Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

PENGARUH BERBAGAI FAKTOR TERHADAP TIMBULNYA CEMARAN AFLATOKSIN JAGUNG DI TINGKAT RUMAH TANGGA DAN TINGKAT PEMASARAN Moecherdiyatiningsih Moecherdiyatiningsih; Sukati Saidin; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 15 (1992)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2255.

Abstract

Telah diteliti cemaran aflatoksin jagung konsumsi di daerah Wonosobo yang merupakan daerah dataran tinggi dan di daerah Grobongan yang merupakan daerah dataran rendah. Sampel jagung diambil di tingkat rumah tangga dan pemasaran setempat, dalam bentuk pipilan dan jonggolan yang mengalami masa penyimpanan 0-1, 3-4, 6-8 dan 10-12 bulan. Analisis aflatoksin dilakukan dengan metoda BF-AOAC. Hasil survei cemaran aflatoksin ini menunjukkan bahwa letak geografis (dataran rendah), bentuk penyimpanan (pipilan) serta lama penyimpanan berpengaruh pada tingginya cemaran aflatoksin jagung. Cemaran aflatoksin jagung yang disimpan di rumah tangga sampai 1 tahun di daerah Wonosobo dan 8 bulan di daerah Grobogan masih di bawah 30 ppb-suatu kadar yang dianggap dapat membahayakan kesehatan. Rendahnya cemaran aflatoksin ini karena masyarakat mempunyai cara tradisional menyimpan jagung pada para-para di atas tungku yang mengurangi peluang tumbuhnya jamur Aspergillus flavus yang memproduksi aflatoksin. Jagung yang dipasarkan di pasar setempat dan telah mengalami penyimpanan sampai 4 bulan, cemaran aflatoksinnya masih di bawah 30 ppb. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa pemmantauan cemaran aflatoksin yang diperlukan hanya untuk jagung yang ada di tingkat pasar dengan lama penyimpanan lebih dari 4 bulan.
EFEK PEMBERIAN BETA KAROTENA TAKARAN TINGGI TERHADAP STATUS VITAMIN A ANAK BALITA Dewi Permaesih; Komala Komala; Effendi Rustan; Endi Ridwan; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 14 (1991)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2205.

Abstract

EFEK PEMBERIAN BETA KAROTENA TAKARAN TINGGI TERHADAP STATUS VITAMIN A ANAK BALITA
POTENSI JAMU/RAMUAN TRADISIONAL UNTUK DIGUNAKAN DALAM PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN ANEMIA GIZI M. Saidin; Alamsjhuri Alamsjhuri; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 14 (1991)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2206.

Abstract

Telah dilakukan penelitian potensi jamu/ramuan tradisional untuk digunakan dalam pencegahan dan penanggulangan anemi gizi. Pengertian potensi, disini, dilihat dari kandungan zat besi dan zat penghambat absorpsi besi oleh tubuh, yaitu asam fitrat dan tanin dalam jamu. Ramuan atau jamu yang diteliti adalah yang pada kemasannya berlabel tambah darah atau salah satu khasiatnya menyembuhkan kurang darah. Pembelian contoh jamu dari warung-warung dan pasar di wilayah DIY mendapatkan 13 macam jamu jenis serbuk dari berbagai merek, satu macam dalam bentuk pil dan lima macam ramuan jamu godokan atau rebusan. Hasil analisis di laboratorium mendapatkan rata-rata kandungan besi dalam jamu serbuk berkisar 0.33 mg-13.65 mg, asam fitat 3.34 mg-67.65 mg dan tanin 57.89 mg-152.56 mg per bungkus. kandungan besi dalam godokan per 100 ml air rebusan hari pertama berkisar antara 0.19 mg-1.53 mg, asam fitat 23.95 mg-33.15 mg dan tanin 37.84-68.16 mg. Data pola penggunaan jamu dan kadar haemoglobin telah dikumpulkan dari 100 pengguna jamu (49 laki-laki dan 51 perempuan) di wilayah DIY. Sebagian besar (75%) pengguna jamu, sudah biasa menggunakan jamu satu bungkus per minggu, masing-masing 11% pengguna jamu, biasa menggunakan jamu tambah darah lebih dari satu bungkus per minggu dan satu bungkus per bulan. Rata-rata dan simpang baku kadar Hb pengguna jamu laki-laki dan perempuan masing-masing adalah 13.52 ± 1.369 g/dl dan 12.06 ± 1.219 g/dl. Sebanyak 26.5% pengguna jamu laki-laki dan 41.3% pengguna jamu perempuan menderita anemi.
ALTERNATIF CARA DETEKSI KANDUNGAN IODIUM PADA GARAM BERIODIUM DI PASAR Yuniar Rosmalina; Faisal Anwar; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 14 (1991)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2207.

