Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Hubungan Kadar 25(OH)D3 dengan Lingkar Betis Pada Kelompok Lanjut Usia di Panti Santa Anna: Studi Potong-Lintang Santoso, Alexander Halim; Lontoh, Susi Olivia; Firmansyah, Yohanes; Yogie, Giovanno Sebastian; Goh, Daniel; Syarifah, Andini Ghina; Teguh, Stanislas Kotska Marvel Mayello; Khoto, Anthon Eka Prayoga
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 7 (2024): Volume 6 Nomor 7 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i7.13124

Abstract

ABSTRACT The research on vitamin D is still developing until its role in the immune system, the absorption of phosphate from the intestine, and preventing its excretion in the kidneys are known. The prevalence of low levels of vitamin D is high, and recently, it was discovered that there was a relationship between vitamin D deficiency and the incidence of sarcopenia in the elderly. Determining vitamin D levels and the incidence of sarcopenia in the elderly at the Santa Anna Nursing Home. This study was an analytical study with a cross-sectional design conducted on elderly residents of the Santa Anna Nursing Home in July 2023 to assess vitamin D levels and calf circumference to assess sarcopenia. The data obtained were analyzed using Mann-Whitney. Result Of the 32 respondents, the average age was 72.66 years, and 22 (68.7%) respondents were women. It was found that 30 (93.8%) respondents experienced vitamin D deficiency, and 15 (46.9%) respondents experienced sarcopenia. The results of statistical tests showed that there was no difference in the mean levels of vitamin D between the sarcopenic and non-sarcopenic groups. However, the group of patients with sarcopenia had vitamin D levels that tended to be lower compared to the group without sarcopenia (18 vs. 21 ng/mL; MR 15.50 vs. 17.38). There was no statistically significant difference in mean vitamin D levels between the groups with and without sarcopenia. However, there is a tendency for groups of patients with sarcopenia to have vitamin D levels that tend to be lower than those in groups without sarcopenia. Keywords: Vitamin D, Sarcopenia, Elderly  ABSTRAK Hingga saat ini, penelitian terhadap vitamin D terus berkembang hingga diketahui perannya dalam sistem imun, absorpsi fosfat dari usus dan mencegah terekskresinya pada ginjal. Tingginya prevalensi kurangnya kadar vitamin D dan baru-baru ini, diketahui ada hubungan defisiensi vitamin D dengan kejadian sarkopenia pada lansia. Mengetahui kadar vitamin D dengan kejadian sarkopenia pada lansia di Panti Werda Santa Anna. Penelitian ini adalah analitik dengan desain potong lintang yang dilakukan pada lansia penghuni Panti Werdha Santa Anna pada Juli 2023 untuk menilai kadar vitamin D dan lingkar betis untuk menilai sarkopenia. Data yang didapat kemunian dianalisis menggunakan Mann-Whitney. Didapat 32 responden dengan rerata usia 72,66 tahun dan sebanyak 22 (68,7%) responden adalah perempuan. Didapat 30 (93,8%) responden mengalami defisiensi vitamin D dan 15 (46,9%) responden mengalami sarkopenia. Hasil uji statistic didapat hasil tidak terdapat perbedaan rerata kadar vitamin D antara kelompok sarkopenia dan tidak. Namun dapat terlihat bahwa kelompok pasien dengan sarkopenia memiliki kadar vitamin D yang cenderung lebih rendah dibandingan dengan kelompok tanpa sarkopenia (18 vs 21 ng/mL; MR 15,50 vs 17,38). Tidak terdapat perbedaan rerata kadar vitamin D yang bermakna secara statistik antara kelompok dengan atau tanpa sarkopenia. Namun terdapat kecenderungan kelompok pasien dengan sarkopenia memiliki kadar vitamin D yang cenderung lebih rendah dibandingan dengan kelompok tanpa sarkopenia. Kata Kunci: Vitamin D, Sarkopenia, Lanjut Usia
Deteksi Dini Risiko Hiperurisemia melalui Edukasi dan Pemeriksaan Asam Urat di Kota Bambu, Jakarta Sony, Yulfitra; Goh, Daniel; Jabbar, Abrar Abdul; Umar Alwini, Muhammad Rifat; Santoso, Alexander Halim
Jurnal Pengabdian West Science Vol 4 No 12 (2025): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpws.v4i12.2928

