cover
Contact Name
Muh. Subair
Contact Email
ingatbair@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
abumuslim@kemenag.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pusaka : Jurnal Khazanah Keagamaan
ISSN : 23375957     EISSN : 26552833     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan memiliki Periode penerbitan 2 kali dalam setahun yakni pada bulan Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 240 Documents
Petilasan Ki Ageng Kebokanigoro Sebagai Tempat Lelaku dan Olah Rasa bagi Masyarakat Desa Samiran, Boyolali Anam, Ahmad Ainul
PUSAKA Vol 12 No 2 (2024): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v12i2.1553

Abstract

Petilasan Ki Ageng Kebokanigoro, yang terletak di antara lereng Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, merupakan tempat yang dipercayai oleh masyarakat Jawa sebagai lokasi lelaku dan olah rasa yang dilakukan oleh Ki Ageng Kebokanigoro. Kisah dan kepercayaan terhadap Ki Ageng Kebokanigoro berkembang melalui forklor yang diwariskan secara lisan, memperkuat keyakinan masyarakat terhadap nilai-nilai spiritual dan tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mendalami forklor terkait Ki Ageng Kebokanigoro, memahami kepercayaan masyarakat setempat, serta mengeksplorasi fungsi petilasan tersebut dalam kehidupan masyarakat Desa Samiran, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan kajian pustaka, penelitian ini menemukan bahwa Petilasan Ki Ageng Kebokanigoro tidak hanya menjadi simbol spiritual, tetapi juga berperan penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat setempat, di mana mereka melakukan berbagai praktik lelaku, seperti meditasi dan tirakat, untuk mendekatkan diri kepada Tuhan serta memperkuat batin. Selain itu, petilasan ini juga berfungsi sebagai pusat kegiatan sosial dan budaya, memperkuat identitas komunitas, dan melestarikan tradisi leluhur. Kepercayaan masyarakat terhadap petilasan ini tercermin dalam berbagai kegiatan ritual dan tradisi yang terus dilestarikan, seperti tradisi apeman, sadranan, sedekah bumi, dan kirab. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pelestarian situs Petilasan Ki Ageng Kebokanigoro dan menjaga corak khas petilasan tersebut sesuai kegunaan yang bermanfaat secara lahir dan batin. Kata Kunci: forklor, petilasan, tradisi, ritual
Penerimaan dan Perkembangan Islam di Kerajaan Suppa Abad ke-17 Yani, Ahmad; Zulfikar, Ahmad; Mako, Susi; Mirnanini, Mirnanini
PUSAKA Vol 12 No 2 (2024): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v12i2.1554

Abstract

Penelitian ini menganalisis proses penerimaan Islam dan perubahan sosial-budaya di Kerajaan Suppa pada abad ke-17. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah, yang terdiri atas empat tahapan: heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Penelitian ini mengungkapkan bahwa penerimaan Islam di Suppa tidak terlepas dari peranan para pedagang dan ulama dari wilayah Nusantara yang telah lebih dahulu menerima Islam. Salah satu tokoh kunci dalam proses ini adalah Datuk Ribandang dari Minangkabau, yang mengislamkan Raja Suppa, We Passulle Daeng Bulaeng. Tiga faktor utama yang melatarbelakangi proses islamisasi di kerajaan Suppa adalah kontak pelayaran masyarakat Suppa dengan daerah lain yang telah memeluk Islam, migrasi orang-orang Melayu akibat serangan Portugis ke Malaka pada tahun 1511 M, dan kehadiran pedagang-pedagang Arab di daerah setempat. Setelah Raja Suppa memeluk Islam, beliau mengajak seluruh keluarga dan masyarakatnya untuk mengikuti jejaknya. Proses islamisasi ini juga membawa perubahan signifikan dalam struktur pemerintahan dan sosial budaya masyarakat Suppa. Dibentuknya lembaga Parewa Syara’ yang dikepalai oleh seorang Qadhi menandai integrasi syariat Islam ke dalam sistem pemerintahan dan kehidupan sosial budaya lokal. Penelitian ini menegaskan pentingnya peran raja dalam proses islamisasi di Suppa, serta bagaimana nilai-nilai Islam yang baru memperkaya dan berintegrasi dengan kebudayaan lokal. Dengan demikian, artikel ini memberikan wawasan mendalam tentang dinamika sosial dan budaya dalam penerimaan Islam di Kerajaan Suppa pada abad ke-17.
Ciri Khas Nisan pada Makam Belanda di Kota Ternate Suwindiatrini, Komang Ayu; Prasetyo, Helmi Yanar Dwi
PUSAKA Vol 12 No 2 (2024): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v12i2.1558

