Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

A Study of Digital Media Content Needs for Early Childhood Education on Balikpapan Tourism Anggis Rizky Wiyaringtyas; Hesti Rosita Dwi Putri; Nursanti Novi Arisa
Ceria: Jurnal Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 15 No. 1 (2026): (Part 2) Ceria Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/ceria.v15i1.15291

Abstract

This study aims to identify the needs for digital media content to introduce Balikpapan tourism to early childhood learners. A qualitative descriptive approach was employed through interviews with teachers and parents at Al Azhar Kindergarten 58 Balikpapan. The findings indicate the necessity for educational media that integrates Balikpapan’s local cultural values, includes parental supervision features, and utilizes child-friendly visual designs to enhance learning motivation while balancing digital engagement with real-world exploration. These insights serve as the foundation for developing culturally grounded digital media for early childhood, which is expected to strengthen cultural identity and provide a more meaningful learning experience.
IMPLEMENTASI PROGRAM LITERASI INTERAKTIF UNTUK MENDORONG BUDAYA BACA ANAK DI YAYASAN DARUSH SHOLIHIN BALIKPAPAN UTARA Hesti Rosita Dwi Putri; Hijriah; Abdurrahman Husein Farisi; Alyaa Az Zahra Putri Muslim; Marcelina Septi Ardiyanti; Muhammad Ridwan Akbar; Shita Nursyifa; Sri Yunita Andini; Thoriq Yudhistira; Wulan Gustiana; Zahra Pusvita Hanindityas
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat ITK (PIKAT) Vol. 7 No. 1 (2026): PIKAT : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Institut Teknologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35718/pikat.v7i1.8481858

Abstract

Yayasan Darus Solihin yang terletak di Jl. Soekarno Hatta Km. 17, Kecamatan Balikpapan Utara, Kota Balikpapan. Saat ini, Yayasan Darush Sholihin masih berfokus pada penyelenggaraan pendidikan nonformal untuk siswa pada tingkat PAUD dan SD, namun adapun permasalahan yang ada di Yayasan Darus Sholihin yaitu pada pembuatan media baca yang kurang aktif, kurangnya edukasi pada media baca, kurangnya sosialisasi terhadap masyarakat sekitar. Selain itu, belum adanya fasilitas penunjang untuk tempat membaca dan belajar. Metode pelaksanaan yang digunakan yaitu Community-Based Participatory Research (CBPR) yang dilakukan pendekatan dengan masyarakat dan pemanfaatan teknologi melalui pengembangan kartu Augmented Reality (AR) sebagai media baca. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan antusiasme anak dalam membaca serta keterlibatan masyarakat dalam mendukung program. Hasil kegiatan dilakukan dengan cara wawancara dan observasi yang menunjukkan adanya peningkatan antusiasme anak-anak terhadap kegiatan membaca serta meningkatnya partisipasi masyarakat dalam mendukung program literasi. Penggunaan media AR terbukti mampu menarik minat baca anak secara menyenangkan dan edukatif melalui visualisasi tiga dimensi dan interaksi langsung. Secara keseluruhan, pendekatan kolaboratif berbasis teknologi ini berkontribusi positif terhadap penguatan budaya literasi anak dan dapat menjadi model pengembangan program literasi digital di lembaga pendidikan nonformal di masa depan.
PENGUATAN BRAND IDENTITY TANJUNG GADING MELALUI PEMBANGUNAN GAPURA CAMPING GROUND DAN PLATFORM DIGITAL WISATA BERBASIS KOMUNITAS Fulkha Tajri M; Hesti Rosita Dwi Putri; Denny Huldiansyah; Wahyu Firmansyah; Azzah Nafisah Sofyan; Surya Abdi Pratama; Elycha Rahmah Savitri
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i3.36106

