Claim Missing Document
Check
Articles

PENYELESAIAN KASUS PENODAAN AGAMA DAN KEBEBASAN BEREKSPRESI DALAM PERSPEKTIF KITAB USHUL AL-FIQH ALISLAMI KARYA WAHBAH AL-ZUHAILI Arifin, Mohamad Zaenal
AL Fikrah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol 2 No 1 (2022): Afikrah
Publisher : STAI Binamadani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51476/alfikrah.v2i1.358

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang kasus penodaan agama dalam kaitannya dengankebebasan berekspresi. Kajian ini merujuk kepada pemikiran hukum IslamWahbah Zuhaili dalam kitab Ushul Fiqh al-Islami. Kebebasan berekspresi padadasarnya merupakan hak dasar setiap individu. Namun dalam implementasikebebasan tersebut seringkali menyinggung kesucian dan muru'ah ajaranagama. Hal semacam ini menjadi kontraproduktif dengan semangatkeharmonisan relasi antar pemeluk umat beragama. Kajian ini menggunakanmetode kualitatif. Pembahasannya menggunakan pendekatan kepustakaandengan mengambil sumber data dari literatur kepustakaan, kemudiandianalisis secara deskriptif analitis. Hasil pembahasan menyimpulkan bahwaIslam sebagai agama yang sangat menghargai kebebasan berekspresi, telahmengatur dengan sangat baik cara-cara berekspresi dan mengemukakanpendapat dan pikiran yaitu dengan memberikan batas-batas tertentu agartidak ada yang dirugikan akibat dari kebebasan tersebut. Pada dasarnyaberekspresi yang bebas tanpa batas tidak boleh ditujukan pada agama danaturan-aturannya yang fundamental. Semuanya dilakukan dalam upayamenjaga dan melindungi agama dari kerusakan.
DIALEKTIKA AL-QUR’AN DENGAN KONTEKS MASYARAKAT ARAB JAHILIYAH Arifin, Mohamad Zaenal
AL Fikrah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol 2 No 2 (2022): Alfikrah
Publisher : STAI Binamadani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51476/alfikrah.v2i2.396

Abstract

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah Swt di tengah masyarakat Arab jahiliyah yang mempunyai sistem keyakinan, sosial, budaya, dan hukum yang berlaku turun menurun. Penelitian ini bertujuan menelisik interaksi timbal balik yang dilakukan al-Qur'an dengan tatanan kehidupan masyarakat Arab Jahiliyah. Jenis penelitian ini adalah library research dengan menggunakan pendekatan deskriptif analitis. Peneliti mengambil sumber data primer melalui penelusuran literatur-literatur kepustakaan, selanjutnya dibahas secara mendalam dan dianalisis menggunakan teknik content analisis untuk menghasilkan kesimpulan. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa sepanjang turunnya al-Qur'an telah terjadi dialektika antara al-Qur’an dengan sistem dan budaya masyarakat jahiliyah dengan mengambil tiga bentuk, yaitu: menerima dan menyempurnakan (tahmil), mengubah atau merekonstruksi (taghyir), dan melarang atau menghentikan keberlakuan suatu hal (tahrim). Dialektika tersebut pada akhirnya menghasilkan dan membentuk model, budaya, sistem baru (model for reality) menurut sudut pandang al-Qur’an.
DAMPAK POSITIF KESEHATAN JASMANI DAN ROHANI DALAM DOKTRIN KEIMANAN DAN PENGAMALAN RITUAL IBADAH ISLAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN Arifin, Mohamad Zaenal
AL Fikrah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol 3 No 1 (2023): Alfikrah
Publisher : STAI Binamadani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51476/alfikrah.v3i1.449