Abstract

Jejak peninggalan Belanda tidak hanya terlihat dari bangunan-bangunan besar, tapi juga dari struktur kecil seperti makam. Secara umum pembahasan tentang makam Belanda di Indonesia lebih banyak fokus pada Jawa dan Sumatera, akan tetapi masih sangat kurang pembahasan tentang makam Belanda di timur Indonesia termasuk Kota Ternate. Menurut catatan sejarah, Ternate dan sekitarnya adalah daerah tujuan masyarakat dunia karena kehadiran rempah. Padahal ada jejak yang masih tersisa hingga saat ini dan ada data arkeologis yang dapat digali dari makam tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus serta berpijak pada data utama dari Laporan Pendataan Makam Belanda di Kota Ternate milik Balai Pelestarian Cagar Budaya Maluku Utara yang selanjutnya dianalisis untuk mendapatkan korpus data secara lebih spesifik. Dari korpus data yang ada, diharapkan dapat diketahui siapa saja persona yang dimakamkan serta makna dibalik lambang heraldik yang dibuat pada nisan. Makam yang ada di Ternate secara garis besar dibagi dalam dua periode yaitu VOC dan Hindia Belanda. Hasil yang didapat salah satunya yaitu tentang kondisi politik mempengaruhi bentuk makam yang ada. Jika di awal masa VOC, makam Belanda di Ternate dibuat bagus dengan banyak lambang, maka pada masa berikutnya, makam-makam yang ditemukan bentuknya lebih sederhana karena dari segi bahan, ukuran dan ragam hias tidak serumit makam dari periode VOC.
‘Aqīdah, Qabīlah dan Ghanīmah: Reformulasi Trialektika Politik Islam-Arab al-Jābirī dalam Membaca Sejarah Kemunduran Islam Hidayat, Aldi
PUSAKA Vol 12 No 2 (2024): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v12i2.1560

Abstract

Kemunduran Islam merupakan topik perdebatan antar akademisi, intelektual, ulama dan cendekiawan setidaknya mengenai faktor-faktornya. Akan tetapi, jarang disorot tentang kapan kemunduran tersebut berlangsung. Mayoritas mengidentifikasi kemunduran Islam terjadi pasca runtuhnya Baghdād pada 1258 M dan hancurnya Andalusia pada 1492 M. Persepsi ini secara tidak langsung memosisikan sejarah Islam sebagai peristiwa yang sistematis, bukan simultan. Artikel ini hendak mengungkap sisi tak terbaca dari kemunduran Islam menggunakan dua pisau analisis, yaitu signifikasi tanpa henti Umberto Eco dan struktur-superstruktur Karl Marx. Menjawab sisi tak terbaca itu, penulis mengajukan dua rumusan masalah. Pertama, apa tolok ukur kemunduran Islam? Kedua, bagaimana proses sosio-politik yang mengantarkan Islam pada kemundurannya? Berseberangan dengan persepsi dominan, artikel ini memunculkan dua kesimpulan bahwa kemunduran Islam sudah terjadi pada periode awal, tepatnya pada era sahabat, era yang selama ini ditahbiskan sebagai fase Islam ideal. Kemunduran itu bertopang pada distopia sejarah terhadap utopia Islam sebagai gerakan dakwah kultural berbasis iman. Itu terbaca dari dominasi motif qabīlah dan ghanīmah dalam keislaman periode awal. Dominasi dua motif ini menimbulkan tragedi-tragedi kelam Islam periode awal yang menghambat pembumian dimensi ideal dari Islam.
Strategi Membangun Toleransi Beragama Melalui Pendekatan Colorblind Dianita, Galuh; Izzati, Leni Nurul; Sugiyar, Sugiyar
PUSAKA Vol 12 No 2 (2024): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v12i2.1561

