Claim Missing Document
Check
Articles

Business Feasibility Analysis Herbaldrink NU NanoFit: Peluang dan Tantangan di Pasar Minuman Kesehatan Romdloni, Muhmmad Afwan; Andini, Ary; Mardhotillah, Rachma Rizqina; Khusnah, Hidayatul; Putri, Endah Budi Permana; Santoso, Andreas Putro Ragil; Nidianti, Ersalina; Prayekti, Endah; Lukiyono, Yauwan Tobing
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 2 (2025): Mei - Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i2.524

Abstract

Analisis kelayakan usaha ini dilakukan sebagai upaya untuk menentukan potensi kelayakan suatu produk yang dikembangkan oleh industri, baik berskala besar maupun industri rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung dan menilai kelayakan usaha dari produk minuman herbal NU NanoFit yang diproduksi oleh Program Studi D-IV Analis Kesehatan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA). Produk ini merupakan inovasi minuman herbal yang berfungsi sebagai imunomodulator serta membantu melancarkan sistem pencernaan. Proses analisis kelayakan dilakukan melalui dua tahap utama, yaitu uji laboratorium untuk memastikan kualitas produk dan uji kelayakan pasar melalui penyebaran kuesioner guna mengukur minat konsumen serta menentukan segmentasi pasar yang tepat. Hasil uji sitotoksisitas menunjukkan bahwa formulasi produk ini aman untuk dikonsumsi, dengan nilai LC₅₀ > 1000 ppm, yang mengindikasikan bahwa produk tidak bersifat toksik bagi tubuh. Berdasarkan hasil analisis terhadap 106 responden, diketahui bahwa minat masyarakat terhadap produk ini cukup tinggi, dengan 39,6% responden menyatakan tertarik hingga sangat tertarik. Selain itu, mayoritas responden (60,4%) memilih rentang harga jual antara Rp5.000 hingga Rp10.000. Temuan ini menunjukkan bahwa produk NanoFit memiliki prospek yang menjanjikan untuk dikembangkan secara komersial dalam pasar minuman kesehatan berbasis herbal.
Effect Of Candida Albicans Cell Concentration On Dna Isolation Results Using Modified Alkaline Lysis Method Endah Prayekti; Nada Mufarrohah
TEKNOLOGI MEDIS DAN JURNAL KESEHATAN UMUM Vol 9 No 2 (2025): Medical Technology and Public Health Journal September 2025
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33086/mtphj.v9i2.7328

Abstract

Candida albicans is one of the leading causes of morbidity and mortality in various countries, with the prevalence of infection reaching 17,640 cases with an average incidence of 1.5 million people, causing more than one billion people, and the adverse effects of fungal infections can threaten >1.6 million lives. This study aimed to determine the effect of Candida albicans cell concentration on DNA isolation results. The method used was the modified Alkaline lysis using cell cultures with concentrations of 10⁸, 10⁹, and 10⁰ cells/mL. The results showed that the growth curve of the sample showed an increase in cell concentration directly proportional to the absorbance of the UV-Vis spectrophotometer results. Cell suspensions in SDB media were incubated for 2-3 days, then the absorbance was measured, resulting in a value of 5.307 nm after multiplying the dilution factor. The results of Candida albicans DNA isolation were visualized using 2% agarose gel electrophoresis, with no DNA bands found in all samples and negative results. In contrast, smear bands appeared in positive controls. Analysis using a Nanodrop spectrophotometer showed the purity of DNA isolates at concentrations of 10⁸ and 10⁹ < 1.8, while at 10¹⁰ it was 1.82. The average DNA concentration obtained was < 100 ng/µL. Based on the results of statistical tests, it can be concluded that the p-value <0.05 indicates the effect of cell concentration on the results of DNA isolation using the modified Alkaline lysis method. Keywords: Cell concentration, Candida albicans, Alkaline lysis, DNA isolation
PEMBERIAN EDUKASI TENTANG PEMANFAATAN DAUN BROTOWALI (TINOSPORA CARDIFOLIA) SEBAGAI AGEN HERBAL YANG MENCEGAH PENINGKATAN KADAR GLUKOSA DARAH Riza, Mochamad Faishal; Puspitasari, Mia; Prayekti, Endah; Fristiyanti, Regina Ayu; Matin, Nur Sophia; Yuliana, Yuliana; Yuwono, Asma' Denaya Psari
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2024): Vol. 5 No. 6 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i6.37408