Abstract

Tulisan ini mengulas tentang pandangan al-Qur'an terkait dampak positif dari doktrin keimanan dan pengamalan ritual ibadah dalam agama Islam. Di kalangan kaum muslimin terdapat satu keyakinan bahwa seluruh ajaran yang terkandung dalam al-Qur'an, khususnya doktrin keimanan dan ritual ibadah, membawa manfaat pada kesehatan jasmani dan rohani pelakunya. Penelitia ini berjenis kualitatif kepustakaan, dengan menggunakan pendekatan deskriptif analitis. Metode penelitian yang digunakan adalah metode tafsir maudhu'i, dimana peneliti menentukan tema pokok pembahasan, mengumpulkan ayat-ayat yang relevan dengan tema, dan selanjutnya mendeskripsikan serta menganalisisnya. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa keimanan yang kuat dan istiqamah akan memberikan kestabilan sikap dan emosi bagi orang beriman. Sementara, ritual ibadah shalat, puasa, berzakat, ibadah Haji, dan dzikir, secara psikis akan memberi rasa tenang, bahagia, jauh dari kecemasan, putus asa, dan melatih jiwa memiliki daya tahan untuk berjuang, harapan, optimis, dan semacamnya. Terhadap kesehatan fisik, pengamalan ritual ibadah akan membantu menguatkan sistem kekebalan tubuh, mengistirahatkan dan mengurangi beban organ tubuh, meningkatkan daya serap makanan, memperbaiki fungsi hormon, meremajakan sel-sel tubuh, membersihkan tubuh dari racun, menyingkirkan penyakit, bahkan menyembuhkan dari penyakit yang diderita. Selanjutnya, secara sosial akan menumbuhkan rasa kebersamaan, rasa diperhatikan, dan dukungan sosial. Sebaliknya, akan menghindarkan seseorang dari rasa terisolir, dikucilkan, tidak dapat bergabung dalam kelompok, dan tidak diterima oleh orang lain
PRINSIP-PRINSIP DAN IMPLIKASI KOMUNIKASI VERBAL DAN NON-VERBAL DALAM PERSPEKTIF AL-QUR'AN Arifin, Mohamad Zaenal
AL Fikrah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol 3 No 2 (2023): alfikrah
Publisher : STAI Binamadani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51476/alfikrah.v3i2.508

Abstract

Tulisan ini bertujuan menelusuri prinsip-prinsip berkomunikasi yang baik dalam singgungan al-Qur'an beserta implikasi yang ditimbulkannya dalam proses komunikasi yang dilakukan oleh seorang individu. Dalam suatu interaksi antara seseorang dengan orang lain, kemampuan berkomunkasi yang baik menjadi hal penting, agar menimbulkan kesepahaman dan menghindari perselisihan. Tulisan ini menggunakan metode library research dimana data primer yang digunakan adalah ayat-ayat al-Qur'an. Data pendukung diambilkan dari kitab tafsir, buku, jurnal, dan sumber lainnya yang relevan. Tulisan ini menemukan bahwa prinsip-prinsip komunikasi yang baik dalam al-Qur'an adalah mengucapkan perkataan yang benar dan tepat sasaran, perkataannya membekas dalam jiwa, perkataan yang sopan dan lembut enak didengar, dan perkataan yang mengandung penghormatan dan penghargaan pada orang lain. Implikasinya adalah ketika berkomunikasi dengan orang lain, pesan komunikasi yang disampaikan setiap orang harus mengandung kebenaran, mengedukasi, menyenangkan bagi pendengar, menggunakan bahasa tubuh yang menarik, seperti bermuka manis, tersenyum, memandang lawan bicara, dan lainnya.
PENDIDIKAN MORAL DALAM KISAH YUSUF AS Arifin, Mohamad Zaenal
Kordinat: Jurnal Komunikasi antar Perguruan Tinggi Agama Islam Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Komunikasi Antar Perguruan Tinggi Agama Islam
Publisher : Kopertais Wilayah I DKI Jakarta dan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kordinat.v15i1.6312

Abstract

Pemaparan kisah-kisah dalam al-Qur’an bukanlah tanpa tujuan, tetapi diungkapkan sebagai pesan pengajaran yang disampaikan pemberi pesan (Allah Swt) kepada pembaca melalui rangkaian peristiwa, kehidupan sosial dan karakter para tokohnya. Kisah-kisah merupakan bagian petunjuk yang diberikan oleh Allah swt tentang berbagai hal yang berhubungan dengan moralitas, sistem nilai, tingkah laku, dan sebagainya. Ketika membaca kisah-kisah dalam al-Qur’an, orang-orang beriman hendaknya mengambil intisari pesan yang dikandung, kemudian menjadikannya sebagai pelajaran, patokan, dan idealisme yang dipegang dalam hidup bermasyarakat
Ketahanan Anak dalam Konflik Keluarga: Analisis Tafsir Maqasidi pada Kisah Nabi Yusuf as Arifin, Mohamad Zaenal; Anshori, Muh; Ghofur, Abdul
IQ (Ilmu Al-qur'an): Jurnal Pendidikan Islam Vol. 8 No. 02 (2025): IQ (Ilmu Al-qur’an): Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Tarbiyah, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37542/aeag5m30

