cover
Contact Name
Jamiludin Usman
Contact Email
jamielsoedin@gmail.com
Phone
+6285336521427
Journal Mail Official
perdikan@iainmadura.ac.id
Editorial Address
Jl. Raya Panglegur km. 4 Pamekasan, Jawa Timur, Indonesia.
Location
Kab. pamekasan,
Jawa timur
INDONESIA
Perdikan: Journal of Community Engagement
ISSN : -     EISSN : 26849615     DOI : http://dx.doi.org/10.19105/pjce
PERDIKAN journal focuses on community engagement program and the manuscript is about applied knowledge or science in community to advance theories, research and practices related to all forms of outreach and engagement. Community engagement means services to society, applying of knowledge or science and technology based on their field, increasing the capacity of society and community empowerment. The PERDIKAN journal draws on existing issues from those varieties of field. This includes highlighting innovation of community empowerment, and reporting on engaged research, community-based research, action research, and community services, as well as improving the knowledge and practice in the field of purposive community engagement. The aim of this journal publication is to disseminate the conceptual thoughts or ideas and research results that have been achieved in the area of community services. PERDIKAN particularly focuses on the main problems in the development of the sciences of community services areas as follows:1) Community Services, People/Society, and Local Food; 2) Less Developed Region; 3) Student Community Services; 4) Training for Sustainable Development; 5) Community Empowerment, Social Access possiblity, including Environmental Issues.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 79 Documents
Pemberdayaan majelis taklim dalam pemanfaatan blondo di Kabupaten Gorontalo Saleh, Yuwin Rustam; Akhmad, Zulkifli; Damayanti, Yulda; Pangestu, Ahmad Agus
PERDIKAN (Journal of Community Engagement) Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : IAIN Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/pjce.v5i2.10818

Abstract

Majelis Taklim is a community with potential human resources that can be empowered to benefit its members and society. This community service aims to empower the Majelis Taklim Hidayatullah of Tenggela village in processing blondo-based food using the Asset Based Community Development ABCD method. Blondo is the dregs of coconut milk that are cooked to produce oil in the form of small lumps, the processing of which takes hours. The members of the Majelis Taklim Hidayatullah have diverse potential; some have skills in flower arranging, sewing, and making snacks. On the other hand, Tenggela Village has many natural resources, such as coconuts. blondo often becomes environmental waste, so members of the Majelis Taklim took the initiative to use blondo as food. Therefore, the service team provides assistance training in making and packaging food from blondo. The results of the service show that (1) Majelis Taklim Hidayatullah members have potential in processing food; (2) Tenggela Village has a source of raw materials for making blondo cake; (3) Public interest in consuming blondo snacks and pepes blondo is still minimal.(Majelis taklim adalah sebuah komunitas mempunyai potensi sumber daya manusia yang dapat diberdayakan demi kemaslahatan anggotanya dan masyarakat. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan majelis taklim Hidayatullah desa Tenggela dalam pengolahan makanan berbahan dasar blondo dengan metode Asset Based Community Development ABCD. Blondo merupakan ampas dari santan yang dimasak hingga menghasilkan minyak berbentuk gumpalan-gumpalan kecil dimana pengolahannya membutuhkan waktu berjam-jam. Anggota yang tergabung dalam majelis taklim Hidayatullah memiliki potensi yang beragam, ada yang memiliki keahlian merangkai bunga, menjahit, dan membuat jajanan. Di sisi lain, Desa Tenggela memiliki banyak sumber daya alam seperti kelapa. Blondo seringkali menjadi limbah lingkungan, sehingga para anggota majelis taklim berinisiatif untuk memanfaatkan blondo sebagai makanan. Oleh karena itu, tim pengabdian memberikan pelatihan pendampingan dalam pembuatan dan pengemasan makanan berbahan dasar blondo. Hasil pengabdian menunjukkan (1) Anggota mejelis taklim Hidayatullah mempunyai potensi dalam mengolah makanan; (2) Desa Tenggela mempunyai sumber bahan baku pembuatan kue blondo; (3) Minat masyarakat untuk mengonsumsi jajanan blondo dan pepes blondo masih minim.)
Peningkatan pemahaman moderasi beragama bagi takmir masjid dan pengurus majelis taklim dalam menangkal paham radikalisme di Kecamatan Way Ratai Kabupaten Pesawaran Rosidi; Aisyah, Umi
PERDIKAN (Journal of Community Engagement) Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : IAIN Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/pjce.v6i1.11021