Abstract

Diabetes Melitus (DM) dikenal sebagai "Mother of All Diseases" atau Ibu Segala Penyakit karena kemampuannya dalam memicu timbulnya berbagai penyakit. Pemantauan kenormalan kadar glukosa dan tindakan pencegahan terhadap peningkatan kondisi hiperglikemia merupakan salah satu komponen penting dalam penatalaksanaan dan pengobatan. Daun brotowali merupakan salah satu tanaman herbal yang memiliki potensi dan khasiat dalam mencegah peningkatan kadar gula darah. Namun, pengetahuan tentang potensi daun brotowali masih tergolong rendah, termasuk di lingkungan Pondok Pesantren Zainudin Hasan Zainudin Genggong Probolinggo. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan tentang potensi pemanfaatan daun brotowali. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan melalui kegiatan edukasi dengan metode ceramah, diskusi, dan tanya jawab. Metode ini dipilih untuk meningkatkan antusiasme dan partisipasi aktif dari peserta kegiatan. Pengukuran tingkat pengetahuan dinilai menggunakan skor yang diperoleh dari pre-test dan post-test. Hasil pre-test dan post-test tentang pengetahuan pemanfaatan daun brotowali untuk mencegah kenaikan gula darah melalui angket menunjukkan adanya peningkatan skor secara langsung pada peserta yang mengikuti kegiatan ini. Persentase peningkatan nilai rata-rata sebesar 0,21% meskipun hasil uji Paired T test menunjukkan nilai p sebesar 0,3003 (p < 0,05) artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pengetahuan peserta sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan. Merujuk pada hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberian edukasi dengan metode yang dipilih dapat meningkatkan pengetahuan peserta dan hal ini sejalan dengan target output yang telah ditetapkan oleh tim pengabdian masyarakat.
PENINGKATAN PENGETAHUAN DETEKSI MOLEKULER PADA TENAGA KESEHATAN MENGGUNAKAN METODE SEMINAR ONLINE Prayekti, Endah; Wulandari, Devyana Dyah; Andini, Ary; Nugraha, Gilang; Hermawati, Septina Isro’; Maghfuroh, Qonita Iklila; Mukarramah, Imraatul; Rahmawati, Lili Susan; Fauziah, Luqiana
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2024): Vol. 5 No. 6 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i6.37610

Abstract

Perkembangan teknologi biologi molekuler menjadi sebuah terobosan baru untuk mendeteksi sumber infeksi sehingga dapat membantu dalam proses diagnosis. Metode biologi molekuler mempunyai beberapa keunggulan diantaranya lebih sensitif, lebih spesifik, dan lebih cepat. Kelemahan yang harus dihadapai dari perubahan metoode deteksi ini adalah peningkatan kemampuan tenaga Kesehatan yang bergerak dibidang tersebut untuk mempermudah penguasaan teknologi. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan tenaga Kesehatan dalam diagnostic molekuler. Metode yang digunakan dalam mencapai tujuan adalah menggunakan seminar secara daring menggunakan platform zoom. Sasaran kegiatan adalah tenaga Kesehatan yang berkecimpung dilaboratorium pemeriksaan Kesehatan. Pengukuran keberhasilan kegiatan dilihat dengan hasil peserta dalam menjawab post test dan dinyatakan lulus pada laman Plataran Sehat. Peserta yang mengikuti kegiatan adalah sebanyak 185 orang, dan 157 orang dinyatakan lulus, 5 orang dinyatakan tidak lulus. Berdasarkan hasil kegiatan ini dapat disimpulkan kegiatan yang dilakukan secara online berhasil meningkatkan pengetahuan peserta
Pengujian Stabilitas Antibakteri Terhadap Staphylococcus aureus Dari Eksrak Etanol Umbi Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) Dengan Perlakuan Suhu Penyimpanan Prayekti, Endah; Prayoga, Mirshall Abiedama
BIOSAPPHIRE: Jurnal Biologi dan Diversitas Vol. 1 No. 2 (2022): BIOSAPPHIRE
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, UNIPAR JEMBER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31537/biosapphire.v1i2.690