Abstract

ABSTRAK                                                                            Tanjung Gading di Kelurahan Karang Joang, Kota Balikpapan, merupakan destinasi wisata potensial dengan karakter lanskap alam, budaya lokal, serta keberadaan camping ground yang unik. Namun, kawasan ini belum berkembang optimal akibat beberapa permasalahan utama, yaitu ketiadaan infrastruktur visual penanda kawasan, rendahnya pemanfaatan teknologi digital dalam promosi wisata, serta terbatasnya kapasitas masyarakat dalam produksi dan pengelolaan konten. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat identitas visual destinasi, meningkatkan literasi digital masyarakat, dan memperluas jangkauan promosi wisata berbasis teknologi. Program dilaksanakan melalui lima tahapan: sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, dan strategi keberlanjutan. Mitra sasaran adalah Pokdarwis Wisata Tanjung Gading yang beranggotakan masyarakat lokal, dengan total 19 peserta aktif terlibat dalam pelatihan dan proses produksi konten digital. Intervensi utama dalam kegiatan ini meliputi pembangunan gapura camping ground sebagai identitas visual kawasan, pengembangan website resmi yang terintegrasi dengan virtual tour 360°, serta pelatihan konten digital mencakup fotografi, videografi, storytelling, dan pengelolaan media sosial. Hasil awal kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam penguatan branding destinasi. Gapura yang telah selesai dibangun kini menjadi landmark baru sekaligus meningkatkan visibilitas kawasan. Website wisata dan virtual tour yang sedang dikembangkan terbukti membuka akses informasi yang lebih luas bagi calon wisatawan. Selain itu, pelatihan konten digital berhasil meningkatkan pemahaman dan kemampuan masyarakat dalam menghasilkan materi promosi yang lebih menarik, konsisten, dan relevan. Kolaborasi antara akademisi dan Pokdarwis mendorong terbentuknya kemandirian komunitas dalam pengelolaan wisata berbasis digital, sehingga program ini berpotensi memberikan dampak berkelanjutan bagi pengembangan Tanjung Gading sebagai destinasi wisata berbasis komunitas. Kata Kunci: Gapura Camping Ground; Digitalisasi Wisata; Virtual Tour; Brand Identity; Pemberdayaan Masyarakat ABSTRACTTanjung Gading, located in Karang Joang Village, Balikpapan City, is a potential tourism destination characterized by its distinctive natural landscape, local cultural atmosphere, and unique camping-ground access. However, the area has not been optimally developed due to several key challenges, including the absence of visual infrastructure to mark the tourism zone, limited utilization of digital technology for promotional activities, and insufficient community capacity in producing and managing digital content. This community engagement program aims to strengthen the destination’s visual identity, enhance digital literacy among local residents, and expand tourism promotion through technology-based interventions. The program was implemented through five stages: socialization, training, technology deployment, mentoring, and sustainability reinforcement. The primary partner of this initiative is the Tanjung Gading Tourism Awareness Group (Pokdarwis), involving a total of 19 active participants in training sessions and content production activities. Core interventions include the construction of a landmark gate for the camping-ground area, the development of an official tourism website integrated with a 360-degree virtual tour, and digital content training covering photography, videography, storytelling, and social media management. Initial results indicate a significant improvement in destination branding efforts. The newly constructed gate has become a recognizable landmark that enhances the visibility and identity of the tourism area. The ongoing development of the website and virtual tour has opened broader access to information for potential visitors. Moreover, the digital content training has successfully improved the community’s ability to create promotional materials that are visually appealing, consistent, and contextually relevant. The collaborative work between academics and the Pokdarwis contributes to building community independence in managing digitally driven tourism promotion, positioning the program to deliver sustainable impact on the development of Tanjung Gading as a community-based tourism destination.Keywords: Gapura Camping Ground; Tourism Digitalization; Virtual Tour; Brand Identity; Community Empowerment
Platform Visualisasi 3d Imersif Untuk Pelestarian Berkelanjutan Warisan Budaya Di Kalimantan Timur Eko Agung Syaputra; Ramadhan Paninggalih; Hesti Rosita Dwi Putri; Novianti Rossalina
Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni dan Budaya Vol 8, No 1 (2025): Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni Dan Budaya
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/vh.v8i1.16016