Abstract

Excessive viewpoints, attitudes and behavior in religion have the potential to make someone go to extremes to feel that they are most righteous, feel most pious and most accepted by God. The effect of such a religious attitude will give birth to exclusivism in thinking, behaving and acting in society. People who do not agree with themselves are considered wrong, illegitimate and out of religion. Respect the red and white musrik flag, and the government as thogut. Such religious thoughts and attitudes still occur widely in society, especially in Wayratai District, Pesawaran Regency. Then several times Densus 88 arrested suspected terrorists from Way Ratai District. Such religious attitudes are irrelevant to the objective conditions of diverse Indonesian society. This community service uses a Participatory Action Research (PAR) approach, starting with a field survey stage, identifying problems in the field, planning activities, implementing activities and ending with evaluation and monitoring. The subjects of service are the chairman of the mosque takmir and chairman of the taklim council in four villages in Wayratai District, Pesawaran Regency, namely Gunungrejo, Ceringin Asri, Kalirejo, and Mulyosari Village. Participants were invited to discuss how dangerous exclusive, radical religious perspectives and attitudes are in a diverse society like Indonesia, closing with the statement that a moderate attitude in religion is the best choice for Indonesian society. As reinforcement for mosque administrators and taklim councils, the service team provided religious moderation sermon books and guidance for taklim assemblies. [Cara pandang, sikap dan perilaku dalam beragama yang berlebihan berpotensi menjadikan seseorang bersikap ektrim, merasa paling benar sendiri, merasa paling saleh dan paling diterima Tuhan. Efek dari sikap beragama seperti itu akan melahirkan ekseklusivisme dalam berpikir, bersikap dan bertindak di tengah masyarakat. Orang yang tidak sepaham dengan dirinya dianggap salah, tidak sah, bahkan keluar dari agama. Menghormat bendera merah putih dianggap musrik dan pemerintah disamakan dengan thogut. Pemikiran dan sikap beragama seperti itu masih banyak terjadi di masyarakat terutama di Kecamatan Wayratai Kabupaten Pesawaran. Beberapa kali Densus 88 menangkap terduga teroris yang berasal dari Kecamatan Way Ratai. Sikap beragama demikian tidaklah relevan dengan kondisi obyektif masyarakat Indonesia yang beragam. Pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yakni dimulai dengan tahapan survey ke lapangan, mengidentifikasi permasalahan di lapangan, membuat perencanaan kegiatan, melaksanakan kegiatan dan diakhiri dengan melakukan evaluasi dan monitoring. Subyek pengabdian adalah ketua takmir masjid dan ketua majelis taklim di empat desa di Kecamatan Wayratai Kabupaten Pesawaran, yakni Gunungrejo, Caringin Asri, Kalirejo, dan Desa Mulyosari. Peserta diajak mendiskusikan betapa bahayanya cara pandang dan sikap beragama yang eksklusif atau radikal di tengah masyarakat yang beragam seperti Indonesia. Diskusi ditutup dengan statement bahwa sikap moderat dalam beragama adalah pilihan terbaik bagi masyarakat Indonesia. Sebagai penguatan bagi para pengurus masjid dan majelis taklim, tim pengabdian meberikan buku khutbah moderasi beragama dan pembinaan majelis taklim.]
Pelatihan digital entrepreneurship mewujudkan Generasi Z berjiwa wirausaha pada mahasiswa Sulaeman; Zubaedy; Irwang
PERDIKAN (Journal of Community Engagement) Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : IAIN Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/pjce.v5i2.11023

