Claim Missing Document
Check
Articles

PRINSIP-PRINSIP DAN IMPLIKASI KOMUNIKASI VERBAL DAN NON-VERBAL DALAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN Arifin, Mohamad Zaenal
AL Fikrah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol 3 No 2 (2023): alfikrah
Publisher : STAI Binamadani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51476/alfikrah.v3i2.508

Abstract

Tulisan ini bertujuan menelusuri prinsip-prinsip berkomunikasi yang baik dalam singgungan al-Qur'an beserta implikasi yang ditimbulkannya dalam proses komunikasi yang dilakukan oleh seorang individu. Dalam suatu interaksi antara seseorang dengan orang lain, kemampuan berkomunkasi yang baik menjadi hal penting, agar menimbulkan kesepahaman dan menghindari perselisihan. Tulisan ini menggunakan metode library research dimana data primer yang digunakan adalah ayat-ayat al-Qur'an. Data pendukung diambilkan dari kitab tafsir, buku, jurnal, dan sumber lainnya yang relevan. Tulisan ini menemukan bahwa prinsip-prinsip komunikasi yang baik dalam al-Qur'an adalah mengucapkan perkataan yang benar dan tepat sasaran, perkataannya membekas dalam jiwa, perkataan yang sopan dan lembut enak didengar, dan perkataan yang mengandung penghormatan dan penghargaan pada orang lain. Implikasinya adalah ketika berkomunikasi dengan orang lain, pesan komunikasi yang disampaikan setiap orang harus mengandung kebenaran, mengedukasi, menyenangkan bagi pendengar, menggunakan bahasa tubuh yang menarik, seperti bermuka manis, tersenyum, memandang lawan bicara, dan lainnya.
PENDIDIKAN MORAL DALAM KISAH YUSUF AS Arifin, Mohamad Zaenal
Kordinat: Jurnal Komunikasi antar Perguruan Tinggi Agama Islam Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Komunikasi Antar Perguruan Tinggi Agama Islam
Publisher : Kopertais Wilayah I DKI Jakarta dan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kordinat.v15i1.6312

Abstract

Pemaparan kisah-kisah dalam al-Qur’an bukanlah tanpa tujuan, tetapi diungkapkan sebagai pesan pengajaran yang disampaikan pemberi pesan (Allah Swt) kepada pembaca melalui rangkaian peristiwa, kehidupan sosial dan karakter para tokohnya. Kisah-kisah merupakan bagian petunjuk yang diberikan oleh Allah swt tentang berbagai hal yang berhubungan dengan moralitas, sistem nilai, tingkah laku, dan sebagainya. Ketika membaca kisah-kisah dalam al-Qur’an, orang-orang beriman hendaknya mengambil intisari pesan yang dikandung, kemudian menjadikannya sebagai pelajaran, patokan, dan idealisme yang dipegang dalam hidup bermasyarakat
Ketahanan Anak dalam Konflik Keluarga: Analisis Tafsir Maqasidi pada Kisah Nabi Yusuf as Arifin, Mohamad Zaenal; Anshori, Muh; Ghofur, Abdul
IQ (Ilmu Al-qur'an): Jurnal Pendidikan Islam Vol. 8 No. 02 (2025): IQ (Ilmu Al-qur’an): Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Tarbiyah, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37542/aeag5m30

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi kisah Nabi Yusuf as yang mengisyaratkan kejadian konflik keluarga. Tujuannya, menemukan sumber nilai Qur’ani dalam pembentukan ketahanan anak yang terlibat konflik keluarga. Penelitian ini berjenis kualitatif kepustakaan, data primer yang digunakan adalah Al-Qur’an, dan data sekunder berupa kitab tafsir, buku, dan jurnal ilmiah. Data-data yang diperoleh, diolah dan dianalisis menggunakan metode tafsir maudhui dengan pendekatan maqasid al-syari’ah. Temuan penelitian, fragmentasi kisah Nabi Yusuf as. menggambarkan adanya konflik keluarga yang melibatkan anak, dimulai dari cerita mimpi Nabi Yusuf as. kepada ayahnya, hingga terjadinya berbagai peristiwa tragis yang dialaminya; dijerumuskan ke dasar sumur, dijual sebagai budak oleh kafilah, difitnah melakukan pelecehan, serta diancam masuk penjara. Penelitian ini menyimpulkan, ketahanan anak dalam konflik keluarga diperoleh melalui upaya membangkitkan kekuatan diri (keyakinan pada Allah Swt, kepercayaan diri, dan optimisme), pemberian dukungan orang lain, menguatkan regulasi diri dan self-efficacy. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada aspek analisis deskriptif dari data yang terbatas. Maka, diharapkan adanya studi lanjutan dengan cakupan data yang lebih banyak, terutama data yang bersifat lapangan.
Relasi Pendidikan Orang Tua dan Anak Perspektif Al-Qur’an (QS. Luqman Ayat 12-19) Zaenal Arifin, Mohamad; Habibi, Erfan; Murtiningsih, Siti
EDUSHOPIA : Journal of Progressive Pedagogy Vol. 3 No. 1 (2026): EDUSHOPIA: JOURNAL OF PROGRESSIVE PEDAGOGY
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam STAI Sayid Mohammad Alawi Al Maliki