Abstract

Asam urat merupakan produk akhir metabolisme purin yang dapat meningkat pada kondisi hiperurisemia, suatu faktor risiko penting untuk gout, penyakit ginjal kronis, sindrom metabolik, serta komplikasi kardiovaskular. Hiperurisemia sering kali tidak bergejala pada tahap awal, sehingga pemeriksaan kadar asam urat menjadi langkah penting dalam deteksi dini gangguan metabolik di masyarakat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Kelurahan Kota Bambu, Jakarta Barat, pada Juni 2025 dengan tujuan meningkatkan kesadaran dan melakukan skrining sederhana kadar asam urat. Metode kegiatan menggunakan pendekatan Plan–Do–Check–Act (PDCA) yang mencakup edukasi kesehatan, pemeriksaan kadar asam urat melalui alat digital portabel, analisis hasil, serta konseling individual sesuai temuan. Sebanyak 168 peserta berpartisipasi, terdiri dari 54 laki-laki (32,1%) dan 114 perempuan (67,9%), dengan rata-rata usia 49,1 tahun (rentang 9–96 tahun). Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar asam urat rata-rata 4,25 mg/dL, dengan hampir seluruh peserta berada pada kategori normal, sementara hanya sebagian kecil yang teridentifikasi mengalami hiperurisemia. Temuan ini menegaskan bahwa meskipun kondisi masyarakat secara umum masih baik, keberadaan kelompok kecil dengan hiperurisemia tetap memerlukan perhatian serius. Edukasi mengenai pola hidup sehat, pemeriksaan berkala, serta tindak lanjut medis bagi kelompok berisiko diharapkan mampu mencegah komplikasi jangka panjang.
Edukasi dan Skrining Kardiomegali melalui Foto Polos Toraks di Kelurahan Kota Bambu, Jakarta Barat Ruslim, Daniel; Goh, Daniel; Enike, Syilvia Cendy; Khoto, Anthon Eka Prayoga; Santoso, Alexander Halim
Jurnal Pengabdian West Science Vol 4 No 12 (2025): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpws.v4i12.2929

Abstract

Kardiomegali merupakan tanda radiologis penting yang mencerminkan adanya perubahan struktural jantung akibat berbagai faktor risiko kardiovaskular. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kesehatan jantung sekaligus melakukan skrining kardiomegali melalui pemeriksaan foto polos toraks. Kegiatan dilaksanakan di Kelurahan Kota Bambu, Jakarta Barat, pada Juni 2025 dengan melibatkan 168 peserta dari berbagai kelompok usia. Peserta mendapatkan edukasi mengenai faktor risiko dan pencegahan penyakit jantung, dilanjutkan pemeriksaan radiologi dengan analisis rasio kardiotorakal (Cardio Thoracic Ratio/CTR). Hasil pemeriksaan menunjukkan mayoritas peserta memiliki gambaran toraks normal, sementara 2,4% di antaranya teridentifikasi mengalami kardiomegali. Temuan ini menegaskan bahwa meskipun proporsi kelainan rendah, keberadaan kasus tetap perlu diperhatikan sebagai indikator awal risiko penyakit jantung. Edukasi interaktif dan skrining sederhana terbukti mampu meningkatkan kesadaran sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat perkotaan. Kegiatan ini merekomendasikan pemantauan kesehatan jantung secara berkala, terutama pada individu dengan faktor risiko metabolik dan usia lanjut. Dengan demikian, program serupa dapat menjadi strategi preventif berkelanjutan untuk menekan beban penyakit kardiovaskular dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
PERAN BCG SEBAGAI STANDAR EMAS PADA NON-MUSCLE INVASIVE BLADDER CANCER: TINJAUAN PUSTAKA BERBASIS BUKTI Goh, Daniel; Gracienne; Soni, Yulfitra; Firmansyah, Yohanes; Kartika, Ronald Winardi; Gosal, Darren
Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteran Vol 4 (2026): Edisi 2026
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Kanker kandung kemih non-muscle invasive bladder cancer (NMIBC) tetap menjadi masalah kesehatan global dengan angka rekurensi dan progresi yang tinggi. Terapi intravesikal Bacillus Calmette–Guérin (BCG) telah lama menjadi standar emas, namun respons klinis yang bervariasi, toksisitas, dan kelangkaan BCG menimbulkan tantangan dalam praktik klinis. Tujuan: Tinjauan ini merangkum bukti ilmiah mengenai efektivitas, prediktor respons, toksisitas, alternatif terapi, dan pendekatan molekuler terkini pada penggunaan BCG intravesikal untuk NMIBC. Metode: Pencarian sistematis dilakukan pada PubMed menggunakan kombinasi kata kunci dan MeSH terkait “BCG therapy” dan “NMIBC”. Kriteria inklusi mencakup RCT, kohort, meta-analisis, dan guideline dalam 20 tahun terakhir. Total 1.284 artikel disaring melalui evaluasi judul, abstrak, dan full-text hingga diperoleh 54 studi yang memenuhi syarat. Hasil: BCG menurunkan rekurensi hingga 40–60% dan progresi 27–48%, terutama dengan maintenance ≥1 tahun. Variasi respons dipengaruhi biomarker inflamasi (NLR, SII, MPVL), ekspresi PD-L1, dan aktivasi trained immunity. Terapi alternatif seperti gemcitabine–docetaxel, pembrolizumab, nadofaragene firadenovec, oncolytic virus, dan device-assisted therapy menunjukkan hasil menjanjikan pada pasien BCG-unresponsive. Efek samping muncul pada >60% pasien, namun umumnya ringan–sedang. Kesimpulan: BCG tetap merupakan terapi utama dari NMIBC, namun personalisasi berbasis biomarker, optimalisasi regimen maintenance, dan integrasi imunoterapi baru diperlukan untuk meningkatkan outcome jangka panjang.
Hubungan Antara Kadar GDP, HBA1C, Insulin Puasa, Obesitas, dan Kondisi Kelemahan Otot terhadap Risiko Infeksi Saluran Kemih pada Kelompok Lanjut Usia S., Donatila Mano; Ernawati, Ernawati; Santoso, Alexander Halim; Destra, Edwin; Gunaidi, Farell Christian; Goh, Daniel; Kusuma, Kanaya Fide
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 2 (2026): Volume 6 Nomor 2 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i2.20717

