cover
Contact Name
Zulkarnain
Contact Email
dzul9787@gmail.com
Phone
+6287832631987
Journal Mail Official
selaparang.ummat@gmail.com
Editorial Address
Jl. KH. Ahmad Dahlan No.1, Pagesangan, Kec. Mataram, Kota Mataram, Nusa Tenggara Bar. 83115
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan
ISSN : 26145251     EISSN : 2614526X     DOI : https://doi.org/10.31764/jpmb.v5i1.6393
SELAPARANG : Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan merupakan jurnal yang mendiseminasikan setiap pemikiran dan ide gagasan atas hasil penelitian dan pemanfaatan teknologi untuk diimplementasikan kepada masyarakat mencakup ; (1). Bidang ilmu pengetahuan ; MIPA (Matematika, Fisika, Kimia, Biologi), Terapan, Sosial, Budaya, Ekonomi, dan Kesehatan, (2). Pelatihan dan peningkatan hasil pendidikan dan (3). Pengembangan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 3,077 Documents
Optimalisasi kesehatan gerak dan fungsi tubuh melalui skrining dan intervensi fisioterapi komunitas Mariel Daba Sekar Sari Sius; Asri Sulistyaningrum; Endah Sulistiyani; I Made Wahyu Palaguna; Kade Ngurah Dwi Putra; Dewa Agung Gina Andriani
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.41163

Abstract

AbstrakAktivitas berkebun bermanfaat untuk menjaga kebugaran, tetapi postur membungkuk atau jongkok yang dipertahankan, gerakan berulang, serta mengangkat dan membawa beban dapat meningkatkan beban mekanis pada bahu, pinggang, dan lutut. Informasi awal dari mitra menunjukkan adanya warga dengan keluhan gerak dan fungsi tubuh, sementara kegiatan skrining, edukasi, dan intervensi fisioterapi belum tersedia secara rutin di desa. Kegiatan pengabdian ini bertujuan mengidentifikasi masalah gerak dan fungsi tubuh, meningkatkan pengetahuan kesehatan gerak dan ergonomi berkebun, memberikan intervensi fisioterapi sesuai indikasi, serta menyusun pemetaan awal kebutuhan pelayanan lanjutan. Program dilaksanakan pada 16–30 April 2026 melalui tahap persiapan, pelaksanaan, evaluasi, dan dokumentasi. Sekitar 100 warga mengikuti kegiatan umum. Sebanyak 30 orang menjalani skrining individual lengkap, sedangkan 40 orang mengikuti intervensi; jumlah terakhir mencakup 30 peserta hasil skrining dan 10 peserta tambahan yang mengikuti edukasi serta latihan kelompok setelah asesmen singkat. Dari 30 peserta skrining, keluhan utama terdiri atas nyeri bahu pada 14 orang (46,7%), nyeri saat mengangkat lengan pada 5 orang (16,7%), nyeri lutut pada 4 orang (13,3%), nyeri pinggang bawah pada 4 orang (13,3%), dan gangguan fungsi gerak pascastroke pada 3 orang (10,0%). Intervensi dipilih menurut keluhan dan temuan pemeriksaan. Respons segera dicatat secara kualitatif melalui laporan kenyamanan bergerak; besaran penurunan nyeri tidak dapat dihitung karena skala nyeri sebelum–sesudah belum digunakan. Kegiatan menghasilkan pemetaan awal masalah gerak, penyampaian edukasi, pelaksanaan intervensi sesuai indikasi, dan rekomendasi tindak lanjut, tetapi belum dapat menyimpulkan efektivitas klinis. Kata kunci: fisioterapi komunitas; kesehatan gerak; lansia; muskuloskeletal; skrining AbstractFarming helps maintain physical fitness; however, sustained bending or squatting, repetitive movements, and lifting or carrying loads can increase mechanical stress on the shoulders, lower back, and knees. Initial information from the community partner indicated that some residents had movement and functional complaints, while routine physiotherapy screening, education, and intervention were not yet available in the village. This community service program aimed to identify movement and functional problems, improve knowledge of movement health and farming ergonomics, provide indication-based physiotherapy interventions, and develop an initial map of follow-up service needs. The program was conducted from 16 to 30 April 2026 through preparation, implementation, evaluation, and documentation. Approximately 100 residents joined the general activities. Thirty participants underwent comprehensive individual screening, whereas 40 joined the interventions; the latter included the 30 screened participants and 10 additional residents who joined education and group exercise after a brief assessment. Among the 30 screened participants, the main complaints were shoulder pain in 14 participants (46.7%), pain during arm elevation in 5 (16.7%), knee pain in 4 (13.3%), low back pain in 4 (13.3%), and post-stroke movement limitations in 3 (10.0%). Interventions were selected according to complaints and examination findings. Immediate responses were recorded qualitatively as self-reported movement comfort; the magnitude of pain reduction could not be calculated because a pre–post pain scale was not used. The program produced an initial problem map, delivered education, implemented indication-based interventions, and generated follow-up recommendations, but it did not establish clinical effectiveness. Keywords: community physiotherapy; movement health; musculoskeletal disorders; older adults; screening
Pendampingan penerapan sistem monitoring suhu berbasis sensor dan sistem sirkulasi udara pada proses fermentasi di LPPNU Tani Sejahtera Cucuk Evi Lusiani; Eko Naryono; Anang Takwanto; Susanto Susanto; Listiyana Candra Dewi
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.41145