Abstract

Mengingat tingginya biaya yang diperlukan dalam menganalisa kandungan iodium pada garam secara laboratorium, serta pentingnya partisipasi masyarakat dalam penanggulangan masalah gangguan akibat kekurangan iodium, maka diperlukan teknologi sederhana untuk mendeteksi iodium pada garam iodium yang diperjualbelikan di pasar. Untuk itu telah dilakukan penelitian mengenai beberapa cara mendeteksi iodium pada garam menggunakan sumber karbohidrat dan sumber zat pereduksi, seperti Dioscorea Hispida Dennst (gadung), Manihot utilissima (singkong), atau Rubber seed (biji karet). Berdasarkan jenis dan jumlah campuran yang digunakan ada 6 formula yang diuji pada penelitian pendahuluan yaitu formula ICo, IICo, IC1, IIC1, ISo, dan IISo. Pada penelitian lanjutan, formula yang terpilih diuji menggunakan garam iodium yang dibeli dari pasar di Kodya Bogor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula IICo dan IIC1 menggunakan perasan singkong atau gadung, serta formula IISo menggunakan parutan biji karet, dapat digunakan sebagai alat untuk mendeteksi kadar iodium pada garam beriodium. Formula IICo terdiri dari 4 ml perasan gadung atau singkong, dicampur dengan 45 g garam beriodium dan 8 ml asam cuka 25 persen. Formula IIC1 sama seperti formula IICo, tapi menggunakan gadung yang telah disimpan tiga minggu, dan singkong yang telah disimpan dua minggu. Formula IISo terdiri dari 7 gr parutan biji karet, ditambah dengan 45 g garam iodium dan 16 ml asam sitrat. Hasil penelitian lanjutan menunjukkan hanya 11.1 persen garam beriodium di Kodya Bogor mempunyai kandungan diatas 30 ppm, dan 88.9 persen dibawah 30 ppm. Garam beriodium yang mempunyai kandungan di atas 30 ppm akan menunjukkan warna biru atau ungu, dan yang mempunyai kandungan dibawah 30 ppm akan menunjukkan warna cokelat, warna biru yang tidak stabil atau tidak menunjukkan perubahan warna.
PENGARUH PEMBERIAN KONSENTRAT MINYAK KELAPA SAWIT TERHADAP STATUS VITAMIN A DAN PEMBESARAN KANKER MAMMAE MENCIT Endi Ridwan; Yudith Herlinda; Sudarto Pringgoutomo; Puspita Puspita; Dewi Permaesih; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 14 (1991)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2215.