Abstract

ABSTRACT Urinary tract infection (UTI) is a common disease among the elderly, especially in nursing homes. Knowing the individual risk factors that impact the incidence of UTIs is essential for the development of prevention strategies. This study aims to identify the relationship between fasting blood sugar (FBG), HbA1c, fasting insulin levels, upper arm circumference (MUAC), and calf circumference (CC) on the incidence of UTIs in the elderly group conducted at Bina Bhakti Nursing Home in 2024. A cross-sectional study was conducted using a total sampling method. UTI diagnosis was based on urinalysis findings of positive leukocytes, nitrites, or leukocyte esterase. HbA1c, fasting blood glucose, and insulin levels were measured from venous blood samples and analyzed in a laboratory. MUAC and calf circumference were measured using a measuring tape. Statistical analysis included descriptive statistics, and regression analysis was performed to evaluate the relationship between numerical variables. The study involved 93 respondents with an average age distribution of 74.19 years (61-97 years) and the majority were female (82.8%). Diagnosis of UTI was based on urine examination with findings of positive leukocytes, positive nitrite, or positive leukocyte esterase. The average HbA1c value of the respondents was 7.59% which was predominantly moderate as many as 52 respondents (55.9%), the average MUAC value was 23.61 cm, and the calf circumference was 28.72 cm. Most respondents had optimal insulin levels (mean 4.83 ng/mL) and normal FBG values (mean 86.54 mg/dL). Regression analysis showed a significant correlation (p0.05) between age and HbA1c values with the incidence of UTI. However, no significant correlation was found between gender, FBG, fasting insulin levels, MUAC, and calf circumference with the incidence of UTI. The results of this study conclude that increasing age and HbA1c values correlate with an increase in the incidence of UTIs in the elderly. Further research is needed to better understand the causal relationship between these factors and the incidence of UTI in nursing homes. Keywords: Calf Circumference, Fasting Blood Sugar, HbA1c, Nursing Home, Upper Arm Circumference, Urinary Tract Infection.  ABSTRAK Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan penyakit yang umum terjadi pada kelompok lanjut usia, terutama di lingkungan panti werdha. Mengetahui faktor risiko individu yang berdampak terhadap kejadian ISK sangat penting untuk pengembangan strategi pencegahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara kadar gula darah puasa (GDP), HbA1c, kadar insulin puasa, lingkar lengan atas (LiLA), serta lingkar betis terhadap kejadian ISK pada kelompok lanjut usia yang dilakukan di Panti Werdha Bina Bhakti pada tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan metode pengambilan sampel total. Diagnosa ISK ditegakkan berdasarkan pemeriksaan urin dengan temuan leukosit positif, nitrit positif, atau leukosit esterase positif. Kadar HbA1c, gula darah puasa, dan insulin diukur melalui pengambilan darah vena dan diperiksa di laboratorium. Lingkar lengan atas dan lingkar betis diukur menggunakan pita pengukur. Analisis statistic mencakup penyajian deskriptif dan analisis regresi diterapkan untuk mengevaluasi hubungan antara variabel numerik. Penelitian ini melibatkan 93 responden dengan distribusi usia rata-rata 74,19 tahun (61-97 tahun) dan mayoritas berjenis kelamin perempuan (82,8%). Rata-rata nilai HbA1c responden