Abstract

Abstrak Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan meningkatkan kapasitas kelompok tani dalam mengoperasikan sistem monitoring suhu berbasis sensor digital yang diintegrasikan dengan sistem sirkulasi udara (forced aeration) pada proses fermentasi pupuk organik di LPPNU Tani Sejahtera, Desa Duwet, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Permasalahan utama yang dihadapi mitra adalah proses fermentasi yang masih dilakukan secara konvensional tanpa monitoring suhu dan pengendalian aerasi sehingga pengelolaan proses belum optimal. Program dilaksanakan menggunakan pendekatan partisipatif melalui tahapan identifikasi kebutuhan, perancangan dan implementasi teknologi, pelatihan, pendampingan, serta evaluasi terhadap 5 orang peserta menggunakan kuesioner. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 100% peserta menyatakan teknologi yang diterapkan membantu mengatasi permasalahan produksi, sedangkan 60% peserta menyatakan setuju dan 40% sangat setuju bahwa kegiatan meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam pengoperasian teknologi fermentasi. Program ini menunjukkan bahwa penerapan teknologi tepat guna yang disertai pendampingan partisipatif mampu meningkatkan penerimaan teknologi dan kapasitas mitra dalam pengelolaan proses fermentasi. Kata kunci: aerasi; fermentasi pupuk organik; pemberdayaan masyarakat; sensor suhu; pertanian berkelanjutan Abstract This Community Service Program aimed to enhance the capacity of the LPPNU Tani Sejahtera farmer group in operating a digital sensor-based temperature monitoring system integrated with a forced aeration system for the organic fertilizer fermentation process in Duwet Village, Tumpang District, Malang Regency, Indonesia. The main challenge faced by the community partner was the conventional fermentation process, which lacked temperature monitoring and aeration control, resulting in suboptimal process management. The program was implemented using a participatory approach consisting of needs assessment, technology design and implementation, training, mentoring, and evaluation involving five participants through a questionnaire. The evaluation results showed that 100% of the participants stated that the implemented technology helped address production-related problems, while 60% agreed and 40% strongly agreed that the program improved their understanding and technical skills in operating the fermentation technology. These findings indicate that the implementation of appropriate technology, combined with participatory mentoring, effectively enhanced technology acceptance and strengthened the partners' capacity in managing the fermentation process. Keywords: aeration; organic fertilizer fermentation; community empowerment; sensor-based temperature monitoring; sustainable agriculture.
Peningkatan pengetahuan masyarakat tentang penggunaan antibiotik rasional melalui penyuluhan “antibiotik tepat, tubuh pun sehat” di Dusun Kudang, Desa Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya Nur'ain Fauzia; Ananda Laelly Nurfadillah; Tiara Ivanka; Alika Rahma Kalimatillah; Aska Reisya Aulia; Deri Priadi; Devian Herdiana; Dhea Maria Amanda; Dhea Nurul Ainy; Hesti Siti Fauziah; Sheilla Fitriani Zahwa; Dichy Nuryadin Zain; Tony Prabowo
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.41337