Abstract

Objek penelitian ini adalah toleransi beragama dari pelajaran positif dari the colorblind. Hal Ini penting diteliti karena dengan membangun toleransi di tengah pluralitas agama yang ada di Indonesia, pendidikan multikultural hadir sebagai salah satu pendekatan yang efektif dalam mengajarkan keragaman dan membangun sikap saling menghormati di kalangan siswa. Penelitian ini menggunakan library research dengan memanfaatkan sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber primer yaitu buku Multicultural Education Issues and Perspectives karya James A. Banks dan Cherry A, sumber skunder yaitu artikel yang berkaitan dengan toleransi beragama dan pendidikan multikultural. Teknik untuk menggali sumber data adalah teknik dokumentasi, yaitu dengan menggunakan content analysis. Hasil penelitian menemukan bahwa (1) pendekatan colorblind menekankan kesetaraan dan berusaha mengurangi bias dengan tidak menonjolkan perbedaan. Melalui kurikulum yang inklusif, pelatihan guru yang berkelanjutan, kebijakan sekolah yang mendukung, dan kegiatan ekstrakurikuler yang mempromosikan dialog antaragama, sekolah dapat menjadi tempat yang lebih adil dan inklusif; (2) mengkaji pelajaran positif dari pendidikan multikultural perspektif colorblind, dapat diketahui bahwa ada hal positif yang dapat diambil dalam pendidikan multikultural meliputi pengurangan prasangka dan diskriminasi, peningkatan pemahaman dan penghargaan terhadap keragaman,, penguatan ikatan sosial, promosi perdamaian dan stabilitas sosial, dan menciptakan lingkungan belajar yang inklusif; (3) pendekatan colorblind dalam pendidikan multikultural memiliki beberapa manfaat, termasuk yaitu penghapusan stereotip, meningkatkan kesetaraan, dan fokus pada nilai universal. Namun, terdapat juga tantangan dalam penerapan pendekatan ini yaitu pengabaian ketidakadilan yang timbul dari masalah ketidakadilan yang dihadapi oleh kelompok minoritas agama dan kurangnya pengakuan terhadap keunikan budaya.
Mengungkap Kesenjangan Prasarana Digital Kegiatan Pembelajaran Pada Pelajar Suku Kokoda di Papua Rosdiana, Rosdiana; Rasyid, Muhammad Rusdi; Syahrul, Syahrul; Abubakar, Asnandar; Maskur, Maskur
PUSAKA Vol 12 No 2 (2024): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v12i2.1562

Abstract

Penggunaan perangkat teknologi pembelajaran secara daring telah menciptakan tantangan baru bagi anak-anak usia sekolah komunitas suku Kokoda Maibo Papua. Mereka selama ini tidak mengenal teknologi pembelajaran diharuskan memiliki dan menggunakan teknologi sebagai sarana pembelajaran. Tujuan studi ini adalah mengungkap terjadinya kesenjangan teknologi pendidikan di masa pandemi dan menemukan solusi atas masalah pendidikan berbasis penggunaan teknologi pembelajaran online bagi anak suku Kokoda Maibo Papua. Pengumpulan data secara kualitatif melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan triangulasi. Data dianalisis secara interaktif terus menerus hingga data dianggap jenuh dari lapangan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran secara online telah mempersulit anak-anak suku Kokoda Maibo mengikuti pelajaran. Kesulitan mengikuti pelajaran diakibatkan faktor ketidakmampuan memiliki dan mengoperasikan perangkat teknologi serta tidak ada dana yang cukup untuk membeli pulsa internet. Faktor tersebut menjadi penghambat proses pembelajaran bagi anak-anak suku Kokoda Maibo yang memicu munculnya kesenjangan pendidikan. Solusi yang ditawarkan adalah pemerintah melakukan pemberdayaan dan menyiapkan perangkat teknologi pembelajaran pada siswa. Kebijakan pemberlakuan belajar online selain berdampak positif bagi masyarakat juga berdampak buruk pada kelompok masyarakat lainnya, masyarakat membutuhkan kebijakan pemerintah yang berdampak positif untuk semua lapisan masyarakat. Tulisan ini dapat berkontribusi pada penambahan literatur pada aspek kebijakan penggunaan perangkat teknologi pembelajaran online bagi kelompok masyarakat
KRITIK ORIENTALIS TENTANG HADIS: PERSPEKTIF ATAS OTENTISITAS DAN ASAL USULNYA Maghfiroh, Mauliana
PUSAKA Vol 12 No 2 (2024): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v12i2.1563