Abstract

Telah dilakukan penelitian pengaruh pemberian konsentrat minyak kelapa sawit pada mencit terhadap status vitamin A dan perkembangan kanker mammae. Mencit strain C3H dikelompokkan menjadi 7 kelompok perlakuan dengan 6 kali ulangan. Masing-masing perlakuan adalah (1) Kontrol tanpa diberi apa-apa. (2) Kontrol, dicekok minyak 0.1 ml/hari selama 14 hari. (3) Kontrol, dicekok minyak 0.1 ml/hari selama penelitian. (4) Dicekok karotin 120 ug (0.1 ml)/hari selama 14 hari. (5) Dicekok karotin 120 ug (0.1 ml)/hari selama penelitian. (6) Dicekok karotin 500 ug (0.1 ml)/hari selama 14 hari. (7) Dicekok karotin 500 ug (0.1 ml)/hari selama penelitian. Makanan untuk semua kelompok adalah makanan basal dalam bentuk pellet dan diberikan ad libitum. Pengambilan darah dilakukan pada hari pertama setelah pencekokan, pengambilan kedua bersamaan dengan inokulasi bibit kanker dan pengambilan ketiga pada akhir penelitian atau pada waktu terjadi perubahan pada pertumbuhan kanker sesudah inokulasi. Inokulasi bibit kanker dengan cara disuntikkan secara sub cutis di daerah axilla. Pengamatan pada mencit dilakukan terhadap pembesaran tumor, dengan mengukur besar tumor menggunakan caliper. Pemeriksaan histopatologis dilakukan terhadap jaringan tumor. Kadar vitamin A serum, tertinggi didapatkan pada kelompok yang diberi 500 ug karotin/hari selama penelitian yaitu sebesar (40.69 ± 4.48) ug/dl dibandingkan dengan kelompok tanpa diberi apa-apa (17.28 ± 0.99) ug/dl. Ukuran tumor terkecil juga didapatkan pada kelompok yang diberi 500 ug karotin/hari selama penelitian yaitu (5.38 ± 3.85) cm3, dibandingkan dengan kelompok kontrol (9.50 ± 5.72) cm3. Keadaan ini menunjukkan bahwa konsentrat minyak kelapa sawit dapat meningkatkan status vitamin A dan menghambat terjadinya perkembangan kanker mammae. Hasil ini diperkuat dengan pemeriksaan mikroskopis dari sel tumor yang menunjukkan deferesiasi lebih baik pada kelompok yang diberi karotin dengan takaran lebih tinggi dan waktu lebih lama.
PERUBAHAN KANDUNGAN YODIUM DALAM ASI SETELAH PEMBERIAN YODIUM DOSIS TINGGI PER ORAL PADA IBU MENYUSUI Muhilal Muhilal; Dewi Permaesih; Suci Suwarti Suwardi
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 19 (1996)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2293.

Abstract

Telah dilakukan penelitian pengaruh pemberian kapsul iodium dosis tinggi pada ibu menyusui terhadap kadar iodium dalam ASI di Kecamatan Dukun dan Srumbung, Jawa Tengah. Ibu menyusui dibagi dalam 2 kelompok: kelompok perlakuan dan kelompok pembanding. Urine dan ASI pada kelompok perlakuan dan pembanding dikumpulkan pada hari 0, 2, 7, 30, 90 dan 180. Analisis iodium dilakukan dengan cara Kolhoff and Sanders. Pola perubahan kandungan iodium ASI sama dengan pola perubahan iodium dalam urin dengan koefisien korelasi sebesar 0.96. Kandungan iodium dalam ASI pada kelompok perlakuan ditemukan pada hari kedua dengan nilai 16350 ug/L dibandingkan dengan 75 ug/L pada kelompok pembanding, kemudian menurun secara perlahan sampai mendekati nilai normal pada hari ke 180 setelah pemberian kapsul iodium. Diperkirakan kandungan iodium dalam ASI sekitar 60% dari kandungan iodium dalam urin. Dengan dugaan adanya kelebihan masukan iodium pada bayi yang menerima dari dua sumber, yaitu ASI dan kapsul yang diberikan langsung pada bayi dalam program IDD, perlu dipertimbangkan kemudian timbulkan efek sampingan pada bayi karena kelebihan iodium.
POTENSI DAUN SINGKONG KERING SEBAGAI SUMBER VITAMIN UNTUK ANAK PRA SEKOLAH Almasyhuri Almasyhuri; Heru Yuniarti; Erna Luciasari; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 19 (1996)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2305.