Abstract

Abstrak Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai menjadi salah satu faktor utama yang memicu resistensi bakteri, yang berkontribusi terhadap kenaikan angka penyakit, kematian, dan pengeluaran di bidang kesehatan. Memberikan edukasi kepada publik merupakan langkah strategis untuk mendorong penggunaan antibiotik yang lebih bijak. Kegiatan penyuluhan bertajuk “Antibiotik Tepat, Tubuh Pun Sehat” diadakan pada 22 Agustus 2025 di Aula Desa Sukaratu, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, yang ditujukan bagi penduduk Dusun Kudang RT 03, RT 04, RT 05, dan RT 06. Sebanyak 20 peserta terlibat dalam kegiatan yang meliputi penyampaian materi, pemutaran video edukasi, diskusi interaktif, serta pengisian kuesioner pre-test dan post-test. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan di kalangan masyarakat, di mana kategori “Baik” meningkat dari 65% menjadi 80%, sedangkan kategori “Kurang” berkurang dari 15% menjadi 5%. Pengujian Wilcoxon Signed Ranks Test menunjukkan perbedaan signifikan (p = 0,001) antara hasil pre-test dan post-test. Penyuluhan ini terbukti berhasil dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penggunaan antibiotik yang tepat, sehingga diharapkan dapat meminimalkan risiko resistensi bakteri dalam komunitas. Kata kunci: antibiotik; edukasi; penyuluhan; resistensi; pengetahuan masyarakat Abstract Inappropriate antibiotic use is a major factor triggering bacterial resistance, which contributes to increased disease rates, deaths, and healthcare expenditures. Providing public education is a strategic step to encourage wiser antibiotic use. An outreach activity entitled "The Right Antibiotics, a Healthy Body" was held on August 22, 2025, at the Sukaratu Village Hall, Sukaratu District, Tasikmalaya Regency, aimed at residents of Kudang Hamlet RT 03, RT 04, RT 05, and RT 06. A total of 20 participants were involved in the activity which included delivering materials, showing educational videos, interactive discussions, and completing pre-test and post-test questionnaires. The evaluation results showed an increase in knowledge among the community, where the "Good" category increased from 65% to 80%, while the "Poor" category decreased from 15% to 5%. The Wilcoxon Signed Ranks Test showed a significant difference (p = 0.001) between the pre-test and post-test results. This outreach has proven successful in increasing public awareness about the proper use of antibiotics, so it is hoped that it can minimize the risk of bacterial resistance in the community. Keywords:  antibiotics; education; counseling; resistance; public knowledge
Pemberdayaan perempuan mengelola sampah organik rumah tangga berbasis sirkular ekonomi mewujudkan Zero Waste Apryanus Fallo; Susana Purnamasari Baso; Gerardus Diri Tukan; Renstya Jofita Bentanone; Wilhelmina Bhoki Betu; Yusyurun Afonso; Irly Lestriani Haba Kore; Rinaldus Haryanto Jeranu; Maria Yulia Pawe; Maria Augustin Lopes Amaral; Maria Goreti Malut
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.40188

Abstract

Abstrak Sampah organik rumah tangga merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang dihadapi masyarakat perkotaan, termasuk di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pengelolaan sampah yang tidak optimal menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan dan lingkungan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu anggota Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang Maulafa dalam mengolah sampah organik rumah tangga menjadi Pupuk Organik Cair (POC) berbasis sirkular ekonomi. Kegiatan dilaksanakan pada 19 Juni 2026 di RT 019, Kelurahan Oebufu, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, dengan melibatkan 20 peserta dan enam mahasiswa. Metode meliputi penyuluhan, demonstrasi, praktik langsung, pre-test, post-test, observasi keterampilan, dan monitoring. Hasil evaluasi menunjukkan skor rata-rata pengetahuan peserta meningkat dari 42% menjadi 88%, atau sebesar 46 poin persentase. Sebanyak 75% peserta juga mampu melakukan sekurang-kurangnya empat dari lima tahapan utama pembuatan POC secara tepat. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan partisipatif dapat memperkuat kemampuan dasar peserta dalam mengolah limbah dapur dan mendukung penerapan ekonomi sirkular di tingkat rumah tangga. Kata kunci: pupuk organik cair; sampah dapur; sirkular ekonomi; wkri; ketahanan pangan. Abstract Household organic waste remains a significant environmental problem in urban areas, including Kupang City, East Nusa Tenggara. Inadequate waste management creates negative impacts on public health and the environment. This community service programme aimed to improve the knowledge and skills of members of the Indonesian Catholic Women’s Association (WKRI), Maulafa Branch, in processing household organic waste into Liquid Organic Fertiliser (LOF) using a circular economy approach. The programme was conducted on 19 June 2026 in Neighbourhood Unit 019, Oebufu Subdistrict, Maulafa District, Kupang City, and involved 20 participants and six university students. The methods included counselling, demonstrations, hands-on practice, pre-tests, post-tests, skills observation, and monitoring. The evaluation results showed that the participants’ average knowledge score increased from 42% to 88%, representing an improvement of 46 percentage points. In addition, 75% of participants were able to perform at least four of the five main stages of LOF production correctly. These findings indicate that participatory training can strengthen participants’ basic capacity to process kitchen waste and support the implementation of a circular economy at the household level. Keywords: liquid organic fertilizer; kitchen waste; circular economy; wkri; food security.
Edukasi manajemen penyakit kronis pada pasien di Rumah Singgah Sahabat Orang Sakit Palu, Sulawesi Tengah Levana Velincia Tanriono; Utami Islamiati; Septian Abraham Lambert Siahaya; Rachma Fithratul Afwia
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.40515