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64431/edushopia.v3i1.411

Abstract

Penelitian ini membahas konsep relasi pendidikan antara orang tua dan anak sebagaimana digambarkan dalam QS. Luqman. Dalam konteks modern, perubahan sosial dan budaya sering melemahkan komunikasi edukatif dalam keluarga, sehingga pendidikan kehilangan dimensi moral dan spiritualnya. QS. Luqman memberikan model pendidikan yang menekankan keseimbangan antara keteladanan, kasih sayang, dan kebijaksanaan dalam membentuk karakter anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan jenis penelitian studi kepustakaan (library research). Sumber data utama diperoleh dari QS. Luqman (ayat 12–19), dan sumber sekunder dari kitab tafsir seperti Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Tafsir al-Mishbah, Tafsir Al-Azhar, dan lainnya. Selain itu, juga bersumber dari buku dan artikel jurnal ilmiah yang relevan. Analisis data dilakukan melalui metode tafsir tematik (maudhu‘i) dan pendekatan pedagogis Qur’ani untuk menemukan prinsip-prinsip pendidikan yang bersifat universal dan aplikatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa QS. Luqman menampilkan pola relasi pendidikan antara orang tua dan anak digambarkan sebagai dukungan dan bimbingan langsung, kualitas interaksi dan ikatan emosional, dan penanaman nilai dan karakter. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan Qur’ani sebagaimana dicontohkan Luqman bersifat integratif, menghubungkan rumah dan sekolah dalam satu visi pembentukan karakter yang berlandaskan tauhid dan kebijaksanaan. Nilai-nilai pendidikan Luqman dapat menjadi model konseptual bagi pengembangan kurikulum pendidikan Islam berbasis keluarga yang relevan dengan tantangan zaman.
FIL–JAWAB–NATIJAH AS AN ALTERNATIVE FRAMEWORK FOR LEGAL INTERPRETATION OF QURANIC NARRATIVE VERSES: THE PERSPECTIVE OF IZZ AL-DIN IBN ABD AL-SALAM Arifin, Mohamad Zaenal; Bahrul Hikam, Ahmad; Nurkholis
Jurnal At-Tibyan: Jurnal Ilmu Alqur'an dan Tafsir Vol 10 No 2 (2025): Volume 10 No. 2 December 2025
Publisher : The Department of the Qur'anic Studies, Faculty of Ushuluddin, Adab, and Da'wah, State Institute of Islamic Studies (IAIN) Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/at-tibyan.v10i2.12389