Abstract

Penelitian ini mempelajari potensi serbuk daun singkong kering sebagai sumber provitamin A meliputi kandungan karoten dalam serbuk daun singkong kering dan pengaruhnya terhadap pemasakan serta daya terima gulai serbuk daun singkong muda dan tua kering (DSMK dan DSTK) pada anak prasekolah. Sebagai pembanding adalah daun singkong muda segar yang sebelum dimasak diblancing terlebih dahulu (DSMB). Penelitian dilakukan terhadap 36 anak prasekolah (3-5 tahun) yang dibagi menjadi tiga kelompok. Daun singkong diberikan dalam bentuk masakan gulai yang diberikan bersama dengan menu makanan lengkap pada waktu makan pagi, siang dan sore selama tiga hari penuh. Daya terima daun singkong dinilai berdasarkan jumlah gulai yang dapat dikonsumsi per hari. Hasil yang diperoleh adalah daun singkong muda dan tua kering mengandung karoten cukup tinggi, yaitu berturut-turut adalah 14.270 dan 14.733 per 100 g berat kering. Penggulaian menyebabkan penurunan jumlah karoten sebesar 6.1%-8.6%. Baik DSMK maupun DSTK yang dimasak gulai dapat diterima oleh anak prasekolah. Secara statistik daya terima gulai DSMK dan DSTK tidak berbeda dengan gulai DSMB (P>0.05). Dari penelitian disimpulkan bahwa serbuk daun singkong kering merupakan sayur yang kaya dengan provitamin A yang dapat diterima anak prasekolah.                                        
ABSORPSI β-KAROTEN SERBUK DAUN SINGKONG (Manihot Utilissima) KERING PADA ANAK PRASEKOLAH Almasyhuri Almasyhuri; M. Khumaidi; Muhilal Muhilal; Rimbawan Rimbawan
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 20 (1997)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2369.

Abstract

Indonesia telah bebas dari masalah kurang vitamin A (KVA), tetapi jumlah anak balita dengan vitamin A serum marjinal (<20 ug/dl) masih tinggi. Salah satu program penanggulangan KVA di Indonesia adalah dengan peningkatan konsumsi sayuran hijau pada anak balita. Menurut de Pee, karoten sayuran hijau kurang dapat diabsorpsi karena berupa ikatan komplek yang kuat yang berada dalam kloro plas. Penelitian ini mempelajari pengaruh pembuatan serbuk kering daun singkong muda dan tua terhadap absorpsi β-karoten pada anak prasekolah. Penelitian dilakukan di Kotamadya Bogor, Jawa Barat. Daun singkong diberikan dalam bentuk masakan gulai, yang diberikan dalam diit makanan pagi, siang dan sore selama tiga hari. Kadar β-karoten dalam duplikat makanan yang dikonsumsi dan dalam tinja selama tiga hari dianalisis dengan HPLC. β-karoten yang diabsorpsi merupakan selisih β-karoten dalam duplikat makanan yang dikonsumsi dan β-karoten dalam tinja selama tiga hari. Absorpsi β-karoten serbuk daun singkong muda kering (DSMK) paling tinggi (37.9±5.2%) dibanding β-karoten serbuk daun singkong tua kering (DSTK) maupun daun singkong muda segar (DSMB) yang besarnya masing-masing adalah 36.8±9.2% dan 35.4±5.8%. β-karoten daun singkong muda segar (DSMB) paling kecil absorpsinya. Tetapi hasil uji anova β-karoten dari ketiga jenis daun singkong tersebut tidak ada perbedaan nyata (p>0.05). Kesimpulan dari penelitian ini ternyata pengeringan dan penghancuran menjadi serbuk belum dapat memperbaiki absorpsi β-karoten yang dikandung dalam daun singkong. 
DAMPAK PEMBERIAN NIASIN DAN KRONIUM TERHADAP PROFIL DISLIPID PADA PENDERITA DISLIPIDEMIA A. Murdiana D.; Almasyhuri Almasyhuri; Reviana Reviana; Martuti S.; Enok Yuhajah; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 21 (1998)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2348.