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi kisah Nabi Yusuf as yang mengisyaratkan kejadian konflik keluarga. Tujuannya, menemukan sumber nilai Qur’ani dalam pembentukan ketahanan anak yang terlibat konflik keluarga. Penelitian ini berjenis kualitatif kepustakaan, data primer yang digunakan adalah Al-Qur’an, dan data sekunder berupa kitab tafsir, buku, dan jurnal ilmiah. Data-data yang diperoleh, diolah dan dianalisis menggunakan metode tafsir maudhui dengan pendekatan maqasid al-syari’ah. Temuan penelitian, fragmentasi kisah Nabi Yusuf as. menggambarkan adanya konflik keluarga yang melibatkan anak, dimulai dari cerita mimpi Nabi Yusuf as. kepada ayahnya, hingga terjadinya berbagai peristiwa tragis yang dialaminya; dijerumuskan ke dasar sumur, dijual sebagai budak oleh kafilah, difitnah melakukan pelecehan, serta diancam masuk penjara. Penelitian ini menyimpulkan, ketahanan anak dalam konflik keluarga diperoleh melalui upaya membangkitkan kekuatan diri (keyakinan pada Allah Swt, kepercayaan diri, dan optimisme), pemberian dukungan orang lain, menguatkan regulasi diri dan self-efficacy. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada aspek analisis deskriptif dari data yang terbatas. Maka, diharapkan adanya studi lanjutan dengan cakupan data yang lebih banyak, terutama data yang bersifat lapangan.
Relasi Pendidikan Orang Tua dan Anak Perspektif Al-Qur’an (QS. Luqman Ayat 12-19) Zaenal Arifin, Mohamad; Habibi, Erfan; Murtiningsih, Siti
EDUSHOPIA : Journal of Progressive Pedagogy Vol. 3 No. 1 (2026): EDUSHOPIA: JOURNAL OF PROGRESSIVE PEDAGOGY
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam STAI Sayid Mohammad Alawi Al Maliki

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64431/edushopia.v3i1.411

Abstract

Penelitian ini membahas konsep relasi pendidikan antara orang tua dan anak sebagaimana digambarkan dalam QS. Luqman. Dalam konteks modern, perubahan sosial dan budaya sering melemahkan komunikasi edukatif dalam keluarga, sehingga pendidikan kehilangan dimensi moral dan spiritualnya. QS. Luqman memberikan model pendidikan yang menekankan keseimbangan antara keteladanan, kasih sayang, dan kebijaksanaan dalam membentuk karakter anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan jenis penelitian studi kepustakaan (library research). Sumber data utama diperoleh dari QS. Luqman (ayat 12–19), dan sumber sekunder dari kitab tafsir seperti Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Tafsir al-Mishbah, Tafsir Al-Azhar, dan lainnya. Selain itu, juga bersumber dari buku dan artikel jurnal ilmiah yang relevan. Analisis data dilakukan melalui metode tafsir tematik (maudhu‘i) dan pendekatan pedagogis Qur’ani untuk menemukan prinsip-prinsip pendidikan yang bersifat universal dan aplikatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa QS. Luqman menampilkan pola relasi pendidikan antara orang tua dan anak digambarkan sebagai dukungan dan bimbingan langsung, kualitas interaksi dan ikatan emosional, dan penanaman nilai dan karakter. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan Qur’ani sebagaimana dicontohkan Luqman bersifat integratif, menghubungkan rumah dan sekolah dalam satu visi pembentukan karakter yang berlandaskan tauhid dan kebijaksanaan. Nilai-nilai pendidikan Luqman dapat menjadi model konseptual bagi pengembangan kurikulum pendidikan Islam berbasis keluarga yang relevan dengan tantangan zaman.
FIL–JAWAB–NATIJAH AS AN ALTERNATIVE FRAMEWORK FOR LEGAL INTERPRETATION OF QURANIC NARRATIVE VERSES: THE PERSPECTIVE OF IZZ AL-DIN IBN ABD AL-SALAM Arifin, Mohamad Zaenal; Bahrul Hikam, Ahmad; Nurkholis
Jurnal At-Tibyan: Jurnal Ilmu Alqur'an dan Tafsir Vol 10 No 2 (2025): Volume 10 No. 2 December 2025
Publisher : The Department of the Qur'anic Studies, Faculty of Ushuluddin, Adab, and Da'wah, State Institute of Islamic Studies (IAIN) Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/at-tibyan.v10i2.12389