Abstract

Quranic narrative verses, in addition to serving as sources of spiritual, moral, and educational values, can also function as a medium for formulating legal principles. This article examines a model of interpreting Quranic narrative verses in Shajarat al-Maarif by Izz al-Din ibn Abd al-Salam. This study employs a qualitative method based on library research. The primary source of data is Shajarat al-Maarif, while secondary sources include classical Quranic commentaries, books, and scholarly articles relevant to the topic. The collected data are analyzed using content analysis techniques. The findings reveal that Ibn Abd al-Salam interprets Quranic narrative verses through a fil–jawab–natijah model, which is integrated with elements of Sufism, maqasid al-shariah, and usul al-fiqh in the process of deriving legal principles. Through this model, every human action (fil) is evaluated based on God’s response (jawab), which subsequently generates normative consequences (natijah) that can be generalized into legal maxims. From the narratives of the prophets—such as Prophet Yusuf, Musa, and Ibrahim—and the figure of Qarun, Ibn Abd al-Salam extracts legal principles including non-formal evidentiary procedures, the prioritization of public interest (maslahah), and prophetic ethics in the implementation of legal obligations (taklif). From the story of Qarun, he further emphasizes the importance of wealth redistribution, anti-greed ethics, and policies of economic justice. This study concludes that the fil–jawab–natijah model proposed by Ibn Abd al-Salam enriches the discourse of legal interpretation of Quranic narrative verses by offering an integrative and contextual approach.
PENDIDIKAM MORAL DALAM AL-QUR'AN: TELAAH ATAS KISAH YUSUF AS. Mohamad Zaenal Arifin
Dirasah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Dasar Islam Vol 3 No 3 (2020): Dirasah : Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Dasar Islam
Publisher : Institut Binamadani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan menemukan pendidikan moral yang terkandung pada kisah Nabi Yusuf as yang dikisahkan dalam al-Qur'an. Pemaparan kisah-kisah dalam al-Qur’an bukanlah tanpa tujuan, tetapi diungkapkan sebagai pesan pengajaran yang disampaikan pemberi pesan (Allah Swt) kepada pembaca melalui rangkaian peristiwa, kehidupan sosial dan karakter para tokohnya. Penelitian ini adalah library research (riset kepustakaan). Pendekatan yang digunakan adalah menggunakan metode tafsir tematik satu surat al-Qur’an dan estetis (sastra). Analisa kritis diarahkan untuk menggali pendidikan moral yang terkandung dalam kisah Yusuf as. Titik analisa diarahkan pada bangunan kisah, gaya penuturan, kronologis cerita, penceritaan karakter dan tokoh, aplikasi kosakata dan kalimat, dan sebagainya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan moral dalam kisah Yusuf as terarah pada tiga ranah kehidupan, yakni: pendidikan moral bagi individu, pendidikan moral bagi pemimpin, dan pendidikan moral bagi anggota masyarakat.
Pemenuhan Aksesibilitas Pendidikan Penyandang Disabilitas dalam Al-Qur’an Mohamad Zaenal Arifin
Dirasah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Dasar Islam Vol 3 No 02 (2020): Dirasah Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Dasar islam
Publisher : Institut Binamadani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan menggali konsep pemenuhan aksesibilitas pendidikan bagi penyandang disabilitas yang diisyaratkan dalam al-Qur'an. Eksistensi kaum penyandang cacat tidak dapat dinafikan sebab merupakan bagian dari kehidupan manusia. Pada tataran realita, para penyandang cacat masih sering mendapatkan perlakuan diskriminasi dan stigma negatif dari beberapa pihak. Berangkat dari hal ini maka diperlukan upaya terstruktur baik secara teoritis maupun praktis untuk melindungi, melayani, maupun mengembangkan potensi yang dimiliki para penyandang disabilitas. Salah satu jalan yang ditempuh adalah melalui jalur pendidikan dalam arti yang luas, dimana tujuan akhirnya adalah meniadakan stereotip, terpenuhinya hak-hak dan mendorong kemandirian kelompok disabilitas tersebut. Penelitian ini adalah library research (riset kepustakaan) dengan menggunakan pendekatan deskriptif analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setidaknya al-Qur'an telah melakukan 5 (lima) upaya dalam pemenuhan aksesibilitas pendidikan bagi penyandang disabilitas, yaitu: upaya penguatan konsep diri, upaya pengakuan atas eksistensi penyandang disabilitas, upaya perlakuan setara terhadap penyandang disabilitas, upaya penyediaan akses layanan bagi penyandang disabilitas, dan upaya pemberdayaan penyandang disabilitas.
ETIKA KOMUNIKASI GURU TERHADAP SISWA DI SEKOLAH PERSPEKTIF AL-QUR'AN Mohamad Zaenal Arifin
Dirasah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Dasar Islam Vol 4 No 1 (2021): Dirasah : Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Dasar Islam
Publisher : Institut Binamadani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan menggali dan merumuskan etika komunikasi guru terhadap siswa di sekolah. Komunikasi memegang peranan penting dalam interaksi sosial, termasuk di dalamnya interaksi antara guru dan siswa. Dalam konteks pengajaran di sekolah, jalinan komunikasi yang dilakukan guru tidak hanya mempengaruhi keberhasilan proses belajar mengajar, namun juga turut berkontribusi pada tumbuh-kembangnya afektif dan budi pekerti siswa dan harmonisasi kehidupan sosial di sekolah. Penelitian ini adalah library research (riset kepustakaan) dengan menggunakan pendekatan deskriptif analitis. Bidang kajian diarahkan pada menggali ayat-ayat al-Qur'an yang mengisyaratkan tentang etika dalam berkomunikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etika komunikasi guru terhadap siswa berada dalam tiga konteks, yaitu pengajaran dan edukasi, pengarahan dan bimbingan, serta hubungan sosial di sekolah. Dalam ketiga konteks ini, guru selayaknya mampu menjalin komunikasi yang baik dengan siswa, baik secara verbal maupun non-verbal.
EKSISTENSI HIJAB DAN HUBUNGANNYA DALAM PENDIDIKAN DI SEKOLAH Ma'rufatun Ma'rufatun; Mohamad Zaenal Arifin
Dirasah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Dasar Islam Vol 8 No 1 (2025): Dirasah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Dasar Islam
Publisher : Institut Binamadani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51476/dirasah.v8i1.741