Abstract

Abstrak Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas yang memerlukan pengelolaan jangka panjang melalui penerapan self-management yang optimal. Rendahnya pengetahuan pasien mengenai penggunaan obat, kepatuhan terapi, dan pola hidup sehat dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan pasien penyakit kronis dan keluarga pendamping mengenai manajemen penyakit kronis di Rumah Singgah Sahabat Orang Sakit (SOS) Palu, Sulawesi Tengah. Kegiatan dilaksanakan pada 30 Mei 2026 dengan melibatkan 20 peserta menggunakan metode edukasi partisipatif yang meliputi ceramah interaktif, diskusi, tanya jawab, pemeriksaan kesehatan sederhana, serta pembagian Booklet edukasi. Evaluasi dilakukan menggunakan instrumen pretest dan posttest, kemudian dianalisis dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta yang ditandai dengan meningkatnya nilai rata-rata dari 5,70 ± 0,86 pada pretest menjadi 8,75 ± 0,72 pada posttest. Seluruh peserta mengalami peningkatan nilai setelah mengikuti edukasi. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara nilai pretest dan posttest (Z = -4,128; p < 0,001), yang mengindikasikan bahwa edukasi yang diberikan efektif dalam meningkatkan pengetahuan peserta mengenai manajemen penyakit kronis. Kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan pemahaman pasien dan keluarga pendamping mengenai penggunaan obat yang rasional, kepatuhan terapi, penerapan pola hidup sehat, dan pencegahan komplikasi. Edukasi kesehatan secara berkelanjutan perlu terus dilakukan untuk memperkuat kemampuan self-management sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien penyakit kronis. Kata kunci: edukasi kesehatan; penyakit kronis; self-management; pengabdian kepada masyarakat; kepatuhan terapi. Abstract Non-Communicable Diseases (NCDs) are a leading cause of morbidity and mortality worldwide and require long-term management through effective self-management. Limited patient knowledge regarding proper medication use, treatment adherence, and healthy lifestyle practices increases the risk of disease-related complications. This Community Service Program aimed to improve the knowledge of patients with chronic diseases and their family caregivers regarding chronic disease management at the Sahabat Orang Sakit (SOS) Shelter House in Palu, Central Sulawesi. The program was conducted on May 30, 2026, involving 20 participants through a participatory educational approach consisting of interactive lectures, group discussions, question-and-answer sessions, basic health screenings, and the distribution of educational Booklets. Program effectiveness was evaluated using pretest and posttest questionnaires, and the data were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test. The results showed a significant improvement in participants' knowledge, with the mean score increasing from 5.70 ± 0.86 in the pretest to 8.75 ± 0.72 in the posttest. All participants demonstrated improved scores following the educational intervention. Statistical analysis revealed a significant difference between the pretest and posttest scores (Z = −4.128; p < 0.001), indicating that the educational intervention effectively improved participants' knowledge of chronic disease management. In addition, the program enhanced participants' understanding of rational medication use, treatment adherence, healthy lifestyle practices, and complication prevention. These findings suggest that community-based health education is an effective strategy for improving knowledge and supporting self-management among patients with chronic diseases. Continuous health education and follow-up support are recommended to sustain behavioral changes and improve the quality of life of individuals living with chronic diseases. Keywords: health education; chronic disease; self-management; community service; treatment adherence
Penguatan kapasitas UMKM kerajinan tas ketak melalui pelatihan produksi, manajemen usaha, dan pemasaran digital Nining Suryani; Windi Baskoro Prihandoyo; Ronny Basista; Titin Mulyani; Imbuk Risnawati
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.41293