Abstract

The problem faced by Generation Z is that they still need to gain more knowledge and understanding in using digital applications to market a product, and their motivation to start a business is shallow. This community service aims to improve Generation Z's ability in digital entrepreneurship to build a strong entrepreneurial spirit and mental readiness to run digital-based businesses. The methodology used in this service is the Participatory Action Research (PAR) method, which is a method for building participation in identifying the problems faced by Islamic Religious Education Study Program Students, Tarbiyah Faculty, IAIN Bone, analyzing, planning solutions together, then organizing existing resources, and carrying out various change actions and evaluating and reflecting on the results of the performance that has been carried out. The results of the service in implementing the training activities that have been carried out are as follows: First, Generation Z has the skills and tips for starting a business with minimal capital, including reading about business opportunities and self-motivation in achieving success. Second, they can use Digital Platforms via Social Media such as (Instagram, TikTok, and Facebook, which can be connected to the Shopee Application) in marketing and making money by utilizing the application. Third, Generation Z understands that starting a digital business requires free time and focus on building a digital business to maximize the business.(Permasalahan yang dihadapi Generasi Z adalah masih rendahnya pengetahuan dan pemahaman generasi Z dalam penggunaan aplikasi digital untuk memasarkan sebuah produk, serta motivasi dalam memulai usaha sangat rendah. Adapun tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan kemampuan generasi Z dalam digital entrepreneurship guna membangun jiwa wirausaha yang kuat dan kesiapan mental dalam menjalankan usaha berbasis digital, Adapun Metodologi yang digunakan dalam pengabdian ini yaitu metode Participatory Action Riset (PAR) yaitu metode untuk membangun partisipasi didalam mengindentifikasi masalah yang hadapi masalah yang hadapi oleh Mahasiswa Program studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah, IAIN Bone, menganalisis, merencanakan pemecahan secara bersama, kemudian mengorganisir sumber daya yang ada, dan melakukan berbagai aksi perubahan dan melakukan evaluasi dan refleksi dari hasil kinerja yang telah dilakukan. Adapun Hasil pengabdian dalam pelaksanaan kegiatan Pelatihan yang telah dilaksanakan yaitu, Pertama Generasi Z telah memiliki kemampuan dan tips dalam memulai usaha dengan modal yang sangat terbatas, termasuk membaca peluang usaha dan motivasi diri dalam mencapai kesuksesan. Kedua, memiliki kemampuan menggunakan platform digital melalui Sosial Media seperti (Instagram, Tiktok, Facebook yang dapat dihubungkan dengan Aplikasi Shopee) dalam memasarkan dan menghasilkan uang dengan memanfaatkan aplikasi tersebut. Ketiga Generasi Z telah memiliki pemahaman yang baik bahwa dalam memulai usaha dan bisnis digital memang membutuhkan waktu luang dan fokus didalam mambangun usaha dan bisnis digital sehingga usaha dan bisnis yang dijalani dapat lebih maksimal.)
Akselerasi penerapan Desa Digital di Kecamatan Jambi Luar Kota Kabupaten Muaro Jambi Sagala, Irmawati; Elianda, Yunita; Harmain, Irfan
PERDIKAN (Journal of Community Engagement) Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : IAIN Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/pjce.v6i1.12026