Abstract

Hijab kini bukan hanya sebagai bukti identitas keagamaan seseorang, namun menjadi sebuah trend fashion dan trend mode. Perkembangan hijab yang mengikuti dinamika kehidupan menunjukan bahwa hijab bukan lagi soal agama, melainkan soal sosial dan budaya yang telah ada sejak dahulu. Media sosial sebagai sarana hijab semakin berkembang menjadikan hijab menjadi suatu komoditi yang cocok bagi semua kalangan dan terus menarik konsumen. Eksistensi hijab inilah yang ternyata memiliki hubungan erat dengan pendidikan, di mana hijab memiliki pengaruh dalam proses pendidikan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini dengan library research, di mana peneliti mencari, menganalisis, dan menyimpulkan bahan penelitian dari buku, artikel, website, serta jurnal terakreditasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa hijab memiliki hubungan yang kompleks bagi dunia pendidikan. Meskipun masih banyak beragam kontroversi mengenai penggunaan hijab di sekolah, hal itu masih menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh lembaga pendidikan bahwa seharusnya dunia akademis memperhatikan nilai-nilai toleransi dan keberagamaan. Hijab juga sebagai bentuk membangun pendidikan karakter, dengan memakai hijab bukan hanya sekedar mematuhi perintah agama atau mengikuti trend, melainkan membentuk karakter religius, percaya diri, sopan, saling menghormati, rendah hati, menjaga batasan dan mendorong untuk memiliki akhlak terpuji.
STRENGTHENING STUDENTS' SELF-REGULATORY CAPABILITY IN THE PROCESS OF MEMORIZING THE QURAN IN ISLAMIC BOARDING SCHOOLS Suliyono Suliyono; Imron Rosyadi; Mohamad Zaenal Arifin
Dirasah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Dasar Islam Vol 8 No 2 (2025): Dirasah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Dasar Islam
Publisher : Institut Binamadani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51476/dirasah.v8i2.855

Abstract

This study aims to explain the dynamics of self-regulation possessed by students who memorize the Qur'an at the An-Nuqthah Islamic Boarding School, Tangerang. The research approach used is qualitative with a case study model implemented at the An-Nuqthah Islamic Boarding School, Tangerang. The primary sources of this study were seven students who memorize the Qur'an at the An-Nuqthah Islamic Boarding School, Tangerang, and involved the asatidz. Data collection techniques used interviews and observations. Checking the validity of the data used data reduction, data presentation and drawing conclusions. The results of the study show that: 1) Self-regulation in memorizing the Qur'an is carried out with a strategic planning strategy. Motivation is a key part of success in memorizing. Moral and ethical aspects as well as the ability to select and utilize the environment are crucial in the process of self-regulation of students who memorize the Qur'an at the An-Nuqthah Islamic Boarding School, Tangerang. 2) The self-regulation factors applied by the An-Nuqthah students greatly influence their emotional well-being. Behavioral aspects, including self-observation, have implications for morals, ethics, and social assessment, as well as the assessment of social skills. Furthermore, the environment also plays a significant role, with support provided by those closest to the students in their daily lives. This suggests that self-regulation and the emotional well-being of students memorizing the Quran are crucial to the process of memorizing the Quran