agribisnis Perdesaan Vol 1, No 3 (2011)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agrides.v1i3.20361

Abstract

Research is aimed to formulate development strategies of rubber commodity which was reasonably determined as one of leading agricultural commodities in District of Pulang Pisau. Research was done from March to August 2010. The strategies was formulated by SWOT (Strenghts, Weaknesses, Opportunities, and Threads) analysis. The important internal points represented strenghts and weaknesses as well as the points from external environment wellknown as opportunities and threats which considerably influenced existence and deveopment of rubber commodity were listed orderly in internal strategic factor analysis summary (IFAS) matrix and external strategic factor analysis summary (EFAS) matrix. The result showed that total value of the internal strategic was 6.13, and total value of the external strategic was 5.97. It concluded that rubber commodity had strategic position to be continually developed. Some of strategic measure proposed need to be implemented such as: intensification, extensification, replanting with highyielded clone, properly preparing production inputs, improving farmers’ access to financial institution, maintaining existence land for rubber, as well as maintaining and developing infrastructure to lead better market access.
Penerapan Regresi Kuadrat Terkecil Berbatas pada Pendugaan Fungsi Produksi Cobb-Douglas Sadik Ikhsan; Pahriana Rahmawati
AGRIDES: Jurnal Agribisnis Perdesaan Vol 2, No 4 (2012)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agrides.v2i4.21575

Abstract

This research aimed to estimate and analyse Cobb-Doglas production function of paddy farming and to evaluate return to scale of production, as well as to apply least square regression restricted by constant return to scale (CRTS) assumption. The results of estimation and analysis by unrestricted least square regression was statistically unsatisfactory. Some factors of production i.e. chemical and organic fertilizer as well as chemical pesticide were not significant. Moreover, chemical pesticide had negative elasticity of production which was implied negative marginal product and, thereby, meaning  that  the factor of production was overutilized and had negative effect to paddy production. Introducing restriction of CRTS assumption to  Cobb-Doglas production function had considerably improved the results in three things. Firstly, the existence of restriction was significant so that it was no doubt about the restriction. Secondly, all factors of production were exhibited statistically significant meaning that they had important influences to paddy production. Thirdly, the elasticity of production of all factors of production were positive and less than one. It implied that the utilizing of those factors of production were in the stage II of neoclassical production function where it was more favourable choice to operate the production operation in terms of profit maximization.
Penanganan Masalah Multikolinearitas dalam Pendugaan dan Analisis Fungsi Produksi Usahatani Padi di Kabupaten Hulu Sungai Utara dengan Menggunakan Prosedur Regresi Komponen Utama Sadik Ikhsan
AGRIDES: Jurnal Agribisnis Perdesaan Vol 1, No 4 (2011)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agrides.v1i4.20368

Abstract

The fact that ordinary least square (OLS) regression analysis of production function is constrained by multicolinearity problem is evident. The multicolinearity inherently exists because in production process certain factors of production are used in relatively fixed proportion. The existence of multicolinearity causes such consequences as the estimation of unknown regression parameters be relatively imprecise and t test leading to the conclusion that parameter values are not significantly different from zero. This study aimed to apply the principal component regression procedure as an alternative way to solve multicollinearity problem on the OLS regression analysis of production function. By the principal component regression, it was found that production factor of land, seed, fertilizer as well as family and hired labour significantly influenced the rice production. The elasticity of production of those factors showed their existance was in the region II of production curve. It suggested that the quantity use of those factors should be increased to get a maximum production of rice. Meanwhile, the quantity of chemical pesticide should be decreasingly used because of overutilization. This fact showed by its elasticity of production which was negative so that it was located in the region III of production curve.