Abstract

The digital village program answers the demands for implementing a village information system mandated by Law No. 6 of 2014 concerning Villages. However, implementing the digital village program still needs to overcome many obstacles, including in the Jambi Luar Kota District, one of the central education areas in Jambi Province. Therefore, the participation of the universities is urgently needed to strengthen digital villages in the Jambi Luar Kota District. This article was written based on community service activities that aim to build a base for implementing a digital village program in Jambi Luar Kota District, Muaro Jambi Regency, Jambi Province. The community service process used the Participatory Action Research (PAR) method so that this program can build stakeholder knowledge and awareness of the program themes. This community service activity produced the internet network mapping in Jambi Luar Kota District, as well as the government and community's existing situation and supporting capacity in implementing digital villages. As a first step towards a digital village, villages are also assisted in creating village websites with the domain desa.id. Despite its many obstacles, this community service activity shows that the villages in Jambi Luar Kota District can develop into digital villages.[Program Desa Digital menjawab tuntutan penerapan sistem informasi desa yang diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Namun, pelaksanaan program Desa Digital ini masih mengalami banyak kendala, termasuk di Kecamatan Jambi Luar Kota yang merupakan salah satu daerah pusat pendidikan di Provinsi Jambi. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan partisipasi kampus dalam penguatan Desa Digital di Kecamatan Jambi Luar Kota. Artikel ini ditulis berdasarkan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan untuk membangun basis implementasi Desa Digital di Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Proses pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan dengan metode Participatory Action Research (PAR) sehingga program ini dapat membangun pengetahuan dan kesadaran pemangku kepentingan terhadap tema yang diangkat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menghasilkan peta kondisi jaringan internet di Kabupaten Jambi Luar Kota, serta situasi eksisting dan daya dukung pemerintah dan masyarakat dalam penerapan Desa Digital. Sebagai langkah awal menuju Desa Digital, desa juga dibantu dengan pembuatan website desa dengan domain desa.id. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menunjukkan bahwa desa-desa di Kecamatan Jambi Luar Kota dapat berkembang menjadi Desa Digital, meskipun masih memiliki banyak kendala.]
Peningkatan komunitas Desa Tangguh Bencana dalam Pengurangan Risiko Bencana (PRB) kebakaran di Desa Mendahara Ilir, Kabupaten Tanjung Jabung Timur Huda, Imam Arifa’illah Syaiful; Mustajab, Muhammad; Gunawan, Hendra; Prasaja, Ahmad Syukron; Harianto, Dodi; Sugiarto, Agus; Al Khalidy, Diky
PERDIKAN (Journal of Community Engagement) Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : IAIN Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/pjce.v6i1.12153

Abstract

Mendahara Village is highly vulnerable to fire disasters. Situational analysis results show that Mendahara Village is a densely populated area, with most of the houses made of wood, a low understanding of disaster management, a lack of awareness about disaster preparedness concepts, the absence of a disaster preparedness framework, and no existing policies or regulations from the village government regarding fire disaster management. Various community service activities have enhanced public awareness of disaster consciousness, such as disaster mitigation socialization and training, disaster risk management, and the formation of Focus Group Discussions (FGDs) based on fire disaster-resilient village indicators. These activities have positively impacted increasing community awareness, knowledge, and skills in facing and managing fire disasters. This community service aims to improve public understanding of fire disaster management through education and training and the formation of FGDs based on fire disaster-resilient village indicators. The method used is active participatory partners with four stages: assessment, preparation, implementation, and evaluation. The partners in this activity are Mendahara Ilir Village. The implementation of community service enhances public understanding of the use and distribution of fire extinguishers at fire disaster risk points. The community service activities were carried out in collaboration with the East Tanjung Jabung Regency BPBD by delivering materials and conducting practical sessions. Following the community service activities, there was an average increase of 59.2% in the community's understanding of fire disaster management. The formation of FGDs involved various village community elements with tasks and objectives based on fire disaster-resilient village strategies and components. Disaster risk reduction activities must be conducted continuously to achieve a disaster-resilient village. [Desa Mendahara memiliki kerentanan yang tinggi terhadap bencana kebakaran. Hasil analisis situasi menunjukan bahwa Desa Mendahara merupakan kawasan permukiman padat, mayoritas hunian terbuat dari kayu, pemahaman penanggulangan bencana yang masih rendah, belum memiliki pemahaman tentang konsep persiapan menghadapi bencana, belum terbangun konsep kesiapsiagaan bencana, dan belum ada kebijakan atau peraturan pemerintah desa tentang penanganan bencana kebakaran. Berbagai kegiatan pengabdian telah dilaksanakan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap kesadaran bencana, seperti sosialisasi dan pelatihan mitigasi bencana, manajemen risiko bencana, serta pembentukan FGD berdasarkan indikator Desa Tangguh Bencana kebakaran. Kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan masyarakat dalam menghadapi dan menanggulangi bencana kebakaran. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dalam penanggulangan bencana kebakaran melalui pendidikan dan pelatihan, serta pembentukan FGD yang didasarkan pada indikator Desa Tangguh Bencana kebakaran. Metode yang digunakan adalah partisipatif aktif mitra dengan empat tahapan, yaitu tahap assessment, tahap persiapan, tahap implementasi, dan tahap evaluasi. Mitra dalam kegiatan ini adalah Desa Mendahara Ilir. Pelaksanaan pengabdian meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan dan penyebaran alat pemadam kebakaran di titik risiko bencana kebakaran. Pelaksanaan pengabdian berupa penyampaian materi dan praktik dilakukan bersama BPBD Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Setelah pelaksanaan pengabdian, terjadi peningkatan rata-rata sebesar 59.2% terhadap pemahaman masyarakat tentang penanggulangan bencana kebakaran. Pembentukan FGD melibatkan berbagai elemen masyarakat desa yang memiliki tugas dan tujuan berdasarkan strategi dan komponen Desa Tangguh Bencana. Kegiatan pengurangan risiko bencana harus dilakukan secara berkelanjutan agar Desa Tangguh Bencana dapat tercapai.]
Penguatan konseling pra nikah pada masyarakat Madura untuk mencegah perkawinan anak Jannah, Hasanatul Jannah; Alfin Miftahul Khairi
PERDIKAN (Journal of Community Engagement) Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : IAIN Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/pjce.v6i1.12365