Abstract

Bawang dayak merupakan salah satu tanaman yang biasanya digunakan sebagai obat tradisional di daerah Kalimantan. Bawang dayak diketahui mengandungan bebebrapa senayawa fitokimia seperti alkaloid, tanin, flavonoid dan glikosida yang dapat digunakan sebagai antibakteri. Penelitian ini dilakukan secara in-vitro dengan teknik kertas cakram (Kirby- Bauer) dengan menguji ekstrak umbi bawang dayak terhadap salah satu faktor fisik yaitu suhu penyimpanan. Pengujian kemampuan antibakteri dilakukan pada Staphylococcus aureus. Konsentrasi ekstrak bawang dayak yang digunakan dalam penelitian ini sebesar 40%. Suhu penyimpanan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 4oC, 20oC, dan 40oC . Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada suhu 4oC didapatkan diameter zona hambat dengan rata-rata 25,33 mm, pada suhu 20oC didapatkan diameter zona hambat dengan rata-rata 32,5 mm dan pada suhu 40oC didapatkan diameter zona hambat dengan rata-rata 29,83 mm. Hasil uji Kruskal Wallis didapatkan nilai signifikansi 0,00 yang berarti suhu berpengaruh terhadap stabilitas ekstrak etanol bawang dayak dalam menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus. Suhu penyimpanan yang paling optimal untuk menyimpan ekstrak umbi bawang dayak adalah pada suhu 20oC.
Improving Public and Environmental Health Through Rheumatoid Screening and Education on Environment Pathogenic Fungal Contamination Maat, Suprapto; Prayekti, Endah; Nugraha, Gilang; Ramadani, Vania Nur; Melindah, Winda; Mukarramah, Imraatul
Indonesia Berdaya Vol 7, No 1 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261411

Abstract

People working in agricultural environments with high humidity levels are at greater risk of exposure to pathogenic fungi, which can trigger infections of the skin, nails, and respiratory tract, especially in individuals with weakened immune systems. On the other hand, the elderly are vulnerable to health decline, including autoimmune diseases such as rheumatoid arthritis (RA), which can cause joint inflammation, tissue damage, and progressive disability. This community service activity aims to increase public knowledge about the dangers of pathogenic fungal contamination and to conduct early detection of RA through Rheumatoid Factor (RF) testing. Education was delivered interactively using lectures, discussions, and visual media, accompanied by pre- and post-tests, as well as RF testing using the latex agglutination method. This community service activity was attended by 33 participants. Results showed an increase in knowledge from 58% to 91% after the education, with all 33 RF test participants receiving non-reactive results. This program demonstrates that the combination of education and simple testing can increase public preventive awareness and is suitable for adaptation in other areas with similar risk characteristics.
Improving Public and Environmental Health Through Clean and Healthy Living Behavior Education and Bacterial Examination Prayekti, Endah; Santoso, Andreas Putro Ragil; Sunaryo, Merry; Indaryanti, Reski Novita; Rahmawati, Lili Susan; Kamelia, Dina
Indonesia Berdaya Vol 7, No 1 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261400

Abstract

A major problem frequently faced by the public is clean and healthy living behaviors (PHBS). According to the Indonesian Ministry of Health in 2014, health can be achieved by changing unhealthy behaviors into healthy ones and creating a health-supportive environment. Effective measures include handwashing with soap and environmental inspections. This activity aims to increase public awareness of the importance of clean and healthy living behavior (PHBS), while also introducing the dangers of microbiological contamination that can occur on hands and water. Community service activities are carried out through the stages of pre-test, education, post-test, sampling, and sample examination. Of the 34 respondents, the majority experienced a significant reduction in hand bacteria, with 21 showing a reduction in hand bacteria of more than 70% and some reaching 99–100%. Well water examinations at several public facilities for Pekingan village residents showed the presence of Coliform bacteria exceeding the safe limits according to the Ministry of Health Regulation, indicating that the water is not suitable for direct consumption due to possible contamination by domestic waste, septic tank seepage, or poor environmental sanitation. The conclusion of this Community Service activity is that there is an increase in respondents' understanding and an increase in their ability to practice proper handwashing. Water sanitation in public facilities needs to be considered and improved because it should not be used for consumption.
In Silico Detection of Antimicrobial Resistance and Virulence Genes in Methicillin Resistant Staphylococcus aureus Clinical Isolates: A Comparative Genomics Approach Hidayat, Muhammad Taufiq; Prayekti, Endah; Romdloni, Muhammad Afwan; Syah, Seggaf Achmad
BIOPENDIX: Jurnal Biologi, Pendidikan dan Terapan Vol 13 No 1 (2026): Biopendix: Jurnal Biologi, Pendidikan & Terapan
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Unpatti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/biopendixvol13issue1page7-13