Abstract

Sebagai sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur’an, hadis telah menjadi fokus kajian mendalam oleh para pemikir berbagai kalangan, termasuk kaum orientalis. Perbedaan perspektif antara keduanya muncul karena tradisi keilmuan, kepercayaan, dan sudut pandang yang berbeda. Artikel ini mengkaji hadis dari perspektif orientalis dengan pendekatan metodologi kualitatif. Penelitian ini menjelaskan beberapa aspek penting, termasuk definisi orientalisme, sejarah kajian hadis di kalangan orientalis, serta pandangan mereka mengenai sunnah dan hadis. Kajian ini juga mencakup aspek penulisan, pembukuan, dan pemalsuan hadis menurut pandangan orientalis, serta bagaimana orientalis menilai otentisitas hadis. Temuan utama dari penelitian ini menunjukkan bahwa orientalis beranggapan bahwa hadis merupakan hasil kreasi kelompok Muslim generasi awal, bukan sebagai ucapan, perbuatan, atau persetujuan Nabi Muhammad SAW. Menurut pandangan mereka, hadis dianggap sebagai ucapan orang-orang biasa yang kemudian ditransmisikan dan dikaitkan dengan Nabi, sehingga menimbulkan ketidakpercayaan terhadap keaslian dan otentisitasnya. Artikel ini memberikan wawasan mendalam mengenai pandangan orientalis terhadap hadis dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi persepsi mereka terhadap ajaran Islam.
Keindahan Dalam Rangkaian Bahasa Nabi (Tamsil Dalam Hadis Nabi) Maidin, Muh Sabir; Kartono, Akhmad Fadhillah; Malinda, Dian; Ahmad, Arifuddin
PUSAKA Vol 12 No 2 (2024): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v12i2.1567

Abstract

Artikel ini respon tuduhan bahwa tamsil atau perumpamaan mengiring pada kesesatan dalam memahami ajaran agama dan tidak perlu digunakan dalam Islam. Penelitian ini mengkaji rangkaian Bahasa yang digunakan Rasulullah terutama dalam menggunakan perumpamaan. Hadis merupakan pedoman kehidupan bagi umat muslim setelah Al-Qur’an. Ketetapan-ketetapan yang disebutkan secara implisit dalam Al-Qur’an dijelaskan secara lebih terperinci dalam Hadis. Adapun tamsil atau perumpamaan adalah salah satu seni berbicara yang dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah at-tasybīh yang termasuk dalam as- ṣūroh al-bayāniyah yakni salah satu bagian utama dari paramasastra Arab atau al-balāgah al-árobiyah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan. Data yang digunakan adalah data sekunder dari buku, jurnal, dan artikel terkait dengan tema penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara penelaahan terhadap buku dan literatur terkait. Hasil penelitian menjelaskan bahwa tidak sedikit Rasulullah saw menggunakan perumpamaan untuk menjelaskan dan memudahkan pemahaman kaum muslimin akan hal yang beliau sampaikan, bahkan dalam suatu hadis disebutkan beliau telah menggunakan lebih dari seribu perumpamaan. Diantara hadis-hadis yang menggunakan perumpamaan yakni hadis tentang keadaan kaum muslim, hadis tentang persaudaraan, hadis tentang ajaran Nabi Muhammad saw; tentang sholat, tentang zakat dan sedekah, tentang zikir bahkan tentang pertemanan. Diantara manfaat penggunaan perumpamaan untuk memberikan penjelasan secara komprehensif dan gamblang tentang sesuatu yang gamang dan kabur dengan pendekatan yang sesuatu yang berwujud atau hal yang lebih dekat sebagaimana penjelasan dengan sempitnya waktu seorang muslim dan penjelasan tentang kaum Yahudi, Nasrani dan kaum Muslim.
Fenomena Ndadi Sebagai Media Pendidikan Nilai Dalam Masyarakat Tradisional Jawa Sukarno, Mahattama Banteng
PUSAKA Vol 12 No 2 (2024): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v12i2.1568