Abstract

The practice of underage marriage still occurs in Indonesia, particularly in rural and remote areas. One of the efforts to prevent underage marriage is to provide strengthened pre-marital counseling to teenagers and future husband and wife, in that awareness and understanding of the importance of maturity at marriage, mental maturity and readiness to face and carry out marriage are built. This service has been conducted at Larangan Slampar village, Tlanakan District and Tanjung village, Pademawu District, Pamekasan Regency by implementing a CBPR (Community Based Participatory Research) approach. The CBPR approach emphasizes collaboration with stakeholders in related areas, starting from planning and implementing carefully structured actions. The results of strengthening premarital counseling attracted the participants' attention because they felt comfortable telling stories, asking questions, and at the same time gaining knowledge about the substance of marriage, which up to now had been understood as a simple thing without a solid foundation. The participants, finally, are able to plan their future by implementing profound planning in deciding their marriage plan. [Praktik perkawinan di bawah umur masih marak terjadi di Indonesia, khususnya di pedesaan dan wilayah terpencil. Salah satu upaya pencegahan perkawinan di bawah umur adalah dengan memberikan penguatan konseling pra nikah kepada remaja dan calon pengantin, sehingga terbangun kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya kematangan usia nikah, kematangan mental, dan kesiapan dalam menghadapi dan menjalankan perkawinan. Pengabdian ini dilakukan di Desa Larangan Slampar kecamatan Tlanakan dan desa Tanjung Kecamatan Pademawu, kabupaten Pamekasan dengan menggunakan pendekatan CBPR (Community Based Participatory Research). Pendekatan CBPR menekankan kolaborasi dengan stakeholder di daerah terkait, mulai dari merencanakan dan melaksanakan aksi yang disusun secara matang. Hasil penguatan konseling pra nikah ini cukup menarik perhatian peserta karena mereka merasa nyaman bercerita, bertanya, dan sekaligus mendapatkan pengetahuan tentang substansi perkawinan yang selama ini dipahami sangat sederhana tanpa landasan yang kokoh. Peserta pada akhirnya mulai memproyeksikan masa depannya dengan menggunakan perencanaan dalam memutuskan dan menjalankan perkawinan.]
Enhancing students' English short story writing skills containing religious moderation values: A mentorship program Azizah, Siti; Rahmawati, Fithriyah; Febrianingrum, Lasmi; Rabi'ah; Sufyan, Akhmad Farid Mawardi
PERDIKAN (Journal of Community Engagement) Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : IAIN Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/pjce.v6i1.15198