Abstract

Quranic narrative verses, in addition to serving as sources of spiritual, moral, and educational values, can also function as a medium for formulating legal principles. This article examines a model of interpreting Quranic narrative verses in Shajarat al-Maarif by Izz al-Din ibn Abd al-Salam. This study employs a qualitative method based on library research. The primary source of data is Shajarat al-Maarif, while secondary sources include classical Quranic commentaries, books, and scholarly articles relevant to the topic. The collected data are analyzed using content analysis techniques. The findings reveal that Ibn Abd al-Salam interprets Quranic narrative verses through a fil–jawab–natijah model, which is integrated with elements of Sufism, maqasid al-shariah, and usul al-fiqh in the process of deriving legal principles. Through this model, every human action (fil) is evaluated based on God’s response (jawab), which subsequently generates normative consequences (natijah) that can be generalized into legal maxims. From the narratives of the prophets—such as Prophet Yusuf, Musa, and Ibrahim—and the figure of Qarun, Ibn Abd al-Salam extracts legal principles including non-formal evidentiary procedures, the prioritization of public interest (maslahah), and prophetic ethics in the implementation of legal obligations (taklif). From the story of Qarun, he further emphasizes the importance of wealth redistribution, anti-greed ethics, and policies of economic justice. This study concludes that the fil–jawab–natijah model proposed by Ibn Abd al-Salam enriches the discourse of legal interpretation of Quranic narrative verses by offering an integrative and contextual approach.
PENDIDIKAM MORAL DALAM AL-QUR'AN: TELAAH ATAS KISAH YUSUF AS. Mohamad Zaenal Arifin
Dirasah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Dasar Islam Vol 3 No 3 (2020): Dirasah : Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Dasar Islam
Publisher : Institut Binamadani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan menemukan pendidikan moral yang terkandung pada kisah Nabi Yusuf as yang dikisahkan dalam al-Qur'an. Pemaparan kisah-kisah dalam al-Qur’an bukanlah tanpa tujuan, tetapi diungkapkan sebagai pesan pengajaran yang disampaikan pemberi pesan (Allah Swt) kepada pembaca melalui rangkaian peristiwa, kehidupan sosial dan karakter para tokohnya. Penelitian ini adalah library research (riset kepustakaan). Pendekatan yang digunakan adalah menggunakan metode tafsir tematik satu surat al-Qur’an dan estetis (sastra). Analisa kritis diarahkan untuk menggali pendidikan moral yang terkandung dalam kisah Yusuf as. Titik analisa diarahkan pada bangunan kisah, gaya penuturan, kronologis cerita, penceritaan karakter dan tokoh, aplikasi kosakata dan kalimat, dan sebagainya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan moral dalam kisah Yusuf as terarah pada tiga ranah kehidupan, yakni: pendidikan moral bagi individu, pendidikan moral bagi pemimpin, dan pendidikan moral bagi anggota masyarakat.
Pemenuhan Aksesibilitas Pendidikan Penyandang Disabilitas dalam Al-Qur’an Mohamad Zaenal Arifin
Dirasah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Dasar Islam Vol 3 No 02 (2020): Dirasah Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Dasar islam
Publisher : Institut Binamadani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan menggali konsep pemenuhan aksesibilitas pendidikan bagi penyandang disabilitas yang diisyaratkan dalam al-Qur'an. Eksistensi kaum penyandang cacat tidak dapat dinafikan sebab merupakan bagian dari kehidupan manusia. Pada tataran realita, para penyandang cacat masih sering mendapatkan perlakuan diskriminasi dan stigma negatif dari beberapa pihak. Berangkat dari hal ini maka diperlukan upaya terstruktur baik secara teoritis maupun praktis untuk melindungi, melayani, maupun mengembangkan potensi yang dimiliki para penyandang disabilitas. Salah satu jalan yang ditempuh adalah melalui jalur pendidikan dalam arti yang luas, dimana tujuan akhirnya adalah meniadakan stereotip, terpenuhinya hak-hak dan mendorong kemandirian kelompok disabilitas tersebut. Penelitian ini adalah library research (riset kepustakaan) dengan menggunakan pendekatan deskriptif analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setidaknya al-Qur'an telah melakukan 5 (lima) upaya dalam pemenuhan aksesibilitas pendidikan bagi penyandang disabilitas, yaitu: upaya penguatan konsep diri, upaya pengakuan atas eksistensi penyandang disabilitas, upaya perlakuan setara terhadap penyandang disabilitas, upaya penyediaan akses layanan bagi penyandang disabilitas, dan upaya pemberdayaan penyandang disabilitas.