Abstract

AbstrakDusun Jeruah, Desa Montong Beter, Kabupaten Lombok Timur merupakan sentra kerajinan tas ketak yang memiliki potensi ekonomi tinggi. Namun, pelaku UMKM masih menghadapi berbagai kendala, antara lain keterbatasan keterampilan produksi masyarakat lokal, belum adanya standarisasi harga, serta pemasaran yang masih dilakukan secara konvensional. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan memperkuat kapasitas pelaku UMKM melalui pelatihan produksi, manajemen usaha, dan pemasaran digital sehingga mampu meningkatkan kualitas produk, pengelolaan usaha, serta jangkauan pemasaran. Metode yang digunakan adalah pendampingan partisipatif melalui tahapan pemetaan masalah, pelatihan teknis produksi dengan pendekatan learning by doing, pelatihan manajemen usaha yang meliputi perhitungan harga pokok produksi (HPP) dan penentuan harga jual, pelatihan fotografi produk, pemasaran digital melalui Instagram, TikTok Shop, dan Shopee, serta penyusunan katalog produk sebagai acuan standar harga. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta yang sebelumnya hanya terlibat pada sebagian proses produksi telah mampu memproduksi tas ketak secara mandiri dari tahap persiapan bahan hingga finishing. Selain itu, peserta mampu menghitung HPP dan menetapkan harga jual secara lebih konsisten, serta mulai memanfaatkan media digital sebagai sarana promosi sehingga jangkauan pemasaran semakin luas dan mulai memperoleh pesanan secara daring. Kegiatan ini berkontribusi terhadap peningkatan kapasitas pelaku UMKM, penguatan kemandirian usaha, serta pengembangan ekonomi lokal berbasis potensi kerajinan tas ketak di Dusun Jeruah, Lombok Timur. Kata kunci: UMKM; tas ketak; pelatihan produksi; manajemen usaha; pemasaran digital. AbstractJeruah Hamlet, Montong Beter Village, East Lombok Regency, is a center for ketak bag handicrafts with considerable economic potential. However, local micro, small, and medium enterprises (MSMEs) continue to face several challenges, including limited production skills among local communities, the absence of standardized product pricing, and reliance on conventional marketing practices. This Community Service Program aimed to strengthen the capacity of ketak bag MSMEs through production training, business management, and digital marketing to improve product quality, business management, and market reach. The program employed a participatory mentoring approach consisting of problem identification, technical production training using the learning by doing method, business management training covering cost of goods sold (COGS) calculation and pricing strategies, product photography training, digital marketing through Instagram, TikTok Shop, and Shopee, and the development of a product catalog as a pricing reference. The results showed that participants who had previously been involved only in the final stages of production were able to independently produce ketak bags from raw material preparation to the finishing process. In addition, participants improved their ability to calculate production costs, establish more consistent selling prices, and utilize digital platforms for product promotion, resulting in broader market exposure and the emergence of online sales. The program contributed to strengthening MSME capacity, enhancing business independence, and promoting local economic development based on the ketak bag handicraft industry in Jeruah Hamlet, East Lombok. Keywords: MSMEs; ketak bags; production training; business management; digital marketing.
Pendampingan optimasi google bisnis dan media sosial untuk meningkatkan daya saing UMKM agrowisata, kuliner dan oleh-oleh di Desa Bilebante Baiq Dewi Lita Andiana; Widayat Widayat; Muhamad Sayuti; Triana Lidona Aprilani; Sukriati Sukriati
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.40461