Abstract

Perkembangan teknologi imersif telah mengubah cara pelestarian dan diseminasi warisan budaya, memungkinkan museum menghadirkan pengalaman interaktif dan personal di luar batas ruang dan waktu. Penelitian ini memperkenalkan serta mengevaluasi Lamiang Nusantara, sebuah platform visualisasi 3D imersif yang dirancang untuk melestarikan dan mempromosikan warisan budaya Kalimantan Timur melalui representasi digital yang dinamis. Dengan menggunakan metode design sprint yang mengintegrasikan prototyping iteratif dan keterlibatan pemangku kepentingan, penelitian ini berfokus pada peningkatan akurasi render, responsivitas sistem, dan interaktivitas pengguna. Uji kinerja komparatif menunjukkan bahwa Luma AI memberikan fidelitas visual tertinggi dengan nilai RMS serendah 0,00063, jauh lebih unggul dibandingkan Polycam (0,01275) dan LiDAR (0,05245). Meskipun LiDAR kurang sesuai untuk digitalisasi artefak detail karena tingkat error yang tinggi (CMDM 0,378595), metode ini tetap efektif untuk pemetaan ruang berskala besar. Sementara itu, Polycam menawarkan keseimbangan optimal antara kualitas dan aksesibilitas sehingga praktis untuk digitalisasi massal. Evaluasi pengguna menghasilkan skor rata-rata 2,317 pada kategori “sangat setuju”, yang menegaskan bahwa visualisasi 3D imersif mampu meningkatkan pemahaman artefak budaya sekaligus kesadaran terhadap pelestarian warisan budaya. Hasil ini menegaskan signifikansi ilmiah dan praktis teknologi imersif dalam memperluas akses publik serta mendorong pelestarian budaya berkelanjutan di Kalimantan Timur.
PRESERVASI WARISAN BUDAYA KALIMANTAN: ANALISIS KEBUTUHAN PLATFORM IMERSIF PERSPEKTIF PROFESIONAL PARIWISATA DAN BUDAYA Eko Agung Syaputra; Ramadhan Paninggalih; Hesti Rosita Dwi Putri; Novianti Rossalina
Mozaik : Journal of Art and Architecture Vol. 4 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Universitas Islam Zainul Hasan Genggong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55210/kfs8zy34

Abstract

Transformasi digital dalam pelestarian warisan budaya kerap gagal akibat pendekatan technology-driven yang mengabaikan kebutuhan pengguna di lapangan. Di Kalimantan, tantangan ini semakin kompleks akibat variasi kesiapan digital, keterbatasan sumber daya organisasi kebudayaan, serta belum selarasnya pemanfaatan teknologi seperti eXtended Reality (XR) dan Internet of Things (IoT) dengan ekspektasi pemangku kepentingan lokal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan, ekspektasi, dan preferensi pemangku kepentingan kebudayaan dan pariwisata sebagai basis perancangan platform berbasis cloud Lamiang Nusantara yang berorientasi pengguna (user-centered). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif melalui metode survei kuesioner terstruktur yang disebarkan kepada 122 profesional pariwisata dan budaya di lima provinsi di Kalimantan. Data dianalisis secara statistik kuantitatif untuk memetakan fitur, layanan, dan fungsionalitas paling relevan yang harus diintegrasikan ke dalam platform. Hasil penelitian menunjukkan tingginya permintaan terhadap solusi berbasis cloud yang menggabungkan XR, IoT, sensor, dan perangkat pintar untuk mengumpulkan data kontekstual serta menghadirkan pengalaman yang personal, imersif, dan peka terhadap konteks. Fitur prioritas utama meliputi aksesibilitas konten terpadu (73,77%), manajemen profil dan personalisasi (60,66%), sistem rekomendasi (59,02%), serta rekognisi objek 3D untuk XR (57,38%). Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan pengembangan platform budaya digital ditentukan oleh kesesuaian antara kecanggihan fitur dan kebutuhan riil pemangku kepentingan lokal. Implikasi temuan ini memberikan panduan desain (design guidelines) yang berharga bagi pengembangan alat digital yang secara efektif mendukung organisasi kebudayaan dalam melibatkan pengunjung dan menjaga keberlanjutan warisan budaya.