adalah 7,59% yang didominasi derajat sedang sebanyak 52 responden (55,9%), Rata-rata nilai LiLA sebesar 23,61 cm dan lingkar betis sebesar 28,72 cm. Sebagian besar responden memiliki kadar insulin yang optimal (rata-rata 4,83 ng/mL) dan nilai GDP yang normal (rata-rata 86,54 mg/dL). Analisis regresi menunjukkan adanya korelasi signifikan (P0,05) antara usia dan nilai HbA1c dengan kejadian ISK. Namun, tidak ditemukan korelasi signifikan antara jenis kelamin, GDP, kadar insulin puasa, LiLA, dan lingkar betis dengan kejadian ISK. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan usia dan nilai HbA1c berkorelasi dengan peningkatan kejadian ISK pada lansia. Penelitian lanjutan diperlukan untuk memahami lebih dalam hubungan kausal antara faktor-faktor tersebut dengan kejadian ISK di panti werdha. Kata Kunci: Gula Darah Puasa, HbA1c, Infeksi Saluran Kemih, Lingkar Betis, Lingkar Lengan Atas, Panti Werdha.
Skrining dan Edukasi Status Gizi melalui Pengukuran Lingkar Tubuh dan Lemak Subkutis di Kelurahan Kota Bambu, Jakarta Barat: Nutritional Status Screening and Education through Body Circumference and Subcutaneous Fat Measurement in Kota Bambu Subdistrict, West Jakarta Limas, Peter Ian; Santoso, Alexander; Goh, Daniel; Mahendri, Ryan Daffano Putra; Philo, Andrew
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bunda Delima Vol 5 No 1 (2026): EDISI FEBRUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jpmbd.v5i1.114

Abstract

Pendahuluan: Status gizi merupakan faktor penting dalam menentukan kesehatan masyarakat karena berhubungan erat dengan risiko penyakit metabolik dan kardiovaskular. Namun, penilaian status gizi sering kali hanya terbatas pada indeks massa tubuh (IMT), padahal distribusi lemak tubuh juga berperan besar dalam menentukan risiko kesehatan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan kesadaran sekaligus melakukan skrining status gizi melalui pengukuran antropometri sederhana. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada Juni 2025 di Kelurahan Kota Bambu, Jakarta Barat, dengan melibatkan 168 peserta dari berbagai kelompok usia. Kegiatan ini menggunakan pendekatan Plan-Do-Check-Act (PDCA) yang mencakup edukasi kesehatan, pemeriksaan lingkar tubuh (perut, panggul, leher, lengan atas, dan betis), serta pengukuran tebal lemak bawah kulit menggunakan kaliper pada delapan titik tubuh. Hasil: Berdasarkan hasil pemeriksaan didapatkan rata-rata lingkar perut 89,21 cm, panggul 98,93 cm, dan rasio pinggang-panggul 0,90, dengan variasi ketebalan lemak subkutis pada biseps, trisep, suprailiaka, dan skapula. Histogram distribusi memperlihatkan pola lingkar tubuh yang relatif normal, namun tebal lemak bawah kulit menunjukkan sebaran lebih lebar dengan outlier pada nilai tinggi. Kesimpulan: Temuan ini menegaskan pentingnya pengukuran antropometri menyeluruh sebagai langkah deteksi dini risiko metabolik. Skrining berbasis antropometri sederhana dapat diintegrasikan dalam program komunitas sebagai upaya preventif sekaligus mendorong penerapan pola hidup sehat.
Skrining dan Edukasi Depresi, Kecemasan dan Stres (DASS-42) pada Masyarakat Kota Bambu: Screening and Education on Depression, Anxiety, and Stress (DASS-42) in the Bambu City Community Biromo, Anastasia Ratnawati; Santoso, Alexander Halim; Goh, Daniel; Gracienne; Dinali, Diana; Aziel, Disya Gwyneth
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bunda Delima Vol 5 No 1 (2026): EDISI FEBRUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jpmbd.v5i1.115