Abstract

AbstrakDesa Wisata Hijau Bilebante di Kabupaten Lombok Tengah baru saja dinobatkan sebagai Desa Wisata Terbaik Nasional dalam ajang Wonderful Indonesia Awards (WIA) 2025 dan akan mewakili Indonesia pada kompetisi Best Tourism Village 2026 yang diinisiasi UNWTO. Di balik pencapaian ini, mayoritas pelaku UMKM yang bergerak di bidang kuliner dan homestay dengan usia usaha 1–5 tahun belum memanfaatkan pemasaran digital secara optimal, khususnya Google Bisnis dan media sosial. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) kolaborasi Universitas Islam Al-Azhar dan Universitas Muhammadiyah Malang ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan pelaku UMKM dalam mengoptimalkan Google Bisnis, menerapkan etika bisnis di media sosial, memahami konsep digital marketing secara holistik, serta menginternalisasi prinsip pariwisata berkelanjutan. Mitra sasaran adalah 20 pelaku UMKM Desa Bilebante yang direkomendasikan oleh Tim Penggerak PKK. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan, praktik langsung pembuatan akun Google Bisnis, pendampingan penyusunan konten pemasaran digital, dan diskusi interaktif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta sebesar 85% berdasarkan observasi dan tanya jawab. Antusiasme peserta sangat tinggi, meskipun terkendala keterbatasan perangkat smartphone. Kegiatan ini menghasilkan output berupa 12 akun Google Bisnis baru, handout panduan langkah demi langkah, serta pemetaan kebutuhan pendampingan lanjutan pada aspek pencatatan keuangan dan packaging.. Kata kunci: pengabdian; google bisnis; digital marketing; etika digital; pariwisata berkelanjutan. Abstract Bilebante Green Tourism Village in Central Lombok Regency has recently been named Indonesia's Best Tourism Village at the 2025 Wonderful Indonesia Awards (WIA) and will represent Indonesia in the 2026 Best Tourism Village competition initiated by UNWTO. Behind this achievement, the majority of MSMEs engaged in culinary and homestay businesses with business ages ranging from 1 to 5 years have not optimally utilized digital marketing, particularly Google Business and social media. This Community Service Program (PKM), a collaboration between Al-Azhar Islamic University and Muhammadiyah University of Malang, aims to enhance the understanding and skills of MSME actors in optimizing Google Business, implementing business ethics on social media, comprehending digital marketing concepts holistically, and internalizing sustainable tourism principles. The target partners were 20 MSME actors from Bilebante Village recommended by the PKK Driving Team. Implementation methods included counseling, hands-on practice in creating Google Business accounts, mentoring on digital marketing content creation, and interactive discussions. The results showed an 85% increase in participants' understanding based on observations and Q&A sessions. Participants' enthusiasm was very high, despite constraints related to limited smartphone devices. The activity produced 12 new Google Business accounts, a step-by-step guide handout, and a mapping of further assistance needs in financial recording and packaging aspects. Keywords: community service; google business; digital marketing; digital ethics; sustainable tourism.
Manajemen krisis kepariwisataan untuk mempertahankan citra positif destinasi wisata Anjang Priliantini; Andre Noevi Rahmanto; Mahfud Anshori; Christina Tri Hendriyani; Miftah Faridl Widhagdha; Nora Nailul Amal
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.41211

Abstract

Abstrak Indonesia dikenal dengan beragam destinasi wisata yang populer di kalangan wisatawan dari seluruh dunia. Sektor pariwisata merupakan sumber pendapatan negara yang besar. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kecelakaan di destinasi wisata Indonesia masih sering terjadi. Untuk mengantisipasi dampak tersebut, pemerintah telah menerbitkan regulasi berupa Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia No. 10 Tahun 2019 tentang Manajemen Krisis Kepariwisataan. Namun, pada kenyataannya, banyak destinasi wisata yang belum menerapkannya. Bahkan, pada tahun 2024, menurut Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI periode 2020-2024, baru 1% dari seluruh destinasi wisata di Indonesia yang telah memenuhi standar keselamatan dan keamanan dengan prosedur mitigasi yang telah ditetapkan. Berdasarkan fenomena tersebut, dipandang perlu untuk menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat guna mendorong pelaku usaha pariwisata agar menerapkan Peraturan Menteri tersebut dengan mengembangkan prosedur mitigasi yang meliputi kesiapsiagaan, tanggap darurat, pemulihan, dan normalisasi. Mitra sasaran kegiatan ini adalah para pegiat pariwisata di Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kab. Karanganyar, yang ditetapkan oleh Pemkab Karanganyar sebagai wilayah dengan potensi utama di sektor pariwisata. Tim akan melakukan sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran pelaku usaha pariwisata tentang pentingnya manajemen krisis pariwisata dan memberikan pendampingan dalam mengembangkan prosedur mitigasi. Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat dinilai berhasil dalam meningkatkan kesadaran pelaku usaha pariwisata tentang pentingnya prosedur mitigasi terhadap krisis kepariwisataan, namun terkendala dalam penyusunan prosedur itu sendiri, sebab beberapa aspek yang harus dipenuhi dalam pembuatan prosedur mitigasi adalah adanya keterlibatan atau peran dari beberapa pihak, dimana pada kenyataannya belum semua pihak memprioritaskan prosedur mitigasi krisis kepariwisataan ini. Karenanya, disarankan untuk menyelenggarakan focus group discussion (FGD) untuk menyamakan persepsi tentang pentingnya prosedur keselamatan dan keamanan berwisata yang melibatkan berbagai stakeholder pariwisata di Kabupaten Karanganyar. Kata kunci: mitigasi; prosedur; manajemen krisis kepariwisataan; destinasi wisata. Abstract Indonesia is known for its diverse tourist destinations, popular with tourists from all over the world. The tourism sector is a major source of state revenue. However, it's undeniable that accidents at Indonesian tourist destinations still occur frequently. To anticipate these impacts, the government has issued regulations in the form of Regulation of the Minister of Tourism and Creative Economy of the Republic of Indonesia No. 10 of 2019 concerning Tourism Crisis Management. However, in reality, many tourist destinations have not yet implemented it. In fact, by 2024, according to Sandiaga Uno, the Indonesian Minister of Tourism and Creative Economy for the 2020-2024 period, only 1% of all tourist destinations in Indonesia will have met safety and security standards with mitigation procedures in place. Based on this phenomenon, it is deemed necessary to conduct a community service initiative aimed at encouraging tourism business operators to implement the relevant Ministerial Regulation by developing mitigation procedures covering preparedness, emergency response, recovery, and normalization. The target partners for this activity were tourism stakeholders in Kemuning Village, Ngargoyoso District, Karanganyar Regency – an area designated by the local government as having significant tourism potential. The team conducted outreach to raise awareness among tourism operators regarding the importance of tourism crisis management and provided guidance on developing mitigation procedures. While the initiative successfully raised awareness about the importance of mitigation procedures for tourism crises, challenges arose during the actual drafting of these procedures; creatinf them requires the involvement of multiple parties, yet not all stakeholders currently prioritize tourism crisis mitigation. Consecuently, it is recommended that a focus group discussion (FGD) be held to align perspectives on the importance of tourism safety and security procedures, involving various tourism stakeholders in Karanganyar Regency. Keywords: mitigation; procedure; tourism crisis management; tourist destination
Sosialisasi identifikasi masalah pendidikan dengan pendekatan PDIA di Wilayah Kepulauan Kabupaten Lombok Utara Heri Hadi Saputra; Sudirman Sudirman; AA Sukarso; Abdul Kadir Jaelani; Muhammad Makki; Moh. Noor Supandri
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v%vi%i.41193