Abstract

Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) remains a formidable threat in both community and healthcare settings, thanks to its ability to evade β-lactam antibiotics and accumulate resistance to multiple drug classes. Here, we sequenced and compared the genomes of 13 recent clinical MRSA isolates alongside two well-characterized reference strains (N315 and NCTC 8325). By applying the ResFinder and VirulenceFinder pipelines, we rapidly cataloged each strain’s antibiotic resistance and virulence repertoire. Every MRSA isolate carried the hallmark mecA gene, and most also harbored blaZ, which encodes penicillinase. Resistance determinants for aminoglycosides (aac(6′)-Ie-aph(2″), aph(3′)-III), macrolides (erm(C), mph(C)), and chloramphenicol (cat variants) appeared in various combinations across the collection. On the virulence side, genes for α- and γ-hemolysins (hla, hlgABC) were universal, and nearly all strains possessed phage-encoded immune-evasion factors (sak, scn). The total count of virulence genes ranged from ten to fourteen per genome, peaking in two particularly gene-rich isolates. Our findings highlight the genetic diversity of MRSA, where multidrug resistance and a broad toxin arsenal coexist. Moreover, this study underscores the speed and reliability of in silico screening tools for antimicrobial-resistance surveillance and comparative genomics. Future work should integrate laboratory assays and patient data to link these genomic profiles to clinical outcomes.
Co-Authors Akbar Reza Muhammad Akhmad, Nur Faradila Andini, Ary Andreas Putro Ragil Santoso, Andreas Putro Ragil Ardyarini Dyah Savitri Arsya Tazkiya Awaliyah, Arisma Putri Baihaqi, Muhammad Azhari Brina Thursina Dibiasi Devita Rahma Putri Devyana Dyah Wulandari dr Hartatiek Nila,Sp.OG Dwi Agustin Wulandari Elsya Octaviani Cantika Putri Endah Budi Permana Putri Ersalina Nidianti Eva Rosa Dwi Febrianti Evi Sylvia Awwalia Fadillah Triasmoro Fakurazi, Sharida Fauziah, Luqiana Fristiyanti, Regina Ayu Gilang Nugraha Hamiduumajid Ballihg Ballihgoo Hamiduumajid Ballihg Ballihgoo Hermawati, Septina Isro’ Hidayat, Muhammad Taufiq Husein Firdaus Ibrahim Dwi Waluyo Putra Indah Nur Kamaliyah Indaryanti, Reski Novita Junaedy, M Dwinanda Kamelia, Dina Kardina, Rizki Nurmalya Khusnah, Hidayatul Kifli, Nurolaini M Nasir Maat, Suprapto Maghfuroh, Qonita Iklila Mardhotillah, Rachma Rizqina Marinda Dwi Puspitarini Matin, Nur Sophia Melindah, Winda Mirshall Abiedama Prayoga Mochamad Faishal Riza Muhammad Afwan Romdloni Muhammad Taufiq Hidayat Mukarramah, Imraatul Mutiarawati, Diah Titik Nada Mufarrohah Nandasari, Anggy Dwipa Nastasya Nunki Nathalya Dwi Kartika Sari Navis, Khiliah Ngiluhtara Aditiya Putri Nisa, Fauziyatun Nur Naili Fahira Pratama, Nizar Revandini Prayoga, Mirshall Abiedama Prisnidiawati, Ajeng Puspitasari, Mia Putri Lestari, Ajeng Anindhita Putri, Ananda Ghufron Yuana Putri, Nasya Desinta Qotrinnada, Nabilah Rahmawati, Lili Susan Ramadani, Vania Nur Rhomadhoni , Muslikha Nourma Riza, Mochamad Faishal Riza, Mochammad Faishal Rizki Jalil, Ike Wasilatur Rizki Nurmalya Kardina Romdhoni, Muhammad Afwan Sa'bania Hari Raharjeng Sabrina, Shinta Milenia Sadza, Lailatus Salfa Salsabilah Zain Salimi, Syafrina Maulidyatus Salman Firmansyah Sari, Devi Fitriana Satya Nugraha Wirayudha Setiarsih, Dini Setyana Yuli, Azizah Ari Siti Husnul Khotimah Sofaria Munir, Ratna Sonia Fitriatul Qolbi Suliati Suliati Sunaryo, Merry Suryandaru, Suryandaru Syafiuddin, Achmad Syah, Seggaf Achmad Tauziah, Amalia Thomas Sumarsono Thomas Sumarsono Thomas Sumarsono Tullah, Auria Hidayah Uliyatul Laili, Uliyatul Umaha, Farida Wandara Sekar Ayu Pramesti Wideistianti, Annisa Pricilya Widya Novita Sari Wiwik Winarningsih Wulan, Wieke Sri Yauwan Tobing Lukiyono Yuliana Yuliana Yuni Nur Malita Sari Yuwono, Asma' Denaya Psari Zahrotul Illiyin Zain, R.A Wafiqah Aulia Zalfa, Anisatuz Zazabilla, Indira