Abstract

Religious moderation is an essential concept that should be taught and practiced by the students in Islamic senior high schools (Madrasah Aliyah), particularly in the context of an increasingly diverse society. Religious moderation emphasizes on balance, moderation, tolerance and respect for differences, both in terms of beliefs and religious practices. This community service program aimed to enhance students’ English short story writing skills which is integrated with religious moderation values. The mentorship program was conducted at MAN 2 Pamekasan and enrolled 25 students as participants. The program was carried out by applying Asset Based Community Development (ABCD) as a community service approach which consists of discovery, dream, define, design, and destiny. The activities were internalizing the religious moderation values to the students and practicing to write English short stories guided by facilitators. The result of the present community service shows that the students are gaining a better understanding of religious moderation, demonstrating improved writing skills, and being able to reflect the values of religious moderation in their short stories. The result suggested that combining creative writing with religious moderation value-based education can foster both linguistics competence and character development. Therefore, it contributes to a more harmonious school environment.[Moderasi beragama merupakan konsep penting yang harus diajarkan dan dipraktikkan oleh siswa di Madrasah Aliyah, terutama dalam konteks masyarakat yang semakin beragam. Moderasi beragama menekankan keseimbangan, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan, baik dalam hal keyakinan maupun praktik keagamaan. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan menulis cerpen berbahasa Inggris siswa yang terintegrasi dengan nilai-nilai moderasi beragama. Program pendampingan ini dilaksanakan di MAN 2 Pamekasan dengan melibatkan 25 siswa sebagai peserta. Program ini menggunakan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) dalam pengabdian masyarakat yang terdiri dari tahap discovery, dream, define, design, dan destiny. Kegiatan yang dilakukan yaitu internalisasi nilai-nilai moderasi beragama kepada siswa serta pelatihan menulis cerpen berbahasa Inggris yang dibimbing oleh para fasilitator sekaligus pengabdi. Hasil dari pengabdian ini menunjukkan bahwa para siswa memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang moderasi beragama, menunjukkan peningkatan kemampuan menulis, dan mampu merefleksikan nilai-nilai moderasi beragama dalam cerpen mereka. Hasil pengabdian Masyarakat ini merekomendasikan bahwa menggabungkan penulisan kreatif dengan pendidikan berbasis nilai moderasi beragama dapat meningkatkan kompetensi linguistik sekaligus pengembangan karakter. Dengan demikian, hal ini berkontribusi pada terciptanya lingkungan sekolah yang lebih harmonis.]
Implementasi kurikulum merdeka skema mandiri belajar pada lembaga pendidikan anak usia dini Astutik, Anita Puji; Khoirinindyah , Safitri
PERDIKAN (Journal of Community Engagement) Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : IAIN Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/pjce.v6i2.10057