Abstract

Pendahuluan: Kesehatan mental merupakan bagian penting dalam kesejahteraan individu, namun kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini gangguan mental masih rendah dan stigma terhadap gangguan mental tinggi. Kota Bambu sebagai wilayah perkotaan memiliki risiko paparan terhadap tantangan lingkungan, sosial, dan ekonomi yang berpotensi meningkatkan risiko gangguan mental. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan melakukan penapisan/skrining depresi, kecemasan,dan stres menggunakan instrumen Depression Anxiety Stress Scale-42 (DASS-42) dan edukasi. Kegiatan dilaksanakan pada Juni 2025 dengan melibatkan 168 peserta dari berbagai kelompok usia. Metode yang digunakan berupa pendekatan Plan-Do-Check-Act (PDCA) yang mencakup perencanaan, edukasi interaktif, skrining, analisis hasil, hingga tindak lanjut. Hasil skrining menunjukkan masih ada 16,1% peserta dengan kecemasan sedang dan 3% peserta dengan kecemasan sangat berat. Proporsi kecil depresi dan stres juga ditemukan pada berbagai tingkat keparahan. Kesimpulan: Dari hasil ini menggambarkan bahwa kecemasan masih ditemukan pada populasi perkotaan. Depresi dan stres juga tetap harus menjadi perhatian karena dapat mempengaruhi kualitas hidup dan produktivitas masyarakat. Edukasi terbukti dapat meningkatkan pemahaman masyarakat, sementara DASS-42 efektif sebagai instrumen deteksi dini. Implikasi kegiatan ini adalah perlunya skrining rutin, edukasi berkelanjutan, dan potensi integrasi dengan program Puskesmas.
Skrining dan Edukasi Kesehatan Metabolik melalui Pemeriksaan Profil Lipid pada Masyarakat Kelurahan Kota Bambu, Jakarta Barat: Metabolic Health Screening and Education through Lipid Profile Testing in the Bambu Village Community, West Jakarta Sari, Triyana; Santoso, Alexander Halim; Goh, Daniel; Alvianto, Fidelia; Enike, Syilvia Cendy
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bunda Delima Vol 5 No 1 (2026): EDISI FEBRUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jpmbd.v5i1.117

Abstract

Introduction: Lipid profile is an essential parameter in assessing metabolic health and cardiovascular risk. Total cholesterol, high-density lipoprotein (HDL), and low-density lipoprotein (LDL) are the main components used to evaluate lipid metabolism balance, which is often disrupted in urban populations. This community service activity aimed to increase public awareness of metabolic health through education and simple screening of lipid profiles. Method: The program was conducted in Kelurahan Kota Bambu, West Jakarta, in June 2025, involving 168 participants across various age groups. Lipid profile measurements were performed using the Nesco BL-101 5in1 Lipid Panel Monitoring System, and interactive educational sessions were provided to promote healthy diet and dyslipidemia prevention. Results: The results showed that the average total cholesterol level was 208.24 mg/dL, HDL was 51.15 mg/dL, and LDL was 122.11 mg/dL. Classification revealed that most participants had high total cholesterol and LDL levels, while the majority of HDL levels were within the low category. These findings highlight a significant cardiovascular risk among urban communities. Conclusion: This activity emphasizes that simple lipid profile screening can serve as an effective early detection tool while simultaneously providing a basis for targeted education to prevent cardiovascular disease.
Peningkatan Kesadaran Mengenai Anemia melalui Edukasi dan Skrining Hemoglobin serta Hematokrit di Kelurahan Kota Bambu, Jakarta: Enhancing Anemia Awareness through Education and Screening of Hemoglobin and Hematocrit in Kelurahan Kota Bambu, Jakarta Hidayat, Fadil; Santoso, Alexander Halim; Goh, Daniel; Waltoni, Bobby Marshel Ancheloti; Soebrata, Linginda
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bunda Delima Vol 5 No 1 (2026): EDISI FEBRUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jpmbd.v5i1.118

