Bencana Lumpur Sidoarjo (LUSI) yang berlangsung sejak 2006 menghasilkan tanggul penahan sepanjang ±11 km. Tanggul bagian utara, khususnya segmen P74 dan P75, menunjukkan tingkat deformasi lebih tinggi dibanding segmen lain, disertai kondisi tanah dasar yang sangat lunak (N-SPT = 0–3 pada kedalaman 13–20 m) dan tekanan air pori yang tinggi. Penelitian ini menganalisis stabilitas kedua segmen menggunakan pendekatan ganda: Metode Keseimbangan Batas (LEM) dengan prosedur Bishop dan Morgenstern-Price melalui SLOPE/W, serta Metode Elemen Hingga (FEM) dengan analisis tegangan-deformasi statik melalui SIGMA/W dan respons dinamis gempa melalui QUAKE/W. Empat skenario ketinggian lumpur dievaluasi (Eksisting, Full Air, Lumpur 33%, Lumpur 67%) pada kondisi statik maupun gempa MDE (PGA = 0,48g, diskalakan dari rekaman Gempa Lombok Timur 2018). Hasil analisis kondisi statik menunjukkan seluruh skenario memenuhi SNI 8064:2016 (FK minimum 1,5) dengan rentang FK 1,546–3,021. Pada kondisi gempa MDE, hanya skenario Eksisting P74 yang mendekati batas minimum FK = 1,2, sementara skenario Full Air sangat kritis (FK serendah 0,742 untuk LEM dan 0,885 untuk FEM). Deformasi permanen pascagempa mencapai 50–53 cm pada skenario kritis, melampaui batas aman 50 cm. Validasi silang antara LEM dan FEM menunjukkan deviasi rata-rata hanya 4,2%. Tiga zona kritis teridentifikasi, dan protokol operasional empat tingkat berbasis ambang FK kuantitatif direkomendasikan.