Abstract

Responding to the Ministry of Education and Culture's policy regarding an independent curriculum, several schools are not registered with the driving school but have not yet received encouragement. This causes an uneven understanding of the independent curriculum. Supposedly, schools that have registered in the driving school program can contact other educational units. This activity aims to overcome the lack of understanding of teachers who implement the independent learning scheme regarding the Merdeka curriculum. This is the focus of the problem, namely the limited number of Early Childhood Education Institutions in Sidoarjo district that are registered with driving schools, the lack of intensity of instruction at non-driving schools, and the lack of information in Sidoarjo district regarding the Merdeka curriculum. A solution to the partners' problems is obtained by providing teachers with an understanding of the Merdeka curriculum through workshop activities. The implementation method in this program. First, it begins with coordination and interviews regarding the implementation of the Independent Curriculum in Sidoarjo district. Coordinate with partners and research members, including lecturers and students, to create a work plan. The result of this activity is an increase in understanding about the implementation of the independent curriculum, especially in schools that take the independent learning scheme through the ability to develop teaching tools. The service team monitors and evaluates the results of the workshops that have been carried out to become the basis for implementing standard controls and as a basis for implementing continuous improvements. The conclusion from this activity is that this training has had a big impact on understanding the concept of an independent curriculum, even though the level of understanding varies between schools. As a follow-up, the team monitors continuously. [Menyikapi kebijakan Kemendikbud tentang kurikulum merdeka, ada beberapa sekolah yang tidak terdaftar di sekolah penggerak, namun belum mendapatkan pengimbasan. Hal ini menyebabkan tidak meratanya pemahaman tentang kurikulum merdeka. Seharusnya, sekolah yang telah terdaftar dalam program sekolah penggerak dapat melaksanakan pengimbasan ke satuan Pendidikan lain. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengatasi kurangnya pemahaman guru yang menerapkan skema mandiri belajar tentang kurikulum Merdeka. Hal inilah yang menjadi fokus permasalahan yaitu terbatasnya Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini di kabupaten Sidoarjo yang terdaftar pada sekolah penggerak, kurangnya intensitas pengimbasan pada sekolah-sekolah non sekolah penggerak, serta minimnya kabupaten Sidoarjo tentang kurikulum Merdeka. Sehingga diperoleh solusi dari permasalahan mitra, yaitu memberikan pemahaman guru tentang kurikulum Merdeka melalui kegiatan workshop. Metode pelaksanaan dalam program ini, pertama, diawali dengan berkoordinasi dan interview mengenai implementasi Kurikulum Merdeka di kabupaten Sidoarjo. Serta mengadakan koordinasi dengan mitra serta anggota peneliti yang terdiri dari dosen dan mahasiswa untuk membuat workplan. Hasil kegiatan ini adalah adanya peningkatan pemahamannya tentang implementasi kurikulum merdeka khususnya pada sekolah yang mengambil skema mandiri belajar melalui kemampua Menyusun perangkat ajar. Tim pengabdi melakukan monitoring dan evaluasi terhadap hasil workshop yang telah dilaksanakan untuk menjadi dasar dilaksanakannya pengendalian standar serta menjadi dasar dilaksanakannya perbaikan berkelanjutan. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah pelatihan ini sangat berdampak dalam pemahaman konsep kurikulum merdeka, meskipun tingkat pemahaman antar sekolah berbeda-beda. Sebagai tindak lanjut, tim memantau secara berkelanjutan sampai hasil pemahaman tentang kurikulum merdeka maksimal dan diimplementasikan dengan baik.]
Enhancing students’ digital skills with GENESI5: Generative AI for creative writing in the Society 5.0 era Hanafi, Yusuf; Nabila, Alifian; Hayati, Early Ni’mah; Alfarizzi, Muhammad; Sukur, Abdul; Kusuma, Arum Dyan; Amalia, D. Adnindya; Hasan, Zaiful; M. Akhirudin Nurul Huda
PERDIKAN (Journal of Community Engagement) Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : IAIN Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/pjce.v6i2.15500

Abstract

The advancement of technology in the Society 5.0 era necessitates higher digital literacy, particularly for students of the next generation. The application of AI technology has emerged as a significant solution to enhance digital skills, which is relevant not only in education but also in supporting sustainable programs such as Adiwiyata. However, the implementation of this technology among students is still relatively low, requiring interventions like specialized training. This study aims to improve the digital skills of students at SMP Negeri 8 Malang through the “GENESI5” training program, which integrates generative AI technology into both learning and extracurricular activities. A total of 52 students participated in the two-day training. The method employed in this study is Participatory Action Research (PAR), which actively involves students in the learning process. The study's findings indicate a significant improvement in students' digital skills, as demonstrated by their ability to use generative AI to create creative works aligned with the Adiwiyata theme. Therefore, this training successfully enhanced students' technological literacy and motivated them to create innovatively in the Society 5.0 era.[Kemajuan teknologi di era Society 5.0 menuntut kemampuan literasi digital yang lebih tinggi, terutama bagi siswa sebagai generasi penerus. Pemanfaatan teknologi AI telah menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan keterampilan digital, yang tidak hanya relevan dalam dunia pendidikan, tetapi juga untuk mendukung program berkelanjutan seperti Adiwiyata. Namun, penerapan teknologi ini di kalangan siswa masih tergolong rendah, sehingga diperlukan intervensi berupa pelatihan khusus. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan digital siswa SMP Negeri 8 Malang melalui pelatihan “GENESI5”, yang mengintegrasikan teknologi generative AI dalam proses pembelajaran dan ekstrakurikuler. Sebanyak 52 siswa mengikuti pelatihan selama dua hari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Participatory Action Research (PAR), yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan dalam keterampilan digital siswa, terlihat dari kemampuan mereka memanfaatkan generative AI untuk menghasilkan karya kreatif sesuai dengan tema adiwiyata. Dengan demikian, pelatihan ini berhasil meningkatkan literasi teknologi siswa serta memotivasi mereka untuk berkarya secara inovatif di era Society 5.0.]
Pelatihan metacognitive memorizing model untuk penguatan pemahaman Bahasa Arab qur’ani bagi penghafal al-Qur’an berbasis chunking digital materials Fauzi, Moh. Fery; Fauzan, Moh.; Anam, Faris Khoirul; Nada, Auqi Lu’lu In; Kinanthi, Keysha Wahyu; Anindiati, Irma
PERDIKAN (Journal of Community Engagement) Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : IAIN Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/pjce.v6i2.15821