Abstract

Pendahuluan: Anemia merupakan masalah kesehatan global yang berdampak pada kualitas hidup, produktivitas, serta risiko morbiditas dan mortalitas. Pemeriksaan hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Ht) merupakan metode sederhana yang dapat digunakan untuk deteksi dini anemia di tingkat komunitas. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap anemia sekaligus memperoleh gambaran status hematologi masyarakat perkotaan. Metode: Kegiatan dilaksanakan di Kelurahan Kota Bambu, Jakarta Barat, pada bulan Juni 2025, dengan melibatkan 168 peserta. Pelaksanaan menggunakan pendekatan Plan–Do–Check–Act (PDCA), meliputi edukasi mengenai anemia dan pemeriksaan Hb serta Ht melalui analisis laboratorium. Hasil: Hasil pemeriksaan menunjukkan rata-rata kadar hemoglobin sebesar 11,2 g/dL dan hematokrit 32,8%, dengan distribusi nilai yang cukup luas. Berdasarkan klasifikasi, sebagian besar peserta termasuk dalam kategori anemia, sementara sisanya berada dalam kategori normal. Temuan ini menegaskan bahwa anemia merupakan masalah nyata di masyarakat perkotaan yang perlu mendapat perhatian khusus. Kesimpulan: Pemeriksaan Hb dan Ht sederhana dapat menjadi sarana efektif dalam skrining komunitas untuk mendeteksi kelompok berisiko, sekaligus menjadi dasar intervensi promotif dan preventif yang lebih terarah.
Optimalisasi Kesehatan Kulit melalui Edukasi dan Deteksi Dini Gula Darah Sewaktu, HbA1c, dan Hidrasi Kulit di Kota Bambu, Jakarta: Optimizing Skin Health through Education and Early Detection of Random Blood Glucose, HbA1c, and Hydration in Kelurahan Kota Bambu, Jakarta Yudhitiara, Novia; Santoso, Alexander Halim; Goh, Daniel; Bachri, Fiqi Afrizal; Ramadhani, Kenzie Rafif
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bunda Delima Vol 5 No 1 (2026): EDISI FEBRUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jpmbd.v5i1.119

Abstract

Pendahuluan: Kesehatan metabolik memiliki kaitan erat dengan kondisi kulit, khususnya melalui pengaruh kadar gula darah sewaktu (GDS) dan hemoglobin A1c (HbA1c) terhadap hidrasi kulit. Gangguan metabolik kronis, seperti hiperglikemia, dapat mempercepat proses kerusakan kolagen dan elastin sehingga berdampak pada penurunan kelembapan serta fungsi protektif kulit. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya deteksi dini gangguan metabolik dan kaitannya dengan kesehatan kulit. Metode: Kegiatan dilaksanakan di Kelurahan Kota Bambu, Jakarta Barat, pada bulan Juni 2025 dengan melibatkan 168 peserta dari berbagai kelompok usia. Edukasi interaktif diberikan terkait manajemen gula darah dan perawatan kulit, dilanjutkan dengan pemeriksaan GDS menggunakan glucometer portabel, HbA1c melalui analisis laboratorium, serta hidrasi kulit dengan hidrometer digital. Hasil: Hasil pemeriksaan menunjukkan rata-rata GDS sebesar 98,29 mg/dL dan HbA1c 4,58%, keduanya masih dalam kategori normal pada sebagian besar peserta. Sementara itu, rata-rata hidrasi kulit adalah 58,71%, dengan distribusi terbanyak pada kategori lembab dan sedikit lembab. Temuan ini menunjukkan bahwa kontrol metabolik yang baik berhubungan dengan kondisi hidrasi kulit yang relatif terjaga. Kegiatan ini menegaskan pentingnya skrining terpadu yang menghubungkan aspek metabolik dengan kesehatan kulit. Kesimpulan: Upaya promotif dan preventif melalui edukasi, pemeriksaan sederhana, serta tindak lanjut berbasis komunitas diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat perkotaan