Abstract

AbstrakWilayah kepulauan memiliki tantangan pendidikan yang kompleks akibat keterbatasan akses, sarana pendukung, serta rendahnya intensitas kolaborasi antarpemangku kepentingan pendidikan. Kondisi tersebut juga dialami sekolah mitra di Desa Gili Indah, Kabupaten Lombok Utara, yang masih menghadapi keterbatasan dalam identifikasi masalah pendidikan berbasis data dan penyusunan solusi yang sesuai dengan karakteristik wilayah kepulauan. Berdasarkan kondisi tersebut, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kapasitas pemangku kepentingan pendidikan dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan merumuskan solusi terhadap permasalahan pendidikan di wilayah kepulauan. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang dipadukan dengan Problem-Driven Iterative Adaptation (PDIA). Kegiatan dilaksanakan melalui tahapan diseminasi, pelatihan, pendampingan, dan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) dengan memanfaatkan data Rapor Pendidikan sebagai dasar identifikasi masalah. Kegiatan diikuti oleh 17 peserta yang terdiri atas 1 Kepala UPTD Dikbudpora Kecamatan Pemenang, 4 Pengawas Dikbudpora Kabupaten Lombok Utara, 4 kepala sekolah, dan 8 guru dari sekolah mitra. Pelaksanaan kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta terhadap tahapan identifikasi masalah berbasis PDIA sebesar 87%, tersusunnya empat dokumen RTL sekolah, serta terbentuknya komitmen kolaboratif antarpemangku kepentingan pendidikan. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan PDIA efektif memperkuat kapasitas sekolah dalam penyelesaian masalah pendidikan berbasis data, sekaligus mendorong kolaborasi yang berkelanjutan dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan di wilayah kepulauan. Kata kunci: kolaborasi pendidikan; pengabdian masyarakat; problem-driven iterative adaptation; rapor pendidikan; wilayah kepulauan. Abstract Island regions face complex educational challenges due to limited accessibility, inadequate supporting infrastructure, and low levels of collaboration among educational stakeholders. These conditions are also experienced by partner schools in Gili Indah Village, North Lombok Regency, Indonesia, where schools continue to encounter difficulties in conducting data-driven problem identification and developing solutions that reflect the unique characteristics of island communities. In response to these challenges, this community service program aimed to enhance the knowledge and capacity of educational stakeholders in identifying, analyzing, and addressing educational problems in island areas. The program adopted a Participatory Action Research (PAR) approach integrated with the Problem-Driven Iterative Adaptation (PDIA) framework. Activities were implemented through four stages: dissemination, training, mentoring, and the development of School Action Plans, using the Education Report Card (Rapor Pendidikan) as the primary source for problem identification. The program involved 17 participants, consisting of one Head of the Pemenang District Education Office, four school supervisors from the North Lombok Regency Education Office, four school principals, and eight teachers from partner schools. The implementation resulted in an 87% improvement in participants' understanding of PDIA-based educational problem identification, the completion of four school action plan documents, and the establishment of a collaborative commitment among educational stakeholders. These findings demonstrate that the PDIA approach effectively strengthens schools' capacity for data-driven educational problem solving while fostering sustainable collaboration to support continuous educational quality improvement in island regions. Keywords: collaborative education; community service; education report card; island regions; problem-driven iterative adaptation.
Peningkatan profesionalisme pelatih dan manajerial Asosiasi Akademisi Futsal Indonesia (AAFI) melalui program edukasi tes, pengukuran, dan evaluasi performa atlet Swandika Pinem; Astini Asri; Fachrun Nisa Sofiyah; Pamungkas Yulian Effendi; Hakim Irwandi Marpaung; Muhammad Fitrah Mubarak; Gregorius Arya Panditha Wicaksana
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.41181