Abstract

Teaching Qur’anic Arabic is often overlooked in programs for Qur’an memorization, even though it is essential for students to memorize and comprehend the divine message in its original language. Teaching Qur’anic Arabic has faced challenges in the digital era in many pesantren. They have faced numerous problems in media usage and teaching methods, especially for teachers who are teaching students specializing in Qur’an memorization. This community service programs aim to provide Metacognitive Memorizing Model Training to strengthen understanding of Qur’anic Arabic for Qur’anic memorizers based on Chunking Digital Materials. This community service activity was conducted at Pondok Pesantren Tahfizul Qur’an Al-Mu’anawiyah, Sambisari, Ceweng, Diwek, Jombang. This service activity was carried out in 5 phases, namely: (1) socialization of activities to partners; (2) assessment of technological pedagogical content knowledge (TPACK); (3) Focus Group Discussion (FGD) between the service team and the head of the foundation and pesantren administrators; (4) training in the application of the Metacognitive Memorizing Model to strengthen understanding of Qur’anic Arabic; and (5) mentoring. The results of this activity are that the community service team has developed Moodle-based e-learning for interactive Arabic language learning, written a book entitled ‘E-Learning Arabic Language Learning,’ and researched and published work related to Arabic Language Learning innovations. The level of technology readiness for the community service is at level 4, which is the application of the use, development, and application of technology in society. The result of this training activity is that the students of Al-Qur’an memorization have high enthusiasm for learning Arabic and can apply the Qur’anic Arabic Comprehension of Chunking Digital Materials method.[Pengajaran Bahasa Arab Qur’ani sering terabaikan dalam program-program hafalan Al-Qur’an, padahal hal ini sangat penting bagi siswa/santri tidak hanya untuk menghafal tetapi juga memahami pesan Ilahi dalam bahasa asli, yakni bahasa Arab. Pengajaran bahasa Arab Qur’ani menghadapi tantangan dan kendala di banyak pesantren. Mereka menghadapi berbagai masalah dalam penggunaan media dan metode pengajaran, terutama bagi para guru dalam mengajar siswa yang focus dalam menghafal Al-Qur’an. Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan Pelatihan Metacognitive Memorizing Model untuk penguatan pemahaman Bahasa Arab Qur’ani bagi penghafal Al-Qur’an berbasis Chunking Digital Materials. Kegiatan pengabdian ini dilakukan di Pondok Pesantren Tahfizul Qur'an Al-Mu'anawiyah, Sambisari, Ceweng, Diwek, Jombang. Kegiatan pengabdian ini dilakukan dalam 5 fase, yaitu: (1) sosialisasi kegiatan kepada mitra; (2) pengkajian Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK); (3) Focus Group Discussion (FGD) antara tim pengabdian dengan ketua yayasan dan pengurus pesantren; (4) pelatihan penerapan Metacognitive Memorizing Model untuk penguatan pemahaman Bahasa Arab Qur’ani; dan (5) pendampingan. Keunggulan kegiatan ini adalah tim pengabdian telah mengembangkan e-learning berbasis moodle untuk pembelajaran Bahasa Arab interaktif dan menulis buku berjudul, “E-Learning Pembelajaran Bahasa Arab” serta meneliti dan memublikasikan karya terkait inovasi Pembelajaran Bahasa Arab (PBA). Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) pengabdian ini berada pada level 4, yaitu aplikasi penggunaan, pengembangan, dan penerapan teknologi di masyarakat. Hasil dari kegiatan pelatihan ini adalah santri penghafal Al-Qur'an memiliki antusias yang tinggi dalam belajar bahasa Arab dan mampu menerapkan pembelajaran bahasa Arab Qur'ani dengan media Chunking Digital Materials.]