Abstract

A study on niacin and chromium supplementation has been conducted to women of 30-60 years old with cholesterol level between 200-250 mg/dl. The aimed of the study was to see the effect of the supplementation on blood cholesterol, triglyceride and low density lipoprotein (LDL). Fourty two respondents were selected purposively and divided into 4 groups. The supplementation was in the form of capsules and given for 3 weeks. Group I, 10 respondents received 200 mcg of chromium; Group II, 7 respondents received chromium 200 mcg and niacin 2x75 mg; Group III, 12 respondents received 2x75 mg niacin and Group IV, 13 respondents received 2x75 mg fructose as placebo. Data collected including anthrophometric, dietary recall for 1x24 hours and clinical status. Analysis of blood sample for cholesterol and triglyceride was done using enzymatic calorimetric method (CHOD-PAP) whereas LDL was done using PVS method (GPO-PAP). The results of this study showed that niacin supplementation significantly decreased cholesterol and LDL level by 15% and 13% respectively, chromium supplementation significantly decreased cholesterol and LDL level by 15% and 20% respectively. Cholesterol and LDL remained in that level three weeks afterwards. The mixture of niacin and chromium supplementation significantly decreased only cholesterol level by 10%. Triglyceride level decreased in all groups including placebo group but not statistically significant. Keywords: supplementtaion, niacin, cromium, cholsterol, triglyceride, low density lipoprotein.
KHASIAT JAMU MELAHIRKAN TERHADAP KENAIKAN PRODUKSI AIR SUSU IBU Moecherdiyatiningsih Moecherdiyatiningsih; Komala Komala; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 18 (1995)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2222.

Abstract

Anggapan bahwa jamu melahirkan dapat meningkatkan produksi air susu ibu telah diteliti. Sebagai sampel penelitian adalah ibu baru melahirkan di wilayah Kabupaten Bogor dengan kriteria sebagai berikut: berstatus gizi baik, umur 30 tahun, paritas 1-3 dan kelahiran normal. Berdasarkan kebiasaan ibu minum jamu atau tidak ditetapkan dua kelompok. Tiga puluh ibu kelompok pertama (kelompok MJ) diberi jamu bersalin merk "NM" yang diminum sampai 40 hari. Sedangkan 30 orang kelompok kedua (kelompok TMJ) hanya diberi jamu bersalin berupa parem yang dioleskan. Ke 60 ibu ini terpilih dari 185 ibu hamil yang terdaftar dan dipantau kelahirannya. Data yang dikumpulkan meliputi volume ASI selama 24 jam dengan metoda penimbangan, hemoglobin ibu, zat besi ASI, berat badan bayi, konsumsi zat gizi dan cairan yang diminum ibu selama 24 jam serta serta data penunjang lain. Pengumpulan data awal dan akhir masing-masing pada 4 hari dan 40 hari umur bayi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur ibu, pendidikan dan pekerjaan suami kurang lebih sama untuk kedua kelompok. Rata-rata volume ASI pada awal penelitian untuk kelompok MJ dan TMJ masing-masing 343±89,7 ml dan 320±81,2 ml. Dengan uji t, tidak berbeda bermakna (p>0,05). Tetapi berbeda bermakna pada akhir penelitian (p<0,05) dengan rata-rata untuk kelompok MJ 475,7±117,4 ml dan kelompok TMJ 409±120,6 ml. Rata-rata Hb ibu pada kelompok MJ dan di awal penelitian masing-masing adalah 11,02±1,45 dan 11,30±1,37 sedang di akhir penelitian masing-masing adalah 11,76±1,16 dan 11,98±1,11. Tidak ada perbedaan Hb ibu yang bermakna antar kedua kelompok, baik pada awal maupun akhir penelitian (p>0,05). Zat besi ASI dan berat badan bayi tidak berbeda bermakna pula (p>0,05). Konsumsi zat gizi khususnya vitamin C dan vitamin A berbeda bermakna antar kedua kelompok pada akhir penelitian. Tidak terbukti ada perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok dalam hal jumlah cairan yang diminum ibu.