Abstract

Fenomena Ndadi dalam pertunjukan kesenian Kuda Lumping memiliki peran signifikan dalam masyarakat tradisional Jawa Abangan, yaitu sebagai media pendidikan berbasis nilai. Para sesepuh dan tokoh Agama Jawa memanfaatkannya untuk menyampaikan ajaran moral, etika, dan spiritual kepada anggota masyarakat, baik di dalam maupun di luar komunitas. Namun, fenomena ini sering kali menghadapi dominasi dan hegemoni ideologis dari individu atau kelompok agama formal yang menginterpretasikan Ndadi sesuai dengan perspektif mereka sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna Ndadi dari sudut pandang para pemain, khususnya para sesepuh kesenian Kuda Lumping. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologi dan mengacu pada perspektif interaksionisme simbolik George Herbert Mead, peneliti merumuskan pertanyaan penelitian: Bagaimana fenomena Ndadi dalam pertunjukan Kuda Lumping berfungsi sebagai media pendidikan nilai dalam masyarakat tradisional Jawa? Penelitian ini menemukan bahwa Ndadi merupakan media yang sangat bermakna dalam pendidikan berbasis nilai. Dalam memahami makna dan nilai-nilai tersebut, para pelaku sosial perlu memahami konsep kosmologis Agama Jawa, yang memungkinkan mereka untuk mengungkap nilai-nilai seperti keberanian, pengorbanan, kesetiaan, kebersamaan, keselarasan dengan alam dan dunia spiritual, keadilan, serta rasa hormat kepada orang yang lebih tua. Nilai-nilai ini dapat dengan mudah dipahami melalui Ndadi, karena relevan, otentik, menarik, interaktif, menghargai keragaman budaya, membangkitkan emosi dan refleksi, serta kontekstual, dengan memanfaatkan elemen visual dan pendengaran yang menarik. Selain itu, Ndadi juga menunjukkan keterkaitan erat antara ekspresi seni dan spiritualitas lokal yang unik, yang memperkuat identitas budaya komunitas.
Nilai-Nilai Moderasi Beragama dalam Tradisi Lokal Ngagurah Dano Maulana, Kiki; Febriani, Ina Salmah; Fachmi, Teguh
PUSAKA Vol 12 No 2 (2024): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v12i2.1569

Abstract

Tradisi ngagurah dano menjadi salah satu dari bentuk keanekaragaman budaya lokal di Desa Cikolelet, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang. Menjadi fokus pembahasan dalam penelitian ini ialah bagaimana gambaran tradisi lokal ngagurah dano dalam lingkaran masyarakat multikultural, serta bagaimana aktualisasi tradisi lokal ngagurah dano menjadi bagian penting dalam membangun moderasi beragama dikalangan masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif atas fenomenologi, melalui pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara yang mendalam terhadap sejumlah informan kunci observasi, dan studi literatur, hasil penelitian ini menemukan bahwa, tradisi ngagurah dano mengandung nilai-nilai dan indikator moderasi beragama. Nilai-nilai moderasi beragama ini mengacu kepada prinsip dan indikator yang diusung oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Adapun indikator-indikator moderasi beragama yang terkandung dalam tradisi ngagurah dano di antaranya adalah komitmen kebangsaan, terlihat pada antusiasme masyarakat dalam memeriahkan tradisi ini. Selanjutnya adalah indikator toleransi, indikator ini terlihat pada berbaurnya masyarakat pada proses penangkapan ikan di sungai, terjalinnya komunikasi dan keterbukaan antara satu dengan yang lain dapat menumbuhkan pemahaman dan sikap memaklumi terhadap perbedaan. Kemudian juga terdapat indikator anti kekerasan, indikator ini terdapat pada satu momen utama yakni bancakan (makan bersama), dimana semua masyarakat akan bergotong royong dalam memasak dan saling berbagi makanan yang telah dimasaknya. Dengan demikian, indikator-indikator ini menjadi sebuah peluang emas yang bisa pemerintah setempat manfaatkan dalam membangun moderasi beragama di Kabupaten Serang melalui pelestarian tradisi ngagurah dano. Sehingga keharmonisan dalam masyarakat yang multikultural tercipta dengan baik.