Abstract

Abstrak Asosiasi Akademisi Futsal Indonesia (AAFI) memiliki peran strategis dalam pengembangan ilmu kepelatihan dan pembinaan prestasi futsal nasional, namun sebagian besar pelatih dan pengurus di lingkungan AAFI masih mengandalkan penilaian subjektif dalam menentukan progres atlet karena keterbatasan pemahaman tentang tes, pengukuran, dan evaluasi performa atlet berbasis data. Kondisi ini berisiko menghambat efektivitas program latihan dan tata kelola organisasi yang terukur. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme pelatih dan kapasitas manajerial pengurus AAFI melalui program edukasi tes, pengukuran, dan evaluasi performa atlet berbasis sport science. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan edukatif, partisipatif, aplikatif, dan terukur yang terdiri atas empat tahap, yaitu sosialisasi, pelatihan, monitoring dan evaluasi, serta keberlanjutan program, dengan desain evaluasi one group pretest-posttest. Peserta kegiatan berjumlah sepuluh orang yang terdiri atas pelatih dan pengurus AAFI. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta secara signifikan, dengan skor rata-rata pretest sebesar 28,3 (56,6%) meningkat menjadi 40,6 (81,2%) pada posttest, atau terjadi peningkatan rata-rata sebesar 12,3 (24,6%). Pembahasan menunjukkan bahwa peningkatan tersebut sejalan dengan prinsip pembelajaran yang menekankan pentingnya integrasi data objektif dalam pengambilan keputusan pelatihan. Program ini berdampak pada peningkatan kompetensi teknis pelatih dan penguatan orientasi manajerial pengurus dalam membangun budaya evaluasi berbasis data. Kesimpulannya, program edukasi tes, pengukuran, dan evaluasi performa atlet efektif meningkatkan profesionalisme pelatih dan kapasitas manajerial organisasi AAFI serta berpotensi mendukung pembinaan futsal yang lebih akuntabel dan berkelanjutan. Kata kunci: evaluasi performa atlet; futsal; manajerial organisasi; pengabdian kepada masyarakat; profesionalisme pelatih. Abstract The Indonesian Futsal Academics Association (AAFI) plays a strategic role in developing coaching knowledge and fostering national futsal achievement; however, most coaches and administrators within AAFI still rely on subjective assessments to gauge athlete progress due to limited understanding of data driven athlete performance testing, measurement, and evaluation. This situation risks hindering the effectiveness of training programs and measurable organizational management. This community service initiative aims to enhance the professionalism of coaches and the managerial capacity of AAFI administrators through an educational program focused on sport science-based athlete performance testing, measurement, and evaluation. The implementation employed an educational, participatory, practical, and measurable approach comprising four stages dissemination, training, monitoring and evaluation, and program sustainability utilizing a one-group pretest-posttest evaluation design. Ten participants, consisting of AAFI coaches and administrators, took part in the activity. The results demonstrated a significant increase in participant knowledge, with the average score rising from 28.3 (56.6%) in the pretest to 40.6 (81.2%) in the posttest an average increase of 12.3 (24.6%). The discussion indicates that this improvement aligns with learning principles emphasizing the integration of objective data into coaching decision-making. The program enhanced the coaches' technical competence and strengthened the administrators' managerial focus on establishing a culture of data-driven evaluation. In conclusion, the educational program on athlete performance testing, measurement, and evaluation effectively improved coach professionalism and AAFI's organizational managerial capacity, while also holding the potential to support more accountable and sustainable futsal development. Keywords: athlete performance evaluation; futsal; organizational management; community service; coach professionalism.